Sajadah Muslim

Membahas Tentang Seputar Ilmu Agama Islam

Hukum Wanita Menikah Tanpa Wali

Sah kah wanita menikah tanpa seorang wali??

Tidak dapat diragukan, pernikahan wanita tanpa ridha walinya merupakan dosa, dan pernikahannya menjadi batal.


Hal ini beralasan dari sebuah hadist yang bersumber dari Abu Musa, bahwa Nabi SAW bersabda:

"Tidak ada perkawinan kecuali dengan wali". (HR. lima kecuali Nasa'i).

Juga beralasan hadist riwayat 'Aisyah ra bahwa Nabi SAW bersabda:

"Siapa pun yang kawin tanpa izin walinya, maka perkawinannya batil, perkawinannya batil, perkawinannya batil. Jika ia dise*ubuhi, maka baginya maskawin karena kemaluannya telah dihalalkan. Jika mereka (kaum keluarga) berselisih, maka pejabat negara (hakim) bisa menjadi wali bagi orang yang tidak mempunyai wali".

Oleh Ustadz Labib Mz.

Hukum Wanita Muslimah Menikahi Lelaki Komunis

Bolehkan seorang wanita Muslimah dinikahi oleh lelaki komunis?

Ajaran Komunis adalah ajaran yang tidak mengakui adanya Tuhan. Menurutnya alam semesta ini ada dengan sendirinya, tanpa ada yang menciptakan. Karena itu, ajaran Komunis sangat bertentangan dengan ajaran Agama, baik ajaran Agama Islam atau agama-agama yang lainnya.


Ajaran agama mempercayai adanya Tuhan, sedangkan ajaran Komunis tidak.

Agama dianggap sebagai khurafat dari sisa-sisa kebodohan yang membelenggu jiwa manusia itu sendiri. Karena itu Karl Marx menandaskan, "Agama adalah candu rakyat".

Ideologi Komunis adalah ideologi materialis. Dengan demikian faham Komunis selalu kontra dengan segala hal dibalik materi, tidak percaya hal yang gaib. Seperti adanya Tuhan, adanya roh, wahyu, akhirat dan segala yang gaib.

Nah, jika demikian adanya ajaran Komunis itu, maka jelas ajaran ini bersimpangan jalan dengan ajaran agama. Dan secara nyata, orang Komunis adalah musuh bagi orang-orang yang beragama.

Betapa tidak, dalam peristiwa G30S, masih terngiang di telinga kita. Berapa Jenderal yang dibantai secara keji oleh orang-orang Komunis pada tahun 1965? Dan penduduk Chehnya yang Muslim dibantai secara keji oleh orang Rusia yang Komunis itu?

Lantas apa alasannya orang tua Muslim menikahkan anak wanita yang Muslimah dengan orang Komunis?

Hal ini bila terjadi, maka sama halnya menjerumuskan anaknya ke jurang kesesatan. Islam melarang wanita Muslimah menikah dengan lelaki Komunis.

Oleh Ustadz Labib. Mz

Hukum Pernikahan Shighor

Benarkah Agama Islam membolehkan pernikahan Shighor? Karena ada beberapa madzhab membolehkan pernikahan itu?

Nikah Shighor yaitu saling menukar anak wanita untuk dinikahkan. Contoh, Aman menikahkan anak gadisnya dengan seorang laki-laki bernama Azam. Sebaliknya, Azam sebagai menantu Aman, menikahkan anak gadisnya dengan Aman sebagai mertua Azam. Dalam pernikahan ini tidak ada mahar atau maskawin, baik untuk Aman dan Azam.


Nikah Shighor ini berlaku pada Zaman Jahiliyah. Tetapi setelah Islam datang, pernikahan ini dihapus. Bahkan diharamkan dengan tegas.

Nabi Muhammad SAW bersabda: "Tidak ada (pernikahan Shighor) dalam Islam".

Jika masih ada orang yang menjalani pernikahan ini, pelakunya harus dipaksa bercerai, dan harus diadili oleh pengadilan Agama.

Memang ada sebagian Madzhab yang membolehkan pernikahan ini, tetapi masing-masing wanita yang dinikahkan diberi maskawin dengan nilai yang sama

Oleh Ustadz Labib. Mz

Hukum Menikah Dengan Keluarga Dekat

Manakah yang lebih baik, menikah dengan wanita yang masih kerabat sendiri atau dengan wanita lain?

Pada umumnya orang tua yang berpenghidupan cukup (kaya), biasanya ia tidak akan menikahkan anaknya kecuali jika dengan sanak kerabatnya sendiri, karena ada tujuan-tujuan tertentu. Diantaranya, agar harta yang dimilikinya itu nanti tidak jatuh ke tangan orang lain. Padahal Nabi SAW telah menganjurkan agar menikah dengan orang lain yang bukan sanak kerabat.


Coba bayangkan, menikah dengan sanak kerabatnya sendiri berarti sanak kerabatnya tidak bertambah. Tetapi, jika ia menikah dengan orang lain yang tidak ada hubungan kerabat sama sekali, maka berarti sanak kerabatnya telah bertambah dan bertambah, sehingga bisa menjadi keluarga besar dan kuat, berkat dukungan sanak kerabat dari segala lapisan.

Nah, mungkin itulah yang dimaksud Nabi SAW menganjurkan supaya menikah dengan orang lain yang tidak ada hubungan sanak kerabat.

Bukankah Allah mengharamkan menikahi wanita-wanita, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur'an surat An-Nisa ayat 23 mereka semua itu adalah wanita-wanita dari keluarga dekat? Sejak dari diharamkannya menikahi ibu kandung sampai diharamkannya menikahi saudara sesusu.

Sebagai hikmah diharamkannya menikahi keluarga dekat (muhrim) adalah dalam rangka menjaga keturunan dari terjadinya bahaya karena kontak syahwat antara mereka akan terjadi dengan lemah disebabkan rasa malu diantara mereka. Baca juga: Wajibkah Syahadat Dalam Pernikahan 

Nah, kalau syahwat lemah, keturunan pun akan menjadi lemah pula. Jika terjadi begitu, maka tidak akan sempurna bagi kesehatan, sebagaimana ditetapkan oleh ahli kedokteran dan anatomi (ilmu pengetahuan tentang bagian-bagian tubuh). Baca juga: Poligami Dalam Islam dan Aturannya

Hikmah lain adalah untuk menolak kerusakan, karena hubungan alami antara keluarga dan kerja sama dalam kehidupan, kehendak keadaan serta kerabat menyebabkan tidak adanya batas antara mereka. Manusia selalu tertuju penglihatannya kepada keluarga wanita.

Jika syariat Islam itu tidak membatasi hubungan antara mereka, maka penglihatannya akan tertuju pada kecantikan dan keindahannya yang itu merupakan sumber utama terjadinya perz*naan. Jika suatu ketika orang itu secara tidak sengaja terbentur pandangannya kepada wanita asing lantas terbelalak matanya keheran-heranan oleh kecantikannya, maka mungkin nafsunya akan mengajak untuk berbuat m*sum.

Nah, bagaimana dengan orang yang pandangan matanya selalu terbentuk terhadap wanita yang setiap saat tanpa orang lain tahu lantas berbuat maksiat karena melihat kecantikannya?

Hikmah lain adalah untuk menghilangkan bahaya, yang dihasilkan kalau seandainya syariat Islam membolehkannya menikah dengan salah seorang anggota keluarganya. Hal itu karena nantinya kaum wanita akan teraniaya dan tertindas. Ketika terjadi pertengkaran antara suami-istri dari satu keluarga yang tidak diketahui orang lain, maka istri tidak mendapatkan orang yang bisa menolongnya. Inilah yang merupakan aniaya dan permusuhan yang nyata.

Dengan memandang hikmah yang agung ini, maka Allah SWT mengharamkan menikah dengan mereka.

Oleh Ustadz Labib Mz

Poligami Dalam Islam dan Aturannya

Mengapa poligami dalam Islam dibolehkan, sedang poliandri dilarang?

Poligami yaitu, seorang lelaki mengawini wanita lebih dari satu. Adapun poliandri yaitu, seorang wanita dinikahi lelaki lebih dari satu.

Pertanyaan ini seakan-akan menyudutkan Islam. Menuduh bahwa Islamlah yang melahirkan aturan tentang poligami. Padahal poligami sudah berlaku sejak jauh sebelum Islam datang. Dimana orang-orang Eropa termasuk Rusia, Yugoslavia, Jerman, Belgia, Inggris dan Swedia, semuanya adalah bangsa-bangsa yang berpoligami.


Demikian juga bangsa Timur yang tidak menganut Islam, seperti India, Jepang dan Cina, mereka juga berpoligami. Jadi, tidaklah benar jika dikatakan bahwa poligami hanya terdapat di negeri-negeri Islam.

Kita tahu, bahwa agama Nasrani tidak melarang poligami, dan hanya orang Yunani dan Romawilah yang bersikeras melarang Poligami, sampai mereka memeluk agama Nasrani tetap teguh mematuhi aturan itu. Karena mereka telah mengikuti kebiasaan nenek moyang mereka. Namun sungguhpun begitu, mereka banyak menyimpan wanita sebagai gundik.

Ketahuilah, bahwa agama Islam membolehkan poligami, adalah bertujuan untuk memuliakan derajat kaum wanita. Karena itu, sebagai wanita terhormat tentunya ia tidak rela dirinya digerayangi oleh banyak lelaki. Ia hanya mau melihat satu saja laki-laki pendampingnya.


Terkadang saking setianya, tidak jarang wanita menolak menikah lagi sepeninggal suaminya, walau menikah lagi agama membolehkan.

Coba banyangkan, apa akibatnya jika seorang wanita digerayangi oleh banyak laki-laki. Dima wanita ibarat satu wadah yang disiram oleh banyak laki-laki, tentunya akan menimbulkan penyakit, sebagaimana yang sering dialami oleh wanita-wanita pel*cur.

Nah itu diantara sebabnya, Agama Islam telah membolehkan poligami dan melarang poliandri.

Oleh Ustadz Labib Mz

Wajibkah Syahadat Dalam Pernikahan

Apakah dalam Islam ada perintah setiap seseorang akan menikah harus bersyahadat?

Sebenarnya, cara-cara yang pokok dalam pelaksanaan pernikahan yang diperintahkan itu hanya ada 3 perkara :
  1. Calon mempelai suka sama suka
  2. Saksi sekurang-kurangnya dua orang.
  3. Mahar (maskawin).

Selain itu, seperti wali dan beberapa peraturan dengan menjaga kebaikan dan kemaslahatan, dibenarkan oleh Agama. Adapun membaca syahadat tidak ada perintah dari Nabi, sebagaimana yang kita ketahui sekarang ini di beberapa tempat, itu memang ada baiknya. 


Karena, dengan mengucapkan kalimat syahadat, maka dapatlah membedakan antara orang Islam dengan ghoirul Islam. Padahal mereka mau nikah dengan cara Islam. 

Nah, bila dengan cara ini dilakukan, maka jika sang suami tidak mau melaksanakan kewajiban terhadap istrinya, sebagaimana yang diperintahkan oleh Agama, akan bisa dituntut menurut aturan Islam.


Jadi jelasnya, membaca kalimat syahadat setiap akan melaksanakan pernikahan itu tidak ada perintah dalam Agama, tetapi bila dilaksanakan ada baiknya.

Oleh Ustadz Labib Mz.

Hukum Nikah Mut'ah Halal atau Haram

Apakah Islam membolehkan nikah mut'ah?

Nikah mut'ah sama halnya nikah kontrak, yaitu menikah dengan seorang wanita buat sementara waktu, lalu diceraikan.

Dalam pernikahan ini tidak ada aturan maskawin, memberi nafkah, menerima warisan dan tidak ada aturan 'iddah. Hanya saja, wanita yang dinikahinya itu diberi upah berupa kain atau sesuatu buat satu masa.


Menurut suatu riwayat, nikah mut'ah ini pada mulanya diizinkan oleh Nabi pada seseorang yang bermukin sementara waktu di suatu tempat. Hal tersebut untuk menjaga seseorang yang tidak tahan jika tidak beristri. Dengan cara itu dapatlah terpelihara kehormatannya. Namun kemudian, pada hari penaklukan Mekkah, Beliau mengharamkan pernikahan ini dengan mengulang-ulang ucapannya sampai tiga kali.

Adapun hadits yang melarang nikah mut'ah ini, adalah sebagai berikut:

Dari Saburah Al Juhani, bahwa ia adalah bersama Nabi saw, lalu beliau bersabda: "Wahai manusia, sesungguhnya aku pernah izinkan kamu kawin Mut'ah kepada wanita tetapi sekarang Allah telah mengharamkan yang demikian itu hingga hari kiamat. Maka barangsiapa ada padanya wanita nikahan mut'ah, hendaklah ceraikan dia, dan janganlah kamu ambil satupun dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka". (HR. Ahmad dan Muslim).

Dari Harits bin Ghaziyah berkata: "Aku telah mendengar Nabi saw berkata pada hari penaklukan Mekkah: "Kawin Mut'ah dengan wanita itu haram, (Beliau berkata begitu) tiga kali". (HR. Thabrani).

Menanggapi masalah ini, maka kawin mut'ah dalam Islam sudah tidak ada lagi sampai hari kiamat, karena Nabi saw dengan keras telah mengharamkannya. Dan kalau pun masih ada yang melakukan perkawinan ini, maka hubungannya antara suami istri menjadi hubungan perzinaan.

Oleh Ustadz Labib Mz.

Perihal Tentang Ibadah Haji Dan Umrah

Sajadah Muslim ~ Haji menurut bahasa artinya adalah menuju. Seperti kata AI Khalil, banyak menuju  kepada yang dipertuan. Sedang menurut arti istilah adalah menuju ke Baitullah AI Haram Makkah untuk menunaikan ibadat tertentu, dengan beberapa syarat-rukun tertentu pula.


Adapun Umrah menurut bahasa artinya berziarah. Seperti orang mengatakan: Berkunjung/berziarah kepada Fulan. Namun ada yang mengatakan : Menuju tempat ramai.

Sedang Umrah menurut arti istilah adalah menuju ke Baitullah Al Haram Makkah pada selain waktu haji, untuk menunaikan ibadat tertentu dengan syarat-syarat tertentu pula.


lbadat haji sudah dikenal dari masa Nabi Ibrahim. Ia adalah salah satu dari rukun Islam yang lima, yang diwajibkan pada tahun ke sembilan seteIah  Nabi Muhammad hijrah ke Madinah. 

Sejak dimasa Nabi Ibrahim dan putranya Isma'il, Allah menyuruh membangun Baitullah (Ka'bah), kemudian disuruh mengajak umat manusia menziarahi rumah Allah tersebut dengan tujuan beribadah. Sejak ituJah bangsa Arab di sekitarnya setiap tahun berbondong-bondong menuju Ka'bah untuk melaksanakan ibadah haji dengan cara syari'at Nabi Ibrahim as. Pelaksanaan haji berjalan terus sampai pada masa Nabi Muhammad saw sebagai Rasul utusan Allah. Dalam kurun waktu yang begitu panjang, pelaksanaan haji sedikit demi sedikit  berubah dari ajaran semula, tidak lagi secara murni dilaksanakan seperti petunjuk Nabi Ibrahim. Jika dalam ajaran semula kedatangan jama'ah haji ke Baitullah secara bersama-sama untuk menghubungkan diri dengan Allah, bersih dari menyekutukan-Nya, maka secara berangsur-angsur ketauhidan itu menjadi samar, dan akhirnya beratus-ratus berhala digantung di keliling Ka'bah, dan kepada berhala-berhala itulah mereka memohon apa yang mereka inginkan. Pelaksanaan korban binatang ternak pun ditujukan kepada pembesar-pembesar berhala itu.


Kalau pada mulanya diantara hikmah ibadah baji yang ditujukan agar umat manusia terlatih merasa kebersamaan derajat di hadapan Tuhan mereka, namun pada masa jahiliyah malah terjadi sebaliknya. Dimana suatu kelompok yang khusus mengurusi Ka'bah dan memegang kuncinya   adalah kelompok yang menganggap dirinya lebih tinggi dari masyaraka lainnya, merasa tidak setaraf dengan sesamanya.

Muhammad Rasulullah datang mengajak umat manusia untuk kembali kepada agama Tauhid, yakni agama Nabi Ibrahim.

"Katakanlah: "Benarlah (apa yang di firmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus dan  bukanlah dia tergolong orang-orang yang musyrik". (QS. Ali Imran : 95)

Nabi Muhammad saw telah mendapati pelaksanaan haji yang tidak sesuai lagi dengan ajaran Tauhid. Oleh karena itu, termasuk tugas kerasulannya adalah mengembalikan ibadat  haji kedalam bentuk ibadat agama Tauhid. Maka mulai tahun ke 9 hijrah kepada beliau diberikan berbagai petunjuk tentang pelaksanaan haji seperti yang dilaksanakan Nabi Ibrahim. MuJai dari saat itu ibadat haji  kembali sesuai dengan yang dilaksanakan Nabi Ibrahim, yakni bersih dari syirik jahiliyah, dan berhala-berhala yang bergantung disekeliling Ka'bah itupun dibuang.


Pelaksanaan korban yang tadinya dipersembahkan kepada pembesar-pembesar berhala tersebut, dibersihkan semata-mata secara ikhlas dipersembahkan kepada Allah. Hal itu mengingatkan umat manusia betapa tinggi kesediaan berkorban yang dimiliki Nabi Ibrahim yang tidak ragu menebar pisau tajam di leher putranya tercinta Ismail, Pengorbanan jiwa untuk nilai yang lebih tinggi dari nilai jiwa itu sendiri, yaitu karena mematuhi titah Allah.

Demikian sekelumit tentang maju mundumya memurnikan pelaksanaan ibadah haji. Dan dalam masalah ibadah haji ini, banyak hal yang harus diketahui, terutama yang dalam masalah wanita, Dimana ibadah haji itu bukan hanya sekedar bisa pergi ke Baitullah, melainkan ada aturan-aturan tertentu, sehingga dengan diketahuinya aturan-aturan itu, diharapkan ibadah hajinya nanti akan  bisa sempurna, sampai ketingkat haji yang mabrur.

Oleh Ustadz Labib Mz

Kultum: Ternyata Nabi Dan Sahabat Terkemuka Juga Menangis

Sajadah Muslim ~ Alhamdulillah hilladzi akramnaa bil iimaan, wa a’azzanaa bil islam, wa rafa’na bil ihsan, ahmaduhu subhanahu wata’ala wa asykuruh, allahumma shollia wasallim wa barik ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa mantabi’ahum bi ihsani ila yaumiddin, amma ba’du.
 
Yang terhormat para alim ulama, para pejabat pemerintah baik sipil maupun militer, para ustadz  dan ustadzah, para bapak, ibu, hadirin dan hadirat yang saya muliakan.


Mengawali pertemuan kita melalui mimbar kultum kali ini, pertama­tama, marilah kita panjatkan  puji syukur kepada Allah, Tuhan sarwa sekalian alam. Shalawat dan salam, semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad saw, sebab beliau kita dapat mengetahui yang hak dan yang batil, yang halal dan yang haram, antara jalan menuju ke surga dan jalan menuju ke neraka.

Hadirin dan hadirat sekalian yang saya hormati

Pernah suatu malam di bulan Rajab, ketika Nabi saw bangun tengah malam lalu beliau menuju masjid dan ketika sampai di depan pintu masjid beliau menghentikan langkah kakinya, karena terdengar suara tangisan Abu Bakar dalam keadaan shalat malam. Saat itu Abu Bakar ra sedang membaca ayat 111 dari surat At-Taubah: 

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka." (QS. At-Taubah: 111).

Di tempat lain masih dalam masjid itu, terdengar pula suara tangisan Ali ra di tengah-tengah menunaikan shalat malam, ketika itu ia sedang membaca ayat 9 dari surat Az-Zumar yang artinya: "Katakanlah adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang  berakallah yang dapat menerima pelajaran." (QS. Az-Zumar: 9).

Di sisi lain dalam masjid itu, terdengar pula suara tangisan sahabat Mu'adz bin Jabal sedang dalam menunaikan shalat malam yang hendak menghatamkan AI-Qur'an dalam shalatnya. Dan terdengar pula suara tangisan sahabat Bilal sedang dalam menjalankan shalat malam dan hendak mengkhatamkan Al-Qur'an dalam shalatnya, sebagaimana ketiga sahabat tersebut.

Nabi menjadi terbaru dan ikut menangis bersama mereka, air mata jatuh tergerai dengan suara  yang tertahan, karena tangisan beliau tak terdengar suaranya, tetapi air matanya begitu deras mengalir membasahi pipi beliau yang mulia. Setelah mereka selesai menunaikan shalatnya, beliau beranjak pergi, sementara mereka tidak mengetahui kalau aktivitas ibadah mereka itu disaksikan  oleh Nabi saw yang ikut menangis bersama mereka, di depan pintu masjid.

Hadirin dan hadirat sekalian yang saya hormati

Sesudah menunaikan jama'ah shalat Shubuh, dengan perasaan gembira dan wajah berseri-seri beliau menghadap pada para jama'ah dan berkata: "Wahai Abu Bakar, mengapa kamu semalam menangis ketika membaca firman Allah dalam surat At-Taubah yang artinya: "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan Surga untukmereka." (QS. At-Taubah: 111).

Abu Bakar menjawab: "Bagaimana aku tidak menangis, sementara Allah menyatakan dalam ayat itu, bahwa Ia akan membeli hamba-Nya. Jika hamba tersebut cacat, tentu Ia tidak akan mernbelinya,  atau jika cacat itu diketahui setelah dibeli, tentu pembeli itu akan mengembalikannya. Jika  aku cacat ketika dibeli atau baru terlihat cacatnya setelah dibeli dan Allah mengembalikanku, berarti aku menjadi penduduk neraka. Karenanya, aku menangis ketika membaca ayat tersebut." 

Tak lama kemudian, malaikat Jibril turun dan berkata: "Hai Muhammad katakan kepada Abu Bakar, bahwa jika pembeli mengetahui cacat budak, lalu tetap membeli dengan cacatnya, maka dia tidak memiliki kekuatan untuk mengembalikannya. Dan Allah swt Maha Mengetahui akan cacat hamba­ Nya sebelum menciptakannya. Maka berarti cacatnya itu Ia akan membelinya dan tidak akan mengembalikannya,   begitu pula cacat yang terdapat setelah dibeli."  Mendengar penjelasan Jibril itu, Rasulullah menjadi gembira, begitu pula para sahabat, utamanya Abu bakar ra.

Lalu Nabi saw bertanya kepada Ali: "Wahai Ali mengapa kamu menangls ketika membaca ayat 9 dari surat Az-Zumar: "Katakanlah adakah sama orang-orang yang mengetahui  dengan  orang-orang  yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang berakallah yang dapat menerima pelajaran." (QS. Az-Zumar: 9).

Ali menjawab: "Bagaimana aku tidak menangis membaca ayat tersebut, karena bapak kita Adam adalah orang yang lebih tahu, karena Allah mengajarinya nama-nama seluruhnya. Sementara aku tidak, maka tentu aku tidak sama seperti Adam. Maka aku menjadi menangis ketika membaca ayat tersebut."
                     .
Kemudian Jibril  datang  dan berkata:  "Wahai Muhammad, katakan kepada Ali bahwa maksudnya tidaklah begitu. Tetapi pada hari kiamat nanti, orang-orang kafir tidak bersama dengan orang-orang yang beriman. Karena orang kafir menyembah berhala dan tidak beriman kepada Allah dan tidak pula hari akhir. Sedangkan orang yang beriman menyembah Allah, setiap waktu mengucapkan, "Laailaaha illallah, muhammadur rasulullah", jika orang-orang yang beriman berbuat kebaikan,  mereka senang dan memuji Allah, jika  berbuat  kesalahan mereka beristighfar, mernobon ampun kepada Allah swt. Maka pasti tidak sama antara orang­orang kafir dengan orang-orang yang  beriman. Orang kafir tempatnya di neraka, sedangkan orang yang beriman tempatnya di surga."

Hadirin dan hadirat sekalian yang saya hormati

Demikianlah, kultum yang dapat saya sampaikan dalam kesempatan kali ini, semoga Allah senantiasa  melimpahkan rahmat, taufiq dan hidayahNya kepada kita, agar kita menjadi selamat dan bahagia di  dunia dan akhirat, amin. Akhirnya,  terima  kasih atas perhatiannya  dan mohon maaf atas kesalahan  dan kurang lebihnya. Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq, tsummas salamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Oleh Ustadz Abdullah Farouk & Ustadz MS. Ibnu Hasan
 

Kultum: Orang Yang Bertobat Menjadi Kekasih Allah

Sajadah Muslim ~ Bismillahirrahmanirrahim alhamdulillahi rabbil ‘alamin wa sholatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’i wal mursalin sayyidina wamaulana Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’iin, amma ba’du.
 
Kepada yang terhormat bapak ...... para ustadz dan ustadzah, para bapak, ibu, hadirin dan hadirat  yang saya muliakan.


Mengawali jumpa kita melalui mimbar kultum kali ini, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah yang telah memberikan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada kita, sebingga kita bisa bertemu muka dan berkumpul di tempat ini tanpa ada suatu halangan apapun. Shalawat dan salam, semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad saw yang begitu besar cinta dan keinginannya kepada umatnya agar selamat dari siksa api neraka.

Bapak, Ibu, Saudara Sekalian yang Saya hormati

Dosa, ibarat racun yang akan membinasakan bagi yang meneguknya. Setiap dosa akan menimbulkan   ekses yang mangantarkan pada kemudharatan dan kesengsaraan. Dosa menjadi tirai penghalang   untuk dapat sampai dan bertemu dengan sang kekasih.

Namun demikian, Allah tetap membuka pintu tobat selebar-lebamya dan Ia sangat mencintai hamba-Nya yang bertobat dengan sebenar­benarnya. Imam Muslim meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda: "Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di waktu malam agar orang yang berdosa di siang hari bertobat, dan membentangkan tangan-Nya di waktu siang agar orang yang  berdosa di malam hari bertobat. Yang demikian itu hingga matahari terbit dari barat." (HR. Muslim).

Imam Tirmidzi meriwayatkan hadis sahih: "Sesungguhnya di arah barat terdapat pintu (tobat) yang luasnya seluas perjalanan empat puluh tahun atau tujuh puluh tahun, Allah senantiasa membuka pintu itu sejak Ia menciptakan langit dan bumi dan tidak akan menutupnya sampai matahari terbit dari padanya (arah barat), agar  supaya manusia bertobat." (HR. Tirmidzi).

Allah swt berfirman: "Hai orang-orang yang beriman bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menutupi kesalahan-kesalahan kamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai." (QS. At-Tahrim: 8).

Allah swt juga berfirman dalam ayat lain: "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat  dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri." (QS. Al-Baqarah: 222).

Bapak, Ibu, Saudara Sekalian yang Saya hormati

Nabi saw memberikan gambaran kesenangan Allah terhadap orang yang bertobat, sebagaimana dalam hadis berikut ini. Beliau saw bersabda: "Sesungguhnya Allah lebih senang alas seorang hamba beriman yang bertobat, dari pada kesenangan yang dirasakan oleh seorang laki-laki yang tersesat jalan bersama binatang tunggangannya di padang luas yang ganas. Pada binatang yang dikendarainya itu terdapat bahan makanan, minuman dan perbekalan lainnya. Karena  kelelahannya ia menyandarkan kepalanya di padang yang ganas lagi mematikan itu hingga terlelap dan tertidur beberapa jenak: Setelah terjaga betapa terperanjatnya sebab binatang kendaraan yang membawa perbekalanya itu raib, hilang entah ke mana. LaLu ia mencarinya  ke sana ke mari hingga sangat lelah, haus dan terbakar terik matahari. Di tengah kecemasan dan kelelahannya itu ia mengaduh  dan kembali ke tempat semula, lalu dengan penuh perasaan yang tidak menentu ia merebahkan  tubuhnya. Ia membaringkan kepalanya dengan berbantal tangannya penuh kepasrahan, biarpun   harus  mati.

Ketika  ia terjaga dari keterlelapanya, tiba-tiba kendaraan yang membawa makanan,  minuman dan perbekalan lainnya itu berada di hadapannya kembali. Alangkah senangnya dia.  Tetapi Allah lebih senang dengan tobatnya seorang hamba yang beriman, dari pada kesenangan   yang dirasakan oleh orang yang menemukan kembali kendaraan beserta barang perbekalannya itu."

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: "Apabila seorang hamba bertobat, niscaya Allah akan menerima tobatnya. Lalu Allah melalaikan Malaikat Hafadhah terhadap kesalahan-kesalahan hamba itu yang telah ditulis olehnya dan Ia juga melalaikan seluruh anggota tubuhnya  atas kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya, serta melalaikan tempatnya di bumi (di mana dia pernah melakukan dosa) dan kedudukannya di langit, agar supaya ketika ia datang pada hari kiamat, tidak ada sesuatupun dari makhluk yang memberikan kesaksian terhadap kesalahannya tersebut."

Nabi saw juga bersabda: "Orang yang bertobat itu menjadi kekasih Allah. Dan orang yang bertobat dari dosa, menjadi seperti orang yang tidak memiliki dosa. "

Bapak, Ibu, Saudara Sekalian yang Saya hormati

Mengakhiri kultum dalam kesempatan yang mulia ini, marilah kita berdoa semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia serta petunjuk-Nya kepada kita.  Demikianlah yang dapat saya sampaikan, terima kasih atas perhatiannya dan mohon maaf atas kesalahan dan kurang lebihnya.

Hadanallah waiyyakum ajma'in, was salamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Oleh Ustadz Abdullah Farouk & Ustadz MS. Ibnu Hasan
 
Back To Top