Sajadah Muslim

Membahas Tentang Seputar Ilmu Agama Islam

Bolehkah Wanita Mandi Junub Tidak Membasahi Rambutnya

Sajadah Muslim ~ Boleh wanita mandi junub tanpa membasahi rambutnya ?


Jawabannya ialah :

Dalam masalah ini, para ulama telah berbeda pendapat, Sebagaimana mereka wajib membasahi rambutnya, tanpa ada satupun rambut yang ketinggalan tidak kebasahan. Sebagian yang lain tidak kewajiban membasahi seluruh rambutnya, akan tetapi cukup dengan menuangkan air tiga kali diatas kepalanya, sehingga tidak kewajiban pula membuka sanggul. 

Pendapat pertama, bahwa wanita mandi junub ia wajib membasahi seluruh rambutnya dengan  sempurna tanpa ada satupun rambut yang ketinggalan. Mereka beralasan hadits :

"Ali bin Abi Thalib ra berkata: "Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa membiarkan satu tempat rambut yang berjunub dengan tiada kena air, maka Allah akan membuat kepalanya begini dan begini dari neraka". ali bin Abi Thalib berkata : "Karena itu aku memotong rambutku". (HR. Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah)

Juga beralasan hadits sebagai berikut :

"Abu Hurairah ra berkata : "Rasulullah saw pernah bersabda: "Setiap rambut ada janabatnya. Karena itulah maka basahilah rambutmu dan bersihkan kulitmu". (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Baihaqi)

Kedua hadits diatas telah memerintahkan kepada kita didalam mandi junub supaya membasahi seluruh rambut tanpa ada satupun rambut yang ketinggalan agar kita selamat dari ancaman siksa Allah. Adapun alasan yang dikemukakan oleh golongan kedua, bahwa cukup dengan menuangkan air ke kepala tanpa membuka sanggul, mereka beralasan hadits :

Telah berkata Ummu Salamah ra kepada Rasulullah saw: “Aku adalah seorang wanita yang menyanggul rambutku. Karena itu, apakah aku harus membuka sanggul itu apabila (mandi) haidh dan jinabat?" beliau menjawab : "Tidak usah, melainkan cukuplah kamu menyiram kepalamu 3 kali, maka kamu bisa jadi bersih". (HR. Muslim)

Walhasil, golongan pertama harus membasahi seluruh rambut tanpa ada satupun rambut yang ketinggalan, sedang golongan kedua cukup menyiramkan air tiga kali di kepala tanpa membuka sanggul.

Menanggapi kedua pendapat ini, kami cenderung pada pendapat kedua mengingat haditsnya shahih. Berbeda dengan pendapat pertama, keshahihan haditsnya disangsikan oleh sebagian besar ahli hadits.

Oleh Ustadz Labib Mz
 

Bolehkah Wanita Belum Mandi Haidh Bercampur Suami?

Sajadah Muslim ~ Bolehkah wanita yang sudah bersih dari haidh tetapi ia belum mandi lantas bercampur dengan suami ?


Jawabannya ialah :

Wanita yang bersih dari haidh itu tidak boleh dis*tubuhi oleh suami, kecuali bila ia sudah mandi.  Kebanyakan ulama' menghukumi haram, karena mereka beralasan firman Allah berikut ini :

"Dan mereka bertanya kepadamu tentang haidh.  Katakanlah : "Haidh  itu adalah kotoran, oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita diwaktu haidh, dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum  mereka sud. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang  diperintahkan Allah kepadamu....".  (QS. Al Baqarah : 222)

Oleh Ustadz Labib Mz
 

Bolehkah Wanita Baca Dan Sentuh Al Quran Saat Hadats Besar

Sajadah Muslim ~ Bolehkah wanita haidh (berhadats besar) membaca atau menyentuh Al Quran ?


Jawabannya ialah :
Banyak ulama yang mengharamkan pada wanita membaca Al Quran dalam keadaan haidh atau junub. Mereka beralasan dengan hadits berikut ini :

Ibnu Umar ra berkata : "Nabi saw bersabda: "Tidak boleh membaca Al Quran orang  yang junub dan tidak boleh (juga) wanita haidh". (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Majah)

Juga mereka beralasan hadits berikut ini :

Jabir ra berkata: "Nabi saw bersabda: "Wanita haidh dan nifas tidak boleh membaca sesuatu dari pada AI Quran". (HR. Daruquthni).

Tetapi kedua hadits ini oleh sebagian ulama ahli hadits tidak mau menerimanya, karena dipandang sebagai hadits yang lemah. Dimana hadits pertama dalam isnadnya terdapat orang yang bernama Isma'il bin 'Iyasy, dia adalah dilemahkan oleh para Imam ahli hadits, seperti Imam Bukhari, Ahmad dan Iainnya.

Sedang pada hadits yang kedua dalam isnadnya terdapat orang yang bernama Muhammad bin Fadhil, dia adalah tergolong  orang yang  terkenal tukang pemalsu hadits.

Walhasil, tentang pengharaman wanita haidh dan berhadats besar dalam menyentuh dan membaca  Al Qur'an tidak ada alasan yang kuat. Karena itu, maka kami kembalikan pada jawaban sebelumnya, bahwa dalam segi I'tiqadnya orang muslim itu adalah suci, kenapa musti berwudhu bila akan menyentuh atau membaca Al Qur'an. Toh Al Qur'an itu bacaan orang muslim, bukan orang non muslim.

Oleh Ustadz Labib Mz
 

Wudhu Bersentuhan Dengan Wanita

Sajadah Muslim ~ Ada sebuah pertanyaan, batalkah wudhu jika bersentuhan dengan wanita ?


Jawabannya ialah :

Dalam masalah ini, para ulama ada dua pendapat.  Adapun pendapat pertama bersentuhannya lelaki dengan wanita yang boleh dik*win tanpa berlapis, baik dengan sy*hwat atau tidak dapat membatalkan wudhu. Sedang pendapat yang kedua bersentuh lelaki dengan wanita itu tidak membatalkan wudhu'. Mereka sama berlandaskan dalil Al Qur'an menurut faham masing-masing. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:

".....atau kamu telah menyentuh perempuan kemudian kamu tidak mendapatkan air, maka bertayammumlah  kamu  dengan tanah  yang  suci .....". (QS. An Nisa'  : 43)

Kata (lamasa) disini golongan pertama mengartikan bersentuhan kulit, sebagaimana bersentuhan suatu barang dengan lainnya. Sedang golongan kedua mengartikan bers*tubuh, mengingat bahasa Al Qur'an itu bahasa yang halus. 

Pendapat kedua ini telah didukung oleh sebuah hadits yang menyatakan:

“Aisyah ra berkata: “Adalah aku tidur dihadapan Rasulullah saw sedang  kedua kakiku menghadap  beliau, maka apabila sujud bellau memecitku, lalu aku menarik kakiku, kemudian jika beliau berdiri, aku ulurkan kakiku". Aisyah berkata : "Bahwa rumah-rumah pada masa itu tidak berlampu". (HR. Bukhari)

Juga ada hadits yang menyatakan:

“Aisyah ra berkata : "Pada suatu malam aku kehilangan Rasulullah saw dari tempat tidur, lalu akupun meraba beliau dalam gelap, maka tersentuhlah dua tanganku pada telapak kakinya yang tercacak, sedang beliau didalam sujud". (HR. Muslim, Tirmidzi dan Baihaqi)

Dengan demikian, menurut hadits diatas bersentuhan kulit antara lelaki dengan perempuan itu tidak  membatalkan wudhu.      
                .
Jadi, kata "lamasa" pada ayat diatas sangatlah tepat bila diartikan bers*tubuh, bukan bersentuhan kulit. Sebagaimana bersentuhan suatu barang dengan yang lain.

Oleh Ustadz Labib Mz
 

Hukum Memegang dan Membaca Al-Quran Tanpa Wudhu

Sajadah Muslim ~ Ada sebuah pertanyaan, Bolehkah kita menyentuh, memegang Al Qur'an tanpa wudhu'?


Jawabannya ialah

Pada mulanya turun perintah wudhu' itu berkaitan dengan shalat. Dimana sebelum kita mengerjakan shalat diharuskan berwudhu'  terlebih  dahulu.  Sebagaimana  tersebut  dalam firman Allah:

"Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu akan mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu  dan tanganmu hingga siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai kedua mata kaki". (QS. Al Maidah ayat 6).

 Adapun ada hadits yang menyatakan :

"Tidak akan (tidak boleh) menyentuh Al Qur' an melainkan orang  yang  sud". (HR. Al Atsram)

Menurut pengamat ahli hadits,  bahwa hadits  tersebut sanadnya  ada seorang yang lemah. Karena itu, para ahli hadits melemahkannya, termasuk Imam Nawawi.

Sementara kata sud disini adalah sud iftiqad. Sebagaimana tersebut dalam firman Allah: "Wahai orang-orang  yang  beriman,  bahwasanya orang-orang musyrik itu najis ....". (QS. At Taubah : 28).

Jadi, berdasarkan firman Allah diatas maka berarti orang muslim itu sud, yakni sud i'tiqadnya. Karena itu, kenapa harus berwudhu terlebih dahulu bila seorang muslim hendak memegang atau  menyentuh Al Quran?  Toh Al Quran itu pegangan orang  muslim, bukan  orang  musyrik.

Lalu bagaimanakah hukumnya membaca Al-Quran tanpa wudhu ?

Di atas tadi sudah kami jelaskan, bahwa  pegang Al Qur'an tidak  perlu berwudhu. Adapun tentang  membacanya itu, tidak ada seorang pun yang mengharuskan berwudhu, Karena  itu, jelaslah  bahwa  membaca Al Qur' an tidak perlu berwudhu.

Oleh Ustadz Labib Mz

Kultum: Keistimewaan Malam Qadar

MUKKADIMAH

Yang saya muliakan dan saya taati para alim ulama, para pejabat pemerintah baik sipil maupun  militer, para ustadz dan ustadzah, para bapak, ibu, hadirin  dan  hadirat  yang  saya  muliakan.


Mengawali  pertemuan kita melalui mimbar kultum kali ini, pertama­ tama,  marilah Kita panjatkan puji syukur kepada Allah, karena atas rahmat,  taufiq dan petunjuk-Nya, kita dapat berkumpul   dalam tempat yang baik ini tanpa ada suatu halangan apapun. Shalawat dan salam, semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad saw sebab beliau kita dapat  mengetahui yang hak dan yang  batil, yang halal dan yang haram, antara jalan menuju ke surga  dan jalan menuju ke neraka.

Bapak, ibu, hadirin dan hadirat sekalian yang saya muliakan

Malam qadar (lailatul qadar) merupakan malam kemuliaan yang teristimewa, Tidak ada suatu malam yang mendapat kehormatan begitu tingginya, selain lailatul qadar. Di dalam Al-Qur'an terdapat satu surat yang secara khusus menceritakan tentang malam lailatul qadar. Surat itu turun sewaktu Nabi masih di Mekkah, pada tahun-tahun  permulaan dari ke Nabian.

Allah swt berfirman dalam suratAl-Qadar ayat 1- 5, yang artinya: "Sesungguhnya Kami telah menurunkan dia (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu  turun malaikat-malaikat dan malaikat jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar". (QS. Al-Qadar: 1-5).

Sungguh keistimewaan terbesar telah diberikan oleh Allah kepada umat Nabi Muhammad saw di dalam bulan Ramadhan yaitu malam kemuliaan (lailatul qadar) yang nilainya lebih baik dari pada seribu bulan.

Surat Al-Qadar yang terdiri dari 5 ayat itu menyebutkan, pentingnya malam yang semalam itu. Suatu peristiwa besar sudah terjadi, turunya kitab suci Al-Quran dari Tuhan kepada  Nabi Muhammad. Untuk mengakhiri zaman kegelapan yang menyelubungi seluruh masyarakat manusia, untuk dibawa ke zaman terang benderang  dengan prinsip­ prinsip dan ajaran-ajaran  yang maha tinggi dari Tuhan. Pemindahan zaman yang penting ini di tandai Tuhan dengan lialatul qadar, malam maha  kuat  yang merobek dan  mengoyak-ngoyak segala  kegelapan. Dengan   segala  upacara  kebesaran,   turunnya Al-Qur'an  pada  malam itu dihantarkan suatu  barisan demonstran besar  dari  seluruh  malaikat yang  suci-suci dibawah  pimpinan malaikat  Jibril.

Diriwayatkan dari Anas r.a., ia berkata, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: "Ketika terjadi  malam lailatul qadar, maka turunlah malaikat Jibril dengan rombongan malaikat. Mereka  membacakan shalawat dan salam pada setiap hamba yang berdiri atau duduk yang sedang ziki kepada Allah  swt."

Abu Hurairah r.a. berkata:  "Malaikat-malaikat turun ke bumi pada malam  lailatul qadar lebih  banyak dari pada bilangan batu kerikil." Dibukalah  pintu-pintu langit untuk turunnya malaikat  itu, sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah riwayat bahwa cahaya memancar ke genap, penjuru menyibak dan mengusir segala gulita, kondisinya menjadi demikian sakral dan agung,  alam malakut menjadi terbuka.

Bapak, ibu, hadirin dan hadirat sekalian yang saya muliakan

Lafal "al-lail" (malam) disebut dalam Al-Qur'an sebanyak 92 kali, bahkan ada yang dijadikan persumpahan oleh  Tuhan, tetapi khusus untuk malam qadar ini diberikan kehorrnatan yang  sangat tinggi. Di dalam surat Ad-Dukhan ayat 3 malam  itu dinyatakan sebagai  malam yang diberi  berkah, hal itu tidak lain karena pada malam itu diturunkan AI-Qur' an sebagai petunjuk bagi  manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai  petunjuk itu dan pembeda antara  yang  hak  dan yang batil.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan, sesungguhnya Nabi Muhammad saw bersabda: "Barangsiapa yang  beribad di  di malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan  dan semata-mata  mengharapkan ridha Allah, maka akan diampuni  dosa-dosanya  yang  telah diperbuat sebelumnya". (HR. Bukhari  dan  Muslim).

Mengenai kapan terjadinya malam yang sangat mulia itu tidak ada yang mengetauinya secara persis. Tetapi yang pasti malam lailatul qadar itu terjadi pada suatu malam di bulan Ramadhan.  Kiranya hal itu memang sengaja dirahasiakan, agar seluruh malam-malam bulan Ramadhan terisi dengan  aktivitas peribadatan yang sungguh-sungguh. Kalau semuanya dimanfaatkan dengan  memperbanyak ibadah dan i'tikaf, tentu keistimewaan malarn yang begitu luar biasa itu diperolehnya,  beserta malam-malam lain  di  bulan, Ramadhan  yang nilai  pahalanya  juga berlipat-Iipat, Namun demikian, terdapat hadis yang mengindikasikan mengenai malam yang kemungkinan  besar sebagai terjadinya peristiwa yang amat istimewa itu (malam qadar). Sebagaimana hadis  yang diriwayatkan dari Umar r.a. sesungguhnya Nabi saw bersabda:  "Barangsiapa  yang menghidupkan  malam tanggal dua puluh tujuh dari bulan Ramadhan sampai subuh, maka itu lebih aku sukai dari pada berdiri beribadah dalam malam­malam  bulan  Ramadhan keseluruhannya."

Rasulullah saw juga bersabda: "Barangsiapa yang mengharap mendapatkan lailatul qadar, maka  hendaklah  ia berusaha  mendapatkannya  di malam  dua puluh tujuh. (HR. Ahmad).

Fatimah berkata: "Wahai ayah, apa yang dapat dilakukan orang­orang lemah, laki-laki,  perempuan, yang tidak dapat berdiri?" Beliau bersabda: "Tidaklah mereka meletakkan bantal-bantalnya lalu dipakai bertelekan, lalu mereka duduk sesaat dari  saat-saat malam itu dan berdo' a pada Allah Azza wa Jalla, kecuali hal itu lebih aku suka dari pada berdirinya umatku seluruhnya pada bulan Ramadhan.

Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa  yang menghidupkan malam lailatul qadar dan shalat dua rakaat serta memohon ampun, maka Allah akan mengampuninya dan dia telah mendapatkan limpahan rahmat Allah serta Jibril akan mengusapkan sayapnya padanya. Dan barangsiapa yang disuap (dielus) oleh Jibril dengan sayapnya, tentu dia masuk surga."

Bapak, ibu, hadirin dan hadirat sekalian yang saya muliakan

Demikianlah kultum yang dapat saya sampaikan dalam kesempatan yang mulia ini, semoga Allah senantiasa menganugerahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya  kepada  kita semua, amin Akhimya terima kasih atas perhatiannya dan mohon maaf atas  kesalahan  dan  kurang  lebihnya. Hadanallah waiyyakum ajma 'in, was salamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Oleh Ust. Abdullah Farouk & Ust. MS. Ibnu Hasan

Penjelasan Singkat Tengtang Agama Islam

Sajadah Muslim ~ Apakah  agama  Islam  itu? Agama  Islam yaitu peraturan perikehidupan manusia yang  sesuai dengan  akal  dan pikiran,  yang  dibawa  oleh  utusan Allah Ta'ala yang terpilih  yaitu junjungan   kita Nabi  Muhammad   saw untuk segenap manusia,  memberi  petunjuk supaya keluar dari kegelapan (kejahiliyahan)  ke arah cahaya yang terang-benderang, dan agama Islam  itu adalah agama  Allah Yang  Maha  Esa dan Maha  Kuasa, yang  menciptakan  dan memiliki serta menguasai sekalian alam. Untuk siapakah peraturan  agama  Islam  itu  dan  bagaimanakah maksud  tujuannya?

Agama Islam, adalah peraturan untuk seluruh manusia yang hidup di dunia, agar terhindar dari kesesatan, dan supaya dapat mencapai kedamaian, kemuliaan, keselamatan, kesejahteraan, aman,  sentosa, bahagia  dan tinggi kedudukannya  di dunia hingga di akhirat kelak.

Rukun Islam

Ada berapakah rukun Islam itu? Rukun Islam itu ada lima, yaitu :
  1. Mengucapkan dua kalimat syahadat, yaitu : “Asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullaah”. Artinya: Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (yang wajib  disembah dengan sebenamya) selain Allah, dan aku bersaksi  bahwa Nabi Muhammad itu utusan Allah. Baca juga: Tata Cara Syahadat Yang Benar
  2. Mengerjakan shalat lima kali sehari semalam yaitu Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya' dan Shubuh.
  3. Puasa pada bulan Ramadhan.
  4. Membayar (mengeluarkan) zakat.
  5. Pergi haji ke Baitullah (Mekkah) bagi orang-orang yang mampu.

Tanda Islam

Apakah tanda-tanda Islam  itu? Tanda-tanda Islam itu ada empat, yaitu :
  1. Mentaati segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, yang telah ditetapkan dalam agama Islam.
  2. Suci lidahnya dari perkataan dusta (bohong).
  3. Suci perutnya dari barang yang haram.
  4. Suci badannya dari segala maksiat dan tamak.

Syarat Islam

Berapakah syarat Islam itu? Syarat Islam itu ada empat, yaitu:
  1. Sabar akan hukum Allah Talala.
  2. Ridha akan qadha (ketentuan) Allah Talala.
  3. Yakin dan ikhlas rnenyerahkan diri kepada Allah SWT.
  4. Mengikuti firman Allah Talala, dan sabda Rasulullah saw serta menjauhi segala larangan-Nya.

Yang Merusak Islam

Hal-hal apakah yang merusak Islam? Adapun yang dapat merusak Islam itu ada empat, yaitu:
  1. Beramal tanpa  ilmu, yakni  mengerjakan ibadah dengan kebodohan.
  2. Mengetahui segala perintah dan larangan dalam agama Islam, akan tetapi tidak dikerjakan.
  3. Tidak tahu dan tidak mau bertanya (belajar).
  4. Mencela orang yang berbuat kebajikan.
Oleh S.A. Zainal Abidin

Tata Cara Syahadat Yang Benar

Sajadah Muslim ~ Apakah  arti syahadat  itu? Arti syahadat ialah pengakuan dan penyaksian dengan sebenamya baik secara lahir maupun batin.

Rukun Syahadat

Ada berapakah rukun syahadat itu? Rukun syahadat itu ada empat, yaitu:
  1. Menetapkan dzat Allah Talala (berdiri dengan sendirinya).
  2. Menetapkan sifat Allah Talala (berkuasa).
  3. Menetapkan af'al Allah Talala (berbuat dengan sekehendaknya).
  4. Menetapkan kebenaran Rasulullah saw.

Syarat Syahadat

Berapakah syarat kesempumaan syahadat itu? Syarat kesempumaan syahadat itu ada empat, yaitu:
  1. Memahami maksud syahadat.
  2. Diikrarkan dengan lidah yakni dibaca dari permulaan hingga akhimya.
  3. Meyakini dalam hati, yakni tidak ragu Iagi.
  4. Diamalkan dengan anggota badan, yaitu hati dan perbuatan wajib  menolak  segala sesuatu   yang menyalahi arti atau maksud dua kalimat syahadat itu.

Yang Merusak Syahadat

Hal-hal apakah yang dapat merusak syahadat? Adapun yang dapat merusak syahadat ada empat, yaitu:
  1. Menyekutukan (menduakan) Allah.
  2. Ragu akan adanya Allah.
  3. Menyangkal dirinya diciptakan oleh Allah.
  4. Menyangkal bahwa peredaran alam semesta ini diatur oleh Allah Talala.

Nama Syahadat

Ada berapakah syahadat itu? Syahadat itu ada dua:
  1. Syahadat Tauhid, yaitu: “Asyhadu an laa ilaaha illallaah”. Artinya: Saya bersaksi  bahwa  tiada  Tuhan  selain Allah.
  2. Syahadat Rasul, yaitu: “Wa asyhadu anna Muhammadan Rasuulullaah”. Artinya: Saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu utusan Allah.
Oleh S.A. Zainal Abidin

Hukum Shalat Jumat Dan Tata Caranya

Sajadah Muslim ~ Bagaimanakah hukum shalat Jum'at itu? Shalat Jum'at hukumnya fardhu 'ain. Lalu Siapakah  yang wajib mengerjakannya? Yang wajib mengerjakannya yaitu :
  1. Islam.
  2. Laki-laki.
  3. Merdeka (bukan hamba).
  4. Baligh (cukup umur).
  5. Aqil (berakal).
  6. Sehat (tidak sakit).                   
  7. Muqim (penduduk tetap) bukan seorang musafir.

Syarat Mendirikan Shalat Jum'at

Ada berapakah syarat mendirikan shalat Jum'at? Syarat mendirikan shalat Jum'at itu ada empat, yaitu:
  1. Diadakan pada suatu tempat, yaitu kota atau desa yang didiami orang banyak.
  2. Berjama'ah sekurang-kurangnya ada 40 orang laki-Iaki  ahli Jum'at.
  3. Dikerjakan pada waktu Zhuhur, di hari Jum'at.
  4. Didahului dengan dua khutbah sebelum shalat Jum'at.

Sunnat Jum'at

Apa sajakah yang disunnatkan bagi orang yang akan mengerjakan shalat Jum'at? Adapun yang  disunnatkan bagi orang yang  akan mengerjakan shalat Ium'at ada delapan, yaitu :
  1. Mandi dan memotong kuku.
  2. Berpakaian putih dan bersih.
  3. Berhias dengan pakaian yang baik.
  4. Memakai harum-haruman.
  5. Menyegerakan datang ke masjid, (jangan sampai  terlambat).
  6. Memperbanyak dzikir dan shalawat. 
  7. Membaca Al-Quran
  8. Memperhatikan maksud khutbah yang dibaca oleh khatib.

Mandi Jumat

Bagaimanakah lafazh niat mandi Jum'at? Adapun lafazh niat mandi Jum'at yaitu:

“Nawaitul-ghusla lish-shalaati min yaumil-jum'ati sunnatan lillaahi Ta 'aalaa”.

Artinya: Saya niat mandi untuk shalat pada hari Jum'at sunnat karena Allah Ta'ala.

Lafazh Niat Shalat Jumat

Bagaimanakah lafazh niat shalat Jum'at? Lafazh niat shalat Jum'at yaitu:

“Ushallii fardhal-Jumati rak'ataini ma'muuman lillaahi Ta 'aalaa. Allaahu Akbar".

Artinya: Saya shalat fardhu Jum'at dua raka'at mengikuti imam karena Allah Ta'ala. Allah Maha Besar.

Khutbah Jum'at

Rukun Khutbah

Berapakah rukun dua khutbah itu? Rukun dua khutbah itu ada lima, yaitu :
  1. Memuji kepada Allah pada permulaan khutbah pertama dan kedua. Misalnya membaca: Alhamdulillaah.
  2. Membaca shalawat atas Nabi Muhammad saw pada khutbah pertama dan kedua, misalnya: Allaahumma shalli  'alaa sayyidinaa Muhammad.
  3. Berwasiat dengan taqwa kepada Allah, pada khutbah pertama dan kedua misalnya: Ayyuhan-naasuuaqullaah.
  4. Membaca ayat AI-Qur'an di  dalam salah satu dari dua khutbah, misalnya: Wa aqiimush-shalaata wa 'aatuz-zakaata warka 'uu ma 'ar- raaki'iin.
  5. Mendoakan (memohonkan ampun) bagi kaum muslimin dan muslimat pada khutbah  yang kedua, misalnya: Allaahummagh fir lil-muslimiina wal-muslimaati wal­mu'miniina wal-mu'minaat.

Syarat Khutbah

Apa sajakah syarat khutbah itu? Syarat khutbah itu ada lima belas, yaitu:
  1. Khatib (orang yang berkhutbah) harus laki-Iaki.
  2. Khatib harus bukan orang yang sangat tuli.
  3. Harus berada dalam batas bangunan untuk jum'atan.
  4. Khatib harus suci dari hadats kecil dan besar.
  5. Khatib harus suci badan, pakaian dan tempatnya dari najis.
  6. Khatib harus tertutup auratnya.
  7. Khatib harus berdiri  jika mampu.
  8. Duduk sebentar antara  dua khutbah.
  9. Harus berturut-turut antara khutbah yang pertama dan kedua.
  10. Harus berturut-turut antara kedua khutbah dengan shalat Jum'at. 
  11. Rukun-rukun khutbah harus berbahasa Arab.
  12. Khatib harus mengeraskan suaranya, sehingga minimal terdengar oleh empat puluh orang.
  13. Harus berada pada waktu Zhuhur.
  14. Khutbah harus dilaksanakan sebelum shalat Jum'at.
  15. Harus dapat membedakan antara rukun dengan yang lain.

Sunnat Khutbah

Apa sajakah yang disunnatkan dalam khutbah? Adapun yang disunnatkan dalam khutbah ada delapan, yaitu:
  1. Khutbah dilakukan di mimbar atau tempat yang tinggi.
  2. Khatib disunnatkan mengucapkan salam pada kanan kirinya ketika akan naik mimbar.
  3. Pelan-pelan sewaktu akan naik mimbar.
  4. Setelah khatib naik mimbar, lalu menghadap pada hadirin sidang Jum'at dan menyampaikan   salam, lalu duduk mendengarkan adzan.
  5. Ketika berkhutbah hendaknya memegang tongkat dengan tangan kiri dan tangan kanan memegang tepi mimbar.
  6. Mengeraskan suaranya dengan lantang dan fasih, yang dapat memberi pemahaman (mudah dipahami), tidak dengan bahasa yang  aneh  dan asing.
  7. Ketika khatib duduk antara dua khutbah, disunnatkan membaca  surat Al-Ikhlas.
  8. Hendaknya mendoakan baik dan taufiq pada pemerintah Islam serta para pegawainya dan  penguasa-penguasa yang mengatur urusan kaum muslimin.

Yang Dimakruhkan dalam Khutbah

Apa sajakah yang dimakruhkan dalam khutbah? Yang dimakruhkan dalam khutbah, yaitu:
  1. Yang berkhutbah bukan orang yang menjadi imam.
  2. Berkhutbah dengan menggunakan isyarat (menuding-nuding) para hadirin.
  3. Berkhutbah sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
  4. Mengangkat kedua tangan ketika berkhutbah.
Baca juga :
Oleh S.A. Zainal Abidin

Tata Cara Adzan Dan Iqamah Yang Benar

Adzan

Apakah arti adzan itu ?

Arti adzan yaitu panggilan kepada orang-orang supaya datang untuk melakukan shalat karena waktunya telah tiba. Lalu bagaimanakah lafazh adzan itu?

Lafazh Adzan

  1. Allaahu Akbar, Allaahu Akbar 2x
  2. Asyhadu an laa ilahaa illallaah 2x
  3. Asyhadu anna Muhammadan Rasuulullaah 2x
  4. Hayya 'alash-shalaah 2x
  5. Hayya 'alal-falaah 2x
  6. Allaahu Akbar, Allaahu Akbar 1x
  7. Laa ilaaha illallaah 1x
Artinya:
  1. Allah Maha besar, Allah Maha besar 2x.
  2. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah 2x.
  3. Dan saya bersaksi bahwasanya Muhammad itu utusan Allah 2x.
  4. Mari bershalat! 2x.
  5. Marilah menuju kemenangan! 2x.
  6. Allah Maha Besar, Allah Maha Besar 1x.
  7. Tidak ada Tuhan selain Allah 1x.

lqamah

Apakah iqamah itu?

Iqamah yaitu panggilan terakhir bahwa shalat segera dimulai. Lalu Bagaimanakah lafazh iqamah  itu? Adapun lafazh iqamah yaitu:
  1. Allaahu Akbar, Allaahu Akbar 1x
  2. Asyhadu an laa ilaaha illallaah 1x
  3. Asyhadu anna Muhammadan Rasulullaah 1x
  4. Hayya 'alash-shalaah 1x
  5. Hayya 'alal-falaah 1x
  6. Qad qaamatish-shalaah 2x
  7. Allaahu Akbar, Allaahu Akbar 1x
  8. Laa ilaaha illallaah 1x
Artinya:
  1. Allah Maha Besar,  Allah Maha Besar 1x
  2. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah 1x
  3. Dan saya bersaksi bahwasanya Muhammad itu utusan Allah 1x
  4. Marilah bershalat! 1x
  5. Marilah menuju kemenangan! 1x
  6. Dirikanlah shalat 2x
  7. Allah Maha Besar, Allah Maha Besar 1x
  8. Tidak ada Tuhan selain Allah 1x
Peringatan:

Jika kita adzan di waktu Shubuh sesudah kita baca “Hayya 'alal-falaah”, maka hendaklah kita tambah  dengan bacaan “Ash-shalaatu khairun minan-nauum 2x. Yang Artinya: Shalat itu lebih baik dari pada  tidur.

Jawaban Bagi Orang yang Mendengar Adzan dan Iqamah

Bagaimanakah jawaban jika mendengar orang adzan dan iqamah?

Adapun bagi orang yang mendengar adzan dan iqamah, hendaklah menjawab dengan perlahan-lahan sebagaimana yang diucapkan oleh orang yang adzan atau iqamah, kecuali ketika yang adzan atau iqamah membaca "Hayya 'alash-shalaah"  dan "Hayya 'alal-falaah" maka hendaklah dijawab dengan bacaan “Laa haula wa laa quwwata illaa billaahil-‘aliyyil-‘azhiim” yang artinya “Tidak ada daya  dan tak ada kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah yang Maha Besar”.

Dan di waktu Shubuh jika mendengar yang adzan membaca Ash-shalaatu khairum minan-nauum, maka hendaklah dijawab dengan bacaan “Shadaqta wa bararta wa ana ‘alaa dzaalika minasy-syaahidiin” yang artinya “Benar dan baiklah katamu itu dan saya pun termasuk orang-orang yang bersaksi.

Dan jika yang iqamah membaca "Qad  qaamatish-shalaah", maka hendaklah dijawab dengan bacaan “Aqaamahallaahu wa adaamahaa wa ja 'alanii min shaalihii ahlihaa”. Yang artinya: “Mudah-mudahan  Allah Ta'ala mendirikan shalat itu dengan kekalnya, dan menjadikan saya ini termasuk golongan  yang sebaik-baik orang ahli shalat.

Doa Sesudah Adzan

Bagaimanakah doa sesudah adzan? Adapun doa sesudah adzan yaitu:

Allaahumma rabba 'haadziihid-da 'watit-taammah, wash­shalaatil-qaa'imah. Aati sayyidanaa  Muhammadanil-wasiilata wal-fadhiilah, wasy-syarafa wad-darajatal- 'aaliyatar-rafii  'ah, wab 'ats-hu maqaaman mahmuudanil-ladzii wa 'adtah, innaka laa tukhliful-mii 'aad. Wa shallallaahu 'alaa sayyidinaa Muham­madin wa 'alaa aalihii  wa shahbihii wa sallam.

Artinya:

Wahai Tuhanku yang mempunyai seruan yang sempuma ini, dan shalat yang akan didirikan, berikanlah dengan limpahan karunia­Mu  kepada junjungan kami Nabi Muhammad, wasilah (kedudukan yang paling tinggi dalam surga) dan keutamaan, dan angkatlah ia pada maqam (kedudukan) yang terpuji sebagaimana yang telah  Engkau janjikan, sesungguhnya Engkau tiada menyalahi janji. Dan semoga Allah melimpahkan rahmat dan keselamatan atas junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Oleh S.A. Zainal Abidin

Back To Top