Prestasi Dunia Akhirat
Sajadah Muslim ~ Setiap umat Islam mungkin mengenal doa ini. Bahkan menghafalnya dengan baik. Satu doa yang dikenal sebagai munajat sapu jagat. Permohonan pamungkas. Memungkasi sekian banyak permintaan manusia dan doa-doa sebelumnya. Yaitu berdoa kepada Allah meminta kebaikan dunia dan akhirat.
Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina azaban nar.
Ya Rabb kami, berikanlah kebaikan kepada kami di dunia dan di Akhirat serta jauhkanlah kami siksa api neraka.
Doa ini sering dibaca di berbagai waktu dan kesempatan. Terselip dalam setiap acara-acara resmi hingga yang sebatas nonformal. Namun pertanyaannya, apakah setiap kaum Muslimin juga mengetahui bagaimana cara meraih dua kebaikan tersebut?
Sebagai satu hasil atau target capaian, apalagi sebuah prestasi hebat, tentu tak murah meraihnya. Butuh tekad keras, perjuangan sungguh-sungguh, hingga pengorbanan yang tidak sedikit. Realitasnya, jika dibandingkan, kebanyakan manusia mungkin mengaku sudah tahu tentang cara hidup atau berurusan dengan dunia ini. Dia tahu bagaimana untuk sekadar bertahan hidup atau meraih juara dalam hidup.
Simpulannya, selama orang itu mau bekerja giat, niscaya sudah mampu survival menghadapi tantangan hidup di dunia ini. Tapi bagaimana dengan prestasi Akhirat? Toh hakikatnya belum kelihatan dengan mata telanjang manusia. Alih-alih bekerja keras untuknya, sebagian manusia justru masih ragu. Logikanya menolak. Seolah tak percaya. Adakah kehidupan baru setelah kematian? Macam mana yang dikubur bisa bangkit kembali?
Bagaimana tulang belulang itu bisa berkumpul menyatu kembali? Dan banyak lagi pertanyaan meragukan semacamnya. Iya, Kadang logika saja memang tidak cukup. Otak manusia terlalu dangkal untuk itu. Di sinilah peran keyakinan. Hanya dengan ilmu berbekal iman yang mampu meneropong jauh hingga ke negeri Akhirat.
Hidup bukan sekadar otak hebat atau tenaga kuat. Tak bisa Cuma mengandalkan status sosial yang mentereng, Segala sesuatu rupanya mesti pakai iman dan hidayah. Sedang hidayah itu juga tetap harus dicari dan diusahakan. Itulah sebenarnya mengapa manusia diciptakan ke dunia. Mereka diberi kesempatan untuk mengenali lebih dekat tentang siapa Tuhan Penciptanya.
Firman Allah: “Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan Akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah Mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al-Isra [17]: 19)
Secara singkat, ayat di atas menerangkan, ada tiga komponen yang harus dipenuhi untuk meraih prestasi dunia dan Akhirat. Prestasi itu berupa kebahagiaan di dunia dan keselamatan pada hari Kebangkitan nanti. Yakni, iradah (orientasi), sa’yun (usaha), dan iman (keyakinan). Trilogi ini bukan hanya untuk kehidupan Akhirat, tapi juga berlaku untuk kesuksesan hidup manusia di dunia.
Pertama, iradah (orientasi). Orientasi hidup biasa juga dikenal dengan sebutan visi misi. Bagi seorang Muslim, hal ini tentu sudah jelas. Bahwa dunia adalah ladang beramal jariah dengan prestasi dan karya terbaik. Sedang akhirat menjadi tempat memanen dan menikmati semua kebaikan tersebut.
Kedua, sa’yun (usaha). Cita-cita tanpa usaha sama dengan nol. Kerja di sini bukan bermaksud asal bekerja saja. Tapi harus diawali dengan niat yang benar, cara atau metode yang tepat, dan senantiasa diiringi dengan evaluasi (muhasabah) sebagai proses kontrol untuk mendapatkan hasil yang terbaik.
Ketiga, iman. Yap apapun urusannya, iman itu tetap harus dilibatkan. Apapun keadaannya, iman menjadi ukuran pertama bagi setiap manusia. Dengan iman yang terjaga, jaminan kemenangan itu ada. Maka hari-hari berupa prestasi kemenangan saat ini hendaknya tidak dinodai oleh keburukan yang berulang. Kerja iman adalah bagaimana meraih kebaikan sekaligus merawat kemenangan itu. Sedangkan puncak prestasi orang beriman tidak lain adalah bahagia dan selamat di Akhirat kelak.






