Sajadah Muslim

Membahas Tentang Seputar Ilmu Agama Islam

Belajar Kepada Nabi Zakaria

Sajadah Muslim ~ “Kerja bukanlah tujuan utama dalam hidup manusia, pekerjaan hanyalah perantara untuk meraih lebih utama.”


Sejenak, mari belajar kepada Nabi Zakaria (semoga Allah senantiasa memberinya keselamatan selalu). Kisah kemuliaannya tersebar diberbagai surah dalam Al-Qur’an. Seorang Nabi sekaligus ayahanda dari Nabiullah Yahya. Zakaria juga menjadi pilihan Imran untuk menjaga putrinya, Maryam hingga kelak melahirkan Isa al-Masih, manusia pilihan Allah pula.

Kisah Nabi Zakaria ada beragam dalam Al-Qur’an, ada yang bercerita  tentang kesabarannya yang bak batu karang dalam menunggu ketetapan Allah. Tentang tegarnya menghadapi gelombang ujian yang bertubi-tubi, soal keajaiban do’anya yang syarat dengan keyakinan akan Kuasa dan kehendak Sang Pencipta. Dan pastinya tentang kualitas takwanya sebagai Nabi pilihan Allah, ada ibadah yang tak pernah putus dan munajat tak henti di waktu-waktu sunyi.

Uniknya, keseharian Nabi Zakaria ialah”Cuma” seorang tukang kayu, dia menghidupi keluarganya berbekal perkakas tukang yang sederhana saja. Sebuah profesi dan pekerjaan kasar, bagi sebagian manusia. Orang bilang derasnya keringat yang mengucur tak sebanding dengan rupiah yang didapatkan. Peluh yang meleleh bukan jaminan berapa yang didapat nanti. Untuk itu ada banyak profesi lain yang dianggap lebih mulia dan lebih hebat dari sekadar pekerjaan tukang kayu.

Namun, inilah keadilan Allah yang menilai manusia bukan dari sekadar tampilan fisik semata, kemudian manusia tak diukur dari pekerjaan yang digeluti. Apalagi dari tebalnya isi kocek dan banyaknya jumlah saldo tabungan yang dipunya Nabi Zakaria, justru diabadikan dalam al-qur’an, salah satunya karena kesungguhannya dalam menajat yang nyaris tanpa putus, dia dipuji sebab kualitas takwa yang terbukti bukan karena yang lain. Allah berfirman :

“Yang dibacakan ini adalah penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-hamba-Nya, Zakaria.” (QS. Maryam [19] ayat 2)

Bahwa kucuran rahmat Allah sebanding dengan kualitas penghambaan dirinya, inilah hakekat kemulian manusia. Adakah pekerjaannya setiap waktu mampu mengundang rahmat Allah? ataukah justru gara-gara kesibukan itulah yang bikin dia kehilangan barakah-Nya.

Faktanya didapati seringkali yang paling menyibukkan manusia dalam hidupnya adalah sebagai apa saat bekerja. Semakin tinggi kedudukan seseorang rasanya makin terpandang, bahkan sebagian orang rela berkorban pada apa saja untuk meraih posisi dan status tersebut.

Sebenarnya tak ada yang keliru dengan keadaan diatas, selama ia berkompeten dengan jabatan atau pekerjaannya maka tidak masalah atas harapan dan keinginan itu asal tentu dengan cara-cara yang jujur, ia tidak boleh menipu atau menzalimi orang lain hanya gara-gara kepentingan pribadi seseorang.

Patut diingat, kerja bukanlah tujuan utama dalam hidup manusia, pekerjaan dan kedudukan manusia hanyalah perantara untuk meraih yang lebih utama. Yakni sebagai amal shaleh dan meraup sebanyak-banyaknya barakah dan Rahmat Allah. Itulah teladan dari Nabi Zakaria, semoga keselamatan senantiasa terlimpah padanya...., Amin.

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup

Hikmah Dari Adanya Kaum Fakir Dan Miskin

Sajadah Muslim ~ Semangat manusia modern adalah menurunkan angka kemiskinan diberbagai negara di dunia. Dahulu bahasanya lebih semangat, yakni memberantas kemiskinan. Padahal, kemiskinan adalah bagian dari fakta kehidupan dimana dalam Islam ada hikmah yang terkandung di dalamnya.


Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa “Allah Ta’ala telah menjadikan kaum fakir miskin sebagai ladang beramal bagi orang kaya. Dan pada kenyataan lahiriahnya orang kaya menjadi kaya disebabkan karena adanya bantuan dari orang miskin.” 

Artinya kehidupan ini memang saling membutuhkan, dalam bahasa syair seorang penyanyi legendaris Indonesia. ‘Kalau semuanya orang kaya lalu siapa yang mau bekerja.”

Oleh karena itu, Imam Ghazali menyeru orang-orang kaya banyak melakukan tafakur dan perenungan.

Tindakan orang kaya menyadari, bahwa majunya usaha, meningkatnya produksi, meningkatnya pendapatan, terpeliharanya kelanjutan perusahaan, semua itu karena jasa dan campur tangan orang kecil, orang miskin?” tulis Imam Ghazali lebih lanjut.

Jadi, betapa luar biasa Islam dengan segenap syariat yang ditetapkan, termasuk di dalamnya syariat berupa perintah mengeluarkan zakat.

“Orang kaya diharuskan mengeluarkan sebagian kecil hartanya kepada para fakir miskin melalui zakat, bukan seluruh hartanya, sekedar untuk keperluan mereka saja. Jadi pikirkanlah dengan pemahaman yang sesuai, bahwa sesunguhnya orang-orang kaya itu pada hakikatnya adalah pelayan-pelayan bagi penghidupan orang-orang fakir dan orang-orang miskin.” Tegas Imam Ghazali.

Didalam Al-Qur’an, Allah menegaskan bahwa siksa  yang pedih akan menjadi kabar gembira bagi orang-orang yang kaya namun tidak mau membayar zakat.

“Dan orang-orang yang menyimpan emas, dan perak, dan tidak menafkakannya di jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa mereka akan mendapat siksa yang pedih di akhirat nanti.” (QS.At-Taubah [9] ayat 34).

Tidak menafkahkannya di jalan Allah, maksudnya adalah tidak membayarkan zakatnya. Kemudian hal ini dipertegas oleh sebuah hadits Nabi. 

“Saya pernah berada di antara kaum Quraisy, kemudian Abu Dzar lewat dan berkata, “Sampaikanlah berita gembira pada orang-orang yang menyimpan hartanya (tidak mau membayar zakat) maka punggung mereka akan disulut hingga keluar dari lambungnya, dan tengkuk mereka dicos hingga keluar dari keningnya.” (HR. Bukhari).

Dengan demikian kepada segenap kaum Muslimin yang memiliki kekayaan bersyukurlah kalian kepada Allah dengan adanya kaum fakir dan miskin. Karena dengan itu harta yang dititipkan dapat memberi manfaat dunia dan akhirat.

Jangan malah seperti Qarun, dengan harta yang dimiliki malah sombong dan akhirnya sirna ditelan bumi sebagai hukuman dari-Nya. Allahu a’lam.

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup

Harta, Emas Dan Perak Untuk Allah

Sajadah Muslim ~ “Dengan harta yang dimiliki hendaknya ditunaikan zakatnya, jangan sampai semua itu justru menyeret diri pada siksaan neraka.”

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang bathil, dan mereka menghalang-halangi manusia dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, bahwa mereka akan mendapat siksa yang pedih.” (QS. At-Taubah [9] ayat 34)


Ayat diatas memang berupa kisah, namun juga terkandung perintah untuk tidak menjadi orang yang suka memakan harta orang lain dengan cara bathil. Pada saat yang sama menjadikan kekayaan sebagai alat membangkang terhadap perintah Allah, sehingga tidak mau berinfak di jalan-Nya.

Tanpa sadar suka sekali dengan harta yang dimiliki mendukung hal-hal yang menjadikan banyak manusia lalai dari mengingat Allah Ta’ala. Mereka menghalangi manusia dari mengikuti kebenaran mencampur kebenaran dengan kebathilan dan berpura-pura di hadapan para pengikut mereka sebagai orang-orang yang menyeru pada kebaikan, padahal perbuatan mereka tidak seperti yang mereka teriakkan.

Ibnu Katsir, menuliskan mereka suka memakan harta dunia dengan mengorbankan agama dan dengan sarana jabatan mereka. Seperti halnya para orang alim Yahudi pada zaman jahiliyah, dimana mereka mempunyai kedudukan di masyarakat dan mendapatkan hasil pajak serta sumbangan dari rakyat.

Ketika Rasulullah diutus, mereka tetap dalam kesesatan dan kekafiran karena tidak mau kehilangan jabatan. Allah menghapus cahaya kenabian dan menggantinya dengan kehinaan dan kerendahan, pada saat itu juga mereka mendapatkan amarah dan murka dari Allah.

Kemudian jangan pula seperti orang yang dengan harta, emas dan perak enggan untuk infakkan dijalan-Nya. Menurut Imam Malik berkata, dari Abdullah bin Dinar, dari Ibn Umar, yakni tidak mau membayarkan zakat dari emas dan perak yang dimilikinya.

Ats-Tsauri dan lainnya berkata dari Ubaidillah, dari Nafi, dari Ibn Umar, ia berkata, “Harta yang sudah dikeluarkan zakatnya, maka tidak lagi termasuk Al-Kanzu, meskipun berada dibawah lapisan bumi yang ketujuh, sedangkan harta yang terlihat dan belum dikeluarkan zakatnya, maka harta tersebut termasuk Al-Kanzu

Umar bin Khathab berkata, “Harta yang telah dikeluarkan zakatnya, maka tidak termasuk Al-Kanzu, meskipun terpendam dalam tanah, dan harta yang zakatnya tidak ditunaikan, maka harta tersebut termasuk Al-Kanzu, dimana pemiliknya akan disetrika dengan api, meskipun harta itu berada di muka bumi.” 
  
Dengan demikian, mari kita semakin teliti dan sungguh-sungguh dengan keberadaan kita dalam kehidupan ini, dengan karunia ilmu hendaknya fokus untuk mencerahkan umat, dengan kesholehan hendaknya mensejahterakan umat.

Dan, dengan harta yang dimiliki hendaknya ditunaikan zakatnya, jangan sampai semua itu justru menyeret diri kita pada siksaan, dimana kala orang berharta, tidak membayar, Allahu a’lam.

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup

Semakin Modern Semakin Runyam

Sajadah Muslim ~ Manusia semakin hari semakin canggih sains dan teknologinya. Namun seperti kata fritjof Capra dalam buku Titik Balik Peradaban, dunia paling rusak kondisinya. 


Semakin banyak ahli ekonomi, namun kemiskinan semakin tidak bisa diatasi, semakin maju ilmu kesehatan semakin beragam jenis penyakit.

Bahkan, andai benar Covid-19 itu sengaja diciptakan oleh manusia atau senjata biologis yang bocor, maka sungguh manusia telah rusak pemikirannya. Dimana kemampuan berpikirnya ternyata digunakan untuk menciptakan sebuah penyakit, yang tidak pernah terjadi pada era peradaban manapun sebelum sekarang.

Semua itu terjadi karena keserakahan semakin modern, semakin banyak manusia terseret dengan hawa nafsu. Bahkan saat ini bisa terjadi satu orang memiliki kekayaan setara 100 juta manusia lainnya. Kontradiktif, semakin modern, kekayaan semakin tersentral pada beberapa gelintir manusia.

Ketika semua itu terjadi, maka sesungguhnya semakin jauhlah manusia dari peradaban Islam dari manivestasi nilai-nilai iman yang seharusnya ditegakkan secara sungguh-sungguh, akibatnya jelas, kehidupan semakin terasa sesak dan menyesakkan dada.

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta,” (QS. Thatha [20] ayat 124)  

Ayat itu tegas memberikan peringatan kepada manusia, bahwa Allah tidak mau dan tidak mungkin ditentang perintah-Nya. Jika  itu tetap dilakukan oleh manusia, maka Allah sebagaimana ditulis oleh Ibn Katsir dalam tafsirnya akan menjadikan kehidupan manusia sempit dan menyesakkan dada, disebabkan atas perbuatannya yang lancang dan melampaui batas.

Meskipun secara lahiriyah ia merasa senang, dapat berpakaian sekehendak hati, makan dan bertempat sesukanya, tetapi selama bathinnya tidak tulus menerima keyakinan dan petunjuk, niscaya ia berada dalam kegoncangan, kebingungan dan keraguan dan ia akan terus dalam keraguan.

Yang demikian itu merupakan bagian dari sempitnya kehidupan, tegas Ibn Katsir lebih lanjut.

Sedangkan kelak di akhirat, kata ikrimah, “Di butakan matanya dari segala sesuatu kecuali “Neraka Jahannam”. Na’udzubillah.

Pada akhirnya kita harus kembali kepada seruan Allah dan Rasul-Nya dan komitmen menjadi pribadi yang bertaqwa.

Seperti dialog Umar dengan Ubay bin Ka’ab. “Apa sebenarnya arti taqwa itu?” tanya Umar, lalu Ubay bin Ka’ab balik bertanya. “Bukankah Anda pernah melewati jalan yang penuh duri?” Umar menjawab. Ya pernah.

“Apa yang Anda lakukan,” Ubay bertanya lagi, Dan Umar menjawab. “Saya akan bersiap-siap dan berjalan dengan hati-hati tegas Umar, spontan Ubay berkata: Itulah taqwa.......

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup

Waspada Inilah Perusak Amalan Puasa Kita

Sajadah Muslim ~ Bagi banyak orang yang melakukan puasa  di bulan Ramadhan ini tentu bukan hal yang memberatkan, tetapi, memastikan diri tidak berbuat buruk dalam bulan Ramadhan ini yang butuh komitmen dan perjuangan. Tidak jarang sebagian orang gagal menjalani puasa dengan kualitas terbaik, karena cenderung gagal menghindari hal yang tidak perlu dilakukan.


Dalam ihya Ulumuddin Imam Ghazali menjelaskan bahwa ada lima perkara yang dapat menghilangkan pahala orang yang berpuasa yaitu, berbohong, menggunjing, mengadu domba, bersumpah dusta, dan memandang dengan syahwat.

Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Mengumpat itu adalah merusak puasa.”

Oleh karena itu sangat penting memastikan diri terutama lisan untuk tidak terlalu asyik dalam obrolan lebih-lebih yang mengarah pada canda tawa yang akhirnya tanpa sadar menggunjing atau bahkan mengumpat orang lain.

Hal berikutnya yang harus diwaspadai adalah mendengar perkataan yang tidak benar, yakni mendengar segala sesuatu yang dilarang (diharamkan).

Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, dan banyak memakan yang haram.” (QS. Al-Maidah [5] ayat 42)

Terkait ini Rasulullah telah bersabda: “Yang mengumpat dan yang mendengarkannya sama-sama bersekutu dalam dosa.” (HR. Thabrani).

Berikutnya menjaga tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya dari segala perbuatan yang mengakibatkan dosa dan tercela, termasuk didalamnya menjaga perut dari diisi oleh makanan yang haram maupun syubhat saat berbuka puasa.

Al-Ghazali memberikan ilustrasi menarik perihal ini. “Orang yang berpuasa akan tetapi juga melakukan perbuatan dosa laksana seorang yang menolak (tidak mau) memakan buah-buahan segar karena takut sakit perut, akan tetapi justru meneguk racun yang mematikan.

Dan, orang yang melakukan perbuatan haram sama saja  dengan memakan racun yang akan mematikan dirinya. Jadi, alangkah bodohnya orang yang memilih minum racun yang telah ia ketahui merugikan dirinya.”

Lebih lanjut Al-Ghazali menerangkan, “Sesuatu yang haram adalah racun yang akan menghancurkan agama, sedangkan yang halal adalah obat yang akan menyembuhkan jika dimakan sesuai dengan dosisnya. Akan tetapi, akan merambah sakit, atau mematikan dirinya, jika dosisnya terlalu banyak atau berkelebihan.”

Kemudian hindarilah makan berlebihan, walaupun makanan itu halal, baik saat buka puasa maupun makan sahur, sehingga perut terlalu kekenyangan. Allah Ta’ala sangat tidak suka pada orang yang perutnya kala makan sampai kekenyangan. Selain menjadikan puasa kurang berkualitas, hal itu dapat menjadikannya dirinya  gagal mengambil  hikmah dari perintah berpuasa itu sendiri. Allahu a’lam.

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup

Puasa Ramadhan Rahasia Dengan Hamba-Nya

Sajadah Muslim ~ Nikmat yang sangat besar bagi seorang Muslim adalah ketika Allah memberikan kesempatan bertemu dengan bulan suci Ramadhan, bulan yang penuh berkah dan kemenangan.

Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, menjelaskan bahwa puasa Ramadhan adalah seperempat keimanan, hal ini, didasarkan pada hadits. “Puasa adalah setengah dari kesabaran.” (HR. Tirmidzi)  


Lebih jauh Ghazali menjelaskan bahwa puasa Ramadhan memiliki keistimewaan, disebabkan ia berhubungan secara langsung dengan Allah Ta’ala.

Setiap perbuatan yang baik yang dilakukan oleh manusia akan mendapatkan pahala sepuluh kali lipat, kecuali puasa sebab sesungguhnya puasa itu hanya bagi-Ku, dan Akulah yang akan menentukan balasannya.” (HR. Bukhari).

Jadi puasa Ramadhan adalah benar-benar istimewa. Allah tidak menyebutkan secara pasti apa balasan yang akan diperoleh. Namun yang pasti Allah pasti akan memberikan balasan kebaikkan-kebaikan.
  
Secara langsung bisa dilihat dalam Al-Qur’an. “Dikatakan kepada mereka, makan dan minumlah sepuasnya, disebabkan amal yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu”. (QS. Al-Haqqah [69] ayat 24).

Al-Ghazali dalam ihya menjelaskan bahwa maksud ayat tersebut adalah orang yang berpuasa (di bulan Ramadhan) akan mendapatkan balasan yang amat menyenangkan kelak di akhirat.

Disebabkan keridhaan mereka meninggalkan makan, minum serta kesenangan nafsu pada hari-hari mereka berpuasa di dunia. Secara ruhiyah puasa Ramadhan, mendatangkan keuntungan langsung  bagi ruh manusia. 

Pertama, adalah kesabaran. ”Puasa itu mencegah dan menahan diri dengan bersabar dari hal-hal yang membatalkan,” demikian terang Al-Ghazali.

Dalam kata yang lain, orang yang berpuasa akan terlatih emosi dan pikirannya, sehingga dapat menjadi pribadi yang tenang, sabar dan mengerti apa yang harus dilakukan.

Kedua, puasa membebaskan manusia dari musuh-musuh jiwa, seperti setan dan hawa nafsu, ini karena setan memilih jalan hawa nafsu untuk menyesatkan manusia. Kala manusia berpuasa maka pintu masuk setan tertutup.

Al-Ghazali menjelaskan bahwa ketika manusia mampu mengendalikan hawa nafsu, maka itu sama dengan menghambat dan mempersempit jalan setan. Hal itu juga bermakna puas akan menjadikan seseorang punya tekad yang kuat untuk semakin dekt dengan Allah Ta’ala, sehingga ke masjid, membaca Al-Qur’an, sedekah, menunaikan zakat dan amal sholeh lainnya amat ringan untuk dilakukan.

Oleh karena itu mari kita isi bulan Ramadhan ini dengan puasa yang terbaik, sungguh-sungguh dalam amal dan menjauhi hal-hal yang akan merusak kualitas puasa, dengan tidak bicara kecuali penting, tidak melakukan apapun kecuali baik bagi iman dan taqwa kita sendiri. Allahu a’lam.!!!!!

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup

Antusias Berburu Pahala Ramadhan

Sajadah Muslim ~ “Semakin hari menuju akhir Ramadhan semakin semangat bertaqarrub kepada Allah Ta’ala.”


Ramadhan senantiasa memberi warna sekaligus harapan luar biasa, tidak heran jika para ulama terdahulu benar-benar tidak mau ketinggalan momentum kala bertemu Ramadhan. Beragam ibadah dan amal kebaikan mereka upayakan dapat dilaksanakan.

Baik ibadah yang biasa dilakukan, seperti shalat, membaca al-qur’an ataupun ibadah dan amal lainnya yang boleh jadi diluar Ramadhan kurang begitu kuat kita lakukan. Seperti sedekah, berbagi kepada tetangga atau pun ikut serta dalam beragam pembangunan masjid, musholla dan lain sebagainya.

Para ulama itu sama sekali tidak ada keraguan bahwa setiap kebaikan yang dilakukan, pasti akan Allah berikan balasan terbaik.

“Siapa saja yang mengerjakan kebajikan sebesar biji sawi, niscaya ia akan melihat balasannya. Dan siapa saja yang mengerjakan kejahatan sebesar biji sawi, niscaya ia juga akan melihat balasananya.” (QS. Al-Zalzalah [99] ayat 7-8). 

Imam Ghazali, dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa idealnya orang beriman itu percaya 100% bahwa dalam hidup dunia dan akhirat ada pahala dan hukuman. Karena itu orang dengan kemampuan berpikirnya akan bersungguh-sungguh untuk mendapatkan pahala di sisi-Nya, bukan malah sebaliknya, berburu dosa yang akan mengundang murka-Nya.

Imam Ghazali melanjutkan, semakin kuat keimanan seseorang maka akan semakin kuat pula kehati-hatiannya dalam beramal, dan semakin banyak pula perbuatan baiknya. Inilah yang penting menjadi agenda utama kita di bulan suci Ramadhan ini.

Oleh karena itu dalam sejarah kita dapati, semakin hari menuju akhir Ramadhan semakin semangat yang dipompakan oleh Nabi dalam taqqarub kepada Allah Ta’ala, lebih-lebih pada 10 hari terakhir Ramadhan.

Ibnu Umar ra berkata, “Rasulullah selalu melakukan i’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadhan.” (HR. Bukhari Muslim).

I’tikaf adalah simbol totalitas dalam kebaikan untuk mendapatkan ridha Allah Ta’ala. Dalam pengertian ini maka diri yang mampu dan bisa i’tikaf berusahalah.

Namun yang karena alasan tugas, amanah dan pekerjaan belum memungkinkan ibadah lainnya dapat terus diupayakan, seperti memperbanyak sedekah, menolong sesama dan membahagiakan anak-anak yatim dan dhuafa. Semoga Ramadhan 1441 H ini menjadikan kita semua insan yang bertaqwa.” Amin….

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup

Ramadhan Terbaik, Bulan Terbaik Dari 12 Bulan

Sajadah Muslim ~ Bulan terbaik dari 12 bulan telah menyapa niat untuk menjadikannya sebagai Ramadhan terbaik kita sepanjang perjumpaan kita dengannya, telah kita azamkan minimal sejak dua bulan yang lalu, saat bulan Rajab menunjukkan hilalnya Ramadhan.


Walaupun kedatangannya rutin tiap tahun, sungguh kemuliaanya tidak pernah pudar. Pancaran kemuliaan itu datang setiap tahun, namun belum tentu pudar cahaya kemuliaannya kita dapatkan. Bisa jadi ini adalah Ramadhan terakhir kita, bisa jadi Ramadhan kali ini tak menjejakkan kebaikan untuk kita, karena satu sebab atau beberapa Maa’addzallah.

Bagi yang masih diberikan kesempatan menikmati hindangan Ramadhan kali ini, kesyukuran tekad dipancangkan untuk menjadikannya Ramadhan terbaik.

Walaupun berat raport hasil Ramadhan tahun lalu harus menjadi bahan evaluasi, apakah kebaikan-kebaikan yang dijalankan selama Ramadhan tahun lalu masih istiqomah dilakukan atau justru keburukan lebih banyak menodai hati dan perbuatan.

Menjadikan hari esok lebih baik merupakan kewajiban orang beriman kepada Allah dan hari akhir, sebagaimana firman Allah:

“Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaknya diri memperhatikan apa yang telah ia lakukan untuk esok. Dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian lakukan (QS. Al-Hasyr : 18)

Pada ayat diatas Allah memerintahkan orang beriman sebanyak dua kali untuk bertakwa kepada-Nya, ketakwaan yang menjadi landasan dan tempat awal untuk mempersiapkan hari esok yang lebih baik.

Takwa dengan semua makna yang terkandung di dalamnya, adalah berhati-hati agar selamat dari murka Allah dengan menjalankan perintah-Nya, kehati-hatian sebagaimana yang digambarkan oleh Umar bin Khattab seperti orang yang menyusuri jalan yang penuh diri.

Ketika ketakwaan menjadi landasan untuk meraih hari esok lebih baik, lebih produktif, lebih dinamis, di dunia dan akhirat, sepatutnyalah orang yang beriman menjadikan Ramadhan kali ini lebih baik dari pada Ramadhan tahun lalu. Lebih-lebih lagi karena Allah telah menjadikan puasa sebagai salah satu cara memperoleh ketakwaan.

Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”

Jika kita menjadikan Ramadhan tahun lalu sebagai waktu untuk menabung sebanyak mungkin kebaikan, agar lebih menjadi lebih baik, maka Ramadhan kini adalah waktu untuk menjadikan semua kebaikan itu selalu diawasi oleh Allah dengan muroqobah akan kita terhindar dai penyakit hati sepertinya, pamrih dan lain sebagainya.

Muroqobah akan menghindarkan kita dari perbuatan doa kecil, palagi dosa besar, dan muroqobah yang merupakan satu bentuk tazkiyatun nafs, adalah cara meraih kesuksesan sebagaimana dikatakan oleh Syeikh Akhmad bin Muhammad Ibnu Al-Husain Al Jurary. “Jalan kesuksesan itu dibangun di atas dua bagian.

Pertama, Hendaknya engkau memaksa jiwamu muroqobah (diawasi) oleh Allah.

Kedua, Hendaknya ilmu yang kamu miliki tampak dalam perilaku lahiriahmu sehari-hari.

Dari berbagai target kebaikan yang ingin diperoleh pada bulan Ramadhan kali ini, semoga ia menjadi Ramadhan yang lebih baik dari Ramadhan tahun lalu. Karena jika kebaikan yang kita peroleh tetap sama dengan tahun lalu, sungguh hanya penyesalan kelak yang akan kita peroleh.

Selamat berlomba dalam meraih pahala ibadah di bulan Ramadhan ini, untuk dijadikan sebagai Ramadhan terbaik yang kita jalani, semoga segala usaha dalam meraihnya dapat menjadikan kita hamba-hamba Allah yang bertakwa, suci hati dan perbuatan, juga dapat memberatkan timbangan kebaikan kita kelak....!!!!!

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup

Bahagia Bersama Keluarga Dalam Bencana Covid-19

Sajadah Muslim ~ Bahagia, kata yang kerap didengar dibaca, bahkan diucapkan, dan kata itulah yang banyak dicari dan diinginkan oleh semua orang.

Membuktikannya pun mudah, hampir semua orang dalam kehidupan ini rela berjuang, bekerja dan berbuat lebih banyak  untuk memperoleh kebahagiaan baik untuk diri sendiri maupun untuk keluarganya.


Saat seseorang bekerja, hakikatnya bukan uang semata yang dicari namun hasil letih dan keringatnya yang membahagiakan, lebih dan letih itu mengundang senyum bagi keluarga dan sekitarnya.

Saat seseorang lulus dari pendidikannya bukan ijazah yang ia kejar, namun proses pengorbanan yang panjang dan dilalui dengan penuh pengorbanan untuk memberikan kebanggaan pada kedua orang tuanya. Karena bahagia memang tergantung sejauh mana perjuangan dan pengorbanan yang dijalani.

Namun tidak sedikit manusia gagal dalam meraih kebahagian, walaupun orang lain beranggapan hidupnya yang sudah sangat bahagia.

Kebahagiaan terletak di hati, bukan materi, kebahagiaan bisa membawa ketentraman jiwa yang auranya terpancar merekah, kondisi sulitpun ia dapat merasakan kebahagiaan dan ketenangan.

Secara prinsip, bahagia itu sederhana alias simpel, menikmati dan mensyukuri segala nikmat yang Allah berikan itu bahagia. Waktu yang dilalui disyukuri sebagai sebuah anugerah yang diberikan oleh Allah itu nilainya bahagia.

Kesempatan hidup yang diberikan sebagai masa yang ia tak ingin sia-siakan, kesehatan dalam diri sebagai karunia yang mahal, ia jaga dengan sebaik-baiknya. Dirinya jauh dari kesibukan untuk mengeluh dan menyalahkan situasi dan keadaan itu pula bahagia.

Orang seperti itu akan selalu bahagia, maka jangan heran saat kondisi yang rumit, getir dan susah pun dia menemukan kebahagiaan.

Sosok Nabi Ayyub, yang dirundung penyakit yang berkepanjangan, harta benda yang dimiliki ludes tak tersisa, anak dan keluarganya meninggalkan dirinya, dia masih menemukan juga kebahagiaan dengan bersyukur dan berzikir atas ujian yang menimpa dirinya.

Memang tidak ringan, tapi bisa dan kita pun bisa walaupun mungkin bobotnya tidak sedahsyat yang dialami oleh Nabi Ayyub.

Tetapi, kita sama-sama menghadapi situasi sulit seiring dengan mewabahnya virus Covid-19, situasi yang menjadikan Ramadhan tahun ini benar-benar berbeda dengan ramadhan pada tahun-tahun yang telah lalu, bahkan ratusan tahun yang telah silam.

Kondisi karantina wilayah dimana-mana dan terbatas dalam ruang gerak. Hanyalah orang-orang yang memiliki kecerdasan hati yang mampu memanfaatkan kondisi itu untuk memaknai keutamaan akhir Ramadhan dengan sebaik-baiknya.

Masa “Lockdown” ini diisi dengan membaca Al-Qur’an lebih giat, menghafal lebih banyak, ibadah yang semakin dikencangkan, untaian taubat senantiasa dipanjatkan dan kepedulian terhadap sesama juga tidak ditinggalkan, bahkan lebih ditingkatkan. Inilah Lockdown yang sempurna dan tak sia-sia “Lockdown” tetap mendatangkan kebahagiaan bagi diri sendiri dan sesama.

Terlebih kala Ramadhan memang harus tinggal bersama dengan keluarga, maka situasi dan kondisi ini pun sangat membahagiakan intensitas lebih banyak, sehingga keluarga lebih mesra dan hangat. Bermain, bercanda, bercengkrama dan beribadah bersama keluarga lebih banyak dan berkualitas.

Pada sisi lain, keterbatasan tatap muka dimanfaatkan dengan mengoptimalkan media teknologi untuk silaturahim dengan  sanak saudara untuk menanyakan kabar, keadaan dan lainnya.

Keakraban dan kebersamaan dapat dirajut dan dirasakan dalam segala kondisi jika ia senantiasa berpikir positif. Hanyalah orang yang bersyukur yang dapat memiliki cara pandang kebaikan dalam kehidupannya.

Covid-19, banyak memberikan pelajaran untuk kita terus hidup dengan cara bersih, beribadah yang yang semaksimal mungkin.

Akhirnya mumpung masih dalam balutan bulan suci Ramadhan yang agung, mari kita selalu memaksimalkan untuk berbuat baik kepada orang lain, dan beribadah, serta terpanggil untuk bersedekah badan berbagi terhadap sesama insan.

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup

Puasa Dan Al-Quran

Sajadah Muslim ~ Menjalani puasa itu adalah amalan yang luar biasa, terlebih di bulan suci Ramadhan ini. Akan tetapi seperti  orang yang ingin mendapatkan kesempurnaan kebaikan, ia tidak akan merasa cukup hanya dengan menjalani ibadah puasa semata, tanpa menyempurnakan dengan amalan-amalan yang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad Saw.


Rasulallah bersabda: “Puasa dan Al-Qur’an itu akan memberikan syafaat kepada seorang hamba pada Hari Kiamat, Puasa berkata, “Ya Rabbku, aku telah mencegahnya dari makanan dan syahwat, maka jadikanlah aku sebagai pemberi syafaat untuknya.”

Al-Qur’an berkata, “Ya Rabbku, aku telah mencegahnya tidur pada malam hari, maka jadikanlah aku sebagai pemberi syafaat untuknya.” Beliau melanjutkan, “Keduanya pun lalu memberikan syafaat.” (HR. Ahmad).

Jadi, rugi kalau puasa tetapi tidak membaca Al-Qur’an, Al-Qur’an itu adalah wahyu, mukjizat akhir zaman, obat petunjuk dan penjelas dari setiap permasalahan hidup manusia, mulai dari soal kesucian hingga pemerintahan, dari masalah keluarga hingga negara dan seterusnya.

Ulama terdahulu sangat intens interaksinya dengan Al-Qur’an, terutama di bulan Ramadhan, jam pertemuannya dengan Al-Qur’an meningkat drastis.

Imam Qatadah (seorang ulama ahli tafsir di masa tabi’in) biasanya mengkhatamkan Al-Qur’an dalam tujuh hari. Namun jika datang bulan Ramadhan ia mengkhatamkannya setiap tiga hari, ketika datang sepuluh hari terakhir puasa ia mengkhatamkan setiap malamnya.

Hal seperti itu merupakan kezaliman di masa ulama terdahulu, seperti imam Qatadah, imam Syafi’i, dan Ibn Asakir, juga demikian. Ketika memasuki bulan Ramadhan semangatnya membaca Al-Qur’an meningkat drastis dan luar biasa.

Hikmah dan Solusi Untuk Yang Sibuk

Hikmah dari teladan di atas adalah bahwa puasa idealnya mampu menghadirkan injeksi energi yang luar biasa untuk seseorang semakin dekat kepada Allah, mencapai tujuan dari syariat puasa itu sendiri yakni bertaqwa kepada Allah.

Dan, jalan terbaik untuk bisa menjadi Muslim yang baik tentu saja melalui cara membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an.

Akan tetapi, bukanlah kita mengerti, tidak semua orang bisa meniru keteladanan para ulama yang sangat luar biasa itu? Benar, tetapi setidaknya interaksi dengan Al-Qur’an tetap kita upayakan untuk meningkat dibanding bulan-bulan diluar bulan Ramadhan.

Solusinya untuk dapat mencapai sempurnanya puasa  Ramadhan dengan senantiasa dekat dengan membaca Al-Qur’an, jika tak mampu duduk lama untuk membacanya hingga hatam, maka harus sering-sering mendatangi majelis ilmu terutama yang menjelaskan tafsir, tadabbur, atau pun kajian Al-Qur’an, dengan begitu, Insya Allah puasa Ramadhan akan semakin indah dan berkesan. Allahu a’lam.

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup

Back To Top