Membahas Tentang Seputar Ilmu Agama Islam

Tata Cara Syahadat Yang Benar

Sajadah Muslim ~ Apakah  arti syahadat  itu? Arti syahadat ialah pengakuan dan penyaksian dengan sebenamya baik secara lahir maupun batin.

Rukun Syahadat

Ada berapakah rukun syahadat itu? Rukun syahadat itu ada empat, yaitu:
  1. Menetapkan dzat Allah Talala (berdiri dengan sendirinya).
  2. Menetapkan sifat Allah Talala (berkuasa).
  3. Menetapkan af'al Allah Talala (berbuat dengan sekehendaknya).
  4. Menetapkan kebenaran Rasulullah saw.

Syarat Syahadat

Berapakah syarat kesempumaan syahadat itu? Syarat kesempumaan syahadat itu ada empat, yaitu:
  1. Memahami maksud syahadat.
  2. Diikrarkan dengan lidah yakni dibaca dari permulaan hingga akhimya.
  3. Meyakini dalam hati, yakni tidak ragu Iagi.
  4. Diamalkan dengan anggota badan, yaitu hati dan perbuatan wajib  menolak  segala sesuatu   yang menyalahi arti atau maksud dua kalimat syahadat itu.

Yang Merusak Syahadat

Hal-hal apakah yang dapat merusak syahadat? Adapun yang dapat merusak syahadat ada empat, yaitu:
  1. Menyekutukan (menduakan) Allah.
  2. Ragu akan adanya Allah.
  3. Menyangkal dirinya diciptakan oleh Allah.
  4. Menyangkal bahwa peredaran alam semesta ini diatur oleh Allah Talala.

Nama Syahadat

Ada berapakah syahadat itu? Syahadat itu ada dua:
  1. Syahadat Tauhid, yaitu: “Asyhadu an laa ilaaha illallaah”. Artinya: Saya bersaksi  bahwa  tiada  Tuhan  selain Allah.
  2. Syahadat Rasul, yaitu: “Wa asyhadu anna Muhammadan Rasuulullaah”. Artinya: Saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu utusan Allah.
Oleh S.A. Zainal Abidin

ALLAH BERADA DI ATAS ARSY

Sajadah Muslim ~ Al Qur’an, hadits shahih, naluri dan cara berfikir yang sehat telah mendukung  kenyataan bahwa Allah berada di atas Arsy.

Firman Allah : “Yaitu Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas Arsy”(Q.S. Thaahaa : 5). Pengertian ini sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dari beberapa tabi’in. Firman Allah : “Apakah kamu merasa aman terhadap Allah Yang yang berada di langit ? Bahwa Dia akan menjungkir balikan bumi bersama kamu ? (Q.S. Al-Malik: 16). 

Firman Allah : “Mereka takut kepada Tuhan mereka yang berada di atas mereka” (Q.S. An- Nahl : 50). Firman Allah tentang Nabi Isa : “Tetapi (yang sebenarnya) Alah telah mengangkat Isa kepada-Nya” (Q.S. An-Nisa : 158). Maksudnya Allah menaikkan Nabi Isa ke langit. Firman Allah : “Dan Dialah Allah (Yang disembah), baik di langit maupun di bumi.” (Q,S. Al-An”am : 3)


Ibnu Katsir rahimahullah mengomentari ayat ini sebagai berikut; “Para ahli tafsir sependapat bahwa kita tidak akan berkata seperti ucapan kaum Jahmiayah (golongan yang sesat) yang mengatakan bahwa Allah itu berada di setiap tempat maha suci Allah dari ucapan mereka.

Adapun Firman Allah : “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada” (Q.S. Al-Hadiid : 4). Maksudnya bahwa Dia bersama kita; mengetahui, mendengar dan melihat kita dimanapun kita berada. Apa yang disebutkan dan sesudah ayat ini menjelaskan hal tersebut, seperti keterangan dalam tafsir Ibnu Katsir.

Rasulullah mi”raj ke langit ke tujuh dan difirmankan Allah kepadanya serta diwajibkan untuk melakukan shalat lima waktu (Dalam riwayat Bukhari dan Muslim). Sabda  Rasulullah : “Kenapa kamu tidak mempercayaiku, padahal aku dipercaya oleh Allah yang berada di langit ? (hadits riwayat Tirmidzi). Sabda rasulullah : “Sayanglah orang-orang yang ada di bumi maka, yang di langit (Allah) akan menyayangimu.” (Riwayat Tirmidzi).

Rasulullah pernah menanyai seorang budak wanita; “Di mana Allah ? Jawabnya, “Di langit“ Rasulullah bertanya lagi; “Siapa aku ini?” dijawabnya lagi; “Engkau adalah Rasul Allah.” Lalu Rasulullah bersabda; “Merdekakanlah dia karena dia seorang Mu’minah” (Riwayat Muslim). Sabda Rasulullah : “Arsy itu berada di atas air dan Allah berada  di atas Arsy, Allah-lah mengetahui keadaan kamu. “(hadits Hasan riwayat Abu Daud).

Abu Bakar Ash Shiddiq berkata, “barangsiapa menyembah Allah maka Allah berada di langit. Dan Maha hidup dan tidak pernah mati.” (Riwayat Imam Darimi dalam Al-Radd Alal Jahmiyah).

Abdullah bin Mubarak rahimahullah pernah ditanya. “Bagaimana kita mengetahui  Tuhan kita?”, maka ia menjawab; “Tuhan kita berada di atas langit, diatas Arsy, berada dengan makhluk-Nya. Maksudnya, Dzat Allah berada di atas Arsy, berbeda dan berpisah dengan makhluk-Nya, dan keadaan-Nya di atas Arsy tersebut tidak sama dengan makhluk.

Para Imam empat (Abu Hanifah, Malik Syafi”I dan Ahmad bin Hanbal) telah sepakat bahwa Allah berada di atas Arsy, tidak ada seorangpun dari makhluk-Nya yang serupa Dia. Orang yang sedang shalat selalu mengucapkan “Subhana Rabbial A”laa.” (maha suci Tuhanku Yang maha Tinggi). Ketika berdo”a ia juga mengangkat tangannya dan menengadah ke langit.

Anak kecil ketika anda Tanya di mana Allah? Dia akan segera menjawab berdasarkan nalurinya, bahwa Allah berada di langit. Cara berfikir yang sehat juga mendukung kenyataan bahwa Allah berada di langit. Seandainya Allah ada di semua tempat, niscaya Rasulullah pernah menerangkan dan mengajarkan kepada para sahabatnya. Kalau Allah berada di segala tempat berarti Allah juga berada di tempat- tempat najis dan kotor. Maha suci Allah dari anggapan yang demikian itu.

Pendapat yang mengatakan bahwa Allah berada di segala tempat, berarti bahwa Dzat Allah itu banyak, karena banyaknya tempat. Akan tetapi karena Dzat Allah, itu satu, dan mustahil banyak, maka pendapat yang mengatakan bahwa Allah berada di segala tempat adalah bathil. Maka sudah barang tentu Allah itu berada di langit, di atas Arsy-Nya, dan Dia bersama kita; mengetahui, mendengar dan melihat di manapun kita berada.

Sumber : Bimbingan Islam oleh Syeikh Muhammad Jamil Zainu

JANGAN PERCAYA KEPADA PERAMAL

Rasulullah bersabda : “Barangsiapa yang  mendatangkan peramal atau ahli nujum, kemudian ia mempercayai apa yang dikatakannya berarti ia telah mengingkari apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (hadits shalih riwayat Ahmad)

Haram hukumnya mempercayai ahli nujum, dukun, peramal, tukang sihir, orang yang mengaku memgetahui jiwa manusia atau peristiwa-peristiwa yang lalu yang tidak diketahui manusia atau mengetahui apa yang terjadi di masa yang akan datang. Sebab  hal-hal tersebut hanya Allah yang mengetahuinya, karena termasuk kekhususan ilmu-Nya semata.


Allah berfirman : “Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” (Q.S. Al – Hadiid : 6) Dan Firmannya  pula : “Katakanlah “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” (QS. An-Naml : 65).

Rasulullah bersabda : “Barang siapa yang mendatangi seorang peramal dan menanyakan hal kepadanya, maka tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari.” (H.R. Muslim).

Apa yang dikatakan oleh para peramal itu sebenarnya hanyalah dugaan dan kebetulan saja. Umumnya tidak lebih dari dusta. Karena bisikan syaitan dan tidak ada orang  yang terbujuk kecuali orang yang kurang akalnya saja.

Andaikata mereka mengetahui hal-hal yang ghaib, niscaya mereka akan mengambil harta yang tersimpan dalam perut bumi ini sehingga, mereka tidak lagi menjadi orang fakir yang kerjanya mengelabui orang lain hanya mencari sesuap nasi dengan cara yang batil.

Kalau mereka banar-benar mengetahui hal-hal yang ghaib, maka beritahukanlah kepada kami apa rahasia Yahudi sehingga dapat ditumbangkan.

Sumber : Bimbingan Islam Untuk Pribadi Dan Masyarakat

JANGAN BERSUMPAH DENGAN SELAIN ALLAH

Sabda Rasulullah : “Janganlah kamu  bersumpah dengan nama bapakmu. Barangsiapa yang bersumpah dengan nama Allah, maka hendaknya ia berkata benar, barangsiapa diberi sumpah dengan nama Allah, maka supaya menerima, dan barangsiapa yang tidak menerima, maka terlepas dari Allah.” (Shalih riwayat Ibnu Majah, Lihat Shalih Al Jami No. 7124).

Sabda Rasulullah : “Janganlah kamu bersumpah dengan nama bapakmu, atau ibumu, atau sekutu-sekutu. Janganlah kamu bersumpah kecuali dengan nama Allah. Dan janganlah kamu bersumpah kecuali dengan berkata benar.” (Shahih riwayat Abu Daud. Lihat Shalih Al Jami No. 7126).

Sabda Rasulullah : “Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah, maka ia telah berbuat syirik.” (Hadits Shalih riwayat Imam Ahmad dan periwayat lainnya).

Sabda Rasulullah : “Barangsiapa melakukan sumpah yang diharuskan kepadanya (oleh penguasa) untuk mengambil harta kekayaan seorang Muslim, tetapi dia dusta, maka ketika berjumpa dengan Allah (pada hari kiamat). Dia akan murka kepadanya.” (Muttafaq Alaih)


Sabda Rasulullah : “Barangsiapa bersumpah, lalu memandang lebih baik membatalkan sumpahnya, maka hendaklah ia mengambil yang lebih baik dan melaksanakan  kaffarat atas sumpahnya itu.” (H.R. Muslim).

Sabda Rasulullah : “Barangsiapa  bersumpah, tetapi mengatakan “Insya Allah.”, maka jika dia mau, boleh melaksanakan sumpahnya dan jika tidak, boleh tidak melaksanakan tanpa harus membayar kaffarat.” (Hadits Shalih riwayat An-Nissa”I Lihat Shalih Al Jami No. 6082).

Abdullah bin Mas”ud berkata: “Bersumpah dengan nama Allah, tapi ia dusta, lebih baik bagiku dari pada bersumpah dengan selain nama Allah meskipun ia benar.”

Sabda Rasulullah: “Barangsiapa diantara kamu bersumpah dengan menyebut nama Al-Laata dan Al- Uzza, maka hendaklah ia mengatakan; Laa Ilaaha Illallah.”  Dan barangsiapa berkata kepada sahabatnya. “Mari kita berjudi.”, maka hendaklah ia mensedekahakan sesuatu.” (Muttafaq Alaih).

Sabda Rasulullah : “Barangsiapa bersumpah dengan (menyebut) agama selain Islam, sekalipun dusta, maka ia adalah sebagaimana yang dikatakannya.” (Muttafaq Alaih).

Maksudnya apabila seorang muslim mengatakan bahwa jika ia berbuat demikian, maka ia adalah orang Yahudi, atau Nasrani. Dalam masalah ini apabila maksudnya mengagungkan hal itu adalah kafir. Tetapi apabila yang dimaksud hanyalah pengandaian, maka perlu diteliti, jika ia ingin menjadi seperti itu adalah kafir, tetapi jika ia ingin menjauhi hal yang demikian, maka tidak kafir.(lihat; Fathul Bari, jilid 11 hal.536).

KESIMPULAN :

Hukumnya haram bersumpah dengan makhluk  seperti Nabi. Ka’bah, amanat tanggung jawab, anak orang tua, kehormatan, seorang wali dan lain sebagainya. Hal ini adalah termasuk syirik Ashghar (kecil), karena mempersekutukan Allah, dengan mengagungkan selain-Nya ketika bersumpah dengan namanya.

Dan perbuatan semacam itu termasuk dosa  besar yang wajib dilarang, ditinggalkan dan bertaubat darinya. Tetapi sumpah dengan nama selain Allah bisa menjadi syirik akbar, jika orang yang bersumpah dengan wali umpamanya, mempunyai kepercayaaan  bahwa wali tersebut akan melakukan balas dendam kepadanya bila ia dusta dalam sumpahnya, karena dia telah mempersekutukan Allah dengan si wali dalam melakukan balas dendam dan mendatangkan mudharat. 
Baca juga : Doa Adalah Ibadah

Sumpah dengan nama selain Allah bukan sumpah yang dibenarkan oleh agama. Orang yang bersumpah demikian tidak harus melaksanakannya dan tidak wajib baginya kaffarat.

Barangsiapa bersumpah dengan memutuskan silaturrahim atau berbuat maksiat, maka tidak boleh ia melaksanakan sumpahnya dan hendaklah ia membayar kaffarat. Kaffarat sumpah diterangkan dalam firman Allah :

“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud   (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja. Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak.

Barangsiapa yang tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya”. (Q.S; Al- Maidah : 89)

Sumber : Bimbingan Islam Untuk Pribadi Dan Masyarakat oleh Syeikh Muhammad Jamil zainu

Dimana Allah Berada ?

Sajadah Muslim ~ Allah  yang menciptakan kita, mewajibkan kita untuk mengetahui di mana Dia, sehingga kita dapat menghadap kepada-Nya dengan hati, doa dan shalat kita. Orang yang tidak  tahu dimana Tuhannya akan tersesat. Ia tidak tahu kemana ia menghadap kepada sembahannya dan tidak dapat melaksanakan ibadah (penghambaan) kepada-Nya dengan sebenar-benarnya.


Sifat Maha Tinggi, yang dimiliki Allah atas makhluk-Nya tidak berbeda dengan sifat-sifat  Allah yang lain, sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Quran dan apa yang diberitakan Rasul-Nya dalam hadits-haditsnya  tanpa ta’wil (menggeser makna yang asli ke makna yang lain) ta”thil (meniadakan maknanya sama sekali) dan tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya) Hal ini berdasarkan firman Allah :

 “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia dan dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Q.S Asy Syuura  11).

Sifat- sifat Allah ini antara lain Maha Tinggi dan bahwa Dia berada di atas makhluk-Nya sesuai dengan keagungan Allah. Oleh karena itu iman kepada sifat-sifat Allah tersebut wajib, sebagaimana juga iman kepada zat Allah. Imam Malik rahimahullah ketika ditanya tentang firman Allah : “{Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas Arsy” (Q.S. Thaahaat : 5 )

Imam Malik menjawab, “Peristiawa itu sudah dimaklumi artinya (yaitu bersemayam atau berada diatas). Tetapi bagaimana hakikatnya, itu tidak dapat diketahui. Kita hanya wajib mengimaninya dan mempertanyakannya adalah bid'ah”

Perhatikanlah jawaban Imam Malik tadi yang menetapkan bahwa iman kepada “Istiwa”, itu wajib diketahui oleh setiap muslim. Yang berarti bersemayam atau berada di atas. Tetapi bagaimana hakikatnya itu, hanya Allah saja yang mengetahuinya. Orang yang mengingkari sifat Allah, yang telah ditetapkan dalam Al-Quran dan hadits  antara lain sifat Maha Tinggi Allah mutlak dan Allah diatas langit, maka orang itu berarti telah mengingkari ayat Al-Quran dan hadits Rasulullah, yang menetapkan adanya sifat-sifat tersebut. Sifat-sifat tersebut meliputi sifat-sifat kesempurnaan, keluhuran dan keagungan yang tidak boleh diingkari oleh siapun.

Usaha sebagian umat yang datang belakangan untuk mentakwilkan ayat-ayat Al-Quran yang berhubungan dengan sifat-sifat Allah karena terpengaruh dengan filsafat yang merusak akidah Islam, menyebabkan mereka menghilangkan sifat-sifat Allah yang sempurna dan Dzat-Nya. Mereka telah menyimpang dari manhaj para ulama salaf  yang lebih selamat, lebih ilmiah dan lebih kuat argumentasinya. Alangkah indahnya pendapat yang mengatakan :

“Segala kebaikan itu terdapat, Dalam mengikuti jejak ulama salaf, Dan segala keburukan itu terdapat, Dalam bid”ah yang datang kemudian.”    
                                                                           
Beriman kepada seluruh sifat-sifat Allah yang telah diterangkan dalam Al-Quran dan hadits adalah wajib. Tidak boleh membeda-bedakan antara sifat yang satu dengan sifat yang lain, sehingga hanya mau beriman dengan sifat yang satu dan ingkar kepada sifat yang lain. Orang yang percaya bahwa Allah itu maha mendengar dan Maha Melihat, dan percaya bahwa Allah itu maha Tinggi, di atas langit sesuai dengan keagungan-Nya dan tidak sama dengan tingginya makhluk, karena sifat Maha Tinggi-Nya itu adalah sifat yang sempurna bagi Allah.

Hal itu sudah ditetapkan sendiri oleh Allah dalam kitab-Nya dan Rasulullah dalam haditsnya, juga fitrah dan cara berfikir yang sehat mendukung dengan kenyataan tersebut.

Sumber : Menjaga Tauhid

Mengenal Rukun Islam Dan Rukun Iman

Rasulullah saw telah bersabda : “Islam itu didirikan di atas lima sendi yaitu :
  1. Bersaksi bahwa tiada sesembahan yang hak selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.
  2. Mendirikan shalat (mengerjakannya dengan memenuhi rukun-rukunnya dan wajibnya serta dikerjakan dengan tenang dan khusyu).
  3. Mambayar zakat, (wajib membayar zakat bila seorang muslim memiliki 85 gram emas atau uang yang senilai dengannya, yaitu membayar 2,5 % bila sudah sampai satu tahun. Adapun harta kekayaan selain uang masing-masing mempunyai ketentuan tersendiri).
  4. Melakukan bepergian (naik haji) ke Baitullah (bagi orang yang mampu  untuk pergi ke tanah suci)
  5. Puasa pada bulan Ramadhan (menahan diri dari makan, minum dan bersenggama antara suami dan istri, dimulai sejak terbit fajar sampai terbenam matahari dengan niat).
 Rukun Iman
  1. Beriman kepada Allah yaitu dengan mempercayai bahwa Allah itu ada dan Maha Esa, baik dalam kekuasaan-Nya maupun dalam hal ibadah kepada-Nya, dalam sifat dan hukum-Nya.
  2. Beriman kepada para Malaikat sebagai makhluk yang diciptakan dari Nur (cahaya) untuk melaksanakan perintah Allah.
  3. Beriman kepada kitab-kitab Allah, yaitu Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Quran. Dan yang paling utama adalah Al-Quran.
  4. Beriman kepada para Rasul Allah. Yang pertama adalah Nuh sampai yang terakhir Muhammad.
  5. Beriman kepada hari akhir, yaitu hari kiamat sebagai hari perhitungan terhadap amal-amal manusia.
  6. Beriman kepada takdir Allah. Takdir yang baik maupun yang buruk dengan keharusan melakukan ikhtiyar (usaha) dan ridha terhadap hasil yang diperolehnya.

Hukum Sihir Dan Perdukunan

Sajadah Muslim ~ Mengingat akhir-akhir ini banyak sekali tukang-tukang ramal yang mengaku dirinya sebagai thabib dan mengobati orang sakit dengan jalan sihir atau perdukunan. Mereka kini banyak menyebar di berbagai negeri, orang-orang awam yang tidak mengerti sudah banyak menjadi korban pemerasan mereka. Dengan memohon pertolongan Allah SWT, baha berobat dibolehkan menurut kesepakatan para ulama, dan seorang muslim hendaklah berusaha mendatangi dokter yang ahli, baik penyakit dalam, pembedahan, saraf, maupun penyakit luar lainnya untuk diperiksa apa penyakit yang diderita dan kemudian diobati sesuai dengan obat-obat yang dibolehkan oleh syara’ sebagaimana yang dikenal dalam ilmu kedokteran.


Dilihat dari segi sebab dan akibat yang biasa berlaku, hal ini tidak bertentangan dengan ajaran tawakkal kepada Allah dalam Islam. Karena Allah SWT telah menurunkan penyakit dan menurunkan pula obatnya, ada diantaranya yang sudah diketahui oleh manusia dan ada yang belum diketahui. Akan tetapi Allah SWT tidak menjadikan penyembuhannya dari sesuatu yang telah diharamkan kepada mereka.

Oleh karena itu tidak dibenarkan bagi orang yang sakit, mendatangi dukun-dukun yang mendakwahkan dirinya mengetahui hal-hal yang gaib, untuk mengetahui apa sakit yang dideritanya. Tidak diperbolehkan pula mempercayai atau membenarkan apa yang mereka katakana, karena sesuatu yang mereka katakan mengenai hal-hal yang gaib itu hanya didasarkan atas perkiraan belaka, atau dengan cara mendatangkan jin, dan meminta pertolongan jin-jin itu tentang sesuatu yang mereka inginkan. Dengan cara demikian dukun-dukun tersebut telah melakukan perkara-perkara kufur dan penyesatan.

Rasulullah SAW menjelaskan dalam berbagai haditsnya sebagaimana berikut : Muslim meriwayatkan dalam hadits Shahihnya, bahwasanya Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa mendatangi ‘Arraaf (Tukang Tenung) dan menanyakan sesuatu kepadanya tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari”.

Dari Abu Hurairah ra dari Nabi SAW, Beliau bersabda, “Barangsiapa yang mendatangi Kahin (dukun), dan membenarkan apa yang ia katakana, sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad SAW” (HR. Abu Dawud).

Dikeluarkan oleh empat Ahlus-sunan dan dishahihkan oleh Hakim, dari Nabi saw, dengan lafadh, “Barangsiapa yang mendatangi Arraaf atau Kahin dan membenarkan apa yang ia katakana, sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad saw”.

Dari Imran bin Hushein ra, ia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Bukan dari golongan kami, orang yang menentukan nasib sial dan untung berdasarkan tanda-tanda benda, burung dan lain-lain, yang bertanya dan yang menyampaikannya, atau yang bertanya kepada dukun dan yang mendukuninya, atau yang menyihir dan yang meminta sihir untuknya, dan barangsiapa yang mendatangi Kahin dan membenarkan apa yang ia katakana, maka sesungguhnya ia telah kafir dari apa yang diturunkan kepada Muhammad saw” (HR. Al Bazzaar, dengan sanad jayyid).

Dari hadits-hadits yang mulia ini, menunjukkan larangan mendatangi ‘Arraaf, Kahin dan sebangsanya, larangan bertanya kepada mereka tentang hal-hal yang gaib, larangan mempercayai atau membenarkan apa yang mereka katakana dan ancaman bagi mereka yang melakukannya. Oleh karena itu, kepada para penguasa dan mereka yang mempunyai pengaruh di negerinya masing-masing, wajib mencegah segala bentuk praktek tukang ramal, dukun dan sebangsanya, dan melarang orang-orang mendatangi mereka.

Kepada yang berwewenang supaya melarang mereka melakukan praktek di pasar-pasar, dan tempat-tempat lainnya, dan secara tegas menolak segala yang mereka lakukan. Dan hendaknya tidak boleh tertipu oleh pengakuan segelintir orang tentang kebenaran apa yang mereka lakukan, karena orang-orang tersebut tidak mengetahui tentang perkara yang dilakukan oleh dukun-dukun tersebut, bahkan kebanyakan mereka adalah orang-orang awam yang tidak mengerti hukum dan larangan yang mereka lakukan.

Rasulullah saw telah melarang umatnya mendatangi para Kahin dan ‘Arraaf, Dukun dan tukang tenung, dan melarang bertanya serta membenarkan apa yang mereka katakana, karena mengandung kemungkaran dan bahaya yang sangat besar, dan berakibat negatif yang sangat besar pula, karena mereka adalah orang-orang yang melakukan dusta dan dosa. Hadits-hadits Rasulullah tersebut diatas membuktikan tentang kekufuran para Kahin dan ‘Arraff, karena mereka mengaku mengetahui hal-hal yang gaib dan mereka tidak akan sampai pada maksud yang diinginkan melainkan dengan cara berbakti, tunduk, taat dan menyembah jin-jin dan ini merupakan perbuatan kufur dan syirik kepada Allah SWT. Orang yang membenarkan mereka atas pengakuannya mengetahui hal-hal yang gaib dan meyakininya, maka hukumnya sama seperti mereka . dan setiap orang yang menerima perkara ini dari orang yang melakukannya, sesungguhnya Rasulullah saw berlepas diri dari mereka.

Seorang muslim tidak boleh tunduk dan percaya terhadap dugaan dan sangkaan bahwa cara seperti yang dilakukan itu sebagai suatu cara pengobatan, semisal tulisan-tulisan azimat yang mereka buat atau menuangkan cairan timah, dan lain-lain cerita bohong yang mereka lakukan. Semua ini adalah praktek-praktek perdukunan dan penipuan terhadap manusia, maka barangsiapa yang rela menerima praktek-praktek tersebut tanpa menunjukkan sikap penolakannya, sesungguhnya ia telah menolong mereka dalam perbuatan bathil dan kufur.

Oleh karena itu tidak dibenarkan seorang muslim pergi kepada para kahin, tukang tenung, tukang sihir dan semisalnya, dan menanyakan kepada mereka hal-hal yang berhubungan dengan jodoh dan pernikahan anak atau saudaranya, atau yang menyangkut hubungan suami istri dan keluarga, tentang kecintaan, kesetiaan, perselisihan dan perpecahan yang terjadi dan lain sebagainya, karena ini berhubungan dengan hal-hal yang gaib yang tidak diketahui hakekatnya oleh siapapun kecuali Allah SWT.

Sihir sebagai salah satu perbuatan kufur yang diharamkan oleh Allah, dijelaskan didalam Al-Quran surat Al Baqarah ayat 102 tentang kisah dua Malaikat : “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaithan-syaithan dimasa Kerajaan Sulaiman (lalu mereka mengatakan bahwa Sulaiman juga mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (dan tidak mengerjakan sihir), hanya syaithan-syaithanlah yang kafir. Mereka mengerjakan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua Malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedangkan keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seorangpun sebelum mengatakan : Sesungguhnya kami hanya menjadi cobaan bagi kamu, sebab itu janganlah kamu kafir. Dan mereka mempelajari dari kedua Malaikat itu apa-apa yang dengannya mereka dapat menceraikan antara seorang suami dengan istrinya. Padahal mereka tidak dapat mendatangkan mudharat kepada seorangpun (dengan sihir mereka), kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang mendatangkan mudharat bagi diri mereka dan tidak mendatangkan manfaat. Sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa barangsiapa yang memperjual belikannya, dia tidak memperoleh keuntungan sedikitpun di Akhirat, dan alangkah buruknya mereka menjual dirinya (dengan sihir) seandainya mereka mengetahui”.

Ayat yang mulia ini menunjukkan sihir adalah perbuatan kufur dan sihir dapat memecah belah hubungan suami istri, sihir pada hakikatnya tidak mempunyai pengaruh dalam mendatangkan manfaat dan mudharat. Pengaruhnya semata-mata karena izin Allah Yang Maha Kuasa, karena Dialah Maha Kuasa menciptakan baik dan buruk. Bahayanya yang besar itu karena semakin dibesarkan oleh orang-orang yang sengaja mengadakan kebohongan diantara orang-orang yang mewarisi ilmu ini dari orang-orang musyrik, dengan mempengaruhi orang-orang yang lemah akalnya. “Sesungguhnya kita milik Allah, kita akan kembali kepada Allah jua, dan cukuplah Allah bagi kita, Dia sebaik-baik penolong”.

Sumber : Menjaga Tauhid

Pengertian Iman Kepada Kitab-Kitab Allah

Sajadah Muslim ~ Secara umum, seorang muslim harus meyakini bahwa Allah telah menurunkan kitab-kitab kepada para nabi dan rasul-Nya dengan tujuan untuk menjelaskan kebenaran.

Allah berfirman : “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan itu” (QS. Al Hadid : 25)


Firman Allah, yang artinya : “Dahulu manusia itu adalah umat yang satu, (setelah timbul perselisihan) maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar untuk member keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan” (QS. Al Baqarah : 213)

Selanjutnya, secara khusus seorang muslim harus meyakini kitab-kitab yang nama-namanya telah diberikan Allah kepada manusia, seperti Taurat, Injil, Zabur, dan Al Quran.

Kitab Al Quran adalah kitab yang paling utama di antara kitab-kitab lainnya. Al Quran merupakan penutup, pemelihara, dan pembenaran terhadap kitab-kitab lainnya. Al Quran itulah yang harus diikuti oleh seluruh umat manusia di dunia ini. 

Allah menurunkan Al Quran kepada Muhammad Rasulullah untuk dijadikan sumber hukum bagi seluruh manusia, di samping sebagai penyejuk dan penyembuh hati, sebagai penerang atas segala masalah, serta sebagai petunjuk dan rahmat untuk semesta alam. Allah berfirman, “Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan, yang diberkahi, maka ikutilah dia, dan bertakwalah agar kamu sekalian mendapat rahmat dari Allah” (QS. Al An’am : 155)

Firman Allah, yang artinya : “……Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri” (Al Nahl : 89)

“Katakanlah (Muhammad) : ‘Wahai manusia, sesunguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu sekalian, yaitu Allah yang memiliki kerajaan langit dan bumi, tiada Ilah selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan. Oleh karena itu, berimanlah kepada Allah dan utusan-Nya, seorang Nabi yang ummi, yang beriman kepada Allah dan firman-firman-Nya, maka ikutilah Dia agar kamu mendapat petunjuk” (QS. Al Araf : 158)

Sumber : Menjaga Tauhid

Tata Cara Menangkal Dan Menanggulangi Sihir

Sajadah Muslim ~ Allah telah mensyariatkan kepada hamba-Nya agar mereka menjauhkan diri dari kejahatan sihir sebelum terjadi pada diri mereka, dan Allah menjelaskan pula tentang bagaimana cara pengobatannya bila terjadi pada diri mereka. Ini merupakan rahmat dan kasih sayang Allah, kebaikan dan kesempurnaan nikmat-Nya kepada hamba-Nya. Berikut ini beberapa penjelasan tentang usaha menjaga diri dari bahaya sihir sebelum terjadi, begitu pula usaha dan cara pengobatannya bila terkena sihir, yakni cara-cara yang dibolehkan menurut hukum syara’.


Tindakan prefentif, yakni usaha menjauhkan diri dari bahaya sihir sebelum terjadi. Cara yang paling penting dan bermanfaat ialah penjagaan dengan melakukan dzikir yang disyariatkan, membaca doa dan ta’awwudz sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. Diantaranya seperti dibawah ini :

Membaca Ayat Kursi

Membaca ayat kursi setiap selesai shalat lima waktu sesudah membaca wirid yang disyariatkan ba’da salam, demikian pula dibaca ketika akan tidur. Karena ayat kursi termasuk ayat yang paling besar nilainya di dalam Al Quran. Rasulullah saw bersabda dalam salah satu hadits shahihnya : “Barangsiapa yang membaca ayat Kursi pada malam hari, Allah senantiasa menjaganya dan syaitan tidak akan mendekatinya sampai subuh”.

Membaca Surat Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas

Membaca surat Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas pada setiap selesai shalat lima waktu, dan membaca ketiga surat tersebut sebanyak tiga kali pada pagi hari sesudah shalat shubuh, dan menjelang malam sesudah shalat maghrib, sesuai dengan hadits riwayat Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i.

Membaca Dua Ayat Terakhir Dari Surat Al Baqarah

Membaca dua ayat terakhir dari surat Al Baqarah ayat 285-286, pada permulaan malam, sebagaimana sabda Rasulullah saw : “Barangsiapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al Baqarah pada malam hari, cukuplah kedua (ayat tersebut) baginya (maka ia akan terpelihara dari kejahatan)”.

Membaca Ta’awwudz

Banyak membaca ta’awwudz dengan menggunakan kalimat Allah yang sempurna untuk memohon perlindungan diri dari kejahatan makhluk ciptaan-Nya. Hendaklah dibaca pada malam dan siang hari ketika berada disuatu tempat, ketika masuk ke dalam suatu bangunan ketika berada di tengah padang pasir, di udara atau di laut. Sabda Rasulullah saw : “Barangsiapa yang turun di suatu tempat dan dia berkata : A’udzu bi Kalimaatillaah attaammati min syarri maa khalaq (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk ciptaan Allah), tidak ada sesuatupun yang membahayakan sampai ia pergi dari tempat itu”.

Membaca Doa

Membaca doa, dibawah ini masing-masing tiga kali pada pagi hari dan menjelang malam : “Dengan nama Allah tidak ada yang membahayakan bersama nama-Nya sesuatupun yang ada di bumi dan di langit, Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui”. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Karena (telah diriwayatkan secara shahih) motivasi Rasulullah saw (untuk membaca bacaan di atas) dan bahwa hal itu salah satu penyebab keselamatan dari segala kejahatan. Bacaan dzikir dan ta’awwudz ini merupakan sebab yang besar untuk memperoleh keselamatan dan untuk menjauhkan diri dari kejahatan sihir dan kejahatan lainnya, bagi mereka yang selalu mengamalkannya secara benar disertai keyakinan yang penuh kepada Allah, bertumpu dan pasrah kepada-Nya dengan lapang dada dan hati yang khusyu’.

Dengan bacaan-bacaan seperti ini juga merupakan senjata ampuh untuk menghilangkan sihir yang sedang menimpa seseorang, dibaca dengan hati yang khusyu’, tunduk dan merendahkan diri seraya memohon kepada Allah agar dihilangkan bahaya dan malapetaka yang dihadapi. Doa-doa berdasarkan riwayat yang kuat dari Rasulullah saw untuk menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh sihir dan lain sebagainya seperti berikut :
  • Rasulullah saw menjampi sahabat-sahabatnya dengan bacaan : “Ya Allah, Rabban-Naas…! Hilangkan sakit dan sembuhkanlah, Engkaulah Maha Penyembuh, tidak ada penyembuhan melainkan penyembuhan dari-Mu, penyembuhan yang tidak meninggalkan penyakit” (HR. Bukhari)
  • Doa yang dibaca Jibril as ketika menjampi Rasulullah saw : “Dengan nama Allah, aku menjampimu dari segala yang menyakitkanmu, dan dari sejahatan setiap diri atau dari pandangan mata yang penuh kedengkian, semoga Allah menyembuhkanmu, dengan nama Allah aku menjampimu”.
  • Pengobatan sihir cara lainnya, terutama bagi laki-laki yang tidak dapat berjimak dengan isterinya karena terkena sihir, yakni : Ambillah tujuh lembar daun bidara yang masih hijau, ditumbuk atau diulek dengan batu atau alat tumbuk lainnya, sesudah itu dimasukkan ke dalam sebuah bejana atau wadah, tuangkan air ke dalam wadah itu secukupnya untuk mandi, bacakan ayat Kursi pada wadah tersebut, bacalah pula surat Al Kafirun, Al Ikhlas, Al Falaq, An Naas, dan ayat-ayat sihir dalam surat Al A’raaf ayat 117-119, surat Yunus ayat 79-82 dan surat Thaha ayat 65-69. Setelah selesai membaca ayat-ayat tersebut, hendaklah diminum sedikit airnya dan sisanya dipakai untuk mandi. Dengan cara ini mudah-mudahan Allah SWT dapat menghilangkan penyakit yang sedang diderita dan seandainya masih diperlukan pengobatan seperti ini beberapa kali, boleh saja dilakukan kembali dua kali atau lebih sampai benar-benar hilang penyakitnya.
  • Cara pengobatan lainnya, sebagai cara yang paling bermanfaat ialah berupaya mengerahkan tenaga dan daya untuk mengetahui dimana tempat sihir terjadi, diatas gunung atau ditempat manapun ia berada dan bila sudah diketahui tempatnya, diambil dan dimusnahkan sehingga lenyaplah sihir tersebut.
Inilah beberapa penjelasan tentang perkara-perkara yang dapat menjaga diri dari sihir dan usaha pengobatan atau cara penyembuhannya dan hanya kepada Allah kita mohon pertolongan. Adapun pengobatan dengan cara-cara yang dilakukan oleh tukang-tukang sihir yaitu dengan mendekatkan diri kepada jin disertai penyembelihan hewan atau cara-cara pendekatan diri lainnya, maka semua itu tidak dibenarkan, karena termasuk perbuatan syaitan, bahkan termasuk perbuatan syirik yang paling besar yang wajib dihindari.

Sumber : Menjaga Tauhid

Hukum Memperingati Maulid Nabi

Sajadah Muslim ~ Telah berungkali timbul pertanyaan tentang hukum upacara (seremoni) peringatan Maulid Nabi SAW, mengadakan ibadah tertentu pada malam itu, mengucapkan salam atas beliau dan berbagai macam perbuatan lainnya. Jawabannya : harus dikatakan, bahwa tidak boleh mengadakan kumpul-kumpul/pesta-pesta pada malam kelahiran Rasulullah SAW dan juga malam lainnya, karena hal itu merupakan suatu perbuatan baru (bi’dah) dalam agama, selain Rasulullah belum pernah melakukannya, begitu pula khulafaaurraasyidiin, para sahabat lain dan para Tabi’in yang hidup pada kurun waktu yang paling baik, mereka adalah kalangan orang-orang yang lebih mengerti terhadap sunnah, lebih banyak mencintai Rasulullah dari pada generasi setelahnya dan benar-benar menjalankan syariatnya.


Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mengada-adakan (sesuatu hal baru) dalam urusan (agama) kami yang (sebelumnya) tidak pernah ada, maka akan ditolak”. Dan Firman Allah SWT dalam kitab-Nya : “Dan apa yang dibawa Rasul kepadamu, maka terimalah ia, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah, dan  bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah keras hukum-Nya” (QS. 59 : 7)

Jika seandainya upacara peringatan maulid nabi itu betul-betul datang dari agama yang diridhai Allah, pasti Rasulullah menerangkan kepada umatnya, atau beliau menjalankan semasa hidupnya, atau paling tidak, dikerjakan oleh para sahabat. Maka jika semua itu belum pernah terjadi, jelaslah bahwa hal itu bukan dari ajaran Islam sama sekali dan merupakan suatu hal yang diada-adakan (bi’dah), dimana Rasulullah sudah memperingatkan kepada umatnya agar supaya dijauhi.

Sabda Nabi SAW, “Sesungguhnya sebaik-baik perkataan ialah kitab Allah (Al Quran) dan sebaik-baik petunjuk, petunjuk Muhammad dan sejahat-jahat perbuatan (dalam agama) ialah yang diada-adakan (bi’dah), sedang tiap-tiap yang bi’dah itu kesesatan”. (HR. Muslim)


Tetapi orang-orang yang datang kemudian, menyelahainya, yaitu dengan membolehkan hal itu semua selama tidak mencakup sesuatu kemungkaran, seperti berlebih-lebihan dalam memuji Rasulullah SAW, bercampurnya antara lelaki dan perempuan (bukan mahram), pemakaian alat-alat musik dan lain sebagainya dari hal-hal yang menyalahi syariat. Mereka beranggapan bahwa ini semua adalah merupakan bi’dah hasanah. Sedangkan kaidah syariat mengatakan, bahwa segala sesuatu yang diperselisihkan oleh manusia hendaklah dikembalikan kepada Al Quran dan sunnah Rasulullah (Hadist).

Allah SWT berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan Ulil Amri (pemimpin) diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (Hadist) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang sedemikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS : 4 : 59)

Ternyata, setelah masalah ini (hukum upacara peringatan maulid Nabi) kita kembalikan kepada kitab Allah (Al Quran), kita dapatkan suatu perintah yang menganjurkan kita agar mengikuti apa-apa yang dibawa Rasulullah, menjauhi apa yang dilarang beliau, dan (Al Quran) member penjelasan pula kepada kita bahwasanya Allah SWT telah menyempurnakan agama umat ini. Dengan demikian upacara peringatan maulid Nabi ini tidak sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah, maka ia bukan dari ajaran agama yang telah disempurnakan oleh Allah kepada kita dan diperintahkan agar mengikuti Rasulullah.

Berarti jelaslah bahwasanya hal ini bukan dari agama, tetapi ia adalah merupakan suatu perbuatan yang diada-adakan, perbuatan yang menyerupai hari-hari besar ahli kitab, Yahudi dan Nasrani. Hal ini menjadi jelas bagi mereka yang mau berfikir, berkemauan mendapatkan yang hak dan mempunyai keobjektifan dalam membahas, bahwa upacara peringatan maulid Nabi bukan dari ajaran Islam melainkan merupakan bi’dah-bi’dah yang diada-adakan, dimana Allah memerintahkan Rasul-Nya agar meninggalkannya dan memperingatkan agar waspada terhadapnya. Tak layak bagi orang yang berakal, tertipu karena perbuatan tersebut banyak dikerjakan oleh orang banyak diseluruh jagat raya, sebab kebenaran tidak bisa dilihat dari banyaknya pelaku (yang mengerjakan), tetapi diketahui atas dasar dalil-dalil syara.

Sumber : Waspada Terhadap Bi’dah oleh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Faktor Yang Dapat Memantapkan Tauhid Dalam Hati

Sajadah Muslim ~ Tauhid itu adalah ibarat sebatang pohon. Ia tumbuh dalam hati seorang mukmin, kemudian tumbuh cabang-cabangnya yang semakin hari semakin panjang dan semakin indah. Demikian pula iman, semakin disirami dengan ketaatan yang dapat mendekatkannya kepada Allah SWT, semakin bertambah pula kecintaan seorang hamba kepada Tuhannya, semakin besar rasa takut dan harapnya serta semakin kuat tawakkalnya kepada-Nya.


Di antara faktor yang dapat menumbuhkan tauhid di dalam jiwa seseorang ialah sebagai berikut :
  1. Berbuat taat karena mengharapkan pahala di sisi Allah.
  2. Meninggalkan maksiat karena takut kepada siksaan Allah.
  3. Memikirkan (tafakkur) tentang ciptaan-ciptaan Allah di langit dan di bumi.
  4. Mengenali nama-nama dan sifat-sifat Allah, dan memahami konsekuen-konsekuennya, pengaruh-pengaruhnya dan kandungan maknanya yang menunjukkan kemuliaan dan kesempurnaan.
  5. Senantiasa menimba ilmu yang bermanfaat dan mengamalkannya.
  6. Membiasakan membaca Al-Quran dengan tadabbur (menghayati) dan memahami makna dan maksudnya.
  7. Mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah dengan mengerjakan amalan-amalan sunnah di samping yang fardhu.
  8. Senantiasa berdzikir kepada Allah dalam segala situasi dan kondisi, dengan lidah dan hati.
  9. Mengutamakan apa yang dicintai Allah di atas segala yang dicintai
  10. Memperhatikan segala nikmat Allah, yang zhahir dan yang bathin serta menghadirkan di depan mata, bagaimana kebaikan dan karunia yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya.
  11. Memelas dan merendahkan hati di hadapan Allah.
  12. Berkhalwat (menyendiri) dengan Allah pada waktu sepertiga malam terakhir, dengan membaca Al-Quran dan menutupnya dengan istighfar (memohon ampun) dan bertobat kepada-Nya.
  13. Selalu bergaul dan duduk bersama orang-orang shaleh dan ikhlas serta cinta kepada Allah, dan mengambil faedah dari ucapan dan cara hidup mereka.
  14. Menjauhi segala sarana yang dapat menghalangi (berhubungannya) hati dengan Allah.
  15. Meninggalkan perkataan yang tidak berguna, makan berlebihan, bergaul dan memandang kepada yang haram.
  16. Berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencintai sesuatu bagi saudaranya (sesama muslim), seperti ia mencintai sesuatu itu untuk dirinya sendiri.
  17. Membersihkan hati dari penyakit dengki, takabur, ghurur (merasa serba lebih) dan ujub (membanggakan diri) terhadap kaum mukminin.
  18. Ridha kepada aturan Allah
  19. Bersyukur ketika mendapatkan nikmat, dan bersabar tatkala ditimpa musibah.
  20. Segera kembali (bertobat) kepada Allah kala melakukan dosa.
  21. Memperbanyak amal shaleh, seperti berinfak, berbudi pekerti (akhlak) yang baik, menyambung tali silaturrahim dan lain-lain.
  22. Mengikuti perilaku Nabi SAW dalam segala hal, kecil maupun besar.
  23. Berjihad fisabilillah
  24. Memakan makanan yang baik lagi halal.
  25. Melakukan amar ma’ruf nahi mungkar mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari perbuatan mungkar.
Ya Allah, bahagiakanlah hidup kami dengan tauhid, dan umat kami bersaksi dengan tauhid. Shalawat dan salam semoga tercurah untuk Nabi kita Muhammad, keluarga dan semua sahabatnya.

Baca juga : Allah Dekat Kepada Hamba-Hambanya

Cara Agar Tauhid Kuat Di Hati Anda

Sajadah Muslim ~ Tauhid menurut bahasa ialah masdar (kata benda) dari kata kerja wahhada yang merupakan pecahan (musytaq) Dari kata waahid yang bermakna satu, tunggal dan sendiri. Dikatakan : wahhadahu dan ahhadahu, artinya : menyatukannya atau mentauhidkannya. Dan dikatakan pula mutawahhid semakna dengan : munfarid, artinya : sendiri.


Sedangkan menurut istilah syariah : Tauhid ialah mengesakan Allah dalam rububiyah (kesendirian-Nya dalam mencipta, member rezki, mengatur dan seterusnya) dan dalam uluhiyah (beribadah hanya kepada-Nya) tiada sekutu bagi-Nya dan mengesakan Allah dalam nama-nama-Nya yang Husna (baik) serta sifat-sifat-Nya yang tinggi. Dan beriman kepada risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dan (percaya) bahwa beliau adalah penutup para Nabi serta mengikuti semua yang disampaikan-nya dari Allah.

Apa Yang Dimaksud Dengan Tauhid

Tauhid yang dibawa oleh para Rasul itu ialah yang mengandung penetapan (itsbat) uluhiyah (ibadah) hanya kepada Allah semata dengan bersaksi, bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, tidak beribadah melainkan hanya kepada-Nya, tidak berserah diri (bertawakkal) kecuali kepada-Nya, tidak mencintai (loyal) melainkan karena-Nya, tidak memusuhi kecuali karena-Nya dan tidak melakukan amalan kecuali karena-Nya. Bukanlah yang dimaksud dengan tauhid semata-mata mengakui tauhid rubuhiyah saja.

Baca juga : 
Semua amal yang tidak ada hubungannya dengan tauhid tidak ada nilainya sama sekali. Allah Ta’ala berfirman : “Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh” (QS. Ibrahim : 18).

Hukum Mempelajari Tauhid

Hukum mempelajari tauhid ialah fardhu ‘ain bagi setiap muslim dan muslimah. Allah Ta’ala berfirman : “Maka ketauhilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang baik) disembah melainkan Allah dan mohonlah ampun bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang Mu’min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu” (QS. Muhammad : 19)

Syirik Dalam Mencintai (Syirik Mahabbah)


Sajadah Muslim ~ Sesungguhnya sekedar mengalihkan segenap hati dan perasaan kepada makhluk dengan cinta dan tazhim (penghormatan) yang tidak pantas diberikan kepada selain Allah, sudah dianggap suatu bentuk ibadah kepadanya. Oleh sebab itu, orang-orang yang mengklaim mencintai wali-wali dan orang-orang shaleh yang sudah meninggal, tetapi mereka mengagungkan dan mengkultuskan mereka melebihi batasan syariah, sebenarnya mereka itu telah menyembah kepada wali-wali dan orang shaleh itu.


Karena disebabkan kecintaan yang berlebihan mereka berpaling sepenuhnya kepada wali-wali dan orang shaleh tersebut. Lalu mereka merayakan kelahiran (maulid) mereka, menyerahkan nadzar, melakukan thawaf di kuburan mereka persis seperti thawaf di keliling ka’bah, meminta bantuan (istighatsah) dan meminta keselamatan serta pertolongan. Kalau bukan karena mengkultuskan dan berlebih-lebihan tidak mungkin mereka melakukan semua ini demi orang-orang yang sudah meninggal itu.

Dan diantara bentuk ghuluw (berlebihan) mereka kepada wali-wali dan orang-orang shaleh itu, kebiasaan dan kesungguhan mereka untuk jujur ketika bersumpah atas nama wali-wali dan orang-orang shaleh tersebut. Sebaliknya, mereka tidak ragu untuk berbohong atau bermain-main bila mereka bersumpah dengan nama Allah. Sebagian mereka, apabila mendengar Allah dicaci maki, ia bersikap biasa saja dan tidak marah. Dan sebaliknya bila ada yang mencoba mencaci maki syekh (kiyai/tuan guru)nya, dia akan tersinggung dan marah sekali. Bukankah yang demikian itu pertanda sikap berlebihan dalam mengagungkan wali-wali dan kiyai-kiyai, lebih dari mereka membesarkan Allah, dan mencintai mereka labih dari mencintai Allah ? Allah Ta’ala berfirman : “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah”. (QS. Al-Baqarah : 165).

Dan syirik seperti ini disebut syirik mahabbah (dalam cinta).

Baca juga : Hakikat Cinta Kepada Allah SWT

Allah Dekat Kepada Hamba-Hamba-Nya

Sajadah Muslim ~ Sesungguhnya Allah dekat kepada hamba-hamba-Nya. Allah berfirman : “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (QS. Al-Baqarah : 186).


Tidak ada satupun pembatas yang dapat menghalangi seorang hamba untuk langsung bermunajat, mengadukan dan meminta kebutuhannya kepada Tuhannya, sehingga ia mesti kembali kepada makam-makam, menjadikan penghuninya sebagai perantara dan menyeru mereka, supaya memberikan syafaat di sisi Allah. Dan mereka meminta kepada penghuni makam tersebut sesuatu yang tidak dimilikinya, dan meminta apa yang tidak sanggup dilakukannya.

Tetapi yang mesti dilakukan oleh seorang manusia ialah kembali kepada Tuhannya dan meminta langsung kepada-Nya, serta bertawassul kepada-Nya dengan cara yang disyariatkan. Yaitu dengan cara mendekatkan diri (taqarrub) kepada-Nya dengan ketaatan dan amal shaleh, serta berdoa kepada-Nya dengan (menyebut) nama-nama-Nya yang mulia dan sifat-sifat-Nya yang agung. Di samping itu meyakini bahwa sesungguhnya Allah-lah yang mampu memuliakan, menghidupkan, mematikan, memberi rezki, mendatangkan manfaat dan mengatur semua urusan kehidupan, serta meyakini bahwa hanya di tangan Allah segala kemanfaatan dan kemudharatan. Dan meyakini bahwa tidak seorangpun manusia bagaimanapun tinggi kedudukannya di sisi Allah dan di kalangan manusia yang dapat mendatangkan kemudharatan atau mendatangkan kemanfaatan kepada seseorang, kecuali sesuatu yang telah dituliskan Allah baginya.

Rasulullah SAW bersabda : “Ketahuilah, bahwa jika umat ini bersatu untuk memberi manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan mampu memberikan manfaat kecuali sesuatu yang telah dituliskan Allah bagimu. Dan seandainya mereka bersatu untuk mendatangkan mudharat kepadamu, niscaya mereka tidak akan mampu memberi mudharat, kecuali sesuatu yang telah dituliskan Allah atas dirimu”.

Baca juga : 
Kalau seandainya seluruh umat bersatu untuk memberi manfaat atau mendatangkan mudharat, kemudian mereka tidak mampu melakukannya selain sesuatu yang memang sudah dituliskan Allah, maka tentu saja satu orang, baik yang masih hidup ataupun yang sudah mati, lebih baik mampu lagi untuk melakukannya. Sesungguhnya dia tidak akan dapat memberi manfaat atau mendatangkan mudharat kepada seseorang kecuali sesuatu yang memang sudah dituliskan oleh Allah baginya. Kalau begitu, apa alasannya (kita) berdoa kepada orang yang tidak dapat memberi manfaat dan mendatangkan mudharat ? Bukankah ini merupakan puncak kebodohan dan kesesatan ? Demi Allah, ini adalah puncak kebodohan dan kesesatan.

Oleh sebab itu, setiap orang yang terlihat ke dalam bentuk-bentuk kemusyrikan, bidah dan khurafat seperti thawaf di kuburan, mengagungkannya, serta meminta bantuan dan tolak bala kepada penghuni-penghuninya, harus bertobat kepada Allah. Karena amalan ini pada hakikatnya adalah menyekutukan Allah yang dapat menyebabkan pelakunya kekal abadi di dalam neraka. Mudah-mudahan Allah melindungi kita. Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong-pun” (QS. Al-Maidah : 72).

Kemudian hendaknya ia mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah, tiada sekutu bagi-Nya dalam segala urusan hidupnya, kalau memang ia benar-benar seorang muslim. Dan jangan sekali-kali berpaling kepada makhluk, siapapun orangnya, dalam berdoa (meminta) dan (ibadah) lainnya, yang tidak mampu melakukannnya kecuali Allah saja. Hendaknya ia konsekuen kepada Kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Dan sebaiknya dia menjauhi para pelaku bidah dan syirik, supaya tidak terpengaruh oleh mereka, kemudian mengikuti amalan mereka dan akhirnya binasa serta merugi bersama mereka di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam

Cara Mendekatkan Diri Kepada Tuhan

Sajadah Muslim ~ Allah SWT telah melebihkan manusia dari semua makhluk yang lain, memberinya keistimewaan nikmat berbicara, dan menjadikan lidah sebagai alat berbicara tersebut. Nikmat berbicara ini bisa digunakan baik dalam kebaikan ataupun kejelekan. Siapa saja mempergunakan nikmat tersebut untuk kebaikan maka akan menghantarkannya kepada kebahagiaan dunia dan derajat yang utama di akhirat, dan siapa saja menggunakannya selain untuk itu, maka ia akan membawanya kepada kehancuran di dunia dan akhirat. Sebaik-baik pemanfaatan waktu setelah membaca Al-Quran adalah berdzikir kepada Allah SWT.


Keutamaan Dzikir banyak sekali hadist yang menerangkan tentang keutamaan dzikir, di antaranya sabda Rasulullah SAW : “Maukah aku kabarkan kepada kalian, amal kalian yang terbaik dan tersuci di sisi Penguasa kalian (Allah), serta tertinggi dalam derajat kalian, juga lebih baik bagi kalian dibandingkan berinfak dengan emas dan uang, dan lebih baik bagi kalian dari pada bertemu musuh kemudian kalian memenggal leher mereka dan mereka memenggal leher kalian. “Mereka menjawab, “Tentu, Ya Rasulullah SAW”, Beliau pun bersabda, “Berdzikir kepada Allah Ta’ala” (HR. Tirmidzi).

Baca juga : 
Sabda Rasulullah SAW : “Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya bagaikan orang hidup dengan orang mati” (Muttafaq’ Alaihi). Firman Allah SWT dalam hadist Qudsi : “Aku menurut prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya apabila dia mengingat-Ku. Bila dia mengingat-Ku pada dirinya maka Aku mengingatnya pada diri-Ku, dan jika dia mengingat-Ku pada suatu kelompok maka Aku mengingatnya pada kelompok yang lebih baik dari mereka. Jika dia mendekat satu jengkal kepada-Ku maka Aku akan mendekat satu hasta kepadanya, jika dia mendekat satu hasta kepada-Ku Aku akan mendekat kepadanya satu depa” (HR. Bukhari).

Sabda Rasulullah SAW : “Telah mendahului mufarridun”. Para sahabat bertanya, “Siapakah mufarridun itu ?” Beliau bersabda, “Yaitu kaum lelaki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah” (HR. Muslim).

Sabda Rasulullah SAW ketika menasihati salah seorang sahabat beliau : “Hendaknya lidahmu selalu basah dengan berdzikir kepada Allah” (HR. Tirmidzi).

Hal-Hal Yang Membatalkan Keislaman

Sajadah Muslim - Assalamu Alaikum wr wb. Perlu diketahui bahwa ada beberapa hal yang dapat membatalkan Keislaman seseorang, dan yang paling banyak terjadi ada sepuluh macam yang wajib dihindari yaitu :

Mempersekutukan Allah dalam Ibadah

Allah SWT berfirman : "Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan baginya surga dan tempatnya (kelak) adalah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”. Dan diantara perbuatan syirik tersebut ialah berdoa dan memohon pertolongan kepada orang-orang yang telah mati, begitu pula bernazar dan menyembelih kurban demi mereka."

Berdoa kepada selain Allah atau Perantara-Nya

Barangsiapa yang menjadikan sesuatu sebagai perantara antara dirinya dengan Allah, berdoa dan memohon syafa’at serta bertawakkal kepada perantara tersebut maka hukumnya kafir menurut kesepakatan para ulama (ijma’).

Tidak Mengkafirkan Orang-Orang Musyrik

Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik atau ragu akan kekafiran mereka atau membenarkan paham (mahzab) mereka, maka dengan demikian dia telah kafir.

Berkeyakinan Kepada Thaghut dan Mengenyampingkan Hukum Rasulullah SAW

Barangsiapa yang berkeyakinan bahwa selain tuntunan Nabi Muhammad SAW itu lebih sempurna atau selain ketentuan hukum beliau lebih baik, sebagaimana mereka yang mengutamakan aturan-aturan manusia yang melampaui batas lagi menyimpang dari hukum Allah (aturan-aturan Thaghut), dan mengenyampingkan hukum Rasulullah SAW, maka yang berkeyakinan seperti itu adalah kafir. Contoh :
  1. Berkeyakinan bahwa aturan-aturan dan perundang-undangan yang diciptakan manusia lebih utama dari pada syariat Islam atau berkeyakinan bahwa aturan Islam tidak layak untuk diterapkan pada abad modern ini, atau berkeyakinan bahwa Islam adalah sebab kemunduran kaum Muslimin, atau berkeyakinan bahwa Islam itu khusus mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya saja, tidak mengatur segi kehidupan lain. 
  2. Berpendapat bahwa melaksanakan hukum Allah seperti memotong tangan pencuri, atau merajam pelaku zina yang telah kawin (muhshan) tidak cocok lagi dengan zaman sekarang. 
  3. Berkeyakinan bahwa boleh menggunakan selain hukum Allah dalam segi mu’amalat Syariah (seperti perdagangan, sewa menyewa dsb), atau dalam hukum pidana, atau lainnya, sekalipun tidak disertai dengan keyakinan bahwa hukum-hukum tersebut lebih utama dari Syariat Islam. Karena dengan demikian berarti ia telah menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah menurut kesepakatan para ulama (ijima’) sedangkan setiap orang yang menghalalkan apa yang sudah jelas dan tegas diharamkan oleh Allah dalam agama, seperti berzina, minum khamar (segala minuman yang memabukkan), riba dan menggunakan undang-undang selain Syariat Allah, maka ia adalah kafir menurut kesepakatan para ulama (ijima’).

Tidak Menyukai Syariat Rasulullah SAW

Barangsiapa yang membenci sesuatu yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW sebagai syariat beliau, sekalipun ia ikut mengamalkannya, maka ia menjadi kafir, karena Allah SWT berfirman : "Demikian itu adalah dikarenakan mereka benci terhadap apa yang diturunkan oleh Allah, maka Allah menghapuskan (pahala) segala amal perbuatan mereka".

Mengolok-Olok Allah, Kitab-Nya, dan Rasul-Nya

Barangsiapa yang mengolok-olok Allah, atau Kitab-Nya, atau Rasul-Nya, atau sesuatu yang merupakan ajaran agama-Nya, maka ia menjadi kafir, karena Allah SWT telah berfirman : "Katakanlah (wahai Muhammad) : "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok ? Tidak usah kamu minta maaf. Karena kamu telah kafir setelah beriman".

Mengamalkan Ilmu Sihir

Sihir, diantaranya adalah ilmu guna-guna atau santet (sharf) yaitu merubah kecintaan seorang suami kepada istrinya menjadi kebencian, begitu juga ilmu pekasih (‘athf) yaitu menjadikan seseorang mencintai sesuatu yang tidak disenanginya dengan cara-cara syetan. Maka barangsiapa yang mengerjakan hal-hal tersebut, atau senang dan rela dengannya berarti ia telah kafir, karena Allah berfirman : "Sedangkan kedua Malaikat itu tidak mengajarkan (suatu sihir) kepada seorangpun sebelum mengatakan, sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir".

Menjadikan Kaum Musyrik teman dan Menjauhi Kaum Muslimin

Membantu dan menolong orang-orang musyrik untuk memusuhi kaum Muslimin, karena Allah berfirman : "Dan barangsiapa di antara kamu mengambil mereka (Yahudi dan Nasrani) menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim".

Tidak Mengikuti Syariat Nabi Muhammad SAW

Barangsiapa yang berkeyakinan bahwa sebagian manusia diperbolehkan tidak mengikuti syariat Muhammad SAW, maka ia adalah kafir, karena Allah berfirman : "Barangsiapa yang mencari Agama selain Agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi".

Berpaling Dari Agama Allah

Berpaling dari agama Allah atau dari hal-hal yang menjadi syarat mutlak sebagai Muslim dengan tanpa mempelajarinya dan tanpa mengamalkannya, karena Allah berfirman : "Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah di peringatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling dari padanya ? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa". Dan Allah juga berfirman : "Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka".

Dalam hal-hal yang membatalkan keislaman ini, tidak ada bedanya antara yang main-main dan yang sungguh-sungguh sengaja melanggar dan yang karena takut terkecuali yang dipaksa. Kita berlindung kepada Allah dari hal-hal yang mendatangkan kemurkaan-Nya dan kepedihan siksa-Nya. Sekian, Wassalamu Alaikum wr wb..
 
Back To Top