Menjaga Perkara Paling Penting Dalam Hidup
Sajadah Muslim ~ Menjadi Muslim tentu sebuah keberuntungan tiada tara. Hal ini karena akal manusia betapapun sangat cerdas dan hebat. Jika Allah tak berkehendak memberikan hidayah, maka iman tidak akan pernah bersarang di dalam dadanya.
Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah. Dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. (QS Yunus ayat 100).
Kalimat bahwa tidak ada seorangpun akan beriman, ini menandakan bahwa kecerdasan akal manusia bukanlah jaminan, apalagi kalau sekedar nasab (keturunan) dan kekayaan harta, seseorang akan bisa menggapai hidayah.
Dalam hal ini seakan-akan Allah Ta’ala menyampaikan kepada kita bahwa iman yang ada di dalam diri kita benar-benar anugerah yang Allah berikan sebagai wujud rahman dari rahim-Nya kepada kita semua yang sudah barang tentu iman itulah yang harus diutamakan, diprioritaskan untuk dijaga dan ditajamkan di dalam kehidupan ini.
Selanjutnya, Allah tegaskan bahwa, Kecuali dengan izin Allah. Menurut Ibnu Abbas ra ini adalah dengan perintah Allah. Sementara itu menurut ‘Atha ra’ adalah dengan kehendak Allah.
Dan disebutkan pendapat lain yaitu dengan ilmu Allah, sedangkan menurut Sufyan ats-Tsauri ra artinya adalah dengan qadha. Allah (taqdir Allah). Dalam pengertian yang lain kita harus benar-benar sadar bahwa iman ini adalah hak prerogatif Allah Ta’ala, dimana tidak akan sampai iman ke dalam hati seseorang melainkan Allah berkehendak untuk hal itu terjadi.
Pemahaman ini telah menjadikan sosok Nabi beserta sahabat dan generasi tabi’in yang benar-benar menjalani kehidupan dunia ini untuk memelihara perkara paling penting dalam hidup ini.
Ibn Arabi misalnya, ia pernah melakukan perjalanan dari Andalusia ke Maroko, sebagai ulama sepanjang perjalanan banyak orang memberikan hadiah kepadanya. Bahkan ada yang memberikan sedekah atau hadiah sebesar segembalaan kambing yang tentu saja nilainya sangat banyak.
Namun Ibn Arabi, tidak kemudian mengambil dan membawanya pulang, pagi sedekah itu diterima siang segera disedekahkan kepada orang yang berhak, hingga sebelum Ashar tiba, semua kambing itu telah habis disedekahkan.
Sayyidina Ali Karamallahu Wajhah pernah suatu waktu membawa beberapa kerat roti untuk istri dan anaknya yang sudah sangat membutuhkan makanan. Akan tetapi dalam perjalanan ia bertemu dengan pengemis, sehingga akhirnya, roti itu dibagikan hingga habis. Tak ada yang bisa dibawa pulang ke rumah untuk istri dan anaknya.
Dalam kacamata rasional, jelas saja perilaku di atas sangat tidak bisa dicerna. Bagaimana mungkin manusia yang hidup tidak bisa lepas dari harta dan makanan begitu ringan menyerahkan kepada orang lain.
Tetapi, dalam kacamata iman itu adalah perilaku yang sejati, dimana tidak ada yang lebih berharga bagi hidupnya selain dari pada hidup dan kokohnya iman di dalam hati.
Lebih dari itu, amalan orang-orang seperti itu merepresentasikan sebuah keyakinan teguh bahwa suatu saat akan terlihat secara gamblang, bahwa perkara paling dibutuhkan umat manusia dalam perjalanan menuju Rabb-nya adalah iman. Bukan harta makanan, atau beragam kemewahan dan jabatan.
Oleh karena itu, kriteria orang beruntung menurut Al-qur’an adalah orang yang beriman kepada yang ghaib, mendirikan shalat, dan mensedekahkan sebagian dari rezeki yang dimilikinya, percaya kepada Al-qur’an dan kitab-kitab sebelumnya dan benar-benar yakin terhadap hari Akhirat, Allahu a’lam.



