Sajadah Muslim

Membahas Tentang Seputar Ilmu Agama Islam

Khutbah Jumat: Sabar Menghadapi Musibah

MUKKADIMAH

Kaum Muslimin Sidang Jumat yang berbahagia

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah menciptakan hidup dan mati untuk mengetahui siapa diantara kita yang paling baik amal perbuatannya.

Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, serta kepada sekalian sahabat dan keluarganya.


Kaum Muslimin sidang Jumat yang berbahagia

Manusia adalah makhluk Allah SWT yang paling mulia, baik dari bentuk tubuhnya, kekuatan rohaninya, kecerdasan dan ruh yang diberikan oleh Allah SWT begitu pula bahwa alam dengan segala isinya telah lebih dahulu diciptakan oleh Allah SWT, sehingga terkesan bahwa makhluk manusia amat disayangi oleh Allah SWT. Alam dan segala isinya adalah objek sedangkan manusia adalah subjek nya. Hal ini dapat kita pahami dari firman Allah SWT surat al-baqarah ayat 29:

"Dan dialah Allah SWT yang telah menciptakan segala sesuatu di bumi untuk kamu".

Bila dilihat dari urutannya maka yang pertama diciptakan oleh Allah SWT adalah benda mati lalu binatang bersel satu, binatang bersel banyak, tumbuh-tumbuhan, binatang, dan yang terakhir adalah manusia. Akan tetapi sama sekali tidak dapat dipastikan bahwa Allah tidak akan menciptakan makhluk baru karena Allah SWT sudah menjelaskan dalam Alquran surat al-qasas ayat 68:

"Dan Tuhanmu menciptakan apa yang dia kehendaki memilih-Nya".

Ayat ini mendorong manusia sebagai Khalifah Allah SWT dimuka bumi untuk membuat persilangan persilangan baik dalam bidang pertanian maupun hewan. Semua ini tidak terlepas dari posisi dan status manusia sebagai Khalifah Allah SWT di muka bumi.

Dengan posisi manusia yang demikian Mulia, maka Manusia adalah satu-satunya makhluk yang akan dimintai pertanggungjawaban di hari kemudian, bahkan kita akan menghadapi pengadilan di padang mahsyar bahwa hidup manusia tidak berakhir di dunia dapat kita baca dari firman Allah SWT surat al-mu'minun ayat 115:

"Apakah kamu menyangka bahwa Kami menciptakan kamu dengan sia-sia, dan bahwa sesungguhnya Kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami".

Dalam kalimat "menciptakan kamu dengan sia-sia", mengandung makna bahwa manusia akan diberikan kewajiban, cobaan dan ujian baik kepada Allah SWT maupun kepada sesama manusia. Dan pada kalimat "dan Sesungguhnya kamu tidak akan dikembalikan kepada kami" mengandung makna bahwa di hari kemudian Allah SWT akan melakukan pengadilan kepada hamba-hambanya. Bagi hamba yang mensyukuri nikmat akan ditempatkan dalam surga dan bagi mereka yang kufur nikmat akan dimasukkan ke dalam neraka.

Kaum Muslimin Sidang Jumat yang Berbahagia

Manusia dalam hidupnya di dunia akan menghadapi cobaan dan ujian berupa kesulitan dan kesedihan bahaya dan kematian salah satu anggota keluarga. Hal ini dijelaskan oleh Allah SWT dalam surat al-baqarah ayat 155:

"Kami pasti akan menguji kamu dari ketakutan, kelaparan, kekurangan harta benda, kematian dan kekurangan buah-buahan. Dan gembirakanlah orang-orang yang bersabar". 

Ujian dan cobaan yang disebutkan dalam ayat ini memang faktual dan terjadi pada seluruh umat manusia di setiap tempat dan waktu. Dari lima macam cobaan yang disebutkan dalam ayat  tadi, ada sesuatu yang sifatnya final artinya tidak bisa diatasi tetapi cobaan-cobaan lainnya seperti kelaparan sifatnya sementara dan dapat diatasi. Itulah sebabnya sehingga cobaan kematian diberi jalan keluar langsung. Dalam hal ini Allah SWT berfirman "dan gembirakanlah orang-orang yang bersabar".

Pada ayat 156 Allah SWT berfirman:

"Yaitu orang-orang yang Apabila ditimpa musibah mereka berkata sesungguhnya kita dari Allah dan kembali kepada Allah SWT".

Dari ayat ini dapat kita pahami bahwa yang dapat menghibur kita bila ditimpa musibah kematian adalah iman kepada Allah. Bila terdapat salah satu keluarga kita yang wafat hendaklah kita segera mengingat Allah, dan mengembalikan segala sesuatunya kepada Allah. Yang menerima kematian hendaknya hati dan iman kita dan bukan otak atau pikiran kita.

Dalam Alquran surat Ar-Raad ayat 28 Allah SWT berfirman:

"Hanya dengan mengingat Allah SWT hati kamu akan tenang".

Yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk menghibur orang yang ditimpa musibah adalah: Nabi besar kita Muhammad SAW peringatan, ajaran dan hiburannya hendaknya kita ikuti dengan sebaik-baiknya karena beliau yang lebih paham tentang Ilmu Tafsir Alquran, beliaulah yang lebih mengetahui Islam.

Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW, yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, Ada disebutkan bahwa salah seorang putri Rasulullah mengirim utusan kepada Rasulullah SAW yang memberitakan Kepada beliau bahwa anak salah seorang sahabatnya telah meninggal dunia, maka berkata Rasulullah SAW kepadanya bahwa sampaikan kepadanya (sahabat yang meninggal putranya):

"Sesungguhnya yang diambil oleh Allah miliknya dan baginya berpuasa atas semua pemberiannya dan perintahkan dia agar bersabar dan penuh perhitungan ".

Dari hadits ini dapat dipahami bahwa nyawa itu milik Allah dan Allah juga lah yang mampu berbuat semaunya kepada kita, sedangkan setiap manusia memiliki ajal karena itu hendaklah kita bersabar dan Muhasabah (penuh perhitungan). Maksudnya jangan kita mengalami kerugian yang kedua kalinya.

Kaum Muslimin Sidang Jumat yang Berbahagia

Disamping musibah karena kematian masih ada musibah karena kesulitan-kesulitan yang lain. Hal ini tercermin dalam firman Allah surat al-baqarah ayat 177:

"Dan orang-orang yang sabar pada waktu kesulitan ekonomi, menderita karena sakit dan dalam peperangan".

Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa di samping macam-macam cobaan yang disebut pada ayat 155 dari surat al-baqarah juga terdapat pada surat al-baqarah ayat 177 adalah kesulitan ekonomi, sakit dan peperangan.

Bahwa sabar, tabah, teguh dalam menghadapi musibah atau cobaan balasannya tidak lain kecuali surga. Dalam surat Al-Insan ayat 12 Allah SWT berfirman:

"Dan Allah SWT membalas kesabaran mereka dengan surga dan Sutra".

Karena itu marilah kita meningkatkan kesabaran kita dalam semua segi terutama sabar dan tabah menjalankan ibadah kepada Allah SWT. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk kepada kita semua, amin ya rabbal alamin.

PENUTUP

Oleh Drs. KH. Marwan Aidid

Kultum: Menyambut Kelahiran Anak Secara Islami

Sajadah Muslim ~ Yang saya muliakan dan saya taati para alim ulama, para pejabat pemerinyah baik sipil maupun militer, para ustadz dan ustadzah, para bapak, ibu, hadirin dan hadirat yang saya muliakan.


Mengawali pertemuan kita melalui mimbar kultum kali ini, pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah, karena atas rahmat, taufiq dan petunjuk-Nya, kita dapat berkumpul dalam tempat yang baik ini tanpa ada suatu halangan apapun. Shalawat dan salam, semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW. Sebab beliau kita dapat mengetahui yang hak dan yang batil, yang halal dan yang haram, antara jalan menuju ke surga dan jalan menuju ke neraka.

Bapak, ibu, hadirin dan hadirat sekalian yang saya muliakan

Setiap orang tentu mengharapkan anaknya menjadi anak yang saleh dan berkualitas. Untuk mewujudkan cita-cita itu diperlukan usaha sedini mungkin, sejak sang bayi dilahirkan. Bahkan jauh sebelum anak itu dilahirkan, mulai dari proses pemilihan jodoh, ketika melakukan hubungan suami istri dan seterusnya, ketika anak terlahir di dunia.

Di antara yang perlu dilakukan ketika anak lahir ialah:

Pertama: Istihdad (memotong tali ari-ari), kerena sabda Rasulullah SAW. Yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Lima hal yang termasuk fitrah; potong ari-ari (placenta), khitan, cukur kumis, mencabut bulu ketiak dan memotong kuku. Diriwayatkan oleh Bukhari Muslim.”

Kedua: mengadzankan pada telinga kanan dan iqamah pada telinga kiri, karena adanya hadis yang menyatakan, bahwa anak bayi yang diadzani dan diiqamati, tidak akan diganggu ummu-shibyan (pengikut jin). Dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa Nabi SAW mengadzani cucu beliau. Hasan dan Husen. Tetapi oleh sebagian pihak, hadis ini dipandang sebagai hadis dha’if.

Ketiga: Tahnik, yakni mencicipi bayi dengan kurma (untuk kita di sini, kiranya dapat dilakukan umpamanya dengan madu); seraya berdo’a mohon berkah Allah SWT baginya. Di dalam shahih Bukhari Muslim, dari Abu Musra ra disebutkan: “Telah lahir bagiku seorang anak (bagi Abu Musa ra). Aku mendatangi Nabi SAW maka beliau namai anakku dengan nama “Ibrahim” dan menyuapinya dengan tamrah (kurma) dan Beliau berdo’a untuk keberkahannya.”

Keempat: Aqiqah, yaitu menyembelih hewan dan membagi-bagikan dagingnya. Utamanya, dua ekor kambing untuk setiap bayi laki-laki dan seekor untuk bayi perempuan. Karena adanya hadis yang diriwayatkan dari Samurah ra, bahwasannya Rasulullah SAW bersabda:

“Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya. Disembelihkan baginya pada hari ketujuh dari hari lahirnya dan (di hari itu juga) dicukur rambutnya dan diberi nama.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Bapak, ibu, hadirin dan hadirat sekalian yang saya muliakan

Kelima: mencukur rambut bawaannya, baik laki-laki, maupun perempuan. Agama memandang rambut tersebut sebagai “adzaa”. Ada yang menafsirkan, bahwa anak tersebut masih terikat adzaa, penyakit di kepalanya. Dan disedekahi dengan perak seberat timbangan rambut cukurannya itu. ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Abi Rafi’I ra bahwasannya Fatimah ra telah bertanya kepada Rasulullah SAW: “Ya Rasulullah, tidakkah saya harus mengaqiqahi anak saya dengan dam.” Rasulullah menjawab: “Tidak, tetapi cukurlah kepalanya dan sedekahkanlah perak (seharga perak), seberat timbangan rambutnya.”

Keenam: memberi nama yang baik, orang tua hendaklah memilih nama-nama yang terpuji. Baik kedengarannya, baik maknanya dan seyogyanya tercermin pada nama itu harapan dan cita-cita luhur, seperti Ahmad, Muhammad, Abdullah dan lain sebagainya. Rasulullah SAW banyak mengganti nama-nama sahabat yang berbau jahiliyah dengan nama-nama yang islami. Demikian juga, Nabi SAW tidak senang dengan gelar-gelar yang bernada angkuh seperti: Syahin Syah, Raja Diraja dan sebagainya. Juga Beliau tidak senang dengan panggilan-panggilan yang buruk.

Ketujuh: Berkhitan, mengenai khitan jumhur ulama berpendapat bahwa berkhitan adalah suatu sunnah (ketentuan yang tetap) bagi lelaki Islam. Ada pula yang berpendapat bahwa khitan hukumnya wajib, sebab kesucian menjadi syarat sahnya seseorang untuk melakukan shalat. Khitan adalah satu di antara kesempurnaan Islam seseorang, walaupun ia tidak menjadi syarat sahnya seseorang, masuk Islam. Hanya saja Islamnya belum kaaffah (belum secara total). Oleh sebab itu, bagi pemeluk-pemeluk yang baru masuk Islam dan masih berat untuk dikhitan, maklumilah mereka dan janganlah pula dijadikan syarat untuk menolaknya masuk Islam. Mereka masih Mu’allaf, masih harus dibina dengan penuh rasa kasih sayang, sehingga dapat memahami Islam secara benar dan memiliki kesadaran yang tinggi untuk melaksanakan syari’at Islam yang dianutnya.

Bapak, ibu, hadirin dan hadirat yang saya muliakan

Demikianlah kultum yang dapat saya sampaikan dalam kesempatan yang mulia ini, semoga Allah senantiasa menganugerahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua, amin. Akhirnya, terima kasih atas perhatiannya dan mohon maaf atas kesalahan dan kurang lebihnya. Hadanallah waiyyakum ajma’in, was salamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Oleh Ustadz Abdullah Farouk & Ustadz MS. Ibnu Hasan

Kultum: Perlunya Mengingat Akan Kematian

Sajadah Muslim ~ Yang saya muliakan dan saya taati para alim ulama, para pejabat pemerinyah baik sipil maupun militer, para ustadz dan ustadzah, para bapak, ibu, hadirin dan hadirat yang saya muliakan.


Mengawali pertemuan kita melalui mimbar kultum kli ini, pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah, Tuhan sarwa sekalian alam. Shalawat dan salam, semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW sebab beliau kita dapat mengetahui yang hak dan yang batil, yang halal dan yang haram, antar jalan menuju ke surga dan jalan menuju ke neraka.

Bapak, ibu, hadirin dan hadirat sekalian yang saya muliakan

Mengingat kematian menjadi begitu penting, sebab dengan mengingat kematian seseorang akan benar-benar berusaha untuk mencari bekal buat kehidupan setelah mati, katika di alam barzah dan selanjutnya di alam akhirat. Bila tidak, seseorang akan menjadi sombong dan terlena dalam kesenangan tipu daya dunia. Sehingga ketika ajal datang menghampirinya yang ada hanyalah penyesalan yang tiada guna dan kembali tanpa modal buat keselamatan hidup setelah mati.

Oleh sebab itu kita diperintahkan agar banyak mengingat akan kematian, sebagaimana sabda Nabi SAW:

“Banyak-banyaklah mengingat pemusnah kelezatan-kelezatan hidup (kematian).”

Diriwayatkan dari Anas ra, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Banyak-banyaklah mengingat mati, karena mengingat mati itu dapat melebur dosa, dan mendorong bersikap zuhud terhadap dunia.” Nabi SAW juga bersabda: “Cukuplah kematian sebagai nasihat.”

Pernah suatu ketika Rasulullah SAW pergi menuju ke masjid, tiba-tiba menjumpai suatu kaum yang berbincang-bincang dan tertawa ria, lalu beliau bersabda: “Ingatkan akan kematian. Demi Tuhan yang menguasai diriku, seandainya Anda mengetahui apa yang aku ketahui, tentu Anda akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”

Diriwayatkan dari Atha’ Al-Kharsani bahwa suatu ketika Rasulullah SAW melewati suatu majelis yang dipenuhi dengan tawa ria, lalu beliau bersabda: “Isilah Majelis kamu dengan mengingat sesuatu yang memperkeruh kelezatan-kelezatan.” Mereka bertanya: “Apakah yang memperkeruh kelezatan-kelezatan itu.” beliau bersabda: “Kematian.”

Bapak, ibu, hadirin dan hadirat sekalian yang saya muliakan

Ibnu Umar ra berkata: “Aku datang menghadap Rasulullah SAW. Sebagai orang yang kesepuluh dari sepuluh orang yang datang menghadap beliau. Seorang laki-laki dari sahabat Anshar berkata: “Siapakah orang yang paling cerdas dan mulia di antara manusia, ya Rasulullah?” Beliau bersabda: “Orang-orang yang paling banyak mengingat akan kematian dan yang paling bersungguh-sungguh untuk mempersiapkan bekal kematian, di antara mereka. Mereka itulah orang-orang yang cerdas, karena mereka pergi dengan kehormatan hidup di dunia dan kemuliaan di akhirat.”

Ketika disebutkan di hadapan Rasulullah SAW. Mengenai seorang laki-laki yang banyak mendapatkan pujian dan disanjung oleh banyak orang, beliau bertanya: “Bagaimana ingatan saudara kamu itu terhadap kematian.” Mereka berkata: “Kami hampir tidak pernah mendengar dia menyebut-nyebuti kematian.” Beliau bersabda: “Teman kamu itu, bukanlah orang yang layak mendapat sanjungan seperti itu.”

Nabi SAW bersabda: “Kematian adalah kufarat bagi setiap muslim.”

Orang Islam yang dimaksudkan dalam hadis ini, ialah muslim yang sejati yang benar-benar keimanannya. Orang mukmin yang dapat menciptakan kondisi aman bagi kaum muslim lain dari gangguan tangan dan lidahnya. Dia benar-benar memiliki sifat-sifat dan berakhlak dengan akhlak orang mukmin yang sejati. Dia tidak berlumuran dosa-dosa kemaksiatan, melainkan hanyalah kesalahan-kesalahan dan percikan-percikan dosa kecil. Maka kematian menjadi penyucian baginya dari kemaksiatan dan peleburan dosa-dosanya, setelah ia benar-benar menjauhi dosa-dosa besar dan memenuhi kewajiban-kewajibannya.

Aisyah ra berkata: “Adakah seseorang yang akan dihimpun bersama dengan orang-orang yang mati syahid?” Beliau menjawab: “Ya, yaitu orang yang mengingat kematian sehari semalam sebanyak dua puluh kali.” Sebab-sebab keutamaan ini, tidak lain hanyalah karena mengingat kematian menyebabkan seseorang terdorong untuk menjauhi kehidupan perkampungan dunia yang penuh dengan tipuan belaka dan memfokuskan diri untuk mempersiapkan bekal buat kehidupan akhirat. Sementara lalai dari kematian mendorong seseorang tenggelam ke dalam kesenangan-kesenangan duniawi.

Bapak, ibu, hadirin dan hadirat sekalian yang saya muliakan

Demikianlah kultum yang saya sampaikan dalam kesempatan yang mulia ini, semoga Allah senantiasa menganugerahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua, amin. Demikianlah, yang dapat saya sampaikan, terima kasih atas perhatiannya dan mohon maaf atas kesalahan dan kurang lebihnnya. Hadanallah waiyyakum ajma’in, was salamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Oleh Ustadz Abdullah Farouk & Ustadz MS. Ibnu Hasan

Kultum: Tawakkal Kepada Allah

Sahadah Muslim ~ Hadharatal muhtaramin, para alim ulama, para ustadz dan ustadzah, para bapak, ibu, hadirin dan hadirat yang saya muliakan.


Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah, Tuhan semesta alam yang telah menganugrahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita dapat bertatap muka dalam majelis yang mulia ini, tanpa ada halangan apapun. Shalawat dan salam, semoga senantiasan dilimpahkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW yang telah mengeluarkan kita dari gelap gulita kebodohan dan kekafiran menuju cahaya kebenaran dan keselamatan, melalui agama yang dibawanya, yaitu agama Islam.

Saudara, bapak dan ibu sekalian yang saya muliakan

Kita memang diperintahkan untuk berusaha dan berikhtiar dengan baik dan sungguh-sungguh, tetapi sebagai orang yang beriman kita harus menjalani segala aktivitas kita dengan penuh penyerahan diri kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa. Dialah yang menentukan segala sesuatu menurut kehendak-Nya, tanpa ada kekuatan manapun yang campur tangan dalam penetapan-Nya.

Allah SWT berfirman:

“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkal kepada Allah, Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal kepadanya-Nya.” (QS. Ali Imran: 159)

Dari ayat tersebut jelaslah bagi kita bahwa orang yang bertawakkal kepada Allah akan dicinta-Nya. Betapa agungnya sebuah kedudukan yang ditandai dengan kecintaan Allah SWT, dan orang yang melaksanakan akan ditanggung oleh Allah dengan kecukupan. Allah memberikan anugrah dengan mencukupi, menjamin, mencintai, dan menjaganya. Maka dia sungguh telah mendapatkan keberuntungan yang besar.

Nabi muhammad SAW bersabda: “Barangsiapa yang berserah diri secara penuh kepada Allah Azza wa Jalla, tentu Allah SWT mencukupi segala kebutuhannya dan memberinya rezeki dari yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang menghadapkan diri hanya untuk dunia, maka Allah akan menyerahkannya kepada dunia itu.”

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ketika Jibril berkata kepada Nabi Ibrahim as pada saat dia hendak dilempar oleh orang-orang kafir ke dalam api: “Adakah kamu membutuhkan sesuatu?” Ibrahim menjawab: “Adapun kepada engkau tidak.” Ibrahim berkata: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” Do’a ini, diucapkan Ibrahim ketika ia ditangkap dan hendak dilemparkan ke dalam api. Lalu Allah menurunkan firman-Nya: “Dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan jannji.” (QS. An-Najm: 37). Oleh sebab itu Ibrahim menjadi tak terbakar di dalam kobaran api.

Sebagian ulama berkata: “Selama kamu ridha kepada Allah, dan bertawakkal kepada-Nya, tentu kamu akan menemukan jalan menuju pada setiap kebaikan.” Sementara Ibrahim bin Adham pernah bertanya jawab: “Aku tidak memilki pengertian tentang ini, tetapi tanyakanlah kepada Tuhanku, dari manakah Dia memberi makan aku.”

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barangsiapa yang merasa senang menjadi manusia terkaya, maka hendaklah dia lebih percaya dengan apa yang ada di sisi Allah dari pada apa yang ada di tangannya.”

Saudara, bapak dan ibu sekalian yang saya muliakan

Demikianlah, kultum yang dapat saya sampaikan dalam kesempatan kali ini, marilah kita bertawakkal kepada Allah dengan yang sebenar-benarnya, sehingga kita mendapatkan kecukupan dan di cintai-Nya. Akhirnya, terima kasih atas perhatiannya dan mohon maaf atas kesalahan dan kurang lebihnya. Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq, tsummas salamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Oleh Ustadz Abdullah Farouk & Ustadz MS. Ibnu Hasan

Kultum: Keutamaan Cinta Masjid

Sajadah Muslim ~ Assalamu’alaikum wr. wb. Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin, wabihi nasta’inu ‘alaa umuriddunya waddiin. Wassholatu wassalamu ‘alaa asyrofil mursaliin, wa’alaa aalihi wa sohbihi ajma’iin. Amma ba’du.


Kepada yang terhormat bapak..., para alim ulama, para ustadz dan ustadzah, para bapak, ibu, hadirin dan hadirat yang saya muliakan.

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah, Tuhan semesta alam yang telah menganugrahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita dapat bertatap muka dalam majelis yang mulia ini, tanpa ada halangan apapun. Shalawat dan salam, semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW yang telah mengeluarkan kita dari gelap gulita kebodohan dan kekafiran menuju cahaya kebenaran dan keselamatan, melalui agama yang dibawanya, yaitu agama Islam.

Saudara, bapak dan ibu sekalian yang saya muliakan

Masjid merupakan tempat suci bagi umat Islam, tempat bersujud dan beribadah kepada Allah SWT. Di samping sebagai tempat shalat dan bersujud, masjid juga berfungsi sebagai pusat kegiatan keislaman. Di dalam suatu hadis disebutkan bahwa masjid merupakan rumah Allah SWT di dunia.

Nabi Muhammad SAW bersabda, Allah SWT berfirman dalam sebagian kitab-kitab-Nya: “Sesungguhnya rumah-rumah-Ku di bumi adalah masjid-masjid dan sesungguhnya orang-orang yang mengunjungi Aku adalah orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid itu. Maka keberuntungan besar bagi seorang hamba yang bersuci di rumahnya, lalu dia mengunjungi Aku di rumah-Ku (masjid). Adalah menjadi hak bagi Yang diziarahi (Allah) untuk memuliakan orang yang mengunjungi-Nya.”

Allah SWT berfirman :

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian.” (QS. At-Taubah: 18)

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Apabila Anda melihat seorang laki-laki yang membiasakan ke masjid , maka berilah kesaksian bahwa dia adalah orang yang benar-benar beriman.”

An-Nakha’i berkata, para ulama berpendapat: “Sesungguhnya berjalan di malam yang gelap menuju ke masjid menyebabkan keharusan baginya masuk surga.” Sa’id bin Al-Musayyab berkata: “Barangsiapa yang duduk di masjid, sesungguhnya dia hanya berkumpul dengan Tuhannya. Maka tidaklah ada hak baginya untuk berkata, kecuali yang baik.”

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Malaikat-malaikat mendo’akan pada seseorang di antara Anda selagi dia berada di tempat shalat. Malaikat itu berkata: “Ya Allah, berilah keberkatan, rahmat, ampunan bagi dia selama dia belum hadas (belum batal wudhunya), dan belum keluar dari masjid.”

Anas bin Malik berkata: “Tidak ada sebuah tempat yang digunakan zikir kepada Allah dengan shalat atau zikir yang lain, kecuali tempat itu merasa bangga pada tempat-tempat  yang ada di sekitarnya. Dan dia menjadi bergembira dan zikir kepada Allah Azza wa Jalla, sampai pada bumi yag ke tujuh. Dan tidak ada seorang hamba yang berdiri shalat (di atasnya) kecuali bumi ini akan berhias (memberikan kemakmuran) untuknya.

Saudara, bapak dan ibu sekalian yang saya muliakan

Mengingat begitu pentingnya masjid, sebagai rumah Allah, tempat suci umat Islam, maka orang yang membangun masjid secara ikhlas berarti ia telah membangun istana buat kehidupannya kelak di akhirat. Sebagaimana disebutkan di dalam hadis Nabi SAW: Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barangsiapa yang membangun sebuah masjid karena Allah, walau hanya seperti gundukan tanah sarang burung (bangunan yang paling sederhana), maka Allah akan membangun istana baginya di surga.” Dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa yang membangun masjid, maka Allah membangunkan rumah baginya di dalam surga.”

Anas bin Malik berkata: “Barangsiapa yang cinta masjid, maka Allah akan cinta padanya.” Betapa beruntungnya orang yang dicintai Allah. Dalam hadis lain juga disebutkan bahwa di antara tujuh golongan yang mendapatkan naungan rahmat dan perlindungan Allah pada hari kiamat, ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya adalah orang yang hatinya memiliki keterkaitan hubungan yang erat terhadap masjid.

Saudara, bapak dan ibu sekalian yang saya muliakan

Nabi SAW memperingatkan kepada kita agar tidak menggunakan masjid selain pada fungsinya yang mulia. Diriwayatkan dalam atsar atau bahkan hadis: “Pembicaraan sia-sia di masjid akan memakan kebaikan-kebaikan, sebagaimana ternak memakan rumput.”

Nabi Muhammad SAW juga bersabda: “Akan datang di akhir masa, manusia dari umatku yang datang ke masjid. Lalu mereka duduk di dalamnya berkelompok-kelompok, tetapi zikir mereka adalah urusan dunia dan mencintainya. Janganlah kamu berkumpul dengan mereka, karena Allah tidak membutuhkan mereka.” 

Saudara, bapak dan ibu sekalian yang saya muliakan

Demikianlah kultum yang dapat saya sampaikan dalam kesempatan yang mulia ini, semoga Allah senantiasa menganugerahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua, dan mudah-mudahan kita termasuk orang yang cinta masjid, sehingga kita kelak mendapatkan fasilitas perlindungan dan kenikmatan surga di sisi Allah, amin. Akhirnya, terima kasih atas perhatiannya dan mohon maaf atas kesalahan dan kurang lebihnya. Hadanallah waiyyakum ajma’in, was salamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Oleh Ustadz Abdullah Farouk & Ustadz MS. Ibnu Hasan

Kultum: Merawat Cinta Kasih Dalam Kehidupan Suami Istri

Sajadah Muslim ~ Kepada yang terhormat bapak..., para alim ulama, para ustadz dan ustadzah, para bapak, ibu, hadirin dan hadirat yang saya muliakan.


Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah, Tuhan semesta alam yang telah menganugrahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita dapat bertatap muka dalam majelis yang mulia ini, tanpa ada halangan apapun. Shalawat dan salam, semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW yang telah mengeluarkan kita dari gelap gulita kebodohan dan kekafiran menuju cahaya kebenaran dan keselamatan, melalui agama yang dibawanya, yaitu agama Islam.

Saudara, bapak dan ibu sekalian yang saya muliakan

Pernikahan merupakan sunnah rasul, yang disyari’atkan bagi umatnya. Rasulullah SAW bersabda: “Wahai kaum muda, barangsiapa di antara kalian telah mampu membangun rumah tangga maka kawinlah, karena yang demikian itu dapat menundukkan pandangan mata dan lebih memelihara kemaluan; dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah berpuasa, karena cara ini merupakan pengekang nafsu bagimu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nabi SAW juga bersabda:

“Barangsiapa yang berkemampuan (lahir batin) untuk menikah, tetapi ia tidak mau melaksanakannya, maka orang tersebut tidak tergolong umatku.” (HR. Thabarani)

Akad nikah merupakan peristiwa sangat penting dan sakral yang mengandung nilai-nilai keistimewaan, kemuliaan, bahkan sebagai ibadah, yang sesungguhnya bermula dari perjanjian suci yang amat kokoh (mitsaqan ghalizan) kesucian dan kekudusan kehidupan manusia itu di mulai dan dipertahankan. Melalui pernikahan yang sah menurut tata aturan yang telah ditentukan oleh syariat agama Islam, usaha penyambung keturunan manusia dipertahankan.

Saudara, bapak dan ibu sekalian yang saya muliakan

Dalam pandangan Islam pernikahan merupakan sebuah bentuk ibadah yang sekaligus amanat. Sebab, peristiwa ini akan membuka peluang yang signifikan bagi suami istri untuk meraih pahala sebanyak-banyaknya melalui berbagai kegiatan di dalam rumah tangganya, sampai-sampai dalam hubungan intim (jima;) pun bernilai ibadah. Di sisi lain, pernikahan membawa konsekuensi logis yang perlu di tata dan dikelola bersama dengan hati-hati, saling pengertian, toleran, tolong menolong, penuh kesabaran dan tanggung jawab.

Banyak persoalan akan muncul dalam kehidupan rumah tangga, yang menyangkut hubungan administratif yang menuntut kerja sama yang baik antara suami istri dalam mencapai tujuan bersama. Demikian pula yang menyangkut persoalan ekonomi, siapa yang bertanggung jawab menyediakan biaya rumah tangga dan siapa yang mengelolanya. Dan yang menyangkut hubungan moral, juga menuntut bagaimana keduanya harus melakukannya dengan baik tanpa ada yang dirugikan. Oleh sebab itu, Islam telah memberlakukan aturan yang sesuai dengan kodrat masing-masing, dengan menetapkan suami sebagai penanggung jawab dan pemimpin rumah tangga, sebagai pencari nafkah dan penyandang biaya keluarga. Sedangkan istri ditetapkan sebagai pengelola, penata rumah tangga yang setia dan menjaga kehormatan serta kesejahteraan rumah tangganya.

Hubungan kerja sama antara suami istri di dalam kehidupan rumah tangga muslim, bukanlah didasarkan dominasi satu pihak terhadap yang lainnya, tetapi hubungan antara keduanya ditata sedemikian indahnya dan harmonis, saling menghormati, seperti adanya pembagian tugas yang adil dan penuh tepo seliro (tasamuh) serta adanya komunikasi yang sejuk dan penuh kesetiaan, saling tolong menolong (ta’awun) dan bermusyawarah (tasyawur).

Masing-masing dari suami istri mempunyai hak dan tanggung jawab dalam sebuah format yang seimbang untuk menciptakan rumah tangga yang damai, sejahtera, penuh cinta dan kasih sayang (sakinah, mawaddah wa rahmah). Al-Qur’an menggambarkan sebuah rumah tangga yang ideal. Sebagaimana yang diterangkan dalam ayat: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikannya di antara kamu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Ruum: 21)

Saudara, bapak dan ibu sekalian yang saya muliakan

Kedamaian dalam kehidupan rumah tangga harus tetap terbina dan terpelihara dalam bingkai cinta dan kasih sayang (mawaddah wa rahmah). Mawaddah mengandung pengertian adanya rasa cinta dari seseorang kepada pasangannya karena adanya faktor-faktor yang dinilai sebagai kelebihan yang dimiliki oleh pihak yang dicintai. Entah karena fisiknya yang menarik, tutur katanya yang lembut, sikapnya yang sopan atau ramah wajahnya, senyumnya, dan lain sebagainya.

Adapun rahmah dapat diartikan rasa sayang dan simpati dari seseorang kepada orang lain, justru karena adanya hal-hal yang dianggapnya sebagai kekurangan atau kelemahan pada pihak yang dikasihi. Entah karena usianya yang sudah lanjut, kesehatannya mulai terganggu, kekuatannya dan ingatannya sudah berkurang dan sebagainya. Mawaddah lebih berorientasi secara fisik, sedangkan rahmah lebih berorientasi pada pesona jiwa. Pasangan suami istri harus berusaha mengkondisikan dan merawat sakinah, mawaddah wa rahmah dalam kehidupan rumah tangganya.

Antara suami istri dituntut untuk dapat mengkondisikan rumah tangganya menjadi tenang dan damai (sakinah). Ketenangan hati bisa terwujud karena adanya belahan jiwa yang siap mendampingi dan memberikan perlindungan. Ketenangan hidup juga bisa dirasakan karena adanya mitra setia yang selalu siap berbagi tugas dan perasaan, memberikan spirit dan membesarkan hati optimis memandang ke depan. Adapun ketenangan syahwat dapat dirasakan karena adanya tempat penyaluran dorongan s*ks yang siap, benar dan halal menurut agama serta bernilai ibadah.

Saudara, bapak dan ibu sekalian yang saya muliakan

Mengakhiri kultum dalam kesempatan yang mulia ini, semoga Allah senantiasa menganugerahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga kita dapat membina rumah tangga kita dalam bingkai sakinah, mawaddah wa rahmah, dalam naungan ridha Allah SWT, Amin. Demikianlah, yang dapat saya sampaikan, terima kasih atas perhatiannya dan mohon maaf atas kurang dan lebihnya. Hadanallah waiyyakum ajma’in, was salamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Oleh Ustadz Abdullah Farouk & Ustadz MS. Ibnu Hasan

Kultum: Malu, Al-Haya’

Sajadah Muslim ~ Bismillahirrohmanirrohiim. Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin, was-sholaatu wassalaamu ‘alaa asyrofil anbiyaa-i wal mursaliin, sayyidina muhammadin, wa’ala alihi wa’ashabihi aj’ma’iin, Amma ba’du.


Kepada yang terhormat bapak..., para alim ulama, para ustadz dan ustadzah, para bapak, ibu, hadirin dan hadirat yang saya muliakan.

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah, Tuhan semesta alam yang telah menganugrahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita dapat bertatap muka dalam majelis yang mulia ini, tanpa ada halangan apapun. Shalawat dan salam, semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW yang telah mengeluarkan kita dari gelap gulita kebodohan dan kekafiran menuju cahaya kebenaran dan keselamatan, melalui agama yang dibawanya, yaitu agama Islam.

Saudara, bapak dan ibu sekalian yang saya muliakan

Di antara akhlak terpuji adalah memiliki rasa malu (al-haya’). Rasa malu memiliki arti yang sangat penting dalam kehidupan, agar manusia tidak berbuat sesukanya, tanpa memperhatikan etika agama. Islam memandang malu adalah termasuk dari Iman. Rasulullah SAW bersabda:

“Sikap malu dan kalem adalah dua cabang iman. Caci maki dan lancang mulut adalah dua cabang sifat munafik.”

Dalam hadis lain beliau juga bersabda: “Al-Haya adalah sebagian dari pada iman dan iman tempatnya di surga. Sedangkan lancang mulut adalah kebengisan, dan kebengisan terminalnya di neraka.”

Orang kerap memilih istilah tak tahu malu, untuk menunjukkan perbuatan kurang ajar atau kebal muka. Bagi yang terbiasa, orang tidak malu-malu lagi berbuat tak senonoh meski disaksikan orang banyak. Karena iman yang semakin menipis membuat sebagian remaja putri yang tidak lagi merasa malu mempertontonkan pusar dan perutnya, laki-laki dan perempuan tidak malu-malu lagi berangkulan berpeluk cium di depan umum, bahkan tidak malu bunting sebelum menikah.

Dulu, orang tua mau mengajar anaknya yang bunting dan melakukan perzinaan sebelum menikah, karena beratnya pelanggaran dan besarnya dosa yang telah dilakukan. Namun agaknya sekarang hal itu sudah biasa dan wajar-wajar saja. Adalah Umar ra memerintahkan pencambukkan anaknya. Abu Syahmah, hingga tewas karena zina. Anjuran beberapa sahabat untuk mem”peti es” kan perbuatan anaknya ditolak tegas oleh Umar. “Hai anakku, lebih baik engkau menerima hukuman ini sekarang, dari pada nanti ayahmu menanggung malu di hadapan Allah di akhirat!” Kata Umar kepada anaknya.
Tradisi mundur dari jabatan, seharusnya dibiasakan bagi para pejabat, jika menurutnya kalau kursi itu diduduki, ia akan menanggung malu di depan rakyat.

Kitab-kitab akhlak, tauhid, tasawuf, atau fiqih selalu mengurai butir-butir peribahasa atau puisi-puisi yang menyuruh bersikap khudhu’, merendah diri dan bersikap malu. Banyak ulama salaf yang tidak suka publisitas untuk mencari popularitas demi jabatan dan harta kekayaan. Abu Dzar Al-Ghiffari, seorang sahabat yang pemalu. Ia dikenal sangat alim dan luar biasa jujurnya. Ia tinggal menyudut ke pinggir kota, menghindakan seluruh tawaran jabatan yang diberikan kepadanya. Namun sekali dipinta fatwanya, terlihat kepandaian dan keluasan ilmunya, ia dengan jujur dan tidak malu-malu mengkritik keburukan tatanan sosial dan kebobrokan para penguasa.

Seorang hukama mengatakan: “Barangsiapa menutup dirinya dengan baju malu, maka aib dirinya tidak akan terlihat orang.” Nabi SAW bersabda: “Wahai manusia, kalau kamu tidak malu, berbuatlah sesukamu.”

Saudara, bapak dan ibu sekalian yang saya muliakan

Ada tiga rupa sifat malu, yaitu malu terhadap Allah, malu kepada orang lain, dan malu kepada diri sendiri. Pertama: Malu kepada Allah, adalah dengan mengikuti peritah-Nya dan menjauhkan larangan-Nya. Ibnu Masud meriwayatkan, bahwa Nabi SAW bersabda: “Malulah kalian kepada Allah Azza wa Jalla dengan malu yang sungguh-sungguh?” Beliau bersabda: “Barangsiapa memelihara kepala dan isinya, perut dan muatannya, menepiskan perhiasan dunia, mengingat maut dan siksa, berarti dia sudah berbuat malu kepada Allah dengan malu yang sesungguh-sungguhnya.”

Pernah suatu ketika ada seorang datang meminta nasihat kepada Nabi SAW: “Wahai Rasul, berilah aku nasihat!” Rasulullah bersabda: “Hendaklah kamu malu kepada Allah Azza wa Jallah, seperti halnya engkau malu kepada orang-orang terhormat dari kaummu.”

Kedua: Malu kepada manusia, adalah dengan menahan cacian (kaffil adza) dan meninggalkan keburukan secara terus terang (tarkil mujaharah bil qabih). Rasulullah SAW bersabda: “Termasuk takwa kepada Allah, adalah memelihara hubungan baik dengan manusia.”

Bentuk haya’ semacam ini, bisa muncul dari tata krama dan sopan santun terhadap sesama manusia. Karena itu Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa menggunakan jilbab haya, ia takkan terfitnah.”

Ketiga: Malu kepada diri sendiri, adalah dengan kesucian diri atau meninggalkan keinginan yang hina (’iffah), dan memelihara perenungan diri (shiyanah al-khalawat). Seorang ahli hikmat mengatakan: “Hendaknya malumu kepada dirimu sendiri lebih besar dari pada malumu kepada orang lain.”

Bantuk malu (haya’) ini, terbit dari keutamaan jiwa (fadhilat al-nafs) dan keindahan perilaku (husnu al-sarirah). Ketika seseorang memiliki ketiga jenis malu itu dan mampu menerapkan secara proporsional, maka sempurnalah baginya jalan-jalan kebaikan, dan tercegah darinya biang-biang kejahatan. Hidupnya terhormat dalam pandangan manusia dan mulia dalam pandangan Allah SWT.

Saudara, bapak dan ibu sekalian yang saya muliakan

Mengakhiri kultum dalam kesempatan yang mulia ini, semoga Allah senantiasa menganugerahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua, dan semoga kita mampu memelihara shalat dengan baik, sehingga kita mendapatkan balasan surga di sisi Allah, amin. Demikianlah, yang dapat saya sampaikan, terima kasih atas perhatiannya dan mohon maaf atas kesalahan dan kurang lebihya. Hadanallah waiyyakum ajma’in, was salamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Oleh Ustadz Abdullah Farouk & Ustadz MS. Ibnu Hasan

Khutbah Jumat: Ruang dan Waktu

MUKKADIMAH

Kaum Muslimin Sidang Jumat yang Berbahagia

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Tuhan yang telah menurunkan kitab sucinya yang mulia. Dalam kitab suci Al quran telah diterangkan tentang pentingnya ruang dan waktu.

salawat dan salam semoga tercurah kepada nabi besar Muhammad shallallahu alaihi wasallam serta kepada sekalian sahabat dan keluarganya dan dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik sampai hari kemudian yang penuh sesak dengan manusia dari generasi pertama sampai generasi terakhir.

Kemudian dari pada itu marilah kita sekalian meningkatkan taqwa kita kepada Allah,  Semoga kita termasuk orang-orang yang berbahagia di dunia dan di akhirat.


Kaum Muslimin Sidang Jumat yang Berbahagia

Adapun judul khutbah kita pada hari ini adalah tentang ruang dan waktu. Maksudnya adalah bagaimana cara kita mengisi dan memanfaatkan ruang dan waktu Agar kita selamat dunia dan akhirat.

Menurut ilmu pengetahuan ruang adalah tata tertib alam semesta yang tidak bergerak. Hidup dan keberadaan kita selalu  terkait dengan ruang dan waktu. Bumi atau tanah adalah ruang dan tempat kita hidup. Dalam AlQuran surat al-baqarah ayat 36 Allah SWT berfirman:

"Dan bagi kamu ( manusia) ada tempat kediaman di bumi dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan".

Menurut ayat ini bumi adalah tempat tinggal, manusia meninggal dunia tetapi pada ayat yang lain Surat Taha ayat 55 Allah menegaskan:

"Dari bumi ( tanah) itulah kami menjadikan kamu dan dan kepada-nya Kami akan mengembalikan kamu dan dari padanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain".

Bila kita perhatikan kedua ayat tadi maka bumi ini adalah tempat atau ruang yang amat Sentral dan penting bagi manusia. Itulah sebabnya maka Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis yang sanadnya diriwayatkan oleh Ali Bin Abi Thalib beliau bersabda: 

"Dan perlakukanlah (bergaullah) dengan bumi dengan bershalat di atasnya".

Dengan salat di atas tanah (bumi)  kita amat akrab, Karena pada saat kita bersujud, kita bertumpu di atas 7 tulang yaitu tulang dahi, tulang tangan, 2 tulang lutut dan dua tulang kaki. Bacaan  kita pada saat sujud adalah kita Bertasbih kepada Allah yang Maha Tinggi, tetapi jasad kita akrab dengan tanah. Bumi dan tanah adalah tempat kita kembali setelah kita meninggal dunia. Tegasnya kita akan pindah dari punggung bumi ke dalam perut bumi. Dalam sebuah hadis nabi Muhammad SAW yang sanadnya diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar beliau bersabda:  

"Sesungguhnya Bila seorang mukmin setelah diletakkan dalam kuburnya, kubur diperluas".

kaum muslimin sidang Jumat yang berbahagia berbicara tentang waktu, maka Allah SWT dalam Alquran banyak bersumpah dengan waktu. seperti walfajri  (Demi Waktu Fajar) wallaili (demi waktu malam), dan Wal Ashri (demi masa). Bahkan Allah SWT membuat satu surat dalam Alquran yang khusus menyebut massa dan waktu dan apa yang wajib kita kerjakan dalam masa itu. Surat al-ashr terdiri dari empat ayat yaitu:

"Demi Masa sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya   menetapi kesabaran".

surat al-ashr ini merupakan konsep yang terbaik dari sebuah kitab suci tentang masa atau waktu dan dan apa yang hendaknya kita kerjakan. dari surat ini kita dapat mengamati dan mengetahui secara langsung betapa banyaknya manusia yang merugi. Karena mereka main judi, minum miras mengedarkan narkoba prostitusi dan perbuatan-perbuatan tercela lainnya.

Juga kita dapat melihat mereka yang beruntung karena mereka mengerjakan pekerjaan yang halal amal Saleh seperti bertani, menangkap ikan, bekerja di kantor dan berjualan di pasar.

Iman kepada Allah SWT adalah rukun iman yang terpenting. Beriman kepada Allah SWT akan mendorong kita untuk selalu mengerjakan Ibadah, beramal saleh, bekerja sama dalam mencari rezeki yang halal begitu pula satu sama lain saling menyebarkan bila ada kesulitan yang dihadapi.

Kaum Muslimin Sidang Jumat yang Berbahagia

Untuk melengkapi surat al-ashr yang berisi Bagaimana cara mengisi waktu, saya akan angkat sebuah hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Maimun Bin mahran. Beliau sedang memberi nasihat kepada seseorang sebagai berikut:

"Jagalah lima keadaan sebelum datang lima keadaan. Jagalah waktu mudamu sebelum datang masa tuamu dan Jagalah kesehatanmu sebelum engkau sakit. Dan jagalah waktu senggangmu sebelum datang waktu sibukmu. Dan jagalah saat kayamu sebelum engkau fakir. Dan jagalah hidupmu sebelum datang kematianmu".

Hadits ini juga secara keseluruhan berhubungan dengan massa  atau waktu. perkenankanlah saya untuk menjelaskan butir-butir hadis-hadis secara singkat. Rasulullah memerintahkan kita menjaga masa muda sebelum tua. manusia waktu masih muda mampu mengerjakan pekerjaan yang berat dan bila sudah tua tak mampu lagi. Dan Bila seorang anak muda terbiasa berbuat dosa, maka massa satuannya sulit memperbaiki diri. Dan bila sejak usia muda sudah terlatih shalat. Maka hal itu akan berlangsung hingga hari tua. 

Perintah Nabi Muhammad SAW untuk menjaga kesehatan sebelum sakit memang tepat, sebab bila kita sehat kita bisa mengurus harta kita bisa bekerja dan bisa beribadah bila sudah sakit kita dapat merepotkan orang lain.

Perintah menjaga waktu senggang sebelum sibuk, adalah agar waktu kita isi dengan iman dan amal saleh. Sibuk maksudnya bila nyawa sudah di kerongkongan kita sudah dalam kubur, atau di padang mahsyar. Sehari semalam kita punya 24 jam, 8 jam untuk tidur sisanya. Mari kita isi dengan iman dan amal saleh insya Allah kita tidak akan menyesal.

perintah menjaga kekayaan sebelum Fakir, adalah agar rezeki dan harta kita jaga dengan sebaik-baiknya dan kita jangan ingin mengambil harta orang lain.

Perintah menjaga hidup sebelum mati adalah agar kita tidak menyia-nyiakan waktu berlalu, marilah kita isi dengan iman, taqwa dan amal saleh seperti sedekah dan sebagainya bila demikian kematian tidak perlu ditakuti.

Demikianlah khutbah tentang Bagaimana mengisi ruang dan waktu Semoga kita sukses. Amin ya rabbal alamin.

PENUTUP

Oleh Drs. KH. Marwan Aidid

Khutbah Jumat: Tuntunan Bertetangga Dalam Islam

MUKKADIMAH

Kaum Muslimin Sidang Jum’at yang Berbahagia

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang mencintai hamba-hambanya yang bertetangga dan saling mencintai.

Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi Besar Muhammad SAW serta kepada sekalian sahabat dan keluarganya.

Kemudian dari pada itu marilah kita meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allah SWT agar kita mendapat berkah dan karunia-Nya di dunia dan di akhirat.


Kaum Muslimin Sidang Jum’at yang Berbahagia

Persoalan tetangga adalah persoalan yang amat penting karena dimana saja masyarakat itu hidup, baik di kota maupun di desa, pertetanggaan tidak dapat dihindari. Dalam soal bertetangga ini, Nabi Muhammad SAW dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, beliau bersabda:

“Jibril senantiasa memberi wasiat kepada saya tentang bertetangga, sehingga menyangka pertetanggaan akan diwajibkan”.

Bila kita perhatikan ayat-ayat Al-Qur’an, maka soal pertetanggaan, ada yang berhubungan dengan iman, ada yang berhubungan dengan ibadah,dan ada yang berhubungan dengan akhlak.

Pertama

Pertetanggaan yang berhubungan dengan iman kita lihat dalam hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim:

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian maka janganlah ia menyakiti tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian hendaklah ia selalu berkata yang baik, dan bila akan berkata yang tidak baik hendaklah diam”.

Kaum Muslimin Sidang Jum’at yang Berbahagia

Soal tetangga bila di pedesaan berjalan dengan penuh keakraban dan kebersamaan. Akan tetapi di daerah-daerah perkotaan, sifat-sifat perseorangan lebih menonjol. Orang yang tidak mau diganggu urusan pribadi biasanya membuat pagar tembok atau pagar besi yang ujungnya runcing. Ini dapat dipahami bila dilihat dari sudut keamanan agar tidak dimasuki pencuri. Di daerah perkotaan di daerah yang didiami oleh orang kaya, atau di rumah susun dan apartemen, maka yang dapat mempertahankan tetangga pada waktu-waktu tertentu adalah shalat berjamaah di masjid, majelis taklim, arisan yang dirangkaikan dengan dakwah islamiyah. Individualisme dan egoisme hanya bisa ditawarkan oleh ajaran agama yang memerintahkan umatnya untuk hidup dalam suasana marhama dan kasih sayang.

Kedua

Total pertetanggaan yang berkaitan dengan ibadah dapat kita lihat dalam firman Allah SWT dalam surat An-Nisa’ ayat 36 yang berbunyi:

“Sembahlah Allah SWT dan janganlah kamu mempersekutukan dengan sesuatupun, dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak yatim, orang-orang Muslim, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat dan hamba sahayamu”.

Ayat ini memberi isyarat bahwa apabila berbuat baik kepada sesama manusia yang disebut dalam ayat ini, termasuk berbuat baik kepada tetangga bila kita lakukan dengan niat dan ikhlas karena Allah, maka termasuk ibadah.

Ibadah dalam Islam pada dasarnya terbagi dua:
  • Pertama ibadah murni seperti shalat, puasa dan ibadah sosial. Seperti sedekah infak, berbuat baik kepada tetangga dan sebagainya.
  • Kedua, hamba sahaya yang disebut dalam ayat ini lebih tepat diartikan pembantu rumah tangga.

Persoalan tetangga yang berhubungan dengan akhlak, dapat kita lihat dalam salah satu sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Tirmidzi yang berbunyi:

“Jauhilah hal-hal yang dilarang oleh Allah maka engkau menjadi manusia yang paling baik ibadahnya dan ridholah kepada rezeki yang diberikan oleh Allah kamu akan menjadi manusia yang paling kaya. Dan berlaku baiklah kepada tetanggamu, maka engkau menjadi pemberi keamanan. Dan cintailah manusia sebagaimana cintamu kepada dirimu sendiri kamu menjadi orang yang memberi keselamatan. Dan janganlah kamu memperbanyak tertawa, karena banyak tertawa itu mematikan hati”.

Untuk dapat memahami hadits ini dengan baik, perkenankan saya memperpendek bahasanya sehingga lebih mudah kita pahami:
  1. Kita hendaknya menjauhi larangan Allah, kita menjadi hamba terbaik
  2. Ridha kepada rezeki Allah, kita bermental orang yang paling kaya
  3. Berbuat baik kepada tetangga kita menjadi mukmin
  4. Mencintai orang lain sebagaimana kita cinta kepada diri kita sendiri maka kita menjadi Muslim
  5. Kita jangan banyak tertawa, supaya hati kita tidak mati

Kaum Muslimin Sidang Jum’at yang Berbahagia

Kita sebagai Muslim dan Mukmin hendaknya dapat mengetahui secara menyeluruh hak-hak tetangga menurut tuntunan Rasulullah SAW sehingga kita dapat mengamalkannya dengan sebaik-baiknya. Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW riwayat Thabrani beliau bersabda:

“Hak tetangga adalah apabila ia sakit engkau ziarahi, dan apabila mati engkau antar ke kuburan, dan apabila minta pinjam engkau pinjami, apabila ia mendapat kebaikan engkau beri ucapan selamat dan apabila ia tertimpa musibah kita hibur. Dan jangan engkau meninggalkan bangunanmu di atas bangunannya maka engkau menghalangi udara kepada mereka. Dan jangan engkau menyakiti tetanggamu dengan asap periukmu, kecuali kamu telah memberi tahukan kepadanya”.

Bila kita memperhatikan ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis Rasulullah SAW tentang tuntunan bertetangga dalam Islam, maka jelaslah pada kita sekalian bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang sempurna. Islam bukan saja mengatur dengan detail dan rinci mengenai iman dan ibadah, akan tetapi juga mengatur hablun minannas atau hubungan antar sesama manusia. Salah satu segi hubungan antar sesama manusia adalah hidup bertetangga.

Ajaran Islam tentang hidup bertetangga cocok diterapkan di pedesaan dan perkotaan, pada lingkungan pemukiman tertentu, substansi atau hakekatnya hidup bertetangga yang terdapat dalam hadis tadi dapat dikondisikan. Umpamanya saling memberikan makanan, bila kondisinya tidak perlu kita tidak perlu lakukan tetapi di daerah pinggiran kota yang masih memungkinkan dapat kita lakukan. Jadi Qaul ulama yang mengatakan:

“Islam cocok disetiap tempat dan waktu”.

Pendapat ini membutuhkan kemampuan interprestasi dan penterapan ajaran agama kita, termasuk soal tetangga agar menjadi ajaran yang hidup dan dibutuhkan. Semoga selamat kita di dunia dan di akhirat. 

PENUTUP

Oleh Drs. KH. Marwan Aidid

Kultum: Ulama Suu’, Ulama Jahat, Duniawi

Sajadah Muslim ~ Yang saya muliakan dan saya taati para alim ulama, para pejabat pemerintah baik sipil maupun militer, para ustadz dan ustadzah, para bapak, ibu, hadirin dan hadirat yang saya muliakan.


Mengawali pertemuan kita melalui mimbar kultum kali ini, pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah, Tuhan sarwa sekalian alam. Shalawat dan salam, semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW sebab beliau kita dapat mengetahui yang hak dan yang batil, yang halal dan yang haram, antar jalan menuju ke surga dan jalan menuju ke neraka.

Bapak, ibu, hadirin dan hadirat sekalian yang saya hormati

Ulama Suu’ di sini dimaksudkan sebagai ulama jahat/dunia yang ilmunya hanyalah dimaksudkan untuk mencari kenikmatan dunia, sebagai sarana untuk mendapatkan kemuliaan dan kedudukan di hadapan pemilik dunia (penguasa dunia). Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya manusia yang paling berat siksanya pada hari kiamat adalah orang alim (orang berilmu) yang Allah tidak memberikan kemanfaatan atas ilmunya.”

Akhir-akhir ini, sering kita ketahui banyak ulama-ulama besar yang telah dipanggil oleh Allah SWT. Sementara generasi penerusnya sangat langka, bahkan yang lebih menyedihkan mereka tidak memiliki respek terhadap ilmu-ilmu agama, yang menjadi modal utama seorang ulama. Satu persatu ulama sepuh yang mumpuni dalam hal agama baik dalam ilmu dan pengalaman, wafat meninggalkan kita. Sementara pemikiran-pemikiran baru tentang pemahaman konsep Islam bermunculan, yang boleh jadi akan membingungkan masyarakat. Di kalangan akademisi dan kelompok-kelompok lain yang menamakan diri sebagai pembeharu atau modernis, telah memunculkan simbol-simbol Islam. Namun bila ditelusuri secara mendalam, ternyata tidak sepenuhnya berangkat dari hasil pemikiran ulama yang mengetahui secara benar tentang ajaran Islam, melainkan dari pemikiran para orientalis barat yang sekedar melakukan studi Islam tanpa mau menjadikan sebagai agama yang dianutnya. Atau bisa jadi mereka melakukan pendakalan dan menciptakan keraguan terhadap umat Islam terhadap ajaran agamanya.

Bapak, ibu, hadirin dan hadirat sekalian yang saya hormati

Ketika para ulama pewaris para nabi sama wafat, maka dunia telah kehilangan banyak pelita penerangnya, sehingga semakin redup dan remang-remang batas-batas antara kebenaran dan kebatilan. Allah tidak akan mencabut ilmu yag telah diberikan kepada hamba-hamba-Nya, kecuali dengan mewafatkan para ulama. Sebagaimana diterangkan dalam sabda Rasulullah SAW: “Dari Abdullah Ibnu Amr bin Ash, ia berkata, saya mendengar Rasulullah bersabda: ‘Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu yang telah diberikan kepada hamba-Nya, tetapi Ia mencabut ilmu itu dengan mewafatkan para ulama, sehingga ketika tidak ada ulama, maka manusia mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh-bodoh, maka ketika mereka ditanya (tentang suatu masalah) mereka menjawab tanpa dasar ilmu, maka mereka tersesat dan menyesatkan.”

Rasulullah SAW bersabda: “Akan keluar suatu kaum pada akhir zaman, orang-orang muda berpaham jelek (ulama karbitan/gadungan), mereka berbicara mengenai sabda Rasulullah, padahal keimanan mereka tak lebih dari batas kerongkongan. Mereka keluar dari agama sebagaimana panah yang lepas dari busurnya. Maka manakala kalian menjumpai mereka, perangilah mereka.” (HR. Bukhari)

Kiranya sinyalemen sebagaimana yang dinyatakan Rasulullah SAW telah dapat kita rasakan kebenarannya pada masa sekarag ini. Untuk itu, kita harus waspada dan hati-hati agar tidak terjerumus ke dalam ajaran yang sesat, yang dihembuskan oleh ulama-ulama gadungan atau karbitan (ualama suu’).

Kalau ulama-ulama yang mumpuni, yang berilmu tinggi dan mengamalkannya secara tulus ikhlas sudah tidak ada, maka pada gilirannya akan muncul, apa yang dinamakan ulama gadungan. Kalau hal ini sampai terjadi, maka masyarakat akan kehilangan kendali, di mana yang dulunya ulama sebagai tumpuhan pengaduan dan penasehat permasalahan umat, kini berubah haluan menjadi ulama permasalahan rakyat, yang di dalam istilah agama lebih dikenal dengan ulama suu’.

Bapak, ibu, hadirin dan hadirat sekalian yang saya hormati

Demikianlah, kultum yang dapat saya sampaikan dalam kesempatan kali ini, semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat, anugerah dan petunjuk-Nya kepada kita, sehingga kita dapat selamat di dunia dan di akhirat, amin. Akhirnya, terima kasih atas perhatiannya dan mohon maaf atas kesalahan dan kurang lebihnya. Wallahul muawffiq ila aqwamit thariq, tsummas salamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Oleh Ustadz Abdullah Farouk & Ustadz MS. Ibnu Hasan

Back To Top