Membahas Tentang Seputar Ilmu Agama Islam

Al-Quran ‘Sop’ Kebangkitan Islam

Sajadah Muslim ~ 23 tahun dakwah Nabi Muhammad saw, dilaksanakan, Allah membimbing kaum muslimin sehingga meraih kemenangan karena  Al-Qur’an dijalankan.

Tak dipungkiri saat ini kaum muslimin tengah berada pada posisi terbelakang. Nyaris dalam segala aspek berada di bawah kungkungan musuh-musuh Islam. Mulai dari politik, ekonomi, budaya dan seterusnya.


Begitu sulit umat Islam untuk menentukan sikap keagamaan, rongrongan terus digalakkan. Jangankan di negara-negara yang notabene minoritas muslim, seperti di Eropa. Di negara mayoritas saja, seperti di Indonesia, nampak ruang geraknya sangat terbatas. 

Masih kita temui, ada saja sekelompok orang yang melarang pemeluk agama hanif ini menjalankan syariat secara kafah. Umpama, melarang menggunakan jilbab, mencegah melaksanakan shalat secara berjamaah dan sebagainya.

Bila ada yang menuntut penegakan syariat  secara konstitusional, langsung di labeli sebagai anti Pancasila, ke binekaan, bahkan teroris.    

Kondisi lebih memprihatinkan yang menimpa saudara seiman di Palestina, Suriah, Burma, Uighur dan sebagainya. Mereka diusir, bahkan dibunuh oleh musuh-musuh Islam, tanpa adanya pembelaan nyata dari negara-negara dan lembaga-lembaga Internasional khususnya yang kerap menyuarakan Hak Asasi Manusia (HAM).

Pada intinya, apa yang terpapar di atas adalah cermin kekinian kaum muslimin. Ketidakberdayaan menghadapi hegemoni musuh menjadi realitas nyata yang tak terbantahkan.

Tuntunan Sejarah

Jas merah (jangan melupakan sejarah) demikianlah ungkapan Bapak Proklamator Indonesia, Ir Soekarno, untuk menggambarkan pentingnya peranan sejarah bagi masa depan suatu bangsa.

Islam sendiri memiliki perhatian tinggi terhadap sejarah. Terbukti, sepertiga dari isi Al-Qur’an memuat ‘tema’ ini. Di kisahkan orang-orang yang taat kepada Allah, seperti para Nabi dan Rasul, dan juga disampaikan kisah para penentang, misalnya Fir’an dan Qarun, semua untuk dijadikan pelajaran.

Pada masanya sejarah pernah mencatat Islam berjaya hingga ratusan abad lamanya. Luas kekuasaannya sampai menembus dataran Eropa dan Afrika, tapi jangan lupa, pra-masa kejayaan itu, kaum muslimin juga pernah dinaungi oleh intimidasi yang luar biasa besarnya khususnya pada awal terbitnya ‘mentari’ Islam di bumi Makkah.

Bukan main cobaan yang menimpa kaum muslimin saat itu. Harta dan nyawa menjadi taruhannya. Tidak sedikit yang terampas hak-hak kemanusiaannya oleh mereka yang merasa berkuasa. Hingga akhirnya mereka memilih keluar, terusir dari negeri mereka sendiri, menuju daerah lain demi menyelamatkan iman yang telah dikandung badan.

Lalu bagaimana proses kejayaan itu diperoleh? Melalui perantara tuntunan wahyu yang berupa Al-Qur’an lah, akhirnya kaum muslimin bisa keluar dari kenestapaan itu. Selama 23 tahun secara bertahap, Allah membimbing kaum muslimin untuk meraih kemenangan.

Karena berpijak pada tuntunan wahyu ini, sejak awal kedatangannya kaum muslimin telah menduduki posisi yang tinggi di mata lawan, meski secara status sosial, mereka saat itu tertindas.

Hanya fisik yang mengalami kepayahan, tapi jiwa mereka merdeka, mulia, karena kebanggaan dan keyakinan nan tinggi pada agama ini (Al-Qur’an).

Mengapa ? Karena yang dijadikan rujukan diplomasi umat Islam adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an mencegah kaum muslimin untuk membarter iman dengan dunia. Itu adalah perniagaan yang sangat murah di sisi Allah.

Dalam kasus ini, kita lihat skor kemenangan ada pada pihak kaum muslimin karena mereka tidak mau di dikte. Semakin tinggilah kedudukan umat Islam. Di lain pihak, tunduk malulah musuh karena ditolak mentah-mentah tawaran yang diberikan.

Demikianlah gaya hidup seorang muslim dan pemimpin dalam Islam Al-Qur’an (dan As-Sunnah) menjadi barometer setiap keputusan yang akan diambil, sehingga kemuliaan meliputinya. Hakekat Islam itu “ya’luu wa laa yu’laa alaihi” (Unggul dan tidak ada yang mengunggulinya).

Proses-proses inilah yang seharusnya menjadi kajian segenap kaum muslimin yang merindukan kebangkitan Islam. Tidak ada jalan pilihan lain, kecuali kembali pada al-Qur’an. Hanya jalan ini yang akan mampu mengembalikan Islam (kaum muslimin) pada posisi yang semestinya, unggul di atas peradaban lain. Atau bahasa karenanya SPO ( Standart Operating Procedure).

Sebagaimana kata Umar bin Khathab, “Kita adalah umat yang oleh Allah SWT dimuliakan dengan Islam, maka bagaimana pun jika kita mencari kemuliaan dengan yang lain, maka Allah akan memberi kehinaan pada kita.”  Wallahu A’lam.”

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup

Trilogi Sukses Menurut Al-Qur’an

Sajadah Muslim ~ Keyakinan orang beriman, al-Qur’an adalah wahyu Allah yang berisi panduan hidup manusia.

Permasalahan hidup apapun niscaya ada petunjuk-Nya dalam al-Qur’an. Sebagai mukjizat, ia melintasi ruang dan waktu dalam hidup manusia. Kebenarannya adalah mutlak dan berlaku abadi sejak pertama kali diturunkan di Gua Hira Makkah, hingga hari kiamat kelak.


Termasuk ketika bicara kesuksesan hidup manusia, al-Qur’an pasti menerangkan hal itu, mulai dari pengertian sukses, ciri-cirinya, hingga tantangan dan cara meraih impian manusia tersebut. Semuanya jelas termaktub dalam kitab suci umat Islam misalnya firman Allah. “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga) maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (Al-Lail ayat 5-7)

Ayat di atas merumuskan kaidah baku seorang Muslim dalam meraih kesuksesan, kelapangan, atau kegemilangan hidup. Bahwa hidup itu bisa dikatakan sukses jika memenuhi setidaknya 3 (tiga) syarat yang dimaksud. Yaitu, gemar berbagi kepada sesama, memiliki iman dan takwa, dan meyakini adanya balasan surga di hari Akhirat.

Di tegaskan sekali lagi, kegemaran berbagi hendaknya dilandasi oleh iman yang menggerakkan. Kepeduliannya merupakan buah dari seruan iman yang menggema di setiap pikiran dan perilakunya sehari-hari. Ia adalah mindset yang terpatri dalam lubuk seorang Muslim. Suka berbagi adalah pokok dari kehidupan umat Islam. Berbagai berarti menolong dan meringankan beban sesama manusia. Mewujudkan rasa syukur kepada Allah, sekaligus menumbuh suburkan ukhuwah imaniyah di kalangan kaum Muslimin.

Sebaliknya, berbagi tidak boleh sekadar menuruti style atau trand sekejap saja. Ia juga bukan untuk pencitraan atau mengejar rating dan followers semata. Berbagi bukanlah pekerjaan musiman demi keuntungan profit materi, jika itu terjadi dijamin  satu saat orang itu pasti kecewa dan biasanya hal itu tidak akan bertahan lama. Sebab dorongannya sebatas materi dan urusan dunia. Semuanya bersifat sementara dan jiwa manusia cenderung tak akan pernah puas.

Penting dipahami, ajakkan berbagi tidak dibatasi oleh lingkup harta atau materi saja. Kontribusi tersebut juga bisa disalurkan melalui berbagi ilmu dan wawasan, berbagi waktu, berbagi tenaga, berbagi pengalaman dan sebagainya.

Ini diperlukan untuk saling memberi dan menerima, saling sinergi dan menyatukan potensi yang berserak. Disadari, umat Islam sebenarnya memiliki banyak kebaikan yang belum dioptimalkan. Akibatnya mereka belum mampu bersatu dan menyatukan kekuatan yang ada.  

Kedua, ketakwaan, bisa dikata, puncak dari seluruh amal ibadah yang dipersembahkan manusia adalah untuk meraih derajat takwa disisi Allah. Takwa menjadi penanda dari  apa yang kelak di dapatkan manusia dari semua perbuatannya. Baik buruknya amalan tergantung, kepada nilai takwa yang menyertainya. Ia merupakan pondasi utama seluruh persoalan manusia ibarat kunci, takwa bisa menyingkap  tabir yang selama ini menyelimuti hidup manusia. Ia sebagai jaminan solusi dan syarat turunnya pertolongan Allah.

Dikatakan, ajaran Islam ialah mencakup dua hal utama, kemurnian dalam beribadah (ikhlas) dan kebaikan terhadap sesama manusia (insan). Tak heran di sejumlah ayat, dua perintah ini senantiasa bergandengan dalam al-Qur’an. 

Antara keimanan dan amal shaleh keduanya menjadi senyawa yang tak terpisahkan. Ada hubungan yang saling terkait, bahwa amalan dan gemar berbagi kebaikan merupakan buah dari keimanan. Sebagaimana cara merawat keimanan dengan istiqomah  melaksanakan ketaatan  demi kebaikan itu sendiri.

Terakhir, syarat meraih sukses hidup adalah keyakinan kepada adanya surga dan neraka. Inilah paradigma hebat orang beriman, ia tidak mampu dijangkau kecuali dengan meyakini adanya  Yaumul Hisab (hari Pembalasan) di Akhirat kelak.

Sehingga sepintar dan sehebat apapun orang tersebut, tetap saja tidak bisa menandingi kecerdasan dan kesuksesan hidup seorang  Muslim.

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup

Yuk Semangat Membaca Al-Qur’an

Sajadah Muslim ~ Jika ada bacaan yang kalau mata, akal dan hati manusia membaca dan jiwanya merasa tenang, tenteram, bahkan tercerahkan maka bacaan itu adalah Al-Qur’an. Sangat rugi jiwa yang dalam 24 jam tidak disirami oleh bacaan Al-Qur’an.


Rasulullah Saw, bersabda, “Siapa saja yang membaca Al-Qur’an, kemudian menganggap ada seseorang yang diberi sesuatu yang lebih utama dari pada apa yang telah diberikan kepadanya dari membaca Al-Qur’an itu, berarti ia menganggap kecil apa yang dianggap besar oleh Allah Ta’ala.” (HR. Thabran)

Hadits itu menunjukan bahwa besar kecilnya jiwa seseorang. tergantung pada bagaimana ia memahami, meletakkan dan memperioritaskan Al-Qur’an  di atas segalanya. Baik dalam konteks  dibaca sebagai  ibadah, direnungkan sebagai pedoman, maupun digali dan dipelajari sebagai petunjuk.

Imam Ghazali dalam ihya’ Ulumuddin memberikan penjelasan lebih menarik lagi. “Al-Qur’an adalah nur atau cahaya, di dalamnya  kita temukan matahari bagi penyakit jiwa Allah Ta’ala membinasakan orang yang menentang dan membangkang terhadap aturan yang terdapat di dalamnya. Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang mencari pengetahuan selain dari petunjuk Al-Qur’an.

Amru bin Ash ra berkata. “Setiap ayat dari Al-Qur’an adalah satu pintu menuju surga dan seberkas cahaya dalam rumahmu?”

Di masa Nabi seluruh sahabat adalah orang yang gemar dengan Al-Qur’an. Dalam 24 jam mereka tak pernah lepas dari Al-Qur’an. Kedekatan mereka dengan Al-Qur’an benar-benar luar biasa. Pertanyaannya mengapa demikian?

Seorang pakar tafsir. DR Ahmad Hatta, memberikan penjelasan bahwa ada  tiga rahasia yang menjadikan mereka mendapat capaian yang sangat banyak.

Rahasia pertama, mereka tidak punya referensi lain kecuali Al-Qur’an. Apabila ada permasalahan maka selalu merujuk pada Al-Qur’an. 

Baca juga:

Rahasia kedua, para sahabat menganggap Al-Qur’an  adalah komando dan tidak ada alasan untuk menolak perintah tersebut.

Rahasia ketiga, mereka tidak membaca Al-Qur’an kecuali dengan mentadabburinya.

Sekarang kita banyak bacaan, sampai-sampai membaca Alqur’an pun tidak lagi sempat, apalagi merenungkan dan mentadabburinya. Oleh karena itu, ini saatnya kita kembali bahwa bacaan terbaik bagi kita adalah Al-qur’an.

Sofyan Ats-Tsauri, seperti dikutib Imam Ghazali dalam ihya Ulumuddin mengatakan. “Ketika  seseorang membaca Al-Qur’an, malaikat akan datang dan mencium keningnya.” Tidakkah kita  kemuliaan ini Allah hadirkan untuk kita? Mari gemar membaca Al-Qur’an.

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup


Bahaya Berpaling Dari Al-Qur’an

Sajadah Muslim ~ “Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Allah Yang Maha Pemurah (al-Qur’an) Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan), maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.”


Menyikapi kebenaran kandungan al-qur’an adalah pilihan bagi setiap manusia. Ia bebas menjatuhkan pilihan sekaligus siap menanggung risiko. Dalam al-Qur’an pilihan itu disebut “imma syakiran wa imma kafuran”. Apakah manusia tersebut menjadi orang yang bersyukur atau memilih tergolong ingkar dan tak tahu diri terhadap nikmat Tuhan.

Ayat di atas mengurai sekaligus mengingatkan akibat berpaling dari ajaran al-Qur’an. Ketika orang lain mempelajarinya atau tidak peduli dengan tuntunan yang di syariatkan, niscaya ia dijauhkan dari kenikmatan iman serta ukhuwah.

Akibatnya, ia gelisah kala berinteraksi dengan al-Qur’an, mereka malah dicekoki dengan kenyamanan bersahabat dengan setan yang jelas musuh nyata bagi orang-orang yang beriman.

Makna Ayat

Menurut ahli tafsir terkenal, Abdurrahman as-Sa’di dzikru Rahman, tak lain adalah al-Qur’an sebagai pemandu hidup orang-orang beriman. Bagi setiap Muslim al-Qur’an adalah rahmat terbesar yang diberikan oleh Yang maha Penyayang, kepada segenap hamba-Nya.

Hendaknya mereka meyakini Islam sebagai satu-satunya jalan hidup dan al-Qur’an adalah sebaik-baik hadiah dari Allah. Sebab di sana terbentang jalan menuju kebahagiaan dan keberkahan hidup di dunia dan akhirat.

Sebaliknya, jika berpaling dari al-Qur’an dan mengabaikan ajarannya, menjadi awal segala kesengsaraan hidupnya kelak. Pikirannya terbuai dalam angan-angan kosong yang dijanjikan  oleh setan. Sedang dirinya tenggelam dalam kubang maksiat kepada Allah.

Senada di atas, az-Zujai seperti dihimpun oleh asy-Syaukani dalam Tafsir  Fathu al-Qadir berkata, siapa di antara dari mempelajari hikmah yang terkandung di dalamnya  niscaya Allah timpakan kepadanya pertemanan dengan setan.

Layaknya sekawan yang karib, orang itu tak lagi berjarak dengan setan yang sesungguhnya biang dari segala keburukan dan kesengsaraan dunia akhirat. Karena telanjur akrab, alih-alih mampu menolak, jiwa yang  sudah tertipu itu tak sungkan lagi menuruti segala bisikan yang membuatnya terjerat dalam perangkap jahat setan.

Oleh Allah, orang itu kelak mendapatkan hukuman yang setimpal dan penyesalan tiada berbatas, “Berkatalah salah seorang di antara mereka. “Sesungguhnya aku dahulu di dunia mempunyai seorang teman yang berkata. Apakah kamu  sungguh-sungguh termasuk orang –orang yang membenarkan hari Kiamat? Apakah jika kita telah mati dan menjadi tanah dan tulang belulang? Apakah sesungguhnya kita benar-benar akan dibangkitkan untuk diberi pembalasan?

Berkata pulalah ia, Maukah kamu meninjau temanku itu?. Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu ditengah-tengah neraka menyala-nyala. Ia berkata pula. “Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku. Jikalau tidaklah karena nikmat. Tuhanku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret ke neraka.” (Ash-Shaffat ayat 51-57).

Berteman Dengan Al-Qur’an

Ayat tersebut menerangkan makna menarik berupa korelasi  sebab-akibat. Seorang hamba yang menjauh dari  al-Qur’an justru kian mendekatkan dirinya kepada setan. Layaknya sebuah promosi gratis musuh Allah itu dengan senang hati berkawan kepada manusia-manusia yang diliputi kegalauan jiwa.

Tak tanggung-tanggung ikatan mereka langsung menjadi hubungan spesial yang dinamai qarin. Sebuah nama untuk persahabatan yang dekat dalam istilah al-Qur’an.

Disaat yang sama, orang yang sudah punya hubungan karib dengan setan, pastinya merasakan kegelisahan saat berhadapan dengan cahaya al-qur’an. Alih-alih bisa larut dalam pesona mukjizat al-Qur’an, orang yang berkawan dengan setan itu justru terbakar oleh cahaya yang dipancarkan wahyu Allah itu.

Untuk itu, ayat ini bisa menjadi bahan uji sederhana terhadap kualitas keimanan seseorang. Apakah ia mampu merasakan atmosfir keteduhan jiwa melalui sentuhan al-Qur’an ataukah sebaliknya, justru aura kegelisahan itu yang kian tampak mengusai dirinya? Apakah orang itu lebih betah melewatkan waktu luangnya dengan membaca al-Qur’an atau memilih tenggelam selama berjam-jam hanya dengan perbuatan sia-sia bahkan mengandung dosa?

Bahaya Islam Phobia

Lebih jauh Ahmad bin Musthafa al-Maraghi mengurai dampak yang sangat dahsyat dari sikap menyepelekan al-Qur’an. Menurutnya, orang yang berani mengabaikan syariat  agama dan tenggelam dalam kelezatan dunia.

Allah menjadikan dirinya terbelunggu oleh tipu daya setan. Saban waktu pikiran orang tersebut hanya dijejali oleh pesona syahwat dunia dan materi yang melenakan.

Menurut pengarang Tafsir al-Maraghi tersebut, ketika hal itu menimpa orang yang  terjangkiti virus anti al-Qur’an mendadak berubah menjadi sosok Islam phobia. Ia berbalik arah menjadi orang terdepan yang menentang ajaran al-Qur’an dan syariat Islam. Setiap waktu ia justru larut dalam diskusi pemikiran dan perilaku yang merugikan serta menyakiti umat Islam.

Di katakan ibarat seekor lalat yang suka hinggap di berbagai kotoran atau lingkungan yang jorok, orang yang berpaling dari al-Qur’an itu hanya melahirkan keburukan dan maksiat kepada Allah. Atas nama pembaharuan agama misalnya mereka justru telah menistakan kesucian agama dengan cara berpikir yang nyeleneh.

Boleh jadi inilah yang terjadi bagi sekelompok masyarakat yang kini dikenal dengan pemuja aliran sipilis (Sekularisme, Pluralisme, dan liberalisme). Meski kelompok itu datang mengatasnamakan gerakan Islam pembaharuan, tetapi sebenarnya mereka datang dengan racun pemikiran yang berbahaya buat umat Islam.

Faktanya, dengan karunia nalar yang diberikan oleh Allah mereka justru berusaha mengobok-ngobok  ajaran Islam. Silih berganti syuhbat dan syahwat merekam hembus kepada umat Islam hanya untuk mengaburkan nilai-nilai al-Qur’an. Ironis karena yang demikian itu bukan karena tak pagham dengan ajaran Islam, sebab tak sedikit diantara mereka berlatar akademisi, bahkan tergolong cendekia yang punya segudang ilmu pengetahuan.

Alhasil, tak ada alasan menunda untuk mengaca kembali kepada hikmah yang dikandung dalam al-qur’an. Sebab di sana ada telaga jernih tempat hati bercermin mematut diri kembali. Boleh jadi jiwa ini tak mampu merasakan kenikmatan membaca al-Qur’an bersebab kotoran yang melekat di dalam hati. Boleh jadi hati ini keras karena mulai berpaling dari dakwah dan syariat yang digariskan oleh Allah. Mahasiswa Pasca Sarjana Jurusan Pemikiran Islam Universitas Ibn Khaldun (UIKA ) Bogor.!!!!

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup


10 Amal Batin Membaca Al Quran Di Bulan Ramadhan

Sajadah Muslim ~ Menurut Imam al-Ghazali, fungsi  spesial dari al-Qur’an hanya dapat dicapai jika seseorang menyertakan adab-adab batin setiap kali membacanya. Sufi Al-Ghazali  memaparkan sepuluh amal batin yang selayaknya diterapkan seorang hamba jika ia ingin hubungannya dengan al-Qur’an  tak menjadi satu hubungan yang sia-sia.

Memahami Keagungan dan Ketinggian al-Qur’an dalam Hati

Al-Qur’an adalah kalam Khalik yang kokoh, cahaya yang nyata yang tak  bercampur kebatilan dari depan dan belakangnya. Dialah perkataan Rabb semesta alam yang dilapalkan dengan sangat pribadi dalam ketinggian-Nya kepada tiap-tiap hambanya, selayaknya sepucuk surat. Al-Qur’an juga karunia serta Kasih-Nya kepada makhluk dengan diturunkannya ayat-ayat suci itu dari Arsy Kemuliaan-Nya ke dunia makhluk hingga kita berkesempatan bertemu dengannya.

Mengagungkan Zat yang Berfirman, Yakin Allah swt

Ketika mulai membaca al-Qur’an, seseorang hendaknya menghadirkan keagungan Allah di dalam hatinya. Memahami betul bahwa yang ia baca bukanlah perkataan manusia seraya merasuki sifat-sifat Zat yang berfirman yang Maha Adil, Maha Suci, dan Maha Pengasih dan Pengampun bagi seluruh makhluk-Nya dari yang terkecil hingga terbesar, dari yang tampak mulia dan tampak hina di mata kita.

Membaca dengan Berkonsentrasi

Sebagian ulama terdahulu jika membaca ayat al-Qur’an dan ayat tersebut tak hadir dalam dirinya maka ia akan mengulangi lagi bacaan itu. Bisikan-bisikan hati dan kilatan-kilatan pikiran yang kadang melintas sedapat mungkin dihilangkan.

Baca juga :

Tadabbur Hati

Tadabbur hati tak lain adalah merenungkan makna-makna yang terkandung di dalam al-Qur’an tersebut. Point ini adalah langkah berikut dari adab yang ketiga. Setelah menghadirkan hati hingga tak ada hal lain yang melintas di batin maka hal itu mesti dilanjutkan dengan langkah maju ke dalam seperti  majunya seseorang memasuki sebuah taman dan memperhatikan setiap bunga indah yang bermekaran, lahan-lahan ( tartil ) karena tartil secara zahir dapat membantu tadabbur dengan batin. Ali Bin Abi Thalib berkata: “Tak ada kebaikan pada ibadah yang tak disertai pemahaman dan tak ada kebaikan pada bacaan tanpa melakukan tadbbur di dalamnya.”

Tafahhum

Tafahhum adalah mencari kejelasan dari setiap ayat secara tepat karena al-Qur’an menyebutkan sifat-sifat Allah, berbagai perbuatan-Nya yang menunjukkan kekuasaan serta kasih-Nya kepada setiap makhluk. Menceritakan ihwal pada Nabi serta yang terpenting adalah memaparkan perintah serta  larangan-Nya yang dialamatkan bagi kita. Tafahhum ini tak lain adalah meraih pemahaman tentang setiap hikmah dan kandungan yang dimiliki al Qur’an yang akan kita bawa dalam kehidupan kita sampai ajal menjemput. Tafahhum juga adalah langkah menyibak rahasia al-Qur’an yang terpendam yang tak akan tersingkap kecuali dengan taufik dan hidayah-Nya. Ibnu Mas’ud berkata: “Barang siapa yang menghendaki ilmu orang-orang terdahulu dan ilmu orang-orang kemudian hendaklah ia mendalami al-Qur’an.”

Menghilangkan Hambatan

Karena tujuan membaca al-Qur’an memperoleh pemahaman maka menjadi adab batin yang ke enam menghindarkan hambatan-hambatan bagi memperoleh kepahaman tersebut. Menurut Said Hawwa, kebanyakkan kita tidak dapat memahami makna-makna al-Qur’an karena beberapa sebab dan penghalang yang dipasang oleh setan pada hati kita. Penghalang itu di antaranya perhatian yang hanya tertuju kepada pengucapan huruf-huruf hingga pemahamannya hanya sampai pada tempat-tempat keluarnya huruf saja. Terus menerus melakukan dosa dan bersikap angkuh dalam hati juga dapat menghalangi seseorang memahami al-Qur’an. Sedang faktor lain yang disebut Said Hawwa adalah keyakinan sebagian orang bahwa makna al-Qur’an sudah tertentu dan terpatok menurut ahli-ahli tafsir dalam buku-bulu mereka.

Takhshish

Selanjutnya adab ketujuh adalah takhshish, yaitu menyadari bahwa dirinyalah sasaran pembicaraan yang ada di dalam al-Qur’an itu. Al-Qur’an tak berkata-kata kepada benda mati, tak berkata pada gunung, samudera atau atap  langit. Al-Qur’an berbicara kepada kita dengan penuh seluruh. Setiap perintah dan larangan yang terkandung di dalamnya adalah untuk kita, bukan untuk yang lain. Setiap kisah yang tertera dalam al-Qur’an  juga semata-mata dikisahkan untuk kita secara pribadi dan intim agar bisa kita memetik hikmahnya.

Ta’atsur

Ta’atsur yaitu terpengaruh dengan beragam kesan sesuai dengan beragam ayat yang dihayatinya. Apa yang dipahami dan ia tangkap setelah membaca al-Qur’an itulah yang membekas di kalbunya dan menghadirkan rasa takut, sedih, harap, juga syukur dan lainnya. Al-Hasan berkata, “Demi Allah, pada hari ini tidaklah seorang hamba membaca al-Qur’an dengan mengimaninya kecuali ia akan banyak menangis dan sedikit tertawa dan berlipat amalnya.”

Taraqqi

Meningkatkan penghayatan terus menerus dalam membaca al-Qur’an merupakan pengertian dari Taraqqi, sebagai adalah adab batin yang kesembilan. Tingkatan ini mesti terus ditingkatkan hingga mencapai tingkatan layaknya mendengarkan al-Qur’an langsung dari Allah. Inilah tingkatan membaca al-Qur’an dalam getar tertinggi serta puncak kelezatannya. Para sufi mendambakan sekali dapat merasakan hal ini kerana itulah salah satu tanda-tanda bagi kekasih Allah.

Tabarri

Adab  yang kesepuluh  atau yang terakhir adalah tabarri. Said Hawwa menjelaskan adab batin ini dengan menyebut bila seseorang membaca ayat-ayat janji dan pujian bagi orang shaleh maka orang itu akan berhias diri  dan memperbaiki amalnya agar ia termasuk  golongan orang yang mendapat pujian itu. Sedang apabila ia membaca ayat ancaman dan hinaan bagi orang-orang yang kufur maka ia merasa cemas seakan-akan menyaksikan dirinya termasuk  dalam golongan orang yang dikecam tersebut. Perasaan-perasaan ini semuanya bermuara pada kedekatan bersama Allah. Harapan agar ia termasuk golongan shaleh memicu dirinya terus memperbaiki diri dengan amal yang disukai-Nya dan kecemasan bahwa dirinya termasuk orang-orang yang durhaka membuatnya bertaubat serta manjauhi kekufuran dan kezaliman diri.

Adab-adab batin ini sekiranya penting untuk dipraktekkan agar cahaya suci al-Qur’an bisa merasuk  ke dalam kalbu dan membuat hari-hari di bulan Ramadhan yang dilalui menjadi indah dan bermakna.

Sumber : Majalah Hidayah Penerbit PT. Variasari Malindo

Bila Ayat Al Quran Di Baca Dengan Langgam Berbeda

Sajadah Muslim ~ Pembacaan al-Qur’an dengan langgam Jawa saat peringatan Isra Mi’raj beberpa waktu lalu di Istana negara sempat menuai kontroversi. Tidak sedikit orang yang terkejut saat mendenagarnya. Pasalnya, lantunan ayat al-Qur’an yang dibacakan oleh qari Muhammad Yasser Arafat yang juga dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menggunakan langgam Jawa.


Munculnya pambacaan al-Qur’an dengan langgam Jawa ini adalah ide menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Menteri agama mengatakan bahwa tujuan pembacaan al-Qur’an dengan langgam Jawa ungtuk menjaga dan memelihara tradisi Nusantara dalam menyebarluaskan  ajaran Islam di Nusantara.

Sayangnya, ide yang dicetuskan dalam acara besar peringatan Isra Mi’raj ini menimbulkan gelombang ketidaksetujuan. Resistensi pembacaan al-Qur’an dengan langgam Jawa tersebut cukup besar. Tidak sedikit masyarakat yang kemudian bertanya sekaligus menganologikan bagaimana  kalau lagu  Indonesia Raya saat acara kenegaran dinyanyikan dengan langgam Jawa atau budaya yang lain? Apakah orang Indonesia bisa menerima atau tidak?

Dianjurkan dengan Lahjah Arab

Mungkin bagi sebagian orang yang sudah terbiasa mendengar lantunan ayat-ayat al-Qur’an dengan langgam  budaya setempat menganggapnya tidak masalah. Hal biasa yang tidak perlu dipersoalkan. 

Tetapi tidak  bagi kebanyakkan orang yang lazim pembacaan al-Qur’an  biasanya  dengan lahjah Arab. Sehingga ketika di sebuah peringatan Isra Mir’aj yang dihadiri oleh  para petinggi negeri dibacakan lantunan  al-Qur’an  berlanggam lain sontak banyak  orang terpengaruh. Ini dianggap sebuah laku nyeleneh.

Karena itu, tak ayal, sejumlah  kalangan mengkritik tajam pembacaan model seperti ini. Qari  internasional, Syaikh Abdullah bin Ali Bashfar, memberikan komentarnya mengenai qira’at dengan langgam Jawa tersebut. Sang qari internasional  setelah menyimak  bacaan al-Qur’an dengan langgam jawa tersebut mencatat  beberapa hal :

Pertama, kesalahan tajwid, dimana panjang madnya dipaksakan mengikuti kebutuhan lagu.

Kedua, ada kesalahan jahjah (logat). Sebab menurutnya, membaca al-Qur’an sangat  dianjurkan menggunakan lahjah Arab, sebagaimana orang Arab membacanya. Seperti dikatakan dalam sebuah hadits. “Iqra’ul qur’aana bi luhuunil’Arabi wa ashawaatiha.” 

Ketiga, kesalahan takalluf, yakni memaksakan untuk meniru lagu yang tidak lazim dalam membaca  al-Qur’an.

Keempat, yang cukup berbahaya apabila ada kesalahan niat, yaitu merasa  perlu menonjolkan ke Jawa-an atau ke-Indonesia-an atau kebangsaan saat berinteraksi dengan al-Qur’an. Dan yang dianggap fatal apabila ada maksud memperolok-olokkan ayat-ayat Allah yang mereka samakan dengan lagu-lagu wayang dalam suku Jawa.

Qari internasional asal negeri ini KH. Muammar ZA, pun tidak sreg pembacaan al-Qur’an dengan langgam non Arab. Kata Muammar, membaca al-Qur’an dengan langgam Jawa dan Sunda sebagai contoh, adalah cara membaca yang dilarang oleh  Nabi Muhammad saw.  Muammar juga memberikan contoh potongan-potongan bacaan al-Qur’an dalam langgam Jawa dan Sunda, jauh lebih  baik dari bacaan  Muhammad Yasser Arafat, saat membaca di Istana Negara. Pernyataan Muammar ini dapat dilihat dalam sebuah video yang diunggah ke Youtube.

Sama seperti Syaikh Abdullah bin Ali Bashfar. Muammar menukil sebuah hadits yang menyatakan bahwa Rasulullah saw memerintahkan kepada kita untuk menghiasi al-Qur’an  agar lebih  bagus lagi namun tetap harus dengan bahasa dialek dzauq serta lagu Arab.

Komentar lebih tajam datang dari Tengku Zulkarnaen, Wakil Sekretariat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Membaca al-Qur’an dengan menggunakan langgam Jawa di Istana Negara, menurutnya telah mempermalukan Indonesia di kancah internasional. Sebagaimana ditulis  Republika co.id (17/5). Tengku merasa banyak kesalahan, baik dari segi tajwid, fashahah dan lagunya.

Dalam al-Qur’an sudah dijelaskan kitab suci diturunkan dengan bahasa Arab asli. Jadi membacanya juga mesti sesuai pada saat al-Qur’an diturunkan ke bumi. Di samping itu, tambahnya lagu untuk pembacaan al-Qur’an sendiri sudah disepakati para qurra yang ada di dunia. Karena itu, lanjutnya menjadi aneh apabila al-Qur’an  dibaca dengan langgam lain.

Tajwid dan Makhraj Harus Benar

Dari dalil yang ada memang umat Islam diperintahkan membaca al-Qur’an dengan lahn dan shaut Arab. Akan tetapi tak ada dalil yang menyatakan palarangan membacanya dengan langgam lain selain Arab. Itulah  yang dijadikan alasan oleh sebagian kalangan yang menganggap  bahwa sah-sah saja melantunkan ayat-ayat al-Qur’an dengan langgam lain.

Bahkan dengan langgam non-Arab asal makhraj dan tajwidnya benar, itu tidak perlu dimasalahkan. KH. Ahsin Sakho. Muhammad. Rektor Institut Ilmu Al-Qur’an menegaskan bahwa cara membaca al-Qur’an merupakan hasil kaya seni manusia yang dirangkum dalam kalamullah. Ini tidak bertentangan dengan ajaran Islam, melainkan lahir dari seni budaya masyarakat tertentu.

Yang penting kata Ahsin, bacaan pada langgam budaya harus tetap mengacu seperti yang diajarkan Rasulullah saw dan para sahabatnya. Ahsin menjelaskan cara membaca al-Qur’an  yang mengacu pada langgam budaya Indonesia sangat diperbolehkan dan tidak ada dalil  shahih yang  melarangnya. Lebih lanjut  katanya saat  ini masyarakat Indonesia  hanya mengenal  satu pintu dalam mendengarkan cara melantunkan al-Qur’an. Seluruhnya terangkum dalam tujuh seni dalam membaca al-Qur’an yakni Bayyati, Shoba, Nahawand, Hijaz, Roast, Sika, dan Jiharka. 

Begitu pula pendapat Ketua PBNU. Maksum Machfoedz. Boleh-boleh saja asalkan sesuai  standar bacaan. Standar baca tersebut meliputi tajwid dan makhari jul huruf.  Menurut  Maksum, apabila ingin menambahkan langgam dalam bacaan al-Qur’an, tentu disesuaikan  dengan standar bacaan. Tidak boleh sebaliknya, standar bacaan yang mengikuti langgam. Sepanjang  standar dipenuhi, lanjut Makmsum, rasanya hanya ada perbedaan gaya baca atau lagu saja. Seandainya langgam tersebut diterapkan ke dalam bacaan lain seperti  shalawatan, adzan, suluk dan sebagainya yang disesuaikan dengan lagu dan tata cara ritual lokal, lanjut Maksum, itu masih diperbolehkan. Sebab itu pula yang dilakukan para pendahulu dalam menyiarkan agama Islam. Namun  pendapat mantan Wakil  Menteri  Agama  Nasaruddin Umar sedikit berbeda. Pembacaan al-Qur’an dengan langgam Jawa sebenarnya tak masalah. Menurut Nasaruddin, selama tidak  merusak tajwid intonasi, maupun makna dari al-Qur’an itu sendiri, maka penggunaan langgam Jawa tersebut tidak dilarang.

Tetapi masalah ini jadi kontroversi kata Nasaruddin, lantaran masyarakat belum terbiasa  mendengar langgam Jawa yang digunakan  untuk membaca al-Qur’an. Ia mengkhawatirkan hal ini akan mengganggu telinga masyarakat. Karena masyarakat Indonesia kalau soal agama itu sensitif.

Khilafiyah

Dari semua uraian di atas jelas pembacaan ayat al-Qur’an dengan langgam non-Arab masuk area khilafiyah (perbedaan pendapat). Ada yang tidak mempermasalahkan, dalam arti boleh-boleh  saja dengan catatan tetap mengacu pedoman membaca al-Qur’an, ada yang  sama sekali menolak. Telinga kita yang mendengar pembacaan al-Qur’an dengan bacaan lain selain Arab, mungkin akan menemukan keanehan. Berbeda dari yang biasanya kita dengar. Sehingga pertanyaan yang muncul kemudian apabila dibolehkan dengan langgam Jawa, berarti  oleh juga  al-Qur’an dinyanyikan dengan  langgam daerahnya dan negaranya, masing-masing ? Atau boleh juga dengan irama yang lebih nge-rock dangdut, seriosa atau nge-pop hiphop dan sebagainya?

Tetapi jika tidak dibolehkan, pertanyaannnya adalah adakah ketentuan baku yang melarangnya? Dasar hadits yang ada adalah anjuran membaca al-Qur’an  dengan lahjah Arab. Kalupun hadits itu dinilai shahih, bukan berarti bahwa langgam selain langgam Arab dilarang Nabi saw, menekankan dibaca dengan baik dan indah. Sehingga menurut pendapat kedua, karena tidak ada dasar yang melarangnya, maka tidak mengapa apabila  al-Qur’an dibaca dengan langgam yang berbeda selama ketentuan tajwidnya telah terpenuhi. Wallahu a’lamu bish shawab.  

Oleh Herry Munhanif

Pertolongan Al-Quran Di Alam Kubur

Sajadah Muslim ~ Dari Sa’id bin Sulaim ra, Rasulullah saw bersabda, “Tiada penolong yang lebih utama derajatnya di sisi Allah pada hari Kiamat dari pada Al-Qur’an. Bukan Nabi, bukan malaikat dan bukan pula yang lainnya.” (Abdul Malik bin Habib-Syarah Ihya).


Bazzar meriwayatkan dalam kitab La’aali Masnunah bahwa jika seseorang meninggal dunia, ketika orang-orang sibuk dengan kain kafan dan persiapan pengebumian di rumahnya tiba-tiba seseorang yang sangat tampan berdiri di kepala mayat. Ketika kain kafan mulai dipakaikan, dia berada di antara dada dan kain kafan.

Setelah di kuburkan dan orang-orang mulai meninggalkannya, datanglah dua malaikat. Yaitu Malaikat Munkar dan Nakir yang berusaha memisahkan orang tampan itu dari mayat agar memudahkan tanya-jawab. Tetapi si tampan itu berkata, Ia adalah sahabat karibku. Dalam keadaan bagaimanapun aku tidak akan meninggalkannya. Jika kalian ditugaskan untuk bertanya kepadanya, lakukanlah pekerjaan kalian. Aku tidak akan berpisah dari orang ini sehingga ia di masukkan ke dalam surga.

Lalu ia berpaling kepada sahabatnya dan berkata, “Aku adalah Al-Qur’an yang terkadang kamu baca dengan suara keras dan terkadang dengan suara perlahan. Jangan khawatir setelah menghadapi pertanyaan Munkar dan Nakir, engkau tidak akan mengalami kesulitan.”

Setelah para malaikat itu selesai memberi pertanyaan, ia menghamparkan tempat tidur dan permadani sutera yang penuh dengan bau kasturi dari Mala’il A’la (Himpunan Fadhilah Amal: 609).

Allahu akbar, selalu saja ada getaran haru selepas membaca hadits ini. Getaran penuh pengharapan sekaligus kekhawatiran. Getaran harap karena tentu saja mengharapkan Al-Qur’an yang kita baca dapat menjadi pembela kita di hari yang tidak ada pembela. Sekaligus getaran takut, kalau-kalau Al-Qur’an akan menuntut kita. Allah..... terimalah bacaan Al-Qur’an kami. Sempurnakanlah  kekurangannya.

Banyak riwayat yang menerangkan bahwa Al-Qur’an adalah pemberi syafaat yang pasti dikabulkan Allah SWT. Upaya agar mendapatkan syafa’at Al-Qur’an tentu saja dengan mendekatkan diri kepada Al-Qur’an. Salah satu cara yang sangat baik dalam “Memaksa” kita untuk dekat dengan Al-Qur’an adalah dengan menghafalkannya.

Dengan berniat menghafal Al-Qur’an hati kita seakan-akan terpanggil untuk selalu memegang Al-Qur’an. Ada tanggung jawab yang membuat kita merasa “bersalah” jika tidak memegang Al- Qur’an. Walaupun mungkin sekedar membacanya.

Pada akhirnya kita mau tidak mau “dipaksa” untuk mendekat kepada Al-Qur’an. Dapat dikatakan dengan menghafal Al-Qur’an  kita telah mengikatkan diri dengan Al-Qur’an . Sesibuk apapun kita, kita dipaksa untuk selalu dekat Al-Qur’an. Dan itu sungguh bukan termasuk “pemaksaan” yang dianiaya. Melainkan pemaksaan yang penuh kebaikan.

Semoga hadits diatas menjadi cambuk bagi kita ketika rasa malas menerpa kita. Semoga Allah swt, dengan kemulaiaan-Nya menjadikan Al-Qur’an sebagai syafa’at bagi kita, bukan sebagai penuntut kita.

Semoga Al-Qur’an menjadi “teman” bagi  kita ketika ada sesuatupun di dunia ini yang dapat menemani kita. Amiin........ Mari menghafal  Al-Qur’an.

Oleh Abu Khalid, MA

Keajaiban dan Mukjizat dari Al-Quran Bagian 2

Dengar Al-Quran, Tekanan Darah Turun

Al-Quran memberikan pencerahan pada pembaca dan pendengarnya (lihat QS. Al-Israa ayat 82). Allah juga  menjanjikan pahala berlipat  ganda bagi yang membaca dan mendengarkannya. Di samping itu, al-Quran juga merupakan obat dan penawar. Penelitian Dr. Ahmed E. Qazi (dkk), menunjukan  bahwa tekanan darah yang tinggi menurun selama  mendengar bacaan al-Quran menstimulasi perasaan akan kekuatan, ketenangan jiwa,  konsentrasi pikiran, keagungan dan lain-lain. 

Ada Bahasa-Bahasa Al-Quran Berasal Non-Arab

Isi al-Quran berbahasa Arab (lihat QS. as- Syu’ara ayat  195). Namun, ada  beberapa kata yang bersumber dari bahasa ‘ajam (atau selain bahasa Arab),  yang mengalami Arabisasi  (ta’rib) sehingga menjadi bagian dari  bahasa Arab. Misalnya  al-Qis thas  (bahasa Romawi berarti timbangan) di QS. Al-Isra ayat 35 sijjlil (bahasa Persia berarti batu dari tanah) di QS. Al-Fiil ayat 4, misykat (bahasa India bearti lubang di dinding yang tidak tembus) di QS. An- Nur ayat 35 dan Istabraq (bahasa Persia bearti kain sutera yang tebal) di QS. Al-Kahfi ayat 31.

Ayat Tentang ‘Laut’ Lebih Banyak dari Ayat ‘Darat’

Dr. Tariq al-Swaidan dalam Astonishing Facts About  al-Quran, menyebutkan bahwa jumlah ayat kata ‘laut’ berjumlah 32, sementara  jumlah ayat ‘darat’ hanya 13. Sehingga, ayat ‘darat’  dan ‘laut’ berjumlah 45. Jumlah ayat yang membicarakan kata ‘laut’ berarti  32/45 X 100% = 71,11 %, sedangkan  ayat dengan  kata  ‘darat’  sebanyak  13/45 X 100 % = 28,88 %. Nah, angka-angka itu ternyata sesuai dengan ilmu pengetahuan sains kebumian yang mencatata bahwa 71,11 % bumi ini adalah lautan. Sedangkan daratan hanya ada 28,88 %.

Negeri di Batas Dua Lautan Sangat Untung

Negeri yang berada di batas dua lautan memperoleh banyak keuntungan dari pada negeri yang hanya berbatasan dengan laut atau daratan saja. Kita bisa mengambil pesan dari QS. Ar Rahman ayat 19-22, QS. Al-Furqan ayat 53 dan QS. Al-Fathir ayat 12. Di sana disebutkan  bahwa lokasi negara seperti ini merupakan tempat keluarnya karunia mutiara (al-liu’lu) dan marjan serta tempat berlalunya sejumlah kapal. Misalnya saja Singapura. Negara ini berhasil mengambil manfaat dan mengeksploitasi kelebihan  yang dimiliki negara lain. 

Kapal Nabi Nuh Berdampar di Irak. Menurut  QS. Hud, ayat  44, terdamparnya kapal Nabi  Nuh ada di Bukit Jabal Judi (atau Gudi, atau Kudi, atau Kurd) yang terletak di Armenia sebelah Selatan berbatasan dengan Mesopotamia, atau di kawasan Kurdistan, yang sekarang di sebut Negara Irak, yaitu pada kawasan daratan tinggi Arrat. Penelitian yang dilakukan ahli  geologi Amerika Serikat tahun 1990-an juga menyebutkan bahwa  memang  ada lapisan sedimen di dasar Laut Hitam yang tebalmnya luar biasa dan proses pengendapannya juga sangat cepat.

Pengaruh Mendengarkan Lantunan Al-Quran

Mendengarkan lantunan ayat-ayat al-Quran berpengaruh  pada kejiwaan seseorang. Orang  stres bisa sembuh dan terobati. Sebuah studi  di sebuah universitas di Washington menyebutkan bahwa 65 % ekperimen mendengarkan lantunan ayat-ayat al-Quran memiliki pengaruh  yang cukup signifikann terhadap gejala  stres. Sedangkan  pada bacaan  lain selain al-Quran semisal buku, novel, majalah, koran, dan sebagainya, hanya berpengaruh sekitar 35 % saja untuk menghilangkan gejala stres.

Al-Quran Menurut Mahmud Syaltut dan Quraish Shihab

Mahmud Syaltut dalam bukunya Ila al-Quran, al-Karim, menyebutkan bahwa  al-Quran memilki tiga aspek, yaitu akidah, syariah, dan akhlak. Pencapaian ketiga tujuan ini dilukiskan melalui empat cara, yakni perintah memperhatikan alam raya, perintah mengamati pertumbuhan dan perkembangan manusia, kisah-kisah, dan janji serta ancaman dunia dan akhirat. Quraish Shihab dalam bukunya  Membumikan al-Quran, menambahkan tiga aspek keistimewaan al-Quran, yakni ketelitian dan keindahan redaksinya, isyarat-isyarat  ilmiahnya, dan misteri gaib di masa lalu dan mendatang.

Siapakah Penggagas dann Ekssekutor Al-Quran Dibukukan ?    

Sesudah Perang Riddah, yaitu perang  melawan  Musalimah al-Kadzzab, banyak sahabat Nabi yang hafal al-Quran tewas. Melihat kenyataan ini, Umar bin Khattab merasa khawatir  akan nasib al-Quran dan teksnya. Ia lalu pergi menemui Khalifah Abu Bakar Shiddiq dengan mengatakan bahwa cepat-cepatlah  bertindak memerintahkan untuk pengumpulan al-Quran. Abu Bakar, kemudian memerintahkan Zaid bin Sabit, sekretaris  Rasulullah, untuk mengumpulkan ayat-ayat al-Quran di berbagai tempat seperti di daun-daunan, di atas batu, tulang-tulang hewan, dan yang dihafal oleh orang.

Menghafal Al-Quran Meningkatkan Prestasi Akademis    

Para akademis dan spesialis sependapat bahwa menghapal al-Quran memiliki efek baik dalam pengembangan ketrampilan dasar pelajar, serta dapat meningkatkan prestasi  akademis. Dr. Abdullah Subaih, profesor  psikologi di Universitas Imam Muhammad bin Su’ud al-Islamiyah di Riyadh, menyerukan  pelajar  untuk menghafal  al-Quran. Hafalan  al-Quran tersebut dapat membantu untuk konsentrasi dan merupakan syarat  mendapatkan ilmu. Bagi orang yang terbiasa menghafalkan al-Quran, maka ia akan terlatih dengan konsentrasinya yang tinggi. Sel-sel otak harus difungsikan terus. Orang terbiasa menghafal, maka sel-sel otak dan badannya akan aktif, dan menjadi kuat dari orang biasa.

Penjelasan Al-Quran dan Ilmuan Mengenai Sperma

Imu kedokteran menyebutkan bahwa  ketika suami-isteri berhubungan badan, 250 juta  sperma terpencar dari laki-laki seketika. Sperma melakukan perjalanan 5 menit yang sulit dalam tubuh si ibu sampai menunju sel telur. Hanya seribu dari 250 juta sperma yang akan berhasil mencapai sel telur. Sel telur, yang berukuran setengah dari sebutir garam, hanya akan membolehkan masuk satu sperma. Ini ternyata telah dijelaskan dalam al-Quran : “Apakah manusia mengira akan dibiarkan tak terurus ? Bukankah ia hanya setitik mani  yang dipancarkan?” (QS. Al- Qiyamah ayat 36- 37). Jadi, fakta yang ditemukan ilmuwan pengetahuan modern merupakan bukti bahwa pernyataan tersebut berasal dari al-Quran.

Oleh Uup Gufron

Keajaiban dan Mukjizat Dari Al-Quran

Richard Davis Menerjemahkan Kebenaran Al-Quran

Dalam   QS. Ar Rahman ayat 9 – 21, disebutkan bahwa bila dua lautan bertemu, maka  akan ada penghalang atau batas. Dulu, ayat  ini dipertentangkan, karena dianggap  tidak sejalan  dengan teori fisika yang  menyebutkan bahwa zat asin akan mudah larut dengan sesama  zat  asin.  Namun  ilmuan  Barat, Richar Davis  menemukan fakta ilmiah lain. Air pada satu laut tidak bercampur dengan air laut  lainnya. Ikan di Samudra Atlantik  tidak akan masuk  ke Laut Mediterania, begitu juga sebaliknya. Hal ini terbukti dengan fakta bahwa jika ikan dari satu laut dimasukkan ke laut  lain, maka ikan itu akan  mati.

Copernicus dan Galileo Menegaskan Kebenaran Al-Quran

Dulu, kaum Gereja Romawi menentang pendapat bahwa bumi itu bulat. Karena hal itu, bertentangan dengan Al-Kitab. Namun Copernicus ( w. 1543 ) dan  Galileo  ( w. 1642 ) menentang hal itu. Mereka berpandangan bahwa bumi itu bulat. Namun, jauh hari sebelum  kedua fisikiawan itu muncul, al-Quran lebih dulu berbicara soal itu. Hal ini dapat dilihat dalam penjelasan QS. An-Zaariyaat ayat 48, QS. An-Nuh ayat 19, dan QS. Az-Zumar ayat 5. Namun, uniknya, meskipun bumi itu, bulat, al-Quran menyebutnya bahwa bulatnya itu tidak benar-benar bulat. Hal ini juga dibenarkan secara ilmiah ( QS. An-Nazi’aat ayat 30 ).

Teori Big Bang Di Benarkan Al-Quran

Teori bahwa awal terbentuknya alam semesta bermula dari sebuah ledakan besar, yang di kenal dengan Big Bang, adalah teori yang kini telah disepakati oleh para ilmuan secara umum. Berabad–abad sebelum teori Big Bang, al-Quran menegaskan bahwa langit dan alam semesta terus mengembang, sebagai tanda besarnya kekuasaan Allah. Dari kenihilan, ex nihilo, lahirlah alam raya  seperti  yang ditegaskan  oleh Imam Gazali  dalam  Kitab  Tahafut al-Falasafah. Gazali menegaskan bahwa alam semesta muncul pada satu titik masa tertentu ketika Allah menghendaki  kemunculannya ( lihat QS. Yasin ayat 82 )

Pesan Al-Quran Tentang Kulit dan Aspek Kejiwaan

 “Allah”,  telah  menurunkan perkataan yang paling baik  (yaitu) al-Quran yang serupa lagi berulang-ulang gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenangn kulit dan hati mereka di waktru  mengingat Allah”  (QS. Az Zumar  ayat 23). Secara ilmiah, kata Dr. M.Abdul Mun’im, faktor kejiwaan bisa mendorong timbulnya penyakit terbakarnya kulit yang berminyak, penyakit kulit yang tidak menular, dan jenis tertentu dari jerawat, kudis, urticaria, kadas, dan virus seperti kutil dan herbes ringan, yang mungkin penyembuhannya dengan intuisi jiwa.

Al-Quran Ungkap Misteri Sesak Nafas di Ketinggian

Allah berfirman; “Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki gunung ke langit.” (QS. Al An’am ayat 125). Ayat ini  mengungkap dua fakta yang telah ditemukan akhir-akhir ini oleh ilmuan modern. Yang pertama adalah dyspnena yang terjadi jika seseorang berjalan lebih tinggi di lapisan atmosfer karena kekurangan oksigen dan penurunan tekanan udara. Yang kedua adalah kesusahan napas yang mengarah pada kematian apabila  seseorang berjalan  lebih dari 30.000 meter di atas permukaan laut. Ini karena penurunan  drastis tekanan udara dan kekurangan oksigen secara ekstrem.

Al-Quran Menyebut Janin Bisa Tersenyum dan Menangis

Allah berfirman, “Dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis”. (QS. An-Najm ayat 43). Ayat ini berisi indikasi ilmiah yang sangat bagus tentang fakta ditemukan akhir-akhir ini bahwa memiilki ekspresi wajah ketika dia di dalam rahim ibunya, tanpa diajari  untuk melakukannya. Teknologi modern telah menghasilkan gambar yang menakjubkan dari dalam rahim yang menunjukkan bahwa bayi rupanya dapat tersenyum dan menangis. Hingga kini, para dokter tidak berpikir bahwa bayi tidak  berekspresi sampai setelah kelahiran. Mereka meyakini bahwa bayi untuk tersenyum dengan meniru ibunya.

Al-Quran Ungkap Rahasia Ubun-Ubun

Ternyata, ubun-ubun merupakan pusat kontrol dan pengaruh pada manusia, sekaligus pada hewan yang memilki otak. Seketika itu, pernyataan  Prof. Keith, mengingatkan saya  tentang firman Allah. “Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya  Tuhanku di atas jalan yang lurus.” (QS. Hud ayat 56)  Prof. Muhammad Yusuf Sakr,  memaparkan bahwa tugas bagian otak yang ada di ubun-ubun manusia adalah  mengarahkan perilaku seseorang. Prof. Keith L. More, juga menegaskan bahwa ubun-ubun merupakan penanggungjawab tertinggi dan pengarah perilaku manusia. Sementara organ tubuh hanyalah prajurit yang melaksanakan keputusan yang diambil  di ubun-ubun.

Berapakah Jumlah Keseluruhan Persendian Manusia?

Dari Aisyah bahwa Rasulullah bersabda; “Setiap manusia keturunan Adam diciptakan di atas 360 persendian. Barang siapa yang bertakbir, bertahlil, bertasbih, dan beristighfar  kepada Allah, menyingkirkan batu, atau duri atau tulang dari  jalan, memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran sejumlah persendian itu maka ia telah  berjalan  menjauhi api neraka.” (HR. Muslim). Dr. Hamid Ahmad Hamid  membenarkan  hadits  ini secara saintis dalam bukunya Rihlah Al-Iman fi Jism Al-Insan, bahwa  jumlah  keseluruhan  persendian tulang  menusia adalah 360.

Al-Quran Menjelaskan Proses Awan dan Hujan

 “Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antar (bagian-bagian) nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka tampak olehmu  hujan keluar dari celah-celahnya.” ( QS. An-Nuur ayat 43 ). Ayat ini dibenarkan para ilmuan yang menyebutkan bahwa panas berasal dari matahari yang menyebabkan air di laut, sungai dan danau menguap. Uapnya bergerak naik ke atas, dan saat uap naik, uap mulai dingin. Hasilnya, uap berkondensasi untuk membentuk butiran air. Kumpulan butiran-butiran lalu menjadi awan. Butiran air tadi lalu jatuh ke bumi sebagai hujan.

Al-Quran Berbicara Tentang Petir

QS. Ar-Rum ayat 24 berbunyi; “Dan di antara tanda-tanda kekeuasaan-Nya adalah ditampakkannya kepadamu petir yang menakutkan dan menimbulkan harapan”. Petir terjadi akibat perpindahan muatan negatif ke positif. Menurut fisika, petir adalah lompatan  bunga api raksasa antara dua massa dengan  medan listrik  yang berbeda. Prinsip  dasarnya kira-kira dengan lompatan api pada busi. Petir adalah hasil pelepasan muatan listrik di awan. Energinya besar sehingga menimbulkan rentetan cahaya, panas dan bunyi yang sangat kuat yaitu geluduk, guntur, atau halilintar. Petir dapat menghancurkan bangunan, membunuh manusia, dan memusnahkan pohon.

Al-Quran Mengungkap Teori Tali String Theory Alam

Dalam  QS. Az-Zaariyaat, ayat 7 – 8,  dijelaskan bahwa langit memiliki tali-tali ( hubuk ). Pernyataan  al-Quran ini membuka tabir ilmu pengetahuan. Alan Boyle dalam bukunya  A. Younger, Lighther Stranger Cosmos, menyebutkan bahwa jaring laba-laba dalam alam raya pada materi gelap telah terdeteksi  pada level galaksi atau pada level gugus galaksi. Teknik pengamatan bagian langit menunjukkan adanya jaringan kemerah-merahan pada materi gelap yang tak bisa diamati secara langsung. Namun, jaringan tersebut dapat ‘terlihat’ melalui dampak gravitasi terhadap cahaya.

Penciptaan Manusia dalam Al-Quran Teruji Secara Ilmiah

Prof. Dr. Roger Garaudy  dan Dr. Maurice Bucaille di Perancis, pernah mengkaji dan menguji  al-Quran dari segi isi. Di antaranya, Maurice Bucaille mencoba menguji berapa jauh kebenaran  ilmiah ayat-ayat yang bersangkutan dengan proses kejadian manuasi dalam QS. Al – Hajj; ayat  5. Dr. Maurice Bucaille menemukan bahwa ternyata penjelasan dari al – Quran yang turun 15 abad yang lalu itu dalam menggambarkan asal-muasal  manusia, lebih tepat dari ilmu embriologi mutakhir. Hal itu secara jelas ditulis dalam bukunya yang berjudul “The  Origin  of  Man.”

Menghafal Al-Quran Tumbuhkan Pribadi Kreatif

Berbagai kanian kontemporer membuktikan bahwa hafalan al-Quran dapat menjaga  seseorang dari berbagai penyakit, meningkatkan daya tahan tubuh, serta meningkatkan kreatifitas dan relaksasi. Berpegang teguh pada al – Quran dan menjaga tilawahnya  yang dapat berpengaruh positif terhadap kepribadian seseorang meninggalkan sistem  kekebalan dalam dirinya, melindunginya dari berbagai penyakit psikologis, membantunya untuk sukses dan mengambil keputusan–keputusan yang sulit. Jadi, al-Quran adalah jalan bagi Anda untuk menjadi kreatif, memimpin, bahagia dan sukses.
 
Oleh Uup Gufron
Back To Top