Sajadah Muslim

Membahas Tentang Seputar Ilmu Agama Islam

Hukum Menggosip Dalam Islam

Sajadah Muslim ~ Dalam Islam, menggosip (ghibah) hukumnya haram. Ghibah adalah membicarakan seseorang ketika dia tidak ada, dengan sesuatu yang benar tentang dirinya tetapi dia tidak suka jika hal itu dibicarakan. Jika yang dibicarakan ternyata tidak benar, maka itu masuk fitnah/dusta, yang dosanya lebih berat.

Allah berfirman:

“Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah salah seorang di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?” (QS. Al-Hujurat: 12)

Nabi ﷺ juga menjelaskan bahwa ghibah adalah menyebut saudaramu dengan sesuatu yang ia benci. (HR. Muslim)

Contoh ghibah

“Dia itu pelit.”

“Si A sebenarnya bodoh.”

Membicarakan kekurangan fisik seseorang di belakangnya.

Membahas kesalahan atau masalah pribadi orang lain untuk bahan percakapan atau hiburan.

Apakah semua membicarakan orang lain haram?

Tidak selalu. Ada keadaan tertentu yang dibolehkan, misalnya:

  • Mengadukan kezaliman kepada pihak yang dapat membantu.
  • Meminta nasihat atau fatwa dengan menyebut masalah yang diperlukan.
  • Memberikan peringatan untuk mencegah seseorang dari bahaya atau kerugian.
  • Bersaksi atau memberikan informasi yang memang diperlukan untuk suatu perkara.

Namun, pembicaraan tersebut harus sebatas kebutuhan, bukan dijadikan kesempatan untuk merendahkan atau membuka aib.

Kalau sudah terlanjur menggosip bagaimana hukumnya?

Segera bertaubat kepada Allah, menyesal, berhenti, dan bertekad tidak mengulanginya. Jika meminta maaf kepada orang yang digosipkan justru dikhawatirkan menimbulkan masalah yang lebih besar, p

ara ulama memiliki perincian, salah satu langkah yang dianjurkan adalah mendoakannya dan menyebut kebaikannya di tempat kita pernah menjelek-jelekkannya.

Ghibah

Membicarakan keburukan seseorang di belakangnya, dan itu benar

“Dia memang sering berbohong.”

Fitnah

Menuduhkan atau menyebarkan sesuatu yang tidak benar tentang seseorang

“Dia mencuri uang,” padahal tidak.

Namimah (adu domba)

Menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan/akibat merusak hubungan atau menimbulkan konflik

“Tadi dia bilang kamu orang yang paling menyebalkan.”

Curhat

Menceritakan masalah kepada orang yang dipercaya untuk mencari nasihat, bantuan, atau solusi

“Aku punya masalah dengan teman. Menurutmu, bagaimana sebaiknya aku menyelesaikannya?”

Ghibah

Ini yang paling sering terjadi dalam obrolan sehari-hari. Bahkan kalau yang kita katakan benar, tetap bisa menjadi ghibah apabila orang tersebut tidak suka jika hal itu dibicarakan.

Misalnya:

“Memang benar dia pemalas.”

Benar atau tidak bukan satu-satunya persoalan; kalau membicarakannya tanpa kebutuhan yang dibenarkan, itu bisa menjadi ghibah.

Fitnah

Kalau kita mengatakan sesuatu yang tidak benar tentang orang lain, itu bukan sekadar ghibah, tetapi merupakan kebohongan/tuduhan palsu.

Misalnya:

“Dia selingkuh,” padahal sebenarnya tidak.

Ini sangat berbahaya karena bisa merusak kehormatan dan kehidupan seseorang.

Namimah

Namimah lebih berfokus pada memindahkan perkataan/informasi dari satu pihak kepada pihak lain sehingga menimbulkan kerusakan.

Contoh: A berkata kepada B:

“Aku sebenarnya kurang suka cara C bekerja.”

Kemudian seseorang pergi kepada C dan berkata:

“B bilang kamu tidak becus bekerja.”

Jika dilakukan untuk mengadu domba atau menimbulkan permusuhan, ini termasuk namimah.

Bagaimana dengan curhat?

Curhat tidak otomatis menjadi ghibah. Ada perbedaan antara mencari bantuan dengan sekadar membicarakan keburukan orang.

Misalnya:

“Saya sedang punya masalah dengan pasangan. Saya bingung harus bagaimana. Bolehkah kamu memberi nasihat?”

Ini bisa dibolehkan jika memang diperlukan dan disampaikan sebatas yang diperlukan.

Tetapi kalau berubah menjadi:

“Pasangan saya memang bodoh, malas, keluarganya begini-begitu…”

padahal tidak ada kebutuhan untuk menceritakan semua itu, maka bisa masuk ghibah.

Cara sederhana mengeceknya

Sebelum membicarakan seseorang yang tidak hadir, coba tanyakan:

“Kalau orang ini berdiri di depan saya sekarang, apakah saya tetap berani dan perlu mengatakan hal yang sama?”

Kalau jawabannya tidak, lebih baik tahan lisan.

Dan kalau seseorang sedang menceritakan keburukan orang lain kepada kita, kita juga tidak harus ikut-ikutan. Kita bisa mengalihkan pembicaraan atau berkata, “Sebaiknya kita jangan membicarakan dia kalau dia tidak ada.”

Hukum Memelihara Anjing Dalam Agama Islam

Sajadah Muslim ~ Berikut penjelasan yang lebih lengkap berdasarkan Al-Qur’an, hadis, dan pendapat ulama, dengan perhatian khusus pada mazhab Syafi‘i, karena mazhab ini banyak diikuti di Indonesia.

Hukum memelihara anjing dalam Islam

Hukum memelihara anjing tidak satu hukum untuk semua keadaan. Secara umum:

  • Memelihara anjing untuk kebutuhan yang dibenarkan syariat → boleh.
  • Memelihara anjing tanpa kebutuhan yang dibenarkan, sekadar sebagai hewan peliharaan/hobi → dilarang menurut mayoritas ulama, berdasarkan hadis tentang berkurangnya pahala.
  • Memelihara anjing untuk berburu, menjaga ternak, atau menjaga tanaman memiliki dasar yang jelas dalam syariat.

Dalil dari hadis Tentang Memelihara Anjing Dalam Islam

Nabi ﷺ bersabda:

“Barang siapa memelihara anjing, kecuali anjing untuk berburu, menjaga ternak, atau menjaga tanaman, maka pahalanya berkurang setiap hari sebanyak satu qirath.” HR. Bukhari dan Muslim.

Dalam riwayat lain disebutkan:

“...berkurang dua qirath setiap hari.” HR. Bukhari dan Muslim.

Hadis ini menunjukkan bahwa memelihara anjing bukan untuk kebutuhan yang dibenarkan merupakan sesuatu yang dilarang atau setidaknya sangat tercela menurut penjelasan para ulama.

Kapan memelihara anjing diperbolehkan dalam pandangan Islam?

Al-Qur'an secara jelas menunjukkan bolehnya menggunakan anjing untuk berburu.

Allah ﷻ berfirman:

“Mereka bertanya kepadamu, apakah yang dihalalkan bagi mereka. Katakanlah: Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang pemburu yang telah kamu latih untuk berburu...” QS. Al-Ma'idah: 4

Ayat ini menjadi dalil bahwa anjing pemburu yang terlatih boleh digunakan untuk berburu, dengan ketentuan syariat penyembelihan dan tata cara berburu terpenuhi.

Selain berburu, hadis memberikan contoh kebutuhan lainnya:

  • menjaga ternak,
  • menjaga tanaman/ladang.

Para ulama kemudian membahas kebutuhan lain yang memiliki alasan yang sejenis, misalnya keamanan, penjagaan properti, dan kebutuhan pekerjaan tertentu.

Jadi, apabila seseorang mempunyai anjing karena kebutuhan yang nyata dan dibenarkan, hukumnya berbeda dengan memeliharanya hanya untuk kesenangan.

Apakah boleh memelihara anjing untuk menjaga rumah dalam pandangan Islam?

Boleh jika memang ada kebutuhan keamanan yang nyata, menurut pendapat ulama yang membolehkan penggunaan anjing untuk penjagaan.

Namun perlu diperhatikan: hadis secara eksplisit menyebut berburu, ternak, dan tanaman. Para ulama berbeda pendapat mengenai memperluas kebolehan tersebut kepada penjagaan rumah.

Sebagian ulama membolehkan berdasarkan kebutuhan dan qiyas, sedangkan sebagian lainnya lebih membatasi berdasarkan teks hadis.

Karena itu, jika seseorang tinggal di daerah yang aman dan memelihara anjing penjaga semata-mata karena hobi, alasan tersebut lebih sulit dimasukkan ke dalam pengecualian hadis.

Bagaimana hukum anjing dalam Mazhab Syafi'i?

Ini bagian yang penting bagi Muslim di Indonesia.

Dalam mazhab Syafi‘i, anjing termasuk najis mughallazah (najis berat).

Dasarnya adalah hadis:

“Jika anjing menjilat bejana salah seorang di antara kalian, maka hendaklah ia mencucinya tujuh kali, salah satunya dengan tanah.” HR. Muslim.

Dalam riwayat lain:

“Sucinya bejana kalian apabila dijilat anjing adalah dengan mencucinya tujuh kali, salah satunya dengan tanah.” HR. Muslim.

Mazhab Syafi‘i memahami hadis ini sebagai dasar bahwa anjing dan bagian yang keluar darinya termasuk najis, dengan rincian yang dibahas dalam kitab-kitab fikih.

Apakah seluruh tubuh anjing najis?

Menurut mazhab Syafi‘i, pada dasarnya anjing dan seluruh bagian tubuhnya ketika hidup termasuk najis, demikian pula bagian-bagian yang terpisah darinya.

Namun ada rincian fikih mengenai kering dan basahnya benda yang bersentuhan.

Contohnya:

Jika tangan kering menyentuh bulu anjing yang kering

Tidak serta-merta terjadi perpindahan najis apabila keduanya sama-sama kering, karena tidak ada sesuatu yang menyebabkan najis berpindah.

Jika tangan atau bulu anjing basah

Jika terjadi kontak dalam keadaan yang memungkinkan perpindahan najis, maka bagian yang terkena perlu disucikan sesuai hukum najis mughallazah.

Bagaimana jika anjing menjilat tangan atau pakaian?

Menurut mazhab Syafi‘i, jika air liur anjing mengenai tangan, pakaian, lantai, atau benda lainnya, maka benda tersebut harus disucikan.

Caranya:

7 kali pencucian, dan salah satunya menggunakan tanah.

Dalilnya adalah hadis Nabi ﷺ:

“Jika anjing menjilat bejana kalian, maka cucilah tujuh kali dan salah satunya dengan tanah.” HR. Muslim.

Untuk mazhab Syafi‘i, ketentuan ini tidak hanya dipahami terbatas pada bejana, tetapi menjadi dasar penyucian najis anjing secara umum.

Apakah memelihara anjing membuat rumah menjadi najis seluruhnya?

Tidak.

Ini kesalahpahaman yang cukup umum.

Rumah tidak otomatis menjadi najis hanya karena ada anjing.

Najis hanya berlaku pada bagian yang terkena najis.

Misalnya anjing berada di halaman rumah dan tidak ada kontak dengan bagian rumah yang menyebabkan perpindahan najis. Maka lantai rumah tidak otomatis menjadi najis.

Begitu pula seluruh barang di rumah tidak perlu dicuci tujuh kali hanya karena seseorang mempunyai anjing.

Yang perlu diperhatikan adalah kontak dengan bagian najis, terutama dalam keadaan basah.

Apakah malaikat tidak masuk rumah yang ada anjing?

Ada hadis Nabi ﷺ:

“Malaikat tidak masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar.” HR. Bukhari dan Muslim.

Hadis ini menunjukkan adanya larangan menjadikan rumah sebagai tempat tinggal anjing tanpa kebutuhan yang dibenarkan.

Namun hadis ini perlu dipahami bersama hadis-hadis tentang pengecualian anjing untuk berburu, menjaga ternak, dan kebutuhan lainnya.

Jadi, jangan dipahami secara sederhana bahwa setiap orang yang memiliki anjing untuk kebutuhan syar‘i pasti tidak mendapat keutamaan tersebut dalam segala keadaan. Para ulama membahas pengecualian dan rinciannya.

Apakah memelihara anjing mengurangi pahala?

Ya, terdapat hadis yang sangat jelas mengenai hal tersebut.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa memelihara anjing, kecuali anjing untuk berburu, menjaga ternak, atau menjaga tanaman, maka pahalanya berkurang setiap hari satu qirath.” HR. Bukhari dan Muslim.

Hadis ini menunjukkan bahwa seseorang yang memelihara anjing tanpa kebutuhan yang dibenarkan kehilangan sebagian pahala setiap harinya.

Dalam riwayat lain disebutkan dua qirath.

Para ulama menjelaskan bahwa qirath merupakan ukuran pahala yang besar, meskipun hakikat ukurannya tidak dijelaskan secara pasti kepada kita.

Apakah Islam membenci anjing?

Tidak tepat mengatakan Islam membenci anjing.

Islam mengatur bagaimana manusia memperlakukan hewan, termasuk anjing.

Bahkan terdapat hadis tentang seseorang yang mendapatkan ampunan Allah karena memberi minum seekor anjing yang kehausan.

Nabi ﷺ bersabda bahwa ada seorang laki-laki yang melihat seekor anjing menjilat-jilat tanah karena kehausan. Ia kemudian mengambil air untuk memberinya minum.

Kemudian Nabi ﷺ bersabda bahwa:

“Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya.” HR. Bukhari dan Muslim.

Ini menunjukkan bahwa berbuat baik kepada anjing tetap merupakan perbuatan yang mendapatkan pahala.

Jadi, larangan memelihara anjing tanpa kebutuhan bukan berarti boleh menyiksa, menelantarkan, atau berbuat zalim kepada anjing.

Bagaimana dengan anjing sebagai hewan penjaga?

Jika seseorang membutuhkan anjing untuk menjaga ternak, kebun, properti, atau keamanan, terdapat dasar syariat untuk kebolehannya.

Namun sebaiknya:

  • ditempatkan di luar ruang utama rumah jika memungkinkan;
  • menjaga kebersihan tempat tinggal;
  • menghindari kontak yang tidak diperlukan;
  • apabila terkena jilatan, melakukan penyucian sesuai mazhab yang diikuti;
  • tidak menjadikannya sekadar hewan peliharaan untuk bersenang-senang apabila kebutuhan tersebut sebenarnya tidak ada.

Bagaimana jika seseorang sudah terlanjur memelihara anjing?

Tidak perlu panik.

Jika ternyata memelihara anjing tersebut tidak mempunyai kebutuhan syar‘i, seseorang dapat meninggalkannya dengan cara yang baik.

Jangan membuang atau menyiksa hewan tersebut.

Bisa mencari orang yang mampu merawatnya, menyerahkannya kepada pihak yang membutuhkan anjing untuk keperluan yang dibenarkan, atau menempatkannya di tempat yang layak.

Perbedaan pendapat antar mazhab tentang memelihara hewan anjing

Penting diketahui bahwa persoalan anjing merupakan masalah fikih yang mempunyai perbedaan pendapat.

Mazhab Syafi‘i

Anjing termasuk najis, dan terkena jilatan anjing disucikan 7 kali, salah satunya dengan tanah.

Mazhab Hanafi

Memiliki rincian berbeda mengenai kenajisan anjing. Air liurnya dipandang najis, tetapi tidak seluruh tubuh anjing diperlakukan sama seperti pandangan Syafi‘i.

Mazhab Maliki

Pendapat yang masyhur dalam mazhab Maliki adalah anjing pada dasarnya suci, termasuk tubuh dan air liurnya, dengan pembahasan khusus mengenai perintah mencuci bejana yang dijilat anjing.

Mazhab Hanbali

Secara umum lebih dekat kepada pendapat bahwa anjing najis dan jilatan anjing harus dicuci tujuh kali, salah satunya dengan tanah.

Karena itu, jangan menganggap semua umat Islam mempunyai rincian hukum yang identik mengenai anjing.

Kesimpulan

Keadaan dan Hukum secara umum

Anjing untuk berburu

Boleh

Anjing untuk menjaga ternak

Boleh

Anjing untuk menjaga tanaman/kebun

Boleh

Anjing untuk kebutuhan keamanan tertentu

Ada dasar kebolehan, dengan rincian ulama

Anjing hanya sebagai hewan peliharaan/hobi

Dilarang/tidak dibolehkan menurut mayoritas ulama

Menyayangi dan memberi makan anjing

Boleh, bahkan berbuat baik kepada hewan berpahala

Menyiksa anjing

Haram

Anjing menjilat benda menurut Syafi‘i

Wajib disucikan 7 kali, salah satunya dengan tanah

Rumah otomatis najis karena ada anjing

Tidak

Dalil-dalil utama tentang memelihara anjing

  • QS. Al-Ma'idah: 4 — kebolehan menggunakan anjing terlatih untuk berburu.
  • HR. Bukhari & Muslim — pahala berkurang bagi orang yang memelihara anjing tanpa kebutuhan yang dibenarkan.
  • HR. Muslim — bejana yang dijilat anjing dicuci tujuh kali, salah satunya dengan tanah.
  • HR. Bukhari & Muslim — malaikat tidak memasuki rumah yang terdapat anjing.
  • HR. Bukhari & Muslim — orang yang memberi minum anjing mendapat ampunan Allah.

Intinya: Islam tidak melarang manusia berbuat baik kepada anjing. Yang menjadi persoalan adalah menjadikan anjing sebagai hewan peliharaan tanpa kebutuhan yang dibenarkan syariat, serta persoalan najis dan tata cara bersuci menurut mazhab masing-masing.

Nikmatnya Proses Raih Prestasi

Sajadah Muslim ~ Kata orang, start menentukan finish. Bagaimana orang itu mengawali satu kegiatan, maka  biasanya begitu pula hasil yang kelak diperolehnya di garis akhir. Jika start yang dilakukan baik, niscaya ada harapan untuk mendapat kebaikan yang sama di ujung perjalanan. Tinggal bagaimana ia bisa istiqamah bersungguh-sungguh menjaga spirit kebaikan itu.


Sebaliknya kalau awalnya saja sudah buruk, atau setidaknya kurang semangat apalagi tidak meyakinkan, maka tentu saja dibutuhkan usaha lebih keras dan mujahadah lebih ekstra. Ia harus mengubahnya segera bahkan membalikkan keadaan menjadi baik dari sebelumnya. Keadaan itu wajib dirawatnya agar terus membaik dan tidak kembali menjadi buruk.

Demikian prestasi yang hendak dicapai. Keselamatan dunia dan kebahagiaan Akhirat tersebut tak boleh lepas dari orientasi yang benar. Nabi Muhammad (tak pernah bosan kita mengirim shalawat dan salam terindah untuk Nabi dan segenap keluarganya) menjelaskan hal itu dalam satu haditsnya soal niat berhijrah. Bahwa untuk meraih kemenangan, dibutuhkan peran niat atau motivasi yang benar.

Indahnya, dalam proses perjalanannya, yang keliru dalam start di awal tidak mesti  langsung divonis buruk selamanya. Cukup ia diingatkan dan diminta untuk segera memperbaiki yang awalnya salah tadi. Tentu saja, tidak cukup pasang niat baik, kepada Tuhan, ia mesti bertaubat dan kepada manusia ia harus minta maaf pula.

Firman Allah: “… Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).” (Al-Alaq [96]: 19)

Beriman itu berarti berproses dalam usaha memperbaiki diri. Prestasi itu adalah hasil dari rangkaian proses yang tidak mudah lagi panjang. Layaknya manusia yang juga memiliki proses dan tahapan kehidupan di dunia. Ia berawal dari kecil, tumbuh dan berkembang, hingga mencapai hasil yang diinginkan. Itulah pentingnya mengawali hari yang baik. Sebab semangat dan kebaikan itu punya sifat menular. Sebagaimana yang buruk pun bisa berpindah dan menyebar dari satu orang ke sebagian lainnya.

Maka beruntunglah orang-orang yang mengawali hidupnya di pagi hari dengan mengingat Allah. Sebab awal yang baik adalah ketika orang itu sujud dan rukuk kepada Penciptanya sebelum ia melakukan aktivitas lainnya. Sumber keberuntungan itu saat ia khusyuk membaca kabar-kabar langit dari al-Qur’an sebelum direcoki dengan berita-berita dunia yang kian menua di akhir zaman ini. Ia mengingat

Akhirat sebelum disibukkan dengan urusan dunia. Itulah hakikat sesungguhnya dari prestasi manusia. Mari nikmati proses prestasi itu.

Sebaliknya, celakalah orang-orang yang pikiran dan hatinya hanya dipenuhi dengan urusan materi dunia. Ia sedih semata-mata karena urusan dunia yang dirisaukan. Dirinya galau  akibat dari soal harta dan materi dunia yang tak kunjung usai diributkan setiap saat. Sayangnya orang seperti ini jarang menjadi gundah karena agamanya yang diusik. Atau karena prestasi ibadahnya yang jadi menurun dan tak lagi membekas. Orang demikian, alih-alih mendapatkan prestasi, ia justru dikejar dengan bayang-bayang kegalauan setiap waktu.


Ciri Kemenangan Dicintai Allah

Sajadah Muslim ~ Meraih kemenangan bukan satu perkara yang mudah. Tetapi mempertahankan Kemenganan adalah hal yang lebih sulit lagi dilakukan. Ungkapan ini biasa dipakai untuk memotivasi seorangatlet dalam satu pertandingan atau perlombaan. Memang demikianlah, tidak gampang mendapatkan kemenangan dan lebih susah lagi mempertahankan kemenangan itu. 


Bagi orang beriman, kemenangan adalah hal yang pasti. Ia janji Allah yang mesti  ditepati. Namun kewajiban manusia untuk bermujahadah setiap waktu. 

Ibarat air hujan, semakin banyak dan semakin besar wadah yang dipakai untuk menadah, kian banyak pula tertampung air yang turun dari langit itu. Kian besar perjuangan makin lapang pula peluang meraih kemenangan tersebut. Bahwa segala sesuatu tetap perlu usaha yang sungguh-sungguh. 

Termasuk dalam menjalani hari-hari kemenangan di bulan Syawal. Hendaknya kemenangan itu dirawat selalu. Tidak terjebak dalam euphoria sesaat yang justru bisa melalaikan dan menjadikan manusia tergelincir.

Menodai kemenangan pada saat-saat demikian justru bisa merusak prestasi kemenangan yang telah didapat sebelumnya.  Ibarat panas semusim, seluruhnya langsung lenyap sesaat hanya gara-gara hujan sehari saja.

Firman Allah: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut [29]: 69)

Ayat di atas menggunakan kata “subul” jamak dari “sabil” atau jalan. Bahwa solusi yang Allah berikan bisa datang dari arah yang tak disangka manusia. Tak pernah diduga bahkan tidak terpikirkan sama sekali. Apalagi matematika di kelas terkadang berbeda jauh dengan “matematika langit”. Akal manusia teralu bodoh dan sangat sempit. Sedang ilmu-Nya begitu luas. Dia Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk diberikan kepada manusia.

Ini juga menegaskan soal hidayah yang jadi hak mutlak Allah. Apapun yang dimiliki manusia adalah hadiah dan pemberian dari-Nya semata. Manusia tak boleh sombong apalagi membanggakan diri dan merasa lebih mulia dari orang lain. Semua itu titipan dari Allah. Tugas manusia untuk merawat nikmat itu dan menjaga hidayah-Nya. Caranya, dengan bermujahadah dalam setiap kebaikan dan istiqamah beramal shaleh.

Lebih jauh, iman yang produktif niscaya mendorong pemiliknya untuk berbuat baik. Itu ciri nyata orang mendapat hidayah. Semakin besar cahaya hidayah yang dimiliki makin banyak pula manfaat yang dirasakan orang lain. Tanda berkahnya, ketika kebaikan itu melahirkan kebaikan-kebaikan berikutnya. Ciri diterimanya amalan dan kemenangan yang diberkahi ialah kala amalan dan kemenangan itu membuat orang tersebut kian dekat kepada Allah. Itulah alamat cinta-Nya Allah kepada orang-orang yang gemar melakukan kebaikan


Prestasi Dunia Akhirat

Sajadah Muslim ~ Setiap umat Islam mungkin mengenal doa ini. Bahkan menghafalnya dengan baik. Satu doa yang dikenal sebagai munajat sapu jagat. Permohonan pamungkas. Memungkasi sekian banyak permintaan manusia dan doa-doa sebelumnya. Yaitu berdoa kepada Allah meminta kebaikan dunia dan akhirat. 

Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina azaban nar. 

Ya Rabb kami, berikanlah kebaikan kepada kami di dunia dan di Akhirat serta jauhkanlah kami siksa api neraka. 


Doa ini sering dibaca di berbagai waktu dan kesempatan. Terselip dalam setiap acara-acara resmi hingga yang sebatas nonformal. Namun pertanyaannya, apakah setiap kaum Muslimin juga mengetahui bagaimana cara meraih dua kebaikan tersebut?

Sebagai satu hasil atau target capaian, apalagi sebuah prestasi hebat, tentu tak murah meraihnya. Butuh tekad keras, perjuangan sungguh-sungguh, hingga pengorbanan yang tidak sedikit. Realitasnya, jika dibandingkan, kebanyakan manusia mungkin mengaku sudah tahu tentang cara hidup atau berurusan dengan dunia ini. Dia tahu bagaimana untuk sekadar bertahan hidup atau meraih juara dalam hidup.

Simpulannya, selama orang itu mau bekerja giat, niscaya sudah mampu survival menghadapi tantangan hidup di dunia ini. Tapi bagaimana dengan prestasi Akhirat? Toh hakikatnya belum kelihatan dengan mata telanjang manusia. Alih-alih bekerja keras untuknya, sebagian manusia justru masih ragu. Logikanya menolak. Seolah tak percaya. Adakah kehidupan baru setelah kematian? Macam mana yang dikubur bisa bangkit kembali?

Bagaimana tulang belulang itu bisa berkumpul menyatu kembali? Dan banyak lagi pertanyaan meragukan semacamnya. Iya, Kadang logika saja memang tidak cukup. Otak manusia terlalu dangkal untuk itu. Di sinilah peran keyakinan. Hanya dengan ilmu berbekal iman yang mampu meneropong jauh hingga ke negeri Akhirat.

Hidup bukan sekadar otak hebat atau tenaga kuat. Tak bisa Cuma mengandalkan status sosial yang mentereng, Segala sesuatu rupanya mesti pakai iman dan hidayah. Sedang hidayah itu juga tetap harus dicari dan diusahakan. Itulah sebenarnya mengapa manusia diciptakan ke dunia. Mereka diberi kesempatan untuk mengenali lebih dekat tentang siapa Tuhan Penciptanya.

Firman Allah: “Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan Akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah Mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al-Isra [17]: 19)

Secara singkat, ayat di atas menerangkan, ada tiga komponen yang harus dipenuhi untuk meraih prestasi dunia dan Akhirat. Prestasi itu berupa kebahagiaan di dunia dan keselamatan pada hari Kebangkitan nanti. Yakni, iradah (orientasi), sa’yun (usaha), dan iman (keyakinan). Trilogi ini bukan hanya untuk kehidupan Akhirat, tapi juga berlaku untuk kesuksesan hidup manusia di dunia.

Pertama, iradah (orientasi). Orientasi hidup biasa juga dikenal dengan sebutan visi misi. Bagi seorang Muslim, hal ini tentu sudah jelas. Bahwa dunia adalah ladang beramal jariah dengan prestasi dan karya terbaik. Sedang akhirat menjadi tempat memanen dan menikmati semua kebaikan tersebut.

Kedua, sa’yun  (usaha). Cita-cita tanpa usaha sama dengan nol. Kerja di sini bukan bermaksud asal bekerja saja. Tapi harus diawali dengan niat yang benar, cara atau metode yang tepat, dan senantiasa diiringi dengan evaluasi (muhasabah) sebagai proses kontrol untuk mendapatkan hasil yang terbaik. 

Ketiga, iman. Yap apapun urusannya, iman itu tetap harus dilibatkan. Apapun keadaannya, iman menjadi ukuran pertama bagi setiap manusia. Dengan iman yang terjaga, jaminan kemenangan itu ada. Maka hari-hari berupa prestasi kemenangan saat ini hendaknya tidak dinodai oleh keburukan yang berulang. Kerja iman adalah bagaimana meraih kebaikan sekaligus merawat kemenangan itu. Sedangkan puncak prestasi orang beriman tidak lain adalah bahagia dan selamat di Akhirat kelak.


Melahirkan Jiwa Yang Peduli

Sajadah Muslim ~ Meski berasal dari satu entitas yang sama, kenyataannya manusia adalah tiga golongan berbeda. Demikian Burhanuddin az-Zarnuji, membagi kelompok manusia dalam  karyanya kitab Toklimul Muta’allim. Menurut az-Zarnuji ada manusia yang tampil sebagai sosok yang utuh (rajulun), ada yang hanya dianggap separuh laki-laki (nishfu rajulin) ada juga meski wujudnya ada tetapi tidak bernilai sama sekali (la syaia).


Kelompok manusia pertama, disebut az-Zarnuji sebagai sosok paripurna. Mereka adalah orang-orang yang punya ide dan gagasan terbaik. Gemar berkomunikasi dan bisa bekerja dalam satu kelompok (lahu ra’yun shaibun wa yusyawir) Dinilai tipe orang seperti ini punya kepedulian terhadap orang lain dan lingkungan sekitarnya. 

Mereka tidak asyik dengan keshalihan secara individual saja, tetapi juga terpanggil untuk memberi kontribusi terhadap maslahat yang lebih besar bagi umat  manusia.

Sosok pertama mencakup dua kebaikan sekaligus, keshalihan secara infiradi (pribadi) dan keshalihan secara sosial (mushlih). Mereka adalah komponen masyarakat yang berkarakter ulama  zuama (ulama pemimpin) atau alimin dan amilin (orang-orang berilmu yang mengamalkan ilmunya). Mereka juga bisa tergolong sebagai fuqaha dan du’at (ahli figh dan juru dakwa) secara bersamaan. Sebagai muta’allim dan mu’allim (pembelajar dan pengajar) sekaligus di satu waktu.

Jenis kedua, kata az-Zarnuji  yaitu nishfu rajulin (separuh laki-laki. Asalnya mereka bukan orang cacat hingga digelari “Setengah” saja. Namun sikap dan kepeduliannya menunjukkan itu. Cirinya, lanjut az-zarnuji, lahu ra’yun shaibun walakiri la yusyawir.

    

Kelompok manusia ini punya pendapat yang baik, tapi itu hanya dinikmati seorang saja. Dia tidak senang diajak bermusyawarah. Nyaris tidak peduli dengan sesama. Apalagi sampai diajak meluangkan waktu, pikiran dan tenaga untuk orang lain. Mungkin saja dia baik tapi kebaikan itu tak pernah dirasakan oleh sekelilingnya.

Sedang kelompok ketiga adalah la syala. Keberadaann juga ditangisi. Alih-alih diharap memberi solusi, ia sendiri belum mampu mengatasi persoalan sendiri.

Jangankan berpikir visioner ke depan, soal sampah dilingkungan sekitarnya tak bisa atasi olehnya. Hidupnya bisa dikata berbekal modal kasihan dari orang lain.  Tidak ada kepekaan dan tanggung jawab moril. Baik untuk dirinya apalagi bagi kepentingan masyarakat.

Nasihat diatas panjang lebar diurai dalam pasal Ketiga tentang Adab Memilih Ilmu dan Guru. Menurut az-Zarnuji manusia kini mulai kehilangan sifatnya sebagai makhluk sosial. Saling menghormati, empati, toleransi, perhatian, kepekaan, kepedulian, dan persaudaraan perlahan luntur, tanpa disadari. Padahal diakui justru itulah yang menjadi ukuran dan nilai manusia selama ini.

Bahwa adab tidak boleh tercabut dari pokok ilmu. Keduanya saling bersenyawa tanpa bisa dipisahkan. Adab ialah norma yang mendahului dari pada ilmu itu sendiri. Ibarat cangkang, adab menjadi pelindung ilmu dari hal-hal yang buruk dan tidak bermanfaat. 

Adab adalah wadah tempat ilmu kelak tumbuh menjulang dan mengakar, sebab apa gunanya ilmu kalau kepekaan dan kepedulian itu hilang dari diri manusia.

Lihat saja, bukan sekali dua kali berbagai elemen masyarakat tumpah kejalan-jalan. Bukan untuk menggelar pesta atau sedang bersuka cita. Mereka turun untuk mengadakan aksi dan orasi. Menyuarakan kegelisahan dan ketidak percayaan mereka.

Mempertanyakan kepedulian wakil-wakil rakyat yang dianggap tidak lagi berpihak. Lalu kemana ilmu dan amanah itu? Kemana tanggung jawab dan sumpah jabatan? Kemana kepedulian yang kerap dijadikan bahan kampanye dimasa lalu? Adakah  semuanya ternyata nothing atapun la syaia?


Antara Harta Banyak Dan Hati Yang Qona’ah

Sajadah Muslim ~ Ketika manusia hidup tidak lagi menjadikan ajaran Islam sebagai jalan hidup, sudah barang tentu kegelapan dan kesengsaraan akan menyapa kehidupannya, baik di dunia lebih-lebih di akhirat.  Satu yang menjadikan manusia terperosok pada keadaan buruk itu adalah tiadanya kendali diri dalam memandang hakikat harta, hingga menjadi pribadi kikir dan yang tamak.  Imam Ghazali dalam ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa penyebab kikir dan tamak adalah adanya keinginan yang kuat akan kehidupan dunia ditambah angan-angan yang panjang. Ketika itu dibiarkan maka orang akan teracuni oleh sikap rakus, tamak, dan serakah sehingga melakukan kemungkaran, pelanggaran hukum, hingga menindas dan menzalimi orang lain, baginya adalah perkara yang penting dilakukan.


Rasulullah telah memberikan peringatan penting perihal ini semua. Apabila anak Adam sudah memiliki dua buah lembah yang terbuat dari emas, niscaya ia masih akan mencari lembah yang ketiga. Tidak memenuhi perut anak Adam kecuali tanah. Allah Ta’ala menerima taubat orang yang bertaubat. (HR Bukhari dan Muslim)

Hal ini menunjukkan  bahwa harta tidak perlu dijadikan arus utama dalam hidup, melainkan dalam rangka untuk menegakkan agama Allah, membantu sesama dan menciptakan kemaslahatan yang luas dan keperpanjangan. Sebab jika harta hanya untuk diri bermegah-megahan dan bermewah-mewahan, maka kehancuran dan kebinasaan adalah keniscayaan.

Sebagaimana dialami oleh Qarun di masa Nabi Musa dan Tsa’labah di masa Nabi Muhammad.

Oleh karena itu, dalam Islam kaya itu tidak indetik dengan harta. Apalagi kemuliaan, sama sekali bukan diukur atas banyak sedikitnya harta manusia. Al-Quran menegaskan orang mulia adalah yang paling bertaqwa.

Lantas bagaimana pandangan Islam tentang orang kaya sesungguhnya? Seorang ahli hikmah, sebagaimana dinukil oleh Imam Ghazali pernah ditanya “Apakah makna kaya itu”?

Ahli hikmah itu menjawab, “Sedikitnya angan-anaganmu dari kerelaaanmu dengan apa yang mencukupkanmu.”

Ibn Mas’ud pernah berkata, “Tidak akan terlewatkan sehari pun melainkan malaikat akan menyeru,  ‘Wahai anak Adam sesuatu yang berjumlah sedikit namun mencukupi kebutuhanmu itu jauh lebih baik dari pada jumlah banyak yang justru menganiaya kepadamu.”

Fakta mengenai hal ini begitu banyak, terutama dimasa-masa dimana umat Islam disapa datangnya bulan ibadah, seperti kala Idul Adha dan masa ibadah haji. Dimasa Idul Adha biasa muncul berita seorang pemulung ikut berqurban setelah menabung 5 tahun sampai 7 tahun lamanya. Sedangkan ada orang yang sudah punya rumah, ada mobil, tinggal di kota, qurban kambing saja tidak  pernah.

Pernah juga ada sebuah kisah yang ramai dibicarakan orang, perihal seorang tukang becak, yang setiap hari Jum’at menggratiskan upah kerjanya kepada penumpang yang naik pada hari jum’at itu. Sedangkan sisi yang lain ada orang kaya, aset dimana-mana, namun masih tamak dan akhirnya menjadi koruptor.

Dengan demikian, hidup di dunia ini bukan semata urusan harta. Sekalipun harta tetap diperlukan dalam segala sisi kehidupan. Kebahagiaan tidak akan Allah turunkan kepada hati yang tamak dan kikir dengan harta.

Melainkan akan dianugerahkan kepada hati yang qona’ah, sehingga kala kaya itu berarti akan banyak urusan umat dibantu dari harta yang dimilikinya. Kala miskin, tak akan ada rencana dalam dirinya untuk merampok, korupsi atau melakukan perbuatan haram yang pasti akan menyengsarakan hidupnya, cepat atau lambat.


Biji Dalam Tanah Dan Hati Yang Lemah Lembut

Sajadah Muslim ~ Umumnya orang memandang bahwa tindakan memukul, manganiaya adalah kekerasan. Padahal ucapan pun, bahkan hati bisa saja tidak lemah lembut, ketika apa yang dihasilkan berakibat pada terjadinya kerusakan.


Betapa sering saat di jalan raya, kita temui seorang driver menekan klakson motor atau mobil dengan begitu kencang dan bertubi-tubi, hingga memancing emosi pengguna jalan lainnya. Sebagian malah ada yang membuka  kaca sekedar untuk memaki dan sebagainya. Mengapa banyak hati begitu keras di era sekarang?

Bukankah Islam mendorong umatnya untuk berperilaku lemah lembut? Sesungguhnya Allah sangat menyukai sikap yang lemah lembut dalam segala urusan (HR Bukhari)

Berkaitan dengan kelemah lembutan hati, Imam Ghazali dari dalam tanah, lantas ia berkata. Sesungguhnya orang yang mengenal engkau (memahamimu biji-bijian) niscaya ia akan berbuat lemah lembut dalam perkara penghidupanmu.

Kita ketahui biji-bijian di sekitar kita adalah “bakal” makhluk yang tidak punya daya apa-apa. Bahkan kala ditabur di atas tanah, pertumbuhannya sangat pelan dan tentu saja dalam kurun tertentu dirinya belum memilik kekuatan berarti. Bahkan tersengat cahaya matahari yang bagi tumbuhan lain adalah biasa, baginya adalah beban berat.

Para petani sangat mengerti arti sebuah biji-bijian di dalam tanah yang sedang menggeliat untuk tumbuh. Oleh karena itu, umumnya petani memiliki kepekaan tinggi dalam interaksi dengan tanaman yang mereka pelihara. Mereka hadir untuk merawat tak sekedar berbekal pengetahuan, tapi rasa kepakaan dan tentu saja kelemah lembutan hati.

Dalam realitas kehidupan manusia sendiri, kelembutan hati hanya akan diperoleh manakala seseorang benar-benar mengerti tentang siapa Allah sebagai Rabb.

Imam Ghazali menegaskan bahwa manusia tidak dapat menghindar dari berbuat kasar, rakus, tamak dan keras melainkan dengan memiliki keyakinan yang kokoh perihal Allah telah mengatur dan menetapkan takdir atas rezeki setiap hamba-Nya, bahkan seluruh makhluk-Nya.

Orang yang demikian akan sadar dan yakin bahwa rezeki dan yakin bahwa rezeki Allah untuk hamba datang dari segi yang tidak disangka-sangka itu lebih banyak dan bisa  datang kapan saja. Prinsipnya jelas, mesti ada taqwa kepada-Nya.

“Siapa saja yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan  menjadikan jalan keluar bagi orang itu. Allah memberi rezeki kepadanya dari segi yang tidak pernah disangka-sangka.” (QS Ath-Thalaq ayat 2-3).

Oleh karena itu, meneguhkan iman, memperhatikan ciptaan-Nya, dalam hal ini biji-bijian yang di dalam tanah, serta kisah-kisah penuh hikmah akan menjadikan akal kita bekerja maksimal dan optimal untuk mendorong diri kita menjadi pribadi yang lemah lembut.

“Sesungguhnya  kelembutan tidak terjadi pada sesuatu kecuali akan mengindahkannya dan tidaklah tercabut dari sesuatu kecuali akan memburukkannya.”

Kelembutan tutur kata dan perbuatan merupakan landasan dalam membangun keharmonisan antar sesama, kunci dalam menasihati dan penyelesai permasalahan serta penyebab datangnya kebaikan, Rasulullah Saw bersabda: “barang siapa  yang tidak memiliki kelemah lembutan maka tidak dihampiri  kebaikan “ (HR Muslim).


Menjaga Perkara Paling Penting Dalam Hidup

Sajadah Muslim ~ Menjadi Muslim tentu sebuah keberuntungan tiada tara. Hal ini karena akal manusia betapapun sangat cerdas dan hebat. Jika Allah tak berkehendak memberikan hidayah, maka iman tidak akan pernah bersarang di dalam dadanya.

Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah. Dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak  mempergunakan akalnya. (QS Yunus ayat 100).

Kalimat bahwa tidak ada seorangpun akan beriman, ini menandakan bahwa kecerdasan akal manusia bukanlah jaminan, apalagi kalau sekedar nasab (keturunan) dan kekayaan harta, seseorang akan bisa menggapai hidayah.

Dalam hal ini seakan-akan Allah Ta’ala menyampaikan kepada kita bahwa iman yang ada di dalam diri kita benar-benar anugerah yang Allah berikan sebagai wujud rahman dari rahim-Nya kepada kita semua yang sudah barang tentu iman itulah yang harus diutamakan, diprioritaskan untuk dijaga dan ditajamkan di dalam kehidupan ini.

Selanjutnya, Allah tegaskan bahwa, Kecuali dengan izin Allah. Menurut Ibnu Abbas ra ini adalah dengan perintah Allah. Sementara itu menurut ‘Atha ra’ adalah dengan kehendak Allah.

Dan disebutkan pendapat lain yaitu dengan ilmu Allah, sedangkan menurut Sufyan ats-Tsauri ra artinya adalah dengan qadha. Allah (taqdir Allah). Dalam pengertian  yang lain kita harus benar-benar sadar bahwa iman ini adalah hak prerogatif Allah Ta’ala, dimana tidak akan sampai iman ke dalam  hati seseorang melainkan  Allah berkehendak untuk hal itu terjadi.

Pemahaman ini telah menjadikan sosok Nabi beserta sahabat dan generasi tabi’in yang benar-benar menjalani kehidupan dunia ini untuk memelihara perkara paling penting dalam hidup ini.

Ibn Arabi misalnya, ia pernah melakukan perjalanan dari Andalusia ke Maroko, sebagai ulama sepanjang perjalanan banyak orang memberikan hadiah kepadanya. Bahkan ada yang memberikan sedekah atau hadiah sebesar segembalaan kambing yang tentu saja nilainya sangat banyak.

Namun Ibn Arabi, tidak kemudian mengambil dan membawanya pulang, pagi sedekah itu diterima siang segera disedekahkan kepada orang yang berhak, hingga sebelum Ashar tiba, semua kambing itu telah habis disedekahkan.

Sayyidina Ali Karamallahu Wajhah pernah suatu waktu membawa beberapa kerat roti untuk istri dan anaknya yang sudah sangat membutuhkan makanan. Akan tetapi dalam perjalanan ia bertemu dengan pengemis, sehingga akhirnya, roti itu dibagikan hingga habis. Tak ada yang bisa dibawa pulang ke rumah untuk istri dan anaknya.

Dalam kacamata rasional, jelas saja perilaku di atas sangat tidak bisa dicerna. Bagaimana mungkin manusia yang hidup tidak bisa lepas dari harta dan makanan begitu ringan menyerahkan kepada orang lain.

Tetapi, dalam kacamata iman itu adalah perilaku yang sejati, dimana tidak ada yang lebih berharga bagi hidupnya selain dari pada hidup dan kokohnya iman di dalam hati.

Lebih dari itu, amalan orang-orang seperti itu merepresentasikan sebuah keyakinan teguh bahwa suatu saat akan terlihat secara gamblang, bahwa perkara paling dibutuhkan umat manusia dalam perjalanan menuju Rabb-nya adalah iman. Bukan  harta makanan, atau beragam kemewahan dan jabatan.

Oleh karena itu, kriteria orang beruntung menurut Al-qur’an adalah orang yang beriman kepada yang ghaib, mendirikan shalat, dan mensedekahkan sebagian dari rezeki yang dimilikinya, percaya kepada Al-qur’an dan kitab-kitab sebelumnya dan benar-benar yakin terhadap hari Akhirat, Allahu a’lam.

 

Empat Bekal Menuju Jalan Allah

Sajadah Muslim ~ Betapa banyak hati yang gundah gulana walau harta dalam genggaman. Betapa banyak orang kehilangan arah kehidupan  walau  kemewahan meliputi keseharian. Mereka seakan tampak bahagia namun sejatinya hampa.


Sebagai bukti bahwa dunia memang bukan tujuan, melainkan ladang manusia beramal untuk panen kelak diakhirat, negeri yang abadi.

Sebagian yang sadar akan hal di atas telah memilih jalan untuk bahagia dengan kembali pada nilai-nilai Islam, Namun, sering dengan semangat yang menggebu namun belum didasari ilmu, menjadikan keaktifannya, untuk menjalankan perintah agama  lebih didorong keadaan emosional dari pada rasional dan benar-benar  sesuai tuntanan Allah Ta’ala.

Lantas bagaimana kita menuju Allah dengan cara yang tepat? Imam Al-Ghazali menguraikannya dengan gamblang pada kitab adabnya yang berjudul Ayyuhal Walad. Ada empat langkah yang harus dilakukan untuk  menuju Allah Ta’ala.

Pertama, memiliki i’tiqad (keyakinan) yang murni tidak dicampuri oleh kebid’ahan ini berarti, seorang Muslim harus benar-benar memahami ilmu tauhid dan ilmu aqidah, sehingga dirinya sadar sepenuhnya bahwa hanya Allah yang wajib disembah, didapatkan ridha, cinta, dan kasih sayang-Nya.

Dalam upaya ini, sudah barang tentu harus benar-benar mengarah untuk meneladani apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mulai shalat, sedekah, tilawah Al-qur’an. Hingga muamalah dengan sesama benar-benar sesuai dengan sunnah.

Sebelum ke langkah kedua, penting dijelaskan makna bid’ah di sini menurut penjelasan kitab Ayyuhal Walad itu sendiri Bid’ah adalah segala sesuatu yang berlawanan dengan apa yang dibawa oleh Al-Qur’an, Al-Karim dan As Sunnah, serta tidak memiliki dasar dalam agama Islam.

Kedua, taubat nasuha. Taubat ini adalah sebuah kesadaran sekaligus pengakuan dan komitmen untuk benar-benar berubah, sehingga tidak akan kembali melakukan dosa, maksiat atau pun kemungkaran.

Langkah ini bisa kita lihat dari sosok Umar bin Khathab yang menjadi Muslim dan ia sangat membenci terhadap kekafiran apalagi sampai berpikir untuk maksiat dan menjadi kafir kembali.

Ketiga, meminta keridhaan orang yang pernah dizalimi, sehingga tidak lagi ada beban karena hak orang lain yang belum ditunaikan.

Rasulullah pernah melakukan hal ini, menjelang akhir hayat beliau. Beliau mengumpulkan umat Islam, lantas meminta siapa yang pernah di zalimi untuk melakukan balas atas kezaliman yang andai Rasulullah pernah lakukan, baik sengaja, maupun tidak sengaja. Ini berarti kita harus segera menuntaskan segala macam urusan diri dengan sesama, agar semua ridha dan diri bisa semakin mudah menjadi orang yang dekat dan berhasil sampai menunju Allah Ta’ala

Keempat,  menuntut ilmu tentang syariat sehingga dapat menjalankan perintah-perintah Allah Ta’ala ini juga menjadi sebuah tantangan tersendiri, terutama di era digital seperti sekarang. Kinsen, duduk dalam jangka sampai satu jam menuntut ilmu bukanlah perkara penting.

Sekalipun ini juga mulai bisa dilakukan secara online. Namun pada dasarnya ini adalah sebuah dorongan agar diri sadar, paham, dan mengerti mengapa sebuah perintah Allah wajibkan, sunnahkan dan mengapa kita melakukannya serta mengerti manfaat, fadhilah (keutamaan) dari menjalankan itu semua.


Back To Top