Membahas Tentang Seputar Ilmu Agama Islam

Dakwah Ustadz Syam Di Tanah Toraja

Sajadah Muslim ~ Tanah Toraja merupakan daerah yang alamnya dikenal sejuk. Itu karena posisi Toraja yang berada di ketinggian 974 M diatas permukaan laut (DPL). Dan ada kisah dakwah yang indah disana. Di antara gugus pegunungan Latimojong itu dakwah Ustadz Syamsuddin Nasir Kende umur 36 tahun bersemai dan kian berkembang.


Sejak tahun 2005 ia memantapkan diri di jalan dakwah, menjalani suka dan duka dengan semangat luar biasa. Sebagai wilayah pegunungan, jalan kaki dalam dakwah jelas merupakan cara yang memakan waktu dan tenaga. Akan tetapi kaki itulah cara terbaik saat kendaraan belum ada.

Sebelum ada motor sumbangan dari Laznas BMH, saya jalan kaki setiap akan mengisi dakwah menuju rumah-rumah warga di seberang bukit, ujar Ustadz Syam membuka percakapan.

Dakwah kami dimulai dengan menghadirkan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), lalu membentuk majelis taklim dari rumah ke rumah, dan secara khusus pengajaran Al-Qur’an kepada bapak-bapak atau ibu-ibu mualaf. Imbuhnya.

Selain itu akidah guna menguatkan keyakinan, Ustadz Syamsusddin juga mengenalkan tentang akidah guna menguatkan keyakinan. 

“Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad sebagai utusan Allah, Kemudian dikenalkan dengan fiqih ibadah, baik tata cara wudhu, shalat, mandi junub, termasuk hijab bagi kaum wanita.

“Alhamdulillah di lingkungan kami sekarang sudah biasa pemandangan wanita berhijab yang sebelumnya diawal-awal dakwah masih jarang dijumpai” tuturnya berbahagia.

Sekalipun ustadz Syamsuddin menjalani itu semua sebagai minoritas, namun dakwahnya berjalan baik dan aman. Lelaki asli Tana Toraja yang pernah mengenyam pendidikan di Pesantren Hidayatullah Makassar itu menerangkan masyarakat Toraja memiliki sistem kekerabatan yang sangat erat, tidak jarang di dapat dalam satu keluarga atau rumah terdapat beberapa aliran kepercayaan yang beragam.

Salah satu fungsi keberadaan rumah tangkonan bagi masyarakat Toraja menjadi tempat interaksi sesama kerabat dan warga, tuturnya.

Lebih lanjut Ustadz Syamsuddin mengatakan bahwa pratik toleransi yang terjadi di lingkungan Toraja memudahkan dirinya dalam menjalankan amanah dakwah.

Pada penghujung tahun 2019 Lembaga Amil Zakat Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) berkunjung ke lokasi dakwah Ustadz Syamsuddin melalui program bertajuk touring di 24 Kabupaten di Sulawesi Selatan.

Ustadz Syamsuddin mengungkapkan harapan besar yang ingin ia capai selaku dai, yakni Muslim di Tanah Toraja lebih banyak paham agama dan berkualitas dalam beragama. Maka sarana pendukung untuk muallaf disana memahami dan mengamalkan lebih baik dan sangat dibutuhkan.

Oleh karena itu dalam kesempatan yang sama lasnaz BMH, menyerahkan bantuan Wakaf Al-Qur’an dan Iqro, kepada masyarakat binaan Ustadz Syamsuddin yang beralamat di Dusun Geruang Desa Tando-tando Kecamatan Mangkendek, Rante Kalua, Kabupaten Tana Toraja Sulawesi Selatan.

“Al-Qur’an ini sangat bermanfaat, sehingga masyarakat bisa lebih dekat dan dapat memahami dan mengamalkan Al-Qur’an dengan lebih baik. Terima kasih BMH”. Tutup Ustadz Syamsuddin.

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup

Kisah KH Ahmad Dahlan Di Bully Dengan Rebana

Sajadah Muslim ~ Al Kisah KH. Ahmad Dahlan baru keluar dari rumah, tiba-tiba saja sekelompok pemuda yang dipimpin keponakannya sendiri mengiringinya dengan musik rebana. Mereka mengolok-olok dan men-bully Kiai Ahmad Dahlan yang saat itu sedang berjalan keluar untuk melaksanakan suatu tugas.


Olok-olokan dengan musik rebana diacuhkan Kiai Dahlan. Ia tetap berjalan seperti biasa, mengapa dan tersenyum dengan warga yang lain berpapasan seolah tak terjadi apa-apa. Akhirnya orang-orang yang men-bully dengan rebana berhenti sendiri karena merasa tidak berhasil dengan langkah itu.

Olok-olok dengan musik rebana dilakukan untuk menghambat gerakan reformasi Islam yang dilakukan oleh Kiai Dahlan saat itu. Keponakannya yang 13 tahun belajar dari pesantren ke pesantren itu merasa aneh dengan langkah Kiai Dahlan yang berbeda dengan dunianya.

Sepulang dari pesantren, ia mempunyai keahlian berbagai bidang ilmu, termasuk ilmu Fikih dan Falak yang termasuk di dalamnya Ilmu Hisab. Dengan ilmu-ilmu itu, ia punya pengaruh di Kauman, terutama di kalangan muda. Karenanya ketika ia minta para pemuda mengolok-olok Kiai Dahlan dengan rebana, mereka pun melakukannya. Merasa cara bully tidak berhasil, keponakannya itu pun mengajak Kiai Dahlan berdebat. Ajakan ini di sambut baik Kiai Dahlan. Ditentukanlah waktu dan tempatnya.

Perdebatan dilaksanakan pada malam hari dan di saksikan oleh anak-anak muda pengikut keponakan Kiai Dahlan. Debat berlangsung sejak usai shalat Isya hingga pukul 01.00 dini hari. Usai perdebatan, sang keponakan dapat menerima pemikiran-pemikiran Kiai Dahlan. Karenanya ia bersama pengikut-pengikutnya mendukung langkah-langkah Kiai Dahlan, selanjutnya.

Keponakan Kiai Dahlan itu adalah KH. Ahmad Badawi. Sejak itu, KH Ahmad Badawi berusaha menyusaikan langkah-langkahnya dengan yang dilakukan Kiai Dahlan. Salah satu langkah penyesuaian adalah menyikapi hafalan-hafalan ayat suci Al-Qur'an. Selama ini KH Ahmad Badawi banyak menghafal ayat  Al-Qur'an tertentu dengan maksud tertentu. Ini salah satu yang dikritik Kiai Dahlan pada Kiai Ahmad Badawi. Menurut Kiai Dahlan, tidak ada perbedaan ayat satu dengan ayat yang lain dalam Al-Qur'an. Semuanya menurut Kiai Dahlan harus diamalkan.

Kritik Kiai Dahlan ini diterima dengan baik oleh KH Ahmad Badawi. Sejak itu ayat-ayat Al-Qur'an yang telah dihafalnya tidak pernah dibaca lagi dengan maksud tertentu. Hafalannya akhirnya dimanfaatkan untuk memperbanyak variasi bacaan ketika shalat, selain dipraktekkan dalam amal nyata sesuai dengan pengertian dan maksud ayat.

Penyesuaian demi penyesuaian ia lakukan, sambil tetap mendukung langkah-langkah Muhammadiyah saat itu. Akhirnya KH Ahmad Badawi pun membulatkan tekad menjadi anggota  Muhammadiyah. Keberadaannya di Muhammadiyah lebih diperjelas dengan tercatatnya ia di buku Anggota Muhammadiyah nomor 8.543 pada tanggal 25 September 1927. Keanggotaan ini diperbarui pada zaman Jepang, sehingga ia ditempatkan pada nomor 2 tertanggal 15 Februari 1944.

Kiai Ahmad Badawi termasuk keluarga dekat KH. Ahmad Dahlan yang akhir-akhir masuk Muhammadiyah, meskipun ayahnya, KH. Muhammad Fakih, termasuk generasi  awal Muhammadiyah . KH Muhammad Fakih (salah satu pimpinan Muhammadiyah pada tahun 1912 sebagai Komisaris). Sedangkan ibunya Nyai Hj. Sitti Habibah, adalah adik kandung KH Ahmad Dahlan. Jika dirunut silsilah dan garis ayah, maka KH Ahmad Badawi memiliki garis keturunan Panembahan Senopati.

Sikap Ahmad Badawi ini dapat dimaklumi karena sejak kecil ia sudah pergi ke pasantren, sebelum Muhammadiyah berdiri. Ia lahir di Kauman Yogyakarta pada tanggal 5 Februari 1902. Pada tahun 1908-1913 ia nyantri di Pondok Pesantren Lerab, Karanganyer, Jawa Tengah untuk belajar nahwu dan sharaf. Pada tahun 1913-1915, ia belajar kepada KH Dimyati di Pondok Pesantren Termas, Pacitan, Jawa Timur. Di pasentren ini, ia dikenal sebagai santri yang pintar berbahasa Arab (nahwu dan sharaf). Pada tahun 1915-1920, ia nyantri di Pasentren Besuk, Wangkal, Pasuruan, Jawa Timur. Badawi mengakhiri pencarian ilmu agama di Pasentren Kauman dan Pasentren Pandean di Semarang, Jawa Tengah pada tahun 1920-1921.

KH. Ahmad Badawi adalah generasi Kauman terakhir yang sempat bertemu dengan Kiai Ahmad Dahlan yang menjadi Ketua PP Muhammadiyah, bahkan selama dua periode tahun 1962-1965 dan tahun 1965-1968. Semenjak berkiprah di Muhammadiyah, ia lebih leluasa mengembangkan potensi dirinya dalam bertabligh. Ia pun mengajar di sekolah (Madrasah) dan berdakwah lewat pengajian dan pembekalan ke muhammadiyahan. Ia pun kemudian dipercaya menjadi Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah pada tahun 1933.  

Pada tahun-tahun berikutnya, ia juga diserahi amanat menjadi Kepala Madrasah Za'imat (yang kemudian digabung dengan Madrasah Muallimat pada tahun 1912). Di Madrasah Muallimat ia memiliki obsesi untuk memberdayakan potensi wanita, sehingga mereka mampu menjadi muballighat handal di daerahnya.

Sumber : Majalah Suara Muhammadiyah
 

Surat Dari Sulaiman Dan Respons Ratu Balqis

Sajadah Muslim ~ Setelah surat itu sampai ke tangan Ratu Balqis segera dia kumpulkan para pembesar kerajaan untuk berunding apa yang harus mereka lakukan untuk merespon surat dari Sulaiman tersebut. Allah Swt berfirman :

“Berkata ia (Balqis): “Hai pembesar-pembesar sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isinya): “Dengan menyebut nama Allah Swt yang Maha Penyayang dan Maha Pemurah, bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Naml : 27-31).


Surat Nabi Sulaiman as kepada Ratu Balqis penguasa Saba' dimulai dengan lafazh basmallah. “Dengan menyebut nama Allah Swt yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang.” Inilah surat pertama yang dimulai dengan basmallah, bahkan menurut para ulama, seperti dikutip Ibu Katsir dalam Kitab Tafsirnya (10:403) tidak ada seorang pun sebelum Nabi Sulaiman as yang menulis lafazh basmallah tersebut.

Isi surat Nabi Sulaiman sangat ringkas, tapi menunjukkan kelasnya sebagai seorang Nabiyullah dan seorang raja yang berkuasa. Setelah menyebut nama Allah Swt yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Nabi Sulaiman menyatakan, “janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.”

Mengetahui bahwa surat itu diantar oleh seekor burung. Ratu Balqis sudah tercengang, apalagi membaca isinya. Singkat dan dalam surat itu kalau bukan dari seorang raja yang besar tidak mungkin akan mengirim surat semacam itu. Barangkali Ratu Balqis sudah pernah mendengar sebelumnya tentang Raja Sulaiman di daerah utara jazirah Arabia dan tahu bagaimana hebat dan berkuasanya raja tersebut.
Ratu Balqis segera mengumpulkan para pembesar kerajaan untuk meminta  pendapat mereka Allah Swt berfirman :

“Berkata dia (Balqis). “Hai para pembesar, berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelisku.

Mereka menjawab: “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada ditanganmu. Maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan.”

Dia berkata: “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina, dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat.

Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu.” (QS. Al-Naml: 32-35).

Setelah para pembesar istana berkumpul. Ratu Balqis menegaskan bahwa dia tidak akan pernah membuat keputusan, apalagi dalam masalah pelik seperti sekarang ini, sebelum meminta pendapat para pembesar kerajaan “Saba” yang dia pimpin. “Bagaimana pendapat kalian tentang isi surat dari Raja Sulaiman ini.”

Mereka menyatakan siap mematuhi apa pun perintah yang akan diberikan oleh Ratu Balqis. Seandainya harus berperang, mereka siap. “Kita punya kekuatan dan keberanian,” kata mereka.

Tentu saja Ratu Balqis senang dengan kesiapan dan keberanian para pembesar kerajaan untuk berperang. Tapi dia punya pikiran lain, bukan berperang, tapi mengirim utusan untuk mengantar hadiah untuk raja Sulaiman. Karena perang, dalam pandangan Ratu Balqis hanya akan menimbulkan kerusakan. Kerajaan yang bersusah payah dibangun akan hancur. Penduduk negeri yang kalah akan hina, bahkan bisa saja diperbudak. Mengirim para utusan dengan membawa hadiah yang berharga, yang sesuai dengan kebesaran Raja Sulaiman menunjukkan iktikad mereka untuk bersahabat dan berdamai. Nanti akan dilihat bagaimana respon Raja Sulaiman setelah menerima para utusan Kerajaan Saba tersebut. Beberapa kemungkinan  bisa saja  terjadi.

Pertama, Raja Sulaiman menerima hadiah-hadiah tersebut, kemudian mewajibkan Kerajaan Saba' mengirim upeti setiap tahun sebagai bukti ketundukan dan kepatuhan mereka kepada Raja Sulaiman. Kalau itu yang terjadi peperangan dapat dihindari.

Kedua, Raja Sulaiman tersinggung dan marah, kemudian memutuskan untuk memerangi Kerajaan Saba' yang dianggap tidak mau patuh.

Menurut Ibn 'Abbas' sebagaimana  dikutip Ibn Katsir dalam kitab Tafsirnya (10: 405) Ratu Saba' juga mengatakan kepada para pembesarnya : “Jika Raja Sulaiman menerima hadiah yang kita  antarkan, berarti dia hanya seorang raja, maka silahkan kalian perangi dia. Tapi jika dia menolak hadiah kita maka dia adalah seorang Nabi, maka ikutilah dia.”

Ternyata raja Sulaiman menolak hadiah-hadiah tersebut sembari mengancam akan memerangi Kerajaan Saba'. Allah Swt berfirman:

 “Maka tatkala utusan itu sampai kepada raja Sulaiman. Sulaiman berkata: “Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta? Maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik dari pada apa yang diberikan-Nya kepadamu, tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu.

Kembalilah kepada mereka. Sungguh kami akan mendatangi mereka dengan balatentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina.” (QS. Al-Naml: 36-37).

Al-Qur'an tidak menjelaskan hadiah-hadiah apa saja yang diantarkan oleh para utusan Ratu Saba' kepada Raja Sulaiman. Apakah emas berlian, batu-batu mulia, pakaian yang indah-indah, atau bisa juga budak-budak laki-laki dan perempuan. Atau benda-benda lain, tidak terlalu penting untuk dibahas. Yang jelas Raja Sulaiman menolak semua hadiah itu, dan menyatakan apa yang diberikan oleh Allah Swt kepada beliau, lebih baik dari pada apa yang diberikan Allah kepada Ratu Balqis. Tidak perlu kalian berbangga, kata Raja Sulaiman, dengan kekayaan yang kalian miliki.

Raja Sulaiman menolak hadiah-hadiah tersebut seraya mengancam akan mengirim pasukan yang besar untuk memerangi Kerajaan Saba'. Kata Ratu Balqis dan seluruh pembesar bersama dengan balatentaranya tidak akan mampu mengalahkan balatentara Raja Sulaiman yang perkasa tersebut.

Sumber : Majalah Suara Muhammadiyah
 

Sentuhan Raja Midas

Sajadah Muslim ~ Alkisah pada jaman Yunani Kuno ada seorang raja bernama Midas. Ia mendapatkan hadiah kehebatan dari seorang keturunan dewa, yaitu apa saja yang disentuh Raja Midas akan menjadi emas. Berbekal kemampuan ini. Raja Midas menyentuh semua barang yang ada di istananya hingga menjadi emas. Ya betul-betul menjadi emas. Namun tanpa ia sadari, ketika ia lapar dan hendak makan, ia menyentuh makanannya dan jadilah emas !


Saat ini mitos dari negeri Yunani ini berimej positif karena menggambarkan tekad seseorang yang meyakini semua potensinya sehingga apa yang ia inginkan dapat tercapai. Seringkali, di saat kita merasa terpuruk dengan berbagai kegagalan dan cobaan tanpa kita sadari, kita telah menyalahkan diri sendiri. Kalimat pesimis dan menyalahkan diri sering kita lontarkan kepada diri kita juga. Manakala gagal meraih yang kita inginkan, kita mendakwa diri sendiri adalah makhluk yang terbodoh. Padahal dengan menyalahkan diri maka motivasi kita secara otomatis menurun (demotivasi). Ketika diri kita telah demotivasi maka resiliensi atau semangat untuk bangkit lagi dari keterpurukan telah melemah.

Pada saat kita terpuruk maka bangkitkanlah lagi cerita sentuhan Raja Midas ini dalam diri. Ungkapkan pada diri. “Aku pasti bisa melewati ini dan kesuksean telah menungguku pasti....pasti dan pasti bisa!” Dengan optimisme dalam diri maka kita akan mudah bangkit lagi. Terlebih menurut expectation theory (teori penghargaan), semakin kita berharap kesuksean maka semakin besar peluang kesuksean itu menghampiri kita, karena motivasi yang tinggi untuk sukses mendorong perilaku seseorang untuk mencapai kesuksean tersebut. Terus terang, saya sering melakukan sentuhan Raja Midas ini untuk mendorong optimisme  saya. Ketika saya ingin membeli rumah atau mobil maka saya akan sentuh barang tersebut dengan menanamkan keyakinan bahwa saya pasti bisa membelinya. Walhamdulillah, barang yang saya inginkan dapat terbeli dan terpenuhi.

Alangkah lebih baik jika lingkungan sosial turut mendukung munculnya optimisme kesuksean tersebut. Misalnya, anak kita yang sedang terpuruk dengan prestasi akademisnya, kita bangkitkan lagi optimisme kesukseannya dengan harapan-harapan yang positif. Semakin kita memberi harapan-harapan optimisme kepada orang lain maka kinerjanya dapat melebihi kapasitas dirinya. Hal inilah yang menyebabkan harapan positif dari lingkungan sosial tadi tertanam di dalam dirinya dan membuktikan harapan positif tersebut menjadi kenyataan. Proses menanamkan optimisme kepada orang lain sehingga ia berusaha mewujudkan inilah  yang disebut sebagai self fulfilling prophecy sebagai salah satu dasar tercapainya harapan, di samping berdoa kepada Allah Swt. Huwallahu 'lam bish shawab.

Oleh Bagus Kastolani
 

Syafaat Rasulullah SAW Kepada Umatnya

Sajadah Muslim ~ Pada hari kiamat nanti, Allah swt mengumpulkan semua manusia dari awal hingga akhir di Padang Mahsyar. Saat itu manusia berada dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Mereka ketakutan terhadap apa yang akan terjadi atas diri mereka. Manusia saling berkata, ”Apakah kamu tidak memikirkan penderitaanmu ? Siapakah yang dapat memberikan syafaat untuk kita.”?


Sebagian di antara manusia itu berkata, ”Bapak kita kan Adam, mari kita minta syafaat kepadanya.” Mereka berkata, ”Wahai Adam, bapak seluruh umat manusia. Allah swt telah menciptakan engkau dengan tangan-Nya, kemudian Allah  meniupkan roh  ke dalam tubuhmu dan Allah memerintahkan pada malaikat untuk bersujud  di hadapanmu, maukah kamu memberikan  syafaat untuk kami ? Apakah kamu tega melihat kami menderita ? Nabi Adam menjawab, ”Sesungguhnya pada hari ini, Rabbku  telah murka dengan kemurkaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan sesudahnya seperti kemurkaan-Nya pada hari ini. Sesungguhnya Allah swt pernah melarangku mendekati pohon Khuldi, tetapi aku justru melanggar perintah-Nya. Pergilah kalian  kepada yang lain, pergilah  kepada Nabi  Nuh.”

Kemudian manusia pun pergi kepada Nabi Nuh. Mereka berkata, “Wahai Nuh, engkau adalah Rasul pertama di Bumi Allah swt, telah memberimu nama Abdul Syakur (hamba  yang bersyukur). Apakah kamu tega melihat penderitaan kami ? Maukah kamu memberikan syafaat untuk kami ? “Nabi Nuh menjawab, ”sesungguhnya pada hari ini, Rabbku telah murka dengan kemurkaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan sesudahnya seperti kemurkaan-Nya pada hari ini.

Sesungguhnya  aku dahulu telah berdoa yang berisi  keburukan  atas kaumku. Pergilah kalian kepada yang lain ! Pergilah kepada Nabi Ibrahim.”

Kemudian, manusia pergi kepada Nabi Ibrahim, mereka berkata, ”Wahai Ibrahim, engkau adalah Nabi Allah dan juga  kekasih-Nya. Tolonglah kami, berilah kami syafaat dari Allah, apakah engkau tega melihat kami begini”?

Nabi Ibrahim pun menjawab, ”Sesungguhnya pada hari ini, Rabbku telah murka dengan kemurkaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan sesudahnya seperti kemurkaan-Nya pada hari ini. Sesungguhnya aku pernah  berdusta tiga kali. Pergilah kamu kepada yang lain, pergilah kepada Nabi Musa.”

Kemudian, manusia pun pergi kepada Nabi Musa, mereka berkata, “wahai Musa, engkau adalah utusan  Allah. Allah  telah memberikan keutamaan kepadamu dengan risalah-Nya dan kalam-Nya, engkau pernah berbicara langsung dengan Allah swt. Berikanlah syafaat untuk kami, Apakah engkau tega melihat kami begini.”?

Nabi Musa menjawab, ”Sesungguhnya pada hari ini, Rabbku telah murka dengan kemurkaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan sesudahnya seperti kemurkaan-Nya pada hari ini. Sesungguhnya aku pernah membunuh seseorang tanpa perintah-Nya .Pergilah kepada yang lain, pergilah kepada Nabi Isa.”

Kemudian, manusia pun pergi kepada Nabi Isa, mereka berkata. ”Wahai Isa, engkau  adalah utusan Allah  yang diturunkan kepada Maryam, engkau mampu berbicara kepada manusia  ketika masih bayi. Berikanlah syafaat untuk kami. Apakah  engkau tega melihat kami begini”?

Nabi Isa pun  menjawab, ”Sesungguhnya pada hari ini, Rabbku telah murka  dengan kemurkaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan sesudahnya seperti kemurkaan-Nya pada hari ini. Nabi Isa tidak  menyebutkan dosa  yang pernah dilakukan. Nabi Isa  berkata, ”Pergilah  kepada yang lain, pergilah  kepada Nabi Muhammad saw.

Kemudian, mereka pun pergi menemui Nabi Muhammad saw, mereka berkata. ”Wahai Muhammad saw, engkau adalah  utusan Allah swt, dan engkau  pula penutup para nabi. Sesungguhnya Allah swt, telah mengampuni segala dosa-dosamu  yang telah  lalu dan dosa  yang akan  datang. Berikanlah syafaat  untuk kami. Apakah engkau  tega melihat kami begini”?.

Nabi Muhammad saw pergi  ke bawah Arsy, kemudian bersujud kepada Allah  swt, kemudian membacakan puji-pujian yang belum pernah dia baca dan ucapkan  sebelumnya. Lalu Allah swt berfirman, ”Wahai Muhammad saw, angkatlah kepalamu dan memohonlah, permohonanmu akan Ku kabulkan. Mohonlah syafaat kepada-Ku, engkau akan Ku beri syafaat.”

Rasulullah saw pun mengangkat kepalanya dan berkata, “Umatku ya Rabbi, umatku ya Rabbhi” Allah swt, berfirman. ”Wahai Muhammad saw, masukkanlah orang-orang yang tidak dihisab dari umatmu melalui pintu surga yang berada di sebelah kanan, sedangkan untuk umatmu yang lain, mereka masuk melalui pintu-pintu yang lain. Rasulullah saw bersabda, ”Demi Zat yang jiwaku berada di dalam genggama-Nya, sesungguhnya jarak antara dua pintu surga itu seperti jarak antara Mekkah dan Hijr, atau seperti jarak antara Mekkah dan Bushra.”

Demikianlah, Rasulullah saw, memberikan syafaat untuk umatnya dengan izin Allah swt .Oleh karena  itu hendaknya kita selalu berpegang teguh pada agama Allah swt.

Sumber : Seri Peneguh Iman Islami

BERSEDEKAH DI MATA NABI

Sajadah Muslim ~ Suatu hari, ada seorang tamu yang datang ke rumah Abu Dzarr Al-Ghifari, Abu Dzarr berkata kepada tamu tersebut, ”Aku sedang masygul,.ada beberapa unta milikku, tolong ambilkan unta yang paling bagus”.

Tamu itu pun segera pergi untuk mengambil unta yang diminta oleh Abu Dzarr, akan tetapi, tamu itu bukannya mengambil unta yang bagus sebagaimana disarankan Abu Dzarr Al-Ghifari, melainkan memilih unta yang kurus kering, karena  itu, ketika unta  kurus yang diambil tamu tersebut disodorkan kepada Abu Dzarr, seketika Abu Dzarr jadi murka, ”Anda telah mengkhianatiku”.

Si tamu itu berkelit dan melakukan pembelaan. ”Yang paling bagus adalah unta jantan, dan aku pikir, suatu hari nanti anda akan memerlukannya. Abu Dzarr heran, mengernyitkan kening, Hari ketika aku paling memerlukan adalah hari ketika aku dibaringkan di dalam kubur karena Allah berfirman, ”Engkau tidak akan mencapai kebaikkan kecuali engkau memberikan apa yang paling engkau sukai ( QS.Ali Imron 3 : 92 ),  jawab Abu Dzarr.

Kisah diatas memberikan satu teladan betapa murah hatinya Abu Dzarr, bahkan Abu Dzarr lebih memilih orang lain dari pada dirinya sendiri dan ia menganggap tidak memerlukan sesuatu yang bagus kecuali nanti di alam kubur. Karena itu Rasul menganjurkan seseorang jika mau memberikan sesuatu, maka sesuatu itu adalah yang baik dan bahkan paling dicintai atau disukai. Ayat yang disebutkan Abu Dzarr itu memang turun karena ada seorang  sahabat yang memiliki sifat kedermawanan tinggi.

Mungkin akan muncul satu pertanyaan, kenapa memberikan sebuah kebun justru akan memberi banyak keuntungan ? karena tidak dapat diingkari bahwa sedekah itu adalah sebuah investasi. Hal ini ditegaskan oleh sabda Rasulullah bahwa Allah membesarkan sedekkah seperti engkau membesarkan anak unta. Kalau engkau menyedekahkan separuh kurma, maka Allah akan melipat gandakan, dan pada hari kebangkitan kelak, apa yang engkau sedekahkan itu akan dikembalikan kepada hamba dalam bentuk seperti atau lebih besar dari pada gunung Uhud.


Sebuah ayat dalam al-Qur’an, Allah berfirman, ”Perumpamaan mereka yang membelanjakan kekayaan mereka di jalan Allah itu adalah seperti sebutir biji jagung yang bertunas tujuh tangkai jagung, pada setiap tangkai ada seratus biji. Maka Allah melipat gandakan bagi apa yang dikehendaki-Nya”     (QS.Al-Baqarah ayat 261).

Tapi kenapa sebagian manusia justru merasa berat dan susah jika menyisihkan sebagian harta dan perhiasan-perhiasan duniawi yang mereka miliki. Harta yang dikumpulkan dengan susah payah itu, dianggap sebagai miliknya dan tidak  ada untungnya jika harus dibagi atau dibersihkan kepada orang lain. Alasannya takut merugi dan kehilangan jika harus mambagi sebagian harta yang telah  dikumpulkannya itu. Padahal dalam setiap harta yang dikumpulkan seseorang, ada hak bagi mereka yang miskin, karena itu membagikan harta pada mereka yang memerlukan dan membutuhkan adalah satu sunnah Nabi yang patut diamalkan.

Tetapi sifat kikir, merasa rugi dan juga takut miskin kerap menjadi penghalang bagi seseorang untuk membagikan sebagain harta yang dimiliki, apalagi sesuatu yang amat dicintai, padahal dibalik uluran tangan atau menyedekahkan harta itu ada rahasia  Allah yang di janjikan. Apa rahasia itu dari janji Allah, ketika seseorang ringan tangan, ingin bersedekah.

RAHASIA  DI BALIK SEDEKAH

Imam Khomaeni dalamn buku 40 hadits terdapat hadits-hadits Mistik dan Akhlak. Membeberkan rahasia di balik sedekah yang digali dari beberapa hadits. Adapun rahasia itu antara lain biasa menyelematkan seseorang dari kematian buruk, memperpanjang usia, mengelakkan tujuh puluh bentuk kematian yang buruk dan Allah juga membalasnya sampai sepuluh hingga  seratus ribu kali lipat.

Selain itu sedekah juga bisa menambah kekayaan, bahkan orang yang bersedekah di waktu pagi, maka dia akan diselamatkan dari bencana alam sepanjang hari itu. Dan  jika orang bersedekah pada permulaan malam, dia akan diselamatkan dari bencana di sepanjang malam. Dengan sedekah, sakit pun bisa sembuh, karena itu kalau orang memenuhi kebutuhan rumah tangga seorang muslim, menyelamatkan mereka dari kelaparan, memberi mereka pakaian dan melindungi kehormatan mereka, amalnya lebih baik dibandingkan dengan berhaji sebanyak tujuh puluh kali.

Padahal berhaji itu lebih baik dibandingkan dengan memerdekakan tujuh puluh budak dan orang yang membebaskan budak, maka Allah akan membebaskan setiap tubuhnya dari api neraka untuk satu anggota tubuh seorang budak yang dibebaskan itu.

Oleh karena itulah kita tak lagi asing mendengar kisah para sahabat Nabi yang amat ringan tangan, seorang sahabat Nabi yang terkenal ringan tangan dalam bersedekah adalah Ali bin Ali Thalib.

Di suatu hari, pernah Ali membeli pakaian yang disukai, tetapi pakaian yang ia sukai itu tidak dipakainya, melainkan ia sedekahkan. Saat ditanya, Ali pun menjawab, ”Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, ”Barang siapa lebih mementingkan orang lain dibandingkan dirinya sendiri, dia akan lebih dipentingkan oleh Allah untuk masuk surga pada hari kiamat. Dan barang siapa  yang mencintai  sesuatu lalu menjadikan untuk Allah pada hari kiamat Allah akan berkata kepadanya, “Hamba-hamba-Ku biasa memberikan balasan kepada sesame mereka dengan sepadan, maka Aku akan memberimu surga-Ku sebagai imbalan.”

Semoga kita dapat meneladani apa yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya untuk mendapatkan balasan yang sudah dijanjikan oleh Allah dan sejumlah  rahasia dibalik  sedekah itu.

Sumber : Rahasia Sunnah-Sunnah Nabi

Rahasia Memuliakan Anak Yatim

Sajadah Muslim ~ Kisah berikut ini patut kita renungkan. Adalah Pak Syarif, lelaki tua yang bekerja sebagai TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di Brunei Darussalam. Di sana, ia bekerja sebagai tukang potong rambut di sebuah perumahan. Pekerjaan yang sudah ditekuni salama 15 tahun itu tidak membuatnya terikat dengan satu rumah saja, sehingga ia dengan leluasa bergaul dengan sesama TKI.

Salah satu aktivitasnya adalah mengkoordinir beberapa kawan TKI untuk menyisihkan sebagian rezekinya. Setahun sekali ia menyumbangkan dana yang terkumpul ke beberapa pesantren di pulau Jawa. Pemahaman agama Pak Syarif cukup baik. Maklumlah, ia salah satu alumni di sebuah pesantren di Kediri, Jawa Timur. Istrinya seorang hafizah, penghafal Qur’an tiga puluh juz. Subhanallah! Tak mengherankan bila banyak orang bertandang ke rumahnya untuk bertanya mengenai agama.


Menurut beberapa orang yang mengenal, Pak Syarif seorang yang biasa-biasa saja, artinya ketika berbicara soal Islam, ia tidak muluk-muluk. Suatu hari, Pak Syarif berujar pada salah satu rekannya yang akan kembali ke Indonesia.”Kalau kamu nanti sudah sampai di Tanah Air, carikan saya anak yatim ya…!

Kalimat itu membuat rekannya kaget. Dalam hati ia berkata, “Belum pernah saya bertemu orang yang akan menghidupi anak yatim. Kalau orang yang mencari dana untuk anak yatim sih sering,”

Belakangan diketahui bahwa dengan hasil usahanya di negeri seberang itu, Pak Syarif telah membeli tanah, ladang dan sawah di kampung halamannya di Ngawi, Jawa Timur. Ia juga telah membeli mesin penggiling padi dan mesin pembuat tahu yang di kelola saudara-saudaranya. “Saya mempunyai cita-cita membuat semacam pesantren dan usaha untuk anak yatim. Alhamdulillah, hasil sawah, ladang, usaha penggilingan, insya Allah sudah bisa menghidupi lebih seratus anak yatim.”

Allahu Akbar, cerita itu sungguh menggetarkan sanubari rekan Pak Syarif, ia tidak menyangka bapak tua yang bertampang sangat ndeso itu memiliki tujuan mulia. “Saya ingin membangun rumah di Surga,” tutur Pak Syarif lirih kepadanya. Karena itu, si rekan pun dengan antusiasnya berujar, “Ya, saya siap membantu!”

Hati siapa yang tidak bergetar melihat apa yang diperbuat Pak Syarif. Di balik sosoknya yang sederhana menyimpan akhlak yang sangat mulia. Pak Syarif adalah segelintir orang yang berkeras untuk mengoptimalkan kerja tubuhnya (berjihad) dan kerja hati (ikhlas) untuk menggapai apa yang diimpikan oleh setiap muslim, yakni mencari ridha Allah dan meniatkan diri untuk membeli surga.

Mari kita bercermin dari sikap Pak Syarif, sudahkah kita mengikutinya? Sudahkah kita mengalokasikan rezeki kita untuk mereka, anak-anak yatim yang mulia? Syukurlah jika kita sudah melakukannya atau berniat untuk mengikutinya.

Berbuat baik terhadap anak yatim adalah salah satu misi terpenting dalam Islam. Al-Qur’an membahas masalah ini sebanya 23 kali. Bahkan tanda bahwa orang tersebut benar imannya adalah berbuat baik kepada anak yatim (lihat QS. Al-Baqarah: 177).

Banyak bencana terjadi di negeri kita, seperti tsunami, gempa, banjir, tanah longsor dan beberapa kecelakaan transportasi yang merenggut banyak korban jiwa. Ratusan anak kehilangan orang tuanya. Mereka tidak hanya membutuhkan dana untuk menggapai masa depan, tapi yang tak kalah pentingnya adalah mereka juga butuh perhatian dan kasih sayang.

Memang, lembaga pemerintah dan swadaya masyarakat membuat panti-panti mengasuh anak-anak tersebut. Namun, mereka sejatinya membutuhkan rumah dan keluarga untuk menggantikan yang telah terenggut dari mereka.

Rasulullah mengingatkan, “Sesungguhnya seorang laki-laki mengeluh kepada Nabi saw. Karena hatinya yang keras. Nabi berkata, ‘Usaplah kepala anak yatim dan berilah makan orang miskin’.” (HR.Ahmad).

Sungguh pahala yang luar biasa akan diberikan kepada mereka yang memelihara dan merawat anak yatim. ”Orang-orang yang memelihara anak yatim dijamin masuk surga, bagaikan dekatnya jari telunjuk dengan jari tengah.”(HR. Muslim).

Hadits tersebut menunjukan betapa besarnya pahala yang diterima bagi mereka yang memelihara anak yatim dengan penuh kasih sayang. Hadits yang lain menyebutkan bahwa pangkal keluarga yang selalu diterangi dengan kegembiran, kehangatan dan keharmonisan adalah rumah yang didalamnya terdapat anak yatim.

“Dan seburuk-buruknya rumah kaum muslimin adalah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim tapi anak itu diperlakukan dengan buruk.”(HR. Ibnu Majah)

Peringatan Rasulullah saw Itu benar terjadi. Kita tidak bisa menutup mata, banyak sekali peristiwa di mana anak yatim diperlakukan dengan tidak semestinya, menghardik, berlaku sewenang-wenang, diperlakukan dengan kasar, bahkan harta mereka diambil. Merekalah yang di dalam Al-Qur’an digolongkan sebagai pendusta agama.

Sumber : Rahasia Sunnah-Sunnah Nabi

AMALAN YANG TIDAK IKHLAS

Sajadah Muslim ~ Dalam setiap amalan yang dilakukan manusia akan tergantung pada niatnya, apabila amalan itu diniatkan untuk mendapat keridhoan Allah swt, niscaya akan diberi ganjaran yang berlipat ganda. Akan tetapi jika niat beramal itu untuk kehidupan dunia, ia hanya akan mendapat kehidupan dunia saja.

Pada hari kiamat nanti, seorang  lelaki yang telah mati dalam peperengan fi sabilillah akan ditanya  oleh Allah swt. ”Apa  yang telah kamu lakukan di dunia”? Orang itu akan menjawab. ”Aku telah berperang demi Engkau Ya Allah hingga  aku mati syahid.” Allah swt beerfirman Kamu dusta! Kamu berperang bukan demi Aku, tetapi semua itu kamu lakukan supaya kamu disebut pahlawan.sekarang gelar itu telah kamu dapatkan, Hai  malaikat seret orang ini  ke neraka”!


Selanjutnya, orang kedua dipanggil, dia adalah seseorang  yang pandai membaca Al-Qur’an, rajin menuntut  ilmu dan selalu mengajarkan ilmunya kepada orang lain, Allah swt, bertanya kepada orang itu. ”Apa yang telah kamu lakukan di dunia”? Orang ini menjawab.Aku mempelajari berbagai ilmu dan mengajarkan kembali kepada orang lain, dan aku juga sering membaca Al-Qur’an. Semua itu kulakukan demi Engkau Ya Allah. Allah swt berfirman, Kamu dusta.Kamu belajar ilmu dan mengajarkan kepada orang lain bukan karena aku. Kamu lakukan itu supaya  kamu disebut sebagai orang yang alim dan banyak ilmu. Sekarang gelar itu telah kamu dapatkan, kamu juga membaca Al-Qur’an bukan karena aku. Itu kamu  lakukan supaya kamu digelari Qori. Sekarang gelar itu pun telah kamu dapatkan. Hai malaikat, seret orang itu ke neraka.

Kemudian orang ketiga  pun dihadirkan, dia adalah seorang yang diberi kekayaan yang melimpah dan dengan kekayaan itu dia menginfakkannya kepada fakir miskin, Allah swt memperlihatkan kepadanya nikmat Allah swt, dia pun mengakui nikmat itu. Kemudian Allah swt bertanya kepadanya. Apa yang telah kamu lakukan di dunia? Orang itu menjawab, Aku telah menginfakkan hartaku di jalan yang Engkau ridahi dan semuanya demi Engkau Ya Allah. Allah swt berfirman, Kamu dusta! Kamu melakukan itu agar  kamu disebut  seorang dermawan, sekarang kamu telah mendapatkannya. Hai malaikat seret orang ini juga ke neraka.

Itulah akibat dari amalan yang tidak ikhlas, semua amalan yang tidak untuk Allah swt, akan mendapat azab yang pedih. Oleh karena itu, hendaklah kita meluruskan niat dalam beramal. Lebih baik amalan yang sedikit, tetapi dikerjakan dengan ikhlas, dari pada amalan yang banyak tetapi  mengharapkan pujian dari manusia.

Jika kita melakukan sesuatu dengan keikhlasan, niscaya akan ada ganjaran yang kita  terima juga sebanding  dengan apa yang kita lakukan atau usahakan.

Referensi : Search Google

MENGHORMATI TAMU DENGAN IKHLAS

Sajadah Muslim ~ Tamu adalah raja, itulah kata-kata yang sering kita dengar dan kita dianjurkan untuk menghargai dan menghormati tamu. Cara menghargai dan menghormati  tamu adalah kita harus bersikap ramah dan memenuhi kebutuhan tamu kita. Kita juga diwajibkan untuk menjamu tamu dengan makanan dan minuman. Akan tetapi kewajiban menjamu tamu hanya berlangsung selama tiga hari, jika lebih dari tiga hari, hal itu hanya merupakan sedekah biasa.


Pernah suatu ketika, Abu Hafsh menjadi tamu pada salah seorang tokoh sufi yang terkenal, namanya Syekh Asy-Syibli, beliau bertamu selama empat puluh hari dan selama  itu pula beliau disajikan dengan berbagai macam makanan dan minuman.

Setelah masa bertamu itu, Abu Hafsh pun hendak pamit, beliau berkata, ”Apabila engaku datang  ke kotaku, Naishpur,  aku akan mengajarkan kepadamu cara menjamu tamu dan memberikan kemurahan hati yang sejati. ”Asy Syibli bertanya keheranan, ”Apakah kesalahan yang aku buat selama menjamu Anda.”? Abu Hasfh menjawab, ”Engkau telah mempersulit dirimu sendiri, hidangan yang berkelebihan  tidak sama dengan kemurahan hati. Sebaiknya engkau menjamu tamu seperti engkau menjamu dirimu sendiri.sesuaikan dengan kemampuan sendiri dan jangan terlalu memaksakan diri.dengan demikian, kedatangan tamu tidak dianggap sebagai beban yang menyulitkan dan kepergian tamu tidak dijadikan alasan untuk merasa lega. jika terlalu berkelebihan, kita tidak bisa dikatakan sebagai seorang yang pemurah.”

Beberapa waktu kemudian.Asy-Syibli datang bertamu ke Naishpur bersama dengan empat puluh orang sahabatnya. Mereka menginap di rumah Abu Hafsh. Pada saat malam tiba, Abu Hasfh menyalakan empat puluh satu lampu untuk menerangi dirinya sendiri dan seluruh tamunya.

Melihat hal itu, Asy-Syibli menegur Abu Hafsh”Wahai Abu Hafsh, anda pernah menasehati aku supaya tidak berkelebihan dalam menjamu tamu, tetapi mengapa engkau sendiri berkelebihan”? kalau memang demikian, cobalah kamu padamkan lampu-lampu itu jawab Abu Hafsh.

Setelah Asy-Syibli pun menuruti perintah Abu Hafsh untuk memadamkan lampu-lampu itu. Akan tetapi dia hanya  mampu memadamkan satu lampu yang berada di dekat Abu Hafsh, sedangkan ke empat puluh lampu lainnya  tidak dapat dipadamkan.Asy- Syibli bertanya dengan keheranan. ”Wahai guru yang mulia, apa  artinya semua ini?” Abu Hafsh  pun menjawab. ”Kalian datang sebagai  empat puluh  tamu Allah swt. Demi Allah, aku  niat menyalakan lampu untuk menerangi ke empat puluh tamu Allah swt dan sebuah  lampu lagi untuk diriku sendiri. Ke empat puluh  lampu yang dinyalakan dengan  niat untuk Allah swt, tidak dapat engkau padamkan, sedangkan satu lampu yang dinyalakan  untukku sendiri  dapat engkau padamkan. Ingatlah semua  perbuatan  yang kamu lakukan selama aku bertamu di rumahmu. Engkau lakukan semuanya  untuk menyenangkan aku. Akan tetapi  semua yang  kulakukan di sini aku niatkan untuk keridhoan Allah swt.Jadi semua yang kamu lakukan dulu merupakan perkara yang berkelebihan. Itu semua bukanlah kemurahan hati yang sebenarnya.”

Oleh karena itu, hendaklah kita menjamu tamu dengan sewajarnya, tidak berkelebihan dan tidak memaksakan diri.Sebagai tamu, kita juga hendaknya mengerti keadaan tuan rumah agar tidak menyusahkannya.

“Orang yang menunjukkan kebaikkan pada Anda adalah sahabat yang baik, dan orang yang menunjukkan kesalahan pada anda adalah sahabat yang paling baik.”

Sumber : Search Google

Kisah Nabi Yang Diutus Pada Kaum Yasin

Sajadah Muslim - Firman Allah SWT : "Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka. (Yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.' Mereka menjawab: 'Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.' Mereka berkata: 'Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu. Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.' Mereka menjawab : "Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya kamu jika tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami. "Utusan-utusan itu berkata : "Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami) ? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas. " (QS. Yasin: 13-19)

Allah SWT menceritakan kepada kita tentang tiga nabi tanpa menyebut nama-nama mereka. Hanya saja, Al-Qur'an menyebutkan bahwa kaum yang didatangi tiga nabi tersebut mendustakan mereka. Mereka mengingkari bahwa tiga nabi itu sebagai utusan Allah. Ketika para rasul itu menunjukan bukti kebenaran mereka, kaumnya berkata bahwa kedatangan mereka justru membawa kesialan. Mereka mengancam para nabi itu dengan rajam, pembunuhan, dan siksaan yang pedih. Para nabi itu menolak ancaman ini dan menuduh kaumnya membuat tindakan yang melampui batas. Mereka justru menganiaya diri mereka sendiri.

Al-Qur'an al-Karim dalam konteks ayat tersebut tidak menceritakan bagaimana urusan para nabi itu. Yang ditonjolkan oleh Al-Qur'an adalah urusan seorang mukmin yang mengikuti para nabi itu. Hanya dia satu-satunya yang beriman kepada nabi. Kelompok yang kecil ini berhadapan dengan kelompok yang besar yang menentang para nabi. Laki-laki itu datang dari negeri yang jauh. Dan dalam keadaan berlari, ia mengingatkan kaumnya. Hatinya telah terbuka untuk menerima kebenaran. Belum lama ia menyatakan keimanannya sehingga kemudian ia dibunuh oleh orang-orang kafir.

Allah SWT berfirman: "Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki (Habib an-Najjar) dengan bergegas-gegas ia berkata: 'Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu, ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan ? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya, jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikit pun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku ? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku." (QS. Yasin: 20-25)

Konteks Al-Qur'an hanya menyebutkan atau membatasi tentang proses pembunuhan itu. Belum lama orang mukmin itu atau belum sampai ia menghembuskan nafas terakhirnya sehingga Allah SWT mengeluarkan perintah-Nya dan mengatakan: "Dikatakan (kepadanya): 'Masuklah ke surga.' Ia berkata: 'Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan." (QS. Yasin: 26-27)

Jadi, Al-Qur'an al-Karim tidak menyebutkan nama-nama para nabi itu dan kisah-kisah mereka, tetapi yang ditonjolkan adalah kisah lelaki mukmin di mana dalam konteks ayat tersebut nama laki-laki mukmin pun tidak disebutkan. Tentu penyebutan namanya tidak penting, tetapi yang lebih penting adalah apa yang terjadi padanya. Beliau adalah seorang mukmin yang mengikuti para nabi AllahSWT.

Dikatakan kepadanya : masuklah ke dalam surga. Tentu proses penyiksaan yang diterimanya dan pembunuhannya bukan membawa suatu nilai yang besar tetapi yang perlu diperhatikan adalah bahwa ia beriman dan tetap berjuang membela para nabi. Meski-pun ia mendapatkan ancaman pembunuhan, ia tetap menunjukkan keimanannya dan keimanannya itu tetap membara. "Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku."
 
Sumber : quran.al-shia.org

Kisah Nabi Khidir AS Dengan Nabi Musa AS

Sajadah Muslim - Assalamu Alaikum wr wb. Nabi Khidir AS merupakan Hamba Allah SWT yang sangat khusus, karena beliau adalah salah satu hamba Allah yang ditunda kematiannya dan masih diberi rezeki. Selain itu beliau diutus untuk  memberi pelajaran Makrifat kepada Para Wali, para Sufi, maupun kepada orang  yang dengan tekun mendekatkan diri kepada Allah SWT. 


Nabi Khidir AS mengajarkan ilmu tentang Makrifat, ada yang menyebutkan Nabi Khidir AS juga mengajarkan ilmu Laduni. Banyak orang yang ingin bertemu dengan Nabi Khidir AS, terutama para penganut Tarekat, ataupun mereka yang ingin berguru kepada Nabi Khidir AS. Kesalahan terbesar mereka adalah karena mereka ingin bertemu, seharusnya jangan punya keinginan untuk bertemu, ikhlaskanlah beliau yang menemui kita

Al-Khiḍr (Khaḍr, Khaḍer, al-Khaḍir) keterangan mengenai beliau terdapat dalam Al-Qur’an   Surah Al-Kahfi ayat 65-82.  dan beberapa hadist. “Mystical Dimensions of Islam”, oleh penulis Annemarie Schimmel, Khidir dianggap sebagai salah satu Nabi dari empat Nabi dalam kisah Islam dikenal sebagai “Sosok yang masih Hidup” atau “Abadi”. Tiga lainnya adalah Nabi Idris AS, Nabi Ilyas AS,  dan Nabi Isa AS. Nabi Khidir AS abadi karena ia dianggap telah meminum air kehidupan. Khidir merupakan sosok yang sangat misterius. Ia pun dikisahkan dalam sebuah perjalanan Musa yang penuh hal ajaib, luar biasa, dan tentunya penuh misteri.

Suatu hari, seorang dari Bani Israil menemui Musa dan kemudian bertanya, “Wahai Nabiyullah, adakah di dunia ini orang yang lebih berilmu darimu ?” ujarnya. Tersentak, Nabi Musa AS pun jelas menjawab, “Tidak”. Tentu saja, siapa yang mampu menandingi ilmu Musa, utusan Allah kala itu. Sumber tuntunan agama dan sumber pengetahuan wahyu Allah ada di genggaman Musa. Ia memiliki Taurat dan beragam mukjizat dari-Nya. Namun, rupanya Allah memiliki hamba lain selain Musa yang lebih berilmu. Allah pun menegur dengan mewahyukan pada Musa bahwa tak seorang pun di muka bumi yang mampu menguasai semua ilmu. Tak hanya Musa, di belahan bumi lain pun terdapat seorang yang memiliki ilmu luar biasa. Ilmu itu tak dimiliki Musa sekalipun. Orang itu juga seorang Nabi. Mengetahui hal tersebut, sontak Musa pun ingin berguru pada orang tersebut. Ia bersemangat ingin menuntut ilmu dan menambah pengetahuannya.

Sesungguhnya teguran Allah Swt itu mencetuskan keinginan yang kuat dalam diri Nabi Musa AS untuk menemui hamba yang shaleh itu. Di samping itu, Nabi Musa AS juga ingin sekali mempelajari ilmu dari Hamba Allah tersebut. Nabi Musa AS kemudian menunaikan perintah Allah SWT itu dengan membawa ikan di dalam wadah dan berangkat bersama-sama pembantunya yang juga merupakan murid dan pembantunya, Yusya bin Nun. Mereka berdua akhirnya sampai di sebuah batu dan memutuskan untuk beristirahat sejenak karena telah menempuh perjalanan cukup jauh. Ikan yang mereka bawa di dalam wadah itu tiba-tiba meronta-ronta dan selanjutnya terjatuh ke dalam air. Allah SWT membuatkan aliran air untuk memudahkan ikan sampai ke laut. Yusya` tertegun memperhatikan kebesaran Allah SWT menghidupkan semula ikan yang telah mati itu. Selepas menyaksikan peristiwa yang sungguh menakjubkan dan luar biasa itu, Yusya’ tertidur dan ketika terjaga, beliau lupa untuk menceritakannya kepada Nabi Musa AS. Mereka kemudian meneruskan lagi perjalanan siang dan malamnya dan pada keesokan paginya. Ibn Abbas berkata, “Nabi Musa sebenarnya tidak merasa letih sehingga baginda melewati tempat yang diperintahkan oleh Allah supaya menemui hamba-Nya yang lebih berilmu itu.”.

Pejalanan melelahkan keduanya hingga mereka merasa lapar. Ketika Musa menanyakan bekal untuk makan, Yusya baru teringat pada si ikan. “Saat kita istirahat di batu tadi, sungguh aku benar-benar lupa mengabarkan tentang ikan itu. Tidaklah yang melupakanku untuk mengabarkannya padamu kecuali setan. Ikan itu kembali ke laut dengan cara yang aneh sekali,” ujar Yusya. Musa pun langsung mengetahui itu adalah sebuah tanda, “Itulah tempat yang kita cari,” ujar Musa bersemangat. Lupa sudah rasa lapar tadi, keduanya pun kembali ke arah semula tempat mereka beristirahat. Terdapat banyak pendapat tentang tempat pertemuan Musa dengan Khidir. Ada yang mengatakan bahwa tempat tersebut adalah pertemuan Laut Romawi dengan Persia yaitu tempat bertemunya Laut Merah dengan Samudra Hindia. Pendapat yang lain mengatakan bahwa lautan tersebut terletak di tempat pertemuan antara Laut Roma dengan Lautan Atlantik. Di samping itu, ada juga yang mengatakan bahwa lautan tersebut terletak di sebuah tempat yang bernama Ras Muhammad yaitu antara Teluk Suez dengan Teluk Aqabah di Laut Merah.

Ketika mereka telah Sampai pada tempat yang mereka tuju dan bertemu dengan sosok pria yang wajahnya tertutup sebagian oleh kudung. Sikapnya tegas menunjukkan kesalehannya. Pria itulah ialah Nabi Khidir AS. “Bolehkah aku mengikutimu agar kau bisa mengajarkanku sebagian ilmu di antara ilmu-ilmu yang kau miliki ?” ujar Nabi Musa AS kepada Khidir AS. Nabi Khidir AS menjawab, “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup bersabar bersama-samaku”(Surah Al-Kahfi : 67). “Wahai Musa, sesungguhnya ilmu yang kumiliki ini ialah sebagian dari pada ilmu karunia dari Allah yang diajarkan kepadaku tetapi tidak diajarkan kepadamu wahai Musa. Kamu juga memiliki ilmu yang diajarkan kepadamu yang tidak kuketahuinya.” Nabi Musa berkata, “Insya Allah tuan akan mendapati diriku sebagai seorang yang sabar dan aku tidak akan menentang tuan dalam sesuatu urusan pun.” (Surah Al-Kahfi : 69). Dia (Khidir) selanjutnya mengingatkan, “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun sehingga aku sendiri menerangkannya kepadamu.” (Surah Al-Kahfi : 70). Nabi Musa AS mengikuti Nabi Khidir AS dan terjadilah peristiwa yang menguji diri Musa yang telah berjanji bahwa Nabi Musa AS tidak akan bertanya mengenai sesuatu tindakan  Nabi Khidir AS. Setiap tindakan Nabi Khidir AS itu dianggap aneh dan membuat Nabi Musa AS terperanjat.

Peristiwa ketika Nabi Khidir AS menghancurkan perahu yang mereka tumpangi. Nabi Musa AS bertanya kepada Nabi Khidir AS. Nabi Khidir AS mengingatkan akan janji Nabi Musa AS, dan Nabi Musa AS meminta maaf karena lalai mengingkari janji  untuk tidak bertanya mengenai tindakan Nabi Khidir AS. Ketika  mereka tiba di suatu daratan, Nabi Khidir AS membunuh bocah yang sedang bermain dengan teman sebayanya. Dan lagi-lagi Nabi Musa AS bertanya kepada Nabi Khidir AS. Nabi Khidir AS kembali mengingatkan janji Nabi Musa AS, dan beliau diberi kesempatan terakhir untuk tidak bertanya-tanya terhadap yang dilakukan oleh Nabi Khidir AS, jika masih bertanya lagi maka Nabi Musa AS harus rela untuk tidak mengikuti perjalanan lagi bersama Nabi Khidir AS. Mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai disuatu Perkampungan. Sikap penduduk Kampung itu tidak bersahabat dan tidak mau menerima kehadiran mereka, hal ini membuat Nabi Musa AS merasa kesal terhadap penduduk itu. Setelah dikecewakan oleh penduduk, Nabi Khidir AS malah menyuruh Nabi Musa AS untuk  memperbaiki tembok suatu rumah yang rusak . Nabi Musa AS tidak kuasa untuk bertanya terhadap sikap Nabi Khidir AS ini. Akhirnya Nabi Khidir AS menegaskan pada Nabi Musa AS bahwa beliau tidak dapat menerima Nabi Musa AS untuk menjadi muridnya dan Nabi Musa AS tidak diperkenankan untuk terus melanjutkan  bersama dengan Nabi Khidir AS.

Nabi Khidir AS menguraikan  mengapa beliau melakukan hal-hal yang membuat Nabi Musa AS bertanya. Adapun perahu itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan perahu itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap perahu. Dan adapun bocah itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak/bocah lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya kepada ibu bapaknya. Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu, dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”.
 
Itulah Kisah Nabi Khidir AS yang melakukan perjalanan bersama Nabi Musa AS dan semoga menjadi pembelajaran bagi kita. Amin !!! Wassalamu Alaikum wr wb.

Kisah Nabi Yahya AS

Sajadah Muslim - Assalamu Alaikum wr wb. Nabi Yahya AS adalah Anak dari Nabi Zakaria AS, Nabi Yahya AS dilahirkan saat orang tuanya telah berusia senja, Nabi Yahya AS yang lahir pada tahun 7 SM merupakan anak satu- satunya Nabi Zakaria yang juga merupakan keturunan langsung dari Nabi-Nabi yaitu Nabi Sulaiman AS. Sejak kecil, Nabi Yahya AS sudah diajari oleh ayahnya tentang ajaran- ajaran yang terkandung dalam kitab Taurat dan Zabur. Nabi Yahya diangkat Allah SWT menjadi Nabi  dan Rasul pada tahun 27 M. 


Beliau membantu ayahnya dalam berdakwah dengan mengingatkan kaumnya dan para pemimpin Bani Israil yang melanggar hukum Taurat. Ia sangat berani menegakkan kebenaran dan menerapkan hukum agama dengan tegas. Ia juga selalu menganjurkan agar kaumnya yang berdosa segera bertaubat. Pertaubatan ini ditandai dengan dipermandikan atau dibaptiskan di sungai Yordan. Karena itu, Yahya dijuluki al-Ma'madan (Pembaptis). Hingga sekarang, upacara pembaptisan ini masih dilakukan oleh umat Kristiani.

Sebelum kelahiran Yahya, Nabi Zakaria sudah diberitahu tentang putranya yang akan membenarkan Firman Allah SWT mengenai kedatangan Nabi Isa AS : “Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya) : “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh”. (QS. Ali Imran :39). Di kemudian hari Nabi Yahya yang membaptis Nabi Isa AS dan membenarkan risalah atau syariat yang dibawanya. Namun Nabi Yahya tidak sempat ikut membela risalah itu karena tewas dibunuh oleh Raja Herodus.

Nabi Yahya AS hidup pada saat Yerussalem berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Romawi (4 SM - 39 M) dengan Herodus sebagai penguasa setempat. Suatu ketika Raja Herodus berencana menikahi anak tirinya, Herodia. Tapi Yahya mengetahui rencana itu. Maka ia segera mengeluarkan fatwa larangan, karena menurut hukum Taurat, anak tiri haram dinikahi. Tapi Herodia tidak ingin pernikahannya gagal. Maka ia meminta Raja Herodus membunuh Yahya. Raja Herodus segera menangkap Yahya dan memasukkannya ke penjara. Akhirnya Yahya dibunuh oleh Raja Herodus untuk memenuhi permintaan kekasihnya itu.

Di dalam Al-Quran Nabi Yahya AS tidak banyak diceritakan, hanya dijelaskan beliau dikaruniai hikmah dan ilmu semasa kecil. Beliau hormat pada orang tuanya, dan tidak sombong atau pun durhaka. Beliau pintar dan tajam pemikirannya, beribadah siang malam. Di kalangan bani Israil, beliau dikenal sebagai ahli agama dan hafal Taurat.

Kisah Nabi Yahya AS Saat berdialog dengan Iblis

Pada suatu hari, datanglah iblis menghadap Nabi Yahya as dan dia berkata :
  • Iblis : "Wahai Nabi Yahya, aku ingin memberimu nasehat". 
  • Nabi Yahya AS : "Kamu berdusta. Kamu jangan menasehati aku, tetapi beritahukan kepadaku tentang anak cucu Nabi Adam AS”.
  • Iblis : "Anak cucu Adam itu menurut asal ada tiga golongan, yaitu: (1) Golongan yang paling keras terhadap golongan kami, Bila saya menemukan kesempatan untuk menggodanya, maka kesempatan itu tidak bisa saya manfaatkan sehingga kami tidak memperoleh apa-apa dari mereka. (2) Golongan yang kami kuasai, Mereka ini ditangan kami tidak ubahnya seperti bola di tangan para anak-anak kami yang kapan saja bisa dimainkan. Kami puas atas mereka. (3) Golongan orang-orang seperti Anda, Mereka ini oleh Allah SWT dilindungi sehingga saya tidak dapat menembus mereka.
  • Nabi Yahya as : "Kalau begitu, apakah kamu mampu menggoda saya ?"
  • Iblis : "Tidak, tapi hanya sekali saja saya mampu menggoda anda. Yaitu ketika anda menghadapi makanan, lalu anda memakan makanan itu sekenyang-kenyangnya sampai anda tertidur pada waktu itu juga. Saat itu anda tidak melakukan shalat malam seperti pada malam-malam sebelumnya”.
Karena Iblis tidak mampu menggoda Nabi Yahya AS, maka iblis pun pergi untuk kembali nanti. Iblis berfikir, mungkin di kesempatan lain bisa menggoda Nabi Yahya AS. Iblis mendatangi Nabi Yahya AS lagi, dan kali ini iblis tengah memperlihatkan dirinya dengan beberapa barang yang tergantung.
Dan terjadilah dialog lagi dengan mereka.
  • Nabi Yahya AS : "Apakah barang-barang yang tergantung itu, wahai Iblis laknatullah ?" 
  • Iblis : "Ini adalah beberapa syahwat yang saya dapat dari anak Adam”.
  • Nabi Yahya AS : "Apakah aku juga ada (syahwat) ?"
  • Iblis : "Kadang-kadang Anda kebanyakan makan (maksudnya sekali itu saja hingga Beliau tertidur), lalu Anda berat untuk menjalankan shalat dan dzikir kepada Allah SWT."
  • Nabi Yahya AS : "Apakah ada yang lain?"
  • Iblis : "Tidak ada. Wallahi tidak ada." (Ini menunjukkan bahwa para Nabi dan Rasul itu benar-benar dilindungi oleh Allah SWT dari perbuatan dosa).
  • Nabi Yahya AS : "Ketahuilah wahai Iblis, sesungguhnya Allah SWT tidak akan memenuhkan perut saya dari berbagai makanan."
  • Iblis : "Saya rasa demikian. Saya pun juga begitu, saya tidak akan memberi nasehat kepada anak cucu Adam".
Sekian dan semoga Kisah Nabi Yahya AS menjadi pembelajaran bagi kita, Wassalamu Alaikum wr wb !!!

Kisah Nabi Uzair AS Tertidur 100 Tahun

Sajadah Muslim - Diceritakan bahwa seorang Nabi dari kalangan bani Israil bernama Uzair berjalan menyusuri sebuah perkampungan dengan mengendarai seekor kudanya. Setelah jauh berjalan, tiba-tiba dia tersesat ke suatu perkampungan yang rata dengan tanah setelah dihancurkan oleh sekelompok tentara. Di perkampungan itu, dia melihat kehancuran yang luar biasa, bangkai manusia dan hewan berserakan di mana-mana serta tulang-belulang manusia bertebaran di semua tempat. Ketika itulah, dia berkata dalam hati, “Bagaimana caranya Allah menghidupkan kembali semua yang telah berserakan ini setelah matinya ?”.

Perlu diketahui Nabi Uzair AS adalah seorang hamba Allah SWT yang hidup pada zaman Nabi Isa AS. Nabi Uzair AS adalah seorang Nabi dan Rasul utusan Allah SWT yang salah satu diantara 313 Rasul utusan Allah SWT. Nama Uzair berasal dari kata Azaro, yang artinya “mengkoreksi”, yaitu mengkoreksi kebenaran dengan kebenaran yang sebenarnya dan mengkoreksi kesalahan  menjadi suatu kebenaran yang semestinya. Nabi Uzair AS adalah seorang lelaki yang amat sholeh dan paham pada kitab Taurat. Ia dikatakan memahami setiap isi kandungan Taurat. Beliau menjadi rujukan setiap masyarakat Yahudi pada zaman itu.

Karena kelelahan Nabi Uzair AS beristirahat sejenak di perkampungan itu. Di bawah sebatang pohon dia kemudian tertidur dengan tidur yang sangat lama, karena Allah menidurkannya selama seratus tahun (100 Tahun). Tubuhnya kemudian hancur dan telah menjadi tanah, orang-orang pun telah melupakannya.

Setelah 100 tahun ia tertidur, Allah SWT membangunkan atau menghidupkannya kembali dengan jasad sebagaimana semula saat mulai tertidur. Kemudian Allah bertanya kepada beliau: “Berapa lama kamu tinggal di sini ?” Beliau menjawab: “Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari”. Allah berfirman: “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berobah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang), Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia, dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging”. Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) beliau pun berkata: “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. Al-Baqarah : 259).

Setelah bangun atau hidup kembali, Nabi Uzair AS mengelola wilayah itu, dari kehancuran, kegersangan, kesunyian tanpa kehidupan sampai menjadi suatu wilayah dengan masyarakat yang beriman kepada Allah SWT yang aman dan sejahtera. Beliau mengelola wilayah itu selama berpuluh-puluh tahun. Tersebarlah keadaan beliau dan wilayah itu ke semua penjuru bumi hingga ke Kerajaan yang sedang berkuasa pada saat itu. Kemudian tentara Kerajaan besar itu menyerang wilayah itu, sehingga akhirnya beliau dipindahkan dan diangkat oleh Allah SWT ke alam batiniyyah, sebagaimana yang terjadi pada Nabi Isa AS.

Setelah kehilangan Nabi Uzair AS, rakyat di wilayah itu menjadi kebingungan karena tidak ada pengelola wilayah yang mampu meneruskan tata kelola wilayahnya sebaik Nabi Uzair AS. Maka datanglah sesosok setan yang berjasad manusia dan berkata kepada penduduk daerah itu, “Jika kamu sekalian menginginkan keadaan sejahtera lagi, maka buatlah patung Uzair, dan sembahlah dan mintalah kepada patung itu, karena Uzair adalah Putra Allah” (Sungguh setan musuh manusia yang nyata. “Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Baqarah : 169-170).

Maka patung itu diwujudkan oleh Raja Kerajaan besar itu dan dijadikan sesembahan. Demikianlah jadinya Raja tersebut menyembah patung Uzair. Dan terjadilah kekosongan keimanan kepada Allah SWT dan mendewakan patung Uzair. Kemusyrikan Orang-Orang Kafir itu dalam Kebiasaan menyembah patung Uzair itu ditiru oleh orang-orang kafir musyrik Yahudi, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al Qur’an Surat At Taubah 30-31 : “Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putra Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah“. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling ?.” “Mereka menjadikan rabbi- rabbi (orang-orang alimnya) dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan Uzair dan Al Masih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan". (QS. At Taubah : 30-31).

Hadist Nabi Muhammad SAW tentang Nabi Uzair AS : Diriwayatkan oleh Abdullah bin Abdurrahman bin Abu Bakar As-Shidiq, di Kitab Nuril Akwan yang ditulis oleh Abi Hasan Al Bishri, Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa bersaksi bahwa sesungguhnya Nabi Uzair itu adalah hamba Allah yang Maha Pemurah, maka Allah membukakan baginya pintu surga dan menjauhkannya dari tipu daya setan dan menyatukannya bersama hamba-hamba Allah yang Maha Pemurah". (Syahadat ini dibaca setelah syahadat kepada Allah dan RasulNya).

Kisah Nabi Sulaiman AS Dan Kerajaannya

Sajadah Muslim - Firman Allah SWT : "Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: 'Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman.' Dan Sulaiman telah mewarisi Daud dan dia berkata: 'Hai manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu, sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata". (QS. an-Naml : 15-16). Nabi Sulaiman AS adalah Putra Nabi Dawud AS. Sejak ia masih kanak-kanak berusia sebelas tahun, ia sudah menampakkan tanda-tanda kecerdasan, ketajaman otak, kepandaian berfikir serta ketelitian di dalam mempertimbangkan dan mengambil sesuatu keputusan.

Nabi Sulaiman Menjadi Pengadil

Sewaktu Nabi Dawud AS (Baca Kisah Nabi Dawud AS Raja Bani Israil), ayahnya menduduki tahta kerajaan Bani Isra'il ia selalu mendampinginnya dalam tiap-tiap sidang peradilan yang diadakan untuk menangani perkara-perkara perselisihan dan sengketa yang terjadi di dalam masyarakat. Ia memang sengaja dibawa oleh Dawud, ayahnya menghadiri sidang-sidang peradilan serta mengikutinya di dalam menangani urusan-urusan kerajaan untuk melatihnya serta menyiapkannya sebagai putra mahkota yang akan menggantikanya memimpin kerajaan, bila tiba saatnya ia harus memenuhi panggilan Ilahi meninggalkan dunia yang fana ini. Dan memang Sulaiman-lah yang terpandai di antara sesama saudara yang bahkan lebih tua usia dari padanya. Suatu peristiwa yang menunjukkan kecerdasan dan ketajaman otaknya yaitu terjadi pada salah satu sidang peradilan yang ia turut menghadirinya. dalam persidangan itu dua orang datang mengadu meminta Nabi Dawud mengadili perkara sengketa mereka, yaitu bahwa kebun tanaman salah seorang dari kedua lelaki itu telah dimasuki oleh kambing-kambing ternak kawannya di waktu malam yang mengakibatkan rusak dan hancur perkarangannya yang sudah dirawat begitu lama sehingga mendekati masa panen. Kawan yang diadukan itu mengakui kebenaran pengaduan kawannya dan bahwa memang hewan ternaknyalah yang merusak-rusak kebun dan perkarangan kawannya itu.

Dalam perkara sengketa tersebut, Dawud memutuskan bahwa sebagai ganti rugi yang diderita oleh pemilik kebun akibat pengrusakan kambing-kambing peliharaan tetangganya, maka pemilik kambing-kambing itu harus menyerahkan binatang peliharaannya kepada pemilik kebun sebagai ganti rugi yang disebabkan oleh kelalaian menjaga binatang ternaknya. Akan tetapi Sulaiman yang mendengar keputusan itu yang dijatuhkan oleh ayahnya itu yang dirasa kurang tepat berkata kepada si ayah : "Wahai ayahku, menurut pertimbanganku keputusan itu sepatutnya berbunyi demikian : Kepada pemilik perkarangan yang telah binasa tanamannya diserahkanlah hewan ternak peliharaannya untuk dipelihara, diambil hasilnya dan dimanfaatkan bagi keperluannya, sedang perkarangannya yang telah binasa itu diserahkan kepada tetangganya pemilik peternakan untuk dipugar dan dirawatnya sampai kembali kepada keadaan asalnya, kemudian masing-masing menerima kembali miliknya, sehingga dengan cara demikian masing-masing pihak tidak ada yang mendapat keuntungan atau kerugian lebih dari pada yang sepatutnya."

Keputusan yang diusulkan oleh Sulaiman itu diterima baik oleh kedua orang yang menggugat dan digugat dan disambut oleh para orang yang menghadiri sidang dengan rasa kagum terhadap kecerdasan dan kepandaian Sulaiman yang walaupun masih muda usianya telah menunjukkan kematangan berfikir dan keberanian melahirkan pendapat walaupun tidak sesuai dengan pendapat ayahnya. Peristiwa ini merupakan permulaan dari sejarah hidup Nabi Sulaiman yang penuh dengan mukjizat kenabian dan kurnia Allah yang dilimpahkan kepadanya dan kepada ayahnya Nabi Daud.

Nabi Sulaiman Menjadi Raja

Sejak masih berusia muda Sulaiman telah disiapkan oleh Dawud untuk menggantikannya untuk menduduki tahta singgahsana kerajaan Bani Isra'il. Kakak Sulaiman yang bernama Absyalum tidak merelakan dirinya dilangkahi oleh adiknya. Ia beranggapan bahwa dialah yang sepatutnya menjadi putra mahkota dan bukan adiknya yang lebih lemah fisiknya dan lebih muda usianya serta belum banyak mempunyai pengalaman hidup seperti dia. Karena itu ia menaruh dendam terhadap ayahnya yang menurut anggapannya tidak berlaku adil dan telah mengambil haknya sebagai pewaris pertama dari tahta kerajaan Bani Isra'il. Absyalum berketetapan hati akan memberontak terhadap ayahnya dan akan berjuang mati-matian untuk merebut kekuasaan dari tangan ayahnya atau adiknya apa pun yang harus ia korbankan untuk mencapai tujuan itu. Dan sebagai persiapan bagi rancangan pemberontakannya itu, dari jauh hari ia berusaha mendekati rakyat, menunjukkan kasih sayang dan cintanya kepada mereka menolong menyelesaikan masalah-masalah yang mereka hadapi serta mempersatukan mereka di bawah pengaruh dan pimpinannya. Ia semakin memperluaskan pengaruhnya, berdiri didepan pintu istana mencegah orang-orang yang datang ingin menghadap raja dan ditanganinya sendiri masalah-masalah yang mereka minta penyelesaian.

Setelah merasa bahwa pengaruhnya sudah meluas di kalangan rakyat Bani Isra'il dan bahwa ia telah berhasil memikat hati sebahagian besar dari mereka, Absyalum menganggap bahwa saatnya telah tiba untuk melaksanakan rencana untukmengambil alih kekuasaan dari tangan ayahnya dengan paksa. Lalu ia menyebarkan mata-matanya ke seluruh pelosok negeri menghasut rakyat dan memberi tanda kepada pembantu-pembantunya, bahawa bila mereka mendengar suara bunyi terompet, maka haruslah mereka segera berkumpul, mengerumuninya kemudian mengumumkan pengangkatannya sebagai raja Bani Isra'il menggantikan Dawud ayahnya. Pada suatu pagi hari di kala Nabi Dawud duduk di kursi istana berbincang-bincang dengan para pembesar dan para penasihat pemerintahannya, terdengarlah suara gemuruh rakyat bersorak-sorai meneriakkan pengangkatan Absyalum sebagai raja Bani Isra'il menggantikan Dawud yang dituntut turun dari tahtanya. Keadaan kota menjadi kacau balau dilanda huru-hara keamanan tidak terkendali dan perkelahian terjadi di mana-mana antara orang yang pro dan yang kontra dengan kekuasaan Absyalum.

Nabi Dawud merasa sedih melihat keributan dan kekacauan yang melanda negerinya, akibat perbuatan putrannya sendiri. Namun ia berusaha menguasai emosinya dan menahan diri dari perbuatan dan tindakan yang dapat menambah parahnya keadaan. Ia mengambil keputusan untuk menghindari pertumpahan darah yang tidak diinginkan, keluar meninggalkan istana dan lari bersama-sama pekerjanya menyeberang sungai Jordan menuju bukit Zaitun. Dan begitu Dawud keluar meninggalkan kota Jerusalem, masuklah Absyalum diiringi oleh para pengikutnya ke kota dan segera menduduki istana kerajaan. Sementara Nabi Dawud melakukan istikharah dan munajat kepada Tuhan di atas bukit Zaitun memohon taufiq dan pertolongan-Nya agar menyelamatkan kerajaan dan negaranya dari malapetaka dan keruntuhan akibat perbuatan puteranya yang durhaka itu.

Setelah mengadakan istikharah dan munajat yang tekun kepada Allah, akhirnya Dawud mengambil keputusan untuk segera mengadakan kontra aksi terhadap putranya dan dikirimkanlah sepasukan tentera dari para pengikutnya yang masih setia kepadanya ke Jerusalem untuk merebut kembali istana kerajaan Bani Isra'il dari tangan Absyalum. Beliau berpesan kepada komandan pasukannya yang akan menyerang dan menyerbu istana, agar bertindak bijaksana dan sedapat mungkin menghindari pertumpahan darah dan pembunuhan yang tidak perlu, teristimewa mengenai Absyalum, putranya, ia berpesan agar diselamatkan jiwanya dan ditangkapnya hidup-hidup. Akan tetapi takdir telah menentukan lain dari pada apa yang si ayah inginkan bagi putranya. Komandan yang berhasil menyerbu istana tidak dapat berbuat lain kecuali membunuh Absyalum yang melawan dan enggan menyerahkan diri setelah ia terkurung dan terkepung. Dengan terbunuhnya Absyalum kembalilah Dawud menduduki tahtanya dan kembalilah ketenangan meliputi kota Jerusalem sebagaimana sediakala. Dan setelah menduduki tahta kerajaan Bani Isra'il selama empat puluh tahun wafatlah Nabi Dawud dalam usia yang lanjut dan dinobatkanlah sebagai pewarisnya Sulaiman sebagaimana telah diwasiatkan oleh ayahnya.

Nabi Sulaiman Berkuasa Atas Jin dan Makhluk Lain

Nabi Sulaiman yang telah berkuasa penuh atas kerajaan Bani Isra'il yang makin meluas dan melebar, Allah telah menundukkan baginya makhluk-makhluk lain, yaitu Jin, angin dan burung-burung yang kesemuanya berada di bawah perintahnya melakukan apa yang dikehendakinya dan melaksanakan segala komandonya. Di samping itu Allah memberinya pula suatu karunia berupa mengalirnya cairan tembaga dari bawah tanah untuk dimanfaatkannya bagi karya pembangunan gedung-gedung, perbuatan piring-piring sebesar kolam air, periuk-periuk yang tetap berada diatas tungku yang dikerjakan oleh pasukan Jin-Nya.

Sebagai salah satu mukjizat yang diberikan oleh Allah kepada Sulaiman ialah kesanggupan beliau menangkap maksud yang terkandung dalam suara binatang-binatang dan sebaliknya binatang-binatang dapat pula mengerti apa yang ia perintahkan dan ucapkan. Demikianlah maka tatkala Nabi Sulaiman berpergian dalam rombongan kafilah yang besar terdiri dari manusia, jin dan binatang-binatang lain, menuju ke sebuah tempat bernama Asgalan ia melalui sebuah lembah yang disebut lembah semut. Disitu ia mendengar seekor semut berkata kepada kawan-kawannya: "Hai semut-semut, masuklah kamu semuanya ke dalam sarangmu, agar supaya kamu selamat dan tidak menjadi binasa diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya tanpa ia sadar dan sengaja. Nabi Sulaiman tersenyum tertawa mendengar suara semut yang ketakutan itu. Ia memberitahu hal itu kepada para pengikutnya seraya bersyukur kepada Allah atas kurnia-Nya yang menjadikan ia dapat mendengar serta menangkap maksud yang terkandung dalam suara semut itu. Ia merasa takjud bahwa binatang pun mengerti bahawa Nabi-Nabi Allah tidak akan mengganggu sesuatu makhluk dengan sengaja dan dalam keadaan sadar.

Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis

Setelah Nabi Sulaiman membangun Baitul Maqdis dan melakukan ibadah haji sesuai dengan nadzarnya pergilah ia meneruskan perjalannya ke Yaman. Setibanya di San'a - ibu kota Yaman, ia memanggil burung hud-hud sejenis burung pelatuk untuk disuruh mencari sumber air di tempat yang kering tandus itu. Ternyata bahwa burung hud-hud yang dipanggilnya itu tidak berada diantara kawasan burung yang selalu berada di tempat untuk melakukan tugas dan perintah Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman marah dan mengancam akan mengajar burung Hud-hud yang tidak hadir itu bila ia datang tanpa alasan dan uzur yang nyata. Berkata burung Hud-hud yang hinggap di depan Sulaiman sambil menundukkan kepala ketakutan : "Aku telah melakukan penerbangan pengintaian dan menemukan sesuatu yang sangat penting untuk diketahui oleh paduka Tuan. Aku telah menemukan sebuah kerajaan yang besar dan mewah di negeri Saba yang dikuasai dan diperintah oleh seorang ratu. Aku melihat seorang ratu itu duduk di atas sebuah tahta yang megah bertaburkan permata yang berkilauan. Aku melihat ratu dan rakyatnya tidak mengenal Tuhan Pencipta alam semesta yang telah mengurniakan mereka kenikmatan dan kebahagian hidup. Mereka tidak menyembah dan sujud kepada-Nya, tetapi kepada matahari. Mereka bersujud kepadanya dikala terbit dan terbenam. Mereka telah disesatkan oleh setan dari jalan yang lurus dan benar."

Berkata Sulaiman kepada Hud-hud: "Baiklah, kali ini aku ampuni dosamu karena berita yang engkau bawakan ini yang aku anggap penting untuk diperhatikan dan untuk mengesahkan kebenaran beritamu itu, bawalah suratku ini ke Saba dan lemparkanlah ke dalam istana ratu yang engkau maksudkan itu, kemudian kembalilah secepat-cepatnya, sambil kami menanti perkembangan selanjutnya bagaimana jawaban ratu Saba atas suratku ini. "Hud-hud terbang kembali menuju Saba dan setibanya di atas istana kerajaan Saba dilemparkanlah surat Nabi Sulaiman tepat di depan ratu Balqis yang sedang duduk dengan megah di atas tahtanya. Ia terkejut melihat sepucuk surat jatuh dari udara tepat di depan wajahnya. Ia lalu mengangkat kepalanya melihat ke atas, ingin mengetahui dari manakah surat itu datang dan siapakah yang secara kurang hormat melemparkannya tepat di depannya. Kemudian diambillah surat itu oleh ratu, dibuka dan baca isinya yang berbunyi: "Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang, surat ini adalah daripadaku, Sulaiman. Janganlah kamu bersikap sombong terhadapku dan menganggap dirimu lebih tinggi daripadaku. Datanglah sekalian kepadaku berserah diri."

Setelah dibacanya berulang kali surat Nabi Sulaiman Ratu Balqis memanggil para pembesarnya dan para penasihat kerajaan berkumpul untuk memusyawarahkan tindakan apa yang harus diambil sehubungan dengan surat Nabi Sulaiman yang diterimanya itu. Berkatalah para pembesar itu ketika diminta petimbangannya : "Wahai paduka tuan ratu, kami adalah putra-putra yang dibesarkan dan dididik untuk berperang dan bertempur dan bukan untuk menjadi ahli pemikir atau perancang yang patut memberi pertimbangan atau nasihat kepadamu. Kami menyerahkan kepadamu untuk mengambil keputusan yang akan membawa kebaikan bagi kerajaan dan kami akan tunduk dan melaksanakan segala perintah dan keputusanmu tanpa ragu. Kami tidak akan gentar menghadapi segala ancaman dari mana pun datangnya demi menjaga keselamatanmu dan keselamatan kerajaanmu."

Ratu Balqis menjawab: "Aku memperoleh kesan dari uraianmu bahwa kamu mengutamakan cara kekerasan dan kalau perlu kamu tidak akan gentar masuk medan perang melawan musuh yang akan menyerbu. Aku sangat berterima kasih atas kesetiaanmu kepada kerajaan dan kesediaanmu mengorbankan nyawa untuk menjaga keselamatanku dan keselamatan kerajaanku. Akan tetapi aku tidak sependirian dengan kamu sekalian. Menurut pertimbanganku, lebih bijaksana bila kami menempuh jalan damai dan menghindari cara kekerasan dan peperangan. Sebab bila kami menentang secara kekerasan dan sampai terjadi perang dan musuh kami berhasil menyerbu masuk kota-kota kami, maka niscaya akan berakibat kerusakan dan kehancuran yang sangat menyedihkan. Mereka akan menghancur binasakan segala bangunan, memperhambakan rakyat dan merampas segala harta milik dan peninggalan nenek moyang kami. Hal yang demikian itu adalah merupakan akibat yang wajar dari tiap peperangan yang dialami oleh sejarah manusia dari masa ke semasa. Maka menghadapi surat Sulaiman yang mengandung ancaman itu, aku akan coba melunakkan hatinya dengan mengirimkan sebuah hadiah kerajaan yang akan terdiri dari barang-barang yang berharga dan bermutu tinggi yang dapat mempesonakan hatinya dan menyilaukan matanya dan aku akan melihat bagaimana ia memberi tanggapan dan reaksi terhadap hadiahku itu dan bagaimana ia menerima utusanku di istananya.

Selagi Ratu Balgis siap-siap mengatur hadiah kerajaan yang akan dikirim kepada Sulaiman dan memilih orang-orang yang akan menjadi utusan kerajaan membawa hadiah, tiba dan hinggaplah di depan Nabi Sulaiman burung pengintai Hud-hud memberitakan kepadanya rancangan Balqis untuk mengirim utusan membawa hadiah baginya sebagai jawaban atas surat beliau kepadanya. Setelah mendengar berita yang dibawa oleh Hud-hud itu, Nabi Sulaiman mengatur rencana penerimaan utusan Ratu Balqis dan memerintahkan kepada pasukan Jinnya agar menyediakan dan membangunkan sebuah bangunan yang megah yang tiada taranya yang akan menyilaukan mata utusan Balqis bila mereka tiba.

Tatkala perutusan Ratu Balqis datang, diterimalah mereka dengan ramah tamah oleh Sulaiman dan setelah mendengar uraian mereka tentang maksud dan tujuan kedatangan mereka dengan hadiah kerajaan yang dibawanya, berkatalah Nabi Sulaiman : "Kembalilah kamu dengan hadiah-hadiah ini kepada ratumu. Katakanlah kepadanya bahwa Allah telah memberiku rezeki dan kekayaan yang melimpah ruah dan mengurniaiku dengan kurnia dan nikmat yang tidak diberikannya kepada seseorang dari pada makhluk-Nya. Di samping itu aku telah diutuskan sebagai Nabi dan Rasul-Nya dan dianugerahi kerajaan yang luas yang kekuasaanku tidak saja berlaku atas manusia tetapi mencakup juga jenis makhluk Jin dan binatang-binatang. Maka bagaimana aku akan dapat dibujuk dengan harta benda dan hadiah serupa ini ? Aku tidak dapat dilalaikan dari kewajiban dakwah kenabianku oleh harta benda dan emas walaupun sepenuh bumi ini. Kamu telah disilaukan oleh benda dan kemegahan duniawi, sehingga kamu memandang besar hadiah yang kamu bawakan ini dan mengira bahwa akan tersilaulah mata kami dengan hadiah Ratumu. Pulanglah kamu kembali dan sampaikanlah kepadanya bahwa kami akan mengirimkan bala tentara yang sangat kuat yang tidak akan terkalahkan ke negeri Saba dan akan mengeluarkan ratumu dan pengikut-pengikutnya dari negerinya sebagai orang-orang yang hina-dina yang kehilangan kerajaan dan kebesarannya, jika ia tidak segera memenuhi tuntutanku dan datang berserah diri kepadaku."

Perutusan Balqis kembali melaporkan kepada Ratunya apa yang mereka alami dan apa yang telah diucapkan oleh Nabi Sulaiman. Balqis berfikir, jalan yang terbaik untuk menyelamatkan diri dan kerajaannya ialah menyerah saja kepada tuntutan Sulaiman dan datang menghadap dia di istananya. Nabi Sulaiman berhasrat akan menunjukkan kepada Ratu Balqis bahwa ia memiliki kekuasaan gaib di samping kekuasaan lahirnya dan bahwa apa yang dia telah ancamkan melalui rombongan perutusan bukanlah ancaman yang kosong. Maka bertanyalah beliau kepada pasukan Jinnya, siapakah diantara mereka yang sanggup mendatangkan tahta Ratu Balqis sebelum orangnya datang berserah diri. Berkata Ifrit, seorang Jin yang tercerdik: "Aku sanggup membawa tahta itu dari istana Ratu Balqis sebelum engkau sempat berdiri dari tempat dudukmu. Aku adalah pesuruhmu yang kuat dan dapat dipercayai. Seorang lain yang mempunyai ilmu dan hikmah berkata: "Aku akan membawa tahta itu ke sini sebelum engkau sempat memejamkan matamu". Ketika Nabi Sulaiman melihat tahta Balqis sudah berada didepannya, berkatalah ia : Ini adalah salah satu kurnia Tuhan kepadaku untuk mencoba apakah aku bersyukur atas kurnia-Nya itu atau mengingkari-Nya, karena barang siapa bersyukur maka itu adalah semata-mata untuk kebaikan dirinya sendiri dan barangsiapa mengingkari nikmat dan kurnia Allah, ia akan rugi di dunia dan di akhirat dan sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Mulia."

Menyambut kedatangan Ratu Balqis, Nabi Sulaiman memerintahkan orang-orangnya agar mengubah sedikit bentuk dan warna tahta Ratu itu yang sudah berada di depannya kemudian setelah Ratu itu tiba berserta pengiring-pengiringnya, bertanyalah Nabi Sulaiman seraya menundingkan kepada tahtanya : "Serupa inikah tahtamu ?" Balqis menjawab: "Seakan-akan ini adalah tahtaku sendiri", seraya bertanya-tanya dalam hatinya, bagaimana mungkin bahwa tahtanya berada di sini padahal ia yakin bahwa tahta itu berada di istana tatkala ia bertolak meninggalkan Saba. Selagi Balqis berada dalam keadaan kacau pikirannya, keheranan melihat tahta kerajaannya sudah berpindah ke istana Sulaiman, ia dibawa masuk ke dalam sebuah ruangan yang sengaja dibangun untuk penerimaannya. Lantai dan dinding-dindingnya terbuat dari kaca putih. Balqis segera menyingkapkan pakaiannya ke atas betisnya ketika berada dalam ruangan itu, mengira bahwa ia berada di atas sebuah kolam air yang dapat membasahi tubuh dan pakaiannya. Berkata Nabi Sulaiman kepadanya : "Engkau tidak usah menyingkap pakaianmu. Engkau tidak berada di atas kolam air. Apa yang engkau lihat itu adalah kaca-kaca putih yang menjadi lantai dan dinding ruangan ini". "Oh, Tuhanku", Balqis berkata menyadari kelemahan dirinya terhadap kebesaran dan kekuasaan Tuhan yang dipertunjukkan oleh Nabi Sulaiman, "aku telah lama tersesat berpaling daripada-Mu, melalaikan nikmat dan kurnia-Mu, merugikan dan menzalimi diriku sendiri sehingga terjatuh dari cahaya dan rahmat-Mu. Ampunilah aku. Aku berserah diri kepada Sulaiman Nabi-Mu dengan ikhlas dan keyakinan penuh. Kasihanilah diriku wahai Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”. Demikianlah kisah Nabi Sulaiman dan Balqis Ratu Saba. Dan menurut sementara ahli tafsir dan ahli sejarah Nabi-Nabi, bahwa Nabi Sulaiman pada akhirnya menikah dengan Balqis dan dari pernikahannya itu lahirlah seorang putra. Menurut pengakuan maharaja Ethiopia Abessinia, mereka adalah keturunan Nabi Sulaiman dari putra hasil pernikahannya dengan Balqis itu. Wallahu alam bisshawab.

Nabi Sulaiman Wafat

Al-Quran mengisahkan bahwa tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan kematian Sulaiman kecuali rayap yang memakan tongkatnya yang ia sandar kepadanya ketika Tuhan mengambil rohnya. Para Jin yang sedang mengerjakan bangunan atas perintahnya tidak mengetahui bahwa Nabi Sulaiman telah wafat kecuali setelah mereka melihat Nabi Sulaiman tersungkur jatuh di atas lantai, akibat jatuhnya tongkat sandarannya yang dimakan oleh rayap. Sekiranya para Jin sudah mengetahui sebelumnya, pasti mereka tidak akan tetap meneruskan pekerjaan yang mereka anggap sebagai siksaan yang menghinakan. Sekian dan Semoga Kisah Nabi Sulaiman menjadi pembelajaran buat kita. Amin !!!
Sumber : kisah25nabi.blogspot.com
Baca Juga :
Back To Top