Sajadah Muslim

Membahas Tentang Seputar Ilmu Agama Islam

Hukum Wanita Mengecat Kuku

Bolehkah wanita muslimah mengecat kuku ?



Sebagai wanita muslimah yang taat beribadah, termasuk ibadah shalat lima waktu, tentunya tidak akan menghiasi kukunya dengan cat pewarna sebagaimana dilakukan kebiasaan wanita-wanita sekarang. 

Karena cat kuku akan menghalangi merasuknya air ketika berwudhu. Sedangkan kuku termasuk bagian dari anggota badan yang harus terkena air wudhu'.

Nah itulah sebabnya, maka wanita muslimah yang taat beribadah tidak akan sekali-kali mengecat kukunya. Karena tidak mungkin membuang/menghapus cat kuku setiap akan shalat, dan mengecatnya kembali setelah shalat. 

Dan sebagai wanita muslimah, tentunya ia akan peduli terhadap shalatnya yang merupakah tiang agama dan sekaligus sebagai pembeda antara si Muslim dan si Kafir dari pada mengecat kuku hanya sekedar kesenangan lagi tidak ada manfaatnya.

Oleh Ustadz Labib Mz

Hukum Wanita Menyambung Rambut

Bolehkah wanita muslimah menyambung rambutnya dengan rambut palsu atau dengan rambut orang lain ??


Menyambung rambut dengan rambut palsu atau dengan rambut orang lain adalah sangat dilarang oleh agama.

Sebagaimana dikisahkan oleh Asma' binti Abu Bakar, bahwa suatu hari seorang wanita datang kepada Nabi Muhammad SAW, dan berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya anak gadisku baru saja kawin, tetapi dia terserang campak sehingga rambutnya rontok. Apakah aku harus menyambungnya ?"

Beliau menjawab: "Allah mengutuk wanita yang menyambung rambut dan yang meminta untuk disambungkan". (HR. Muslim)

Walhasil, berdasarkan hadits diatas, bahwa menyambung rambut itu adalah perbuatan terkutuk, karena itu sebaiknya dijauhi. Namun perlu diketahui, bahwa memendekkan rambut itu boleh, asalkan setelah rambut itu pendek jangan disambung kembali dengan rambut palsu.

Oleh Ustadz Labib Mz

Hukum Wanita Berduaan Dengan Anak Tiri Laki-Laki

Bolehkah seorang ibu berduaan dengan anak tirinya ?

Dalam hal ini, Allah berfirman :

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka atau putra-putra mereka atau putra-putra suami mereka……”. (QS. An Nur : 31)


Sungguh, syariat Islam itu adalah syariat yang mulia. Dimana wanita diperkenankan menampakkan sebagian perhiasan terhadap suatu lingkungan tertentu, yang antara lain putra-putra suami mereka. Hal tersebut berarti Allah tidak ingin ada bahaya dan kesulitan yang membebani manusia. Jika seorang wanita harus bertempat tinggal di suatu rumah bersama dengan putra-putra suaminya, lalu ia diharuskan menutup seluruh tubuh mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki manakala ia mendatangi anak suaminya itu atau sebaliknya, tentu akan mendapatkan kesulitan yang berlipat.

Anak suami yang diucapkan dalam firman Allah tersebut adalah termasuk orang yang setiap hari bergaul di rumah dalam satu atap. Dari itu, wanita sebagai istri ayahnya tidak dituntut menjaga diri sepenuhnya seperti terhadap lelaki lain dengan harus menutup kepalanya, menutup siku, atau menutup sekujur tubuhnya. Karena jika demikian, akan sangat memberatkan. Padahal Allah tidak menghendaki agama ini memberatkan terhadap hamba-Nya.

Namun bukan berarti putra suaminya (anak tiri) tersebut sepenuhnya seperti anak kandungnya sendiri, atau sesame saudara tunggal mahram. Dari itu, dalam hal ini ada pembatasan tersendiri demi menghindari fitnah. Oleh karenanya segala sesuatu yang diperkenankan bisa juga berubah menjadi haram manakala hal tersebut bisa mengundang peluang fitnah dan sebagai dasarnya adalah mencegah marabahaya.

Pemahaman ini bukan berarti bila sang suami pergi lalu sang istri boleh berduaan dengan anak suami. Akan tetapi dalam kondisi seperti ini, kita senantiasa waspada dan berhati-hati di dalam menutup rapat pintu-pintu kehancuran.

Oleh Ustadz Labib Mz

Hukum 'Ilak Dan Dhihar

Apa itu 'ilak dan apa itu dhihar?

Ila' yaitu sumpang suami untuk tidak meniduri istrinya dalam waktu 4 bulan atau dalam waktu-waktu tertentu. Dan bila seorang suami sudah bersumpah tidak meniduri istrinya dalam waktu tertentu, maka hendaknya ia sabar menunggu sampai habisnya waktu yang ia tentukan itu. Selebihnya, ia boleh meniduri istrinya kembali.


Dalam sebuah hadits yang bersumber dari 'Aisyah ra menuturkan, bahwa Rasulullah SAW pernah mengila' salah seorang istrinya selama sebulan pada hari ke 29, Beliau pun kembali kepada istrinya lagi. Beliau bersabda: "Satu bulan adalah dua puluh sembilan hari". (HR. Bukhari dan Muslim)

Apabila sang suami meniduri istrinya sebelum habis waktu yang telah ditentukan, maka suami wajib membayar denda (kafarah) sumpah, yaitu boleh memilih salah satu dari 3 hal sebagai berikut:
  1. Memberi makan 10 orang miskin dengan makanan pokok. Masing-masing 1/4 gantang atau 3/4 liter.
  2. Memberi pakaian kepada 10 orang miskin dengan pakaian yang layak bagi mereka.
  3. Memerdekakan hamba sahaya (budak).

Jika tidak mampu membayar salah satu dari 3 hal tersebut, maka baginya dianjurkan untuk berpuasa 3 hari.

Tetapi jika sudah sampai batas waktu yang telah ditentukan dan suami masih belum meniduri istrinya, Ulama' Jumhur berpendapat bahwa sang istri berhak menuntut kepada suami untuk diga*li atau dicerai. Jika ia menolak maka menurut Imam Malik perkawinannya diceraikan oleh Hakim untuk menghindari madharat atau kerugian yang akan menimpa istri.

Sementara Imam Syafi'i, Ahmad dan Madzab Dhahiri berpendapat, bahwa pengadilan tidak dapat menceraikan perkawinannya, tetapi suami bisa dihukum penjara sampai ia sendiri mau menceraikannya.

Sedang Ulama' Hanafiyah berpendapat, jika sampai empat bulan atau batas waktu suami belum juga mau kembali kepada istrinya, maka sang istri diceraikan dengan talak ba'in. Karena ia sendiri yang menyia-nyiakan hanya dengan tidak mau meniduri istrinya tanpa udzur. Dengan demikian, haknya sebagai suami menjadi gugur, bahkan ia dianggap zalim terhadap istrinya.

Adapun dhihar yaitu ucapan mengibaratkan istri sebagai ibunya sendiri, yang haram dikawin dan digauli. Dhihar adalah suatu jenis talak yang terjadi pada zaman Jahiliyah. Setelah Islam datang, dhihar dihapus. Ucapan dhihar menjadi haram.

Dalam sebuah hadits telah disebutkan, bahwa Aus bin Shamid pernah mendhihar istrinya, Khaulah binti Tsa'labah. Lalu ia pergi mengadu kepada Nabi SAW. Tak lama kemudian turunlah ayat:

"Sesungguhnya Allah mendengar ucapan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat". (QS. Al Mujadalah : 1)

Seorang suami mendhihar istrinya, kemudian hendak mencabut ucapannya itu, maka ia berkewajiban memerdekakan seorang budak (hamba sahaya) sebelum suami istri itu bercampur. Tetapi, jika ia tidak mendapatkan budak maka ia berkewajiban berpuasa dua bulan berturut-turut atau memberi makan 60 orang miskin sebelum suami istri bercampur.

Menurut Ulama' Jumhur, bahwa dhihar hanyalah pengibaratan istri bagai ibunya saja. Jika pengibaratan itu selain ibu, umpamanya bibi atau adik, maka itu bukanlah dhihar namanya. Firman Allah, bahwa ucapan dhihar itu adalah suatu ucapan yang mungkar dan dusta.

Oleh Ustadz Labib Mz

Menjatuhkan Talak Dua Dan Hukum Muhallil

Berapakah talak yang akan jatuh, jika seorang suami berkata kepada istrinya: "Aku ceraikan kamu dengan talak dua"? Dan bagaimana hukum muhallil?

Menjawab pertanyaan pertama sebagaimana kami sebutkan diatas, bahwa seorang suami yang menjatuhkan talak dua, tiga atau sejuta dengan ucapan, maka jatuhlah talak itu hanya satu.


Menjawab pertanyaan kedua tentang "muhallil" yakni seorang lelaki kawin dengan seorang wanita dengan berjanji akan menceraikan dia setelah bercampur, agar si wanita itu boleh dikawin kembali oleh suaminya yang telah mentalaknya tiga kali.

Mengenai muhallil, Allah dan Rasul-Nya telah melaknat perbuatan ini. Nabi Muhammad SAW bersabda:

"Maukah aku kabarkan kepadamu kambing pinjaman?" Para sahabat menjawab: "Mau, Rasulullah" Beliau pun bersabda: "Yaitu muhallil. Allah melaknat kepada muhallil dan muhallal lahu". (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Jika seorang muhallil itu dilaknat, maka sudah barang tentu perkawinan tidak sah. Dan haram bila perkawinan itu dilakukan dengan cara muhallil ini. Baca juga: Menjatuhkan Talak Tiga Sekaligus Kepada Istri

Umar bin Khathab ra berkata: "Jika ada orang datang kepadaku membawa muhallil dan muhallal lahu, niscaya aku hukum mereka dengan hukuman zina".

Ibnu Umar dan para sahabat Nabi mengatakan, bahwa nikah muhallil itu tidak sah. Si muhallil dan suami istri dapat laknat.

Jadi, jika suami istri sengaja menggunakan cara muhallil maka hukumnya sama dengan berzina. Dan itu sangat dilarang oleh agama. Baca juga: Kesanggupan Suami Mentalak Istri

Oleh Ustadz Labib Mz

Mentalak Istri Saat Marah

Syahkah seorang suami mentalak istri dalam keadaan marah?

Dalam masalah ini, ulama ahli fiqih terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama mengesahkan, sedangkan golongan kedua tidak.


Golongan pertama mengemukakan beberapa hadits sebagai alasan, namun dibantah oleh golongan kedua bahwa hadits-hadits yang mereka kemukakan itu adalah lemah dalam isnadnya, bahkan dalam isnadnya ada yng terputus. 

Dari itu, golongan kedua berpendapat, bahwa talak bisa dikatakan syah jika diucapkan oleh seorang suami saat marah, maka pada akhirnya ia akan menyesal. Juga apa yang dikatakan oleh orang yang sedang marah itu biasanya ngawur, tidak terkontrol. Karena luapan amarahnya itu, pikirannya menjadi tidak sadar.

Allah SWT berfirman:

"Dan jika mereka ber'azam (bersungguh hati) menghendaki talak, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah : 227)

Dengan tegas ayat diatas menjelaskan, bahwa talak itu diucapkan dengan niat yang sungguh, bukan dengan gurauan atau main-main. Dan bahkan dengan marah, yang ketika itu pikiran tidak sadar.

Alhasil, orang yang mengucapkan talak terhadap istrinya tidak dengan kesungguhan hati atau tidak dengan kesadaran hati, sebagaimana yang telah diucapkan oleh orang yang sedang marah, talaknya tidak akan jatuh. Dengan alasan firman Allah berikut ini:

"Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja.....". (QS. Al Maidah : 89)

Dalam kitab Majmu'atul Manar, Sayid Muhammad Rasyid Ridha berkata : "Thalaq itu termasuk golongan sumpah".

Oleh Ustadz Labib Mz

Menjatuhkan Talak Tiga Sekaligus Kepada Istri

Seorang suami menjatuhkan tiga talak kepada istrinya dengan sekali ucapan. Apakah jatuh tiga talak??

Dalam masalah ini para ulama ahli fiqih telah berselisih pendapat, hingga menjadi empat pendapat.


Pendapat pertama mengatakan bahwa talak tiga dengan sekali ucapan itu hukumnya haram dan tergolong perbuatan bi'dah yang bertolak dalam agama. Golongan kedua berpendapat, bahwa jika talak tiga itu dijatuhkan kepada istri yang sudah diga*li, maka talaknya hanya satu. 

Tetapi, jika talak itu dijatuhkan kepada istri yang belum digauli maka talak itu tetap menjadi tiga. Adapun golongan ketiga berpendapat, bahwa talak yang diucapkan tiga sekaligus itu tetap menjadi tiga. Baik kepada istri yang sudah diga*li atau belum.

Ketiga golongan ini membawa alasan masing-masing. Namun ketiga golongan ini telah dibantah oleh golongan keempat, bahwa alasan-alasan yang mereka kemukakan itu adalah tidak kuat, bahkan bertentangan dengan firman Allah dan Sunnah Rasul yang terdapat dalam hadits-hadits yang shahih.

Adapun talak ketiga dengan sekali ucapan dihitung sekali, beralasan firman Allah berikut ini:

"Talak itu dua kali, setelah itu boleh ruju' lagi dengan cara yang makruf, atau menceraikan dengan cara yang baik....". (QS. Al Baqarah : 229)

Dengan tegas ayat diatas menjelaskan, bahwa talak yang dapat memisahkan antara suami dengan istri, adalah tiga kali talak yang berulang-ulang. Maksudnya, dicerai kemudian dirujuk, dicerai kemudian dirujuk, dan dicerai lagi kemudian dirujuk, hingga berjalan sampai tiga kali.

Alhasil, jika suami mengatakan cerai tiga kali dengan sekali ucapan, maka yang berlaku hanya sekali, bukan tiga kali. Karena jika jatuh tiga kali, maka berarti sang istri tidak boleh dirujuk, kecuali ia harus dinikahi orang lain dahulu kemudian cerai, baru boleh dirujuk kembali oleh suami yang mentalak tiga itu tadi.

Oleh Ustadz Labib Mz.

Kesanggupan Suami Mentalak Istri

Seorang suami memberi kesanggupan mentalak istri, apakah dalam kesanggupan itu sudah jatuh talak?


Talak itu belum jatuh kepada istri, sebab tidak satupun perkataan yang menunjukkan sang suami itu menjatuhkan talak, baik dengan nyata atau dengan sindiran. Ia hanyalah memberi kesanggupan saja.

Biasanya suami memberi kesanggupan mentalak istrinya itu sedang dalam perselisihan, yang mungkin pada waktu itu mereka saling tidak menyadari, karena luapan amarah.

Al-Qur'an telah memberi pelajaran jika suami istri terjadi perselisihan.

"Dan jika kamu khawatir ada persengketaan antara keduanya (suami-istri), maka kirimlah seorang hakam (juru pendamai) dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga wanita. Jika kedua orang hakam memberi taufiq kepada suami-istri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Waspada". (QS. An Nisa' : 35)

Oleh Ustadz Labib Mz

Hukum Membatalkan Pernikahan Karena Kepergian Suami

Bolehkah seorang Istri mengajukan pembatalan pernikahan ke pengadilan agama karena kepergian suami?

Memang pada zaman sekarang, banyak suami pergi keluar negeri untuk berdagang atau mencari mata pencaharian. Boleh jadi kepergian sang suami itu dalam jangka waktu yang lama, lalu sang istri mengajukan permohonan ke pengadilan agama agar pernikahannya dibatalkan.


Dalam hal ini, sang istri harus ingat kemarahan Allah karena perbuatan ini. Sebab bukankah kepergian suami itu juga atas perkenaan sang istri, diketahui persis dan demi kepentingannya pula?

Diriwayatkan oleh Ibnul Musayyab ra, bahwa 'Umar bin Khathab ra pernah berkata: "Siapa pun wanita yang tinggal pergi suaminya dan dia tidak tahu dimana suaminya berada, maka dia harus menunggu selama 4 tahun, kemudian dia memberi tempo lagi selama 4 bulan 10 hari, sesudah itu dia pun bebas". (Dikeluarkan oleh Imam Ahmad)

Itu pun jika sang suami menghilang tak tahu rimbanya. Tetapi lain halnya jika tempatnya diketahui dan dia juga berkirim pesan kepada istrinya. Namun istrinya masih tetap mengajukan permohonan pembatalan pernikahannya maka dia telah melakukan dosa besar.

Sama halnya jika sang istri mengajukan permohonan pembatalan pernikahan karena sang suami sakit, padahal sakitnya masih ada harapan untuk disembuhkan. 

Lalu dia membuat pengakuan secara lisan atau tertulis, bahwa suaminya tidak mungkin bisa disembuhkan, sehingga pengadilan mengabulkan permohonannya, berdasarkan kesaksian dari pihaknya.

Oleh Ustadz Labib Mz.

Hukum Wanita Menikah Tanpa Wali

Sah kah wanita menikah tanpa seorang wali??

Tidak dapat diragukan, pernikahan wanita tanpa ridha walinya merupakan dosa, dan pernikahannya menjadi batal.


Hal ini beralasan dari sebuah hadist yang bersumber dari Abu Musa, bahwa Nabi SAW bersabda:

"Tidak ada perkawinan kecuali dengan wali". (HR. lima kecuali Nasa'i).

Juga beralasan hadist riwayat 'Aisyah ra bahwa Nabi SAW bersabda:

"Siapa pun yang kawin tanpa izin walinya, maka perkawinannya batil, perkawinannya batil, perkawinannya batil. Jika ia dise*ubuhi, maka baginya maskawin karena kemaluannya telah dihalalkan. Jika mereka (kaum keluarga) berselisih, maka pejabat negara (hakim) bisa menjadi wali bagi orang yang tidak mempunyai wali".

Oleh Ustadz Labib Mz.

Back To Top