Sajadah Muslim

Membahas Tentang Seputar Ilmu Agama Islam

Kultum: Ternyata Nabi Dan Sahabat Terkemuka Juga Menangis

Sajadah Muslim ~ Alhamdulillah hilladzi akramnaa bil iimaan, wa a’azzanaa bil islam, wa rafa’na bil ihsan, ahmaduhu subhanahu wata’ala wa asykuruh, allahumma shollia wasallim wa barik ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa mantabi’ahum bi ihsani ila yaumiddin, amma ba’du.
 
Yang terhormat para alim ulama, para pejabat pemerintah baik sipil maupun militer, para ustadz  dan ustadzah, para bapak, ibu, hadirin dan hadirat yang saya muliakan.


Mengawali pertemuan kita melalui mimbar kultum kali ini, pertama­tama, marilah kita panjatkan  puji syukur kepada Allah, Tuhan sarwa sekalian alam. Shalawat dan salam, semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad saw, sebab beliau kita dapat mengetahui yang hak dan yang batil, yang halal dan yang haram, antara jalan menuju ke surga dan jalan menuju ke neraka.

Hadirin dan hadirat sekalian yang saya hormati

Pernah suatu malam di bulan Rajab, ketika Nabi saw bangun tengah malam lalu beliau menuju masjid dan ketika sampai di depan pintu masjid beliau menghentikan langkah kakinya, karena terdengar suara tangisan Abu Bakar dalam keadaan shalat malam. Saat itu Abu Bakar ra sedang membaca ayat 111 dari surat At-Taubah: 

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka." (QS. At-Taubah: 111).

Di tempat lain masih dalam masjid itu, terdengar pula suara tangisan Ali ra di tengah-tengah menunaikan shalat malam, ketika itu ia sedang membaca ayat 9 dari surat Az-Zumar yang artinya: "Katakanlah adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang  berakallah yang dapat menerima pelajaran." (QS. Az-Zumar: 9).

Di sisi lain dalam masjid itu, terdengar pula suara tangisan sahabat Mu'adz bin Jabal sedang dalam menunaikan shalat malam yang hendak menghatamkan AI-Qur'an dalam shalatnya. Dan terdengar pula suara tangisan sahabat Bilal sedang dalam menjalankan shalat malam dan hendak mengkhatamkan Al-Qur'an dalam shalatnya, sebagaimana ketiga sahabat tersebut.

Nabi menjadi terbaru dan ikut menangis bersama mereka, air mata jatuh tergerai dengan suara  yang tertahan, karena tangisan beliau tak terdengar suaranya, tetapi air matanya begitu deras mengalir membasahi pipi beliau yang mulia. Setelah mereka selesai menunaikan shalatnya, beliau beranjak pergi, sementara mereka tidak mengetahui kalau aktivitas ibadah mereka itu disaksikan  oleh Nabi saw yang ikut menangis bersama mereka, di depan pintu masjid.

Hadirin dan hadirat sekalian yang saya hormati

Sesudah menunaikan jama'ah shalat Shubuh, dengan perasaan gembira dan wajah berseri-seri beliau menghadap pada para jama'ah dan berkata: "Wahai Abu Bakar, mengapa kamu semalam menangis ketika membaca firman Allah dalam surat At-Taubah yang artinya: "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan Surga untukmereka." (QS. At-Taubah: 111).

Abu Bakar menjawab: "Bagaimana aku tidak menangis, sementara Allah menyatakan dalam ayat itu, bahwa Ia akan membeli hamba-Nya. Jika hamba tersebut cacat, tentu Ia tidak akan mernbelinya,  atau jika cacat itu diketahui setelah dibeli, tentu pembeli itu akan mengembalikannya. Jika  aku cacat ketika dibeli atau baru terlihat cacatnya setelah dibeli dan Allah mengembalikanku, berarti aku menjadi penduduk neraka. Karenanya, aku menangis ketika membaca ayat tersebut." 

Tak lama kemudian, malaikat Jibril turun dan berkata: "Hai Muhammad katakan kepada Abu Bakar, bahwa jika pembeli mengetahui cacat budak, lalu tetap membeli dengan cacatnya, maka dia tidak memiliki kekuatan untuk mengembalikannya. Dan Allah swt Maha Mengetahui akan cacat hamba­ Nya sebelum menciptakannya. Maka berarti cacatnya itu Ia akan membelinya dan tidak akan mengembalikannya,   begitu pula cacat yang terdapat setelah dibeli."  Mendengar penjelasan Jibril itu, Rasulullah menjadi gembira, begitu pula para sahabat, utamanya Abu bakar ra.

Lalu Nabi saw bertanya kepada Ali: "Wahai Ali mengapa kamu menangls ketika membaca ayat 9 dari surat Az-Zumar: "Katakanlah adakah sama orang-orang yang mengetahui  dengan  orang-orang  yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang berakallah yang dapat menerima pelajaran." (QS. Az-Zumar: 9).

Ali menjawab: "Bagaimana aku tidak menangis membaca ayat tersebut, karena bapak kita Adam adalah orang yang lebih tahu, karena Allah mengajarinya nama-nama seluruhnya. Sementara aku tidak, maka tentu aku tidak sama seperti Adam. Maka aku menjadi menangis ketika membaca ayat tersebut."
                     .
Kemudian Jibril  datang  dan berkata:  "Wahai Muhammad, katakan kepada Ali bahwa maksudnya tidaklah begitu. Tetapi pada hari kiamat nanti, orang-orang kafir tidak bersama dengan orang-orang yang beriman. Karena orang kafir menyembah berhala dan tidak beriman kepada Allah dan tidak pula hari akhir. Sedangkan orang yang beriman menyembah Allah, setiap waktu mengucapkan, "Laailaaha illallah, muhammadur rasulullah", jika orang-orang yang beriman berbuat kebaikan,  mereka senang dan memuji Allah, jika  berbuat  kesalahan mereka beristighfar, mernobon ampun kepada Allah swt. Maka pasti tidak sama antara orang­orang kafir dengan orang-orang yang  beriman. Orang kafir tempatnya di neraka, sedangkan orang yang beriman tempatnya di surga."

Hadirin dan hadirat sekalian yang saya hormati

Demikianlah, kultum yang dapat saya sampaikan dalam kesempatan kali ini, semoga Allah senantiasa  melimpahkan rahmat, taufiq dan hidayahNya kepada kita, agar kita menjadi selamat dan bahagia di  dunia dan akhirat, amin. Akhirnya,  terima  kasih atas perhatiannya  dan mohon maaf atas kesalahan  dan kurang lebihnya. Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq, tsummas salamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Oleh Ustadz Abdullah Farouk & Ustadz MS. Ibnu Hasan
 

Kultum: Orang Yang Bertobat Menjadi Kekasih Allah

Sajadah Muslim ~ Bismillahirrahmanirrahim alhamdulillahi rabbil ‘alamin wa sholatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’i wal mursalin sayyidina wamaulana Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’iin, amma ba’du.
 
Kepada yang terhormat bapak ...... para ustadz dan ustadzah, para bapak, ibu, hadirin dan hadirat  yang saya muliakan.


Mengawali jumpa kita melalui mimbar kultum kali ini, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah yang telah memberikan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada kita, sebingga kita bisa bertemu muka dan berkumpul di tempat ini tanpa ada suatu halangan apapun. Shalawat dan salam, semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad saw yang begitu besar cinta dan keinginannya kepada umatnya agar selamat dari siksa api neraka.

Bapak, Ibu, Saudara Sekalian yang Saya hormati

Dosa, ibarat racun yang akan membinasakan bagi yang meneguknya. Setiap dosa akan menimbulkan   ekses yang mangantarkan pada kemudharatan dan kesengsaraan. Dosa menjadi tirai penghalang   untuk dapat sampai dan bertemu dengan sang kekasih.

Namun demikian, Allah tetap membuka pintu tobat selebar-lebamya dan Ia sangat mencintai hamba-Nya yang bertobat dengan sebenar­benarnya. Imam Muslim meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda: "Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di waktu malam agar orang yang berdosa di siang hari bertobat, dan membentangkan tangan-Nya di waktu siang agar orang yang  berdosa di malam hari bertobat. Yang demikian itu hingga matahari terbit dari barat." (HR. Muslim).

Imam Tirmidzi meriwayatkan hadis sahih: "Sesungguhnya di arah barat terdapat pintu (tobat) yang luasnya seluas perjalanan empat puluh tahun atau tujuh puluh tahun, Allah senantiasa membuka pintu itu sejak Ia menciptakan langit dan bumi dan tidak akan menutupnya sampai matahari terbit dari padanya (arah barat), agar  supaya manusia bertobat." (HR. Tirmidzi).

Allah swt berfirman: "Hai orang-orang yang beriman bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menutupi kesalahan-kesalahan kamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai." (QS. At-Tahrim: 8).

Allah swt juga berfirman dalam ayat lain: "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat  dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri." (QS. Al-Baqarah: 222).

Bapak, Ibu, Saudara Sekalian yang Saya hormati

Nabi saw memberikan gambaran kesenangan Allah terhadap orang yang bertobat, sebagaimana dalam hadis berikut ini. Beliau saw bersabda: "Sesungguhnya Allah lebih senang alas seorang hamba beriman yang bertobat, dari pada kesenangan yang dirasakan oleh seorang laki-laki yang tersesat jalan bersama binatang tunggangannya di padang luas yang ganas. Pada binatang yang dikendarainya itu terdapat bahan makanan, minuman dan perbekalan lainnya. Karena  kelelahannya ia menyandarkan kepalanya di padang yang ganas lagi mematikan itu hingga terlelap dan tertidur beberapa jenak: Setelah terjaga betapa terperanjatnya sebab binatang kendaraan yang membawa perbekalanya itu raib, hilang entah ke mana. LaLu ia mencarinya  ke sana ke mari hingga sangat lelah, haus dan terbakar terik matahari. Di tengah kecemasan dan kelelahannya itu ia mengaduh  dan kembali ke tempat semula, lalu dengan penuh perasaan yang tidak menentu ia merebahkan  tubuhnya. Ia membaringkan kepalanya dengan berbantal tangannya penuh kepasrahan, biarpun   harus  mati.

Ketika  ia terjaga dari keterlelapanya, tiba-tiba kendaraan yang membawa makanan,  minuman dan perbekalan lainnya itu berada di hadapannya kembali. Alangkah senangnya dia.  Tetapi Allah lebih senang dengan tobatnya seorang hamba yang beriman, dari pada kesenangan   yang dirasakan oleh orang yang menemukan kembali kendaraan beserta barang perbekalannya itu."

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: "Apabila seorang hamba bertobat, niscaya Allah akan menerima tobatnya. Lalu Allah melalaikan Malaikat Hafadhah terhadap kesalahan-kesalahan hamba itu yang telah ditulis olehnya dan Ia juga melalaikan seluruh anggota tubuhnya  atas kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya, serta melalaikan tempatnya di bumi (di mana dia pernah melakukan dosa) dan kedudukannya di langit, agar supaya ketika ia datang pada hari kiamat, tidak ada sesuatupun dari makhluk yang memberikan kesaksian terhadap kesalahannya tersebut."

Nabi saw juga bersabda: "Orang yang bertobat itu menjadi kekasih Allah. Dan orang yang bertobat dari dosa, menjadi seperti orang yang tidak memiliki dosa. "

Bapak, Ibu, Saudara Sekalian yang Saya hormati

Mengakhiri kultum dalam kesempatan yang mulia ini, marilah kita berdoa semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia serta petunjuk-Nya kepada kita.  Demikianlah yang dapat saya sampaikan, terima kasih atas perhatiannya dan mohon maaf atas kesalahan dan kurang lebihnya.

Hadanallah waiyyakum ajma'in, was salamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Oleh Ustadz Abdullah Farouk & Ustadz MS. Ibnu Hasan
 

Kultum: Keutamaan Membantu Hajat Sesama Muslim

Sajadah Muslim ~ Alhamdulillahil wahidil ahad, aladzi lam yalid wa lam yuulad wa lam yakullahu kufuwwan ahad, ahmaduhu subhanahu wata’ala wa asykuruhu, allahumma sholli wa sallim wa barik ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa ash habihi wa man tabi’ahum ila yaumil qiyamah, amma ba’du.
 
Yang saya muliakan dan saya taati para alim ulama, para pejabat pemerintah baik sipil maupun militer, para ustadz dan ustadzah, para bapak, ibu, hadirin dan hadirat yang saya muliakan.


Mengawali pertemuan kita melalui mimbar kultum kali ini, pertama­tama, marilah kita panjatkan  puji syukur kepada Allah, Tuhan sarwa sekalian alam. Shalawat dan salam, semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad saw. sebab beliau kita dapat mengetahui yang hak dan yang batil, yang halal dan yang haram, antara jalan menuju ke surga dan jalan menuju ke neraka.

Saudara, hadirin dan hadirat sekalian yang saya muliakan

Terhadap sesama saudara muslim kita harus saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.  Allah swt akan selalu menolong seorang hamba selama ia mau menolong terhadap sesamanya.

Allah swt berfirman : 

“Dan tolong-menolonglah kamu di dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menotong dalam berbuat dosa dan pelanggaran." (QS. Al-Maidah: 2).

Banyak hadis-hadis Nabi saw yang menjelaskan tentang keutamaan orang yang membantu dan menolong hajat saudaranya sesama muslim di antaranya, Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang berjalan dalam rangka untuk memenuhi suatu kebutuhan saudara sesama muslimnya,  sehingga kebutuhannya menjadi terpenuhi ataupun tidak, maka Allah mengampuni dosa yang  telah  lalu dan yang akan datang, lebih dari itu ditulis  baginya dua pembebasan, yaitu  bebas dari neraka  dan bebas dari kemunafikan."

Nabi saw juga bersabda:  "Sesungguhnya  Allah mempunyai  beberapa makhluk yang diciptakanNya dalam kerangka untuk memenuhi kebutuhan­kebutuhan manusia. Dia bersumpah pada Dzat-Nya untuk tidak menyiksa mereka di dalam neraka. Apabila telah datang hari kiamat, diletakkanlah mimbar-mimbar dari cahaya untuk mereka, mereka berbicara dengan Allah swt.  sementara manusia masih berada dalam hisab."

Anas ra. juga meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang berjalan dalam kerangka untuk memenuhi kebutuhan saudaranya sesama muslim, maka setiap langkah kakinya, Allah akan menulis untuknya tujuh puluh kebaikan dan menghapus darinya tujuh puluh kejahatan. Jika kebutuhan saudaranya itu terpenuhi, maka dia keluar dari dosa-dosanya seperti pada hari ibunya melahirkannya, dan jika dia mati pada pertengahan itu, maka dia akan masuk surga tanpa  hisab."

Ibnu Abbas ra juga meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa yang keluar bersama saudara sesama muslimnya untuk suatu hajat saudaranya itu, lalu dia menasehatinya mengenai hajatnya itu, maka  Allah akan menjadikan antara  dia dan neraka tujuh buah parit, jarak antara satu parit dengan satu parit yang lain seperti jarak jauhnya antara langit dan bumi."

Dari Ibnu Umar ra, dia berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Sesungguhnya Allah memiliki beberapa kenikmatan yang diletakkan dihadapan beberapa kaum. Dia menetapkan dan menyediakan kenikmatan itu di samping  mereka selama mereka peduli terhadap kebutuhan­kebutuhdn manusia, sebelum mereka jemu untuk memberikan bantuan. Apabila telah bosan, maka Allah akan memindahkan kenikmatan itu kepada selain mereka."

Nabi Muhammad saw juga bersabda: "Barangsiapa yang berjalan dalam kerangka untuk menolong dan memberikan kemanfaatan kepada saudaranya, maka baginya pahala seperti orang-orang yang berperang di jalan Allah."

Abu Nu'aim meriwayatkan dalam Al-Hilyah, bahwa Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang memenuhi suatu kebutuhan bagi saudaranya yang muslim, maka aku akan berdiri di samping timbangan amalnya. Jika amal kebaikannya yang menang, maka sudahlah bagitu dan jika tidak aku akan memberi syafa'at padanya."

Saudara, hadirin dan hadirat sekalian yang saya muliakan

Demikianlah keutamaan orang yang mau membantu dan menolong kebutuhan saudara sesama muslimnya. Mengakhiri kultum dalam kesempatan yang mulia ini, marilah kita berdoa semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia serta petunjuk-Nya kepada kita, sehingga kita memperoleh keutamaan sebagaimana dijelaskan dalam hadis-hadis Nabi tersebut. Demikianlah  yang dapat saya sampaikan, terirna kasih atas perhatiannya dan mohon maaf atas kesalahan dan kurang lebihnya. 

Hadanallah waiyyakum ajma'in, was salamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Oleh Ustadz Abdullah Farouk & Ustadz MS. Ibnu Hasan
 

Kultum: Tanda-Tanda Orang Yang Takut Kepada Allah

Sajadah Muslim ~ Alhamdulillah hilladzi akramnaa bil iimaan, wa a’azzanaa bil islam, wa rafa’na bil ihsan, ahmaduhu subhanahu wata’ala wa asykuruh, allahumma shollia wasallim wa barik ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa mantabi’ahum bi ihsani ila yaumiddin, amma ba’du.


Yang saya muliakan dan saya taati para alim ulama, para pejabat pemerintah baik sipil maupun militer, para ustadz dan ustadzah, para bapak, ibu, hadirin dan hadirat yang saya muliakan.

Mengawali pertemuan kita melalui mimbar kultum kali ini, pertama­tama, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah, Tuhan sarwa sekalian alam. Shalawat dan salam, semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad saw, sebab beliau kita dapat mengetahui yang hak dan yang batil, yang halal dan yang haram, antara jalan menuju ke surga dan jalan menuju ke neraka.

Hadirin dan hadirat sekalian yang berbahagia.

Sebagai orang yang beriman kita mesti takut (hauf) terhadap murka dan azab Allah swt dengan begitu kita akan berusaha sekuat tenaga untuk menjauhi  hal-hal  yang mengundang murka Allah. Di samping itu kita juga harus berharap (raja') terhadap rahmat  dan anugerah kenikmatan Allah swt, lalu kita berusaha secara optimal untuk melakukan hal-hal yang menyebabkan keridbaan Allah swt.

Sesunguhnya kita tidak dibenarkan takut kepada selain Allah swt. semestinya, kita hanya takut kepada-Nya. Allah swt berfirman: 

“Maka janganlah kamu takut kepada manusia dan takutlah kepada-Ku.” (QS. Al-Maidah: 44).

Allah swt juga berfmnan: “Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 75).

Hadirin dan hadirat sekalian yang berbahagia.

Indikasi orang yang benar-benar takut kepada Allab swt itu, menurut Abu laits dapat dilihat dari  beberapa hal berikut ini, yaitu:

Pertama: Orang yang takut kepada Allah akan terus berusaha mengosongkan hatinya dari rasa permusuhan, kebohongan, kedengkian, iri hati dan penyakit-penyakit hati lainnya.

Kedua: Orang yang takut kepada Allah, selalu berusaha menahan lidahnya dari berbohong, menggunjing, memfitnah, mengadu domba, mengobral kata-kata yang tidak berguna. Ia memfungsikan lidahnya untuk berzikir kepada Allah, membaca AI-Qur’an dan berkata yang benar.

Ketiga: Orang yang takut kepada Allah, tidak akan memasukkan makanan dan minuman yang haram ke dalam perutnya. Karena Nabi saw bersabda: “Apabila sesuap nasi jatuh (masuk) ke dalam perut anak cucu Adam, maka malaikat yang ada di bumi dan di langit melaknatinya selama suapan makanan itu berada di dalam perutnya. Dan kalau ia mati dalam keadaan demikian, maka tempatnya adalah neraka Jahannam.”

Keempat: Orang yang takut kepada Allah tidak akan menggunakan matanya untuk melihat hal-hal yang diharamkan. Dia tidak melihat dunia dengan pandangan ambisi nafsu duniawi, tetapi ia memandangnya sebagai ibrah, untuk dipetik sebagai pelajaran. Dia tidak melihat sesuatu yang tidak halal untuk dilihatnya. Nabi saw bersabda: “Barangsiapa yang memenuhi pandangan matanya dengan yang  haram, maka Allah akan memenuhi matanya dengan api  neraka, kelak  di hari kiamat.”

Kelima: Orang yang takut kepada Allah, tidak akan menggunakan tangannya untuk menerima dan melakukan yang diharamkan. Tetapi ia gunakan tangannya untuk meraih dan menggapai hal-hal yang mengandung unsur ketaatan dan dapat mendekatkan diri kepada  Allah swt. Ka'ab bin Akhbar meriwayatkan: “Allah menciptakan perkampungan (di akhirat) yang terbuat dari Zabarzat hijau. Dalam perkampungan itu terdapat seribu rumah, di dalam setiap rumah terdapat seribu kamar, tidak ada yang dapat menempati rumah yang sedemikian indah itu, kecuali orang yang apabila  disodorkan atau ditawarkan kepadanya sesuatu yang haram, dia menolak dan meninggalkannya    karena takut kepada Allah swt.”

Keenam: Orang yang takut kepada AlIah, tidak akan menggunakan kedua kakinya melangkah berjalan untuk melakukan kemaksiatan. Tetapi kedua kakinya selalu digunakan berjalan untuk ketaatan dan kebaktian kepada Allah swt demi mencari keridhaan-Nya. Berjalan untuk melakukan kebaikan, bergaul bersama orang-orang yang alim dan saleh.

Ketujuh: Orang yang takut kepada Allah, selalu memfokuskan dan mengorientasikan segala aktivitas kesalehan dan ketaatannya untuk mencari keridhaan Allah swt dan meraih kebahagian negeri akhirat.
Hadirin dan hadirat sekalian yang berbahagia.

Mengakhiri kultum dalam kesempatan yang mulia ini, marilah kita berdo'a semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia serta petunjuk-Nya kepada kita. Demikianlah yang dapat saya sampaikan, terima kasih atas perhatiannya dan mohon maaf atas kesalahan dan kurang lebihnya.

Hadanallah waiyyakum ajma'in, was salamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Oleh Ustadz Abdullah Farouk & Ustadz MS. Ibnu Hasan

Kultum: Memetik Hikmah Dari Peristiwa Hijrah

Sajadah Muslim ~ Alhamdulillahil wahidil ahad, aladzi lam yalid wa lam yuulad wa lam yakullahu kufuwwan ahad, ahmaduhu subhanahu wata’ala wa asykuruhu, allahumma sholli wa sallim wa barik ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa ash habihi wa man tabi’ahum ila yaumil qiyamah, amma ba’du.


Yang terhormat para ustadz dan ustadzah, para bapak, ibu, hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah swt.

Mengawali jumpa kita melalui  mimbar kultum kali ini, marilahkita panjatkan puji syukur kepada Allah, Tuhan semesta alam, sebab berkat rahmat, anugerah dan petunjuk-Nya  pada saat ini, kita  bisa bertemu muka dan berkumpul di tempat ini tanpa ada suatu halangan apapun. Shalawat  dan salam, semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad saw  yang telah mengeluarkan manusia dari gelap gulita kekafiran menuju pada cahaya kebenaran,yaitu agama Islam.

Bapak, ibu, Saudara sekalian yang saya muliakan

Ketika kita memperhatikan ayat-ayat AI-Qur'an yang berkenaan dengan hijrah selalu dirangkai dengan pernyataan iman dan jihad. Sebagaimana firman Allah swt berikut ini : 

"Orang-orang yang berimati dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari pada-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal." (QS. At-Taubah: 20-21).

Dari ayat tersebut kiranya dapatlah kita pahami bahwa sikap hijrah haruslah didasarkan pada keimanan dan motivasi jihad, semangat perjuangan  yang didasarkan keyakinan kepada Allah untuk mendapatkan rahmat  dan keridhaan-Nya.

Rasulullah saw dan para sahabat dalam menjalankan  hijrah tidak saja mengorbankan harta benda, cucuran keringat, tetapi jiwa dan raga pun menjadi dipertaruhkan. Bahkan ketika mereka menghadapi saat-saat yang genting dan membahayakan yang sangat boleh jadi mengancam keselamatan jiwanya.

Tetapi karena hijrah sebagai sebuah bentuk jihad atau perjuangan yang didasarkan pada keimanan. Sehingga walau bagaimanapun pahit getirnya penderitaan yang menimpa mereka, berpisah meninggalkan kampung halaman dan harta benda yang bertahun-tahun mereka miliki turun temurun, meninggalkan sanak keluarga yang clicintainya, menempuh perjalanan  gurun  pasir yang cukup jauh dan melelahkan, mereka dapat melakukan dengan ringan penuh keyakinan akan pertolongan Allah SWT.

Bapak, ibu, Saudara sekalian yang saya muliakan

Dalam  konteks  kekinian di era global di mana arus budaya sekuler begitu derasnya membobol tanggul-tanggul peradaban kita yang elok. Berhala-berhala modern ada di mana-mana,   kemaksiatan merajalela, kemungkaran menggila-gila, yang oleh sebagian orang  dinyatakan sebagai  jahiliyah kedua (jahiliyali modern), maka pelajaran penting yang harus dipetik dari peristiwa hijrah dan diterapkan dalam kehidupan kita ini ialah hijrah yang bersifat mental dan hati nurani (hijrah qalbiyah).

Secara garis besar pelajaran dan hikmah yang dapat kita petik dari peristiwa hijrah itu adalah:

Pertama: Kita harus memiliki keteguhan hati dan kesabaran di dalam memperjuangkan cita-cita luhur, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh RasuIullah saw. Walaupun kesulitan terus menghadang, tekanan dan intimidasi timpa menimpa kaum muslimin terus tetap tegak berdiri dalam memperjuangkan  dan rnenegakkan komitmen keimanannya.

Kedua: Kesediaan berkurban, karena setiap perjuangan tentu membutuhkan pengorbanan. Demi tetap tegaknya agama Allah, kita harus berani berkurban, mungkin dengan mengorbankan  kesenangan diri, korban perasaan, harta benda bahkah terkadang sampai pengorbanan nyawa.

Ketiga: Rasa optimisme memandang ke depan yang lebih baik akan tegaknya kebenaran. Perjuangan tidak boleh surut mundur ke belakang, cita-cita mulia harus tetap ditegakkan tanpa mengenal putus asa, karena memang Islam dirancang Tuhan sebagai agama yang luhur dan pada akhirnya kebenaran agama Allah-lah yang akan menang dan kebatilan pasti akan binasa.

Bapak, ibu, Saudara sekalian yang saya muliakan

Mengakhiri kultum di kesempatan kali ini, marilah kita berdo'a semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia serta petunjuk­Nya kepada kita, sehingga kita mampu mengisi hidup ini dengan nilai­nilai perjuangan demi izzul lslam wal muslimin.  Demikianlah yang dapat  saya sampaikan,  terima  kasih atas  perhatiannya  dan mohon maaf atas kesalahan  dan kurang  lebihnya. Hadanallah waiyyakum ajma'in, was salamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Oleh Ustadz Abdullah Farouk & Ustadz MS. Ibnu Hasan

Hukum Wanita Minta Maskawin Mahal

Sajadah Muslim ~ Apakah syariat Islam memperkenankan wanita meminta maskawin yang mahal? Apakah boleh atau tidak, nah dibawah ini kami jabarkan.


Bagi wanita   muslimah  meminta maskawin yang nilainya sangat  tinggi  (mahal),  bukanlah sifat  yang terpuji. Karena, apapun yang dimiliki oleh sang suami (nanti dalam hidup berumah tangga)  adalah miliknya juga.

Sebagai orang tua Muslim, hendaklah jangan membuat kesulitan dalam masalah maskawin yang mahal. Karena, jika orang tua meminta maskawin terhadap anaknya yang sulit dijangkau oleh seorang lelaki yang hendak menikahi anaknya, maka sama halnya ia telah memberi peluang jalan yang haram. Yang berarti pula memberi kemudahan terhadap kerusakan. Betapa tidak!. Dengan tuntutan maskawin yang sangat tinggi, maka para generasi muda bisa juga menjadi enggan kawin dan akhirnya pergi ke tempat-tempat pel*acuran. Bukankah demikian akibatnya nanti?

Dalam hal ini, Nabi SAW bersabda:

“Siapa (wanita) yang meringankan maskawinnya, maka akan diperbanyak berkahnya”.

Nabi SAW sendiri ketika mengawinkan putri-putrinya, Beliau sangat meringankan biaya maskawinnya. Beliau tidak  membuat syarat dengan maskawin yang sangat tinggi, bahkan malah memilihkan biaya maskawin yang sangat ringan. 

Oleh Ustadz Labib Mz

Khutbah Idul Adha: Kebersamaan Dalam Ibadah Haji

Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar..
Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil - hamd.

Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar.....
Allaahu akbar kabiiraa walhamdulillaahi katsiiraa,...
wasubhaanallaahi bukrataw - wa ashillaa.

Laa - ilaaha illallallahu walaa na'budu illaa iyyaahu
Mukhlishiina lahuddiin
Walau karihal - kaafiruun
Walau karihal munafiqun
Walau karihal musyriku

Laa - ilaaha - illallaahu wahdah, shadaqa wa'dah, wanashara 'abdah, - wa - a'azza - jundah, wahazamal - ahzaaba wahdah.

Laa - ilaaha illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil - hamd.


Kaum Muslimin Jamaah led Yang Berbahagia


"Dan Allah mewajibkan bagi manusia untuk berHaji ke Baitullah bagi orang yang mampu pergi kesana".


Adapun yang termasuk Istithaah atau mampu, yaitu meliputi biaya perjalanan, biaya bagi keluarga yang ditinggalkan, kesehatan dan keamanan serta mengetahui bagaimana melaksanakan manasik Haji.

Allahu Akbar 3x walillahil hamdulillah

Kaum Muslimin Jamaah led Yang Berbahagia

Untuk mendapatkan kualitas Haji mabrur, bukan hanya dilihat pada saat jamaah Haji berada ditanah suci, akan tetapi sudah berawal dari  niat  yang  ikhlas,  biaya perjalanan Haji yang halal. Dan yang terpenting ujian Haji mabrur adalah setelah kembali ke tanah air, hidup ditengah masyarakat, apakah mampu memberikan contoh dan teladan yang baik sebagai panutan ummat, dalam kepribadian, akhlak, ibadah dan pengabdian kepada masyarakat.

Allah SWT  dalam Al-Quran surat Al Hajji ayat 34-35 berfirman : 

"Dan berilah berita gembira kepada orang yang  tunduk dan patuh kepadanya. Yaitu orang-orang yang apabila disebut nama Allah SWT gemetar hati mereka, dan yang bersabar atas musibah yang menimpa mereka, penegak-penegak shalat dan orang-orang menafkahkan sebagian dari apa yang telah kami rezkikan kepada mereka".

Ayat ini menggambaran secara utuh dan sempurna tentang Haji Mabrur. Dalam hadits Rasulullah SAW juga menggambarkan bahwa Haji mabrur itu suka memberi makan dan ucapannya lembut. Induk dari hadits tersebut adalah ayat diatas. Adapun yang dimaksud dengan berita gembira pada ayat 34 adalah syurga.

Allahu Akbar 3x walillahil hamd

Kaum Muslimin Jamaah led Yang Berbahagia

Bagi kaum Muslimin yang ada di tanah air, tugas ibadah kita adalah menegakkan shalat Idul Adha dan berkurban. Perintah untuk shalat Idul Adha dan berkurban terdapat dalam surat Al Kautsar yang berbunyi:

"Sesungguhnya kami pasti memberikan kepadamu sungai  di Surga maka dirikanlah karena Tuhanmu dan berkorbanlah".

Sebagian ulama berpendapat bahwa Al Kautsar adalah nama telaga yang berada didalam syurga.

Sejarah kurban atau udhiah, berasal dari sejarah Nabi Ibrahim AS ketika mengurbankan putranya Ismail atas perintah Allah kepadanya melalui mimpi. Oleh karena Nabi Ibrahim, Ismail dan ibunya Siti Hajar ikhlas melaksanakan perintah Allah, maka Ismail diganti oleh Allah SWT dengan seekor kibas yang besar seperti firman Allah SWT dalam surat Ash Shaffat ayat 107 :

"Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan (kambing) yang besar" 

Allahu Akbar 3x waIillahii hamd

Adapun urutan-urutan atau sistematika ibadah kita pada hari raya Idul Adha, dijelaskan  oleh Rasulullah SAW  dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari : 

"Sesungguhnya yang pertama kami mulai pada hari itu adalah bahwa kami shalat,  kemudian kami pulang lalu kami berkurban. Maka barang siapa yang berbuat seperti ini maka sungguh telah menepati sunnah kami".

Maksudnya bahwa penyembelihan binatang kurban tidak dilakukan segera setelah khatib turun dari mimbar. Tetapi kita semua kembali dulu ke rumah, istirahat lalu menyembelih binatang kurban.

Dalam berkurban hendaklah dengan ikhlas mencari ridha Allah SWT dalam AI-Qur'an surat Al Hajji ayat 37 Allah SWT berfirman :

"Daging dan darah Udhiyah itu, tidaklah mencapai Allah, akan tetapi yang akan mencapai Allah adalah ketaqwaan dan keikhlasan kamu sekalian".

Yang penting kita perhatikan agar kurban kita makbul adalah agar sebahagian besar kurban kita dibagikan secara mentah kepada fakir miskin. Kita dapat mengambil sedikit sebagai berkah. Dalam AI­Qur'an surat Al Hajji ayat 28 Allah SWT berfirman :

"Maka makanlah sebagian kecil dari padanya dan sebagian besarnya berikanlah kepada orang-orang sengsara lagi fakir".

Dan pada surat Al Hajji ayat 36 ada dijelaskan bahwa daging kurban diberikan kepada orang yang meminta dan orang yang tidak meminta, artinya bahwa daging kurban dapat diberikan kepada ummat Islam pada umumnya. Bahkan bila ummat Islam sudah dapat semua, daging kurban dapat diberikan kepada orang yang non Muslim. Dan disinilah salah satu makna rahmatan lil alamin. Jadi Muhamnmad SAW dan agamanya adalah rahmat bagi seluruh ummat manusia.

Allahu Akbar 3x walillahil hamd

Masyarakat Muslim adalah masyarakat yang penuh kasih sayang, bantu-membantu, tolong-menolong dalam hidup bermasyarakat. Gambaran atau ciri-ciri masyarakat Muslim digambarkan oleh Allah SWT dalam surat Al Balad ayat 37 :

"Dan ia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan berpesan untuk berkasih sayang".

Pada akhimya mari kita berdoa kehadirat Allah SWT agar jamaah Haji kita tahun ini, termasuk Haji mabrur dan bagi kita yang mukmin semoga Allah menerima shalat Id dan ibadah kita dan semoga terciptalah masyarakat marhamah di lingkungan kita masing-masing. Amin Ya Rabbal Alamin.

Doa Penutup

Oleh Drs. KH. Marwan Aidid
 

Khutbah Jumat: Keutamaan Membaca, Memahami Dan Mengamalkan Al Quran

Sajadah Muslim ~ Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, arrahmanirrahim maliki yaumid din, wa shalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’i wal mursalin sayyidina wa maulana Muhammadin khatamin Nabiyyina wa imamil mursalin, wa ‘ala alihi thahiriina wa shahabatihi ajma’in, amma ba’du.


Kaum Muslimin Sidang Jum'at Yang Berbahagia

Pertama-tama marilah kita panjatkan Puji dan syukur kita kepada Allah SWT yang telah menurunkan AI-Qur'an untuk menjadi petunjuk bagi manusia terutama dalam membedakan yang hak dan yang bathil.

Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada baginda Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya serta pengikutnya yang senantiasa menjaga dan mengamalkan sunnahnya.

Selanjutnya mari kita perbaiki Iman dan Taqwa kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya.

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Yang Berbahagia

Pertama-tama ada baiknya jika kita mengetahui keutamaan membaca Al-Qur'an melalui penjelasan dari kitab suci AI-Qur'an sendiri. Dalam surat Fathir ayat 29 Allah SWT berfirman : 

"Sesungguhnya orang-orang  yang membaca AI-Qur 'an  dan menegakkan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezki yang telah Kami anugerahkan kepada-Nya secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan mereka itu mengaharapkan perniagaan yang  tidak akan merugi".

Maksudnya bahwa orang-orang yang rajin membaca AI-Qur'an akan memperoleh pahala yang banyak. Hal ini dapat dilihat dari Hadits Rasulullah SAW:

"Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah ia akan mendapat satu kebajikan atau pahalanya dilipatgandakan sepuluh kali”. (HR. At-Tarmidzi)

Dalam sebuah Hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkanoleh Baihaqi Beliau bersabda :

"Membaca AI-Qur'an di dalam shalat lebih mulia dari pada membaca AI-Qur 'an di luar shalat".

Dan di dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani Beliau mengatakan bahwa "bacaan seseorang bila tidak langsung dalam Al-Qur'an mendapatkan seribu derajat dan bila kita baca langsung dalam Mushaf (Kitab Al-Qur'an) pahalanya dilipatgandakan dua kali menjadi dua ribu derajat.

Jadi bila kita membaca surat Yaasin dibuku biasa, pahalanya seribu dan bila langsung dalam kitab suci Al-Qur'an pahalanya menjadi dua ribu.

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Yang Berbahagia

Dalam sebuah Hadits lain yang diriwayatkan dari Annas oleh Al-Iman Muhammad bin Nasr, Rasulullah SAW bersabda :

"Rumah yang dibacakan di dalamnya Al-Qur'an dihadiri Malaikat dan Syaitan-Syaitan  menjauh, ahli rumah akan diluaskan rezkinya, kebaikannya banyak dan kejelekannya sedikit".

Karena itu hendaknya sebagai ummat Islam kita diwajibkan membaca Al-Qur'an untuk memperoleh ridha Allah SWT dan tentu akan lebih baik lagi apabila disamping membacanya juga memahami makna, arti dan kandungannya.

Dalam Al-Qur'an surat an-Nisa' ayat 82 Allah SWT berfirman:

"Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya''.

Semua isi Al-Qur'an sejalan dan saling melengkapi, walaupun terdapat beberapa kali pengulangan ayat-ayatnya namun tidak membosankan membacanya. 

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Yang Berbahagia

Keutamaan memahami AI-Qur'an  juga sebagaimana yang dijelaskan dalam Hadits Rasulullah SAW:

"Barang siapa berbicara berdasarkan Al-Qur'an ia pasti benar, dan barang siapa yang mengamalkannya ia diberi pahala dan barang siapa yang  memutuskan perkara berdasarkan Al-Qur'an pasti adil, dan barang siapa yang mengajak kepada Al-Qur’an ia  diberi petunjuk kepada jalan yang lurus".

Dapat kita bayangkan betapa banyak keuntungan membaca, memahami dan mengamalkan AI-Qur'an bahkan sampai di padang Mahsyar tempat berkumpulnya seluruh manusia dari seluruh generasi yang  pernah hidup  di dunia  AI-Qur'an akan  memberikan syafaat kepada para pembaca  dan pengamal Al-Qur'an.  Dalam  salah  satu

Hadits Rasulullah SAW dijelaskan : 

"Bacalah Al-Qur'an karena pada hari kiamat ia akan memohonkan syafaat kepada Allah SWT bagi ahli Al-Qur'an".

Adapun yang dimaksud dengan ahli AI-Qur'an adalah orang yang membaca, memahami dan mengamalkan AI-Qur'an. Sebagairnana Rasulullah SAW dalam sebuah hadits bersabda :

"Barang siapa yang membaca Al-Qur'an dan mengamalkannya lalu ia mati dalam jama'ah umat Islam maka di hari kiamat ia akan dibangkitkan bersama para Nabi dan Malaikat".

Yang dimaksud mati dalam jama'ah Islam, ia tidak masuk dalam aliran Islam sesat (sempalan) seperti aliran Ahmadiyah yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW bukanlah Nabi yang terakhir.

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Yang Berbabagia

Sebagai bangsa Indonesia patut bersyukur kehadirat Allah SWT karena mayoritas masyakat  Indonesia adalah beragama Islam dan jika ajaran, isi  dan  kandungan Al-Qur'an  dapat  diamalkan  di Negara kita, maka bangsa dan masyaraklat Indonesia akan hidup dalam kedaan adil dan makmur, umpamanya kita dapat mengamalkan firman Allah SWT dalam surat an-Nahl ayat 90:

"Sesungguhnya Allah SWT menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah SWT melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan".

Ulama berpendapat bahwa adil, ikhsan dan membantu kerabat (orang miskin) merupakan tiga induk akhlak terpuji, sedangkan dosa, kemungkaran dan permusuhan merupakan tiga induk akhlak yang tercela.

Yang dimaksud keadilan disini mencakup:
  1. Keadilan dalam hubungan antar hamba dengan Allah dengan cara menjalankan kewajibannya kepada Allah.
  2. Keadilan pada diri sendiri artinya tidak menganiaya dan merusak diri sendiri.
  3. Keadilan kepada makhluk artinya selalu memberi nasehat dan tidak berkhianat.
Kemudian Ikhsan mencakup semua perbuatan dan amal yang bermanfaat bagi manusia yang dikerjakan secara ikhlas. Serta membantu kerabat dapat diwujudkan melalui pemberian nafkah terutama memberikan santunan dan perhatian terhadap fakir miskin. 

Sedangkan perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT adalah al­Fahsya atau dosa seperti zina, kemungkaran seperti khamr dan perjudian, dan permusuhan seperti menganiaya dan memutuskan hubungan dengan orang lain.

Sebagai bentuk pengamalan Al-Qur'an marilah kita amalkan firman Allah SWT dalam surat al-Maidah ayat 2 :

"Hendaklah kamu bertolong-tolongan dalam kebajikan dan taqwa janganlah kamu bertolong-tolongan dalam dosa dan permusuhan".

Pada akhirnya marilah kita jadikan AI-Qur'an sebagai pertunjuk hidup kita yang akan memberikan    arah, nasehat dan bimbingan bagi  tercapainya kebahagiaan yang hakiki dan kebaikan yang abadi dari dunia hingga akhirat. Amin Ya Rabbal 'Alamin

Penutup

Oleh Drs. KH. Marwan Aidid
 

Khutbah Jumat: Tuntunan Al Quran Dalam Menjalani Kehidupan

Sajadah Muslim ~ Alhamdulillah hilladzi akramnaa bil iimaan, wa a’azzanaa bil islam, wa rafa’na bil ihsan, ahmaduhu subhanahu wata’ala wa asykuruh, allahumma shollia wasallim wa barik ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa mantabi’ahum bi ihsani ila yaumiddin, amma ba’du.

 
Kaum Muslimin Sidang Jum'at Yang Berbabagia
 
Pertama-tama marilah kita panjatkan Puji dan Syukur kita kepada Allah SWT yang telah menurunkan AI-Qur'an untuk menjadi petunjuk bagi manusia terutama dalam memberikan arah dan tujuan hidup di muka bumi ini hingga di akhirat kelak.

Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada baginda Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya yang senantiasa rnernberi suri tauladan dalam menjalani kehidupan.

Selanjutnya mari kita perbaiki Iman dan Taqwa kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya.

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Yang Berbabagia

Manusia terlahir di dunia adalah diciptakan dan difasilitasi oleh Allah  SWT, manusia adalah khalifah  Allah  SWT  di  muka  bumi. 

Sebelum kita lahir semua fasilitas dan kemudahan untuk hidup telah disiapkan oleh Allah, Tuhan Yang Maha Pemurah. Tetapi hendaknya kita maklumi bahwa kita  lahir di dunia ini sebagai makhluk yang paling mulia adalah berkat jasa dari kedua orang tua kita (ayah dan ibu). Itulah sebabnya maka Allah  SWT memerintahkan kepada kita untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Dalam AlQur'an surat al ­Ahqaaf  ayat 15 Allah berfirman : 

"Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya (ibu dan bapaknya)”.

Berbuat baik kepada kedua orang tua dapat diwujudkan melalui tunduk dan patuh kepada-Nya, membantu bekerja, berucap dengan lemah lembut, memberi nafkah, mendo'akannya dikala masih hidup terlebih jika sudah mati, dll. Karena itu kita selalu diperintahkan untuk bersyukur kepada Allah  SWT dan kepada kedua orang tua, firman Allah SWT dalam surat Luqman ayat 14 :

"Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu bapakmu dan kepada sayalah kamu kembali".

Secara singkat  dapat dikatakan  bahwa  bersyukur  kepada  Allah adalah  beribadah  kepada-Nya dan bersyukur  kepada  orang  tua adalah berbuat  baik kepada-Nya  dalam arti yang seluas-luasnya.

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Yang Berbabagia

Lanjutan dari ayat 15 surat al-Ahqaaf disebutkan : 

"Ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah pula. Mengandungnya hingga menyapihnya selama tiga puluh bulan"

Pada ayat ini Allah SWT menggambarkan betapa besarnya jasa dan derita seorang ibu ketika mengandung dan melahirkan anaknya, ketika hendak melahirkan ia mempertaruhkan  nyawanya, demikian pula setelah melahirkan ia menyusui, merawat, menjaga  dan mendidiknya hingga anaknya dewasa. Demikian pula seorang bapak yang dengan susah payah mencari nafkah dan penghidupan, menyediakan sandang dan pangan dan semacamnya guna menjaga kelangsungan hidup keluarga, dan tentu masih sangat banyak jasa orang tua kepada kita yang tak mungkin disebutkan satu persatu.

Karena  itu  amatlah  tepat jawaban  Rasulullah SAW, ketika beliau  ditanya  oleh  seorang  sahabat kepada  siapakah saya harus berbuat baik ? Lalu Rasulullah menjawab "kepada Ibumu ", sahabat bertanya lagi, lalu kepada siapa? Rasulullah menjawab "kepada Ibumu", sahabat bertanya lagi, lalu kepada siapa ? Rasulullah menjawab "kepada Ibumu ", dan sahabat bertanya lagi, lalu kepada siapa? Rasulullah menjawab "kepada Bapakmu".  Sehingga ada hadits bahwa Syurga di bawah telapak kaki Ibu.

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Yang Berbahagia

Ada yang menarik untuk dijelaskan pada surat Al-Ahqaaf ayat 15 tadi, bahwa Ibu mengandung  serta menyusui selama tiga puluh bulan, artinya kurang tepat jika ada seorang perempuan yang melahirkan pada setiap tahunnya, seharusnya jarak yang ideal adalah dua setengah tahun, sehingga program pengaturan kependudukan melalui program keluarga berencana hakekatnya adalah,  mengacu pada  tuntunan  Al-Qur'an. Pada  kelanjutan ayat  15 dari  surat Al­ Ahqaaf adalah :

"Sehingga apabila dia telah dewasa dan berumur empat puluh tahun ia berdo'a: Ya Tuhanku tunjukkanlah aku untuk mensyukuri nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada Ibu Bapakku dan supaya aku dapat beramal shaleh yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku, sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang yang berserah diri".

Berdasarkan ayat tersebut bahwa usia dewasa dan kematangan seorang manusia adalah empat puluh tahun, sehingga Nabi kita Muhammad SAW diangkat oleh Allah menjadi Nabi dan Rasul ketika beliau berumur empat puluh tahun. Dan ketika sudah mencapai usia empat puluh tahun maka kewajiban dan tanggung jawabnya semakin banyak.

Berdasarkan keterangan ayat tersebut, ada beberapa tuntunan yang menjadi pelajaran kita :
  1. Hendaknya kita mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita dan kepada kedua orang tua kita. Inti dan hakekat mensyukuri nikmat Allah  adalah beriman dan beribadah kepadanya.
  2. Sebagai orang yang sudah berusia matang hendaknya kita banyak beramal shaleh yang diridhai oleh Allah  SWT, hendaknya kita memahami bahwa hakekat hidup ini haruslah diisi dengan amal shaleh. Dalam surat Al-Mulk ayat 2, yang artinya : "Dialah Allah SWT yang telah menciptakan hidup dan mati untuk mengetahui siapakah diantara kita yang paling baik amalnya, agar amal shaleh yang kita perbuat diridhai oleh Allah SWT, maka kita harus kerjakan dengan ikhlas dan semata-mata mengharap ridha Allah SWT.
  3. Hendaknya kita bertaubat kepada Allah SWT. Bertaubat artinya menyesali segala perbuatan  salah  atau  dosa  yang  pernah  kita lakukan  seiring dengan penyesalan terhadap  kesalahan  itu  kita banyak beribadah kepada Allah SWT.
  4. Kita berserah diri artinya tunduk dan patuh semata-mata karena Allah, sebagaimana firman  Allah SWT dalam surat AI-Imran ayat 102 : "Wahai orang-orang yang beriman hendaklah      kamu bertaqwa kepada Allah  SWT dengan sebaik-baiknya,  dan jangan kamu mati sebelum kamu menjadi orang Muslim”.
Mudah-mudahan dengan mengamalkan tuntunan Al-Qur'an dalam kehidupan kita akan semakin terarah dan terkontrol dengan baik.

Doa Penutup

Oleh Drs. KH. Marwan Aidid
 

Jika Wanita Menerima Pinangan Setelah Di Pinang

Sajadah Muslim ~ Bagaimana hukumnya wanita menerima pinangan yang sebelumnya sudah  dipinang orang lain ?


Jawabannya ialah :

Dalam masalah ini, ulama 'Jumhur telah sepakat menetapkan pengharaman terhadap wanita yang menerima pinangan sedang dalam pinangan orang lain. Menurut Al Khathabi, larangan ini untuk pengarahan, bukan untuk pengharaman yang membatalkan 'aqad. Dan yang demikian ini kebanyakan pendapat ahli fiqih.         
                                       ,    .
Mereka beralasan sebuah hadits yang bersumber dari 'Uqbah bin Amir ra bahwa Nabi saw pernah bersabda : "Orang mukmin itu saudara orang mukmin lainnya. Tidak dihalalkan bagi seorang mukmin untuk berjual-beli atas jual-beli saudaranya, dan dia tidak boleh meminang atas pinangan saudaranya hingga ia membatalkannya". (HR. Ahmad dan Muslim)

Walhasil, wanita menerima pinangan yang berusaha membatalkan pinangan pertama, karena ada orang lain yang meminangnya. Sehingga ia berbuat semaunya sendiri terhadap si peminang pertama. Nah, dengan perbuatan ini dia dikategorikan sebagai wanita yang telah berbuat dosa besar, yang harus dijauhi. Dan Allah Yang Maha Tahu keadaannya.

Oleh Ustadz Labib Mz
 
Back To Top