Sajadah Muslim

Membahas Tentang Seputar Ilmu Agama Islam

Menjaga Perkara Paling Penting Dalam Hidup

Sajadah Muslim ~ Menjadi Muslim tentu sebuah keberuntungan tiada tara. Hal ini karena akal manusia betapapun sangat cerdas dan hebat. Jika Allah tak berkehendak memberikan hidayah, maka iman tidak akan pernah bersarang di dalam dadanya.

Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah. Dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak  mempergunakan akalnya. (QS Yunus ayat 100).

Kalimat bahwa tidak ada seorangpun akan beriman, ini menandakan bahwa kecerdasan akal manusia bukanlah jaminan, apalagi kalau sekedar nasab (keturunan) dan kekayaan harta, seseorang akan bisa menggapai hidayah.

Dalam hal ini seakan-akan Allah Ta’ala menyampaikan kepada kita bahwa iman yang ada di dalam diri kita benar-benar anugerah yang Allah berikan sebagai wujud rahman dari rahim-Nya kepada kita semua yang sudah barang tentu iman itulah yang harus diutamakan, diprioritaskan untuk dijaga dan ditajamkan di dalam kehidupan ini.

Selanjutnya, Allah tegaskan bahwa, Kecuali dengan izin Allah. Menurut Ibnu Abbas ra ini adalah dengan perintah Allah. Sementara itu menurut ‘Atha ra’ adalah dengan kehendak Allah.

Dan disebutkan pendapat lain yaitu dengan ilmu Allah, sedangkan menurut Sufyan ats-Tsauri ra artinya adalah dengan qadha. Allah (taqdir Allah). Dalam pengertian  yang lain kita harus benar-benar sadar bahwa iman ini adalah hak prerogatif Allah Ta’ala, dimana tidak akan sampai iman ke dalam  hati seseorang melainkan  Allah berkehendak untuk hal itu terjadi.

Pemahaman ini telah menjadikan sosok Nabi beserta sahabat dan generasi tabi’in yang benar-benar menjalani kehidupan dunia ini untuk memelihara perkara paling penting dalam hidup ini.

Ibn Arabi misalnya, ia pernah melakukan perjalanan dari Andalusia ke Maroko, sebagai ulama sepanjang perjalanan banyak orang memberikan hadiah kepadanya. Bahkan ada yang memberikan sedekah atau hadiah sebesar segembalaan kambing yang tentu saja nilainya sangat banyak.

Namun Ibn Arabi, tidak kemudian mengambil dan membawanya pulang, pagi sedekah itu diterima siang segera disedekahkan kepada orang yang berhak, hingga sebelum Ashar tiba, semua kambing itu telah habis disedekahkan.

Sayyidina Ali Karamallahu Wajhah pernah suatu waktu membawa beberapa kerat roti untuk istri dan anaknya yang sudah sangat membutuhkan makanan. Akan tetapi dalam perjalanan ia bertemu dengan pengemis, sehingga akhirnya, roti itu dibagikan hingga habis. Tak ada yang bisa dibawa pulang ke rumah untuk istri dan anaknya.

Dalam kacamata rasional, jelas saja perilaku di atas sangat tidak bisa dicerna. Bagaimana mungkin manusia yang hidup tidak bisa lepas dari harta dan makanan begitu ringan menyerahkan kepada orang lain.

Tetapi, dalam kacamata iman itu adalah perilaku yang sejati, dimana tidak ada yang lebih berharga bagi hidupnya selain dari pada hidup dan kokohnya iman di dalam hati.

Lebih dari itu, amalan orang-orang seperti itu merepresentasikan sebuah keyakinan teguh bahwa suatu saat akan terlihat secara gamblang, bahwa perkara paling dibutuhkan umat manusia dalam perjalanan menuju Rabb-nya adalah iman. Bukan  harta makanan, atau beragam kemewahan dan jabatan.

Oleh karena itu, kriteria orang beruntung menurut Al-qur’an adalah orang yang beriman kepada yang ghaib, mendirikan shalat, dan mensedekahkan sebagian dari rezeki yang dimilikinya, percaya kepada Al-qur’an dan kitab-kitab sebelumnya dan benar-benar yakin terhadap hari Akhirat, Allahu a’lam.

 

Empat Bekal Menuju Jalan Allah

Sajadah Muslim ~ Betapa banyak hati yang gundah gulana walau harta dalam genggaman. Betapa banyak orang kehilangan arah kehidupan  walau  kemewahan meliputi keseharian. Mereka seakan tampak bahagia namun sejatinya hampa.


Sebagai bukti bahwa dunia memang bukan tujuan, melainkan ladang manusia beramal untuk panen kelak diakhirat, negeri yang abadi.

Sebagian yang sadar akan hal di atas telah memilih jalan untuk bahagia dengan kembali pada nilai-nilai Islam, Namun, sering dengan semangat yang menggebu namun belum didasari ilmu, menjadikan keaktifannya, untuk menjalankan perintah agama  lebih didorong keadaan emosional dari pada rasional dan benar-benar  sesuai tuntanan Allah Ta’ala.

Lantas bagaimana kita menuju Allah dengan cara yang tepat? Imam Al-Ghazali menguraikannya dengan gamblang pada kitab adabnya yang berjudul Ayyuhal Walad. Ada empat langkah yang harus dilakukan untuk  menuju Allah Ta’ala.

Pertama, memiliki i’tiqad (keyakinan) yang murni tidak dicampuri oleh kebid’ahan ini berarti, seorang Muslim harus benar-benar memahami ilmu tauhid dan ilmu aqidah, sehingga dirinya sadar sepenuhnya bahwa hanya Allah yang wajib disembah, didapatkan ridha, cinta, dan kasih sayang-Nya.

Dalam upaya ini, sudah barang tentu harus benar-benar mengarah untuk meneladani apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mulai shalat, sedekah, tilawah Al-qur’an. Hingga muamalah dengan sesama benar-benar sesuai dengan sunnah.

Sebelum ke langkah kedua, penting dijelaskan makna bid’ah di sini menurut penjelasan kitab Ayyuhal Walad itu sendiri Bid’ah adalah segala sesuatu yang berlawanan dengan apa yang dibawa oleh Al-Qur’an, Al-Karim dan As Sunnah, serta tidak memiliki dasar dalam agama Islam.

Kedua, taubat nasuha. Taubat ini adalah sebuah kesadaran sekaligus pengakuan dan komitmen untuk benar-benar berubah, sehingga tidak akan kembali melakukan dosa, maksiat atau pun kemungkaran.

Langkah ini bisa kita lihat dari sosok Umar bin Khathab yang menjadi Muslim dan ia sangat membenci terhadap kekafiran apalagi sampai berpikir untuk maksiat dan menjadi kafir kembali.

Ketiga, meminta keridhaan orang yang pernah dizalimi, sehingga tidak lagi ada beban karena hak orang lain yang belum ditunaikan.

Rasulullah pernah melakukan hal ini, menjelang akhir hayat beliau. Beliau mengumpulkan umat Islam, lantas meminta siapa yang pernah di zalimi untuk melakukan balas atas kezaliman yang andai Rasulullah pernah lakukan, baik sengaja, maupun tidak sengaja. Ini berarti kita harus segera menuntaskan segala macam urusan diri dengan sesama, agar semua ridha dan diri bisa semakin mudah menjadi orang yang dekat dan berhasil sampai menunju Allah Ta’ala

Keempat,  menuntut ilmu tentang syariat sehingga dapat menjalankan perintah-perintah Allah Ta’ala ini juga menjadi sebuah tantangan tersendiri, terutama di era digital seperti sekarang. Kinsen, duduk dalam jangka sampai satu jam menuntut ilmu bukanlah perkara penting.

Sekalipun ini juga mulai bisa dilakukan secara online. Namun pada dasarnya ini adalah sebuah dorongan agar diri sadar, paham, dan mengerti mengapa sebuah perintah Allah wajibkan, sunnahkan dan mengapa kita melakukannya serta mengerti manfaat, fadhilah (keutamaan) dari menjalankan itu semua.


Menjadi Ibu Inspiratif

Sajadah Muslim ~ Dari Abu Hurairah dia berkata, Aku mendengar Rasulullah bersabda, “Wanita Quraisy adalah sebaik-baik wanita yang mengendarai seekor unta yang paling sayang kepada anak di usia kecilnya dan paling menjaga suaminya pada apa yang dimilikinya.” Shohiih Al- Bukhori 3434.


Setiap bulan Desember ada satu hari yang diperingati sebagai hari Ibu. Wanita-wanita dan para ibu inspiratif dengan berbagai keahlian ditampilkan dan diberi penghargaan.

Peringatan yang tidak ada salahnya diadakan dan tidak salah juga jika ditiadakan Mengapa? Karena menurut penulis, semua Ibu adalah wanita inspiratif bagi anak-anaknya. Rahim ibu yang menjadi tempat hidup janin hingga dilahirkan adalah magnet yang memiliki  daya tarik yang kuat bagi anak untuk berbakti dan menjadi limpahan inspirasi dalam bertindak.

Magnet kebaikan yang dimiliki seorang ibu tidak akan pernah melemah, bahkan anak yang durhaka sekalipun, jika diingatkan tentang ibunya ia akan tersentuh lalu menitikkan air mata, walau secara sembunyi-sembunyi.

Dan menjadi ibu inspiratif tidak harus menunggu hari tertentu untuk diperingati. Ibu adalah inspirasi sepanjang waktu bagi anak-anaknya.

Jika kita mendapat kebaikan dan manfaat dari peringatan hari ibu, sungguh Rasulullah telah memberikan kepada kita panduan untuk menjadi ibu inspiratif dan memberikan contoh benar yang dapat dilihat, terutama dimasa beliau. Dalam hadits di atas, beliau ingin agar kita para ibu, belajar dari wanita Quraisy, suku terbaik yang Allah swt utus darinya seorang Nabi dan Rasul terakhir yaitu Muhammad.

Ibnu Hajar Al-Asqolaniy berkata, tentang penjelasan hadits di atas dalam kitabnya ‘Fathul Bari’ Sabda beliau tentang wanita yang mengendarai unta, merupakan isyarat tentang Arab, karena mereka adalah orang-orang yang banyak  mengendarai unta. Dan sebagaimana yang diketahui bahwa Arab lebih baik dari yang lainnya secara mutlak dan umum, maka bisa diambil pelajaran darinya keutamaan wanita Quraisy secara mutlak di atas seluruh wanita.

Inspirasi kebaikan yang dapat kita ambil dari wanita Quraisy adalah :

Pertama, mereka adalah wanita yang baik agamanya. Hal ini dapat kita ketahui dari lafadz lain dari hadits di atas “Khoiru nisain rokibnal ibil sholihu nisai quraisyin” Abdul Abbas Al-Qurthubi berkata dalam ‘Thorhut Tatsrib fi Syarhit Taqrib,” yang dimaksud dengan sholih adalah baik agamanya.

Kedua, mereka adalah wanita yang kuat dan mandiri, kita dapat mengambil kesimpulan ini dari kalimat, “Yang mengendarai unta.” Walaupun wanita, mereka lihai mengendarai unta, yang ketika itu menjadi alat transportasi utama di jazirah Arab.

Ketiga, wanita Quraisy Rasulullah sebut sebagai wanita yang paling sayang terhadap anak kecil. Sifat ini adalah sumber kebaikan bagi anak ketika berada dalam masa tarbiyahnya bersama ibu. Sifat ini pula yang menjadi sebab bagi doa kebaikan yang anak lantunkan untuk kedua orang tuanya, “kamaa robbayaanii shoghiiroo” dan ketika kasih sayang ini diberikan sungguh mereka juga memberikan tarbiyah/pendidikan yang baik kepada anak-anak mereka.

Ke empat, Quraisy adalah wanita yang paling menjaga suaminya. Kata ‘ar aahu’  dapat kita terjemahkan dengan paling menjaga, paling perhatian. Mereka tidak saja perhatian pada diri suami mereka, tapi juga pandai menjaga dan mengelola harta yang diberikan suami kepada mereka.

Inspirasi kebaikan yang terucap dari lisan orang yang paling mulia akhlaknya adalah inspirasi termahal yang harus kita jadikan target kebaikan untuk diri-diri kita.

Kemudian wanita Muslimah dan juga para ibu adalah kemuliaan yan tidak dapat dibantah, apalagi jika kemulaiaan tersebut hasil dari ‘ittiba’ Rasulullah Muhammad. Wallahu a’lam.


Belajar Berbagi Dari Nabi Yusuf

Sajadah Muslim ~ Cerita Nabi Yusuf memenuhi satu surat dalam Al-Qur’an, sebanyak 111 ayat, semuanya berkisah indah tentang Nabi Yusuf.  Di sebutkan, tak ada seorang Nabi pun yang dikhususkan dalam satu surat tertentu kecuali kisah putra dari Nabi Yaqub bin Nabi Ishak, semoga Allah melimpahkan keselamatan dan kesejahteraan atas mereka selalu.


Dalam kisah tersebut, terdapat kisah kesabaran yang nyaris tanpa batas yang diperagakan oleh nabi Yusuf dalam menghadapi perlakuan saudara-saudaranya. Kesabaran itu tak lain adalah teladan yang diwariskan oleh sang ayah. Sifat demikian dinamai sebagai sabar yang indah (Shabrun jamil) dalam al-Qur’an.

Ada juga ketegaran Nabi Yusuf yang berulang kali di zhalimi oleh orang-orang dekat di sekelilingnya. Tapi hal itu justru dijadikan batu loncatan buat meraih keimanan yang lebih tinggi. 

Tidak  kalah  menarik adalah sikap Nabi Yusuf, yang tak lelah berbagi kebaikan kepada orang lain. Tak peduli apapun perlakuan dan balasan yang didapat, itu sama sekali tidak mengurangi semangatnya untuk berbagi.

Firman Allah. “Maka ketika mereka masuk ke tempat Yusuf, mereka berkata; “Hai Al-Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempurnakanlah timbangan untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah memberi balasan  kepada orang-orang yang bersedekah.” (QS.Yusuf ayat 88).

Inilah kebaikan yang tercatat oleh tinta emas dalam sejarah Nabi Yusuf bukan tidak tahu tentang tangan-tangan kotor yang pernah mencampakkan dirinya ke sumur tak bertuan di tengah gurun. Dia juga  sebenarnya masih ingat soal iri hati saudara-saudaranya dan berbagai perlakuan serta perkataan yang melecehkannya. Puncaknya, semua sepakat menyusun makar dan tega membohongi ayah mereka yang sudah renta tersebut.

Tapi lihat apa yang diperbuat oleh Nabi Yusuf. Dia bergeming dari semua bisikan itu, tidak ada buruk sangka atau rasa dendam. Apalagi memproklamirkan kesumat dan keinginannya untuk membalas. Justru cahaya keimanan yang memancarkan sinarnya yang benderang.

Mengalirkan energi positif dan motivasi untuk berbagi kebaikan yang seolah tak  pernah kendur.

Bagi seorang Muslim, pantang menodai hati yang bersih dengan setitik nilai. Semakin banyak memberi niscaya akan membuatnya kian menikmati ketenangan dan kedamaian hati. Sebab peduli, empati, dan keinginan tampil berbagi dan berkontribusi menjadikannya senantiasa berpikir positif dan berada dalam lingkaran kebaikan selalu.

Segala urusan dipandangnya sebagai lahan untuk menabur benih kebaikan. Setiap urusan di hadapi dengan sangka baik kepada Allah. Selanjutnya, ia akan mencari peluang di balik tantangan kesempatan di balik kesempitan untuk hadir menjadi sosok pemenang.

Dia sadar, berbagi kepada orang lain bukan harus menunggu jadi orang kaya raya dahulu. Jika dirinya peduli tidak bermaksud kalau ia tak punya masalah dalam hidupnya.

Sebagaimana saat mendoakan kebaikan atas saudaranya, itu justru sebagai tanda cintanya kepada saudaranya tersebut. Semuanya ditunaikan atas nama cinta kepada kebaikan. Seraya berharap semoga dirinya pun mendapat sepercik keberkahan dari kebaikan tersebut.

Hal ini sebagaimana diterangkan oleh Anas bin Malik ra, pembantu Rasulullah, dari Nabi bersabda; “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

Ibnu Rajab Al-Hambali, semoga Allah merahmatinya, berkata  mengenai hadits di atas. Di antara tanda iman yang wajib adalah seseorang mencintai saudaranya yang beriman lebih sebagaimana ia mencintai dirinya. Ia pun tidak ingin sesuatu ada pada saudaranya, sebagaimana ia tidak suka hal itu ada padanya. Jika cinta semacam ini lepas, maka berkuranglah iman nya.


Tak Sekedar Ibadah, Qurban Juga Menggairahkan Perekonomian Rakyat

Sajadah Muslim ~ Secara normatif berkurban di Hari raya Idul Adha, merupakan keutamaan yang dicintai Allah Swt. Namun disisi lain, ibadah kurban sesungguhnya berdampak pada perekonomian umat.


Sebagaimana diketahui, ternak dan hasil produksinya merupakan sumber bahan pangan protein yang sangat penting untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sementara tingkat pendapatan rumah tangga (purchasing power) masyarakat Indonesia masih belum menjangkau untuk protein dengan intensitas yang memadai.

Bappenas mencatat bahwa rata-rata tingkat konsumsi protein hewani di Indonesia hanya mencapai 4,7 gram/orang/hari. Sedangkan di Malaysia, Thailand, dan Pilipina rata-rata telah di atas 10 gram/orang/hari.

Kemudian negera maju seperti Jepang, Australia dan Selandia Baru konsumsi rata-rata mencapai diatas 20  gram/orang/hari.

Pada saat yang sama, populasi ternak berupa sapi potong, kambing, domba dan sebagian kecil kerbau, masih belum mencukupi untuk kebutuhan  protein dalam negeri.

Tentu saja masalah ini tidak bisa sepenuhnya dipikul oleh pemerintah. Beruntung Islam memiliki syarat untuk menjalankan ibadah kurban, sehingga setidak-tidaknya dalam satu tahun umat Islam bisa berkontribusi terhadap terpenuhinya kebutuhan protein hewan masyarakat.

Jadi berkurban tidak saja menjalankan ketaatan, tetapi juga ikut serta memakmurkan pembangunan. Kesadaran umat yang meningkat untuk berkurban membuat perputaran ekonomi seputar peternakan, pertanian, transportasi, jasa jagal, dan penyaluran daging kurban meningkat.

Sektor riil ekonomi ini bisa meningkatkan kesejahteraan para pelaku ekonomi di dalamnya. Bagi pekurban pun ada pemenuhan asupan gizi protein hewani. Sesuatu yang mungkin hanya bisa dinikmati setahun sekali bagi kaum duafa. Disinilah Anda yang berkurban benar-benar berjasa signifikan bagi pemenuhan gizi masyarakat bawah.

Sebab kurban jelas memberikan keuntungan nyata dan langsung. Para penerima manfaat kurban dapat pemenuhan gizi di sektor makanan, sekalipun setahun sekali, kemudian juga terjadi pemenuhan pasokan konsumsi masyarakat terutama daging.

    Menariknya, daging kurban bisa dinikmati siapa saja, termasuk non-Muslim, berbeda dengan zakat yang harus kepada umat Islam. Dan lihatlah betapa senangnya masyarakat desa di pelosok negeri ini yang mendapatkan hewan kurban dari anda.

Berkurban juga berdampak luar biasa bagi peternak. Dengan menjalankan ibadah ini, ada kepastian hasil ternak dalam negeri terbeli. Pada akhirnya banyak yang akan mendapat keuntungan, mulai dari peternak, petani, pedagang hewan, sektor transportasi, tukang jagal hingga yang mengantar daging kurban. Semua mendapat manfaat ekonomi dari ibadah ini. Lebih dari itu, peternak diuntungkan dari sisi harga dan jumlahnya yang cukup besar.

Sebagai ilustrasi misalnya di Indonesia ada 20 juta orang yang berkurban dikalikan Rp. 2.000.000,- maka akan terhitung dana sebesar Rp. 40 triliun yang berputar. Dan angka tersebut adalah angka pasti dan itu sektor riil.

Keuntungannya langsung dinikmati masyarakat kelas kecil itu angka baru yang dinikmati  untuk peternak belum untuk transportasi dan jagal. Uang  bisa terserap ke mereka dan memutar roda ekonomi.

Hal ini menunjukkan bahwa ibadah kurban memiliki sumbangsih besar terhadap perekonomian nasional. Sederhana saja analoginya, jika masyarakat miskin harus makan protein hewani setahun minimal 1 kg, maka ibadah sudah membuat pemerintah tidak perlu mengeluarkan anggaran.

Ironinya, distribusi daging belum seutuhnya merata. Di perkotaan, jumlah daging sangat banyak, sementara di desa-desa tidak sedikit yang tidak tersentuh daging kurban.

Disinilah kami memandang kurban Masuk Desa sebagai program urgen, mengingat saudara-saudara kita di pedesaan jauh  lebih membutuhkan.


Al-Quran ‘Sop’ Kebangkitan Islam

Sajadah Muslim ~ 23 tahun dakwah Nabi Muhammad saw, dilaksanakan, Allah membimbing kaum muslimin sehingga meraih kemenangan karena  Al-Qur’an dijalankan.

Tak dipungkiri saat ini kaum muslimin tengah berada pada posisi terbelakang. Nyaris dalam segala aspek berada di bawah kungkungan musuh-musuh Islam. Mulai dari politik, ekonomi, budaya dan seterusnya.


Begitu sulit umat Islam untuk menentukan sikap keagamaan, rongrongan terus digalakkan. Jangankan di negara-negara yang notabene minoritas muslim, seperti di Eropa. Di negara mayoritas saja, seperti di Indonesia, nampak ruang geraknya sangat terbatas. 

Masih kita temui, ada saja sekelompok orang yang melarang pemeluk agama hanif ini menjalankan syariat secara kafah. Umpama, melarang menggunakan jilbab, mencegah melaksanakan shalat secara berjamaah dan sebagainya.

Bila ada yang menuntut penegakan syariat  secara konstitusional, langsung di labeli sebagai anti Pancasila, ke binekaan, bahkan teroris.    

Kondisi lebih memprihatinkan yang menimpa saudara seiman di Palestina, Suriah, Burma, Uighur dan sebagainya. Mereka diusir, bahkan dibunuh oleh musuh-musuh Islam, tanpa adanya pembelaan nyata dari negara-negara dan lembaga-lembaga Internasional khususnya yang kerap menyuarakan Hak Asasi Manusia (HAM).

Pada intinya, apa yang terpapar di atas adalah cermin kekinian kaum muslimin. Ketidakberdayaan menghadapi hegemoni musuh menjadi realitas nyata yang tak terbantahkan.

Tuntunan Sejarah

Jas merah (jangan melupakan sejarah) demikianlah ungkapan Bapak Proklamator Indonesia, Ir Soekarno, untuk menggambarkan pentingnya peranan sejarah bagi masa depan suatu bangsa.

Islam sendiri memiliki perhatian tinggi terhadap sejarah. Terbukti, sepertiga dari isi Al-Qur’an memuat ‘tema’ ini. Di kisahkan orang-orang yang taat kepada Allah, seperti para Nabi dan Rasul, dan juga disampaikan kisah para penentang, misalnya Fir’an dan Qarun, semua untuk dijadikan pelajaran.

Pada masanya sejarah pernah mencatat Islam berjaya hingga ratusan abad lamanya. Luas kekuasaannya sampai menembus dataran Eropa dan Afrika, tapi jangan lupa, pra-masa kejayaan itu, kaum muslimin juga pernah dinaungi oleh intimidasi yang luar biasa besarnya khususnya pada awal terbitnya ‘mentari’ Islam di bumi Makkah.

Bukan main cobaan yang menimpa kaum muslimin saat itu. Harta dan nyawa menjadi taruhannya. Tidak sedikit yang terampas hak-hak kemanusiaannya oleh mereka yang merasa berkuasa. Hingga akhirnya mereka memilih keluar, terusir dari negeri mereka sendiri, menuju daerah lain demi menyelamatkan iman yang telah dikandung badan.

Lalu bagaimana proses kejayaan itu diperoleh? Melalui perantara tuntunan wahyu yang berupa Al-Qur’an lah, akhirnya kaum muslimin bisa keluar dari kenestapaan itu. Selama 23 tahun secara bertahap, Allah membimbing kaum muslimin untuk meraih kemenangan.

Karena berpijak pada tuntunan wahyu ini, sejak awal kedatangannya kaum muslimin telah menduduki posisi yang tinggi di mata lawan, meski secara status sosial, mereka saat itu tertindas.

Hanya fisik yang mengalami kepayahan, tapi jiwa mereka merdeka, mulia, karena kebanggaan dan keyakinan nan tinggi pada agama ini (Al-Qur’an).

Mengapa ? Karena yang dijadikan rujukan diplomasi umat Islam adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an mencegah kaum muslimin untuk membarter iman dengan dunia. Itu adalah perniagaan yang sangat murah di sisi Allah.

Dalam kasus ini, kita lihat skor kemenangan ada pada pihak kaum muslimin karena mereka tidak mau di dikte. Semakin tinggilah kedudukan umat Islam. Di lain pihak, tunduk malulah musuh karena ditolak mentah-mentah tawaran yang diberikan.

Demikianlah gaya hidup seorang muslim dan pemimpin dalam Islam Al-Qur’an (dan As-Sunnah) menjadi barometer setiap keputusan yang akan diambil, sehingga kemuliaan meliputinya. Hakekat Islam itu “ya’luu wa laa yu’laa alaihi” (Unggul dan tidak ada yang mengunggulinya).

Proses-proses inilah yang seharusnya menjadi kajian segenap kaum muslimin yang merindukan kebangkitan Islam. Tidak ada jalan pilihan lain, kecuali kembali pada al-Qur’an. Hanya jalan ini yang akan mampu mengembalikan Islam (kaum muslimin) pada posisi yang semestinya, unggul di atas peradaban lain. Atau bahasa karenanya SPO ( Standart Operating Procedure).

Sebagaimana kata Umar bin Khathab, “Kita adalah umat yang oleh Allah SWT dimuliakan dengan Islam, maka bagaimana pun jika kita mencari kemuliaan dengan yang lain, maka Allah akan memberi kehinaan pada kita.”  Wallahu A’lam.”

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup

Pesona Peradaban Islam

Sajadah Muslim ~ Memperhatikan perkembangan dan dinamika Islam di tanah air, dan juga diberbagai  Negara terutama Amerika dan Eropa, secara spesifik yang  belakangan trending, Perancis. Islam tampaknya sedang memasuki fase baru kebangkitan. Hal itu dapat diperhatikan berbagai sisi. 


Pertama, gelombang masyarakat Eropa dan Amerika yang terus,” Berduyun-duyun” menjadi mualaf, bahkan di Perancis, Islam menjadi agama terbesar kedua negeri Napoleon Bonaparte itu.

Sebagai gelombang, tentu saja kondisi itu akan semakin besar, luas dan sangat mungkin “menggulung” peradaban materialis yang selama ini tegak berdiri di Amerika dan Eropa.

Sebab selama ini masyarakat dunia cenderung mengikuti arus informasi yang tidak berimbang, tendensius dan tidak berdasar terhadap Islam sebagai agama sekaligus peradaban.

Analisa Officer For National Statistic (ONS) menyebutkan bahwa jumlah umat Islam di Inggris pada tahun 2019 mencapai angka tiga juta jiwa. Bahkan dilansir The Sun, beberapa wilayah di London, hampir 50% penduduknya beragama Islam. Jika angka itu ditambah dengan umat Islam yang tinggal di Skotlandia dan Wales, maka total umat Islam berjumlah 3.363.210 jiwa.

Menyimak dinamika Islam yang terus berkembang di Eropa bukan tidak mungkin angka itu akan terus bertambah dan mengubah demografi negara-negara Eropa, termasuk Inggris dengan jumlah umat Islam yang kian memimpin. Terlebih di era digital, orang dengan sangat mudah mengakses informasi, kajian dan beragam hal tentang Islam secara lebih leluasa dan dinamis. 

Kedua,  Islam sebagai jalan hidup (way of life) semakin populis diberitakan dan dikonsumsi sebagai informasi yang paling hangat  menjadikan masyarakat Eropa  dan Amerika, yang notabene secara intelektual memiliki kecerdasan mumpuni dalam mencerna berbagai persoalan secara obyektif dan rasional.

Ketika masyarakat yang cerdas semakin penasaran  dan menggali Islam secara mendalam tanpa beban pretensi tertentu, sudah barang tentu ia akan melihat Islam sebagai solusi bagi kehidupan umat manusia.

Tidak heran jika kemudian, wanita seperti Silvia Constanza Romano, ketika membaca Al-Qur’an  dengan hati yang jernih, kala berada dalam “tahanan” kelompok Kenya justru tersentuh hidayah dan bersyahadat.

Kehadirannya kembali ke Italia disambut gegap gempita oleh beragam kalangan. Namun, siapa sangka, wanita yang ditunggu-tunggu itu telah menjadi seorang Muslimah dengan nama Silvia Aisha.

Ketiga,  di tingkat nasional, ulama sebagai pewaris Nabi sempat menjadi sorotan, ulasan dan kajian banyak pihak, terutama pemerintah dan penegak hukum.

Terlepas dari isu yang beredar, sorotan  terhadap ulama, secara tidak langsung, menjadikan umat Islam semakin sadar bahwa pewaris Nabi adalah lentera hidup yang umat harus mengikuti dan meneladani. Pada saat yang sama, umat lain juga mulia menyadari bahwa ulama adalah bagian penting dari umat Islam.

Keempat, Islam sebagai ajaran sangat menghormati posisi akal dan kecerdasan manusia pada posisi yang tinggi, Tidak ada ajaran dalam Islam yang tidak bisa dicerna, digali, dan dijabarkan sistem penjelasnya secara rasional bahkan supra rasional.

Oleh karena itu semakin seseorang mengoptimalkan akal pikirannya, semakin terang dan tenang hatinya. Karena sifat akal  dan hati cenderung sangat ingin mengetahui, mengakui dan hidup dalam kebenaran. Mengapa  orang yang sekian lama menjadi penggiat  ajaran agama tertentu, ketika semakin hari penasaran terhadap ajaran Islam, lantas ia berpikir, merenung dan terus mencari tahu pada akhirnya tercerahkan dan bersyahadat, seperti yang terjadi pada banyak mualaf dari kalangan intelektual dan saintis dari peradaban Barat. 

Sekedar menyebut nama ada Julius Germanus yang berubah nama menjadi Abdul Karim Germanus dan Abu Bakar Siraj, Ad-Din yang sebelumnya bernama Martin Lings.

Dari keempat fakta di atas menunjukkan bahwa Islam sedang menebar pesonanya yang indah. Islam akan dipandang penting, dibutuhkan dan penting diterapkan di dalam sistem Kehidupan dunia guna menjawab segala macam bentuk krisis dan konflik untuk kepentingan negara-neraga adidaya, Islam akan dipandang dan sangat mungkin dalam beberapa dekade ke depan diterima oleh sebagian besar penduduk  bumi dan menjadi peradaban baru yang akan menjadikan peradaban Islam benar-benar bangkit dan memesona  dengan begitu indahnya.

Namun, satu tantangan yang penting dijawab oleh segenap kaum Muslimin di tanah Air adalah bagaimana potensi umat yang begitu besar dapat betul-betul didayagunakan dalam upaya-upaya konkret untuk mewujudkan umat Islam sebagai umat yang terbaik, umat yang adil dan umat yang dapat menjadi saksi bagi segenap umat manusia.

Dan untuk itu, tidak ada pilihan lain. Kecuali dengan membina silaturrahim, mewujudkan sinergi, dan lebih jauh membangun shaf (barisan) yang rapat dan solid seperti bangunan yang kokoh, sehingga umat Islam pantas dan patut mendapat cinta dari Allah Ta’ala.

Tanpa kesadaran dan kesungguhan upaya untuk itu semua, di Indonesia umat Islam boleh jadi akan stagnan dan tidak dapat berperan strategis dalam upaya ikut menjawab beragam problematika keumatan, kebangsaan bahkan penduduk dunia.

Dalam hal ini, penting bagi kita untuk merenungkan apa yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad Abduh, “Islam tertutup oleh umat Islam-Nya sendiri.”

Apa yang menjadi penutup pesona peradaban Islam itu tidak lain adalah mindset, perilaku, dan orientasi hidup umat Islam sendiri yang justru tidak mencerminkan nilai-nilai Islam secara menyeluruh, seperti mudah terpecah belah, suka berdebat membesar-besarkan dalam hal furu’iyah (cabang ) hingga saling tuduh, saling stigma dan tidak  pernah mau saling memahami dan memaklumi. 

Pada saat yang sama, umat juga terus melupakan perkara-perkara prinsip, akidah-akidah dan persatuan.

Akibatnya jelas, umat islam terus tertinggal, terbelakang dalam segala bidang, sehingga walaupun mayoritas secara kuantitas, eksistensi umat ini kehilangan kualitasnya, Nabi Muhammad menyebutnya laksana  buih di lautan, yang sudah barang tentu itu akan menjadikan umat Islam terus dalam keadaan inferior dan tertinggal di saat justru Eropa dan Amerika tercelahkan oleh pesona peradaban Islam.

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup

Trilogi Sukses Menurut Al-Qur’an

Sajadah Muslim ~ Keyakinan orang beriman, al-Qur’an adalah wahyu Allah yang berisi panduan hidup manusia.

Permasalahan hidup apapun niscaya ada petunjuk-Nya dalam al-Qur’an. Sebagai mukjizat, ia melintasi ruang dan waktu dalam hidup manusia. Kebenarannya adalah mutlak dan berlaku abadi sejak pertama kali diturunkan di Gua Hira Makkah, hingga hari kiamat kelak.


Termasuk ketika bicara kesuksesan hidup manusia, al-Qur’an pasti menerangkan hal itu, mulai dari pengertian sukses, ciri-cirinya, hingga tantangan dan cara meraih impian manusia tersebut. Semuanya jelas termaktub dalam kitab suci umat Islam misalnya firman Allah. “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga) maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (Al-Lail ayat 5-7)

Ayat di atas merumuskan kaidah baku seorang Muslim dalam meraih kesuksesan, kelapangan, atau kegemilangan hidup. Bahwa hidup itu bisa dikatakan sukses jika memenuhi setidaknya 3 (tiga) syarat yang dimaksud. Yaitu, gemar berbagi kepada sesama, memiliki iman dan takwa, dan meyakini adanya balasan surga di hari Akhirat.

Di tegaskan sekali lagi, kegemaran berbagi hendaknya dilandasi oleh iman yang menggerakkan. Kepeduliannya merupakan buah dari seruan iman yang menggema di setiap pikiran dan perilakunya sehari-hari. Ia adalah mindset yang terpatri dalam lubuk seorang Muslim. Suka berbagi adalah pokok dari kehidupan umat Islam. Berbagai berarti menolong dan meringankan beban sesama manusia. Mewujudkan rasa syukur kepada Allah, sekaligus menumbuh suburkan ukhuwah imaniyah di kalangan kaum Muslimin.

Sebaliknya, berbagi tidak boleh sekadar menuruti style atau trand sekejap saja. Ia juga bukan untuk pencitraan atau mengejar rating dan followers semata. Berbagi bukanlah pekerjaan musiman demi keuntungan profit materi, jika itu terjadi dijamin  satu saat orang itu pasti kecewa dan biasanya hal itu tidak akan bertahan lama. Sebab dorongannya sebatas materi dan urusan dunia. Semuanya bersifat sementara dan jiwa manusia cenderung tak akan pernah puas.

Penting dipahami, ajakkan berbagi tidak dibatasi oleh lingkup harta atau materi saja. Kontribusi tersebut juga bisa disalurkan melalui berbagi ilmu dan wawasan, berbagi waktu, berbagi tenaga, berbagi pengalaman dan sebagainya.

Ini diperlukan untuk saling memberi dan menerima, saling sinergi dan menyatukan potensi yang berserak. Disadari, umat Islam sebenarnya memiliki banyak kebaikan yang belum dioptimalkan. Akibatnya mereka belum mampu bersatu dan menyatukan kekuatan yang ada.  

Kedua, ketakwaan, bisa dikata, puncak dari seluruh amal ibadah yang dipersembahkan manusia adalah untuk meraih derajat takwa disisi Allah. Takwa menjadi penanda dari  apa yang kelak di dapatkan manusia dari semua perbuatannya. Baik buruknya amalan tergantung, kepada nilai takwa yang menyertainya. Ia merupakan pondasi utama seluruh persoalan manusia ibarat kunci, takwa bisa menyingkap  tabir yang selama ini menyelimuti hidup manusia. Ia sebagai jaminan solusi dan syarat turunnya pertolongan Allah.

Dikatakan, ajaran Islam ialah mencakup dua hal utama, kemurnian dalam beribadah (ikhlas) dan kebaikan terhadap sesama manusia (insan). Tak heran di sejumlah ayat, dua perintah ini senantiasa bergandengan dalam al-Qur’an. 

Antara keimanan dan amal shaleh keduanya menjadi senyawa yang tak terpisahkan. Ada hubungan yang saling terkait, bahwa amalan dan gemar berbagi kebaikan merupakan buah dari keimanan. Sebagaimana cara merawat keimanan dengan istiqomah  melaksanakan ketaatan  demi kebaikan itu sendiri.

Terakhir, syarat meraih sukses hidup adalah keyakinan kepada adanya surga dan neraka. Inilah paradigma hebat orang beriman, ia tidak mampu dijangkau kecuali dengan meyakini adanya  Yaumul Hisab (hari Pembalasan) di Akhirat kelak.

Sehingga sepintar dan sehebat apapun orang tersebut, tetap saja tidak bisa menandingi kecerdasan dan kesuksesan hidup seorang  Muslim.

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup

Kenapa Masih Sulit Berbagi ?

Sajadah Muslim ~ Setiap kita harus mengakui, terkadang masih timbul perasaan sulit berbagi kepada orang lain. Mengapa demikian? Ada ragam alasan bisa diberikan, salah satunya termaktub dalam firman Allah.


“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir), sedang Allah menjadikan untukmu ampunan dari pada-Nya dan karunia. Dan Allah  Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2] -268).

Ayat  diatas gamblang  menjelaskan, ada dua bisikan yang kerap melatari keinginan untuk berbagi kebaikan kepada sesama dan sejatinya  kegemaran berbagi ini bukan sekedar kebiasaan sesaat atau motivasi kemanusian saja. Namun lebih dari itu ada pertarungan iman yang senantiasa berseteru dengan propaganda setan.

Pertama, seruan wahyu, diyakini bahwa dibalik bantuan sedekah harta atau lainnya, maka di sana ada sehampar ampunan dari  Allah dan sebentang karunia-Nya yang tak bertepi. Allah tidak pernah lalai atau lupa. Dia pasti dibalas dengan kebaikan yang sama. Bahkan bisa berlipat ganda hingga puluhan atau ratusan kali lipat dari sebelumnya, Allah adalah ar-Razzaq, Maha Pemberi Rezeki.

Kedua, bisikan setan, sifat kikir, bakhil, ego, hingga merasa lebih baik dan individualis adalah bisikan setan. Sifat-sifat itu menjadi sarang empuk berkumpulnya virus-virus yang kerap mengotori hati manusia. Semuanya adalah musuh bubuyutan iman. Semakin sifat tercela itu dipelihara makin lemah pula imunitas iman yang dipunyai.

Disadari atau tidak, apa yang dibisikan itu oleh setan biasanya langsung menyentuh akal dan konek dengan pikiran pragmatis manusia. Yakni kekhawatiran tentang jatuh miskin dan dorongan untuk melanjutkan kembali kemaksiatan yang diperbuat.

Kalau saya bersedekah , bukankah harta itu jadi berkurang? Kalau saya membantu, tidakkah saya hanya dirugikan saja? Kalau saya memberi, lalu apa yang saya dapat nanti?

Demikian, acapkali orang itu ingin mengulur tangannya untuk berkontribusi, seketika bisikan itu datang bertalu-talu. Menghembuskan keraguan, meredupkan semangat hingga melenyapkan nyali sebagai seorang pejuang agama yang siap berkorban. Mirisnya, tidak sedikit manusia yang terperdaya, apalagi  ditambah dengan  gemerlap kehidupan materialistik dan gaya hidup hedonis sekarang ini yang seolah semakin  mengaminkan kekhawatiran tersebut.

Inilah tantangan berat seorang Muslim. Di hadapannya tersisa dua pilihan saja, kemanakah gerangan hatinya condong selama ini? Adakah ia berpihak dan memenangkan keimanan pada dirinya, ataukah justru dirinya terhempas bersama godaan-godaan nafsu yang menggorogoti jiwanya?

Berkata Imam Hasan al-Bushri Rahimatullah, aku telah membaca sembilan puluh lebih ayat al-Qur’an yang telah menerangkan tentang Allah Yang  Maha  Pengatur Rezeki dan telah menjamin rezeki tersebut untuk setiap makhluk-Nya. Sebagaimana aku juga mendapati satu ayat saja tentang godaan setan yang menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan dan kefakiran.

Tapi sungguh, aku tak mengerti, kata Hasan al-Bashri mengapa masih saja jiwa ini kecut dan takut terhadap kehidupan ini. Padahal Allah pasti menepati janji-Nya dan setan itu pasti berdusta.

Ayat di atas menunjukkan potensi keraguan manusia. Selalu ada persimpangan untuk sebuah pilihan. Apalagi pada hal baik yang memang layak diperjuangkan. Ia bukan saja sebagai ciri pemenang yang melejitkan keimanan pribadi. Tetapi juga bisa berdampak pada keshalehan sosial dan nilai-nilai positif di tengah masyarakat.

Namun berlama-lama dalam keraguan tentu bukan sikap Muslim produktif. Untuk itu Allah menutup ayat di atas dengan firman-Nya. “Dan Allah Maha mengetahui,” Bahwa apapun keadaannya selalu iman yang jadi pemenang dalam hidup.

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup


Paradikma Berbagi

Sajadah Muslim ~ Nabi Muhammad bersabda, “Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air itu memadamkan api.” (HR. At-Tirmidzi)

Sekarang siapa yang dalam hidupnya bersih dari dosa? Hendak berangkat ke kantor, di jalanan  tidak sedikit aurat terbuka yang terkadang diri tak bisa berpaling dari melihatnya. Di handphone, sering juga muncul hal yang sama.


Saat bercanda, saat ngobrol, kadang tak sadar ada orang yang kita lecehkan, rendahkan, dan lain sebagainya.

Belum lagi soal lambat dalam kebaikan, shalat yang belum disiplin, hingga Al-qur’an yang jauh dari mata, tangan, dan hati. Keinginan hati yang selalu pada ketarikan yang begitu kuat terhadap materi, sehingga hati tak terasa hilang kepekaan. Ada musibah, tak peduli, ada yang kelaparan tak terpikirkan, ada yang tidak sekolah, suruh siapa miskin dan seterusnya.

Diri lupa bahwa sebagai manusia peduli itu adalah bukti iman masih hadir, nurani masih hidup.

Dan untuk menghapus itu semua, Allah berikan jalan melalui sedekah. Sedekah itu akan memberikan perbaikan dalam diri, sebagaimana air memadamkan api yang terus membakar eksistensi dan iman dalam diri.

Menariknya sedekah tak mesti harta, Rasulullah bersabda, “Kamu menyingkirkan batu, duri dan tulang dari tengah jalan itu adalah sedekah bagimu.” (HR Bukhari)

Jadi, mari kita kembali pada tata paradigma hidup ini, jangan sampai iman dalam dada tidak terekspresikan dalam kehidupan nyata, jangan sampai ibadah  yang dijalankan tidak meneguhkan iman dalam bentuk berbagi dalam ragam bentuk kepedulian.

Bukankah Allah, menjamin sedekah tidak akan menjadikan seseorang miskin?

Harta tidak akan berkurang dengan sedekah, dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya. (HR Muslim). 

Semoga Allah jadikan kita semua sebagai pribadi dan keluarga yang berparadigma berbagi, sehingga ringan infak, sedekah di jalan-Nya. Amin

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup


Back To Top