Sajadah Muslim

Membahas Tentang Seputar Ilmu Agama Islam

Khutbah Jumat: Istiqamah

MUKKADIMAH

Kaum Muslimin Sidang Jum’at yang Berbahagia

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah mempersiapkan surga bagi hamba-hamba-Nya yang istiqamah, konsisten dan berkelanjutan taat kepada Tuhannya. Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW serta kepada sekalian sahabat dan keluarganya. Kemudian dari pada itu marilah kita meingkatkan iman dan takwa kita kepada Allah SWT, agar kita mendapatkan magfirah dan ridha-Nya.


Adapun judul khutbah kita pada hari ini adalah “Istiqamah”

Kaum Muslimin Sidang Jum’at yang Berbahagia

Sebagai langkah awal ada baiknya bila terlebih dahulu kita ketahui arti istiqamah. Istiqamah berasal dari kata qaama yang berarti tegak. Istiqamah berarti konsisten, berkelanjutan tidak putus-putus. Untuk melengkapi arti istiqamah kami kutip sahabat-sahabat utama Rasulullah SAW yaitu Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali.

Abu Bakar berpendapat bahwa istiqamah berarti: tidak mensekutukan Allah dengan sesuatu. Umar berpendapat bahwa istiqamah adalah teguh dalam menegakkan amar makruf nahi munkar. Usman berpendapat bahwa istiqamah adalah ikhlas. Ali berpendapat bahwa istiqamah berarti mengerjakan fardhu yang diperintahkan oleh Allah SWT.

Barangkali pendapat-pendapat di atas dapat dihimpun dalam suatu definisi bahwa istiqamah berarti:

Luzumu thaa-atillah berarti selalu taat kepada Allah SWT uraian tentang istiqamah terdapat dalam Al-Qur’an surat Fussilat ayat 30-35 pada ayat 30 Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata Tuhan kami adalah Allah kemudian istiqamah, maka Malaikat akan turun kepada mereka lalu berkata janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu”.

Uraian tentang arti istiqamah telah diuraikan di atas, para Ulama berbeda pendapat tentang kapan Malaikat akan turun kepada kita. Malaikat diturunkan oleh Allah SWT , pada waktu kita menghadapi kesulitan yang berat atau pada saat kita akan meninggal dunia. Kedua pendapat ini sebenarnya tidak bertentangan, karena pada saat kita akan menghadapi sakaratul maut juga kita menghadapi kesulitan yang berat bahkan bersifat final. Pada ayat 31 Allah SWT berfirman:

“Kami adalah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat. Di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh pula dalamnya apa-apa yang kamu minta”.

Pertolongan Allah SWT pada orang-orang yang istiqamah atau selalu taat kepada Allah SW akan memperoleh pertolongan dan perlindungan Allah baik di dunia maupun di akhirat. Dan pada ayat 31 ini dititik beratkan pertolongan dan perlindungan Allah SWT kepada orang-orang istiqamah di akhirat berupa nikmat Allah SWT di dalam surga. Kenikmatan itu ada yang datang tanpa diminta dan ada pula yang datang sesuai dengan permintaan kita. Dan pada ayat 31 dijelaskan bahwa semua kenikmatan itu adalah pemberian yang datangnya langsung dari Allah SWT yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Pada ayat ke 33 Allah SWT menerangkan tentang bagaimana orang-orang yang istiqamah itu atau orang-orang yang selalu taat kepada Allah SWT itu dalam mengajak orang lain ke jalan Allah SWT. Dalam hal ini Allah SWT berfirman pada ayat Fussilat 33:

“Dan siapakah yang lebih baik amal perbuatannya dari pada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shaleh dan berkata aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

Jadi, orang yang taat kepada Allah SWT atau orang-orang yang istiqamah sepak terjangnya atau caranya adalah: Mengajak orang lain kepada Allah dengan ucapan dan kalimat yang terbaik dan lemah lembut. Selalu memberika contoh dalam berakhlak mulia. Tingkahlakunya senantiasa benar dan menarik lalu ia berkata sesungguhnya saya adalah orang yang berserah diri maksudnya memberikan contoh dalam mengerjakan ibadah seperti shalat.

Pada ayat yang ke 34 dari surat Fusshilat Allah SWT menerangkan bagaimana orang yang selalu taat kepada Allah, atau orang-orang yang istiqamah bereaksi atau berinteraksi dan berkomunikasi timbal balik bila diperlakukan sewenang-wenang atau diperlakukan tidak baik, pada ayat ke 34 Allah berfirman:

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan dan tolaklah kejahatan dengan cara yang lebih baik. Maka apabila antara kamu dengan seseorang ada permusuhan, maka perlakukanlah seperti kawan setia”.

Ayat ini amat cocok dengan seorang diplomat, perunding, atau pemimpin yang dalam keadaan bagaimana pun tidak boleh menampakan permusuhan kepada orang lain, apalagi bila dihadapan umum. Sesungguhnya dari ayat inilah ahli sejarah Islam menggambarkan kepribadian Nabi Muhammad SAW dalam sejarah, akhlak Nabi Muhammad SAW digambarkan sebagai berikut:

“Beliau membalas kejahatan dengan kebaikan, beliau tetap bersilahturahmi kepada orang yang telah memutuskan hubungannya dengan beliau dan ia memberi bantuan materi kepada orang yang tidak mau membantunya dan beliau memaafkan orang-orang yang menganiayanya”.

Kepribadian yang seperti inilah yang dimiliki oleh beliau mengantarkan agama Islam dan umat Islam mencapai puncak kemenangan, untuk menarik simpati kawan dan lawan, dikagumi oleh penulis dan pengamat sejarah baik yang Muslim maupun musuh sekalipun. Fakta sejarah terukir dengan tinta emas ketika beliau dengan pasukannya menaklukan kota Mekkah tanpa pertumpahan darah dan beliau hanya berpidato di depan Ka’bah dihadapan orang-orang Quraisy yang penuh ketakutan, lalu beliau bertanya: Apakah sebaiknya yang harus saya lakukan kepada kamu sekalian? Mereka menjawab: mohon kami diperlakukan dengan baik wahai saudara yang mulia, mohon kami diperlakukan dengan baik wahai kemenakan kami yang mulia. Beliau menjawab: pergilah dan kamu sekalian bebas beragama, tidak disuruh masuk Islam. Pada saat itu beliau dan pasukannya sudah menang militer, menang politik, tetapi beliau tetap menjamin kebebasan beragama:

“Agama tidak boleh dipaksakan”.

Hasilnya luar biasa, hanya beberapa jam kemudian seluruh penduduk Mekkah masuk Islam termasuk rajanya Abu Sofyan.

Kaum Muslimin Sidang Jum’at yang Berbahagia

Apa yang diterangkan pada ayat istiqamah dalam surat Fusshilat ayat 30-35 adalah kepribadian Nabi Muhammad SAW.

Pada ayat 35 diterangkan oleh Allah SWT bahwa:

Artinya: “Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang bersabar, dan tidak dianugerahkan melainkan orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar”.

Jadi sukses besar yang tiada bandingnya yang diraih dan diperoleh Nabi Muhammad SAW itu adalah karena beliau memiliki kesabaran yang luar biasa. Pada saat ini biasa disebut dengan kecakapan emosional, kemampuan mengendalikan diri dalam segala situasi yang didukung oleh kecerdasan yang tinggi dan keimanan yang mendalam.

Pada akhirnya marilah kita memadukan antara ketaatan beragama dakwah yang menarik, memperlakukan lawan dengan etis dan simpatik, didukung oleh kesabaran yang tangguh. InsyaAllah kita akan memperoleh sukses yang gemilang pula, Amin.

PENUTUP

Oleh Drs. KH. Marwan Aidid

Khutbah Jumat: Keutamaan Bertaubat

MUKKADIMAH

Kaum Muslimin Sidang Jum’at Yang Berbahagia

Puji syukur pertama-tama kita persembahkan kehadirat Allah SWT yang mencintai hamba-hamba-Nya yang bertaubat.


Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW serta kepada sekalian keluarga dan para sahabatnya yang telah memberikan contoh dan teladan yang sebaik-baiknya dalam mengamalkan ajaran agama Islam.

Kemudian dari pada itu marilah kita sekalian memperbaiki takwa kita kepada Allah SWT agar kita selamat di dunia dan di akhirat.

Kaum Muslimin Sidang Jum’at Yang Berbahagia

Taubat menurut bahasa berarti dasar atau pondasi suatu bangunan. Sedangkan menurut agama atau istilah taubat adalah kembali, kembali dari perbuatan yang tercela kepada sifat-sifat yang terpuji. Ada tiga istilah taubat yang sering dipergunakan yaitu:
  1. Bila kita meninggalkan dosa karena takut pada Allah SWT maka kita disebut Ta’ib (orang yang bertaubat).
  2. Bila kita meninggalkan dosa karena malu kepada Allah maka kita disebut Munib.
  3. Bila kita meninggalkan dosa karena demi menjaga keagungan Allah SWT disebut Awwab. Ta’ib, Munib dan Awwab artiya sama yaitu yang bertaubat. Yang berbeda adalah motifnya atau alasannya.

Kaum Muslimin Sidang Jum’at Yang Berbahagia

Para Ulama sependapat bertaubat itu hukumnya wajib. Berarti barangsiapa yang terus menerus mengerjakan dosa tanpa bertaubat maka ia berdosa bahkan berdosa besar. Bila kita perhatikan ayat suci Al-Qur’an maka ada beberapa ayat yang memerintahkan bertaubat kepada semua umat Islam. Adapun ayat itu adalah:

1. Firman Allah SWT dalam surat At-Tahrim ayat 8 yang berbunyi:

“Wahai sekalian orang-orang yang beriman hendaklah kamu sekalian bertaubat kepada Allah SWT dengan taubat Nasuha”.

Taubat Nasuha adalah taubat yang disertai dengan penyesalan atas dosa yang telah kita kerjakan dan tidak mengulanginya lagi.

2. Dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat 37 Allah SWT berfirman:

“Dan hendaklah kamu bertaubat kepada Allah SWT wahai orang-orang yang beriman mudah-mudahan kamu berbahagia”.

3. Dan dalam surat Hud: 3 Allah SWT berfirman:

“Dan hendaklah kamu minta ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepadaNya niscaya Allah akan memberikan kenikmatan yang berkelanjutan”.

Bila kita memperhatikan tiga ayat tadi maka semuanya berbentuk perintah dan di dalam ilmu hukum Islam perintah itu hukumnya wajib atau fardhu.

Kaum Muslimin Sidang Jum’at Yang Berbahagia

Nabi Besar Muhammad SAW adalah Uswatu Hasanah, ikutan yang terbaik di dalam beristigfar dan bertaubat kepada Allah SWT sebagaimana kita ketahui bahwa beliau itu adalah Rasul utama, dan jadi pengikut Nabi dan Rasul, beliau maksum dijaga oleh Allah SWT dari mengerjakan dosa.

Dalam sebuah hadisnya yang diriwayatkan oleh Bukhari beliau bersabda:

“Demi Allah, sesungguhnya saya pasti mohon ampun dan bertaubat kepada Allah SWT lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari”.

Dan dalam sebuah hadisnya yang lain diriwayatkan Imam Muslim beliau bersabda yang artinya “Wahai manusia bertaubatlah kepada Allah dan mohon ampunlah kepadaNya karena sesungguhnya saya bertaubat 100 kali dalam sehari”.

Bila Rasulullah SAW saja yang maksum minta ampunan dan bertaubat diatas seratus kali sehari, maka hendaklah kita sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan dan dosa mohon ampun lebih banyak lagi.

Kaum Muslimin Sidang Jum’at Yang Berbahagia

Beberapa nama Allah SWT yang menunjukkan bahwa ia Maha Pengampun, Maha Penerima Taubat seperti Ghafurun, Ghaffar, Tawwabun dan sebagainya. Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda:

“Seandainya engkau megerjakan kesalahan sehingga mencapai setinggi langit lalu menyesal, niscaya Allah SWT akan menerima taubat kamu sekalian”.

Makna dari hadis ini adalah bahwa bila kita selesai berbuat dosa, hendaklah kita menyesal dan tidak mengulanginya. Bila kita melihat seorang yang banyak melakukan dosa dan kejahatan janganlah kita cepat-cepat menudingnya sebagai ahli neraka, kita tidak boleh membuat seseorang putus asa dari rahmat dan ampunan Allah SWT.

Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW menceritakan dari suatu riwayat seorang yang telah membunuh orang sebanyak 100 orang kepada para sahabatnya, bahwa pada masa sebelum kamu ada seorang laki-laki yang telah membunuh 99 orang, apakah masih bisa diterima taubatnya? Seorang rohaniawan menjawab tidak bisa. Lelaki itu langsung membunuh rohaniawan itu sehingga ia telah membunuh 100 orang. Kemudian ia pun ditunjukkan pada seseorang yang Ulama pintar, ia bertanya, apakah taubat bagi orang yang telah membunuh 100 orang?, lalu orang itu menjawab bahwa taubatnya masih bisa diterima, tetapi untuk tata caranya pergilah ke suatu negeri  yang penduduknya beribadah dan agar kamu juga beribadah bersama mereka. Maka pembunuh 100 orang itu pergi ke negeri yang ditunjukkan orang-orang pintar tadi,. Tetapi ditengah jalan ia mati? Sehingga Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab mengukur mana yang lebih jauh antara negerinya dan negeri yang ia tuju untuk bertaubat.

Kesimpulannya jarak ke negeri untuk bertaubat lebih sejengkal dan akhirnya ia termasuk orang yang diterima taubatnya oleh Allah SWT.

Kaum Muslimin Sidang Jum’at Yang Berbahagia

Selama kita masih diberi kesempatan hidup oleh Allah SWT maka kesempatan untuk bertaubat tetap terbuka, dan batas akhir untuk bertaubat dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadistnya yang diriwayatkan oleh Tirmizi:

“Sesungguhnya Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung masih menerima taubat seorang hamba apabila nyawanya belum tiba dikerongkongan”.

Tetapi yang terbaik adalah apabila kita berbuat dosa, bersegeralah bertaubat dan jangan ditunda oleh karena akan merugikan diri kita sendiri. Sebagaimana firman Allah SWT pada Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 17:

“Sesungguhnya taubat itu hanyalah bagi orang-orang yang melakukan kesalahan karena kurang kesadaran dan mereka segera bertaubat”.

Menurut para Ulama taubat itu memiliki urutan dan sistematika yaitu:
  1. Menyesali dosa yang telah dikerjakan
  2. Bertekad untuk tidak mengulanginya lagi
  3. Bila kita berdosa pada orang, kita mohon maaf kepadanya
  4. Bila kita ambil barang orang maka kita kembalikan
  5. Kita taat dan beramal shaleh.

Kaum Muslimin Sidang Jum’at Yang Berbahagia

Sebagai bagian akhir dari khutbah ini perkenankanlah kami membacakan firman Allah SWT dalam surat Maryam ayat 60:

“Melainkan orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal shaleh maka mereka itulah yang akan masuk ke dalam surga yang sedikitpun tidak akan dianiaya”.

Pada akhirnya marilah kita sekalian senantiasa beriman, bertakwa dan beramal shaleh dan senantiasa beristigfar dan bertaubat agar kita senantiasa dicintai oelh Allah SWT. Amin yaa Rabbal ‘Alamiin 

PENUTUP

Oleh Drs. KH. Marwan Aidid

Bekecot Dan The Power of Movement

Sajadah Muslim ~ Dibandingkan dengan binatang-binatang lain. Boleh dikata, bekecot menjadi salah satu binatang yang lambat dalam berjalan. Apa lagi disandingkan sama ayam. Atau kucing. Hhhmmmm……tak sejajar.  Tapi dibalik itu semua, ada pelajaran menarik yang bisa ditilik dari hewan satu ini. Termasuk dibalik kelambatannya dalam berjalan. Perhatikan dengan seksama. 


Betapa bekecot itu, sangat istikomah dalam menempuh perjalanannya. Meski sangat lambat, ia terus saja berjalan. Apapun rintangan di hadapannya, baik itu berupa kerikil, batu, dahan dan sebagainya, ia terus saja bergerak. Bahkan dinding yang memiliki kemiringan 180 derajat bisa didaki. Padahal di lain sisi, ia juga harus memikul beban lain. ‘Rumah’nya. Kudu digotong ke sana- ke mari. Ke mana saja ia melangkah, harus dibawa. Karena ‘rumah’nya itu bersatu dengan tubuhnya. 

Tapi lihatlah. Hasil dari gerakan yang terus menerus ini. Bekecot selalu berhasil melewati rintangan.  Berat beban yang dipikul pun tak lantas menjadi penyurut langkah. Kaitannya dalam meraih kesuksesan. Perlu kiranya meniru langkah bekecot ini. Sebab nyatanya. Kesuksesan itu tidak semata diukur seberapa gigih dan cepat ia dikejar. Tapi juga berkaitan dengan seberapa kuat dan tahan dalam memburunya. 

Bila diperjalanan ternyata kekuatan dan ketahanan runtuh. Hingga lebih memilih balik kanan. Maka sudah pasti berakhir pada kegagalan. Maka tiada gunalah modal awal berupa semangat membara itu tadi. Toh di tengah jalan padam juga. Tapi beda bagi mereka yang memiliki tekat nan membaja. Tak pernah kendur meski menghadapi berbagai rintangan. Akan dilalui juga ujian itu. Miskipun, umpamanya, gerakannya lamban.

Kurang lincah. Tapi terus istikomah. Maka akan sampai akhir perjalanan.Tentu juga akan lebih luar biasa, bila gerakannya lincah dan cepat.  Terkait denga hal itu pula. Sebagian kita tentu akrab dengan pribahasa yang menyatakan:

“Sedikit demi sedikit lama-lama akan menjadi bukit.” 

Inilah titik penting menjaga keistikomahan dalam berburu kesuksesan. Jangan pernah berhenti. Karena itu artinya kematian. Dan falsafah ini berlaku dalam segala sektor. Matahari berhenti bergerak, maka hancurlah alam semesta. Jantung berhenti berdenyut, maka mati lah badan. Bahkan, harta jarum jam, bila berhenti bergerak, bingung juga menentukan waktu. 

M. Natsir dalam sebuah pidatonya, pernah berpesan kepada para khalayak: “Jangan berhenti tangan mendayung, nanti arus membawa hanyut.” Dalam setiap gerakan itu terkandung di dalamnya keberkahan. Keberkahan inilah yang akan menghantarkan kepada kebaikan. Karena makna berkah itu sendiri ialah; ziyadatu alkhairi. Yang artinya tambahnya kebaikan. Bukankah kebaikan ini yang terus kita harap dalam kehidupan. Bahkan dalam setiap munajatpun, disadari apa tidak, doa inilah yang paling sering dimintakan. Doa sapu jagat. Itu nama yang ditempelkan pada doa yang acap dibacakan pada akhir setiap doa. 

Tanda akan kepamungkasannya.  Doa itu adalah: Rabbanaa atinaa fid dunyaa hasanah wa fii al-akhiraati hasanah wa qinaa ‘adzaba al-naar (Ya Allah berilah kami kebaikan di dunia dan akhirat. Dan jauhkanlah kami dari siksa api neraka). Inilah puncak kesuksesan bagi seorang beriman. Di samping itu. Terkait dengan keunggulan menjaga keistikomahan dalam gerakan, Rasulullah dalam  sebuah sabdanya yang diriwayatkan Imam Muslim, pernah menjelaskan. Bahwa, amalan yang paling dicintai Allah  itu adalah yang istikomah pengerjaannya meskipun sedikit. 

So, ambillah hikmah dari penciptaan bekecot. Wallahu ‘alamu bishshowab.

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup

Khutbah Jumat: Keutamaan Sabar

MUKKADIMAH

Kaum Muslimin Sidang Jum’at yang Berbahagia

Puji dan syukur kita persembahkan kehadirat Allah SWT. Tuhan yang telah menganugerahkan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita sekalian.

Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW serta kepada sekalian para sahabat dan keluarganya.

Kemudian dari pada itu marilah kita sekalian meningkatkan iman dan takwa kita  kepada Allah SWT demi untuk keselamatan kita di dunia dan di akhirat.


Kaum Muslimin Sidang Jum’at yang Berbahagia

Adapun arti sabar itu adalah menahan diri dari kesedihan, tidak mengeluh dari bencana yang menimpanya, teguh pada prinsip tahan banting dan semacamnya. Sabar adalah sifat dan kekuatan batin yang amat penting dan dibutuhkan bila kita ingin mencapai cita-cita kita. Para Nabi besar yang mendapat gelar ‘Ulul Azmi mencapai sukses karena sifat dan sikap sabarnya.

Adapun Nabi yang mendapat gelar ‘Ulul Azmi adalah Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad SAW. Dalam Al-Qur’an surat Al-Alaq ayat 25 berbunyi:

“Maka hendaklah kamu bersabar sebagaimana sabarnya ulul azmi”.

Arti dari ‘Ulul Azmi adalah yang memiliki kesabaran, dalam bahasa ilmu jiwa, sabar disebut dengan kecakapan emosional. Dahulu amat dipentingkan adalah kecakapan intelektual atau kecerdasaan otak dan fikiran. Belakangan adalagi kecakapan baru yaitu kecakapan spritual yaitu kecakapan kita dalam berhubungan dengan yang Maha Kuasa, atau kecakapan religius. Yang terbaik adalah bila ketiga kecakapan ini dapat dimiliki oleh seseorang yaitu kecakapan intelektual, kecakapan emosional, dan kecakapan beribadah. Atau dengan bahasa sederhana sabar, pintar dan saleh.

Kaum Muslimin Sidang Jum’at yang Berbahagia

Sebagai manusia kita telah diberi informasi oleh Allah SWT bahwa dalam hidup ini kita akan diuji oleh Allah SWT dengan bermacam-macam dan kesulitan. Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 155 Allah berfirman:

“Dan sungguh akan kami berikan cobaan berupa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta benda, dan jiwa atau kematian dan kekurangan buah-buahan dan gembirakanlah orang yang bersabar”.

Bagian yang terakhir dari ayat ini, sudah merupakan tuntunan Allah kepada hambanya agar mereka tabah dan tahan uji menghadapi ujian-ujian yang menimpa mereka.

Pada ayat berikutnya yaitu ayat 156, Allah menjelaskan siapa-siapa yang termasuk orang yang sabar menghadapi cobaan yaitu:

“Yaitu orang-orang yang kena musibah mereka berkata sesungguhnya kita berasal dari Allah dan kembali kepada-Nya”.

Ucapan ini biasanya dipergunakan oleh umat Islam bila ada kedukaan yakni kematian. Nabi Muhammad SAW pada suatu malam lampunya mati dan beliau mengucapkan Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun. Ketika ditanya beliau menjawab: Mati lampu juga termasuk musibah.

Kaum Muslimin Sidang Jum’at yang Berbahagia

Sabar adalah sifat dan sikap yang diperintahkan oleh Allah SWT seperti:

Dalam Al-Qur’an surat Taha ayat 132 Allah SWT berfirman:

“Dan perintahkanlah keluargamu untuk shalat dan sabarkanlah mereka dalam mengerjakan shalat”.

Dalam ayat ini Allah meminta dan menyuruh agar keluarga kita senantiasa mengerjakan shalat serta konsisten dengannya dan bukan musiman (kondisional). Maksud kondisional adalah bila rezekinya baik shalatnya rajin, tapi bila rezekinya macet shalatnya juga macet, atau sebaliknya bila banyak kesulitan rajin shalat, tapi bila uang banyak shalatnya terlupakan. Itulah sebabnya Allah SWT berfirman dalam surat Al-Maarij 19-23:

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. Kecuali orang yang mengerjakan shalat hendaknya akhlak kita juga baik seperti peramah pemurah dan pendamai.

Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 45 Allah berfirman:

“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat”.

Artinya bila kita main tolong, harus minta tolong kepada Allah. Dan bila minta tolong harus sabar. Karena apa yang kita inginkan itu butuh waktu, butuh proses dan butuh kesabaran. Bila kita ingin hajat kita cepat hendaklah keinginan kita hajat kita melalui shalat, karena shalat adalah hubungan langsung antara hamba dengan Tuhannya.

Dalam Al-Qur’an surat Al-Anfal ayat 46 Allah SWT berfirman:

“Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah SWT menyertai orang-orang yang sabar”.

bila ada usaha dan urusan kita hendaklah diselesaikan dan diusahakan semaksimal mungkin, tetapi bila gagal hendaklah kita menerima takdir, lalu kita bersabar dan mencari jalan pemecahan yang lain. Orang bijak berkata orang sabar di kasihani Tuhan. Bila ada urusan penting lalu gagal dan kita tidak bersabar pasti kita stres dan tegang. Karena itu ada pepatah yang baik kita amalkan yaitu Take it easy artinya kesulitan yang kita hadapi hendaknya kita anggap mudah, dengan harapan Tuhan akan kasihan pada kita. Rujukan yang terbaik bila kita gagal dan jalan buntu adalah firman Allah dalam surat Al Insyirah ayat 6:

“Sesungguhnya dibalik kesulitan itu ada kemudahan”.

Ayat ini terdapat dalam Al Insyirah atau Alam Nasyrah ayat 5 dan 6, jadi diulang dua kali oleh Allah, sebagai jaminan bahwa sifat sabar itu amat menentukan dalam menghadapi kesulitan.

Kaum Muslimin Sidang Jum’at yang Berbahagia

Dalam menjaga keselamaan dan kedaulatan Negara juga sifat sabar ini diperintahkan oleh Allah dalam surat Ali Imran ayat 200 yang berbunyi:

“Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kamu sabar dan saling menyabarkan dan jagalah batas-batas negaramu dan bertakwalah kepada Allah, mudah-mudahan kamu mendapatkan kemenangan”.

Kaum Muslimin Sidang Jum’at yang Berbahagia

Suatu problema orang modern yaitu orang yang sekarat. Apakah boleh eutanasia semacam bunuh diri atau oleh orang lain. Dalam Islam kita dilarang bunuh diri, juga dilarang minta mati. Yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam bentuk do’a dari hadis riwayat Bukhari Muslim:

“Ya Allah hidupkanlah saya apabila hidup lebih baik bagi saya wafatkanlah saya bila mati lebih baik bagi saya”.

Do’a ini penting bagi saudara-saudara kita yang mengalami kondisi yang dilematis atau penyakit yang amat parah.

Mengenai pahala bagi orang yang bersabar baik yang mengalami musibah atau malapetaka, atau sabar dalam beribadah Allah SWT berfirman dalam surat Az zumar ayat 10 dalam sebuah hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Daud, beliau bersabda:

“Dan sabar pahalanya adalah syurga”.

Sebagai penutup marilah kita sekalian senantiasa bersabar dalam menghadapi bermacam-macam keadaan. Hendaklah kita sabar dalam menghadapi musibah, hendaklah kita sabar dalam ketaatan kepada Allah SWT dan hendaklah kita sabar dari kezaliman manusia dan hendaklah pula kita bersabar dan menjauhkan diri dari segala dosa, kemungkaran dan kesewenang-wenangan. Semoga Allah memberikan keselamatan dunia dan akhirat kepada kita sekalian. Amin ya Rabbal Alamin.

PENUTUP

Oleh Drs. KH. Marwan Aidid

Khutbah Jumat: Keutamaan Umat Muhammad SAW

MUKKADIMAH

Kaum Muslimin Sidang Jum’at Yang Berbahagia

Puji syukur pertama-tama kita persembahkan kehadirat Allah SWT yang telah menetapkan umat Islam sebagai umat yang terbaik yang dikeluarkan ditengah-tengah manusia, karena umat Islam senantiasa amar makruf nahi munkar, dan beriman kepada Allah SWT. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW beserta kepada sekalian sahabat dan keluarganya yang telah memberikan contoh dan teladan tentang hidup dan kehidupannya sesuai dengan ajaran Islam. Kemudian dari pada itu mari kita memperbaiki takwa kita kepada Allah SWT, agar kita selamat di dunia dan di akhirat.


Kaum Muslimin Sidang Jum’at Yang Berbahagia

Khutbah kita pada hari ini akan membahas tentang:

“Kemuliaan Umat Muhammad SAW”

Umat Muhammad SAW itu ada dua macam:
  1. Umat ijibah, yaitu umat Muhammad yang telah beragama Islam.
  2. Umat dakwah, yaitu yang masih harus diajak masuk dalam Islam.

Dilihat dari sudut periode kerasulan, maka sejak Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Nabi dan Rasul pada tahun bio masehi, maka seluruh umat manusia berada dalam periode kenabian dan kerasulan Muhammad SAW, itulah sebabnya mereka disebut umat Muhammad jika dilihat dari sudut ilmu dakwah. Akan tetapi bila dilihat dari sudut akidah, maka yang disebut muslim atau muslimin hanyalah mereka yang mengucapkan dua kalimat syahadat bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah hamba dan pesuruh-Nya. Nama resmi dari umat Muhammad yang diberikan langsung oleh Allah, terdapat dalam Al-Qur’an surat Al Hajj ayat 78:

“Dialah Allah yang memberi kamu nama Al Muslimin, sebelum kamu dan dalam Al-Qur’an ini”.

Yang dimaksud dengan kata sebelum kamu adalah nama umat Muhammad dalam kitab suci terdahulu seperti Zabur, Taurat dan Injil. Memang ada nama-nama lain dari umat Islam seperti Assalihum, Almukminun, Almuflihun, tetapi yang explisif dan tersurat langsung adalah Muslimun atau Muslimin. Ini juga sejalan dengan agama Islam yang telah diridhai oleh Allah SWT pada firman-Nya dalam surat Al-Maidah ayat 3:

“Dan Aku ridha Islam agamamu”.

Kaum Muslimin Sidang Jum’at Yang Berbahagia

Berbicara tentang keutamaan umat Muhammad, dalam Al-Qur’an surat Al-Imran ayat 110 Allah SWT berfirman:

“Kamu (wahai umat Islam) adalah umat yang terbaik dilahirkan untuk manusia, menyuruh pada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”.

Yang amat menguntungkan kita adalah karena ayat ini di sebutkan alasan mengapa kita disebut sebagai umat yang terbaik? Yaitu karena kita amar ma’ruf nahi munkar dan beriman pada Allah SWT; dan keutamaan lain yang diberikan Allah pada umat Islam adalah mereka semua masuk dalam surga. Dalam Al-Qur’an surat Fathir ayat 32 Allah SWT berfirman:

“Kemudian kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih diantara hamba-hamba kami, lalu diantara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah”.

Ayat ini kemudian dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad yang artinya:

“Maka adapun orang yang lebih dahulu berbuat kebajikan maka mereka itu masuk dalam surga tanpa dihisap, dan adapun orang pertengahan maka mereka itu dihisab dengan hisab yang ringan dan adapun mereka yang menganiaya dirinya maka mereka itulah yang lama dihisab di padang mahsyar”.
Hadis ini dijelaskan pula oleh seorang sahabat Rasulullah yang bernama Muhammad bin Al Hanifiah adalah umat Muhammad yang dirahmati oleh Allah SWT, yaitu orang yang menganiaya dirinya  diampuni, dan yang pertengahan masuk dalam syurga dan yang terdahulu kebaikannya dalam syurga yang tinggi.

Dapat ditambahkan untuk memudahkan kita memahami ayat dan hadis tadi bahwa yang menganiaya dirinya seperti orang yang tidak menjalankan kewajiban ibadahnya kepada Allah, yang pertengahan itu adalah mereka yang sudah beribadah dengan baik. Dan yang dimaksud dengan yang terdahulu kebaikannya adalah mereka  yang amat shaleh dan ibadahnya jauh lebih banyak dari kesalahannya.

Kaum Muslimin Sidang Jum’at Yang Berbahagia

Suatu ayat yang juga jelas memuat kemuliaan umat Muhammad adalah yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 143:

“Dan demikian pula kami telah menjadikan kamu umat Islam, umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas perbuatan kamu”.

Kata wasthan artinya pertengahan jadi umat Islam adalah umat pertengahan dan bila ada umat yang berselisih paham kita berusaha menengahi dan menyelesaikan persoalannya sesuai dengan bunyi ayat 32 dari surat Fathir bahwa umat Muhammad SAW adalah umat pilihan. Adapun arti kata agar kamu menjadi saksi adalah karena di Padang Mahsyar Rasulullah menyampaikan pertanggung jawabannya kepada Allah SWT namun sebagian mereka mendustakannya (kafir) dan sebagian lagi menerima dengan penuh iman dan sekaligus membenarkan Rasul-Rasul yang diterangkan dalam Al-Qur’an.

Kesaksian umat Islam juga dibenarkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan kata lain umat Muhammad dengan Nabi Muhammad SAW saling menyaksikan dan saling membenarkan.

Kaum Muslimin Sidang Jum’at Yang Berbahagia

Kemuliaan umat Muhammad SAW juga tergambar dalam firman Allah SWT dalam surat Al Ahzab ayat 43:

Artinya: “Dialah Allah yang bershalawat kepada kamu sekalian, dan Malaikat-Malaikat-Nya, supaya dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya”.

Adapun makna dari ayat ini adalah Allah SWT yang bershalawat kepada kamu bahwa Allah SWT yang memberi rahmat kepada kamu. Rahmat artinya lembut, kasih sayang dan puncak dari arti rahmat adalah syurga.

Kita sebagai umat Islam tentu ingin mendapatkan rahmat Allah SWT, karena rahmat adalah kata kunci yang positif dan membahagiakan. Dalam sebuah ayat Al-Qur’an surat Al-A’raf ayat 56:

“Sesungguhnya rahmat Allah dekat dengan orang-orang yang berbuat baik”.

Yang dimaksud dengan orang-orang yang berbuat baik adalah berbuat dengan ikhlas, baik ibadah maupun amal-amal sosial. Bila Malaikat beristigfar kepada umat Muhammad SAW, maksudnya adalah mereka memohonkan ampun agar mereka diampuni oleh Allah SWT. Dalam sebuah ayat lain yaitu Al-Ahsab ayat 56 Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Allah SWT dan Malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW”.

Maksdunya sama dengan ayat 43 yaitu Allah memberi rahmat kepada Nabi Muhammad SAW dan Malikat memohonkan istigfar untuk beliau.

Kaum Muslimin Sidang Jum’at Yang Berbahagia

Adapun hikmah Allah SWT memberi rahmat kepada umat Islam dan Malaikat memohonkan ampun, adalah karena Allah ingin mengeluarkan umat Islam dari kegelapan kepada terang-benderang yakni kegelapan kufur kepada cahaya iman.

Dan pada akhir ayat 43 surat Al-Ahzab Allah SWT menegaskan bahwa adalah Allah SWT itu akan berlaku kasih sayang kepada orang-orang mukmin yaitu Muhammad SAW yang telah menjadi Muslim hakiki.

Pada akhirnya marilah kita sekalian memperbaiki dan meningkatkan iman, takwa dan amal kita agar semua janji Allah kita terima secara sempurna. Amin yaa Rabbal Alamin.

PENUTUP

Oleh Drs. KH. Marwan Aidid

Indahnya Allah Menegur Kekasih-Nya

Sajadah Muslim ~ Betapa sering kala seseorang marah dan kecewa secara spontan akan berkata keras, setidak-tidaknya suara langsung melengking atau intonasinya meninggi. Hal seperti ini bisa terjadi pada orang tua kepada anak atau pun atasan kepada bawahan, senior kepada junior.


Namun, kalau kita benar mau belajar dari Al-Qur’an, maka masalah tegur menegur ini pun sudah ditunjukkan caranya. Dan, Allah langsung memberikan contoh perihal ini. “Dia bermuka masam dan berpaling. Lantaran datang kepadanya orang buta itu. Padahal adakah yang engkau tahu, boleh jadi dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa). Atau dia akan ingat, lalu memberi manfaat kepadanya ingatnya itu.” (QS: Abasa [80]:  1-4).

Dalam riwayat itu terjadi saat Nabi Muhammad sedang duduk bersama para pemuka Quraisy menjelaskan perihal Islam. Namun tak disangka, datang Abdullah bin Ummi Maktum, seorang pria tunanetra yang langsung masuk ke ruangan dan menjadikan Nabi menghentikan pembicaraan dan bermuka masam. Allah Ta’ala pun menegur beliau yang terkasih itu. 

Namun, caranya sangatlah sopan, indah, dan penuh adab. “Dalam ketiga ayat ini ahli-ahli bahasa yang mendalami isi Al-Qur’an merasakan benar-benar betapa mulia dan tinggi susun bahasa wahyu itu kepada Rasul-Nya. Beliau disadarkan dengan halus supaya jangan sampai bermuka masa kepada orang yang datang bertanya, hendaklah bermuka manis terus, sehingga orang-orang yang tengah dididik itu merasa bahwa dirinya dihargai,” Demikian urai Buya Hamka  dalam Tafsir AlAzhar.

Mari perhatikan lebih lanjut penjelasan Buya Hamka. “Pada ayat 1 dan 2 kita melihat bahwa kepada Rasulullah tidaklah dipakai bahasa berhadapan, misalnya “Mengapa engkau bermuka masam, mentang-mentang yang datang itu orang buta. Dan tidak pula bersifat larangan, “Jangan engkau bermuka masam dan berpaling.”

Hal ini memberikan hikmah dan pelajaran bahwa hendaknya dalam memberikan teguran, nasihat dan peringatan kita sebisa mungkin berusaha dengan bahasa yang halus lembut dan menyentuh hati. Lihatlah bagaimana Allah menegur hamba terkasih-Nya. Allah tidak menggunakan bahasa yang keras dan menggunakan kata-kata yang melukai. Rasulullah pun memberikan keteladanan yang sama kepada
umatnya, terutama terhadap anak-anak. “Aku melayani Rasulullah selama sepuluh tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah mengatakan kepadaku “uff” sama sekali. Beliau juga tidak pernah sekalipun mengatakan kepadaku, mengapa Engkau melakukan hal itu? Atau (mengatakan), seharusnya Engkau (Anas) melakukan ini dan itu.” (HR. Bukhari).

Dengan demikian, mari biasakan untuk berbahasa yang baik, lembut, indah, dan penuh kasih sayang. Karena hakikat dari sebuah teguran, nasihat atau pun peringatan adalah bagaimana orang yang kita sayangi mengerti dan berubah  menjadi lebih baik. Jadi, bukan melampiaskan emosi. Allahu a’lam. Ibn Suradi

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup

Khutbah Jumat: Menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW

MUKKADIMAH

Kaum Muslimin Sidang Jum’at Yang Berbahagia

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang mengutus Rasul-Nya Muhammad SAW kepada seluruh umat manusia sebagai saksi bagi manusia, pembawa berita gembira dan berita yang menakutkan bagi manusia, untuk mengajak manusia kepada Allah dengan izin-Nya yang sebagai sulah yang menerangi. Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW serta kepada sekalian sahabat dan keluarganya, kemudian dari pada itu marilah kita sekalian meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allah SWT demi untuk keselamatan kita di dunia dan di akhirat.


Kaum Muslimin Sidang Jum’at Yang Berbahagia

Nabi besar kita Muhammad SAW dilahirkan pada 12 Rabiul Awal Tahun Gajah beliau dilahirkan dalam masa kekosongan Nabi-Nabi, sehingga masyarakat secara keseluruhan berada dalam keadaan bobrok atau dalam istilah sejarah disebut masa jahiliyah.

Bertepatan dengan saat kelahiran Nabi Muhammad SAW Abraham raja Yaman mengirim pasukan besar  ke Mekkah untuk merobohkan Ka’bah. Pasukan ini dilengkapi dengan enam ekor gajah besar yang dimaksudkan untuk merobohkan Ka’bah. Mereka ingin merobohkan Ka’bah karena ingin dipindahkan ke ibu kota Yaman. Kemudian orang-orang yang ingin menunaikan ibadah haji tidak lagi ke Mekkah melainkan ke Yaman dan dengan begitu maka rakyat Yaman menjadi makmur dan sejahtera.

Menjelang saat-saat kelahiran Nabi Muhammad SAW pasukan bergajah menyerbu masuk ke dalam kota Mekkah yang telah dikosongkan oleh penduduknya setelah mereka berdo’a yang dipimpin oleh Abdul Muthalib di depan Ka’bah pada sore harinya. Pasukan gajah dipaksa mendobrak Ka’bah namun sedikitpun tidak bergerak, dan pada saat itulah datang pertolongan Allah SWT untuk menghancurkan tentara gajah. Hal ini dijelaskan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Fiil:

“Apakah kamu tidak memperhatikan tindakan Tuhanmu kepada tentara bergajah. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka menjadi sia-sia. Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung-burung Ababil yang melempari mereka dengan batu dari tanah yang terbakar, lalu Dia (Allah SWT) menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan ulat”.

Ada dua hikmah mengapa Allah SWT menghancurkan tentara gajah:
  • Pertama untuk menjaga kelestarian Ka’bah
  • Kedua menyambut dan memuliakan Nabi Muhammad SAW

Beliau dilahirkan menjelang subuh tanggal 12 Rabiul Awal tahun Gajah kemudian Abdul Muthalib memberi nama bayi yang baru lahir itu dengan nama Muhammad, dan ketika ditanya mengapa tuan memberi nama seperti itu? beliau menjawab bahwa ia berharap bahwa cucunya itu akan banyak disebut dan dipuji sesama manusia. Begitu pula Abdul Muthalib berharap bahwa cucunya itu akan mendapatkan karir yang besar. Harapan Abdul Muthalib ternyata dibenarkan oleh sejarah.

Nabi Muhammad SAW adalah orang yang paling banyak disebut namanya, karena orang Islam sebelum shalat, harus adzan dan qomat sudah pasti akan menyebut nama Muhammad SAW. Walaupun Muhammad SAW hidup dalam masyarakat jahiliyah yang imannya sudah terkontaminasi atau sudah dikotori sifat syirik, ibaratnya sudah menyembah berhala, akhlaknya bobrok dalam semua aspek, dan ilmu juga sama sekali beku. Akhlak beliau selalu terpelihara, ketika beliau sudah diangkat menjadi Nabi pernah ia ditanya tentang dosa-dosanya yang ia perbuat, kemudian beliau menjawab hanya dua kali beliau hampir berbuat dosa. Yang pertama saat pesta perkawinan berlangsung saat acara hiburan nyanyi dan tari dimulai beliau mengantuk dan tidur pulas. Yang kedua beliau pernah menuju tempat pemujaan berhala, tetapi dihadang oleh dua orang yang berpakaian putih dan beliau langsung pulang.

Kaum Muslimin Sidang Jum’at Yang Berbahagia

Sebelum lahir, ayahnya Abdullah sudah meninggal dunia, dan pada usia lima tahun ibunya Aminah juga meninggal, dan pada usia 8 tahun kakeknya Abdul Muthalib juga wafat. Hikmahnya adalah beliau langsung dididik oleh Allah SWT. Sesudah semua keluarga terdekatnya wafat beliau dipelihara oleh Abu Thalib. Karena ekonomi Abu Thalib lemah maka Muhammad SAW mengembala kambing. Juga ikut pamannya itu berdagang ke negeri Syam untuk sama-sama mencari nafkah. Usia 25 tahun berdagang ke negeri Syam bersama Maysaroh membawa barang dagangan Sitti Hadijah, atas kejujuran Muhammad dalam berdagang dan memperoleh laba besar Sitti Hadijah tertarik kemudian melamarnya untuk menjadi suami dan beliau pun menerimanya.

Pada waktu beliau berusia 35 tahun para pemuka Quraisy sepakat untuk memperbaharui Ka’bah dan dalam perjalanan timbullah suatu perselisihan pendapat antara mereka bahkan mengundang bentrok fisik dalam peletakan Hajarul Aswad pada tempat semula. Dengan hasil musyawarah mereka sepakat memilih Muhammad menjadi hakim dalam peristiwa tersebut dan kemerlangan dan kebijakannya ia pun berhasil mengatasi perbedaan dengan baik dan diterima oleh semua pihak yang berselisih dan disinilah ia dikukuhkan sebagai “AL-AMIN” artinya orang yang terpercaya. Ketika beliau berusia 40 tahun, beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul oleh Allah SWT di Gua Hira. Pelantikan beliau sebagai Nabi tidak dihadiri oleh manusia. Yang hadir hanya malaikat Jibril dan Israfil. Israfil hadir untuk menyampaikan kalimat syahadat kepada Nabi Muhammad SAW setelah menerima wahyu yang pertama. Naskah pelantikannya adalah dengan membaca “iqra bismi rabbikal ladzi halaqa”  sampai ayat lima dari surat Al-Alaq. Adapun bunyi surat Al-Alaq ayat 1-5 adalah:

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah yang mengajar manusia dengan baca tulis dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”.

Pada ayat-ayat yang pertama ini diajarkan kepada beliau bahwa Rabb adalah pencipta alam semesta dan pencipta manusia. Perintah yang wajib dilaksanakan oleh Muhammad sebagai seorang Nabi adalah membaca, mendorong orang untuk menulis dan menuntut ilmu.

Jadi, untuk mengubah masyarakat secara total dan menyeluruh adalah melalui baca tulis dan ilmu dan ini amat rasional. Perintah ibadah, akhlak, dan lain-lain terus-menerus turun kepada beliau selama 23 tahun, setelah 22 tahun dua bulan dan 22 hari ajaran agama Islam sudah sempurna baca, tulis, hafal, ilmu berkembang dengan pesat. Pada akhirnya turunlah firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 3:

“Pada hari ini Saya sempurnakan agamamu dan Saya cukupkan nikmat-Ku dan Saya ridhai Islam agamamu”.

Kaum Muslimin Sidang Jum’at Yang Berbahagia

Bidang kehidupan yang menjadi prioritas utama yang diperbaiki dan disempurnakan oleh Rasulullah SAW keimanan karena ini merupakan bidang yang amat mendasar untuk diperbaiki oleh Rasulullah SAW, sebagai langkah utama adalah beliau mantapkan keimanan dengan mensosialisasikan rukun iman yang enam yaitu: Beriman kepada Allah SWT, beriman kepada Malaikat, beriman kepada Kitab-Kitab, beriman kepada Rasul-Rasul, beriman kepada hari kemudian, dan beriman kepada takdir baik dan takdir buruk.

Ibadah dalam agama Islam sebagai ibadah pokok rukun agama Islam yang lima dan semua rukun agama Islam memiliki kekuatan dan daya tarik tersendiri. kita dapat mengambil contoh ibadah shalat saja kaitannya amat luas bila dikaitkan dengan ilmu ekonomi dan teknologi seperti bagaimana untuk membangun masjid, mempersiapkan air, membangun industri tekstil karena kita wajib manutup aurat, harus mengetahui waktu, arah kiblat dan sebagainya. Semuanya memerlukan ilmu seni dan teknologi.
Akhlak inilah yang menjadi daya tarik yang amat ampuh bagi Nabi Muhammad SAW sehingga orang banyak masuk Islam. Hal ini digambarkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an surat As-Surah ayat 137:

“Dan sesungguhnya engkau wahai Muhammad memiliki akhlak yang agung”.

Suatu contoh kita kemukakan ketika beliau mengungsi ke Thaif pada tahun yang kesepuluh dari ke Nabian, beliau dilempar batu sehingga kakinya berdarah. Beliau mendo’akan orang yang melemparinya agar diberi petunjuk oleh Allah. 12 tahun kemudian pada tahun 9 hijiriah semua orang Thaif masuk agama Islam.

Beliau mengembangkan ilmu. Juru tulisnya saja ada 50 orang dan beliau suruh sahabatnya belajar bahasa asing. Dalam sebuah hadis yang sanatnya diriwayatkan oleh Abu Dardah, Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, ia dimudahkan oleh Allah masuk surga”.

Dengan sukses Rasulullah SAW mengembangkan Islam, dengan waktu hanya 23 tahun menempatkan beliau sebagai pemimpin yang teratas dan paling sukses, baik penilaian Muslim maupun non muslim, alhamdulillah.

Pada akhirnya mari kita mencintai Nabi Muhammad SAW mengikuti sunahnya, mengembangkan agamanya, insya Allah kita selamat dunia dan akhirat, amin yaa rabbal alamin.

PENUTUP

Oleh Drs. KH. Marwan Aidid

Khutbah Jumat: Makna Ikhlas Dalam Kehidupan

MUKKADIMAH

Kaum Muslimin Sidang Jum’at Yang Berbahagia 

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memerintahkan Rasul-Nya.

Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, serta kepada sekalian sahabat dan keluarganya.

Kemudian dari pada itu marilah kita meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allah SWT demi untuk keselamatan kita di dunia dan di akhirat.


Kaum Muslimin Sidang Jum’at Yang Brebahagia 

Sebagai langkah awal dalam membahas dan menguraikan tentang ikhlas ini terlebih dahulu kita ketahui dulu apa arti ikhlas. Ikhlas adalah membersihkan amal dari sikap riya. Ikhlas adalah beramal semata-mata karena Allah SWT dan untuk Allah. Ikhlas adalah amalan hati. Dalam hati tidak ada yang nampak selain Allah SWT. Ikhlas dalam arti oprasional adalah kita menyembah kepada Allah SWT secara utuh, dan tidak ada selain-Nya. Dalam Al-Qur’an ada surat Ikhlas, karena memang isinya hanya Allah SWT dan sifat-sifatnya. Itulah sebabnya sehingga bila kita banyak membaca surat Al-Ikhlas baik dalam sholat maupun sesudah shalat, kita akan diselamatkan oleh Allah SWT dari kesulitan Alam Barzah dan kesulitan dunia dan dihari kemudian, dalam sebuah hadis Nabi Muhammad SAW diriwayatkan Abul Qosim beliau bersabda:

“ikhlas itu adalah salah satu rahasia dari rahasiaku, saya meletakkannya dalam hati orang yang saya cintai”.

Kaum Muslimin Sidang Jum’at Yang Berbahagia 

Ikhlas ini diperintahkan oleh Allah SWT dalam ibadah dan amal-amal sosial. Perintah ikhlas dalam ibadah dalam surat Al-A’raf:

“Dan tegakkanlah wajahmu pada setiap Masjid dan berdo’alah secara ikhlas dalam beribadah kepada-Nya”.

Yang dimaksud dengan menegakkan wajah pada setiap masjid adalah menegakkan wajah pada setiap shalat kepada Allah SWT.

Dihari kemudian sebentar keikhlasan ini menjadi syarat apakah kita akan selamat atau tidak. Dalam surat Asy-Syura ayat 88 – 89 Allah berfirman:

“Pada hari kiamat harta dan anak sudah tidak ada gunanya kecuali yang menghadap Allah SWT dengan hati yang selamat”. 

Yang dimaksud dengan hati yang selamat adalah ikhlas.

Kaum Muslimin Sidang Jum’at Yang Berbahagia 

Keikhlasan dalam bidang sosial, atau dalam membantu fakir miskin dan yatim piatu hendaknya kita mempedomani firman Allah sebagai berikut:

“Sesungguhnya kami memberi makan kepada kamu karena mencari ridha Allah SWT, kami tidak butuh balasan dan terima kasih”.

Begitu pula dalam membangun masjid misalnya keikhlasan amatlah dibutuhkan. Hanya mereka yang ikhlas yang akan mendapat balasan yang terbaik dari Allah SWT. Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang membangun masjid karena Allah SWT. Allah SWT akan membangunkan baginya mahligai dalam surga”.

Kaum Muslimin Sidang Jum’at Yang Berbahagia 

Dalam mendorong dan menggembirakan kita dalam beramal dan membelanjakan harta di jalan Allah SWT, Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah 265 sebagai berikut:

“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mengharap keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka laksana sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat”.

Perumpamaan yang diberikan oleh Allah SWT dalam ayat ini adalah bahwa orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah SWT untuk mencari keridhaan-Nya laksana kebun di dataran tinggi yang hasilnya berlipat ganda. Dalam lanjutan ayat tadi bila hujan lebat tidak turun, maka hujan gerimis sudah cukup untuk menyuburkan tanaman di dataran tinggi.

Agar pengalaman ibadah kita sempurna berikut saya sampaikan tentang syarat-syarat yang dibutuhkan agar ibadah kita makbul. Menurut para Ulama syarat makbulnya amal ada 4:

1. Ilmu sebelum beramal, seperti bila kita akan melakukan shalat terlebih dahulu kita mengetahui berapa rukunnya, apa syarat sahnya, sunat-sunatnya dan sebagainya. Shalat yang dikerjakan dengan khusyuk amatlah penting maknanya satu diantara upaya untuk khusyuk adalah melalui pengetahuan (ilmu) dalam memberikan arti dari setiap bacaan. Khusyuk merupakan ruh dan jiwanya shalat sebagai firman Allah surat Al-Mukminun ayat 1-2: “Sungguh beruntung orang yang beriman yaitu orang yang khusyu dalam shalatnya”.

2. Niat pada waktu mulai beramal, suatu ibadah dapat diberi pahala bila yang melakukannya berniat, tanpa niat Allah SWT tidak akan menerima ibadahnya sebagaimana hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim: “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya dan sesungguhnya setiap orang yang tergantung pada apa yang ia niatkan”.

3. Ikhlas pada saat menyampaikan niat kepada Allah SWT. Ikhlas merupakan ujung dari sebuah niat. Yang dimaksud ikhlas dalam beribadah tidak mensyarikatkan Allah SWT. Firman Allah SWT dalam surat Al-Kahfi 110: “Dan janganlah ia mensyerikatkan Tuhannya dengan suatu apapun dalam beribadah”.

Syirik dapat menyebabkan amal perbuatan manusia terhapus. Firman Alah dalam surat Az-Zumar ayat 65: “Sungguh jika engkau mensyerikatkan Tuhan maka terhapuslah segala amalanmu”.

Kaum Muslimin Sidang Jum’at Yang Berbahagia 

Keikhlasan itu berasal dari hati yang jernih. Supaya hati kita senantiasa jernih hendaknya kita yakin bahwa kita selalu diawasi oleh Allah dalam hadis riwayat muslim Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada tubuhmu dan tidak pula rupamu tetapi Allah memandang kepada hatimu”.

Tetapi didalam memahami hadis ini janganlah berat sebelah terutama hati dan jasad serta rohani dan rohani merupakan kedua hal yang saling melengkapi, sehingga kedua-duanya harus dijaga sebaik-baiknya.

4. Sabar setelah kita memulai dari bawah. Dalam shalat kita sudah takbiratul irham, maka amat dibutuhkan sifat sabar, sabar yang dimaksudkan adalah Ats-Tsabat. Ats-Tsabat artinya teguh, tetap, dan istikomah. Firman Allah dalam surat Al-Anfal ayat 46:

“Sesungguhnya Allah SWT bersama orang-orang yang sabar”.

Bila hidup kita selalu disertai oleh Allah maka hati kita akan tentram sesalu berbuat baik, dikasihani oleh Allah SWT dan sesama manusia.

Kaum Muslimin Sidang Jum’at Yang Berbahagia 

Marilah kita memperbaiki dan meningkatkan keikhlasan dan kesabaran dalam beribadah kepada Allah SWT, demikian pula terhadap kegiatan kita dalam kehidupan bermasyarakat. Semoga Allah SWT memberikan keikhlasan kepada kita dalam beramal.    

PENUTUP

Oleh Drs. KH. Marwan Aidid

Khutbah Jumat: Memupuk Persahabatan

MUKKADIMAH

Kaum Muslimin Sidang Jum’at Yang Berbahagia

Puji dan syukur pertama-tama kita persembahkan kehadirat Allah SWT, Tuhan yang senantiasa mengabulkan do’a hamba-Nya yang amat kritis.

Shalawat dan salam kepada Nabi Besar Muhammad SAW serta kepada sekalian para sahabat dan keluarganya dan semua umat yang mengikutinya dengan baik sampai di padang mahsyar.

Kemudian dari pada itu marilah kita meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allah SWT demi keselamatan dan kebahagiaan kita di dunia dan di akhirat.


Kaum Muslimin Sidang Jum’at Yang Berbahagia

Manusia adalah manusia sosial yang artinya bahwa manusia itu tidak mungkin dapat hidup sendiri tanpa bantuan manusia lainnya. Manusia pada hakekatnya adalah merupakan satu keluarga besar. Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 213 Allah berfirman:

“Manusia itu adalah umat yang satu”.

Secara historis maka memang manusia itu berasal dari nenek yang satu yaitu Nabi Adam as. Nanti setelah manusia bertambah banyak dan berpencar memenuhi belahan dunia, lalu terjadilah perselisihan antara mereka dalam berbagai persoalan dan perkara, sehingga Allah SWT mengirim Nabi-Nabi dan Rasul untuk memberikan petunjuk, bimbingan tentang cara-cara penyelesaian pada persoalan-persoalan yang dialami mereka, dan diantara sekian banyak Nabi dan Rasul, Nabi Muhammad lah merupakan Nabi dan Rasul terakhir menjadi utusan untuk umat manusia.

Dalam mengatur dan memupuk persahabatan antara manusia, dan antar sesama Muslim, Allah membekali kitab Qur’an sebagai pedoman dan petunjuk yang hak dalam mengatur hidup dan kehidupan yang baik, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Hujurat: 13 yang berbunyi sebagai berikut:

“Dan kami menjadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa supaya kamu kenal mengenal”.

Pada kata “Lita’arofu” jelas ada yang terkandung hubungan interaksi timbal balik antara bangsa sehingga banyak ahli yang berpendapat bahwa ayat inilah yang menjadi landasan spritual dari liga bangsa-bangsa yang kemudian menjadi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Sedangkan untuk mengatur hubungan antar sesama Muslim, Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 13:

“Sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara, maka perbaikilah hubungan antara kedua saudaramu”.

Persaudaraan dan persahabatan antara Muslim sedunia dapat terlihat pada saat pelaksanaan ibadah haji, seperti shalat bersama di Masjidil Haram, pada saat wukuf di Arafah.

Kaum Muslimin Sidang Jum’at Yang Berbahagia

Dalam memupuk persahabatan, kami ingin titik beratkan internal sesama Muslim sebagai berikut:

Pertama

Berpegang teguh kepada agama Allah dan tidak berfirqah-firqah. Rujukannya adalah firman Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 103:

“Dan hendaklah kamu berpegang teguh terhadap agama Allah dan jangan bercerai berai”.

Konotasi atau makna tersirat dari berfiqrah-fiqrah adalah bercerai-cerai dan bermusuhan satu sama lain.

Kita patut bersyukur karena sampai saat ini agama Islam masih merupakan agama satu masjid. Kita dapat menyaksikan pada saat shalat bersama-sama di Masdjidil Haram, orang-orang sunni dan syiah shalat bersama.

Kedua

Bersikap lembut antar sesama Muslim, sebagaimana Allah melembutkan hati hamba-Nya sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Anfal ayat 63:

“Walaupun kamu membelanjakan semua kakayaan yang ada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka”.

Salah satu kesuksesan Nabi Muhammad SAW adalah karena akhlak dan sifat beliau yang kasih dan sayang. Seperti firman Allah dalam surat At-Taubah ayat 128:

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, dia merasa susah bila engkau menderita dan sangat menginginkan kesejahteraan kamu dan amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”.

Umat Islam amat diharapkan untuk bersifat lembut pada saat berinteraksi atau berhubungan satu sama lain, dan beliau amat benci kepada mereka yang suka mengadu dan memprovokasi dsb, dalam sebuah hadis beliau bersabda:

“Sesungguhnya orang yang paling dicintai oleh Yang Maha Tinggi dan Maha Agung adalah mereka yang lembut dan melembutkan dan sesungguhnya orang yang paling dibenci oleh Allah SWT diantara kamu adalah orang yang suka mengadu domba dan mencerai-beraikan orang yang bersaudara”.

Atau secara singkat dapat disimpulkan bahwa orang yang paling disenangi oleh Allah SWT adalah orang yang lembut dan yang paling dibenci adalah orang yang paling keras dan sadis.

Ketiga

Saling menolong dalam bidang sosial dan agama, hal ini dapat dilihat dalam firman Allah surat Al-Maidah ayat 2:

“Dan bertolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa”.

Bertolong-menolong dalam hal kebajikan adalah dalam bidang sosial dan para Ulama berkata bahwa ayat ini paling tepat diterapkan apabila tetangga kita yang terkena musibah kematian, segenap family, tetangga, teman dan kerabat turut memberikan do’a dan bantuan baik moril maupun materil guna meringankan beban keluarga duka, kemudian menshalati serta menguburkannya bersama.

Kaum Muslimin Sidang Jum’at Yang Berbahagia

Marilah kita sekalian mengerjakan ketiga faktor tadi yaitu berpegang teguh kepada agama Allah SWT, bersikap lembut dalam pergaulan dan saling membantu dalam bidang sosial dan ibadah. Insya Allah persahabatan, persaudaraan kita akan mantap dan kokoh.

PENUTUP

Oleh Drs. KH. Marwan Aidid

Menjadi Muslim Normal Seutuhnya

Sajadah Muslim ~ Beberapa waktu belakangan, kata NORMAL menjadi paling banyak diperbincangkan. Terutama oleh warga net. Itu semua tidak lepas dari isu yang dikeluarkan oleh pemerintah, terkait dengan penanggulangan virus covid 19, New Normal. 


Kita fokuskan pembahasan kepada kata normal. Menurut KBBI itu ada dua. Pertama menurut pada aturan. Tidak menyimpang dari satu norma/kaidah. Dan yang kedua; bebas dari gangguan jiwa.  Bersandar pada definisi di atas. 

Sebagai orang beriman, sudah pasti segala sesuatu patokannya adalah  sunnah. Yaitu al-Qur’an dan al-Hadits. Termasuk perihal standarisasi kenormalan seseorang.

Dengan demikian tidak akan bias definisi. Selain itu, tentu akan lebih menyelamatkan kita di dunia dan akhirat. Dalam al-Qur’an, surat al-Qolam, ayat 2, Allah berfirman:

“Dengan karunia Tuhanmu engkau (Muhammad) bukanlah orang gila.” Dari ayat ini, kita bisa menarik benang merah. Bahwa untuk menjadi orang normal. Alias tidak gila. Maka meneladani Nabi Muhammad adalah keniscayaan.

Karena Allah menegaskan, bahwa karunia yang diberikan kepada beliau, baik itu berupa kenabian ataupun mukjizat-mukjizat lainnya (terutama al-Qur’an), menjadikan beliau pribadi terpuji. Di dunia dan akhirat. Jadi, gerakan New Normal ini, harus pula kita tangkap sebagai seruan untuk menjadi muslim normal seutuhnya. Yaitu dengan mengikuti risalah yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW.

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup

Back To Top