Sajadah Muslim

Membahas Tentang Seputar Ilmu Agama Islam

Melahirkan Jiwa Yang Peduli

Sajadah Muslim ~ Meski berasal dari satu entitas yang sama, kenyataannya manusia adalah tiga golongan berbeda. Demikian Burhanuddin az-Zarnuji, membagi kelompok manusia dalam  karyanya kitab Toklimul Muta’allim. Menurut az-Zarnuji ada manusia yang tampil sebagai sosok yang utuh (rajulun), ada yang hanya dianggap separuh laki-laki (nishfu rajulin) ada juga meski wujudnya ada tetapi tidak bernilai sama sekali (la syaia).


Kelompok manusia pertama, disebut az-Zarnuji sebagai sosok paripurna. Mereka adalah orang-orang yang punya ide dan gagasan terbaik. Gemar berkomunikasi dan bisa bekerja dalam satu kelompok (lahu ra’yun shaibun wa yusyawir) Dinilai tipe orang seperti ini punya kepedulian terhadap orang lain dan lingkungan sekitarnya. 

Mereka tidak asyik dengan keshalihan secara individual saja, tetapi juga terpanggil untuk memberi kontribusi terhadap maslahat yang lebih besar bagi umat  manusia.

Sosok pertama mencakup dua kebaikan sekaligus, keshalihan secara infiradi (pribadi) dan keshalihan secara sosial (mushlih). Mereka adalah komponen masyarakat yang berkarakter ulama  zuama (ulama pemimpin) atau alimin dan amilin (orang-orang berilmu yang mengamalkan ilmunya). Mereka juga bisa tergolong sebagai fuqaha dan du’at (ahli figh dan juru dakwa) secara bersamaan. Sebagai muta’allim dan mu’allim (pembelajar dan pengajar) sekaligus di satu waktu.

Jenis kedua, kata az-Zarnuji  yaitu nishfu rajulin (separuh laki-laki. Asalnya mereka bukan orang cacat hingga digelari “Setengah” saja. Namun sikap dan kepeduliannya menunjukkan itu. Cirinya, lanjut az-zarnuji, lahu ra’yun shaibun walakiri la yusyawir.

    

Kelompok manusia ini punya pendapat yang baik, tapi itu hanya dinikmati seorang saja. Dia tidak senang diajak bermusyawarah. Nyaris tidak peduli dengan sesama. Apalagi sampai diajak meluangkan waktu, pikiran dan tenaga untuk orang lain. Mungkin saja dia baik tapi kebaikan itu tak pernah dirasakan oleh sekelilingnya.

Sedang kelompok ketiga adalah la syala. Keberadaann juga ditangisi. Alih-alih diharap memberi solusi, ia sendiri belum mampu mengatasi persoalan sendiri.

Jangankan berpikir visioner ke depan, soal sampah dilingkungan sekitarnya tak bisa atasi olehnya. Hidupnya bisa dikata berbekal modal kasihan dari orang lain.  Tidak ada kepekaan dan tanggung jawab moril. Baik untuk dirinya apalagi bagi kepentingan masyarakat.

Nasihat diatas panjang lebar diurai dalam pasal Ketiga tentang Adab Memilih Ilmu dan Guru. Menurut az-Zarnuji manusia kini mulai kehilangan sifatnya sebagai makhluk sosial. Saling menghormati, empati, toleransi, perhatian, kepekaan, kepedulian, dan persaudaraan perlahan luntur, tanpa disadari. Padahal diakui justru itulah yang menjadi ukuran dan nilai manusia selama ini.

Bahwa adab tidak boleh tercabut dari pokok ilmu. Keduanya saling bersenyawa tanpa bisa dipisahkan. Adab ialah norma yang mendahului dari pada ilmu itu sendiri. Ibarat cangkang, adab menjadi pelindung ilmu dari hal-hal yang buruk dan tidak bermanfaat. 

Adab adalah wadah tempat ilmu kelak tumbuh menjulang dan mengakar, sebab apa gunanya ilmu kalau kepekaan dan kepedulian itu hilang dari diri manusia.

Lihat saja, bukan sekali dua kali berbagai elemen masyarakat tumpah kejalan-jalan. Bukan untuk menggelar pesta atau sedang bersuka cita. Mereka turun untuk mengadakan aksi dan orasi. Menyuarakan kegelisahan dan ketidak percayaan mereka.

Mempertanyakan kepedulian wakil-wakil rakyat yang dianggap tidak lagi berpihak. Lalu kemana ilmu dan amanah itu? Kemana tanggung jawab dan sumpah jabatan? Kemana kepedulian yang kerap dijadikan bahan kampanye dimasa lalu? Adakah  semuanya ternyata nothing atapun la syaia?


Antara Harta Banyak Dan Hati Yang Qona’ah

Sajadah Muslim ~ Ketika manusia hidup tidak lagi menjadikan ajaran Islam sebagai jalan hidup, sudah barang tentu kegelapan dan kesengsaraan akan menyapa kehidupannya, baik di dunia lebih-lebih di akhirat.  Satu yang menjadikan manusia terperosok pada keadaan buruk itu adalah tiadanya kendali diri dalam memandang hakikat harta, hingga menjadi pribadi kikir dan yang tamak.  Imam Ghazali dalam ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa penyebab kikir dan tamak adalah adanya keinginan yang kuat akan kehidupan dunia ditambah angan-angan yang panjang. Ketika itu dibiarkan maka orang akan teracuni oleh sikap rakus, tamak, dan serakah sehingga melakukan kemungkaran, pelanggaran hukum, hingga menindas dan menzalimi orang lain, baginya adalah perkara yang penting dilakukan.


Rasulullah telah memberikan peringatan penting perihal ini semua. Apabila anak Adam sudah memiliki dua buah lembah yang terbuat dari emas, niscaya ia masih akan mencari lembah yang ketiga. Tidak memenuhi perut anak Adam kecuali tanah. Allah Ta’ala menerima taubat orang yang bertaubat. (HR Bukhari dan Muslim)

Hal ini menunjukkan  bahwa harta tidak perlu dijadikan arus utama dalam hidup, melainkan dalam rangka untuk menegakkan agama Allah, membantu sesama dan menciptakan kemaslahatan yang luas dan keperpanjangan. Sebab jika harta hanya untuk diri bermegah-megahan dan bermewah-mewahan, maka kehancuran dan kebinasaan adalah keniscayaan.

Sebagaimana dialami oleh Qarun di masa Nabi Musa dan Tsa’labah di masa Nabi Muhammad.

Oleh karena itu, dalam Islam kaya itu tidak indetik dengan harta. Apalagi kemuliaan, sama sekali bukan diukur atas banyak sedikitnya harta manusia. Al-Quran menegaskan orang mulia adalah yang paling bertaqwa.

Lantas bagaimana pandangan Islam tentang orang kaya sesungguhnya? Seorang ahli hikmah, sebagaimana dinukil oleh Imam Ghazali pernah ditanya “Apakah makna kaya itu”?

Ahli hikmah itu menjawab, “Sedikitnya angan-anaganmu dari kerelaaanmu dengan apa yang mencukupkanmu.”

Ibn Mas’ud pernah berkata, “Tidak akan terlewatkan sehari pun melainkan malaikat akan menyeru,  ‘Wahai anak Adam sesuatu yang berjumlah sedikit namun mencukupi kebutuhanmu itu jauh lebih baik dari pada jumlah banyak yang justru menganiaya kepadamu.”

Fakta mengenai hal ini begitu banyak, terutama dimasa-masa dimana umat Islam disapa datangnya bulan ibadah, seperti kala Idul Adha dan masa ibadah haji. Dimasa Idul Adha biasa muncul berita seorang pemulung ikut berqurban setelah menabung 5 tahun sampai 7 tahun lamanya. Sedangkan ada orang yang sudah punya rumah, ada mobil, tinggal di kota, qurban kambing saja tidak  pernah.

Pernah juga ada sebuah kisah yang ramai dibicarakan orang, perihal seorang tukang becak, yang setiap hari Jum’at menggratiskan upah kerjanya kepada penumpang yang naik pada hari jum’at itu. Sedangkan sisi yang lain ada orang kaya, aset dimana-mana, namun masih tamak dan akhirnya menjadi koruptor.

Dengan demikian, hidup di dunia ini bukan semata urusan harta. Sekalipun harta tetap diperlukan dalam segala sisi kehidupan. Kebahagiaan tidak akan Allah turunkan kepada hati yang tamak dan kikir dengan harta.

Melainkan akan dianugerahkan kepada hati yang qona’ah, sehingga kala kaya itu berarti akan banyak urusan umat dibantu dari harta yang dimilikinya. Kala miskin, tak akan ada rencana dalam dirinya untuk merampok, korupsi atau melakukan perbuatan haram yang pasti akan menyengsarakan hidupnya, cepat atau lambat.


Biji Dalam Tanah Dan Hati Yang Lemah Lembut

Sajadah Muslim ~ Umumnya orang memandang bahwa tindakan memukul, manganiaya adalah kekerasan. Padahal ucapan pun, bahkan hati bisa saja tidak lemah lembut, ketika apa yang dihasilkan berakibat pada terjadinya kerusakan.


Betapa sering saat di jalan raya, kita temui seorang driver menekan klakson motor atau mobil dengan begitu kencang dan bertubi-tubi, hingga memancing emosi pengguna jalan lainnya. Sebagian malah ada yang membuka  kaca sekedar untuk memaki dan sebagainya. Mengapa banyak hati begitu keras di era sekarang?

Bukankah Islam mendorong umatnya untuk berperilaku lemah lembut? Sesungguhnya Allah sangat menyukai sikap yang lemah lembut dalam segala urusan (HR Bukhari)

Berkaitan dengan kelemah lembutan hati, Imam Ghazali dari dalam tanah, lantas ia berkata. Sesungguhnya orang yang mengenal engkau (memahamimu biji-bijian) niscaya ia akan berbuat lemah lembut dalam perkara penghidupanmu.

Kita ketahui biji-bijian di sekitar kita adalah “bakal” makhluk yang tidak punya daya apa-apa. Bahkan kala ditabur di atas tanah, pertumbuhannya sangat pelan dan tentu saja dalam kurun tertentu dirinya belum memilik kekuatan berarti. Bahkan tersengat cahaya matahari yang bagi tumbuhan lain adalah biasa, baginya adalah beban berat.

Para petani sangat mengerti arti sebuah biji-bijian di dalam tanah yang sedang menggeliat untuk tumbuh. Oleh karena itu, umumnya petani memiliki kepekaan tinggi dalam interaksi dengan tanaman yang mereka pelihara. Mereka hadir untuk merawat tak sekedar berbekal pengetahuan, tapi rasa kepakaan dan tentu saja kelemah lembutan hati.

Dalam realitas kehidupan manusia sendiri, kelembutan hati hanya akan diperoleh manakala seseorang benar-benar mengerti tentang siapa Allah sebagai Rabb.

Imam Ghazali menegaskan bahwa manusia tidak dapat menghindar dari berbuat kasar, rakus, tamak dan keras melainkan dengan memiliki keyakinan yang kokoh perihal Allah telah mengatur dan menetapkan takdir atas rezeki setiap hamba-Nya, bahkan seluruh makhluk-Nya.

Orang yang demikian akan sadar dan yakin bahwa rezeki dan yakin bahwa rezeki Allah untuk hamba datang dari segi yang tidak disangka-sangka itu lebih banyak dan bisa  datang kapan saja. Prinsipnya jelas, mesti ada taqwa kepada-Nya.

“Siapa saja yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan  menjadikan jalan keluar bagi orang itu. Allah memberi rezeki kepadanya dari segi yang tidak pernah disangka-sangka.” (QS Ath-Thalaq ayat 2-3).

Oleh karena itu, meneguhkan iman, memperhatikan ciptaan-Nya, dalam hal ini biji-bijian yang di dalam tanah, serta kisah-kisah penuh hikmah akan menjadikan akal kita bekerja maksimal dan optimal untuk mendorong diri kita menjadi pribadi yang lemah lembut.

“Sesungguhnya  kelembutan tidak terjadi pada sesuatu kecuali akan mengindahkannya dan tidaklah tercabut dari sesuatu kecuali akan memburukkannya.”

Kelembutan tutur kata dan perbuatan merupakan landasan dalam membangun keharmonisan antar sesama, kunci dalam menasihati dan penyelesai permasalahan serta penyebab datangnya kebaikan, Rasulullah Saw bersabda: “barang siapa  yang tidak memiliki kelemah lembutan maka tidak dihampiri  kebaikan “ (HR Muslim).


Menjaga Perkara Paling Penting Dalam Hidup

Sajadah Muslim ~ Menjadi Muslim tentu sebuah keberuntungan tiada tara. Hal ini karena akal manusia betapapun sangat cerdas dan hebat. Jika Allah tak berkehendak memberikan hidayah, maka iman tidak akan pernah bersarang di dalam dadanya.

Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah. Dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak  mempergunakan akalnya. (QS Yunus ayat 100).

Kalimat bahwa tidak ada seorangpun akan beriman, ini menandakan bahwa kecerdasan akal manusia bukanlah jaminan, apalagi kalau sekedar nasab (keturunan) dan kekayaan harta, seseorang akan bisa menggapai hidayah.

Dalam hal ini seakan-akan Allah Ta’ala menyampaikan kepada kita bahwa iman yang ada di dalam diri kita benar-benar anugerah yang Allah berikan sebagai wujud rahman dari rahim-Nya kepada kita semua yang sudah barang tentu iman itulah yang harus diutamakan, diprioritaskan untuk dijaga dan ditajamkan di dalam kehidupan ini.

Selanjutnya, Allah tegaskan bahwa, Kecuali dengan izin Allah. Menurut Ibnu Abbas ra ini adalah dengan perintah Allah. Sementara itu menurut ‘Atha ra’ adalah dengan kehendak Allah.

Dan disebutkan pendapat lain yaitu dengan ilmu Allah, sedangkan menurut Sufyan ats-Tsauri ra artinya adalah dengan qadha. Allah (taqdir Allah). Dalam pengertian  yang lain kita harus benar-benar sadar bahwa iman ini adalah hak prerogatif Allah Ta’ala, dimana tidak akan sampai iman ke dalam  hati seseorang melainkan  Allah berkehendak untuk hal itu terjadi.

Pemahaman ini telah menjadikan sosok Nabi beserta sahabat dan generasi tabi’in yang benar-benar menjalani kehidupan dunia ini untuk memelihara perkara paling penting dalam hidup ini.

Ibn Arabi misalnya, ia pernah melakukan perjalanan dari Andalusia ke Maroko, sebagai ulama sepanjang perjalanan banyak orang memberikan hadiah kepadanya. Bahkan ada yang memberikan sedekah atau hadiah sebesar segembalaan kambing yang tentu saja nilainya sangat banyak.

Namun Ibn Arabi, tidak kemudian mengambil dan membawanya pulang, pagi sedekah itu diterima siang segera disedekahkan kepada orang yang berhak, hingga sebelum Ashar tiba, semua kambing itu telah habis disedekahkan.

Sayyidina Ali Karamallahu Wajhah pernah suatu waktu membawa beberapa kerat roti untuk istri dan anaknya yang sudah sangat membutuhkan makanan. Akan tetapi dalam perjalanan ia bertemu dengan pengemis, sehingga akhirnya, roti itu dibagikan hingga habis. Tak ada yang bisa dibawa pulang ke rumah untuk istri dan anaknya.

Dalam kacamata rasional, jelas saja perilaku di atas sangat tidak bisa dicerna. Bagaimana mungkin manusia yang hidup tidak bisa lepas dari harta dan makanan begitu ringan menyerahkan kepada orang lain.

Tetapi, dalam kacamata iman itu adalah perilaku yang sejati, dimana tidak ada yang lebih berharga bagi hidupnya selain dari pada hidup dan kokohnya iman di dalam hati.

Lebih dari itu, amalan orang-orang seperti itu merepresentasikan sebuah keyakinan teguh bahwa suatu saat akan terlihat secara gamblang, bahwa perkara paling dibutuhkan umat manusia dalam perjalanan menuju Rabb-nya adalah iman. Bukan  harta makanan, atau beragam kemewahan dan jabatan.

Oleh karena itu, kriteria orang beruntung menurut Al-qur’an adalah orang yang beriman kepada yang ghaib, mendirikan shalat, dan mensedekahkan sebagian dari rezeki yang dimilikinya, percaya kepada Al-qur’an dan kitab-kitab sebelumnya dan benar-benar yakin terhadap hari Akhirat, Allahu a’lam.

 

Empat Bekal Menuju Jalan Allah

Sajadah Muslim ~ Betapa banyak hati yang gundah gulana walau harta dalam genggaman. Betapa banyak orang kehilangan arah kehidupan  walau  kemewahan meliputi keseharian. Mereka seakan tampak bahagia namun sejatinya hampa.


Sebagai bukti bahwa dunia memang bukan tujuan, melainkan ladang manusia beramal untuk panen kelak diakhirat, negeri yang abadi.

Sebagian yang sadar akan hal di atas telah memilih jalan untuk bahagia dengan kembali pada nilai-nilai Islam, Namun, sering dengan semangat yang menggebu namun belum didasari ilmu, menjadikan keaktifannya, untuk menjalankan perintah agama  lebih didorong keadaan emosional dari pada rasional dan benar-benar  sesuai tuntanan Allah Ta’ala.

Lantas bagaimana kita menuju Allah dengan cara yang tepat? Imam Al-Ghazali menguraikannya dengan gamblang pada kitab adabnya yang berjudul Ayyuhal Walad. Ada empat langkah yang harus dilakukan untuk  menuju Allah Ta’ala.

Pertama, memiliki i’tiqad (keyakinan) yang murni tidak dicampuri oleh kebid’ahan ini berarti, seorang Muslim harus benar-benar memahami ilmu tauhid dan ilmu aqidah, sehingga dirinya sadar sepenuhnya bahwa hanya Allah yang wajib disembah, didapatkan ridha, cinta, dan kasih sayang-Nya.

Dalam upaya ini, sudah barang tentu harus benar-benar mengarah untuk meneladani apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mulai shalat, sedekah, tilawah Al-qur’an. Hingga muamalah dengan sesama benar-benar sesuai dengan sunnah.

Sebelum ke langkah kedua, penting dijelaskan makna bid’ah di sini menurut penjelasan kitab Ayyuhal Walad itu sendiri Bid’ah adalah segala sesuatu yang berlawanan dengan apa yang dibawa oleh Al-Qur’an, Al-Karim dan As Sunnah, serta tidak memiliki dasar dalam agama Islam.

Kedua, taubat nasuha. Taubat ini adalah sebuah kesadaran sekaligus pengakuan dan komitmen untuk benar-benar berubah, sehingga tidak akan kembali melakukan dosa, maksiat atau pun kemungkaran.

Langkah ini bisa kita lihat dari sosok Umar bin Khathab yang menjadi Muslim dan ia sangat membenci terhadap kekafiran apalagi sampai berpikir untuk maksiat dan menjadi kafir kembali.

Ketiga, meminta keridhaan orang yang pernah dizalimi, sehingga tidak lagi ada beban karena hak orang lain yang belum ditunaikan.

Rasulullah pernah melakukan hal ini, menjelang akhir hayat beliau. Beliau mengumpulkan umat Islam, lantas meminta siapa yang pernah di zalimi untuk melakukan balas atas kezaliman yang andai Rasulullah pernah lakukan, baik sengaja, maupun tidak sengaja. Ini berarti kita harus segera menuntaskan segala macam urusan diri dengan sesama, agar semua ridha dan diri bisa semakin mudah menjadi orang yang dekat dan berhasil sampai menunju Allah Ta’ala

Keempat,  menuntut ilmu tentang syariat sehingga dapat menjalankan perintah-perintah Allah Ta’ala ini juga menjadi sebuah tantangan tersendiri, terutama di era digital seperti sekarang. Kinsen, duduk dalam jangka sampai satu jam menuntut ilmu bukanlah perkara penting.

Sekalipun ini juga mulai bisa dilakukan secara online. Namun pada dasarnya ini adalah sebuah dorongan agar diri sadar, paham, dan mengerti mengapa sebuah perintah Allah wajibkan, sunnahkan dan mengapa kita melakukannya serta mengerti manfaat, fadhilah (keutamaan) dari menjalankan itu semua.


Menjadi Ibu Inspiratif

Sajadah Muslim ~ Dari Abu Hurairah dia berkata, Aku mendengar Rasulullah bersabda, “Wanita Quraisy adalah sebaik-baik wanita yang mengendarai seekor unta yang paling sayang kepada anak di usia kecilnya dan paling menjaga suaminya pada apa yang dimilikinya.” Shohiih Al- Bukhori 3434.


Setiap bulan Desember ada satu hari yang diperingati sebagai hari Ibu. Wanita-wanita dan para ibu inspiratif dengan berbagai keahlian ditampilkan dan diberi penghargaan.

Peringatan yang tidak ada salahnya diadakan dan tidak salah juga jika ditiadakan Mengapa? Karena menurut penulis, semua Ibu adalah wanita inspiratif bagi anak-anaknya. Rahim ibu yang menjadi tempat hidup janin hingga dilahirkan adalah magnet yang memiliki  daya tarik yang kuat bagi anak untuk berbakti dan menjadi limpahan inspirasi dalam bertindak.

Magnet kebaikan yang dimiliki seorang ibu tidak akan pernah melemah, bahkan anak yang durhaka sekalipun, jika diingatkan tentang ibunya ia akan tersentuh lalu menitikkan air mata, walau secara sembunyi-sembunyi.

Dan menjadi ibu inspiratif tidak harus menunggu hari tertentu untuk diperingati. Ibu adalah inspirasi sepanjang waktu bagi anak-anaknya.

Jika kita mendapat kebaikan dan manfaat dari peringatan hari ibu, sungguh Rasulullah telah memberikan kepada kita panduan untuk menjadi ibu inspiratif dan memberikan contoh benar yang dapat dilihat, terutama dimasa beliau. Dalam hadits di atas, beliau ingin agar kita para ibu, belajar dari wanita Quraisy, suku terbaik yang Allah swt utus darinya seorang Nabi dan Rasul terakhir yaitu Muhammad.

Ibnu Hajar Al-Asqolaniy berkata, tentang penjelasan hadits di atas dalam kitabnya ‘Fathul Bari’ Sabda beliau tentang wanita yang mengendarai unta, merupakan isyarat tentang Arab, karena mereka adalah orang-orang yang banyak  mengendarai unta. Dan sebagaimana yang diketahui bahwa Arab lebih baik dari yang lainnya secara mutlak dan umum, maka bisa diambil pelajaran darinya keutamaan wanita Quraisy secara mutlak di atas seluruh wanita.

Inspirasi kebaikan yang dapat kita ambil dari wanita Quraisy adalah :

Pertama, mereka adalah wanita yang baik agamanya. Hal ini dapat kita ketahui dari lafadz lain dari hadits di atas “Khoiru nisain rokibnal ibil sholihu nisai quraisyin” Abdul Abbas Al-Qurthubi berkata dalam ‘Thorhut Tatsrib fi Syarhit Taqrib,” yang dimaksud dengan sholih adalah baik agamanya.

Kedua, mereka adalah wanita yang kuat dan mandiri, kita dapat mengambil kesimpulan ini dari kalimat, “Yang mengendarai unta.” Walaupun wanita, mereka lihai mengendarai unta, yang ketika itu menjadi alat transportasi utama di jazirah Arab.

Ketiga, wanita Quraisy Rasulullah sebut sebagai wanita yang paling sayang terhadap anak kecil. Sifat ini adalah sumber kebaikan bagi anak ketika berada dalam masa tarbiyahnya bersama ibu. Sifat ini pula yang menjadi sebab bagi doa kebaikan yang anak lantunkan untuk kedua orang tuanya, “kamaa robbayaanii shoghiiroo” dan ketika kasih sayang ini diberikan sungguh mereka juga memberikan tarbiyah/pendidikan yang baik kepada anak-anak mereka.

Ke empat, Quraisy adalah wanita yang paling menjaga suaminya. Kata ‘ar aahu’  dapat kita terjemahkan dengan paling menjaga, paling perhatian. Mereka tidak saja perhatian pada diri suami mereka, tapi juga pandai menjaga dan mengelola harta yang diberikan suami kepada mereka.

Inspirasi kebaikan yang terucap dari lisan orang yang paling mulia akhlaknya adalah inspirasi termahal yang harus kita jadikan target kebaikan untuk diri-diri kita.

Kemudian wanita Muslimah dan juga para ibu adalah kemuliaan yan tidak dapat dibantah, apalagi jika kemulaiaan tersebut hasil dari ‘ittiba’ Rasulullah Muhammad. Wallahu a’lam.


Belajar Berbagi Dari Nabi Yusuf

Sajadah Muslim ~ Cerita Nabi Yusuf memenuhi satu surat dalam Al-Qur’an, sebanyak 111 ayat, semuanya berkisah indah tentang Nabi Yusuf.  Di sebutkan, tak ada seorang Nabi pun yang dikhususkan dalam satu surat tertentu kecuali kisah putra dari Nabi Yaqub bin Nabi Ishak, semoga Allah melimpahkan keselamatan dan kesejahteraan atas mereka selalu.


Dalam kisah tersebut, terdapat kisah kesabaran yang nyaris tanpa batas yang diperagakan oleh nabi Yusuf dalam menghadapi perlakuan saudara-saudaranya. Kesabaran itu tak lain adalah teladan yang diwariskan oleh sang ayah. Sifat demikian dinamai sebagai sabar yang indah (Shabrun jamil) dalam al-Qur’an.

Ada juga ketegaran Nabi Yusuf yang berulang kali di zhalimi oleh orang-orang dekat di sekelilingnya. Tapi hal itu justru dijadikan batu loncatan buat meraih keimanan yang lebih tinggi. 

Tidak  kalah  menarik adalah sikap Nabi Yusuf, yang tak lelah berbagi kebaikan kepada orang lain. Tak peduli apapun perlakuan dan balasan yang didapat, itu sama sekali tidak mengurangi semangatnya untuk berbagi.

Firman Allah. “Maka ketika mereka masuk ke tempat Yusuf, mereka berkata; “Hai Al-Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempurnakanlah timbangan untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah memberi balasan  kepada orang-orang yang bersedekah.” (QS.Yusuf ayat 88).

Inilah kebaikan yang tercatat oleh tinta emas dalam sejarah Nabi Yusuf bukan tidak tahu tentang tangan-tangan kotor yang pernah mencampakkan dirinya ke sumur tak bertuan di tengah gurun. Dia juga  sebenarnya masih ingat soal iri hati saudara-saudaranya dan berbagai perlakuan serta perkataan yang melecehkannya. Puncaknya, semua sepakat menyusun makar dan tega membohongi ayah mereka yang sudah renta tersebut.

Tapi lihat apa yang diperbuat oleh Nabi Yusuf. Dia bergeming dari semua bisikan itu, tidak ada buruk sangka atau rasa dendam. Apalagi memproklamirkan kesumat dan keinginannya untuk membalas. Justru cahaya keimanan yang memancarkan sinarnya yang benderang.

Mengalirkan energi positif dan motivasi untuk berbagi kebaikan yang seolah tak  pernah kendur.

Bagi seorang Muslim, pantang menodai hati yang bersih dengan setitik nilai. Semakin banyak memberi niscaya akan membuatnya kian menikmati ketenangan dan kedamaian hati. Sebab peduli, empati, dan keinginan tampil berbagi dan berkontribusi menjadikannya senantiasa berpikir positif dan berada dalam lingkaran kebaikan selalu.

Segala urusan dipandangnya sebagai lahan untuk menabur benih kebaikan. Setiap urusan di hadapi dengan sangka baik kepada Allah. Selanjutnya, ia akan mencari peluang di balik tantangan kesempatan di balik kesempitan untuk hadir menjadi sosok pemenang.

Dia sadar, berbagi kepada orang lain bukan harus menunggu jadi orang kaya raya dahulu. Jika dirinya peduli tidak bermaksud kalau ia tak punya masalah dalam hidupnya.

Sebagaimana saat mendoakan kebaikan atas saudaranya, itu justru sebagai tanda cintanya kepada saudaranya tersebut. Semuanya ditunaikan atas nama cinta kepada kebaikan. Seraya berharap semoga dirinya pun mendapat sepercik keberkahan dari kebaikan tersebut.

Hal ini sebagaimana diterangkan oleh Anas bin Malik ra, pembantu Rasulullah, dari Nabi bersabda; “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

Ibnu Rajab Al-Hambali, semoga Allah merahmatinya, berkata  mengenai hadits di atas. Di antara tanda iman yang wajib adalah seseorang mencintai saudaranya yang beriman lebih sebagaimana ia mencintai dirinya. Ia pun tidak ingin sesuatu ada pada saudaranya, sebagaimana ia tidak suka hal itu ada padanya. Jika cinta semacam ini lepas, maka berkuranglah iman nya.


Tak Sekedar Ibadah, Qurban Juga Menggairahkan Perekonomian Rakyat

Sajadah Muslim ~ Secara normatif berkurban di Hari raya Idul Adha, merupakan keutamaan yang dicintai Allah Swt. Namun disisi lain, ibadah kurban sesungguhnya berdampak pada perekonomian umat.


Sebagaimana diketahui, ternak dan hasil produksinya merupakan sumber bahan pangan protein yang sangat penting untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sementara tingkat pendapatan rumah tangga (purchasing power) masyarakat Indonesia masih belum menjangkau untuk protein dengan intensitas yang memadai.

Bappenas mencatat bahwa rata-rata tingkat konsumsi protein hewani di Indonesia hanya mencapai 4,7 gram/orang/hari. Sedangkan di Malaysia, Thailand, dan Pilipina rata-rata telah di atas 10 gram/orang/hari.

Kemudian negera maju seperti Jepang, Australia dan Selandia Baru konsumsi rata-rata mencapai diatas 20  gram/orang/hari.

Pada saat yang sama, populasi ternak berupa sapi potong, kambing, domba dan sebagian kecil kerbau, masih belum mencukupi untuk kebutuhan  protein dalam negeri.

Tentu saja masalah ini tidak bisa sepenuhnya dipikul oleh pemerintah. Beruntung Islam memiliki syarat untuk menjalankan ibadah kurban, sehingga setidak-tidaknya dalam satu tahun umat Islam bisa berkontribusi terhadap terpenuhinya kebutuhan protein hewan masyarakat.

Jadi berkurban tidak saja menjalankan ketaatan, tetapi juga ikut serta memakmurkan pembangunan. Kesadaran umat yang meningkat untuk berkurban membuat perputaran ekonomi seputar peternakan, pertanian, transportasi, jasa jagal, dan penyaluran daging kurban meningkat.

Sektor riil ekonomi ini bisa meningkatkan kesejahteraan para pelaku ekonomi di dalamnya. Bagi pekurban pun ada pemenuhan asupan gizi protein hewani. Sesuatu yang mungkin hanya bisa dinikmati setahun sekali bagi kaum duafa. Disinilah Anda yang berkurban benar-benar berjasa signifikan bagi pemenuhan gizi masyarakat bawah.

Sebab kurban jelas memberikan keuntungan nyata dan langsung. Para penerima manfaat kurban dapat pemenuhan gizi di sektor makanan, sekalipun setahun sekali, kemudian juga terjadi pemenuhan pasokan konsumsi masyarakat terutama daging.

    Menariknya, daging kurban bisa dinikmati siapa saja, termasuk non-Muslim, berbeda dengan zakat yang harus kepada umat Islam. Dan lihatlah betapa senangnya masyarakat desa di pelosok negeri ini yang mendapatkan hewan kurban dari anda.

Berkurban juga berdampak luar biasa bagi peternak. Dengan menjalankan ibadah ini, ada kepastian hasil ternak dalam negeri terbeli. Pada akhirnya banyak yang akan mendapat keuntungan, mulai dari peternak, petani, pedagang hewan, sektor transportasi, tukang jagal hingga yang mengantar daging kurban. Semua mendapat manfaat ekonomi dari ibadah ini. Lebih dari itu, peternak diuntungkan dari sisi harga dan jumlahnya yang cukup besar.

Sebagai ilustrasi misalnya di Indonesia ada 20 juta orang yang berkurban dikalikan Rp. 2.000.000,- maka akan terhitung dana sebesar Rp. 40 triliun yang berputar. Dan angka tersebut adalah angka pasti dan itu sektor riil.

Keuntungannya langsung dinikmati masyarakat kelas kecil itu angka baru yang dinikmati  untuk peternak belum untuk transportasi dan jagal. Uang  bisa terserap ke mereka dan memutar roda ekonomi.

Hal ini menunjukkan bahwa ibadah kurban memiliki sumbangsih besar terhadap perekonomian nasional. Sederhana saja analoginya, jika masyarakat miskin harus makan protein hewani setahun minimal 1 kg, maka ibadah sudah membuat pemerintah tidak perlu mengeluarkan anggaran.

Ironinya, distribusi daging belum seutuhnya merata. Di perkotaan, jumlah daging sangat banyak, sementara di desa-desa tidak sedikit yang tidak tersentuh daging kurban.

Disinilah kami memandang kurban Masuk Desa sebagai program urgen, mengingat saudara-saudara kita di pedesaan jauh  lebih membutuhkan.


Al-Quran ‘Sop’ Kebangkitan Islam

Sajadah Muslim ~ 23 tahun dakwah Nabi Muhammad saw, dilaksanakan, Allah membimbing kaum muslimin sehingga meraih kemenangan karena  Al-Qur’an dijalankan.

Tak dipungkiri saat ini kaum muslimin tengah berada pada posisi terbelakang. Nyaris dalam segala aspek berada di bawah kungkungan musuh-musuh Islam. Mulai dari politik, ekonomi, budaya dan seterusnya.


Begitu sulit umat Islam untuk menentukan sikap keagamaan, rongrongan terus digalakkan. Jangankan di negara-negara yang notabene minoritas muslim, seperti di Eropa. Di negara mayoritas saja, seperti di Indonesia, nampak ruang geraknya sangat terbatas. 

Masih kita temui, ada saja sekelompok orang yang melarang pemeluk agama hanif ini menjalankan syariat secara kafah. Umpama, melarang menggunakan jilbab, mencegah melaksanakan shalat secara berjamaah dan sebagainya.

Bila ada yang menuntut penegakan syariat  secara konstitusional, langsung di labeli sebagai anti Pancasila, ke binekaan, bahkan teroris.    

Kondisi lebih memprihatinkan yang menimpa saudara seiman di Palestina, Suriah, Burma, Uighur dan sebagainya. Mereka diusir, bahkan dibunuh oleh musuh-musuh Islam, tanpa adanya pembelaan nyata dari negara-negara dan lembaga-lembaga Internasional khususnya yang kerap menyuarakan Hak Asasi Manusia (HAM).

Pada intinya, apa yang terpapar di atas adalah cermin kekinian kaum muslimin. Ketidakberdayaan menghadapi hegemoni musuh menjadi realitas nyata yang tak terbantahkan.

Tuntunan Sejarah

Jas merah (jangan melupakan sejarah) demikianlah ungkapan Bapak Proklamator Indonesia, Ir Soekarno, untuk menggambarkan pentingnya peranan sejarah bagi masa depan suatu bangsa.

Islam sendiri memiliki perhatian tinggi terhadap sejarah. Terbukti, sepertiga dari isi Al-Qur’an memuat ‘tema’ ini. Di kisahkan orang-orang yang taat kepada Allah, seperti para Nabi dan Rasul, dan juga disampaikan kisah para penentang, misalnya Fir’an dan Qarun, semua untuk dijadikan pelajaran.

Pada masanya sejarah pernah mencatat Islam berjaya hingga ratusan abad lamanya. Luas kekuasaannya sampai menembus dataran Eropa dan Afrika, tapi jangan lupa, pra-masa kejayaan itu, kaum muslimin juga pernah dinaungi oleh intimidasi yang luar biasa besarnya khususnya pada awal terbitnya ‘mentari’ Islam di bumi Makkah.

Bukan main cobaan yang menimpa kaum muslimin saat itu. Harta dan nyawa menjadi taruhannya. Tidak sedikit yang terampas hak-hak kemanusiaannya oleh mereka yang merasa berkuasa. Hingga akhirnya mereka memilih keluar, terusir dari negeri mereka sendiri, menuju daerah lain demi menyelamatkan iman yang telah dikandung badan.

Lalu bagaimana proses kejayaan itu diperoleh? Melalui perantara tuntunan wahyu yang berupa Al-Qur’an lah, akhirnya kaum muslimin bisa keluar dari kenestapaan itu. Selama 23 tahun secara bertahap, Allah membimbing kaum muslimin untuk meraih kemenangan.

Karena berpijak pada tuntunan wahyu ini, sejak awal kedatangannya kaum muslimin telah menduduki posisi yang tinggi di mata lawan, meski secara status sosial, mereka saat itu tertindas.

Hanya fisik yang mengalami kepayahan, tapi jiwa mereka merdeka, mulia, karena kebanggaan dan keyakinan nan tinggi pada agama ini (Al-Qur’an).

Mengapa ? Karena yang dijadikan rujukan diplomasi umat Islam adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an mencegah kaum muslimin untuk membarter iman dengan dunia. Itu adalah perniagaan yang sangat murah di sisi Allah.

Dalam kasus ini, kita lihat skor kemenangan ada pada pihak kaum muslimin karena mereka tidak mau di dikte. Semakin tinggilah kedudukan umat Islam. Di lain pihak, tunduk malulah musuh karena ditolak mentah-mentah tawaran yang diberikan.

Demikianlah gaya hidup seorang muslim dan pemimpin dalam Islam Al-Qur’an (dan As-Sunnah) menjadi barometer setiap keputusan yang akan diambil, sehingga kemuliaan meliputinya. Hakekat Islam itu “ya’luu wa laa yu’laa alaihi” (Unggul dan tidak ada yang mengunggulinya).

Proses-proses inilah yang seharusnya menjadi kajian segenap kaum muslimin yang merindukan kebangkitan Islam. Tidak ada jalan pilihan lain, kecuali kembali pada al-Qur’an. Hanya jalan ini yang akan mampu mengembalikan Islam (kaum muslimin) pada posisi yang semestinya, unggul di atas peradaban lain. Atau bahasa karenanya SPO ( Standart Operating Procedure).

Sebagaimana kata Umar bin Khathab, “Kita adalah umat yang oleh Allah SWT dimuliakan dengan Islam, maka bagaimana pun jika kita mencari kemuliaan dengan yang lain, maka Allah akan memberi kehinaan pada kita.”  Wallahu A’lam.”

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup

Pesona Peradaban Islam

Sajadah Muslim ~ Memperhatikan perkembangan dan dinamika Islam di tanah air, dan juga diberbagai  Negara terutama Amerika dan Eropa, secara spesifik yang  belakangan trending, Perancis. Islam tampaknya sedang memasuki fase baru kebangkitan. Hal itu dapat diperhatikan berbagai sisi. 


Pertama, gelombang masyarakat Eropa dan Amerika yang terus,” Berduyun-duyun” menjadi mualaf, bahkan di Perancis, Islam menjadi agama terbesar kedua negeri Napoleon Bonaparte itu.

Sebagai gelombang, tentu saja kondisi itu akan semakin besar, luas dan sangat mungkin “menggulung” peradaban materialis yang selama ini tegak berdiri di Amerika dan Eropa.

Sebab selama ini masyarakat dunia cenderung mengikuti arus informasi yang tidak berimbang, tendensius dan tidak berdasar terhadap Islam sebagai agama sekaligus peradaban.

Analisa Officer For National Statistic (ONS) menyebutkan bahwa jumlah umat Islam di Inggris pada tahun 2019 mencapai angka tiga juta jiwa. Bahkan dilansir The Sun, beberapa wilayah di London, hampir 50% penduduknya beragama Islam. Jika angka itu ditambah dengan umat Islam yang tinggal di Skotlandia dan Wales, maka total umat Islam berjumlah 3.363.210 jiwa.

Menyimak dinamika Islam yang terus berkembang di Eropa bukan tidak mungkin angka itu akan terus bertambah dan mengubah demografi negara-negara Eropa, termasuk Inggris dengan jumlah umat Islam yang kian memimpin. Terlebih di era digital, orang dengan sangat mudah mengakses informasi, kajian dan beragam hal tentang Islam secara lebih leluasa dan dinamis. 

Kedua,  Islam sebagai jalan hidup (way of life) semakin populis diberitakan dan dikonsumsi sebagai informasi yang paling hangat  menjadikan masyarakat Eropa  dan Amerika, yang notabene secara intelektual memiliki kecerdasan mumpuni dalam mencerna berbagai persoalan secara obyektif dan rasional.

Ketika masyarakat yang cerdas semakin penasaran  dan menggali Islam secara mendalam tanpa beban pretensi tertentu, sudah barang tentu ia akan melihat Islam sebagai solusi bagi kehidupan umat manusia.

Tidak heran jika kemudian, wanita seperti Silvia Constanza Romano, ketika membaca Al-Qur’an  dengan hati yang jernih, kala berada dalam “tahanan” kelompok Kenya justru tersentuh hidayah dan bersyahadat.

Kehadirannya kembali ke Italia disambut gegap gempita oleh beragam kalangan. Namun, siapa sangka, wanita yang ditunggu-tunggu itu telah menjadi seorang Muslimah dengan nama Silvia Aisha.

Ketiga,  di tingkat nasional, ulama sebagai pewaris Nabi sempat menjadi sorotan, ulasan dan kajian banyak pihak, terutama pemerintah dan penegak hukum.

Terlepas dari isu yang beredar, sorotan  terhadap ulama, secara tidak langsung, menjadikan umat Islam semakin sadar bahwa pewaris Nabi adalah lentera hidup yang umat harus mengikuti dan meneladani. Pada saat yang sama, umat lain juga mulia menyadari bahwa ulama adalah bagian penting dari umat Islam.

Keempat, Islam sebagai ajaran sangat menghormati posisi akal dan kecerdasan manusia pada posisi yang tinggi, Tidak ada ajaran dalam Islam yang tidak bisa dicerna, digali, dan dijabarkan sistem penjelasnya secara rasional bahkan supra rasional.

Oleh karena itu semakin seseorang mengoptimalkan akal pikirannya, semakin terang dan tenang hatinya. Karena sifat akal  dan hati cenderung sangat ingin mengetahui, mengakui dan hidup dalam kebenaran. Mengapa  orang yang sekian lama menjadi penggiat  ajaran agama tertentu, ketika semakin hari penasaran terhadap ajaran Islam, lantas ia berpikir, merenung dan terus mencari tahu pada akhirnya tercerahkan dan bersyahadat, seperti yang terjadi pada banyak mualaf dari kalangan intelektual dan saintis dari peradaban Barat. 

Sekedar menyebut nama ada Julius Germanus yang berubah nama menjadi Abdul Karim Germanus dan Abu Bakar Siraj, Ad-Din yang sebelumnya bernama Martin Lings.

Dari keempat fakta di atas menunjukkan bahwa Islam sedang menebar pesonanya yang indah. Islam akan dipandang penting, dibutuhkan dan penting diterapkan di dalam sistem Kehidupan dunia guna menjawab segala macam bentuk krisis dan konflik untuk kepentingan negara-neraga adidaya, Islam akan dipandang dan sangat mungkin dalam beberapa dekade ke depan diterima oleh sebagian besar penduduk  bumi dan menjadi peradaban baru yang akan menjadikan peradaban Islam benar-benar bangkit dan memesona  dengan begitu indahnya.

Namun, satu tantangan yang penting dijawab oleh segenap kaum Muslimin di tanah Air adalah bagaimana potensi umat yang begitu besar dapat betul-betul didayagunakan dalam upaya-upaya konkret untuk mewujudkan umat Islam sebagai umat yang terbaik, umat yang adil dan umat yang dapat menjadi saksi bagi segenap umat manusia.

Dan untuk itu, tidak ada pilihan lain. Kecuali dengan membina silaturrahim, mewujudkan sinergi, dan lebih jauh membangun shaf (barisan) yang rapat dan solid seperti bangunan yang kokoh, sehingga umat Islam pantas dan patut mendapat cinta dari Allah Ta’ala.

Tanpa kesadaran dan kesungguhan upaya untuk itu semua, di Indonesia umat Islam boleh jadi akan stagnan dan tidak dapat berperan strategis dalam upaya ikut menjawab beragam problematika keumatan, kebangsaan bahkan penduduk dunia.

Dalam hal ini, penting bagi kita untuk merenungkan apa yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad Abduh, “Islam tertutup oleh umat Islam-Nya sendiri.”

Apa yang menjadi penutup pesona peradaban Islam itu tidak lain adalah mindset, perilaku, dan orientasi hidup umat Islam sendiri yang justru tidak mencerminkan nilai-nilai Islam secara menyeluruh, seperti mudah terpecah belah, suka berdebat membesar-besarkan dalam hal furu’iyah (cabang ) hingga saling tuduh, saling stigma dan tidak  pernah mau saling memahami dan memaklumi. 

Pada saat yang sama, umat juga terus melupakan perkara-perkara prinsip, akidah-akidah dan persatuan.

Akibatnya jelas, umat islam terus tertinggal, terbelakang dalam segala bidang, sehingga walaupun mayoritas secara kuantitas, eksistensi umat ini kehilangan kualitasnya, Nabi Muhammad menyebutnya laksana  buih di lautan, yang sudah barang tentu itu akan menjadikan umat Islam terus dalam keadaan inferior dan tertinggal di saat justru Eropa dan Amerika tercelahkan oleh pesona peradaban Islam.

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup

Back To Top