Membahas Tentang Seputar Ilmu Agama Islam

Mengatur Taktik Menghadapi Ramadhan

Sajadah Muslim ~ “Siapa takut maka ia akan berjalan di awal malam, dan siapa yang berjalan di awal malam ia akan sampai ke tujuan, ketahuilah barang dagangan Allah sangatlah mahal dan ketahuilah barang dagangan Allah adalah Surga.” (riwayat at- Tirmidzi)


Hidup ini begitu singkat, dimasa yang singkat ini manusia mengumpulkan bekal untuk kehidupan akhirat. Tidak mudah, sebab setan tak akan tinggal diam, segala upaya akan ditempuh agar manusia lalai sehingga umur yang Allah berikan tidak termanfaatkan secara maksimal.

Jika setan berusaha melalaikan kita di setiap waktu, maka di bulan Ramadhan itu akan lebih digencarkan. Setan mengetahui jika manusia berhasil pada bulan Ramadhan, pekerjaannya diluar bulan itu akan semakin berat dan sulit.

Memang setan terbelenggu, namun hawa nafsu tidak, Setan dari kalangan manusia juga berseliweran. Celah inilah yang dimanfaatkannya, Sebelum bulan Ramadhan, setan tentu telah merancang taktik agar kaum Muslimin tidak maksimal dalam bulan suci itu.

Makna Hadits

Dalam kitab Riyadushalihin, Imam Nawawi rahimahullah menempatkan Hadits  di atas pada bab al-Khauf. Secara lafdziah bermakna siapa yang khawatir disusul atau diserang kawanan perampok, ia akan berjalan di awal malam. Siapa yang segera berjalan, ia akan sampai ke tempat yang lebih aman.

Tentu maksud Rasulullah bukan itu Hadits di atas hakikatnya adalah perumpamaan. Dalam tuhfatul ahwadzi makna perumpamaan  itu dijelaskan oleh Atthibi. Ia berkata, “Ini perumpamaan, Nabi mengumpamakan orang yang menempuh jalan menuju akhirat. Sesungguhnya setan menguntit di atas jalannya, sedang hawa nafsu serta angan-angan palsu adalah pendukung setan.

Jika orang yang berjalan itu sadar dalam perjalanannya dan mengikhlaskan niatnya, ia akan aman dari tipu daya setan,”

Dalam penjelasan lain Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin berkata, “berjalan di awal malam  menunjukkan kesungguhan dan perhatian orang tersebut terhadap perjalanan yang ia tempuh. Jadi makna Haditsnya siapa yang dalam hatinya terdapat rasa takut kepada Allah, ia akan beramal shaleh yang akan menyelamatkannya dari apa yang ia tekuni.”

Imam Nawawi juga memberikan penjelasan yang hampir sama. Setelah membawakan Hadits ini, ia menjelaskan, “Adalah artinya berjalan di awal malam. Maksudnya bersegeralah melakukan  ketaatan.”

Hadits diatas ditutup dengan imformasi tentang mahalnya surga, Untuk mendapatkannya membutuhkan amal shaleh sebagai sebab meraih rahmat Allah. Tentu amal shaleh itu tidak akan pernah berwujud kecuali jika kita pandai menfaatkan waktu.

Dengan adanya kesadaran berharganya waktu, kita akan sangat hati-hati dalam menggunakannya. Inilah yang dilakukan oleh para salafus shaleh. Hasan al-Bashri berkata, “Aku menjumpai satu kaum, mereka lebih ketat dalam urusan waktu dari pada urusan dirham dan dinar.”

Memanfaatkan Waktu Ramadhan

Tahun ini Allah kembali menghadirkan Ramadhan untuk kita. Jika setan merancang menakuti untuk melalaikan kita, kitapun perlu melakukan hal yang sama. Merencanakan taktik agar waktu kita maksimal di bulan yang mulia ini.

Teramat sering kali mendengar, bulan ini sepatutnya dipadati dengan amal shaleh, mulai membaca al-Qur’an , shalat berjamaah dan ketaatan lainnya. Namun dalam tataran  pratek memanfaatkan waktu dalam amal  shaleh  bukanlah pekerjaan mudah. Termasuk di bulan Ramadhan Sadar atau tidak, waktu yang begitu berharga di bulan tersebut terkandang kita sia-siakan.

Baca juga :

Pada hadits di atas, rasulullah mengabarkan kiat agar terbangun dalam jiwa semangat memanfaatkan waktu. Yaitu menumbuhkan rasa takut kepada Allah. Ketika rasa takut ada pada diri seorang hamba, ia akan memanfaatkan waktunya dalam amal Shaleh. Ia yakin jika kelak menghadap Allah dalam keadaan minim amal shaleh, sejumlah ancaman Allah yang menakutkan  telah menanti.

Ketika waktu termanfaatkan, sejumlah keutamaan akan menjadi bagian kita. Ibnul Jauzi berkata, “Siapa yang menggunakan waktu luang dan masa sehatnya dalam ketaatan kepada Allah dialah orang yang beruntung dan siapa yang memanfaatkan keduanya pada maksiat dialah orang yang lalai. Sebab setelah waktu senggang ada masa sibuk dan setelah sehat ada sakit.” 

Waktu, jika telah berlalu tak mungklin kembali. Melalaikannya berarti kerugian yang sangat nyata. Ibnul Qoyyim bahkan menilai melalaikan waktu lebih dahsyat dari kematian. Ia beralasan, melalaikan waktu akan memutus hubungan antara manusia dengan Allah dan hari akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskan hubungan terhadap kehidupan dunia dan penghuninya.”

Tantangan Mengatur Waktu

Kemajuan teknologi telah memberika banyak kemudahan. Namun tidak semua kemudahan itu bersifat positif. Ada kemudahan yang merugikan. Yaitu kemudahan dalam membuang-buang waktu. Inilah yang patut diwaspadai.

Sebab ketika setan kesulitan menggoda dalam perbuatan dosa dan maksiat, mereka akan menjerumuskan kita dalam perbuatan sia-sia.

Di sekitar kita terdapat beragam fasilitas yang berpotensi melalaikan kita. Perlu azam yang kuat untuk membatasi diri bersentuhan dengan fasilitas-fasilitas tersebut. Sebab jika tidak, banyak amalan kebaikan yang akan tersingkir yang kemudian digantikan dengan kesibukan mengutak-atik fasilitas-fasilitas tersebut.

Muhasabah dan evaluasi diri yang rutin dilakukan akan sangat bermanfaat dalam mengatasi kelalaian yang sangat mungkin terjadi. Adakalanya kita sangat lemah dan tidak berdaya.

Alhasil, amal shaleh kita sangat minim, dengan adanya muhasabah, kelemahan-kelemahan seperti ini akan terdekteksi  sejak dini sehingga memungkinkan dipulihkan.

Ramadhan berikutnya belum tentu menjumpai kita kembali. Maka sepantasnya kita maksimal dalam Ramadhan kali ini. Sehingga jika Allah mewafatkan kita, ada harapan melalui amalan yang kita lakukan.

Sebaliknya jika tidak patut, kita akan bersedih, karena Rasulullah telah menjamin kecelakaan bagi orang yang keluar dari Ramadhan tanpa terampuni dosa-dosanya. Dalam doa yang diucapkan oleh Malaikat Jibril as, dan diamini oleh Rasulullah “Celakalah seorang hamba yang mendapatti bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni oleh Allah Ta’ala.”

Riwayat Bukhari dan Imam Ahmad. Semoga kita tidak termasuk dalam golongan tersebut. Amin… !!!

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup


Mengentas Kemiskinan Dengan Zakat Dan Pajak

Sajadah Muslim ~ Salah satu solusi dari penanganan kimiskinan adalah dengan mendorong perkembangan zakat. Berdasarkan hasil pengkajian Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), potensi zakat profesi satu tahun di Indonesia bisa mencapai sekitar Rp. 32 triliun. Dan salah satu sumber pendanaan dari  yang dianggap sebagai primadona dari penerimaan negara adalah pajak.


Banyak orang berusaha untuk menyamakan antara zakat dan pajak, sehingga kensekuensinya ketika seseorang sudah membayar pajak, maka gugurlah pembayaran zakatnya. Sementara sebagaian lain menolak bahwa zakat sama dengan pajak atau  sebagai alternatif dari kewajiban zakat.

Zakat dan pajak adalah dua pungutan wajib yang memiliki karakteristik yang berbeda.

Menurut terminologi syariah, zakat berarti kewajiban atas harta tertentu untuk kelompok tertentu dan dalam waktu tertentu. Kewajiban tersebut bagi setiap  Muslim (baligh atau belum dan berakal) ketika mereka memiliki sejumlah harta  yang sudah memenuhi batas nisab-nya.

Zakat menurut Undang-undang Zakat No. 38 tahun 1999, adalah harta yang wajib disisihkan oleh seorang Muslim atau badan yang dimiliki oleh orang Muslim sesuai dengan ketentuan agama untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya.

Agar pembayaran pajak dan zakat dapat berjalan baik, maka perlu adanya sinkronisasi pembayaran keduanya. Misalnya ketika seseorang sudah membayar zakat, maka beban pembayaran pajaknya dikurangi sebesar zakat yang telah dikeluarkan agar tidak terjadi kezaliman pada wajib zakat ataupun wajib pajak.

Pemerintah masih gamang dan ragu-ragu dalam pengelolaan zakat, karena khawatir target penerimaan dari sektor pajak, termasuk pajak penghasilan akan terganggu. Sehingga dikhawatirkan akan berakibat semakin tersendatnya  pemulihan ekonomi nasional.

Padahal, jika zakat dikaji lebih lanjut, sebagai pengurang penghasilan kena pajak adalah sesuatu yang positif terhadap pendapatran nasional keseimbangan (ekuilibrium).

Jadi sekalipun zakat penghasilan mengurangi penerimaan negara dari sektor pajak, tetapi kondisi perekonomian secara mikro tetap membaik. Bahkan pendapatan nasional keseimbangan dengan variabel zakat lebih tinggi hasilnya dibandingkan pendapatan nasional keseimbangan tanpa variabel zakat.

Zakat memiliki peran sosial sama seperti dengan pajak, termasuk berperan dalam pengentasan kemiskinan.

Oleh karena itu, zakat sudah selayaknya menjadi pengurang pajak agar masyarakat termotivasi untuk membayar zakat. Dengan  demikian, zakat sebagai pengentas kemiskinan dapat berkembang pesat di Indonesia.

Bila zakat dapat dijadikan sebagai pengurang pajak, maka zakat dapat menjadi instrumen pendukung program pemerintah. Hal tersebut dilakukan dengan mendorong pengelolaan pajak untuk kepentingan infrastruktur non sosial. Sedangkan, zakat adalah untuk pengelolaan sosial.

Dengan demikian, semestinya pemerintah tidak perlu ragu tapi justru sebaliknya, pemerintah harus lebih aktif menyukseskan program “Masyarakat sadar akan berzakat.” Wallahu a’lam ...!!!

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup


Ramadhan Datang, Haid Tak Jadi Penghalang

Sajadah Muslim ~ Tak perlu kecil hati, banyak cara bagi Muslimah untuk mendulang pahala.

Yola merasa gundah, ia tidak akan bisa menikmati puasa Ramadhan pertamanya karena haid datang lebih cepat dari biasanya, apalagi  ia pernah  mendengar ucapan seorang teman bahwa tidak seperti laki-laki, ibadah  perempuan menjadi lebih sedikit diakibatkan adanya haid.


Semestinya, haid  tidak dijadikan sebagai penghalang oleh teman-teman Muslimah untuk beribadah dan tetap dekat dengan Allah, saat Rasulullah datang karena  banyak amalan-amalan yang bisa dilakukan oleh teman-teman Muslimah. Amalan-amalan tersebut merupakan amalan-amalan sederhana yang Insya Allah akan berdampak pula pada psikologi kita sebagai Muslimah.

Perbanyak Berzikir Dan Berdo’a

Muslimah yang sedang haid biasanya lebih cepat sensitif dan emosinya tidak stabil. Maka dengan memperbanyak zikir dan doa, terutama dengan memperbanyak istighfar, insya Allah emosi perempuan akan menjadi lebih stabil dan ia sabar dalam menghadapi masalah apapun yang dihadapinya.

Sebagaimana firman Allah. “Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah, Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram (Qs Ar-Ra’d ayat 28).

Mengenai zikir dalam fatwa Syabakah Islamiyah, para ulama sepakat wanita haid atau orang junub diperbolehkan berzikir. Selain  itu memperbanyak istighfar, Allah akan menjanjikan jalan keluar pada setiap kesulitan yang dihadapi dan memberi rezeki dari arah yang tidak kita duga.

Dari Abdullah bin Abbas, Rasulullah bersabda. “Barang siapa membiasakan ucapan istighfar, maka Allah akan menjadikan setiap apa yang diangan-angankan itu jalan keluar, setiap kesulitan yang akan dihadapinya diberikan jalan keluar, dan Allah akan memberikan rezekinya dari arah yang tiada ia ketahui.” 

Wiwi Alawiyah dalam bukunya Buku Pinar Haid, Nifas dan Istihadhah memaparkan beberapa keutamaan istighfar.

Sebagai Obat Segala Dosa

Kita merupakan makhluk yang lemah dan memiliki ketergantungan kepada-Nya. Karena-nya setiap jengkal hidup yang tersisa ini semestinya diisi dengan hal-hal yang lebih baik dan sebelumnya. Janganlah setiap kesalahan dan dosa-dosa yang diperbuat sebelumnya ditumpuk dan terus ditumpuk dengan dosa-dosa yang baru.

Semestinya, apabila kita telah melakukan dosa kecil maupun besar, sengaja atau tidak, maka penyesalan itu harus tumbuh dalam diri kita dengan cara memperbanyak istighfar. Hal ini berlaku juga bagi Muslimah yang sedang haid, sebab dengan itu, hidup ini akan menjadi lebih baik.

Menjadi Problem Solving

Muslimah yang sedang haid biasanya sangat sensitif dan mudah tersinggung, sehingga resiko terbesar yang akan dihadapi adalah terlalu gegabah dalam menghadapi suatu persoalan atau masalah.

Karenanya dengan membaca istighfar, maka hati, jiwa dan pikirannya menjadi mudah dikontrol dan dikendalikan. Sederhananya, apabila kita membaca istighfar lalu dilanjutkan dengan usaha yang maksimal, maka besar kemungkinan Allah akan memberikan jalan kelancaran dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.

Mendatangkan Kebahagian

Masa haid terkadang dianggap sebagai sebuah musibah oleh sebagian Muslimah, namun berbuah kebahagiaan, apabila masa haid itu di iringi dengan mengucapkan istighfar yang dapat menggetarkan dan mengsucikan hati, jiwa serta membersihkan pikiran dari hal-hal negatif yang membuat hati tidak tenang.

Mencari, Mengkaji Dan Menyebarkan Ilmu

Saat haid datang kita bisa memotivasi diri untuk lebih giat dalam mencari, mengkaji dan menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Terlebih saat bulan Ramadhan, pahala ibadah akan dilipat gandakan oleh Allah.

Kemudian saat mencari, mengkaji dan menyebarkan ilmu tersebut, tidak hanya kita yang mendapatkan manfaat namun orang lain juga akan merasakan manfaat dari ilmu yang kita sebarkan tersebut.

Memperbanyak Dan Menguatkan Silaturahim

Secara umum, silaturahim berarti menyambung tali persaudaraan, baik itu dalam rangka mempererat kembali yang telah renggang maupun menyambungkan kembali tali silaturahim mereka yang terputus.

Banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dengan bersilaturahim, salah satunya dengan bertambahnya saudara baru, dari bertambahnya saudara tersebut, maka rezeki kita akan bertambah pula.

Rezeki disini tidak selalu dalam bentuk materi seperti uang, namun juga dalam bentuk lain seperti makanan, pekerjaan, dimudahkan segala urusan, pengalaman, kegundahan atau kerisauan menjadi hilang, mendapatkan ilmu dan lainnya. Dengan memperbanyak silaturahim dapat memperpanjang umur.

Selain tiga hal di atas, kita juga masih bisa melakukan amalan-amalan berikut saat haid, seperti bersedekah, membaca  al-Qur’an melalui ponsel. Menurut Dewan Pembina Konsultasi syariah, Ammi Nur Baits, perempuan diperbolehkan  menyentuh ponsel yang ada konten al-Qur’annya, karena benda semacam ini tidak dihukumi al-Qur’an, sehingga bagi wanita haid yang ingin itu, tetap menjaga rutinitas membaca al-Qur’an, sementara dia tidak memiliki hafalan, bisa menggunakan bantuan alat, komputer, tablet atau semacamnya.

Kemudian para Muslimah juga bisa mengikuti kegiatan kemanusiaan seperti mangajari anak-anak yang berasal dari kalangan kurang mampu, menjadi aktivis sosial atau lingkungan hidup dengan melibatkan warga dilingkungan sekitar dan diluar lingkungan sehingga bisa tercipta  kerja sama di antara mereka.

Dengan demikian, para Muslimah tetap bisa beribadah dan dekat dengan Allah walau dalam keadaan tidak suci. Tidak hanya itu amalan-amalan saat haid yang masih bisa dilakukan oleh para Muslimah kala Ramadhan. Aktivitas seperti di atas juga memperlihatkan bahwa sesungguhnya Islam tidak merendahkan perempuan seperti halnya agama lain yang menganggap hanya dengan mendekati perempuan saat haid  saja bagi mereka sudah najis walau tidak terkena darah haidnya secara langsung.

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup


Adab Sahur

Sajadah Muslim ~ Sahur merupakan salah satu rangkaian aktivitas yang  dilakukan  umat Islam saat bulan Ramadhan. Rasulullah saw bersabda: “Bersahurlah, sesunggunya dalam bersahur itu terdapat keberkahan (riwayat Bukhari dan Muslim).


Hadits ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa orang  yang berpuasa diperintahkan untuk melakukan sahur. Karena di dalamnya terdapat kebaikan yang banyak dan keberkahan yang agung.

Dalam hadits lain Rasulullah Saw juga bersabda, “Siapa yang hendak berpuasa, maka hendaknya ia melakukan sahur dengan sesuatu.” (riwayat Ahmad).

Menurut Jumhur ulama, Hadits ini menunjukkan anjuran untuk sahur, bukan perintah yang menunjukkan wajib. Berkaitan dengan hal tersebut berikut beberapa adab dalam bersahur.

Pertama,  niat yang benar. Orang yang melakukan sahur hendaknya berniat sebagai bentuk ketaatan kepada perintah Nabi Muhammad Saw dan untuk meneladani perbuatan beliau.

Kedua, di niatkan agar dengan sahur memperkuat fisiknya sehingga mampu melakukan puasa dan ibadah lainnya. Orang yang sahur malam harinya menjadikan fisiknya kuat untuk beribadah, sehingga membantunya melakukan ketaatan kepada Allah pada waktu siang hari seperti shalat, membaca al-Qur’an dan zikir.

Ketiga, tidak berlebihan (israf) ketika mengonsumsi hidangan sahur. Hal ini didasarkan pada firman Allah. “Makan dan minumlah dan janganlah kalian berbuat israf (berlebih-lebihan) sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat israf (QS Al-A’raaf ayat 31).

Orang yang sahur sebaiknya makan sekedarnya. Sesungguhnya tak ada satu tempat yang paling buruk untuk dipenuhi oleh manusia dari pada perut. Dalam hal ini Rasulullah Saw bersabda; “Tiada tempat yang lebih buruk , yang dipenuhi oleh anak Adam daripada perutnya, cukuplah bagi mereka beberapa suap yang dapat menopang tulang punggungnya (penyambung kehidupnya) jika hal itu tidak bisa dihindari maka masing-masing sepertiga bagian untuk makanannya, minumnya dan napasnya.” (riwayat Ahmad, An-Nasaa’i Ibnu Majah dan at-Tirmidzi). Terlalu banyak makan mewariskan kemalasan dan kebosanan.

Keempat, mengonsumsi kurma, Sebaiknya orang yang sahur mengonsumsi kurma sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Sebaik-baik makanan sahur seorang mukmin adalah tamr (kurma)” (riwayat Abu Dawud, Ibnu Hibban dan Al Baihaqi).

Kurma lebih ringan bagi lambung dan mudah dicerna  dibandingkan dengan jenis makanan yang lain. Dalam kitabnya, Zad Al-Ma’ad, Ibnu Qayyim, menyebutkan bahwa kurma dapat menguatkan perut yang dingin. Ia termasuk buah yang paling bermanfaat. Ia adalah raja buah-buahan, penguat lever, dan pelembut tabiat. Ia adalah buah yang paling banyak memberikan nutrisi. Panas yang dikandungnya adalah penawar racun. Karena itu apabila ia dimakan secara terus-menerus sebelum makan pagi,  maka ia dapat melemahkan cacing dan menguranginya. Ia adalah makanan obat, minuman dan manisan sekaligus.

Kelima, mengakhirkan sahur, termasuk dalam sunnah Rasulullah Saw adalah “mangakhirkan sahur” sabda beliau dari sahabat Zaid bin Tsabit yang berkata: “Kami makan sahur bersama dengan Nabi Muhammad Saw, kemudian beliau berdiri untuk shalat subuh. Saya (Anas  bin Malik) bertanya  kepadanya: “berapa  jarak antara azan dengan sahur?” Zaid bin Tsabit menjawab: ‘kurang lebih selama bacaan lima puluh ayat.” (riwayat Bukhari)

Demikianlah beberapa adab bersahur, semoga bermanfaat.

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup


Ramadhan Sederhana Ala Rasulullah

Sajadah Muslim ~ Sebagai agama yang bersandar pada prinsip tawassuth (pertengahan), syariat Islam sangat menjauhi perbuatan berlebih-lebihan (israf) dalam suatu amal perbuatan. Termasuk dalam hal ibadah puasa, Nabi Muhammad saw sebagai seorang figur umat yang telah memberi teladan yang nyata dalam prinsip tawassuth tersebut.


Hal penting, sebab tak sedikit umat Islam terjebak budaya konsumerisme dan materialisme dalam ibadah puasa, terkhusus pada Ramadhan, Fenomena pasar-pasar dan mal-mal yang kian sesak di bulan puasa menjadi indikasi jelas dari budaya yang tengah berkembang itu.

Untuk hal berbuka puasa, misalnya, sahabat Anas bin Malik menceritakan, Rasulullah saw berbuka puasa dengan ruthab (kurma basah) sebelum shalat maghrib. Kalau tidak ada ruthab, beliau memakan tamr (kurma kering) dan kalau tidak ada tamr, Nabi Muhammad saw meminum air seteguk (riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Sedang dalam urusan makan sahur, Nabi bersabda: “Makan sahurlah, karena sesungguhnya pada makan sahur itu ada berkahnya.” (riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Bedanya untuk meraup keberkahan tersebut, Nabi Muhammad saw dan para sahabat menyegerakan berbuka (ketika matahari telah terbenam) dan mengakhirkan makan sahur (hingga menjelang waktu fajar).

Dalam Hadits yang lain, nabi Muhammad saw juga mengingatkan. “Tidak ada tempat paling buruk yang dipenuhi isinya oleh manusia, kecuali perutnya. Sebenarnya cukuplah baginya beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya.

Kalaupun ia ingin makan, hendaknya ia atur dengan cara sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga lagi untuk  nafasnya.” (riwayat Ahmad dan an-Nisa’i).

Sombong Dan Berlebih-Lebihan

Mencermati beberapa hadits diatas, hendaknya umat Islam memahami substansi perbuatan yang diteladankan oleh Nabi Muhamamad saw, yaitu setiap amalan seharusnya berorientasi untuk mendulang berkah puasa secara maksimal, terkhusus di bulan Ramadhan. Bukan sekedar persoalan memenuhi perut atau membasahi tenggorokan yang kerontang akibat kehausan.

Selain karena tidak sejalan dengan sunnah Rasulullah saw, terkadang hal itu justru mengantar seorang Muslim terjatuh kepada dosa berikutnya, yaitu  boros (tabdzir) dan berlebih-lebihan (israf). Kebiasaan tersebut adalah perbuatan yang terlarang dalam agama bahkan membuatnya sekawan dengan setan, demikian al-qur’an menerangkan.

Firman Allah: “Hai anak adam pakailah pakaianmu yang indah disetiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS Al-A’raf  ayat 31).

Sebagian orang-orang shaleh terdahulu (salafush shalih) berpendapat, Allah  mengumpulkan segenap unsur kesehatan pada sepotong ayat tersebut. Makan dan minumlah serta janganlah berkelebihan di dalamnya. Ibnu Abbas berkata, makanlah semaumu, berpakaianlah seinginmu! Aku tidak menyalahkan kalian kecuali pada dua perkara karena sombong dan berlebih-lebihan.

Dalam riwayat yang lain Ibnu Abbas memberi nasihat sesungguhnya Allah menghalalkan makan dan minum sepanjang tidak mengundang unsur kesombongan dan berlebihan di dalamnya. (Tafsir al-qur’an al-Adzim, Ibn Katsir)

Terakhir, senada dengan itu, Allah juga berfirman, “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secar boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhan-Nya.” (QS Al-Isra ayat 26-27).

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup


Hikmah Dari Adanya Kaum Fakir Dan Miskin

Sajadah Muslim ~ Semangat manusia modern adalah menurunkan angka kemiskinan diberbagai negara di dunia. Dahulu bahasanya lebih semangat, yakni memberantas kemiskinan. Padahal, kemiskinan adalah bagian dari fakta kehidupan dimana dalam Islam ada hikmah yang terkandung di dalamnya.


Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa “Allah Ta’ala telah menjadikan kaum fakir miskin sebagai ladang beramal bagi orang kaya. Dan pada kenyataan lahiriahnya orang kaya menjadi kaya disebabkan karena adanya bantuan dari orang miskin.” 

Artinya kehidupan ini memang saling membutuhkan, dalam bahasa syair seorang penyanyi legendaris Indonesia. ‘Kalau semuanya orang kaya lalu siapa yang mau bekerja.”

Oleh karena itu, Imam Ghazali menyeru orang-orang kaya banyak melakukan tafakur dan perenungan.

Tindakan orang kaya menyadari, bahwa majunya usaha, meningkatnya produksi, meningkatnya pendapatan, terpeliharanya kelanjutan perusahaan, semua itu karena jasa dan campur tangan orang kecil, orang miskin?” tulis Imam Ghazali lebih lanjut.

Jadi, betapa luar biasa Islam dengan segenap syariat yang ditetapkan, termasuk di dalamnya syariat berupa perintah mengeluarkan zakat.

“Orang kaya diharuskan mengeluarkan sebagian kecil hartanya kepada para fakir miskin melalui zakat, bukan seluruh hartanya, sekedar untuk keperluan mereka saja. Jadi pikirkanlah dengan pemahaman yang sesuai, bahwa sesunguhnya orang-orang kaya itu pada hakikatnya adalah pelayan-pelayan bagi penghidupan orang-orang fakir dan orang-orang miskin.” Tegas Imam Ghazali.

Didalam Al-Qur’an, Allah menegaskan bahwa siksa  yang pedih akan menjadi kabar gembira bagi orang-orang yang kaya namun tidak mau membayar zakat.

“Dan orang-orang yang menyimpan emas, dan perak, dan tidak menafkakannya di jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa mereka akan mendapat siksa yang pedih di akhirat nanti.” (QS.At-Taubah [9] ayat 34).

Tidak menafkahkannya di jalan Allah, maksudnya adalah tidak membayarkan zakatnya. Kemudian hal ini dipertegas oleh sebuah hadits Nabi. 

“Saya pernah berada di antara kaum Quraisy, kemudian Abu Dzar lewat dan berkata, “Sampaikanlah berita gembira pada orang-orang yang menyimpan hartanya (tidak mau membayar zakat) maka punggung mereka akan disulut hingga keluar dari lambungnya, dan tengkuk mereka dicos hingga keluar dari keningnya.” (HR. Bukhari).

Dengan demikian kepada segenap kaum Muslimin yang memiliki kekayaan bersyukurlah kalian kepada Allah dengan adanya kaum fakir dan miskin. Karena dengan itu harta yang dititipkan dapat memberi manfaat dunia dan akhirat.

Jangan malah seperti Qarun, dengan harta yang dimiliki malah sombong dan akhirnya sirna ditelan bumi sebagai hukuman dari-Nya. Allahu a’lam.

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup

Harta, Emas Dan Perak Untuk Allah

Sajadah Muslim ~ “Dengan harta yang dimiliki hendaknya ditunaikan zakatnya, jangan sampai semua itu justru menyeret diri pada siksaan neraka.”

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang bathil, dan mereka menghalang-halangi manusia dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, bahwa mereka akan mendapat siksa yang pedih.” (QS. At-Taubah [9] ayat 34)


Ayat diatas memang berupa kisah, namun juga terkandung perintah untuk tidak menjadi orang yang suka memakan harta orang lain dengan cara bathil. Pada saat yang sama menjadikan kekayaan sebagai alat membangkang terhadap perintah Allah, sehingga tidak mau berinfak di jalan-Nya.

Tanpa sadar suka sekali dengan harta yang dimiliki mendukung hal-hal yang menjadikan banyak manusia lalai dari mengingat Allah Ta’ala. Mereka menghalangi manusia dari mengikuti kebenaran mencampur kebenaran dengan kebathilan dan berpura-pura di hadapan para pengikut mereka sebagai orang-orang yang menyeru pada kebaikan, padahal perbuatan mereka tidak seperti yang mereka teriakkan.

Ibnu Katsir, menuliskan mereka suka memakan harta dunia dengan mengorbankan agama dan dengan sarana jabatan mereka. Seperti halnya para orang alim Yahudi pada zaman jahiliyah, dimana mereka mempunyai kedudukan di masyarakat dan mendapatkan hasil pajak serta sumbangan dari rakyat.

Ketika Rasulullah diutus, mereka tetap dalam kesesatan dan kekafiran karena tidak mau kehilangan jabatan. Allah menghapus cahaya kenabian dan menggantinya dengan kehinaan dan kerendahan, pada saat itu juga mereka mendapatkan amarah dan murka dari Allah.

Kemudian jangan pula seperti orang yang dengan harta, emas dan perak enggan untuk infakkan dijalan-Nya. Menurut Imam Malik berkata, dari Abdullah bin Dinar, dari Ibn Umar, yakni tidak mau membayarkan zakat dari emas dan perak yang dimilikinya.

Ats-Tsauri dan lainnya berkata dari Ubaidillah, dari Nafi, dari Ibn Umar, ia berkata, “Harta yang sudah dikeluarkan zakatnya, maka tidak lagi termasuk Al-Kanzu, meskipun berada dibawah lapisan bumi yang ketujuh, sedangkan harta yang terlihat dan belum dikeluarkan zakatnya, maka harta tersebut termasuk Al-Kanzu

Umar bin Khathab berkata, “Harta yang telah dikeluarkan zakatnya, maka tidak termasuk Al-Kanzu, meskipun terpendam dalam tanah, dan harta yang zakatnya tidak ditunaikan, maka harta tersebut termasuk Al-Kanzu, dimana pemiliknya akan disetrika dengan api, meskipun harta itu berada di muka bumi.” 
  
Dengan demikian, mari kita semakin teliti dan sungguh-sungguh dengan keberadaan kita dalam kehidupan ini, dengan karunia ilmu hendaknya fokus untuk mencerahkan umat, dengan kesholehan hendaknya mensejahterakan umat.

Dan, dengan harta yang dimiliki hendaknya ditunaikan zakatnya, jangan sampai semua itu justru menyeret diri kita pada siksaan, dimana kala orang berharta, tidak membayar, Allahu a’lam.

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup

Waspada Inilah Perusak Amalan Puasa Kita

Sajadah Muslim ~ Bagi banyak orang yang melakukan puasa  di bulan Ramadhan ini tentu bukan hal yang memberatkan, tetapi, memastikan diri tidak berbuat buruk dalam bulan Ramadhan ini yang butuh komitmen dan perjuangan. Tidak jarang sebagian orang gagal menjalani puasa dengan kualitas terbaik, karena cenderung gagal menghindari hal yang tidak perlu dilakukan.


Dalam ihya Ulumuddin Imam Ghazali menjelaskan bahwa ada lima perkara yang dapat menghilangkan pahala orang yang berpuasa yaitu, berbohong, menggunjing, mengadu domba, bersumpah dusta, dan memandang dengan syahwat.

Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Mengumpat itu adalah merusak puasa.”

Oleh karena itu sangat penting memastikan diri terutama lisan untuk tidak terlalu asyik dalam obrolan lebih-lebih yang mengarah pada canda tawa yang akhirnya tanpa sadar menggunjing atau bahkan mengumpat orang lain.

Hal berikutnya yang harus diwaspadai adalah mendengar perkataan yang tidak benar, yakni mendengar segala sesuatu yang dilarang (diharamkan).

Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, dan banyak memakan yang haram.” (QS. Al-Maidah [5] ayat 42)

Terkait ini Rasulullah telah bersabda: “Yang mengumpat dan yang mendengarkannya sama-sama bersekutu dalam dosa.” (HR. Thabrani).

Berikutnya menjaga tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya dari segala perbuatan yang mengakibatkan dosa dan tercela, termasuk didalamnya menjaga perut dari diisi oleh makanan yang haram maupun syubhat saat berbuka puasa.

Al-Ghazali memberikan ilustrasi menarik perihal ini. “Orang yang berpuasa akan tetapi juga melakukan perbuatan dosa laksana seorang yang menolak (tidak mau) memakan buah-buahan segar karena takut sakit perut, akan tetapi justru meneguk racun yang mematikan.

Dan, orang yang melakukan perbuatan haram sama saja  dengan memakan racun yang akan mematikan dirinya. Jadi, alangkah bodohnya orang yang memilih minum racun yang telah ia ketahui merugikan dirinya.”

Lebih lanjut Al-Ghazali menerangkan, “Sesuatu yang haram adalah racun yang akan menghancurkan agama, sedangkan yang halal adalah obat yang akan menyembuhkan jika dimakan sesuai dengan dosisnya. Akan tetapi, akan merambah sakit, atau mematikan dirinya, jika dosisnya terlalu banyak atau berkelebihan.”

Kemudian hindarilah makan berlebihan, walaupun makanan itu halal, baik saat buka puasa maupun makan sahur, sehingga perut terlalu kekenyangan. Allah Ta’ala sangat tidak suka pada orang yang perutnya kala makan sampai kekenyangan. Selain menjadikan puasa kurang berkualitas, hal itu dapat menjadikannya dirinya  gagal mengambil  hikmah dari perintah berpuasa itu sendiri. Allahu a’lam.

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup

Puasa Ramadhan Rahasia Dengan Hamba-Nya

Sajadah Muslim ~ Nikmat yang sangat besar bagi seorang Muslim adalah ketika Allah memberikan kesempatan bertemu dengan bulan suci Ramadhan, bulan yang penuh berkah dan kemenangan.

Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, menjelaskan bahwa puasa Ramadhan adalah seperempat keimanan, hal ini, didasarkan pada hadits. “Puasa adalah setengah dari kesabaran.” (HR. Tirmidzi)  


Lebih jauh Ghazali menjelaskan bahwa puasa Ramadhan memiliki keistimewaan, disebabkan ia berhubungan secara langsung dengan Allah Ta’ala.

Setiap perbuatan yang baik yang dilakukan oleh manusia akan mendapatkan pahala sepuluh kali lipat, kecuali puasa sebab sesungguhnya puasa itu hanya bagi-Ku, dan Akulah yang akan menentukan balasannya.” (HR. Bukhari).

Jadi puasa Ramadhan adalah benar-benar istimewa. Allah tidak menyebutkan secara pasti apa balasan yang akan diperoleh. Namun yang pasti Allah pasti akan memberikan balasan kebaikkan-kebaikan.
  
Secara langsung bisa dilihat dalam Al-Qur’an. “Dikatakan kepada mereka, makan dan minumlah sepuasnya, disebabkan amal yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu”. (QS. Al-Haqqah [69] ayat 24).

Al-Ghazali dalam ihya menjelaskan bahwa maksud ayat tersebut adalah orang yang berpuasa (di bulan Ramadhan) akan mendapatkan balasan yang amat menyenangkan kelak di akhirat.

Disebabkan keridhaan mereka meninggalkan makan, minum serta kesenangan nafsu pada hari-hari mereka berpuasa di dunia. Secara ruhiyah puasa Ramadhan, mendatangkan keuntungan langsung  bagi ruh manusia. 

Pertama, adalah kesabaran. ”Puasa itu mencegah dan menahan diri dengan bersabar dari hal-hal yang membatalkan,” demikian terang Al-Ghazali.

Dalam kata yang lain, orang yang berpuasa akan terlatih emosi dan pikirannya, sehingga dapat menjadi pribadi yang tenang, sabar dan mengerti apa yang harus dilakukan.

Kedua, puasa membebaskan manusia dari musuh-musuh jiwa, seperti setan dan hawa nafsu, ini karena setan memilih jalan hawa nafsu untuk menyesatkan manusia. Kala manusia berpuasa maka pintu masuk setan tertutup.

Al-Ghazali menjelaskan bahwa ketika manusia mampu mengendalikan hawa nafsu, maka itu sama dengan menghambat dan mempersempit jalan setan. Hal itu juga bermakna puas akan menjadikan seseorang punya tekad yang kuat untuk semakin dekt dengan Allah Ta’ala, sehingga ke masjid, membaca Al-Qur’an, sedekah, menunaikan zakat dan amal sholeh lainnya amat ringan untuk dilakukan.

Oleh karena itu mari kita isi bulan Ramadhan ini dengan puasa yang terbaik, sungguh-sungguh dalam amal dan menjauhi hal-hal yang akan merusak kualitas puasa, dengan tidak bicara kecuali penting, tidak melakukan apapun kecuali baik bagi iman dan taqwa kita sendiri. Allahu a’lam.!!!!!

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup

Antusias Berburu Pahala Ramadhan

Sajadah Muslim ~ “Semakin hari menuju akhir Ramadhan semakin semangat bertaqarrub kepada Allah Ta’ala.”


Ramadhan senantiasa memberi warna sekaligus harapan luar biasa, tidak heran jika para ulama terdahulu benar-benar tidak mau ketinggalan momentum kala bertemu Ramadhan. Beragam ibadah dan amal kebaikan mereka upayakan dapat dilaksanakan.

Baik ibadah yang biasa dilakukan, seperti shalat, membaca al-qur’an ataupun ibadah dan amal lainnya yang boleh jadi diluar Ramadhan kurang begitu kuat kita lakukan. Seperti sedekah, berbagi kepada tetangga atau pun ikut serta dalam beragam pembangunan masjid, musholla dan lain sebagainya.

Para ulama itu sama sekali tidak ada keraguan bahwa setiap kebaikan yang dilakukan, pasti akan Allah berikan balasan terbaik.

“Siapa saja yang mengerjakan kebajikan sebesar biji sawi, niscaya ia akan melihat balasannya. Dan siapa saja yang mengerjakan kejahatan sebesar biji sawi, niscaya ia juga akan melihat balasananya.” (QS. Al-Zalzalah [99] ayat 7-8). 

Imam Ghazali, dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa idealnya orang beriman itu percaya 100% bahwa dalam hidup dunia dan akhirat ada pahala dan hukuman. Karena itu orang dengan kemampuan berpikirnya akan bersungguh-sungguh untuk mendapatkan pahala di sisi-Nya, bukan malah sebaliknya, berburu dosa yang akan mengundang murka-Nya.

Imam Ghazali melanjutkan, semakin kuat keimanan seseorang maka akan semakin kuat pula kehati-hatiannya dalam beramal, dan semakin banyak pula perbuatan baiknya. Inilah yang penting menjadi agenda utama kita di bulan suci Ramadhan ini.

Oleh karena itu dalam sejarah kita dapati, semakin hari menuju akhir Ramadhan semakin semangat yang dipompakan oleh Nabi dalam taqqarub kepada Allah Ta’ala, lebih-lebih pada 10 hari terakhir Ramadhan.

Ibnu Umar ra berkata, “Rasulullah selalu melakukan i’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadhan.” (HR. Bukhari Muslim).

I’tikaf adalah simbol totalitas dalam kebaikan untuk mendapatkan ridha Allah Ta’ala. Dalam pengertian ini maka diri yang mampu dan bisa i’tikaf berusahalah.

Namun yang karena alasan tugas, amanah dan pekerjaan belum memungkinkan ibadah lainnya dapat terus diupayakan, seperti memperbanyak sedekah, menolong sesama dan membahagiakan anak-anak yatim dan dhuafa. Semoga Ramadhan 1441 H ini menjadikan kita semua insan yang bertaqwa.” Amin….

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup

Ramadhan Terbaik, Bulan Terbaik Dari 12 Bulan

Sajadah Muslim ~ Bulan terbaik dari 12 bulan telah menyapa niat untuk menjadikannya sebagai Ramadhan terbaik kita sepanjang perjumpaan kita dengannya, telah kita azamkan minimal sejak dua bulan yang lalu, saat bulan Rajab menunjukkan hilalnya Ramadhan.


Walaupun kedatangannya rutin tiap tahun, sungguh kemuliaanya tidak pernah pudar. Pancaran kemuliaan itu datang setiap tahun, namun belum tentu pudar cahaya kemuliaannya kita dapatkan. Bisa jadi ini adalah Ramadhan terakhir kita, bisa jadi Ramadhan kali ini tak menjejakkan kebaikan untuk kita, karena satu sebab atau beberapa Maa’addzallah.

Bagi yang masih diberikan kesempatan menikmati hindangan Ramadhan kali ini, kesyukuran tekad dipancangkan untuk menjadikannya Ramadhan terbaik.

Walaupun berat raport hasil Ramadhan tahun lalu harus menjadi bahan evaluasi, apakah kebaikan-kebaikan yang dijalankan selama Ramadhan tahun lalu masih istiqomah dilakukan atau justru keburukan lebih banyak menodai hati dan perbuatan.

Menjadikan hari esok lebih baik merupakan kewajiban orang beriman kepada Allah dan hari akhir, sebagaimana firman Allah:

“Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaknya diri memperhatikan apa yang telah ia lakukan untuk esok. Dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian lakukan (QS. Al-Hasyr : 18)

Pada ayat diatas Allah memerintahkan orang beriman sebanyak dua kali untuk bertakwa kepada-Nya, ketakwaan yang menjadi landasan dan tempat awal untuk mempersiapkan hari esok yang lebih baik.

Takwa dengan semua makna yang terkandung di dalamnya, adalah berhati-hati agar selamat dari murka Allah dengan menjalankan perintah-Nya, kehati-hatian sebagaimana yang digambarkan oleh Umar bin Khattab seperti orang yang menyusuri jalan yang penuh diri.

Ketika ketakwaan menjadi landasan untuk meraih hari esok lebih baik, lebih produktif, lebih dinamis, di dunia dan akhirat, sepatutnyalah orang yang beriman menjadikan Ramadhan kali ini lebih baik dari pada Ramadhan tahun lalu. Lebih-lebih lagi karena Allah telah menjadikan puasa sebagai salah satu cara memperoleh ketakwaan.

Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”

Jika kita menjadikan Ramadhan tahun lalu sebagai waktu untuk menabung sebanyak mungkin kebaikan, agar lebih menjadi lebih baik, maka Ramadhan kini adalah waktu untuk menjadikan semua kebaikan itu selalu diawasi oleh Allah dengan muroqobah akan kita terhindar dai penyakit hati sepertinya, pamrih dan lain sebagainya.

Muroqobah akan menghindarkan kita dari perbuatan doa kecil, palagi dosa besar, dan muroqobah yang merupakan satu bentuk tazkiyatun nafs, adalah cara meraih kesuksesan sebagaimana dikatakan oleh Syeikh Akhmad bin Muhammad Ibnu Al-Husain Al Jurary. “Jalan kesuksesan itu dibangun di atas dua bagian.

Pertama, Hendaknya engkau memaksa jiwamu muroqobah (diawasi) oleh Allah.

Kedua, Hendaknya ilmu yang kamu miliki tampak dalam perilaku lahiriahmu sehari-hari.

Dari berbagai target kebaikan yang ingin diperoleh pada bulan Ramadhan kali ini, semoga ia menjadi Ramadhan yang lebih baik dari Ramadhan tahun lalu. Karena jika kebaikan yang kita peroleh tetap sama dengan tahun lalu, sungguh hanya penyesalan kelak yang akan kita peroleh.

Selamat berlomba dalam meraih pahala ibadah di bulan Ramadhan ini, untuk dijadikan sebagai Ramadhan terbaik yang kita jalani, semoga segala usaha dalam meraihnya dapat menjadikan kita hamba-hamba Allah yang bertakwa, suci hati dan perbuatan, juga dapat memberatkan timbangan kebaikan kita kelak....!!!!!

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup

Puasa Dan Al-Quran

Sajadah Muslim ~ Menjalani puasa itu adalah amalan yang luar biasa, terlebih di bulan suci Ramadhan ini. Akan tetapi seperti  orang yang ingin mendapatkan kesempurnaan kebaikan, ia tidak akan merasa cukup hanya dengan menjalani ibadah puasa semata, tanpa menyempurnakan dengan amalan-amalan yang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad Saw.


Rasulallah bersabda: “Puasa dan Al-Qur’an itu akan memberikan syafaat kepada seorang hamba pada Hari Kiamat, Puasa berkata, “Ya Rabbku, aku telah mencegahnya dari makanan dan syahwat, maka jadikanlah aku sebagai pemberi syafaat untuknya.”

Al-Qur’an berkata, “Ya Rabbku, aku telah mencegahnya tidur pada malam hari, maka jadikanlah aku sebagai pemberi syafaat untuknya.” Beliau melanjutkan, “Keduanya pun lalu memberikan syafaat.” (HR. Ahmad).

Jadi, rugi kalau puasa tetapi tidak membaca Al-Qur’an, Al-Qur’an itu adalah wahyu, mukjizat akhir zaman, obat petunjuk dan penjelas dari setiap permasalahan hidup manusia, mulai dari soal kesucian hingga pemerintahan, dari masalah keluarga hingga negara dan seterusnya.

Ulama terdahulu sangat intens interaksinya dengan Al-Qur’an, terutama di bulan Ramadhan, jam pertemuannya dengan Al-Qur’an meningkat drastis.

Imam Qatadah (seorang ulama ahli tafsir di masa tabi’in) biasanya mengkhatamkan Al-Qur’an dalam tujuh hari. Namun jika datang bulan Ramadhan ia mengkhatamkannya setiap tiga hari, ketika datang sepuluh hari terakhir puasa ia mengkhatamkan setiap malamnya.

Hal seperti itu merupakan kezaliman di masa ulama terdahulu, seperti imam Qatadah, imam Syafi’i, dan Ibn Asakir, juga demikian. Ketika memasuki bulan Ramadhan semangatnya membaca Al-Qur’an meningkat drastis dan luar biasa.

Hikmah dan Solusi Untuk Yang Sibuk

Hikmah dari teladan di atas adalah bahwa puasa idealnya mampu menghadirkan injeksi energi yang luar biasa untuk seseorang semakin dekat kepada Allah, mencapai tujuan dari syariat puasa itu sendiri yakni bertaqwa kepada Allah.

Dan, jalan terbaik untuk bisa menjadi Muslim yang baik tentu saja melalui cara membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an.

Akan tetapi, bukanlah kita mengerti, tidak semua orang bisa meniru keteladanan para ulama yang sangat luar biasa itu? Benar, tetapi setidaknya interaksi dengan Al-Qur’an tetap kita upayakan untuk meningkat dibanding bulan-bulan diluar bulan Ramadhan.

Solusinya untuk dapat mencapai sempurnanya puasa  Ramadhan dengan senantiasa dekat dengan membaca Al-Qur’an, jika tak mampu duduk lama untuk membacanya hingga hatam, maka harus sering-sering mendatangi majelis ilmu terutama yang menjelaskan tafsir, tadabbur, atau pun kajian Al-Qur’an, dengan begitu, Insya Allah puasa Ramadhan akan semakin indah dan berkesan. Allahu a’lam.

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup

Ramadhan Dan Totalitas Kebaikan

Sajadah Muslim ~ Ada banyak warna dalam kehidupan manusia, semua itu penuh makna yang berbeda. Ada hikmah di setiap masalah, ada pelajaran di segenap kejadian. Untuk itu Allah berpesan kepada orang yang beriman agar tidak kehilangan semangat, apalagi sampai putus asa dalam hidupnya. Justru ia harus bergembira atas limpahan nikmat yang begitu sarat.


Sebab, ia  mungkin ditakdirkan melakoni satu warna tertentu sementara waktu, tapi yakinlah, bila tiba masanya, warna itu akan berubah, namun tetap dengan keindahan yang sama.

Bahkan boleh jadi ia lebih indah dari yang dibayangkan manusia. Ia hanya butuh kesabaran untuk menikmati proses dan warna yang dijalani sekarang ini.

Kaitan dengan bulan Ramadhan, hari-hari penuh dengan nikmat tersebut adalah satu warna terbaik yang dipunyai garansi itu, berbeda dengan waktu sebelumnya apapun semuanya akan melimpah.

Ada kucuran barakah, rahmat, ampunan, hingga janji pembebasan dari api neraka. Ini berlaku khusus hanya di bulan Ramadhan tersebut dan diperuntukkan bagi umat manusia yang bertaqwa, beriman dan beribadah untuk melaksanakan perintah Allah SWT.

Untuk itu lebih jauh, ada pelajaran menarik dari kisah Ashabul Ukhdud (Para Penggali Parit), yakni parah pembesar najran di Negeri Yaman. Disebutkan rezim zalim tersebut sengaja menggali parit untuk mengelilingi kota sekadar untuk menceburkan orang-orang beriman ke dalam lautan api yang sedang berkobar didalam galian itu. Tak ada alasan, selain karena orang-orang itu memiliki keyakinan tauhid kepada Allah.

Allah berfirman: “Sungguh orang-orang yang mendatangkan cobaan (berencana membunuh dan menyiksa) orang-orang beriman laki-laki dan perempuan lalu mereka tidak bertaubat (QS. Al-Buruj [85] ayat 10).

Sampai di sini mari cermati ayat di atas, ternyata telah menceritakan peristiwa sadis itu, disana ada motivasi sekaligus gambaran Maha Pengasih Allah dengan rahmat dan ampunan-Nya, yang begitu luas.

Maka tetaplah berdo’a dan memohon ampun kepada Allah. Dialah Pemilik surga yang luasnya sebentang langit dan bumi, Allah tak pernah tidur dan terus membentangkan tangan-Nya, mengampuni siapa saja yang datang untuk bertaubat kepada-Nya.

Maka jika ampunan itu masih juga ditawarkan kepada yang baru saja berbuat kejahatan dan menyiksa orang beriman, lalu kenapa ada seorang Muslim yang masih galau dalam hidupnya? Padahal dirinya hidup bersama dengan orang-orang shaleh di sekitarnya?

Ramadhan Hari-nya Al-Qur’an

Masih soal motivasi tentang bulan Ramadhan dan prestasi ibadah di dalamnya Khusus Al-Qur’an, kitab suci ini memang penuh dengan kisah-kisah mukjizat. Sebut saja apa yang menimpa Walid bin Mughirah, tokoh bangsawan Quraisy Mekkah dari kalangan Bani Makhzun. Sebagai tokoh penentang dakwah Islam, nyatanya berkali-kali kedapatan terciduk sedang mengintip dan menyimak diam-diam bacaan Al-Qur’an Rasulullah dan para sahabatnya.

Apapun alasannya, jelasnya Al-Qur’an memang luar biasa. Ia  mukjizat yang sengaja Allah turunkan dari langit. Wahyu itu asli. Kalam Ilahi, bukan buatan Nabi apalagi kerjaan manusia biasa. Ini yang kadang tak dimengerti oleh orang-orang yang mengaku pintar tapi masih saja terus mengusik atau mengutak atik isi Al-Qur’an.

Untuk itu disayangkan bagi seorang Muslim yang masih saja lalai dari membaca Al-Qur’an. Sebab wahyu tersebut bukan saja berisi jaminan limpahan rahmat atau luapan barakah, tapi sekaligus panduan universitas tentang cara menapaki jalan kehidupan.

Ada banyak manusia yang pernah hidup di dunia ini, tapi tak semua bisa selamat dalam kehidupan dan kematiannya. Ada yang meraih bahagia, namun ada banyak yang mengalami kesengsaraan dan celaka dalam hidupnya.

Kenapa demikian? Bacalah Al-Qur’an, disana orang itu bisa temukan jawabannya. Bahwa yang mengikuti petunjuk Tuhan dan manuruti tuntunan Nabi dijamin bisa bahagia, dengan seizin-Nya tentu saja.

Membaca Al-Qur’an selalu ada motivasi yang didapatkan itu untuk menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukanlah beban atau aturan yang memasung kebebasan manusia. Sebaliknya Al-qur’an dalah hiburan yang bisa melapangkan hati, mendamaikan jiwa, bahkan bisa mengobati raga manusia sekalipun.

Faqrsu ma tayassara minal Qur’an. Bacalah (dari Al-Qur’an), apa yang mudah bagi kalian. Demikian perintah Al-Qur’an, jadikan Al-qur’an sebagai kesenangan dan kenikmatan dalam setiap waktu dan keadaan. Ayat apapun, surah apaun, semua baik untuk dibaca dan direnungi. Apalagi di bulan suci Ramadhan saat-saat yang sarat dengan barakah dan waktu dikabulkannya do’a.

Andai belum sempat, luangkan waktu sekadar mendengar dan menyimak Al-Qur’an, “Fastami’u lahu wa anshitu iqallakum turhamun”. Ini jaminannya, Orang  itu bakal mendapat kucuran rahmat dari Allah.

Padahal hanya sekedar diam dan menyimak saja, tanpa berbuat apa-apa selain itu, lagi-lagi di bulan Ramadhan tak ada alasan untuk membiarkan waktu berlalu tanpa kucuran rahmat sedikitpun, inilah saat terbaik bagi umat muslim.

Inilah yang pernah terjadi pada sebagian tokoh Quraisy Mekkah saat itu. Mereka rela mempertaruhkan gengsi dan kehormatan mereka, kalau-kalau kedapatan sedang diam-diam menikmati bacaan yang memang bukan sembarang huruf-huruf tersebut.

Sebab nyatanya, mendengarnya pun sudah ada jaminan rahmat dan ketenangan yang bakal memenuhi jiwa-jiwa kerontang mereka.

Tentu saja, yang paling ideal adalah mempelajari dan mengamalkan Al-qur’an. Membacanya dengan penuh sungguh-sungguh hingga memperhatikan setiap huruf-huruf dan kata-kata di dalamnya (Yatiuna haqqa tilawah). Karena tak ada secuilpun dari Al-qur’an kecuali ia adalah mukjizat Allah. Jadi sudahkah kalian membaca Al-qur’an hari ini? Apa lagi di bulan Ramadhan ini diturunkannya Al-Qur’an.

Raih Untung dengan Istighfar

Ramadhan sungguh satu keberuntungan yang nyata bagi orang beriman. Betapa tidak saat jiwa mulai meranggas kerontang dengan kesibukan dunia, ada Ramadhan yang mengguyur dahaga itu semua. Bak oase ditengah padang pasir. Keberadaannya begitu dinanti, ia dicari bahkan diburu.

Ramadhan adalah masa yang semua orang terpanggil untuk bermuhasabah diri. Rangkaian ibadah-ibadah di bulan Ramadhan menjadi perantara untuk kian dekat dengan Allah.

Bahkan mereka sampai rela meninggalkan aktivitas makan, minum dan larangan lainnya di siang hari, semata untuk menegakkan ketaatan dan penghambaan kepada Allah Ta’ala.

Di contohkan oleh Nabi, seluruh aktivitas pun menjadi ibadah dan amal shaleh. Tak ada  waktu kecuali diisi dengan istighfar untuk memohon ampun kepada Allah. Maka beruntunglah orang yang menjumpai catatan amalan-nya istighfar yang banyak.

Kabar gembira sekaligus perintah ini disampaikan oleh Baginda Nabi Muhammad Saw seperti diriwayatkan oleh imam al-Bukhari. ”Demi Allah, aku sungguh beristighfar pada Allah dan bertaubat pada-Nya dalam sehari lebih dari 70 kali.”

Mengapa istighfar? Kenapa bukan yang lain? Sebab istighfar adalah kebutuhan bagi manusia yang hidupnya melekat dengan dosa yang pekat. Istighfar adalah terapi manjur bagi pribadi jujur termasuk untuk mereka pegiat ketaatan dan kebaikkan. Istighfar juga adalah obat bagi segala persoalan yang mendera.

Ini bisa dibaca untuk mengundang hujan, menghentikan kemarau dan paceklik yang tak berkesudahan. Istighfar bisa dipakai untuk mereka yang rindu dibuahi keturunan yang shaleh dan shalehah. Istighfar sangat cocok untuk mereka yang ingin diperbanyak harta dan kebun-kebun yang lebat.

Kalimat ajaib ini juga sangat pas pula untuk menenangkan hati seseorang yang sedang gundah.

Cukup? Oh, belum wahai sahabatku, masih ada selaksa lebih faidah dari permohonan ampun kepada Allah, tersebut Ibnu Taimiyah, berkata dalam kumpulan fatwanya, seorang hamba butuh kepada istighfar siang dan malam. 

Bahkan sangat mendesak untuk senantiasa membasahi lidahnya dengan bacaan istighfar pada setiap ucapan dan keadaan, dalam keadaan sendiri atau di hadapan banyak orang.

Mengapa demikian? Karena istighfar mengandung maslahat yang sangat banyak, menghadirkan kebaikkan dan mencegah keburukan. Seorang hamba melalui istighfar, bisa meminta tambahan kekuatan dalam amalan hati, fisik, keyakinan dan keimanan.

Hebatnya lagi, istighfar bukan melulu bicara keburukan atau dosa, kebaikan pun butuh istighfar. Usai shalat, orang itu masih diminta untuk beristighfar, setelah wudhu, bubar dan majelis ilmu dan seterusnya.

Apa pasal? Sebab amal manusia itu tak pernah sempurna, ia begitu dekat dengan kekurangan dan kecerobohan. Ia adalah rambu yang menahan manusia dari sikap sombong dan bangga terhadap diri sendiri. Mengingatkan akan hakikat dirinya selaku hamba di hadapan Tuhan-Nya.

Syukurnya, ada bulan Ramadhan yang senantiasa menghampiri, di sana ada tawaran rahmat, ampunan dosa dan pembebasan dari api neraka. Ini tentu hanya berlaku bagi mereka yang mau beristighfar dan bertaubat kepada-Nya.

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup

Unggul Dan Bermanfaat Dalam Bulan Ramadhan

Sajadah Muslim ~ Ramadhan adalah hadiah dari Allah bagi umat Nabi Muhammad, agar secara mudah dan cepat mendapatkan gelar taqwa. Namun kemudahan itu sendiri juga membutuhkan pemahaman, komitmen dan kesungguhan kita sendiri di dalam menjalani hari di bulan suci ramdhan ini.


Ramadhan adalah momentum terbaik untuk menjadikan diri kita unggul, bukan semata ibadah tetapi juga kecerdasan, sosial, dan tentu saja kemaslahatan bersama.

Hal ini karena bulan Ramadhan kita tidak ditempa melalui ragam ibadah mahdah semata, tetapi juga tuntutan berpikir melalui tadabbur Al-Qur’an, memperdalam ilmu dalam ragam kajian keislaman, kepekaan sosial melalui infak dan sedekah, serta menghadirkan kemaslahatan bersama melalui kewajiban untuk menunaikan zakat. 

Dalam kata yang lain, peluang untuk menjadi manusia unggul sekaligus bermanfaat telah terhampir luas bagi setiap insan beriman. Kalau berkaca pada semangat para ulama terdahulu dalam melakukannya, utamanya dalam perkara sholat berjama’ah.

Asy-Sya’bi berkata, “Tidak adzan dikumandangkan semenjak aku masuk Islam melainkan aku telah berwudhu saat itu.” Dalam hal sedekah, Nabi telah memberikan teladan yang jelas.

“Nabi adalah orang yang paling gemar bersedekah. Semangat beliau dalam bersedekah lebih membara lagi, ketika bukan Ramadhan tatkala itu Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan. Jibril mengajarkan Al-Qur’an kala itu. Dan Rasul adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.” (HR. Bukhari)

Semoga Allah memberikan kekuatan kepada diri kita untuk mengisi bulan Ramadhan secara maksimal dan optimal sehingga mampu menjadi pribadi yang bertaqwa, yakni pribadi unggul dan bermanfaat bagi seluas-luas terhadap kehidupan umat manusia.

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup

Mengapa Jihad Harta Menjadi Keharusan?

Sajadah Muslim ~ Dr. Nawwaf Takruri dalam bukunya Dahsyatnya Jihad Harta, menuliskan mengapa jihad harta menjadi keharusan.


Pertama,  Karena menjalankan perintah Allah Ta’ala kita ketahui dalam Islam harta adalah alat, bukan tujuan, apalagi kiblat dan sembahan. Hukum jihad dengan harta adalah wajib sebagaimana kewajiban jihad dengan jiwa (nyawa). Berjihadlah melawan orang-orang musyrik dengan harta, nyawa dan lisan kalian.” (HR. Abu Dawud).

Kedua, Dengan harta kita berharap meraih keutamaan jihad dan pahala besar yang dijanjikan kepada orang yang yakin dan mau berjihad dengan hartanya.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan nyawa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” QS. Al-Hujarat [49} ayat 15).

Rasulullah bersabda,“Siapa yang menafkahkan harta di jalan Allah, maka baginya (pahala) sebanyak 700 kali lipat.” (HR. Tirmidz).

Lebih jauh, orang yang menyumbangkan harta akan selalu berada dalam perlindungan dan pertolongan Allah. Allah akan membelanya dan tidak membiarkannya terhina.

Ketiga,  Menghindari dampak buruk dari sikap enggan berjihad dengan harta seperti cinta dunia dan takut mati. Kikir alias bakhil yang akan menyerat diri pada jurang kerugian.

“Beritahukan kepada orang-orang yang suka menyimpan harta (tanpa mengeluarkan zakatnya) bahwa mereka akan dibakar dari arah punggung hingga keluar dari belakang leher hingga menembus dahi mereka.” (HR. Muslim)

Keempat, Guna merealisasikan niat tulus dan hasrat untuk menjalani jihad dengan jiwa (nyawa).

Hal ini sangat penting karena akan menjadikan Allah memberikan balasan terbaik. Rasulullah bersabda, “Siapa yang memohon mati syahid dengan tulus maka Allah akan menempatkannya pada kedudukan para syuhada, sekalipun ia mati di atas kasur.”  (HR. Muslim).

Kelima, Untuk menegakkan kejayaan agama Allah, membela kehormatan, dan mendukung orang-orag yang berjihad dengan nyawa.

Menarik dalam uraian ini. Takruri menuliskan, “Ingatlah, di setiap  pagi pada hari-hari aktif belajar saat engkau memandang anak-anakmu yang sedang berkerumun disekitarmu dengan beragam perilaku, mulai dari yang minta uang jajan, uang buku, hingga uang untuk membeli pulpen atau di setiap pagi pada hari raya, saat engkau mencium anak-anakmu, dan sebaliknya mereka menciummu, ingatlah disana ada saudara-saudaramu yang sedang ditawan atau telah gugur. Mereka tidak dapat memandangi anak-anak dan keluarganya.

Keenam, Mengikuti jejak langkah generasi terdahulu (salaf). Menjelang wafatnya, Rasulullah masih ingat dengan sepotong emas. Beliau pun meminta Aisyah ra untuk di sedekahkan.

“Berikan emas itu kepadaku.” Aisya ra pun melakukannya”.

“Apa dugaan Muhammad kepada Tuhannya jika ketika telah menghadap-Nya, emas ini masih tersisa di rumahnya?” Lalu beliau bersabda, “Sedekahkanlah emas ini.” (HR. Ahmad).

Ketujuh, Ini juga disebabkan musuh-musuh Islam mendanai besar-besaran proyek kebathilan mereka secara terus menerus, karena itu kita lebih berkewajiban melakukan agar dapat mengembalikan hak-hak yang terampas dan meraih kemerdekaan.

Disini jihad harta bisa dikerahkan untuk mendorong kemandirian ekonomi umat, sehingga umat Islam tidak lagi tergantung kepada siapa pun juga di bumi ini. Allahu a’lam.

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup

Harta Sebagai Bahtera Ke Surga

Sajadah Muslim ~ Islam adalah ajaran yang sempurna. Ini bisa dibuktikan dengan lengkapnya tuntunan yang ada di dalamnya. Dimana tak satu pun sisi hidup manusia melainkan telah ditetapkan bagaimana semestinya untuk dijalani.


Soal harta misalnya, Islam memberikan tuntunan yang jelas bagaimana untuk menggunakannya. Harta dalam Islam tidak boleh hanya dijadikan pemuas keinginan, apalagi sekedar tunggangan untuk melegitimasi diri bisa melakukan kesombongan.

Harta dalam Islam adalah sarana yang harus digunakan untuk mendapatkan ridha-Nya, mendapatkan surga-Nya. Itulah kenapa dalam Islam ada kewajiban jihad dengan harta. Dan salah satu tuntunan Islam terhadap harta adalah menunaikan zakatnya. 

“Dari Amar Ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya ra, bahwa seorang perempuan datang kepada Nabi bersama putrinya yang mengenakan dua gelang emas di tangannya. Lalu beliau bertanya.

“Apakah engkau mengeluarkan zakat gelang ini?” Dia menjawab, “Tidak” Beliau bersabda, “Apakah engkau senang pada hari kiamat nanti Allah menggelangi kamu dengan dua gelang api neraka?”

Lalu perempuan itu melepaskan kedua gelang tersebut. (HR. Abu Dawud).

Perhiasan emas adalah komoditi kekayaan (harta) yang ketika memenuhi syarat zakat, wajib untuk di zakati. Pandangan rasio manusia mungkin memandang apa perlunya. Namun, bagaimana pun bahwa harta berupa emas, wajib untuk di zakati. Jika menolak, maka sama dengan merekalah diri dibakar dalam neraka. Sebaiknya, orang yang dengan hartanya menunaikan zakatnya, maka berkah dan rahmat Allah akan datang dalam kehidupannya.

Dari Abdullah bin Aufa ra berkata, “Biasanya bila suatu kaum datang membawa zakat kepada Rasulullah beliau berdo’a.” Ya Allah, berilah rahmat atas mereka.” (Hr. Bukhari dan Muslim)

Hal tersebut mempertegas bahwa orang yang menunaikan zakat akan selamat bahkan memperoleh rahmat dari Allah. Oleh karena itu, mari cek dalam diri, adakah harta yang kita miliki telah memenuhi syarat wajib zakat, entah itu berupa emas, barang dagangan, profesi, pertanian, peternakan dan lainnya. Jika memang memiliki, maka segeralah mendatangi ulama atau membaca buku perihal zakat agar dapat dipastikan kapan dan berapa yang harus di zakati.

Insya Allah dengan cara hidup seperti itu, harta akan menjadi bahtera menuju ridha Allah untuk mendapatkan surga-Nya. Allahu a’lam.........!!!!!!

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup

Ramadhan Dan Gerakkan Ilmu

Sajadah Muslim ~ Ramadhan pada umumnya orang mengulas beragam keutamaannya dari sisi ubudiyah dan muamalah. Namun sejatinya Ramadhan adalah momentum terbaik dalam melangsungkan gerakkan ilmu. Karena dalam sejarahnya hal ini amatlah kuat kaitannya.


Pertama, Al-Qur’an di turunkan di bulan Ramadhan, karena itulah Ramadhan disebut juga sebagai syahrul Qur’an (bulan Al-Qur’an). Para ulama pun telah memberikan keteladanan bagaimana Ramadhan digunakan untuk banyak berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Kedua, Wahyu pertama yang turun adalah surah Al-Alaq ayat 1-5, perintah yang termaktub di dalam ayat pertama adalah membaca. Bukan sekadar membaca, tapi diiringi dengan kalimat bismirabbik.

Hal ini menunjukkan bahwa kita diperintah oleh Allah Ta’ala untuk membaca ayat yang bersifat qauliyah (wahyu) maupun kauniyah (fenomena alam) dengan landasan iman dan untuk meneguhkan iman.

Secara bahasa dapat dipahami bahwa makna “Iqra” adalah perintah bagi manusia untuk belajar dan mengkaji, meneliti ilmu pengetahuan yang diajarkan oleh Allah dalam al-Qur’an maupun alam semesta.

Dengan demikian turunnya wahyu pertama di bulan Ramadhan yang mengandung perintah untuk membaca mengisyaratkan bahwa bulan tersebut harus dimanfaatkan untuk banyak membaca, khususnya kitab suci al-Qur’an. Lebih jauh mengkaji, meneliti, mendalami, menggali, dan memahami ayat-ayat Allah dalam kehidupan, baik yang sifatnya telah menjadi sejarah, kekinian maupun yang akan datang.

Jika hal ini menjadi arus utama umat Islam dalam mengisi Ramadhan, maka insya Allah, puasa yang dijalani akan semakin berkualitas dan mendatangkan kebahagiaan yang berlapis-lapis, bertingkat-tingkat. Dan hal ini dapat kita mulai dengan menyemarakkan gerakkan belajar dan mengajar Al-Qur’an Tadarus, tadabbur penting dan menjadikan itu semua sebagai gerakkan dalam bulan suci Ramadhan adalah benar-benar kunci utama untuk kebangkitan umat.

Tahapan

Pertanyaannya kemudian apakah semua akan mudah dan mampu menjalankan idealitas yang dimaksud? Tentu saja tidak, terlebih intensitas dan kualitas, interaksi masing-masing orang dengan Al-Qur’an berbeda-beda.

Maka bagi yang belum bisa membaca dengan kaidah yang diharuskan, belajar al-Qur’an meliputi cara bacaan yang benar (tajwud dan makhraj) harus diupayakan, selanjutnya dapat dengan bersungguh-sungguh memahami terjemahan dan maknanya serta menggali kandungan ilmu dan hikmah.

Semangat

Para dai, para ustadz, mubaliqh dan guru harus punya semangat untuk mengajarkan Al-Qur’an karena demikian mulianya amalan ini.

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya”.

Terakhir mulailah untuk mengkaji Al-Qur’an dengan fenomena alam agar kita semakin merasakan kekuasaan dan keagungan Allah Ta’ala.

Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui, dan telah kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua.

Tidak mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang, dan masing-masing beredar pada garis edarnya .” (QS. Yasin [36] ayat 38-40).

Bagaimana kita memahami ayat di atas, baik secara keimanan maupun sains dan teknologi? Inilah pentingnya bulan Ramadhan yang menjadi momentum bagi umat untuk melahirkan gerakkan ilmu.

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup

Ramadhan Bukan Sekedar Tradisi

Sajadah Muslim ~ Ada banyak hadiah yang Allah, tawarkan melalui bulan Ramadhan ini.

Semuanya tampak menggiurkan ibarat door prize, sejumlah hadiah itu bukan lagi sekedar janji yang tak kelihatan. Tapi trophy yang dimaksud itu sudah begitu nyata di depan mata. Semua bisa memandangnya, seolah tak ada lagi jarak yang memisahkan. Kecuali tinggal menunggu waktu penyerahan hadiah saja.


Demikianlah Ramadhan, setiap waktu bulan istimewa itu kembali dihadirkan oleh Allah. Seperti yang lalu, janji-Nya tak pernah berubah apalagi berkurang. Semuanya sudah siap itu belum termasuk berbagai macam bonus hadiah yang juga telah lama disediakan. 

Masing-masing peserta lomba seolah ditantang, beberapa hadiah yang kalian mau, asalkan memenuhi kriteria dan persyaratan yang ada, maka silakan meraup hadiah sebanyak-banyaknya.

Kesadaran inilah sesungguhnya yang perlu untuk terus disegar-segarkan. Ramadhan adalah bulan ibadah, bulan kemenangan. Ini bukan sekedar tradisi. Apalagi janji semu layaknya manusia yang suka berjanji begitu saja. Tak heran, orang-orang shaleh dahulu begitu rindu dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan. Baru saja melepas Syawal, jauh-jauh hari mereka sudah berdo’a dan munajat khusus. Kiranya Allah berkenan mempertemukan kembali dengan Ramadhan tersebut.

Disayangkan, jika ada anggapan bahwa  Ramadhan tak lebih dari bulan-bulan yang lain. Sekurangnya itu tampak dari sikap sebagian kaum Muslimin, mereka seolah acuh tak peduli dengan maraknya orang-orang lain menyambut kedatangan bulan mulia tersebut.

Sungguh hal tersebut adalah suatu kerugian besar jika tidak dimanfaatkan seoptimal mungkin. Sebab itu menjadi cermin diri, seberapa mampu dia mengendalikan hawa nafsunya. Apa sesungguhnya yang dominan dalam hati dan pikirannya. Apakah imannya berhasil memenangkan pertarungan itu, ataukah justru ia bertekuk lutut, tertunduk lesu dihadapan nafsu yang merajai jiwanya.

Termasuk kecenderungan hati soal harta dan materi dunia. Salah satu tolok ukur paling mudah adalah melihat respon manusia terhadap kewajiban zakat atau berinfak di bulan Ramadhan.

Disaat orang-orang begitu berbahagia dalam membagi dan memberi kepada orang lain. Adakah dirinya justru masih ragu dan memilih untuk menahan hartanya dibanding menyisihkan sebagiannya kepada orang lain yang lebih berhak. Apakah ia merasa rugi dan berat hati melepas hartanya atau dia yakin dengan janji-janji Alalh?

Sekali lagi Ramadhan bukanlah sekedar tradisi yang berulang begitu saja, sebagaimana kewajiban puasa dan zakat tidak pula menjadi ibadah pemanis di bulan Ramadhan saja ini adalah peluang yang mesti disergap oleh setiap umat Islam.

Kesempatan emas untuk menikmati ibadah dengan penuh kekhusyuan.  Ada kondisi yang telah disiapkan, ada tawaran yang sudah disediakan, seharusnya umat Islam berlomba dalam memanfaatkan peluang ini untuk kian dekat kepada Allah.

Sebab jika di bulan Ramadhan saja, manusia masih enggan menyisihkan sebagian hartanya kepada orang-orang yang tidak mampu. Jika di bulan kemenangan ini, ada yang tak kunjung tertarik dengan janji-janji Allah. Maka boleh jadi pikiran dan hatinya benar-benar telah dikuasai oleh hawa nafsunya. Padahal justru inilah saat-saat yang penuh barakah.

Dimana orang begitu berbahagia, ketika menunaikan ibadah, ada pancaran senyum saat harta yang di bagi tersebut menjadi sebab tersenyumnya saudara seiman kita. 
“Salah satu tolok ukur paling mudah adalah melihat respon manusia terhadap kewajiban ber-zakat atau ber-infak di bulan Ramadhan.”
Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup

Back To Top