Sajadah Muslim

Membahas Tentang Seputar Ilmu Agama Islam

Ketika Wanita Tergoda Lelaki Lain

Sajadah Muslim ~ Seorang wanita bernama Rukiyati menikah dengan seorang pemuda bernama Zawari. Zawari adalah seorang pemuda yang jujur dan taat beribadah. Namun Rukiyati tidak merasa puas bersuamikan Zawari itu dan membanding-bandingkan dengan lelaki lain. Ia sering bingung dan sulit bila diajak bicara oleh Zawari. Lantas jalan manakah yang terbaik untuk ditempuh oleh si Rukiyati itu ?


Rukiyati adalah seorang istri yang sudah cukup tersiksa dengan perasaan-perasaan tertekan. Jika ini diteruskan, maka sudah barang tentu kehidupan rumah tangganya akan bertambah runyam, yang pada gilirannya akan terjatuh dari kehidupan yang harmonis. Padahal tujuan perkawinan itu adalah untuk menjalin cinta-mencintai dan saling berkasih sayang. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah yang berbunyi:

"Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mau berpikir". (QS. Ar Rum : 21)

Jadi, jika terjadi demikian terhadap diri Rukiyati, maka jalan yang terbaik baginya adalah meminta cerai kepada suaminya Zawari dari pada dalam kehidupan berumah tangganya tanpa rasa cinta dan kasing sayang.

Oleh Ustadz Labib Mz.

Hukum Wanita Bekerja Di Luar Rumah

Bolehkah wanita muslimah bekerja ke luar rumah?

Wanita bekerja di luar rumah itu ada dua macam. Pertama bekerja dalam lingkungan keluarga. Kedua bekerja di lain keluarga.


Bekerja dalam lingkungan keluarga jelas agama menganjurkan. Misalnya, membantu suami bercocok tanam, beternak mencari rumput untuk makanan ternak, disamping bekerja dalam rumah mengurusi keluarga dan memelihara anak-anak dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya dan lain sebagainya. Bekerja saling bahu-membahu untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Adapun bekerja di lain keluarga, yakni bekerja di luar rumah, agama juga membolehkan asalkan benar-benar ia terpaksa. Misalnya, keterpaksaan itu adalah untuk biaya hidup keluarga yang menjadi tanggungannya, yang tiada jalan lain kecuali ia harus keluar rumah. Tetapi ia harus ingat, bahwa jika keterpaksaan itu hilang, maka hilanglah kebolehannya, yakni tidak boleh jika tidak terpaksa.

Selain itu ia harus ingat, bahwa dalam bekerja janganlah berpakaian yang menampakkan aurat. Misalnya, menampakkan dada, memamerkan betis dan lain sebagainya dari hal yang bisa menimbulkan rangsangan.

Sebaiknya wanita itu tetap berada dalam rumah mengurus rumah tangganya, atau bila ingin bekerja maka bekerjalah dengan usaha kecil-kecilan, yaitu jualan pracangan atau jahit menjahit, semoga dengan bekerja yang demikian itu Allah memberkatinya, sehingga bisa mencukupi kebutuhan keluarganya.

Oleh Ustadz Labib Mz

Percampuran Bebas Wanita Dengan Lelaki

Bagaimana hukumnya percampuran bebas antara kaum lelaki dan wanita seperti halnya di tempat-tempat sekolah atau di perguruan tinggi dalam rangka menuntut ilmu?


Menanggapi masalah ini, para ulama' bersilang pendapat menjadi dua golongan. Golongan pertama mengatakan boleh. Sedangkan golongan kedua mengatakan tidak boleh.

Golongan pertama mengatakan boleh dengan alasan terpaksa. Karena, bercampurnya antara kaum lelaki dan wanita di sekolah dan di perguruan tinggi tujuan utamanya adalah menuntut ilmu. Sedangkan menuntut ilmu itu hukumnya wajib bagi kaum muslimin dan muslimat.

Dalam percampuran antara lelaki dan wanita harus dihindarkan dari pergaulan yang dapat mengundang rangsangan. Karena dengan adanya rangsangan, akan mendorong siswa untuk menggoda siswi. Umpamanya, siswi tidak dibenarkan memakai pakaian tipis yang merangsang, dada terbuka, dan memamerkan betis serta ucapan-ucapan yang merayu.

Golongan kedua mengatakan, bahwa percampuran antara kaum lelaki dengan wanita di sekolah atau di perguruan tinggi itu tidak dibenarkan sama sekali oleh agama, walau alasannya terpaksa, karena tujuannya menuntut ilmu.

Kenapa alasan terpaksa, kalau memang tempat pendidikan itu bernafaskan Islam? Tentunya tidak akan sulit, bila antara siswi dan siswa diberi dinding pemisah kalau memang fasilitas pendidikan itu kurang memadai. Ingat, berapa banyak perbuatan keji terjadi, yang awalnya dari percampuran bebas antara lelaki dan wanita?

Kiranya sangatlah sulit untuk menghilangkan dari hal yang mendorong untuk berbuat keji kalau hanya siswi tidak diperbolehkan berpakaian tipis, membuka dada, dan memamerkan betis. Sementara pada tiap harinya bercampur bebas. Dimana dalam sekolah bagi mereka yang punya iseng jelas tidak ada kesempatan, tetapi diluar sekolah mereka mudah mencari tempat-tempat yang sepi untuk melampiaskan isengnya itu.

Jadi, kami cenderung pendapat golongan kedua dengan alasan, bahwa percampuran bebas antara siswi dengan siswa dalam sekolah atau perguruan tinggi itu akan banyak mengundang kepada perbuatan keji yang sulit untuk dihindari. Kita jangan ikut-ikutan karena itu merupakan keterpaksaan, tapi kenyataannya toh banyak "pengguguran kandungan" dengan berbagai macam cara dari kalangan siswi, yang mulanya dari percampuran bebas di sekolah atau di perguruan tinggi, itulah kecenderungan pendapat kami, dan mengenai kebenarannya Allah-lah Yang Maha Tahu.

Oleh Ustadz Labib Mz

Hukum Istri Bertemu Mantan Suami

Apakah agama membolehkan, wanita bertemua dengan mantan suaminya, lalu berbicara sebagaimana layaknya suami istri ?


Dengan tegas agama melarang seorang wanita dengan mantan suaminya dan berbicara berduaan. Karena seorang istri yang sudah dicerai oleh suaminya dan habis masa iddahnya, kedudukan mereka sebagai orang lain, tidak boleh berbuat seenaknya sebagaimana layaknya suami istri dulu.

Ingat, berduaan makhluk lain jenis yang bukan mahram, maka ketiganya yang menemani adalah syetan yang akan menjerumuskan pada perbuatan keji.

Rasulullah SAW berpesan: "Dan tiada berduaan lelaki dan wanita melainkan ketiganya adalah syetan".

Bertemu dengan mantan suami sih boleh-boleh saja asalkan dengan batas-batas yang ditentukan oleh Agama. Misalnya dengan berpakaian yang sesuai dengan hukum syariat dan di hadapan orang banyak, yakni tidak ditempat sepi.

Berbeda dicerai masih dalam iddah dari talak raj'i, agama membolehkan untuk bertemu dan berduaan. Malah mereka dianjurkan untuk tinggal serumah, yakni tidak meninggalkan rumah sebagaimana kebiasaan yang dialami sekarang ini tiap ada orang bercerai.

Adapun hikmah membolehkannya berkumpul serumah, adalah agar mereka bisa saling mengoreksi diri. Dimana yang merasa bersalah harus meminta maaf dan yang merasa benar harus pula memberi maaf, sehingga mereka berkeinginan akan kembali rujuk untuk menciptakan suasana yang lebih harmonis dari sebelumnya.

Oleh Ustadz Labib Mz

Hukum Wanita Bekerja Sebagai Sekretaris

Bagaimana hukumnya seorang wanita menjadi sekretaris perusahaan yang dalam kerjanya seringkali bersama dengan seorang lelaki sebagai bos dalam ruang tertutup?


Agama membolehkan wanita bekerja di luar rumah, jika memang benar-benar terpaksa. Misalnya keterpaksaan itu untuk biaya hidup keluarga yang menjadi tanggungannya, yang tiada jalan lain kecuali ia harus bekerja keluar rumah.

Tetapi ia harus ingat, bahwa jika keterpaksaan itu hilang, maka hilanglah kebolehannya, yakni kebolehan wanita bekerja di luar rumah.

Selain itu harus ingat, bahwa wanita berduaan dengan lelaki yang bukan mahram dalam satu ruangan tertutup, maka yang ketiganya adalah syetan.

Karena itu, jika bekerja dalam ruangan tertutup, usahakan agar pintu itu selalu terbuka dan jangan dikunci.

Oleh Ustadz Labib Mz

Ritual Munkar Seputar Kehamilan Dan Kelahiran

Sajadah Muslim ~ Selamatnya kandungan dan sehatnya bayi yang dilahirkan adalah dambaan setiap orang yang ingin memiliki keturunan. Untuk mewujudkan harapan tersebut, umumnya manusia menempuh beragam cara, dari upaya-upaya medis (bahkan) hingga mistis. Seorang muslim yang taat beragama tidak mau asal-asalan melakukan sebuah upaya karena sikap, keyakinan dan perbuatannya akan selalu ia cocokkan dengan nilai-nilai agamanya yang luhur dan yang selaras dengan akal sehat.

Ritual Mungkar Seputar Kehamilan

Sesuatu dikatakan mungkar apabila dihukumi tidak baik, tidak boleh, atau dinyatakan keharamannya oleh syariat, meskipun menurut pandangan sebagian orang itu baik dan sah-sah saja.

Di setiap daerah atau suku biasanya ada ritual-ritual khusus terkait kehamilan yang sulit bagi kita untuk menyebutkan jumlahnya, karena saking banyaknya.

Bagi sebagian orang, ritual-ritual tersebut menjadi budaya leluhur yang harus dilestarikan. Orang yang tidak mau melakukannya akan dicibir di tengah-tengah keluarga dan masyarakat,  bahkan bisa jadi akan mendapatkan teror. Bagi mereka, ritual-ritual warisan leluhur adalah menu wajib yang terkadang lebih wajib dari pada shalat berjamaah, bahkan shalat lima waktu.

Yang amat disayangkan, masih ada sebagian kaum muslimin yang ikut-ikutan menghidupkan ritual-ritual tersebut. Padahal tidak sedikit dari ritual-ritual itu yang hanya mitos tanpa bukti nyata dan sebagiannya diadopsi dari budaya non-Islam.

Diantara bentuk ritual tersebut adalah adat mitono (adat Jawa). Upacara mitoni ini dilakukan pada bulan ke-7 masa kehamilan pertama seorang perempuan dengan tujuan agar embrio dalam kandungan dan ibu yang mengandungnya senantiasa memperoleh keselamatan. Upacara-upacara yang dilakukan dalam masa kehamilan yaitu siraman, memasukkan telur ayam kampung ke dalam kain calon ibu oleh sang suami, ganti busana, memasukkan kelapa gading muda, memutus lilitan benang/janur, memecah periuk dan gayung, dan seterusnya. Upacara ini tidak bisa dilangsungkan di sembarang hari dan tempat. Diantara maksud ritual ini adalah agar sang ibu kelak diberi kemudahan ketika melahirkan.

Ritual mitoni ini tidak hanya dilakukan oleh wanita yang baru pertama kali mengandung. Cara-caranya terkadang berbeda antara satu tempat dan tempat yang lain. Bagi seorang muslim, ritual tersebut dan semisalnya, sangat sulit diterima oleh akal yang sehat, lebih-lebih apabila dilihat dari kacamata agama. Apabila ada yang mengatakan bahwa ritual tersebut hanya sebuah ikhtiar/usaha, kita jawab bahwa suatu usaha akan dibenarkan apabila memang menjadi sebab tercapainya tujuan dan tidak bertentangan dengan agama. Pernyataan bahwa upacara seperti ini adalah ikhtiar, berarti mengaitkan sesuatu dengan hal yang tidak menjadi sebab terjadinya. Selain itu, tindakan ini mengandung bentuk ketergantungan kepada selain Allah 'azza wa jalla yang akan menodai akidah seorang.

Bisa jadi, ada yang mengatakan bahwa ini hanyalah sebuah tradisi leluhur yang menunjukkan kepada kita bahwa negeri ini kaya akan budaya dan peradaban. Kita katakan, benar bahwa hukum asal adat kebiasaan manusia yang biasa mereka lakukan di tengah masyarakat adalah boleh (mubah) selama tidak berseberangan dengan kaidah-kaidah agama. Adapun dalam upacara ini, tidak demikian keadaannya.

Karena itu, mengapa kita tidak mengubah tradisi yang keliru, yang mengandung bentuk penyia-nyiaan waktu, harta, tenaga dan justru mencederai akidah, dengan upaya-upaya yang sesuai dengan syariat, semisal memohon kemudahan dan kebaikan kepada Allah 'azza wa jalla serta upaya-upaya lain yang dibenarkan secara medis dan nalar yang sehat. Allah 'azza wa jalla berfirman: "Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku." (Al-Baqarah: 186)
Ada pula tradisi neloni atau ngupati (ngapati), yaitu tradisi membuat makanan tertentu untuk disedekahkan kepada para tetangga ketika kandungan menginjak usia tiga atau empat bulan dengan tujuan yang tidak jauh dari yang disebut di atas.

Amal sedekah memang salah satu sebab yang bisa menjaga seorang dari kejelekan dengan seizin Allah 'azza wa jalla. Akan tetapi, yang jadi masalah, mengapa jenis makanan yang disedekahkan harus ditentukan, misalnya nasi ketan yang dibungkus, buah pekarangan, jenis umbi-umbian, labu/waluh, dan lainnya? Lagi pula, mengapa harus dilakukan pada usia kehamilan tertentu?

Ada pula yang ketika hamil membaca surat tertentu Al-Qur'an, seperti surat Yusuf dan surat Maryam agar ketika lahir kelak menjadi anak saleh atau salihah, ganteng atau cantik, dan semisalnya.

Sebatas yang kami ketahui, hal ini tidak datang dari Nabi SAW dan para sahabatnya, sehingga termasuk dalam sabda Nabi SAW: "Barang siapa membuat-buat perkara baru dalam agama kami yang tidak ada padanya, ia tertolak." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Seandainya orang yang hamil membaca Al-Qur'an kemudian berdoa semisal, "Ya Allah, dengan bacaan Al-Qur'an ini, mudahkanlah aku saat melahirkan, atau jadikanlah anakku anak yang saleh," yang seperti ini adalah tawassul yang dibolehkan.

Diantara perkara mungkar yang acap dilakukan/diyakini oleh sebagian orang, orang hamil tidak boleh duduk di tengah pintu, tidak boleh makan dengan piring nasi diletakkan di atas telapak tangan, dan tidak boleh membunuh binatang. Demikian pula suaminya memiliki pantangan-pantangan tertentu. Apabila dicermati, semua itu hanyalah takhayul.

Ada pula yang sampai pada tingkat kesyirikan, seperti membuat rajah-rajah agar mudah melahirkan. Rajah-rajah ini semacam jimat yang nasib seseorang digantungkan kepadanya. Pada rajah-rajah itu ada huruf/kalimat-kalimat serta angka-angka yang tidak dipahami. Diantara hal lain yang termasuk kesyirikan ialah orang hamil mendatangi kuburan tertentu lalu meminta keselamatan dan kemudahan kepada orang yang dikubur di dalamnya.

Kemungkaran di Hari Kelahiran

Diantara kemungkaran di hari melahirkan adalah perawat/bidan lelaki menangani proses kelahiran padahal ada bidan perempuan. Demikian pula keyakinan sebagian orang bahwa apabila bayi laki-laki terlahir saat bulan purnama, kuncup kemaluannya akan melebar hingga seperti sudah terkhitan. (Ahkamul Maulud fis Sunnah al-Muthahharah hlm. 139)

Ritual Setelah Kelahiran

Seperti yang sudah disebutkan bahwa setiap daerah atau suku memiliki budaya dan ritual yang berbeda-beda yang tidak mungkin sebagian besarnya ditampilak disini. Diantara tradisi yang mungkar adalah upacara mendhem (mengubur) ari-ari atau plasenta. Dalam prakteknya, upacara adat ini terkadang berbeda-beda caranya. Ada yang dengan cara plasenta dicuci lalu dimasukkan ke dalam periuk/kendi yang terbuat dari tanah. Ada beberapa barang yang ikut dimasukkan ke dalam kendi sebagai persyaratan, semisal minyak wangi, jarum, beras merah, kunyit, garam, pensil, buku, bawang merah dan lain-lain. Setelah itu, plasenta dikuburkan di samping rumah dan diberi lampu. Ada yang melabuhkan plasenta di sungai atau melarungnya (dihanyutkan) di laut. Mereka berharap supaya bayinya pintar, banyak rezeki, jalannya terang, apabila bepergian tahan lama, suka merantau, dan semisalnya. Sebagian orang meyakini bahwa plasenta adalah saudara kembar bayi yang harus dirawat.

Ritual-ritual diatas tentu bukan dari Islam. Seandainya pun ari-ari harus dikubur, mengapa harus ada ritual-ritual seperti itu? Lebih parah lagi ketika ritual tersebut diiringi zikir-zikir dan lantunan ayat suci, karena termasuk kebid'ahan.

Kaidah untuk Mengenal Bid'ah

Sesungguhnya, kebid'ahan yang telah ditegaskan oleh syariat tentang kesesatannya adalah:
  1. Semua ucapan, perbuatan, atau keyakinan yang menyelisihi sunnah walaupun sumbernya adalah ijtihad.
  2. Setiap perkara yang dijadikan bentuk pendekatan kepada Allah 'azza wa jalla padahal Nabi SAW telah melarangnya.
  3. Semua perkara yang tidak mungkin disyariatkan kecuali dengan adanya nash atau penjelasan dari syariat, padahal tidak ada, maka itu adalah bid'ah. Berbeda halnya jika sebuah amalan ada sumbernya dari sahabat Nabi SAW dan dilakukan oleh sahabat tersebut secara berulang-ulang tanpa ada pengingkaran.
  4. Segala adat istiadat orang kafir yang dimasukkan ke dalam ritual ibadah.
  5. Penegasan sebagian ulama, lebih-lebih ulama belakangan, tentang sunnahnya (sesuatu) padahal tidak ada dalilnya.
  6. Semua bentuk ibadah yang tidak disebutkan tata caranya kecuali oleh hadits dhaif (lemah) atau maudhu' (palsu).
  7. Berlebih-lebihan dalam ibadah.
  8. Semua ibadah yang tidak diberi batasan oleh syariat lantas manusia memberika batasan-batasan (persyaratan-persyaratan) seperti tempat, waktu, bentuk, dan jumlah tertentu. (Ahkamul Janaiz hlm. 306)

Penutup

Sebagai penutup, kami akan menyebutkan hukum membatasi keturunan. Sesungguhnya nash-nash (dalil-dalil) syariat dari Al-Qur'an dan Sunnah, demikian pula ijma' dan qiyas telah menetapkan bahwasanya tidak boleh secara mutlak membatasi keturunan dan tidak boleh mencegah kehamilan apabila alasannya takut fakir (miskin). Sebab, Allah 'azza wa jalla adalah Dzat Pemberi Rezeki lagi Maha Kuat. Membatasi kehamilan bertentangan dari tujuan syariat (yaitu perintah) memperbanyak umat Islam.

Adapun melakukan upaya pencegahan kehamilan yang bersifat sementara dalam kondisi personal karena adanya mudarat yang nyata, seperti seorang wanita tidak bisa melahirkan secara normal dan perlu operasi cesar untuk mengeluarkan janinnya, atau wanita tersebut mudah hamil sementara kehamilan menjadikannya sangat lebih (repot) sehingga ia ingin mengatur kehamilannya, umpamanya setiap dua tahun dan semisalnya, maka yang seperti ini dibolehkan, dengan syarat mendapat izin dari suami dan tidak berisiko bagi wanita tersebut. Dalilnya, para sahabat dahulu melakukan 'azl (mengeluarkan sperma di luar kemaluan istri) dimasa Nabi SAW agar istri-istri mereka tidak hamil, dan mereka tidak dilarang dari hal tersebut. Bisa jadi, mencegah kehamilan menjadi sesuatu yang harus dilakukan, yakni ketika ada mudarat yang jelas (baginya). (Al-Fiqhu wa Ushuluhu lish Shaffi ats-Tsalits ats-Tsanawi hlm. 62. Lihat juga ketetapan Hai'ah Kibar 'Ulama no. 42 pada tanggal 13/4/1396 H).

Wallahu a'lam bish-shawab. Walhamdulillahi Rabbil 'alamin, wa shallallahu wa sallam 'ala nabiyyina Muhammad wa 'ala alihi wa shahbihi ajma'in.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Mu'thi Sutarman, Lc.

Hukum Wanita Memelihara Kuku

Bagaimana hukumnya memanjangkan kuku dan memeliharanya?


Sebagai orang yang cinta kepada Rasul, tentunya ia akan mengikuti jejak beliau. Dimana beliau SAW telah bersabda:

"Lima fithrah manusia yang harus dikerjakan yaitu, khitan, mencukur rambut (bawah), menggunting/merapikan kumis, memotong kuku dan mencabut rambut ketiak". (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Ahmad).

Dengan demikian, wanita ataupun lelaki yang memanjangkan kukunya berarti ia telah menyalahi fithrahnya, dan juga berarti ia tidak mencintai Rasul-Nya. 

Ketauhilah, bahwa yang disebut cinta Rasul itu bukanlah dengan disanjung-sanjung melalui bait-bait sya'ir atau lagu-lagu dalam kaset yang sekarang sedang menjamur. Tetapi, yang disebut cinta Rasul itu adalah mengikuti jejak perilaku beliau dalam segala hal, termasuk disini memotong kuku. 

Jika kita ikut-ikutan memanjangkan kuku, berarti kita seperti binatang buas yang memang membutuhkan kuku panjang untuk menerkam mangsanya.

Oleh Ustadz Labib Mz

Hukum Wanita Operasi Plastik

Bolehkah wanita melakukan operasi plastik dengan tujuan untuk keindahan wajahnya?


Sejauh ini belum ditemukan nash Al Qur'an ataupun Al Hadits yang melarang melakukan operasi plastik demi keindahan wajah. Tetapi ada pendapat yang mengatakan, bahwa operasi plastik itu haram, karena merubah ciptaan Allah yang sudah ada. Bagi kami, pendapat ini kurang tepat.

Sebab sebenarnya yang dilarang itu adalah, merubah ciptaan yang sudah sempurna. Satu contoh, wanita muda merasa hidungnya terlalu besar. Agar nampak indah dipandang, hidung besar itu diperkecil. Nah, dengan cara operasi plastik semua itu bisa terwujud.

Dengan demikian, merubah ciptaan dengan tujuan memperindah dari yang kurang sempurna, adalah diperbolehkan. Mengingat ada sebuah hadits yang menyatakan, bahwa Nabi saw bersabda: "Innal laaha jamiilun yuhibbul jamaala".

Artinya:

"Sesungguhnya Allah itu indah, dan Dia mencintai keindahan". (HR. Muslim)

Karena itu, bagi kami sangat cenderung pada sebagian ulama' yang berpendapat membolehkan operasi plastik untuk kemaslahatan. Seperti halnya, operasi itu dilakukan untuk meningkatkan hubungan suami istri, demi kebahagiaan dan keutuhan rumah tangga.

Oleh Ustadz Labib Mz.

Hukum Wanita Mengecat Kuku

Bolehkah wanita muslimah mengecat kuku ?



Sebagai wanita muslimah yang taat beribadah, termasuk ibadah shalat lima waktu, tentunya tidak akan menghiasi kukunya dengan cat pewarna sebagaimana dilakukan kebiasaan wanita-wanita sekarang. 

Karena cat kuku akan menghalangi merasuknya air ketika berwudhu. Sedangkan kuku termasuk bagian dari anggota badan yang harus terkena air wudhu'.

Nah itulah sebabnya, maka wanita muslimah yang taat beribadah tidak akan sekali-kali mengecat kukunya. Karena tidak mungkin membuang/menghapus cat kuku setiap akan shalat, dan mengecatnya kembali setelah shalat. 

Dan sebagai wanita muslimah, tentunya ia akan peduli terhadap shalatnya yang merupakah tiang agama dan sekaligus sebagai pembeda antara si Muslim dan si Kafir dari pada mengecat kuku hanya sekedar kesenangan lagi tidak ada manfaatnya.

Oleh Ustadz Labib Mz

Hukum Wanita Menyambung Rambut

Bolehkah wanita muslimah menyambung rambutnya dengan rambut palsu atau dengan rambut orang lain ??


Menyambung rambut dengan rambut palsu atau dengan rambut orang lain adalah sangat dilarang oleh agama.

Sebagaimana dikisahkan oleh Asma' binti Abu Bakar, bahwa suatu hari seorang wanita datang kepada Nabi Muhammad SAW, dan berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya anak gadisku baru saja kawin, tetapi dia terserang campak sehingga rambutnya rontok. Apakah aku harus menyambungnya ?"

Beliau menjawab: "Allah mengutuk wanita yang menyambung rambut dan yang meminta untuk disambungkan". (HR. Muslim)

Walhasil, berdasarkan hadits diatas, bahwa menyambung rambut itu adalah perbuatan terkutuk, karena itu sebaiknya dijauhi. Namun perlu diketahui, bahwa memendekkan rambut itu boleh, asalkan setelah rambut itu pendek jangan disambung kembali dengan rambut palsu.

Oleh Ustadz Labib Mz

Back To Top