Membahas Tentang Seputar Ilmu Agama Islam

Mengingat Kematian: Nasihat Islami agar Hidup Lebih Bermakna

Mengingat Kematian, Nasihat Islami untuk Kehidupan

Kematian adalah sesuatu yang pasti akan dialami oleh setiap makhluk yang bernyawa. Tidak ada manusia yang dapat hidup selamanya di dunia ini. Seberapa pun tinggi kedudukan seseorang, seberapa banyak harta yang dimilikinya, dan seberapa besar keberhasilan yang telah diraihnya, pada akhirnya setiap manusia akan kembali kepada Allah SWT.


Namun, dalam kesibukan menjalani kehidupan sehari-hari, manusia sering kali terlena dengan urusan dunia. Kita sibuk mengejar harta, membangun karier, memenuhi keinginan, dan merencanakan masa depan, hingga terkadang lupa bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara.

Padahal, mengingat kematian dalam Islam bukanlah ajakan untuk takut menjalani kehidupan, melainkan pengingat agar kita menggunakan waktu yang tersisa untuk melakukan kebaikan dan mempersiapkan bekal menuju akhirat.

Dengan mengingat kematian, seorang Muslim diharapkan lebih berhati-hati dalam bertindak, lebih mudah bersyukur, tidak berlebihan dalam mengejar dunia, dan semakin bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah SWT.

Lantas, apa saja hikmah mengingat kematian menurut Islam dan bagaimana cara menjadikannya sebagai nasihat untuk memperbaiki kehidupan? Simak penjelasan berikut ini.

Kematian Adalah Kepastian yang Tidak Dapat Dihindari

Allah SWT telah menjelaskan dalam Al-Qur'an bahwa setiap makhluk yang bernyawa pasti akan mengalami kematian.

Allah berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

Artinya:

"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati."

(QS. Ali 'Imran: 185)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa kematian merupakan bagian dari ketetapan Allah SWT. Tidak ada seorang pun yang dapat menghindarinya ketika ajal telah tiba.

Manusia boleh merencanakan kehidupan selama bertahun-tahun ke depan. Kita boleh memiliki cita-cita, membangun keluarga, bekerja keras, dan berusaha meraih keberhasilan. Semua itu merupakan bagian dari kehidupan yang patut dijalani dengan baik.

Akan tetapi, kita juga perlu menyadari bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui secara pasti kapan ajalnya akan datang.

Kesadaran tersebut seharusnya membuat kita lebih bijaksana dalam menjalani kehidupan. Jangan menunda meminta maaf jika telah melakukan kesalahan. Jangan menunda bertaubat ketika menyadari dosa. Jangan pula menunda berbuat baik hanya karena merasa masih memiliki banyak waktu.

Sebab, kesempatan untuk memperbaiki diri adalah nikmat yang tidak boleh disia-siakan.

Mengingat Kematian Membantu Kita Tidak Terlalu Terikat pada Dunia

Dunia sering kali membuat manusia terlena. Harta, jabatan, popularitas, dan berbagai kenikmatan dapat membuat seseorang lupa terhadap tujuan hidup yang sebenarnya.

Tidak sedikit orang yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengejar sesuatu yang bersifat sementara, tetapi kurang memperhatikan amal yang akan dibawa ketika meninggalkan dunia.

Islam tidak melarang umatnya mencari rezeki, memiliki harta, atau meraih kesuksesan. Seorang Muslim tetap dianjurkan bekerja keras, memenuhi kebutuhan keluarga, dan memberikan manfaat kepada sesama.

Yang perlu dihindari adalah ketika urusan dunia membuat kita melupakan Allah SWT, mengabaikan kewajiban agama, atau menghalalkan segala cara demi mendapatkan keuntungan.

Allah SWT berfirman:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Artinya:

"Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan."

(QS. Ali 'Imran: 185)

Ayat ini mengingatkan bahwa kenikmatan dunia tidak bersifat kekal. Karena itu, kita perlu menempatkan dunia secara seimbang: berusaha dengan sungguh-sungguh, tetapi tetap menjadikan keridaan Allah sebagai tujuan utama.

Ketika mengingat kematian, kita akan lebih mudah memahami bahwa harta yang dikumpulkan tidak akan selamanya menjadi milik kita. Kedudukan yang dibanggakan juga tidak akan selalu menyertai kita.

Pada akhirnya, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana harta, waktu, ilmu, dan kesempatan yang diberikan Allah digunakan untuk melakukan kebaikan.

Kematian Menjadi Pengingat untuk Segera Bertaubat

Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Ada yang pernah berkata kasar, menyakiti hati orang lain, mengabaikan kewajiban, atau melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran agama.

Namun, sebesar apa pun kesalahan yang pernah dilakukan, seorang Muslim tidak seharusnya berputus asa dari rahmat Allah SWT.

Mengingat kematian dapat menjadi dorongan untuk segera bertaubat dan memperbaiki diri. Kita tidak perlu menunggu menjadi manusia sempurna untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Allah SWT berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ

Artinya:

"Katakanlah, 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.'"

(QS. Az-Zumar: 53)

Ayat ini mengandung pesan yang sangat mendalam. Allah membuka pintu harapan bagi hamba-hamba-Nya agar tidak berputus asa dari rahmat dan ampunan-Nya.

Taubat yang sungguh-sungguh dilakukan dengan menyesali dosa, meninggalkan perbuatan tersebut, dan bertekad tidak mengulanginya. Jika kesalahan berkaitan dengan hak orang lain, kita juga perlu berusaha mengembalikan hak tersebut atau meminta maaf dengan cara yang tepat.

Jangan sampai kita terus menunda taubat karena merasa masih muda atau menganggap waktu untuk berubah masih panjang.

Gunakan kesempatan hidup yang ada untuk memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia.

Jangan Menunda Amal Saleh Selagi Masih Hidup

Salah satu hikmah terbesar dari mengingat kematian adalah menyadarkan kita bahwa kesempatan beramal tidak berlangsung selamanya.

Selama masih hidup, kita masih memiliki kesempatan untuk melaksanakan salat, membaca Al-Qur'an, bersedekah, membantu orang yang membutuhkan, berbakti kepada orang tua, dan memperbaiki hubungan dengan sesama.

Namun, ketika kehidupan telah berakhir, kesempatan untuk menambah amal melalui usaha pribadi tidak lagi seperti ketika kita masih hidup.

Rasulullah SAW bersabda:

"Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, mudamu sebelum tuamu, dan kayamu sebelum miskinmu."

(HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, dari Ibnu Abbas RA; hadis ini dinilai sahih oleh sejumlah ulama hadis)

Pesan hadis tersebut mengajarkan pentingnya memanfaatkan kesempatan yang Allah berikan.

Jangan menunggu kaya untuk bersedekah, sebab kebaikan tidak selalu membutuhkan harta yang banyak. Jangan menunggu tua untuk memperbaiki ibadah, sebab usia muda pun merupakan kesempatan berharga. Jangan menunggu mengalami musibah untuk menyadari pentingnya bersyukur.

Mulailah dari hal sederhana. Tunaikan salat tepat waktu, berbicara dengan jujur, membantu keluarga, dan menjaga lisan dari perkataan yang menyakiti.

Amal yang dilakukan dengan ikhlas, meskipun terlihat kecil di mata manusia, tetap layak untuk diperjuangkan.

Mengingat Kematian Membuat Kita Lebih Menghargai Waktu

Waktu adalah nikmat yang sering kali baru disadari nilainya setelah berlalu.

Kita mungkin pernah menghabiskan waktu berjam-jam untuk sesuatu yang tidak bermanfaat, tetapi merasa terlalu sibuk ketika hendak membaca Al-Qur'an, membantu orang tua, atau mengunjungi keluarga.

Mengingat kematian membantu kita mengevaluasi bagaimana waktu digunakan selama ini.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-'Asr:

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ

Artinya:

"Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian."

(QS. Al-'Asr: 1–2)

Surah Al-'Asr mengingatkan bahwa kehidupan manusia berkaitan erat dengan bagaimana ia memanfaatkan waktu. Allah kemudian menjelaskan pengecualian bagi orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.

Karena itu, kita perlu mulai membangun kebiasaan yang lebih baik. Sisihkan waktu untuk beribadah, belajar ilmu agama, bekerja secara jujur, menjaga kesehatan, dan membantu orang lain.

Tidak semua waktu harus diisi dengan aktivitas yang berat. Beristirahat bersama keluarga, mencari nafkah yang halal, dan menjaga kesehatan juga dapat bernilai baik jika dilakukan dengan niat dan cara yang benar.

Yang terpenting, jangan membiarkan waktu berlalu tanpa kesadaran akan tanggung jawab kita sebagai hamba Allah.

Persiapkan Bekal Akhirat dengan Amal yang Ikhlas

Dalam Islam, kehidupan dunia bukanlah akhir dari perjalanan manusia. Al-Qur'an mengajarkan adanya kehidupan akhirat dan pertanggungjawaban atas perbuatan yang dilakukan selama hidup.

Karena itu, seorang Muslim dianjurkan mempersiapkan bekal akhirat melalui iman, amal saleh, dan ketaatan kepada Allah SWT.

Allah berfirman:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ

Artinya:

"Berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa."

(QS. Al-Baqarah: 197)

Takwa bukan sekadar ucapan, melainkan kesadaran untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Mempersiapkan bekal akhirat dapat dimulai melalui berbagai amalan sederhana, seperti:

  • Menjaga salat lima waktu dan berusaha memperbaiki kualitas ibadah.
  • Membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur'an.
  • Memperbanyak istighfar dan bertaubat atas kesalahan.
  • Bersedekah sesuai kemampuan dan membantu orang yang membutuhkan.
  • Berbakti kepada orang tua serta menjaga silaturahmi.
  • Menjaga amanah, kejujuran, dan hak orang lain.
  • Menuntut ilmu yang bermanfaat dan mengamalkannya.
  • Menjaga hati dari kesombongan, iri hati, dan kebencian.

Kita tidak perlu menunggu memiliki banyak harta atau waktu luang untuk memulai semuanya.

Lakukan sesuai kemampuan, secara bertahap, dan dengan niat yang ikhlas. Jangan meremehkan kebaikan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Mengingat Kematian Bukan Berarti Berhenti Menjalani Kehidupan

Sebagian orang mungkin menganggap bahwa terlalu sering mengingat kematian akan membuat seseorang kehilangan semangat untuk menjalani kehidupan.

Padahal, mengingat kematian dalam Islam seharusnya mendorong manusia menjalani kehidupan dengan lebih baik, bukan meninggalkan tanggung jawabnya.

Rasulullah SAW bersabda:

"Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian."

(HR. At-Tirmidzi, no. 2459; diriwayatkan dari Syaddad bin Aus RA. Hadis ini dinilai hasan oleh sejumlah ulama)

Pesan hadis tersebut mengajarkan pentingnya introspeksi diri dan mempersiapkan kehidupan akhirat.

Seorang Muslim tetap perlu bekerja, belajar, merawat keluarga, menjaga kesehatan, dan memberikan manfaat kepada masyarakat. Semua itu dapat menjadi bagian dari ibadah apabila dilakukan dengan niat yang baik dan sesuai tuntunan agama.

Mengingat kematian justru membantu kita memahami bahwa hidup harus digunakan untuk hal-hal yang bernilai.

Kita tidak perlu terus-menerus hidup dalam ketakutan. Sebaliknya, jadikan kesadaran tentang kematian sebagai dorongan untuk lebih bersyukur, lebih bertanggung jawab, dan lebih dekat kepada Allah SWT.

Jalani kehidupan dengan penuh harapan, sambil tetap mempersiapkan diri menghadapi akhirat.

Muhasabah Diri Sebelum Datangnya Hari Perhitungan

Muhasabah berarti mengevaluasi diri, termasuk menilai perkataan, perbuatan, niat, serta hubungan kita dengan Allah dan sesama manusia.

Kebiasaan bermuhasabah membantu kita mengenali kekurangan dan memperbaiki kesalahan sebelum kesempatan berubah semakin terbatas.

Luangkan waktu setiap hari untuk bertanya kepada diri sendiri:

Apakah salat saya hari ini sudah dijaga dengan baik?

Apakah ada perkataan atau perbuatan saya yang menyakiti orang lain?

Apakah rezeki yang saya cari diperoleh melalui cara yang halal?

Apakah saya telah melaksanakan tanggung jawab kepada keluarga?

Apakah waktu yang saya miliki digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan untuk membuat kita merasa tidak berharga, melainkan untuk menumbuhkan kesadaran dan mendorong perubahan yang nyata.

Jika menemukan kekurangan, perbaikilah sedikit demi sedikit. Jika menyadari kesalahan, segeralah bertaubat dan berusaha memperbaikinya.

Jangan hanya menyesali masa lalu tanpa melakukan perubahan. Gunakan hari ini sebagai kesempatan untuk melangkah ke arah yang lebih baik.

Sebab, kita tidak dapat mengubah waktu yang telah berlalu, tetapi kita masih dapat berusaha memperbaiki tindakan pada saat ini.

Doa agar Diberi Husnul Khatimah

Setiap Muslim tentu berharap dapat mengakhiri kehidupannya dalam keadaan beriman dan mendapatkan rahmat Allah SWT.

Akhir kehidupan yang baik atau husnul khatimah merupakan harapan yang patut disertai dengan doa, ketaatan, taubat, dan usaha memperbaiki diri.

Kita dapat berdoa dengan doa yang diajarkan dalam Al-Qur'an:

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ

Artinya:

"Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan muslim."

(QS. Al-A'raf: 126)

Doa ini mengajarkan kita untuk memohon kesabaran dan berharap agar diwafatkan dalam keadaan berserah diri kepada Allah.

Selain berdoa, kita perlu terus memperbaiki kualitas iman, menjaga kewajiban, menjauhi perbuatan dosa, dan memperbanyak amal saleh.

Kita tidak mengetahui bagaimana akhir kehidupan kita kelak. Oleh karena itu, jangan merasa terlalu aman dengan amal yang telah dilakukan, tetapi jangan pula berputus asa dari rahmat Allah ketika menyadari banyaknya kekurangan.

Teruslah berusaha menjadi hamba yang lebih baik, memohon ampunan-Nya, dan menggantungkan harapan kepada rahmat-Nya.

Kesimpulan: Jadikan Ingatan tentang Kematian sebagai Pengingat untuk Berbuat Baik

Mengingat kematian merupakan salah satu nasihat penting dalam Islam. Kesadaran bahwa kehidupan dunia memiliki batas dapat membantu kita memperbaiki ibadah, menghindari kesombongan, menghargai waktu, serta mempersiapkan bekal menuju akhirat.

Kematian bukan sesuatu yang perlu dijadikan alasan untuk berputus asa. Sebaliknya, ia adalah pengingat agar kita tidak menyia-nyiakan kesempatan hidup yang telah Allah berikan.

Selagi masih diberi kesehatan dan waktu, mari perbanyak amal saleh, jaga hubungan dengan sesama manusia, tunaikan tanggung jawab, dan segeralah bertaubat ketika melakukan kesalahan.

Jangan menunggu menjadi tua untuk mendekatkan diri kepada Allah. Jangan menunggu kehilangan untuk belajar menghargai. Jangan pula menunggu datangnya penyesalan untuk mulai memperbaiki kehidupan.

Semoga Allah SWT memberikan kita hati yang selalu mengingat-Nya, kemampuan untuk memperbaiki diri, serta akhir kehidupan yang baik dalam keadaan beriman.

Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Pesan untuk pembaca: Jika artikel ini memberikan manfaat, bagikan kepada keluarga dan sahabat sebagai pengingat untuk bersama-sama memperbaiki diri dan mempersiapkan bekal akhirat.

Catatan editorial: Ayat Al-Qur'an dan hadis dalam artikel ini dicantumkan sebagai rujukan keagamaan. Sebelum publikasi, pastikan penulisan terjemahan, nomor hadis, dan penilaian derajat hadis diperiksa kembali melalui sumber tepercaya.

Kehidupan Manusia Dalam Alam Akhirat

Sajadah Muslim ~ Sesungguhnya apabila telah tiba hari Kiamat, maka ditiuplah sangkakala untuk membangkitkan semua makhluk dari alam kuburnya tanpa terkecuali, baik itu hamba-Nya yang senentiasa diberkahi dan dirahmati maupun hambanya yang senantiasa dimurkai dan dilaknati untuk di hisab amal perbuatannya.


Dalam suatu riwayat diceritakan, jika telah tiba hari Kiamat Allah Swt berfirman;  wahai Israfil bangun dan tiuplah sangkakala dengan tiupan yang membangkitkan, maka Malaikat Israfil  meniupnya  seraya memanggil: Wahai ruh-ruh yang keluar dan tulang-tulang yang sudah hancur, jasad-jasad yang sudah  busuk, otot-otot  yang sudah terputus-putus, kulit-kulit yang sudah koyak dan rambut yang sudah rontok bangkitlah kalian semua untuk menghadapi penghisaban amal perbuatanmu. Maka bangkitlah semua dengan perintah Allah Swt.

Maka mereka semua sama menunggu (dengan melihat) ke langit yang benar-benar telah berjalan, dan melihat ke bumi yang benar-benar telah diganti, dan kepada unta-unta bunting telah ditinggalkan, dan kepada binatang-binatang liar telah dikumpulkan dan kepaca lautan telah dijadikan meluap, dan kepada ruh-ruh yang telah dipertemukan dan kepada Malaikat Zabaniyah telah didatangkan dan kepada surga yang telah didekatkan, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya, Allah swt berrfirman dalam surat Yasin ayat 52 yang artinya; “Mereka berkata; Aduhai celakalah kami siapakah yang membangkitkan kami dan dari tempat tidur kami (kubur)? Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-Rasul-Nya.”

Kemudian orang-orang kafir dikeluarkan dari kuburnya dalam keadaan tanpa alas kaki dan telanjang bulat.

Rasulullah saw pernah ditanya, makna apakah yang terkandung dalam firman Allah swt (Yaitu hari yang pada waktu itu ditiupkan sangkakala lalu kamu dikumpulkan dengan berkelompok –kelompok) Maka Nabi saw, menangis (karena mendengar pertanyaan itu) Kemudian beliau berkata; Wahai orang-orang yang bertanya, sesungguhnya kamu bertanya kepadaku tentang perkara yang dahsyat (besar), dan sesungguhnya waktu itu adalah hari kiamat, yang dimana dari beberapa kaum dari umatku dikumpulkan menjadi 12 (dua belas) kelompok yaitu :

Adapun bagian yang pertama adalah Mereka dikumpulkan dalam  bentuk kera, kelompok mereka ini adalah orang-orang yang sudah memfitnah, sebagian manusia yang lain.

Kelompok yang kedua adalah Mereka dikumpulkan dalam bentuk babi (celeng) mereka ini adalah orang-orang yang ahli makan barang haram.

Kelompok yang ke tiga adalah Mereka dikumpulkan dalam keadaan buta dan bingung dan mereka dipegang oleh manusia yang lain. Mereka ini adalah orang-orang yang suka melanggar hukum (Syariat).

Kelompok yang keempat; Mereka di kumpulkan dalam keadaan tuli dan bisu. Mereka itu adalah orang-orang yang selalu menyombongkan diri dengan amal perbuatannya.

Kelompok yang ke lima; Mereka dikumpulkan dengan keadaan mulutnya mengalir nanah, dan mereka sama menanam lidahnya. Mereka itu adalah para ulama yang menyimpang dalam perkataan mereka dengan perbuatannya.

Sebagaimana firman Allah swt dalam surat Al-Baqarah ayat 44 

Yang ketujuh; Mereka dikumpulkan dengan keadaan telapak kakinya berada didahi mereka dengan diikatkan pada jambul kepalanya, mereka (baunya) lebih busuk dari pada bangkai. Mereka itu adalah orang-orang yang mengikutkan atau mengumbar hawa nafsunya.

Kedelapan; Mereka dikumpulkan dalam keadaan mabuk yang jatuh bangun ke kanan dan ke kiri. Mereka itu orang-orang yang mencegah pada hak Allah Swt.

Kesembilan; Mereka dikumpulkan dimana pada dirinya terdapat celaan yang terbuat dari tembaga merah. Mereka itu, adalah orang-orang yang suka mengadu domba.

Kesebelas; Mereka dikumpulkan dalam keadaan mabuk. Mereka itu adalah orang-orang yang sama berbicara di dalam masjid dengan membicarakan urusan keduniawian.

Dan yang kedua belas; Mereka dikumpulkan dalam wujud babi (celeng). Mereka itu adalah orang-orang yang memakan barang riba. Sebagaimana yang telah diterangkan dalam firman Allah swt dalam surat Ali Imran ayat 130. “Janganlah kamu memakan riba dengan berbuat ganda.”

Dan didalam hadits yang lain, dari Mu’adz bin Jabal ra, dari Rasulullah saw bahwa beliau bersabda; Ketika terjadi hari Kiamat, yaitu hari kerugian, hari kesengsaraan, hari pembalasan, maka Allah swt mengumpulkan umatku dari kubur mereka dibagi menjadi 12 (dua belas)golongan yaitu:

Golongan pertama; Mereka dikumpulkan dari kuburnya, dengan keadaan tidak mempunyai tangan dan kaki. Kemudian ada pemanggil dari hadapan Allah swt. Mereka ini adalah orang-orang yang senantiasa menyakitkan tetangga, dan mereka ini mati sebelum bertaubat.

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan sedangkan kamu melupakan diri kamu sendiri.”
Golongan kedua, Mereka dikumpulkan dari kuburnya dengan bentuk binatang. Ada riwayat yang mengatakan bahwa binatang itu adalah babi (celeng). Kemudian ada pemanggil dari hadapan Allah swt. Mereka ini adalah orang-orang yang meremehkan shalat, dan mereka mati sebelum bertaubat.

Golongan ketiga, Mereka dikumpulkan dari kuburnya, dalam keadaan perutnya besar bagaikan gunung, yang didalamnya dipenuhi oleh ular dan kalajengking, mereka itu seperti keledai. Kemudian ada pemanggil dari hadapan Allah Swt; Mereka ini adalah orang-orang yang enggan mengeluarkan zakat, dan mereka mati sebelum bertaubat.

Golongan keempat, Mereka dikumpulkan dari kuburnya, dari mulut mereka mengalir darah sedangkan ususnya kenser di bumi, dan api keluar dari mulutnya. Kemudian ada pemanggil dari hadapan Allah Swt. Mereka ini adalah orang-orang yang berdusta dalam berjualan dan pembelian dan mereka mati sebelum bertaubat.

Golongan kelima, Mereka dikumpulkan dari kuburnya, dalam keadaan bau busuk, bau mereka lebih busuk dari bangkai. Kemudian ada pemanggil dari hadapan Allah Swt. Mereka ini adalah orang-orang yang menyembunyikan kemaksiatannya dengan samar dari hadapan manusia yang lain tidak takut kepada Allah dan mereka mati sebelum bertaubat.

Golongan keenam, Mereka dikumpulkan dari kuburnya dalam keadaan terpotong tenggorokkannya dari tengkunya. Kemudian ada pemanggil dari hadapan Allah swt. Mereka ini adalah orang-orang yang memberikan kesaksian dengan kebohongan dan dusta dan mereka mati sebelum bertaubat.

Golongan ketujuh, Mereka dikumpulkan dari kuburnya dalam keadaan tidak mempunyai lidah, dan dari mulutnya mengalir darah dan nanah. Kemudian ada pemanggil dari hadapan Allah Swt. Mereka ini adalah orang-orang yang tidak memberikan persaksian yang benar dan mereka mati sebelum bertaubat.

Golongan kedelapan, Mereka dikumpulkan dari kuburnya dengan menundukkan kepalanya, sedangkan kaki mereka berada di atas kepalanya, serta dari farji (kemaluannya) mengalir sungai nanah yang bercampur darah. Kemudian ada pemanggil dari hadapan  Allah Swt. Mereka ini adalah orang-orang yang ahli zina, dan mereka mati sebelum bertaubat.

Golongan kesembilan, Mereka dikumpulkan dari kuburnya dalam keadaan hitam wajahnya dan melotot matanya serta perutnya dipenuhi api. Kemudian ada pemanggil dari hadapan Allah Swt. Mereka ini adalah orang-orang yang memakan harta anak yatim dengan aniaya, dan mereka mati sebelum bertaubat.

Golongan kesepuluh, Mereka dikumpulkan dari kuburnya dalam keadaan berpenyakit kusta dan belang. Kemudian ada pemanggil dari hadapan Allah swt,. Mereka ini adalah orang-orang yang mendurhakai kedua orang tuanya, dan mereka mati sebelum bertaubat.

Golongan kesebelas,  Mereka dikumpulkan dari kuburnya dalam keadaan buta hatinya dan giginya seperti tanduk sapi. Sedangkan  bibir mereka sama kenser diatas dadanya dan lidahnya juga  kenser diatas perutnya, dan perutnya kenser diatas paha mereka, serta dari perut mereka keluar kotoran. Kemudian ada pemanggil dari hadapan Allah Swt. Mereka ini adalah orang-orang yang meminum arak (khamer) dan mereka mati sebelum bertaubat.

Dan adapun golongan yang kedua belas, Mereka dikumpulkan dari kuburnya, dimana sajah mereka bersinar seperti bulan, pada bulan purnama, mereka ini melewati shirathal  seperti kilat yang menyambar. Kemudian ada pemanggil dari hadapan Allah Swt. Mereka ini adalah orang-orang yang beramal shalih dan senantiasa menjauhi kemasyatan, serta menjaga shalat lima waktu beserta berjama’ah dan mereka mati dalam dalam keadaan bertaubat. Serta kembali mereka adalah  ke surga. Mereka dalam pengampunan, keridhaan dan rahmat serta kenikmatan, karena sesungguhnya mereka ini sama ridha pada Allah dan Allah Swt, juga ridha kepada mereka. Sebagaimana yang telah diterangkan dalam firman-Nya dalam surat Fushilat ayat 30 yang artinya :

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan; Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan) janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan oleh Allah kepadamu.”

Demikianlah keadaan mayit setelah dibangkitkan dari alam kubur yang telah dikelompok-kelompokkan dan digolongkan berdasarkan tingkat amal perbuatannya yang telah dilakukan pada waktu hidup di dunia. Yang intinya apabila ia pada waktu hidup di dunia senantiasa beramal shalih atau mengerjakan amal kebajikan, maka ia akan ditempatkan di surga Allah SWT. Dan sebaliknya apabila ia pada waktu di dunia senantiasa mengerjakan amal keburukan, maka ia akan ditempatkan di neraka, dengan adzab yang pedih dan mensengsarakan..................!!!!

Oleh Abu Khalid, MA

Mayit Calon Surga Dan Calon Neraka

Mayit Calon Surga Dan Calon Neraka ~ Alam kubur adalah merupakan jembatan tahap pertama untuk menuju ke alam yang kekal abadi yaitu alam akhirat. Dimana di alam tahap pertama ini atau alam kubur manusia akan menemui kebahagiaan apabila pada masa hidupnya senantiasa mengerjakan amal kebajikan dan tentunya juga dia akan menjadi calon ahli surga diakhirat kelak.


Dalam sabda Rasulullah Saw, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan diberitakan dari sahabat Ibnu Umar ra, bahwasanya bagi mayit yang beriman dan senantiasa melakukan kebajikan dan telah dicatat oleh Allah Swt, sebagai calon ahli surga (di akhirat nanti), maka dibukakan baginya pintu surga dan diucapkan kepadanya; “Hai si Fulan itulah tempat  tinggalmu  kelak, dan apa yang telah di sediakan oleh Allah Swt di dalamnya itu ada  milikmu.” Maka ketika, mereka  mendengar dan melihat yang menggembirakan itu, maka mayit itu menjadi gembira. Kemudian alam kuburnya diperluas menjadi 70 (tujuh puluh) hasta serta alam kuburnya diterangi, dan ruhnya ditempatkan pada tempat yang bagus, yaitu berwujud sebagai seekor burung yang bergantung disalah satu pohon surga.

Rasulullah Saw bersabda : “Sesungguhnya salah seorang diantara kamu, apabila telah mati, maka diperlihatkan kepadanya akan tempatnya setiap pagi dan sore. Apabila ia sebagai calon ahli surga, maka (diperlihatkan) dari ahli surga dan apabila ia sebagai calon ahli neraka, dikatakan; Inilah tempatmu hingga Allah membangkitkan kepadanya pada hari kiamat.”

Dan bagi calon ahli surga ini, pada waktu di dalam kubur waktu satu tahun rasanya sekejap mata, dan 10 (sepuluh) tahun rasanya dua kejap mata dan begitulah seterusnya. Hal yang demikian itu dapat di rasa oleh calon ahli surga karena di dalam kuburnya pagi dan sore dia senantiasa diperlihatkan hal-hal yang menikmatkan dan menggembirakan serta membahagiakan.

Akan tetapi sebaliknya yang harus dialami oleh mayit yang pada masa hidupnya senantiasa mengabaikan perintah-perintah Allah dan melaksanakan apa yang menjadi larangan-Nya, maka ditampakkan kepada di setiap pagi dan sore neraka sebagai tempat tinggalnya kelak dan apa yang ada di dalamnya itu  semua akan menjadi miliknya.

Bagi calon ahli neraka, karena sangat pedihnya kesengsaraan yang dideritanya di dalam kubur itu, maka satu hari rasanya bagaikan sudah berabad-abad lamanya. Dan hal tersebut sebagaimana  Allah telah berfirman  dalam Al-Qur’an surat Al-Mu’min ayat 46 sebagai berikut :

“Neraka itu diperlihatkan kepada mereka (yang mendapatkan siksa kubur) pada pagi dan sore, hingga dibangkitkan hari kiamat. Dan pada hari kiamat terjadi (Dikatakan kepada Malaikat) Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras.”

Bertolak dari firman Allah Swt, diatas agar kita semua terhindar dari semua adzab Allah, maka hendaklah kita semua senantiasa bertaqwa dan bertawakal kepada-Nya dan juga menjalankan apa yang telah di ajarkan oleh Rasul-Nya.

Oleh Abu Khalid, MA

Keadaan Mayit Setelah Bangkit Dari Kubur

Keadaan Mayit Setelah Bangkit Dari Kubur ~ Bahwasanya keadaan mayit sesudah dibangkitkan dari kubur itu keadaannya berbeda-beda menurut amal perbuatannya, apabila pada masa hidupnya berkelakuan baik, maka ia akan bernasib baik (memperoleh kebahagiaan) dan sebaliknya apabila ia pada masa hidupnya melakukan amal keburukkan, maka ia akan bernasib buruk pula (memperoleh kesengsaraan).


Dalam suatu hadits diceritakan: “Sesungguhnya mayit itu akan dibangkitkann dari kuburnya, mereka dalam berdiri tegak di atas tempat mereka dibangkitkan selama empat puluh tahun, tidak makan dan minum, tidak duduk serta tidak berbicara.

Rasulullah SAW, pernah ditanya;  Ya Rasulullah dengan apa untuk bisa mengetahui orang-orang mu’min pada hari kiamat? Maka nabi Saw menjawab; Sesungguhnya umatku itu putih wajahnya akibat dari bekas wudhu.

Telah diterangkan dalam sebuah hadits; Ketika terjadi hari kiamat. Allah Swt. Membangkitkan para makhluk dari kuburnya. Kemudian datanglah Malaikat ke kuburannya, selanjutnya para Malaikat membersihkan debu yang melekat pada orang-orang mu’min kecuali tempat sujudnya. Kemudian ada pemanggil yang memanggil. Debu itu bukanlah debu kubur, mereka tetapi debu itu adalah mihrab (kiblat) mereka, tinggalkan debu itu pada mereka sehingga mereka lewat shirathal dan masuk surga, agar setiap orang yang melihat kepada mereka mengetahui, bahwa mereka adalah pelayanku dan hambaku.

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah ra, ia berkata. Rasulullah Saw bersabda; Ketika hari kiamat terjadi, dan dibangkitkan apa yang ada didalam kubur, maka Allah Swt, memberi wahyu kepada Malaikat Ridwan; “Ya Ridwan, sesungguhnya Aku mengeluarkan orang-orang yang berpuasa dari kuburnya (dalam keadaan) lapar dan haus, sambutlah mereka dengan makanan panggang dan buah-buahan dari surga, kemudian Malaikat Ridwan memanggil-manggil ; “Wahai Ghilman  dan wahai Wildan (yaitu pelayan surga yang terdiri dari anak-anak yang belum sampai akhil baligh), kemudian mereka datang dengan membawa nampan dari nur (cahaya) mereka berkumpul mengelilingi Malaikat Ridwan, jumlah mereka itu lebih banyak dari pada hitungannya tetesan air hujan dan bintang-bintang di langit serta daun-daun pepohonan.

Mereka semua membawa buah-buahan yang banyak (beraneka) makanan, minyak samin dan minuman yang lezat. Mereka menjemput  ahli puasa dan memberikan makanan pada ahli puasa  seraya berkata: Makan dan minumlah dengan nikmat dengan apa yang pernah kamu dahulukan dalam beberapa hari yang telah lewat atapun yang telah kamu kerjakan.

Dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: Ada tiga orang, dimana para Malaikat akan menyelamatkan ketiga orang ini pada hari dikeluarkannya para makhluk dari kuburnya, mereka itu adalah: Yang pertama orang  Yang mati syahid, kedua orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadhan dan yang ketiga orang-orang yang berpuasa di hari Arafah.

Dari Aisyah ra; Sesungguhnya di dalam surga itu terdapat istana  yang terbuat dari intan dan yagut,  dari zamrut dan dari emas, serta dari perak. Aku bertanya; Ya Rasulullah, untuk siapakah istana itu? Rasulullah Saw menjawab; Yaitu diperuntukkan bagi orang-orang yang berpuasa pada hari Arafah. Kemudian Rasulullah Saw bersabda ; “Wahai Aisyah, sesungguhnya hari-hari yang lebih disukai oleh Allah Swt, adalah hari Jum’at dan hari Arafah, karena apa yang pada hari itu adalah rahmat. Dan sesungguhnya hari-hari yang paling dibenci Iblis adalah hari Jum’at dan hari Arafah wahai Aisyah, barang siapa yang pagi-pagi berpuasa hari Arafah, maka Allah swt, akan membuka padanya tiga puluh pintu kebaikan, dan Allah Swt akan mengunci darinya tiga puluh pintu keburukkan. Ketika berbuka dengan meminun air, maka Allah mengampuni kepadanya dalam setiap keringat di tubuhnya, seraya keringat itu berdo’a ; Ya Allah, berilah rahmat dia sampai terbitnya fajar.

Dan dalam hadits yang lain diterangkan; Orang yang berpuasa sama keluar dari kuburnya, dan dapat diketahui dengan bau mulut mereka akibat dari puasanya, mereka disambut dengan beberapa hidangan dan beberapa kendi. Kemudian dikatakan kepada mereka; Makanlah, kamu  benar-benar lapar di waktu orang-orang sama kenyang, dan minumlah, kamu benar-benar haus di waktu orang sama segar tenggorokkannya, dan beristirahatlah kamu. Kemudian mereka sama beristirahat dan sambil makan dan minum, sedang semua manusia masih dalam hisab.

Dan diterangkan dalam hadits yang lain, bahwa orang-orang yang mati dan di kuburkan di dalam kuburnya, maka jasadnya akan hancur atau busuk. Akan tetapi dari itu  semua terdapat 10 (sepuluh) orang yang jasadnya tidak akan hancur di dalam kuburnya, yaitu :
  • Jasadnya para Nabi
  • Jasadnya orang yang ahli perang (di jalan Allah)
  • Jasadnya orang yang alim
  • Jasadnya orang yang mati syahid
  • Jasadnya orang yang hafal Al-Qur’an
  • Jasadnya imam atau pemimpin yang adil
  • Jasadnya orang yang adzan
  • Jasadnya orang perempuan yang mati di dalam upaya melahirkan
  • Jasadnya orang yang dibunuh dengan aniaya
  • Jasadnya orang yang mati pada hari Jum’at atau malamnya
Dari keterangan hadits di atas, maka jelaslah bahwa orang yang senantiasa berpegang pada tali Allah, mereka akan selamat dari adzab-Nya di dalam kubur maupun di akhirat nanti.

Terdapat keterangan dalam hadits, dan Rasulullah Saw, “Bahwasanya pada hari kiamat kelak semua manusia akan dikumpulkan dalam keadaan telanjang dan tidak memakai alas kaki sebagaimana pada waktu dilahirkan dari rahim ibunya. Kemudian Aisyah ra bertanya; Apakah laki-laki dan perempuan bersama-sama? Maka Rasulullah Saw menjawab; Ya bersama-sama. Maka Aisyah berkata; Aduh jelek sekali, sebagian mereka dapat melihat terhadap sebagian yang lain. Kemudian Rasulullah Saw meletakkan tangannya di atas bahunya, seraya bersabda Wahai putrinya Abu Quhafah, pada hari itu semua manusia sama sibuk dengan dirinya sendiri, sehingga tidak sempat untuk melihat, pandangan mereka semua sama tertuju ke langit, mereka berdiri di makhsyar dengan lamanya kira-kira 40 (empat puluh) tahun. Yang mereka tidak makan dan tidak minum, dan setiap dari mereka berkeringat sampai pada malu kepada Allah Swt. Dari mereka ada yang berkeringat sampai pada kedua telapak kakinya, dan mereka ada yang berkeringat sampai pada kedua betisnya, dan dari mereka ada yang berkeringat sampai pada perutnya, diantara mereka ada yang  berkeringat sampai pada wajahnya. Dan keringat itu tetap ada sepanjang mereka berdiri di padang makhsyar, kemudian Aisyah ra bertanya; Ya Rasulullah adakah seseorang yang dikumpulkan itu dengan meminum pada hari kiamat? Lalu Rasulullah saw menjawab; Ada, mereka itu adalah para Nabi dan keluarganya, orang yang berpuasa pada bulan Rajab, sya’ban dan pada bulan Ramadhan dengan berturut-turut. Dan seluruh manusia pada waktu itu sama dalam keadaan lapar kecuali para Nabi dan keluarganya, juga termasuk orang-orang yang berpuasa pada bulan Rajab, Sya’ban dan bulan Ramadhan. Kerena mereka itu sesungguhnya sama kenyang, tidak lapar dan tidak haus.

Oleh Abu Khalid, MA

DAHSYATNYA SIKSA KUBUR

Sajadah Muslim ~ Suatu ketika Muhammad bin Wazir al-Harani keluar dari rumahnya menuju kebun setelah Ashar. Ia bercerita, “Ketika matahari hendak tenggelam, saya berada di tengah kuburan. Tiba-tiba dari salah satu kuburan bara api yang wujudnya menyerupai  sebuah panci kaca, sedangkan mayat berada di tengah-tengahnya. Saya mengusap mata saya dan saya berkata, “Apakah saya sedang mimpi atau sungguhan?” Kemudian saya menoleh ke pagar kota dan saya berkata, “Demi Allah saya tidak sedang tidur”.


Kemudian saya pulang ke ke keluarga saya. Saya kebingungan. Lalu keluargaku memberiku makanan, tetapi saya tidak bisa makan. Selanjutnya saya masuk ke daerah tersebut, lalu saya bertanya tentang siapa penghuni kubur tersebut. Ternyata orang yang di dalam kubur  tersebut adalah pemungut pajak liar.” (ia adalah salah satu pembantu orang-orang zalim) yang meninggal dunia pada hari itu.

Asy-Sya’bi menuturkan bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi Saw, “Saya pernah melewati daerah Badr, lalu saya melihat seorang laki-laki keluar dari dalam tanah lantas dipukul oleh seseorang dengan gada (pentungan kepala) sehingga ia amblas lagi ke dalam tanah. Kemudian ia keluar lagi dan diperlakukan seperti itu lagi”. Lantas Rasulullah saw bersabda, “Orang tersebut adalah Abu Jahl bin Hisyam yang disiksa seperti itu sampai Hari Kiamat.”

Salim bin Abdillah meriwayatkan dari ayahnya yang berkata, “Suatu ketika seseorang sedang berjalan di atas kendaraan di antara Mekkah dan Madinah, kebetulan melewati  kuburan. Tiba-tiba ada seseorang keluar dari kuburan dengan api yang menyala, dibelunggu dengan besi, dan di lehernya terdapat rantai. Ia menarik-narik rantai itu, lalu ia berkata, “Wahai hamba Allah! Siramkanlah air! Wahai hamba Allah ! Siramkanlah air !” Lantas ada orang lain yang keluar mengikutinya, lalu ia berkata, “Wahai hamba Allah! Jangan kau sirami air !  Wahai hamba Allah ! Jangan kau sirami air !”  kemudian ia menarik rantai, lalu mengembalikannya ke dalam kubur”.

Salim melanjutkan ceritanya, “Di pagi harinya rambut orang tersebut menjadi putih, lalu ia menceritakan hal tersebut kepada Utsman bin Affan, lantas beliau  melarang lelaki tersebut bepergian sendirian.”

Ada seorang laki-laki dari kalangan penduduk Madinah, ia mempunyai saudara perempuan tersebut meninggal dunia, lalu  ia menguburkannya. Ketika pulang ia teringat bahwa ia tadi kehilangan sesuatu yang terjatuh di dalam kuburan. Lantas ia meminta bantuan seorang sahabatnya. Lalu keduanya menggali lagi kuburnya dan keduanya menemukan benda  tersebut. Kemudian ia berkata kepada sahabatnya, “Menjauhlah kamu agar saya dapat dilihat saudara perempuanku.” Lalu ia mengangkat penutup liang kubur. Ternyata kuburan tersebut penuh dengan api yang menyala. Lalu ia  segera mengembalikannya, meratakan kembali kuburnya, dan pulang kepada ibunya seraya berkata kepadanya, “Bagaimana sebenarnya tingkah laku saudara perempuanku?” ibuku bertanya. “Memang kenapa?” Dia kan telah meninggal?” Selanjutnya ia menceritakan kepada ibunya tentang apa yang telah disaksikannya dikuburan. lalu ibunya berkata. “Saudara perempuanmu itu suka menunda-nunda shalat dari waktunya dan suka mendatangi pintu-pintu tetangga, mencuri dengan pembicaraan mereka lalu menyebarkan pembicaraan mereka itu.”

Seseorang yang dahulu bekerja sebagai penggali kubur dan ia telah kapok dari pekerjaannya ditanya, “Apa pengalaman aneh yang pernah engkau jumpai?” Ia menjawab, “Saya pernah menggali kuburan seseorang. Ternyata orang tersebut telah dipaku dengan paku besar menancap, sementara paku yang lain menancap di kedua kakinya. Saya juga pernah melihat tengkorak manusia yang dituangi timah. Pada beberapa kuburan yang saya gali lagi, saya sering melihat orang yang ada di dalamnya telah dipalingkan dari arah kiblat.” 

Oleh Abu Khalid, MA

Wujud Amal Di Alam Kubur

Sajadah Muslim ~ Kehidupan di alam kubur atau alam Barzah adalah benar adanya. Kelak, di alam kubur, setiap manusia akan menjumpai malaikat Munkar dan Malaikat Nakir. Kedua  Malaikat itu akan mengajukan pertanyaan kepada si mayat.


Rasulullah SAW bersabda : “Apabila ruh telah dikembalikan ke tubuhnya, maka akan datang dua orang malaikat yang berwibawa, mereka adalah malaikat Munkar dan malaikat Nakir yang akan bertanya.

Siapakah Tuhnmu? Apakah yang akan kamu katakan kepada lelaki ini, yakni Muhammad? Jika yang meninggal itu orang shaleh, maka ia akan menjawab, “Allah adalah Tuhanku dan Muhammad adalah utusan Allah dan Al-Qur’an adalah diturunkan kepadanya dan aku mengimaninya.’

“Memang benar hambaku itu, maka hendaklah kamu semua hamparkan hamparan dari surga  dan pakailah  pakaian-pakaian dari surga untuknya, serta bukalah pintu-pintu surga untuknya.”

“Maka terbukalah pintu-pintu surga untuknya disertai bau harum dari surga dan kuburnya pun menjadi  luas sepanjang mata memandang.”

Setelah itu datanglah sesosok yang rupawan dengan pakaian indah dan berbau wangi. Lalu berkata:

“Bergembiralah kamu dengan apa yang menyenangkan kamu.” Mayat itu lalu bertanya, “Siapakah kamu? Allah swt mengasih kamu, aku tidak pernah melihat seindah kamu di dunia.”

Lalu laki-laki itu menjawab,

“Aku adalah amal shaleh di dunia.”

Golongan Bersedih

Rasulullah saw bersabda, “Kalau orang tersebut termasuk dalam golongan yang akan mendapat azab, apabila telah sampai ajalnya, maka malaikat akan turun dari langit dengan membawa pakaian azab, lalu datang malaikat maut duduk di dekat kepalanya dan berkata:

“Keluarlah kamu wahai nafsu yang jahat dan keluarlah dengan kemurkaan Allah Swt.”

Rasulullah Saw bersabda, “Apabila berpisah ruh dari badannya, maka segala sesuatu yang di langit dan di bumi mengutuknya. Semuanya akan mendengar kutukan tersebut termasuk manusia dan jin. Kemudian malaikat akan membawa ruh tersebut naik ke langit. Apabila mereka telah sampai di langit, maka tertutuplah pintu-pintu langit lalu terdengar suara.

“Pulangkanlah ruh tersebut. Lalu malaikat pun mengembalikan ke kuburnya. Setelah itu dataglah malaikat Munkar dan Nakir dengan suara seram, matanya seperti kilat yang menyambar.

Amal Berbau Busuk

Kemudian malaikat itu duduk sambil bertanya, 

“Siapakah Tuhanmu?

“Aku tak tahu,” jawab si mayat

Di waktu yang sama terdengarlah sebuah suara.

“Wahai Munkar dan Nakir, pukul saja orang itu.”

Maka malaikat Munkar dan Nakir pun memukulnya dengan palu dari besi. Dengan pukulan tersebut, maka menyalalah api dari kuburan itu. Tak hanya itu, kuburnya pun akan menjadi sempit hingga menghimpit tulang-tulangnya.

Setelah itu, datanglah sosok yang menghampiri si mayat dengan rupa paling buruk dan hina serta baunya sangat busuk.

Laki-laki itu lantas berkata, “Allah SWT, telah membalas kejahatanmu, maka demi Allah tidaklah kamu melakukan suatu kebajikan, tapi kamu senantiasa lalai untuk taat dan senantiasa melakukan kemaksiatan kepada Allah SWT.”

Si mayat bertanya. “Siapakah kamu?” laki-laki itu berkata lagi, “Akulah  amal perbuatanmu yang jahat.”
Lalu dibukakanlah pintu neraka dan si mayat pun melihat tempat tinggalnya di neraka hingga datangnya hari kiamat.

Oleh Abu Khalid, MA

Pertolongan Al-Quran Di Alam Kubur

Sajadah Muslim ~ Dari Sa’id bin Sulaim ra, Rasulullah saw bersabda, “Tiada penolong yang lebih utama derajatnya di sisi Allah pada hari Kiamat dari pada Al-Qur’an. Bukan Nabi, bukan malaikat dan bukan pula yang lainnya.” (Abdul Malik bin Habib-Syarah Ihya).


Bazzar meriwayatkan dalam kitab La’aali Masnunah bahwa jika seseorang meninggal dunia, ketika orang-orang sibuk dengan kain kafan dan persiapan pengebumian di rumahnya tiba-tiba seseorang yang sangat tampan berdiri di kepala mayat. Ketika kain kafan mulai dipakaikan, dia berada di antara dada dan kain kafan.

Setelah di kuburkan dan orang-orang mulai meninggalkannya, datanglah dua malaikat. Yaitu Malaikat Munkar dan Nakir yang berusaha memisahkan orang tampan itu dari mayat agar memudahkan tanya-jawab. Tetapi si tampan itu berkata, Ia adalah sahabat karibku. Dalam keadaan bagaimanapun aku tidak akan meninggalkannya. Jika kalian ditugaskan untuk bertanya kepadanya, lakukanlah pekerjaan kalian. Aku tidak akan berpisah dari orang ini sehingga ia di masukkan ke dalam surga.

Lalu ia berpaling kepada sahabatnya dan berkata, “Aku adalah Al-Qur’an yang terkadang kamu baca dengan suara keras dan terkadang dengan suara perlahan. Jangan khawatir setelah menghadapi pertanyaan Munkar dan Nakir, engkau tidak akan mengalami kesulitan.”

Setelah para malaikat itu selesai memberi pertanyaan, ia menghamparkan tempat tidur dan permadani sutera yang penuh dengan bau kasturi dari Mala’il A’la (Himpunan Fadhilah Amal: 609).

Allahu akbar, selalu saja ada getaran haru selepas membaca hadits ini. Getaran penuh pengharapan sekaligus kekhawatiran. Getaran harap karena tentu saja mengharapkan Al-Qur’an yang kita baca dapat menjadi pembela kita di hari yang tidak ada pembela. Sekaligus getaran takut, kalau-kalau Al-Qur’an akan menuntut kita. Allah..... terimalah bacaan Al-Qur’an kami. Sempurnakanlah  kekurangannya.

Banyak riwayat yang menerangkan bahwa Al-Qur’an adalah pemberi syafaat yang pasti dikabulkan Allah SWT. Upaya agar mendapatkan syafa’at Al-Qur’an tentu saja dengan mendekatkan diri kepada Al-Qur’an. Salah satu cara yang sangat baik dalam “Memaksa” kita untuk dekat dengan Al-Qur’an adalah dengan menghafalkannya.

Dengan berniat menghafal Al-Qur’an hati kita seakan-akan terpanggil untuk selalu memegang Al-Qur’an. Ada tanggung jawab yang membuat kita merasa “bersalah” jika tidak memegang Al- Qur’an. Walaupun mungkin sekedar membacanya.

Pada akhirnya kita mau tidak mau “dipaksa” untuk mendekat kepada Al-Qur’an. Dapat dikatakan dengan menghafal Al-Qur’an  kita telah mengikatkan diri dengan Al-Qur’an . Sesibuk apapun kita, kita dipaksa untuk selalu dekat Al-Qur’an. Dan itu sungguh bukan termasuk “pemaksaan” yang dianiaya. Melainkan pemaksaan yang penuh kebaikan.

Semoga hadits diatas menjadi cambuk bagi kita ketika rasa malas menerpa kita. Semoga Allah swt, dengan kemulaiaan-Nya menjadikan Al-Qur’an sebagai syafa’at bagi kita, bukan sebagai penuntut kita.

Semoga Al-Qur’an menjadi “teman” bagi  kita ketika ada sesuatupun di dunia ini yang dapat menemani kita. Amiin........ Mari menghafal  Al-Qur’an.

Oleh Abu Khalid, MA

Pembicaraan Siksa Kubur Dalam Al-Qur’an

Sajadah Muslim ~ Apakah pembicaraan mengenai siksa kubur juga tidak ada dalam Al-Qur’an? Kami akan membuktikan bahwa pembicaraan mengenai siksa kubur sebenarnya disebutkan pula dalam Al-Qur’an. Sehingga dengan sangat pasti kita dapat katakan bahwa pembicaraan mengenai siksa kubur adalah mutawatir karena riwayat Al-Qur’an adalah mutawatir dan bukan Ahad.


Ayat pertama: Siksaan bagi Fir’aun dan Pengikutnya di Alam Kubur. Allah Ta’ala  berfirman : “Dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat) “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.” (QS. Al-Mu’min ayat 45- 46).

Mari kita perhatikan penjelasan para pakar tafsir mengenai potongan ayat ini: “Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang. Al-Qurtubhi rahimahullah mengatakan, sebagian ulama berdalil dengan ayat ini tentang adanya adzab kubur. Pendapat inilah yang dipilih oleh Mujahid. Ikrimah, Maqotil, Muhammad bin Ka’ab. Mereka semua mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan adanya siksa kubur di dunia ( Al-Jaami Li Ahkamil Quran, 15/ 329)

Arsy Syaukani rahimahullah, mengatakan : Yang dimaksud dengan potongan dalam ayat tersebut adalah siksaan di alam barzakh (alam kubur).  (Fathul Qodir, 4/705).

Fakhruddin Ar-Rozi Asy Syafii rahimahullah, mengatakan, para ulama Syafiiyyah berdalil dengan ayat ini tentang adanya adzab kubur. Mereka mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa siksa neraka yang dihadapkan kepada mereka pagi dan siang (artinya sepanjang waktu) bukanlah pada hari kiamat nanti. Karena pada lanjutan ayat dikatakan, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat); “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras (Berarti siksa neraka yang dinampakkan pada mereka adalah di alam kubur). Tidak bisa juga kita katakan bahwa yang dimaksudkan adalah siksa di dunia. Karena dalam ayat tersebut dikatakan bahwa neraka dinampakkan pada mereka pagi dan siang, sedangkan siksa ini tidak  mungkin terjadi pada mereka ketika di dunia. Jadi yang tepat adalah dinampakkannya neraka pagi dan siang disini adalah setelah kematian (bukan di dunia) dan sebelum datangnya hari kiamat. Oleh karena itu, ayat ini menunjukkan adanya siksa kubur bagi Fir’aun dan pengikutnya. Begitu pula siksa kubur ini akan diperoleh bagi yang lainnya sebagaimana mereka (Mafaatihul Ghoib, 27/64)

Ibnu Katsir rahimahullah, mengatakan, Ayat ini adalah pokok aqidah terbesar yang menjadi dalil  bagi Ahlus Sunnah wal Jamaah mengenai adanya adzab (siksa) kubur yaitu firman Allah Ta’ala : “Kepada  mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang”. (Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim, 7/146)

Ibnu Qoyyim rahimahullah, menafsirkan ayat di atas. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang ini adalah siksaan di alam barzakh (dialam kubur). Sedangkan ayat yang artinya, dan pada hari terjadinya Kiamat adalah ketika kiamat kubur (kiamat besar). (At-Tafsir Al-Qoyyim, hal. 358).

Ayat lain yang membicarakan Siksa Kubur. Allah SWT berfirman: “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thahaa : 124).

Ibnu Qoyyim rahimahullah mengatakan, Bukan hanya satu orang salaf namun lebih dari itu, mereka berdalil dengan ayat ini tentang adanya siksa kubur. (At Tafsir Al Qoyyim, hal. 358). Begitu pula Ibnul Qoyyim rahimahullah, menyebutkan ayat-ayat lain yang menunjukkan adanya siksa kubur. Kita dapat melihat pula dalam surat Al-An’am. Allah SWT berfirman : “Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata); ‘Keluarkanlah nyawamu’ Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya”. (QS. Al-An’am : 93).

Adapun perkataan Malaikat (yang artinya). Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan. Siksa yang sangat menghinakan di sini adalah siksa di alam barzakh (alam kubur) karena alam kubur adalah alam pertama setelah kematian. (At. Tafsir Al Qoyyim, hal. 358).

Begitu juga yang serupa dengan surat Al An’am tadi adalah firman Allah Taala, “Kalau kamu melihat ketika para Malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar”, (tentulah kamu akan merasa ngeri). (QS. Al Anfal : 50).

Oleh Abu Khalid, MA

Memohon Perlindungan Kepada Allah dari Fitnah dan Azab Kubur

Sajadah Muslim ~ Fitnah dan azab kubur merupakan keadaan yang sangat besar, sehingga Rasulullah saw memohon perlindungan dari hal itu baik dalam shalat maupun di luar shalat. Beliau pun sangat menganjurkan kepada umatnya untuk memohon perlindungan kepada Allah dari segala fitnah dan azab kubur.

Orang-orang yang Terpelihara dari Fitnah dan Azab Kubur

Sebagian kaum mukmin yang melakukan amal-amal besar atau tertimpa musibah besar akan terjaga dari fitnah dan azab kubur. Mereka di antaranya adalah :
  1. Orang yang mati syahid, An Nasal, meriwayatkan dalam Sunan-nya bahwa seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah saw, Ya Rasulullah mengapa kaum mukmin diuji dalam kubur kecuali yang mati syahid? Beliau menjawab, Cukuplah baginya ujian kilatan pedang di atas kepalanya.
  2. Seseorang yang gugur ketika bertugas jaga (sebagai  prajurit) di jalan Allah, Fadhdhalah Ibnu Ubaid, meriwayatkan dari Rasulullah saw, bahwa beliau bersabda; Setiap yang gugur akan selesai amalnya kecuali yang meninggal ketika bertugas jaga di jalan Allah. Amalnya terus tumbuh sampai hari kiamat dan ia akan aman dari fitnah kubur. (HR. Tirmidzi dan Abu Daud).
  3. Seseorang yang meninggal hari Jum’at. Dalam hadits Abdullah Ibnu Amru, Nabi saw bersabda, Setiap muslim yang meninggal pada hari Jum’at akan dijaga oleh Alah dari fitnah kubur. (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
  4. Seseorang yang meninggal karena sakit perut. Abdullah  Ibnu Yasar, berkata, Aku pernah duduk bersama Sulaiman Ibnu Shard dan Khalid Ibnu Urafthah. Mereka menceritakan bahwa ada seorang lelaki yang meninggal karena sakit perut. Keduanya ingin menyaksikan jenazahnya. Salah satunya mengatakan kepada yang lain. Bukankah Rasulullah saw bersabda; Orang yang meninggal karena sakit perut tidak akan diazab di dalam kubur. Yang satunya menjawab, Ya (HR. An-Nasal dan Tirmidzi).

Nasehat dari Penyair

Betapa banyak orang sehat mati tanpa sakit
Betapa banyak yang sakit hidup lebih lama
Biarlah dunia menghampirimu dengan sia-sia
Duniamu tiada lain laksana bayangan yang menaungimu, lalu lenyap tak berbekas.
Setiap hari maut menebar kafan, sementara kita lalai akan kewajiban
Berikanlah pada dirimu taubat, sebelum kau mati dan mulutmu terkunci.
Oleh Abu Khalid, MA

Alam Kubur adalah Hak dan Benar Adanya

Sajadah Muslim ~ Alam kubur adalah awal kehidupan hakiki dari seorang manusia. Mempelajari  apa-apa yang terjadi di alam kubur banyak memberikan faedah. Seseorang yang mengetahui bahwa di alam kubur ada nikmat menjadi orang yang layak mendapatkan nikmat kubur kelak. Seseorang yang mengetahui bahwa di alam kubur ada adzab kubur juga akan  berusaha sebisa mungkin agar ia terhindar darinya kelak. Nikmat dan adzab kubur adalah perkara gaib yang tidak terindera oleh manusia. Manusia yang merasakannya pun tentu tidak dapat mengabarkan kepada yang masih  hidup akan kebenarannya. Maka satu-satunya sumber keyakinan kita akan adanya adzab dan nikmat kubur adalah dalil Qur’an dan Sunnah. Dan banyak sekali dalil dari Qur’an dan Sunnah serta ijma para sahabat dan tablin yang menetapkan adanya alam kubur. Namun sebagian orang dari kalangan ahlul bidah mengingkarinya karena penyimpangan mereka dalam memahami dalil-dalil syari.


Alam kubur adalah awal perjalanan akhirat, barang siapa yang selamat di alam kubur, maka setelahnya lebih mudah. Barang siapa yang  tidak selamat, maka setelahnya lebih berat. Jadi jelas bahwa karena begitu jauhnya perbandingan antara siksa kubur dengan siksa mereka kelak di hari kiamat, hingga ketika mereka  masih di siksa  di alam kubur dianggap masih dalam masa penangguhan. Sebagian ulama memang menafsirkan secara mutlak bahwa maknanya adalah mereka tidak akan mendapat adzab hingga hari kiamat namun yang dimaksud adalah sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibnu Katsir dan Sal-Baghawi di atas. Karena faktanya, sebagian orang kafir bahkan diadzab ketika mereka masih hidup. Dan perlu dicatat, para ahli tafsir yang menafsirkan secara mutlak demikian tidak ada yang memahami bahwa ayat ini menafsirkan adzab kubur. Jadi memahami ayat ini dengan pemahaman oleh para penolak adanya adzab kubur, adalah pemahaman baru yang tidak ada pendahulunya, serta bertentangan dengan ratusan dalil.

“Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa; Mereka tidak berdiam (dalam kubur) malainkan sesaat (saja). Seperti demikianlah mereka selalu dipalingkan (dari kebenaran).” (QS. Ar-Ruum ayat 55)

Para ahli tafsir menjelaskan mengenai makna sesaat, Al Baidhawi berkata, Maksudnya adalah masa di alam kubur dianggap terlalu sebentar jika dibandingkan dengan lamanya siksaan mereka di akhirat kelak. Atau penafsiran yang lain,  mereka lupa akan lamanya  berada di alam kubur (Anwar At-Tanziil, 4/488). Sebagian ahli tafsir memaknai bahwa maksudnya adalah  masa ketika hidup di dunia. Al-Baghawi mengatakan, Maksudnya adalah masa di dunia dianggap terlalu sebentar dibandingkan dengan akhirat (Maalim At- Tanzil, 6/ 278). Seluruh tafsiran di atas ada yang bertentangan dengan dalil-dalil adanya adzab kubur. Dan sekali lagi perlu di catat, tidak ada ahli tafsir yang memahami bahwa ayat ini menafsirkan adanya adzab kubur. Menunjukkan bahwa ayat ini dengan dalil-dalil shahih tentang adanya adzab kubur tidaklah bertentangan.

Hani, budak Utsman bin Affan meriwayatkan hadits. Ketika Utsman radhiyallahu anhu, berhenti di sebuah kuburan, beliau menangis tersedu-sedu sampai basah janggutnya. Lalu beliau  ditanya, Engkau mengingat surga dan neraka tetapi tidak menangis. Namun saat mengingat kubur, engkau menangis. Mengapa? Jawab beliau. Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda. Kubur adalah rumah akhirat pertama. Bila selamat di kubur, maka setelahnya menjadi lebih mudah; bila tidak selamat dari kubur, maka setelahnya lebih sulit. Aku juga mendengar Rasulullah saw bersabda. Aku tidak melihat suatu pemandangan pun yang lebih menakutkan dari pada kubur. (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Di sebabkan fase setelah kubur lebih mudah bagi yang telah selamat, maka seorang mukmin dalam kuburnya, ketika melihat surga yang disiapkan Allah, mereka berkata, Ya Tuhan, segerakanlah terjadinya kiamat agar aku  tidak kembali ke keluarga dan hartaku. Sedangkan orang-orang kafir, ketika melihat adzab pedih yang disiapkan Allah baginya, berseru. Ya Tuhan, jangan kau datangkan kiamat. Karena yang akan datang setelahnya lebih pedih siksanya dan lebih menakutkan.

Gelapnya Alam Kubur

Seorang wanita yang biasa menyapu masjid Nabawi pada masa Rasulullah saw, ia wafat dan Rasulullah saw pun merasa kehilangan atas kepergiannya itu. Para sahabat menyampaikan bahwa wanita tersebut meninggal pada saat malam dan telah dikubur pada malam itu juga. Para sahabat tidak sampai hati mengingatkan Rasulullah saw. Beliau, lalu meminta beberapa sahabat untuk menunjukkan kuburnya. Setelah sampai di kubur wanita tersebut, beliau pun kemudian menyalati wanita itu, lalu bersabda. Kuburan ini sungguh sangat gelap bagi para penghuninya Allah azza wa jalla menyinarinya bagi mereka dengan shalatku tadi. (HR. Bukhari dan Muslim, dll).

Himpitan Kubur

Setelah mayit diletakkan di dalam kubur, maka kubur akan menghimpit dan menjempit dirinya. Tidak seorang pun baik besar, kecil, sholeh, maupun jahat dapat selamat dari himpitan kubur. Beberapa hadits menerangkan bahwa kubur menghimpit Saad Ibnu Muadz, yang kematiannya membuat arsy bergerak, pintu-pintu langit terbuka, serta malaikat sebanyak 70.000  menyaksikannya. Dalam  Sunan An-Nasal diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma , bahwa Rasulullah saw berdsabda. Inilah yang membuat arsy bergerak  pintu-pintu langit dibuka, dan disaksikan oleh 70.000 malaikat. Sungguh ia dihimpit dan dijepit (oleh kubur), akan tetapi kemudian dibebaskan. Dalam Musnad Ahmad, diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah saw bersabda, Sesungguhnya kubur memiliki himpitan yang bila seseorang selamat darinya, maka (ia selamat sama seperti) Saad Ibnu Muadz yang telah selamat. (HR. Ahmad).

Fitnah Kubur

Jika seorang hamba telah diletakkan di dalam kubur, datanglah kepadanya malaikat dalam bentuk yang menakutkan. Dalam hadits riwayat Al-Barra bin Azib, Rasulullah saw bersabda, Lalu ia didatangi dua malaikat yang sangat kejam. Mereka membentak, lalu mendudukannya dan bertanya, Siapa Tuhan-mu? Siapa Nabi-mu ? Apa agama-mu? Ini adalah ujian terakhir yang menimpa seorang mukmin. Itulah makna firman Allah, Allah  meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia. Ia menjawab, Tuhanku Allah, Agamaku Islam, Nabiku Muhammad Saw. Tak lama kemudian terdengar seruan dari langit. Hamba-Ku benar.

Mengenai orang kafir, beliau bersabda. Dua malaikat yang sangat kejam datang kepadanya. Mereka membentak dan mendudukannya, lalu bertanya, Siapa Tuhan-Mu? Ia menjawab, Ha...... ha, aku  tidak tahu. Mereka bertanya lagi, Apa agama-Mu? Jawabnya, Ha......ha aku tidak tahu. Mereka bertanya lagi, Apa pendapatmu tentang laki-laki yang diutus kepada kalian ini? Ia tidak mengenal namanya. Ketika di jawab Muhammad, ia berkata, Ha....... ha aku tidak tahu. Lalu terdengarlah seruan, Hamba-Ku  dusta.

Dari hadits yang telah dikemukakan di atas menunjukkan  bahwa orang kafir pun diuji di dalam kubur. Imam Tirmidzi berpendapat bahwa umat terdahulu, bila menolak dakwah para rasul, maka mereka akan diadzab Allah hingga binasa. Adapun umat Islam, adzabnya ditangguhkan. Sedangkan Abdul Haq Al-Isybily, Ibnu Qayyim, Al-Qurthubi, As-Safarini dan selainnya berpendapat bahwa pertanyaan dalam kubur berlaku untuk umum, baik orang mukmin maupun orang kafir.

Adzab dan Nikmat Kubur

Penulis kitab Al-Aqidah, Ath-Thahawiyah berkata, Hadits mengenai adzab dan nikmat kubur, serta permasalahan mengenai pertanyaan malaikat di dalam kubur, hal tersebut berasal dari sumber yang mutawatir. Oleh karenanya, wajib untuk meyakini dan mengimani hal tersebut dan kita tidak perlu memperbincangkan masalah caranya.

Kalangan atheis dan orang-orang Islam yang mengikuti pendapat para filosof mengingkari adanya adzab kubur. Mereka beralasan bahwa setelah membongkar kubur, mereka tidak melihat sama sekali apa yang diberitakan oleh nash-nash syariat. Mereka semua tidak mempercayai apa yang diluar jangkauan ilmu mereka. Mereka mengira bahwa penglihatan mereka dapat melihat segala sesuatu dan pendengaran mereka dapat mendengar segala sesuatu, padahal kita saat ini telah mengetahui beberapa rahasia alam yang oleh penglihatan  dan pendengaran kita tidak dapat menangkapnya. Orang-orang yang beriman kepada Allah Ta’ala akan membenarkan berita-Nya.

Di dalam Al-Qur’an terdapat isyarat-isyarat yang menunjukkan adanya azab kubur. (Ingatlah) ketika orang-orang yang lalim (berada) dalam tekanan sakratul maut, dan para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata). Keluarkanlah nyawamu! Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan. (QS. Al-AnAm ayat 93)

Nanti mereka akan Kami siksa dua kali, kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar. (QS. At-Taubah ayat 101)

Iman Bukhari menjelaskan bahwa ayat pertama sebagaimana yang dikemukakan diatas membahas tentang malaikat yang mengazab orang-orang kafir pada saat sekarat. Ayat kedua menunjukkan adanya dua azab yang menimpa orang-orang munafik sebelum azab hari kiamat. Azab pertama adalah musibah yang ditimpahkan oleh Allah di dunia dengan siksaan langsung, sedangkan yang azab yang kedua adalah  siksaan kubur.

Dalam hadits Anas disebutkan bahwa seorang mukmin setelah menjawab pertanyaan malaikat dengan benar di dalam kubur, dikatakan kepadanya, Lihatlah tempat tinggalmu di neraka. Namun Allah menggantinya dengan surga. Ia melihat neraka dan surga. Qatadah berkata; Ada riwayat bahwa kuburnya dilapangkan. Dalam hadits Anas juga disebutkan bahwa orang kafir dan munafik setelah menjawab dengan salah di dalam kubur, dikatakan kepadanya, Kau tidak  mengetahui dan tidak mengikuti. Kemudian ia dipukul dengan palu besi pada bagian di antara dua telinganya. Ia menjerit histeris hingga terdengar oleh yang disekitarnya kecuali manusia dan jin. (HR. Bukhari dan Muslim).

Orang Yang Berhutang, Ditahan Di Dalam Kubur

Hutang adalah salah satu perkara yang dapat membahayakan orang yang telah meninggal di dalam kuburnya. Saad Ibnu Al-Athawal menceritakan bahwa saudaranya wafat. Saudaranya itu meninggalkan hutang sebesar tiga ratus dirham. Saad berkata, Aku ingin menginfakkan harta tersebut kepada keluarganya. Nabi Saw berkata kepadaku, Sessungguhnya saudaramu tertahan karena hutangnya, maka pergi dan bayarlah hutangnya. Lalu aku pergi dan membayar hutangnya, kemudian aku datang dan berkata, Wahai Rasulullah saw, aku telah membayar hutangnya kecuali dua dinar yang diklaim oleh seorang perempuan, sebab ia tidak memiliki bukti. Beliau  menjawab, Berikanlah, sebab ia berhak. (HR. Ibnu Majah, Ahmad, Baihaqi).

Hal-Hal Yang Menyelamatkan Manusia dari Azab Kubur

Mempersiapkan diri sebelum menghadapi kematian merupakan faktor yang dapat menyelamatkan seseorang dari azab kubur, sehingga ketika maut datang secara tiba-tiba, maka kelak tidak akan muncul penyesalan dalam dirinya. Di antara persiapan menghadapi maut adalah segera bertaubat, menunaikan kewajiban dalam syariat, memperbanyak amal shaleh, memperbaiki akidahnya, berjihad, berbuat baik pada orang tua, menyambung silaturahim, dan amal-amal sholeh lainnya yang dengan amalan tersebut Allah memberinya jalan keluar dari tiap kesulitan dan kesusahan.

Ibnu Taimiyah berkata dengan mengutip hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Abu Hatim dalam shahih-nya. Sungguh orang mati dapat mendengar suara langkah kaki orang-orang yang pergi meinggalkannya. Jika ia seorang mukmin, maka shalat berada di dekat  kepalanya, puasa berada disebelah kanannya, zakat disebelah kirinya perbuatan baik seperti berkata benar, silaturahim, dan perbuatan baik kepada manusia berada di dekat kaki. Ia lalu didatangi (oleh malaikat) dari arah kepalanya, maka shalat berkata. Di arahku tidak ada jalan masuk. Kemudian ia didatangi dari sebelah kanan, maka puasa berkata. Di arahku tidak ada jalan masuk. Kemudian ia didatangi dari sebelah kiri, maka zakat berkata. Di arahku tidak ada jalan masuk. Kemudian ia didatangi dari arah kedua kakinya, maka perbuatan baik, seperti berkata benar, silaturahim, dan berbuat baik kepada manusia, berkata. Di arahku tidak ada jalan masuk. Lalu dikatakan kepadanya, duduklah. Ia pun duduk. Kepadanya ditampakkan bentuk serupa matahari yang hampir terbenam. Ia ditanya, Siapa lelaki ini yang bersama kalian? Apa komentarmu tentangnya? Ia menjawab. Tinggalkan aku, aku ingin shalat. Mereka menjahut, Sungguh kamu boleh melakukannya, tetapi jawablah pertanyaan kami. Ia berkata, apa pertanyaan kalian? Mereka menanyakan, apa komentarmu tentang lelaki ini yang dulu bersama  kalian? Apa persaksianmu terhadapnya? Ia menjawab, Aku bersaksi bahwa ia adalah utusan Allah, dan dia membawa kebenaran dari Allah. Lalu dikatakan kepadanya, dengan dasar keimanan itulah kau telah hidup, dan dengan dasar itu kau telah mati, dan dengan dasar itu pula kau akan dibangkitkan, insya Allah. Kemudian dibukakan baginya pintu surga, lalu dikatakan kepadanya. Ini tempat tinggalmu di surga dan segala yang telah Allah siapkan untukmu. Ia bertambah senang dan gembira. Kemudian dibukakan pintu neraka, dan dikatakan, itu adalah tempat tinggalmu dan segala yang telah Allah siapkan untukmu (jika kau mendurhakai-Nya). Ia bertambah senang dan gembira. Kemudian kuburnya diluaskan seluas tujuh puluh hasta dan diterangi cahaya, jasadnya dikembalikan seperti semula, dan jiwanya dijadikan dalam penciptaan yang baik bagai burung yang bertengger di pohon surga.

Oleh Abu Khalid, MA

Hukum Menangis Dan Meratapi Mayat

Sajadah Muslim ~ Al-Faqih Abu Laits mengatakan : “Hukumnya haram apabila menangis dan meratapi terhadap mayat, akan tetapi hukumnya boleh apabila hanya menangis secara wajar dan bersabar karena yang demikian itu adalah yang lebih baik.”


Sebagaimana yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an : “Sesungguhnya pahala bagi orang-orang yang bersabar ditepati dan tanpa hisab.”

Dan Nabi Muhammad saw juga bersabda:

“Orang yang menangis dan meratapi sedangkan orang yang ada disekitarnya yang mendengarkan tangisnya, maka mereka semua  mendapat laknat  dari Allah SWT, para malaikat dan semua manusia.”

Ada sebuah kisah, yaitu ketika Hasan Ibnu Huzain Ali meninggal dunia, maka istrinya selalu beri’tikaf (diam sambil menunggui) di atas kuburan suaminya selama 1 (satu) tahun. Dan ketika telah tiba Maul yang pertama, maka dihilangkanlah tinta perkemahan yang ada disekitar  tempat itu mendengar sebuah suara dari pekuburan: “Sudahkah kalian jumpai apa yang telah kalian korbankan dari beberapa waktu? Dan juga terdengar pula dari arah yang lain : “Bahkan telah kalian lakukan sebuah kejelekan, maka sekarang  bubarlah kalian semua dan pergilah.”

Pada suatu ketika putra Nabi Muhammad saw yang bernama Ibrahim telah meninggal dunia. Beliau mengalir air mata. Melihat itu Abdurrahman bin Auf yang berada disebelah beliau bertanya: “wahai  Rasulullah, bukankah engkau telah mencegah kami untuk menangis.” Maka Rasulullah saw menjawab: “Sesungguhnya aku mencegahmu dari dua suara yang sangat keterlaluan itu, yaitu suara tangis yang meratap dan suara nyanyian, dengan mencakari wajah dan merobek saku bajunya. Akan tetapi, mengalirnya air mataku ini adalah rahmat yang dijadikan oleh Allah Swt dalam hati setiap insani yang penuh dengan kasih sayang.” Lalu beliau bersabda: “Apabila hati sedang kesusahan, maka air mata itu akan mengalir.”

Di riwayatkan dari  Wahab  Ibnu Kaisan ra, beliau berkata: “Sesungguhnya Umar bin Khathab ra melihat seorang wanita yang menangisi mayat, lalu beliau mencegah wanita itu. Melihat itu Nabi Muhammad saw bersabda : “Tinggalkanlah dia wahai Abu Hafs, karena sesungguhnya mata yang menangis itu menunjukkan hati yang susah dan janji-janji itu adalah benar-benar terjadi.”

Oleh Abu Khalid, MA

Musibah Pada Mayat

Sajadah Muslim ~ Di dalam sebuah hadits telah disebutkan, bahwa sesungguhnya orang yang tertimpa musibah (kematian), kemudian ia merobek-robek pakaiannya dan memukul-mukul dadanya, maka itu berarti sama dengan ia mengambil tombak untuk memerangi Allah SWT.”


Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang menghitamkan pintu tua  pakaian ketika tertimpa musibah, atau memukul-mukul toko, memotong- motong  pepohonan dan memotong-motong rambut, maka ia akan dibangunkan oleh Allah swt dari satu helai rambut dengan sebuah rumah dari api neraka. Dan tidaklah diterima ibadah dan keadilan orang tersebut selama pintu itu masih berwarna hitam dan Allah swt akan menyempitkan kuburnya bila mati. Ia akan diberatkan hisabnya dan ia akan dilaknati oleh semua malaikat yang ada di langit  dan di bumi. Dan mayatnya akan ditulis dengan 1.000 kesalahan dan mayat itu akan dibangunkan dari kuburnya dalam keadaan telanjang.”  

Rasulullah Saw juga bersabda : “Barang siapa yang merobek-robek sakunya waktu tertimpa  musibah, maka Allah swt akan merobek agamanya. Dan apabila orang tersebut menampari pipi atau mencakari wajahnya, maka Allah swt akan mengharamkan kepadanya untuk melihat Dzat Yang Maha Mulia.”

Di dalam sebuah hadits telah disebutkan, bahwa apabila seorang anak Adam meninggal dunia, kemudian orang-orang yang berkumpul di rumahnya semua menjerit-jerit, maka berdirilah malaikat Izrail pada pintu rumahnya seraya berkata: “Jeritan apakah ini? Demi Allah tidaklah aku kurangi umur seseorang di antara  kamu, tidak mengurangi riziqi dan juga tidak menganiaya salah seorang di antara kamu. Apabila jeritan itu karena aku, maka aku ini adalah seorang hamba yang diperintah  dan apabila jeritan-jeritan itu karena mayat, maka hal tersebut adalah yang terpaksa. Dan jika adanya jeritan-jeritan itu karena Allah SWT, maka kamu semua adalah termasuk orang-orang yang bodoh terhadap Allah swt. Demi Allah, sesungguhnya, aku ini akan kembali kepadamu kemudian kembali lagi.”

Oleh Abu Khalid, MA

Pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir

Sajadah Muslim ~ Di dalam sebuah hadits telah disebutkan, bahwa ketika mayat telah diletakkan di dalam kubur, maka datanglah dua malaikat yang warnanya hitam pekat, kedua matanya melotot, suaranya yang keras bagaikan halilintar, pandangan matanya bagaikan kilat yang menyambar-nyambar dan kedua malaikat itu mampu merobek bumi dengan kuku-kuku jarinya yang sangat tajam.


Lalu kedua malaikat itu datang dari arah kepala si mayat, maka shalat menyaksikan seraya berkata: “Kalian  berdua jangan datang dari arahku ini, karena mayat ini telah melakukan semua shalat, baik pada waktu malam atau siang, karena rasa takut dan khawatirnya dari tempat ini.”

Kemudian kedua malakikat itu datang dari arah kaki si mayat, maka kaki tersebut berkata: “Kalian berdua jangan datang dari arahku ini karena sesungguhnhya mayat ini telah mempergunakan aku untuk berjalan ke shalat berjamaah, karena rasa takut dan khawatirnya  dari tempat ini.”

Selanjutnya kedua malaikat itu datang dari arah kirinya si mayat, maka puasa menyaksikan seraya berkata: “Kalian berdua janganlah datang dari arahku ini, karena sesungguhnya arah ini sering ia pergunakan untuk menahan lapar dan haus, karena rasa takut dan khawatirnya dari tempat ini.”

Setelah itu mayat tersebut terbangun sebagaimana terbangunnya seorang dari tidurnya, seraya berkata: “Apa yang kalian berdua inginkan dariku?” Kedua malaikat itupun menjawab: “Aku menginginkan ketauhidanmu terhadap Allah. Maka mayat itu menjawab dengan kalimat di bawah ini :

Artinya : “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah.”

Kemudian kedua malaikat itu bertanya lagi : “Apa yang kamu katakan tentang kebenaran Muhammad?” Maka mayat itu menjawab dengan kalimat di bawah ini: “Dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah utusan (rasul) Allah.”

Lalu kedua malaikat tersebut berkata kepada mayat: “Kamu hidup dalam beriman dan kamu mati pun dalam keadaan beriman.”

Adapun hikmah yang terdapat pada pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir adalah merupakan bukti penghinaan malaikat terhadap anak cucu Adam as sewaktu para malaikat bertanya kepada Allah swt. Dan pertanyaan itu sebagaimana yang telah disebutkan di dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 30.

Artinya : “Mereka berkata : “Mengapa Engkau (Allah) hendak menjadikan (Khalifah) di bumi itu orang yang membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”

Pertanyaan tersebut  keluar  ketika para malaikat, Allah swt berfirman : “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Kemudian Allah swt menyangkal atas perkataan para malaikat, dalam hal ini Allah swt berfirman : “Sesungguhnya  Aku lebih mengetahui apa yang  tidak kamu ketahui.”

Kedua malaikat  itu kemudian diperintahkan oleh Allah swt untuk masuk ke kubur  orang mukmin dan bertanya kepada mayat dengan pertanyaan ”Siapa Tuhan-Mu? Siapa Nabi-Mu? Apa Agama-Mu?

Kemudian Allah Swt juga memerintahkan kepada kedua malaikat itu untuk mengadakan persaksian di hadapan para malaikat tentang apa yang telah di dengar dari jawaban orang mukmin tersebut. Karena dalam persaksian sedikit-sedikitnya ada dua.

Lalu Allah Swt berfirman: “Wahai malaikat-malaikat-Ku telah kalian cabut ruhnya seorang mukmin dan Aku tinggalkan hartanya untuk orang lain, budak-budaknya untuk orang lain dan barang-barangnya juga untuk orang lain. kemudian kalian tanya dalam perut bumi, maka tidaklah rela hamba itu terkecuali kerelaan dari Aku. Kemudian hamba itu  berkata: “Allah Tuhan-Ku, Muhammad Nabi-Ku  Islam agama-Ku” Apakah kamu tidak mengetahui.”

Oleh Abu Khalid, MA

Ruh Datang Ke Kubur Dan Di Rumah

Sajadah Muslim ~ Di dalam sebuah hadits, disebutkan bahwa Nabi Muhammad saw bersabda: “Apabila ruh telah dicabut dari jasad anak cucu Adam as, dan telah lewat masa 3 (tiga) hari, maka berkatalah ruh itu: “Wahai Tuhan-ku, izinkanlah aku untuk berjalan dan melihat apa yang telah aku tempati.” Kemudian Allah swt mengizinkan kepada ruh tersebut. Maka datanglah ruh itu ke kubur dengan melihatnya dari jarak dekat, ternyata dari jasad itu keluar darah dari kedua lubang hidungnya dan mulutnya. Melihat itu, maka menangislah ruh itu dengan tangisan yang berkepanjangan. Lalu ruh itu berkata: “Aduh sungguh kasihan jasadku, wahai kekasihku, tidaklah kamu ingat masa hidupmu bahwa tempat ini adalah tempat kesedihan dan tempat penyesalan.” Kemudian kembalilah ruh tersebut.


Apabila telah lewat masa 5 (lima) hari, maka berkatalah ruh itu: “wahai Tuhan-ku, izinkanlah aku untuk melihat jasadku.” Maka Allah swt mengizinkannya. Kemudian datanglah ruh itu ke kuburnya dan melihat jasadnya dari jarak dekat ternyata jasad itu telah mengalir darah dari kedua lubang hidungnya, mulutnya dan juga dari  kedua telinganya. Darah itu bercampur nanah yang sangat kental dan berbau busuk, kemudian menangislah ruh tersebut. Lalu ruh itu  berkata: “Aduh sungguh sangat kasihan jasadku, tidaklah kamu ingat masa hidupku bahwa tempat ini adalah tempat kesedihan, kesusahan, cobaan serta penuh dengan ulat dan kalajengking dan ulat-ulat itu benar-benar memakan dan merobek-robek kulitmu dan seluruh angota badanmu’. Maka kembalilah ruh tersebut.

Dan apabila telah lewat masa 7 (tujuh) hari, maka berkatalah ruh itu : “Wahai Tuhan-ku, izinkan aku untuk melihat jasadku.” Maka Allah swt mengizinkannya. Kemudian datanglah ruh tersebut ke kuburnya dan melihat jasadnya dari jarak dekat. Ternyata dari jasad itu telah dipenuhi dengan ulat yang sangat banyak dan hancurlah semua daging ditubuhnya. Maka menangislah ruh tersebut. Lalu ruh itu berkata : “Wahai jasadku, tidakkah kamu ingat masa-masa hidupmu? Dimana anak-anakmu, teman-temanmu, kerabat-kerabatmu, istrimu, sahabat-sahabat karibmu dan dimana tetangga-tetanggamu? Yaitu orang yang sama rela bertetangga dengamu, pada hari ini mereka sama menangisi aku dan kamu.”

Dan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, disebutkan bahwa sesungguhnya ketika seorang mukmin yang telah meninggal dunia, maka ruhnya berputar-putar disekitar rumahnya selama 1 (satu) bulan. Maka ruh tersebut melihat apa yang telah ditinggalkannya, bagaimana cara membagi harta warisannya dan bagaimana cara-cara melunasi hutang-hutangnya. Dan apabila telah sempurna 1 (satu) bulan, maka kembalilah ruh-ruh itu ke kuburnya. Setelah itu berputarlah kembali ruh tersebut hingga sempurna waktu 1 (satu) bulan, maka ruh itu melihat siapa yang mendoakannya dan siapa yang merasa susah karenanya.
Apabila telah sampai masa 1 (satu) tahun, maka diangkatlah ruh tersebut ke tempat berkumpulnya para ruh-ruh hingga datang hari kiamat, yaitu pada saat ditiupnya sangkakala oleh malaikat Izrafil. Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Qadar ayat 4 : “Turunlah pada malam itu para malaikat dan ruh.” Para malaikat tersebut turun dengan membawa ruh dan raihan. Dan ada pula yang mengatakan, bahwasanya yang dimaksud dengan ruh pada surat Al-Qadar diatas adalah malaikat yang agung yang turun untuk melayani orang-orang mukmin. Dalam hal ini, Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an surat An-Naba’ ayat 38.

Artinya : “Pada suatu hari ruh dan malaikat berdiri berbaris dan tidak berkata sepatah pun kecuali atas izin Allah. Jika Allah swt mengizinkan, maka berkatalah mereka dengan benar.” Ada yang menyebutkan bahwa ruh yang dimaksud dari ayat di atas adalah ruhnya anak cucu Adam as. Ada juga yang menyebutkan bahwa ruh itu adalah malaikat Jibril as. Dan ada lagi yang menyebutkan bahwa ruh  itu adalah ruh Nabi Muhammad saw, yang berada di bawah Arsy yang memohon izin kepada Allah swt, untuk turun di malam lailatul qadar guna memberi salam kepada  kaum mukmin dan mukminat, maka berlalulah ruh itu diatas mereka.

Ada juga yang mengatakan, bahwa ruh itu adalah ruhnya ahli kubur yang memohon izin kepada Allah swt, dan ruh itu seraya berkata: “Wahai Tuhan kami, izinkanlah kami untuk berkunjung ke rumah kami, melihat anak-anak kami dan keluarga kami.” Maka Allah swt mengizinkannya, kemudian ruh-ruh itu turun pada malam lailatul qadar sebagaimana yang telah dikatakan oleh Ibnu Abbas ra: “Apabila telah tiba waktu hari raya, hari Asyura’ hari Jum’at yang pertama di bulan Rajab, malam pertengahan di bulan Sya’ban, malam lailatul qadar  dan malam Jum’at. Maka keluarlah ruh-ruh itu dari kuburnya lalu mereka  sama berdiri di pintu rumahnya masing-masing.

Ruh-ruh itu berkunjung ke rumah, seraya berkata: “Kasihanilah kepada kami di malam yang penuh berkah ini dengan bersedekah atau sesuap makanan (pada orang yang membutuhkan), karena kami ini sangat membutuhkan pahala itu. Apabila kamu bakhil terhadap itu dan tidak  mampu untuk memberikannya, maka ingatlah kepada kami dengan membaca surat Al-Fatihah pada malam yang penuh berkah ini. Adakah seseorang yang mengingat penggambaran kami? Wahai penghuni rumah kami, wahai orang yang menikahi istri kami, wahai orang yang menempati gedung-gedung kami, kamu sekarang dalam kesempitan kubur. Wahai orang yang membagi harta benda kami. Kitab-kitabku telah tertutup, sedangkan kitab-kitab amal kalian masih terbuka. Tidak ada secarikpun pakaian di dalam kubur bagi mayat, maka janganlah kalian  lupakan kami dengan bersedekah sesuap makanan dan do’a-do’a kalian, karena kami membutuhkan selamanya.”

Apabila mayat tersebut mendapat sedekah dan do’a dari keluarganya, maka kembalilah mereka dengan riang gembira. Dan apabila tidak, maka kembalilah mayat itu dengan penuh kesusahan, penyesalan dan keputus asaan dari keluarganya. Telah dikatakan, bahwa sesungguhnya ruh pada kumpulan binatang tidaklah pada semua badan, akan tetapi pada anggota-anggota tertentu yang tidak pasti dengan dalil bahwa apabila sesuatu tubuh dilukai dengan luka yang banyak, kadang-kadang tidak mati, akan tetapi ada yang terluka di suatu tempat saja, tubuh tersebut menjadi mati disebabkan luka tersebut mengenai tempat ruhnya. Juga dikatakan, bahwa ruh itu berada di seluruh tubuh, karena sesungguhnya mati itu dalam seluruh tubuh. Sebagaimana yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an surat Yaasiin ayat 79  yang  Artinya : “Katakanlah : Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya yang pertama kali.”

Mengenai perbedaan ruh dan rowan, maka tidak ada perbedaan di antar keduanya, keduanya adalah sama sebagaimana badan dengan tangan adalah satu, tetapi tangan itu bebas bergerak ke sana  kemari, sedangkan badan tidak dapat bergerak sama sekali. Demikian  juga Rowan bisa bergerak ke sana ke mari, akan tetapi ruh tidak dapat bergerak sama sekali. Ruh di dalam tubuh tempatnya tidak dapat dipastikan atau ditentukan akan tetapi, Rowan tempatnya yaitu berada diantara kedua alis. Maka apabila ruh itu hilang, maka tidaklah diragukan lagi matilah hamba tersebut. Dan apabila rowan itu hilang, maka tertidurlah hamba tersebut sebagaimana air  yang ketika dituangkan dalam suatu wadah lalu diletakkan dalam rumah dan air dalam wadah tersebut terkena sinar matahari dari suatu lubang, maka cahaya tersebut tetap di atas atap tanpa bergerak, wadah tersebut dari tempatnya, maka seperti itulah ruh di dalam tubuh. Dan cahaya matahari  itu berada di arsy, cahaya itu adalah Rowan yang dapat melihat mimpi dalam tidur dan cahaya itu berada di dalam malaikat.

Ruh setelah disebut dari jasad itu bertempat di dalam sangkakala yang memilki lubang sebanyak jumlah binatang-binatang yang telah diciptakan sampai hari kiamat tiba, dan ruh  di dalam sangkakala tersebut ada yang memperoleh kenikmatan dan ada yang memperoleh adzab yang sangat pedih. Sedangkan ruh orang-orang mukmin itu bertempat di dalam temboloknya burung hijau di Illiyyin. Dan ruh orang-orang kafir itu bertempat di dalam temboloknya burung hitam yang berada di neraka. 

Di dalam sebuah riwayat, telah disebutkan bahwa apabila ruh orang-orang mukmin disebut, maka diangkatlah ruh itu oleh malaikat Rahmat ke langit ke tujuh dengan dimuliakan, seraya ada pemanggil dari hadapan Allah Swt yang Maha Rahmat: “Wahai malaikat, tulislah ruh itu di dalam ‘Illiyyin lalu kembalikanlah dia ke bumi.” Maka di kembalikanlah ruh tersebut ke jasadnya dan di bukakan bagi orang-orang mukmin itu pintu surga, sehingga terlihatlah olehnya tempat di surga yang penuh dengan kenikmatan sampai hari kiamat tiba. Sedangkan ruhnya orang-orang kafir apabila telah dicabut dari jasadnya, maka diangkatlah ruh itu oleh malaikat adzab ke langit dunia. Karena adanya ruh yang jahat tersebut, maka ditutuplah seluruh pintu langit. Kemudian diperintahkan kepada malaikat tersebut pintu langit. Kemudian diperintahkan kepada malaikat tersebut untuk mengembalikan ruh itu ke jasadnya serta dipersempit kuburnya dan dibukakan bagi ruh di dalam  neraka yang penuh dengan siksaan pedih sampai hari kiamat tiba. Nabi Muhammad Saw telah bersabda: “Hingga sesungguhnya pada mayat itu mendengarkan suara sandal kamu hanya saja mereka tercegah dari berbicara.” Di tanyai tentang tempatnya ruh setelah keluar dari jasad, maka sebagaian para ulama menjawab:

Ruh Para Ulama

Ruh para ulama berada di dalam surga Adn. Dan adakalanya ruh itu berada di dalam liang kubur hanya untuk menggembirakan jasadnya saja. Sedangkan jasad itu sendiri dalam keadaan bersujud kepada Allah swt.

Ruh Para Syuhada

Ruh para syuhada berada di dalam surga firdaus, ditengah-tengah surga dan berada di tembolok burung-burung hijau yang dapat terbang ke sana ke mari  di dalam surga, kemudian datang pada beberapa lampu yang tergantung di Arsy.

Ruh Anak-Anak Muslim

Ruh anak-anak Muslim, berada di dalam tembolok burung-burung sejoli di dalam surga.

Ruh Anak-Anak Musyrik

Ruh anak-anak musyrik itu berputar-putar di dalam surga dan tidak mempunyai tempat sampai hari kiamat tiba. Kemudian ruh-ruh tersebut melayani orang-orang mukmin.

Ruh Orang-Orang Mukmin Yang Mempunyai Hutang

Ruh orang-orang mukmin yang masih mempunyai hutang di dunia dan masih belum terlunasi sampai ia meninggal, maka ruhnya terkatung-katung di udara tidak sampai ke surga dan ke langit hingga hutang-hutang dibayar.

Ruh Orang-Orang Muslim Yang Berdosa

Ruh orang-orang muslim yang mempunyai dosa-dosa, maka ruh itu akan disiksa di dalam kubur beserta jasad-jasadnya sampai hari kiamat tiba       

Ruh Orang-Orang Musyrik/Kafir

Ruh orang-orang kafir atau musyrik itu berada di Sijjin dalam neraka Jahanam di dalam kubur selalu diperlihatkan kepadanya neraka dan siksaannya di waktu pagi dan sore hari.

Telah dikatakan bahwa ruh itu adalah jiwa yang lembut, oleh karena itu tidak dapat dikatakan bahwa Allah swt itu mempunyai ruh, karena sesungguhnya Allah swt itu mustahil mempunyai tempat senbagaimana jasad-jasad ini. Di katakan pula bahwa ruh itu adalah sesuatu yang baru dan dikatakan terhirup dari udara. Kedua pendapat ini adalah perkataan orang-orang yang ingkar terhadap siksa kubur. Telah diriwayatkan, bahwa Nabi Muhammad saw, pernah didatangi oleh seorang Yahudi. Kemudian orang itu bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimanakah ruh itu? Bagaimanakah tentang orang yang mempunyai buku dan bagaimanakah tentang Zulkarnain?” Maka turunlah ayat yang membahas tentang keadaan mereka yaitu surat Al-Kahfi serta diturunkan ayat  tentang ruh. 

Allah swt berfirman di dalam al-Qur’an surat  Al-Isra ayat 85  Artinya: “Dan mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad) tentang ruh katakanlah: Bahwa ruh itu termasuk urusan Tuhan-Mu.”

Oleh Abu Khalid, MA
Back To Top