Membahas Tentang Seputar Ilmu Agama Islam

Benteng-Benteng Peninggalan Islam

Sajadah Muslim ~ Salah satu strategi militer yang dipakai oleh kekhalifahan Islam untuk mempertahankan wilayahnya yaitu membangun benteng. Bahkan di kota-kota Islam yang besar, benteng dibangun tidak hanya satu, namun terdiri dari beberapa laps seperti di Kota Hisn, Quhandiz dan Qal’a.


Kemegahan benteng-benteng peninggalan peradaban Islam di abad pertengahan itu ada yang masih berdiri kokoh, ada pula yang telah musnah berikut ini beberapa di antaranya.

Benteng Salahudin

Di Barat, benteng ini dikenal dengan nama The Citadel of Saladin dibangun oleh panglima perang Muslim terkemuka yang bernama Shalahudin Al-Ayubi dari Dinasti Ayubiyah pada tahun 1170 M, di bangun diatas bukit Muqatam yang terletak di antara kota Kairo dan Fustat Mesir.

Karena letaknya di atas bukit, setiap orang yang datang ke sana bisa menikmati keindahan pemandangan seluruh penjuru kota Kairo. Bahkan Piramida dan Giza peninggalan raja-raja Mesir pun bisa terlihat dari Benteng Shalahudin.

Shalahudin membangun Citadel sebagai tempat latihan militer serta melindungi Mesir dari serangan Pasukan Salib, yang berusaha untuk menguasai kembali Yerussalem.

Benteng ini sempat dilupakan dan tidak terurus hingga pada masa kekuasaan Dinasti Mamluk, Namun pada abad ke-14 M, benteng ini mulai diperhatikan dan dirawat. 

Bahkan Sultan El-Nasser Mohamed mulai membangun sejumlah bangunan lain di sekitar benteng tersebut, seperti masjid. Saat ini, Citadel juga menjadi tempat latihan militer Mesir.

Benteng Al-Ukhaider

Terletak di padang pasir yang berjarak 48 km dari kota Karbala dan 150 km diselatan kota Baghdad, Iraq. Benteng ini masih nampak kuat, tembok luarnya masih lengkap dan terawat dengan baik.

Benteng tersebut dibangun oleh salah seorang pemimpin dari Dinasti Abbasiyah yang pernah berkuasa di Iraq, yakni Isa ibn Musa pada tahun 774 hingga 775 Masehi, di dalamnya juga di bangun masjid dan tempat tinggal semacam apartemen. Arsitekturnya sangat indah

Pada saat perang Teluk yang terjadi antara Iraq dan Kuwait pada tahun 1991, benteng tersebut pernah diserang oleh dua pesawat terbang. Namun kondisinya tetap berdiri dengan kokoh tanpa ada kerusakan yang cukup berarti. Hal ini bukti kemampuan teknik bangunan yang tinggi dari arsiteknya.

Dulu, benteng ini juga telah menjadi tempat persinggahan para pedagang yang datang atau pergi ke Iraq, selain untuk singgah, juga berfungsi untuk melindungi wilayah-wilayah disekitarnya dari serangan-serangan orang asing.

Benteng Alamut

Di bangun pada tahun 840 M, di atas gunung  Alborz pada ketinggian 2.100 meter di atas permukaan laut, terletak di selatan Laut Kaspia dekat Provinsi Qazyin, dari kota Teheran, Iran sekitar 100 km.

Benteng Alamut merupakan bahasa Persia yang artinya sarang burung Rajawali. Kemungkinan nama tersebut diberikan untuk menggambarkan betapa kokohnya benteng tersebut.

Benteng ini memang didirikan di atas gunung untuk menyulitkan para penyerang yang akan menghancurkannya.

Untuk memasuki benteng tersebut, para penyerang harus melewati lereng-lereng yang terjal dan licin yang sangat berbahaya. Benteng yang panjangnya 400 meter tersebut juga memiliki sistem suplai air yang berbeda dari benteng-benteng lainnya. Sebenarnya benteng ini memang didirikan untuk menahan serangan dari bangsa Seljuk.

Pada tahun 1090 M, Hassan-i Sabbah, seorang komandan dari Persia yang berhasil menguasai benteng Alamut, membangun sejumlah taman dan perpustakaan di dalamnya. Namun pada bulan Desember tahun 1256 M, pasukan Mongol di bawah kepemimpinan Hulagu Khan datang dan berusaha untuk menghancurkannya benteng tersebut, tetapi tidak berhasil.

Benteng Alamut rusak parah akibat terjadinya gempa bumi di Iran pada tahun 2004. Dinding-dindingnya runtuh, untuk memperbaikinya membutuhkan waktu panjang sekitar 10 tahun.

Benteng Allepo

Benteng Allepo terletak di Suriah, di jantung kota historis Allepo, benteng ini dibangun oleh Sultan Hamdanid, penguasa Allepo pertama, sebagai pusat kekuatan militer. Ia merupakan sebuah bangunan yang mengelilingi sebuah istana di kota tua Allepo.

Benteng termegah dan terluas ini pernah diduduki oleh beberapa penguasa, seperti dari Yunani, Bizantium. Ayyubiyah dan Mamluk. Mayoritas bangunan yang bertahan hingga hari ini diperkirakan berasal dari periode Ayyubiyah.

Baca juga :

Bentuk benteng ini elips, panjang sekitar 450 meter dan lebar 325 meter dengan ketinggian 50 meter dari kaki bukit gunung.

Benteng tersebut juga dikelilingi oleh parit yang dialiri air untuk melindungi benteng dari penyelundup. Parit benteng itu memiliki kedalaman 22 meter dan lebar 30 meter.

Benteng Ajyad

Benteng tersebut dibangun oleh kekhalifahan Turki Utsmani di kota Makkah pada tahun 1775 M. Ini dimaksudkan untuk melindungi Ka’bah dan kota Makkah dari serangan para pendatang.

Benteng tersebut meliputi 23.000 meter persegi yang terletak di pegunungan Bulbul. Pada tahun 2002, benteng tersebut dimusnahkan untuk sebuah proyek pembangunan Abraj Al-Bait Towers yang terdiri dari apartemen, hotel berbintang lima, maupun pusat perbelanjaan.

Pemusnahan ajyad itu diprotes oleh pemerintah Turki. Namun pemerintah Saudi tetap memperbolehkan kelanjutan proyek ini. Selain itu, meskipun memiliki nilai historis tetapi benteng tersebut tidak termasuk bangunan bersejarah yang dilindungi oleh UNESCO.

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup


Teladan Nabi Dalam Musyawarah

Sajadah Muslim ~ Kaum Muslim berkumpul kembali saat sholat Maghrib. Kala itu orang-orang Madinah turut hadir di masjid usai sholat. Nabi membawa Abu Bakar dan Umar ke rumah beliau untuk mambantu Nabi mengenakan pakaian perang.


Sementara itu orang menyusun barisan diluar Sa’ad ibn Mu’adz dan pengikutnya dengan suara keras mengingatkan. “Kalian semua telah memaksa Rasulullah untuk keluar, berlawanan dengan kemauan beliau, sedangkan kebijakan itu telah diwahyukan dari atas. Serahkan kembali keputusan ini ke tangan Nabi. Persilakan beliau untuk menentukan sekaligus.”

Kala keluar dari kediaman Rasulullah, melilitkan sorban dikepalanya, dan mengenakan pelapis dada dan memakai pakaian rompi baja, diikat dengan  ikat pinggang dari kulit, sementara pedangnya diselipkan.

Nabi mengenakan penopang perasai untuk pedangnya yang disilang di punggungnya. Banyak kaum Muslimin menyesali kata-kata mereka sebelumnya, yang dalam persiapan Perang Uhud mengajak Nabi keluar dari Madinah.

Begitu Nabi muncul, mereka berkata, “Wahai Rasulullah sungguh tidak pantas kami menentangmu dalam hal apapun, maka putuskan dan kerjakan apa yang terbaik menurutmu.” Nabi menjawab. “Tidak pantas seorang Nabi melepaskan baju baja-nya yang telah dikenakannya sebelum Allah menentukan antara ia dan musuhnya.

Maka kerjakan yang telah kuperintahkan. Majulah dengan nama Allah.  Jika kalian sabar dan tabah kemenangan ada dipundak kalian.”

Demikianlah penggalan kisah yang digubah oleh Marthin Linhs (Abu Bakar Sirajuddin) dalam bukunya  Muhammad, tentang persiapan Perang Uhud.

Awalnya, saat masuk informasi bahwa pasukan Quraisy akan menyerang Madinah. Rasulullah mengajak untuk musyawarah para sahabat dan kaum Muslimin di Madinah, Nabi sendiri mengusulkan agar tidak  meninggalkan Kota Madinah.

Akan tetapi kebanyakkan sahabat dan kaum Muslimin terpacu semangatnya sehingga mereka meminta izin agar Nabi memimpin mereka untuk menyerang pasukan kaum Quraisy diluar Madinah.
Marthin Lings menuliskan, “Sekarang sudah jelas, mereka menentang untuk tinggal di dalam benteng Kota Madinah, bukan hanya dari pendapat perorangan, tapi dari kesepakatan umum yang diterima oleh mayoritas kaum Muslimin. Nabi pun akhirnya memutuskan untuk menyerang.”

Namun, berselang tidak begitu lama, kaum Muslimin sadar bahwa keputusan itu seakan memaksa Rasulullah untuk mengikuti pendapat mereka, hingga lahirlah penyelesaian dan meminta Nabi, untuk membuat keputusan lain. Namun Rasulullah tetap teguh bahwa hasil keputusan  musyawarah harus dijalankan..!!!!!

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup

Cinta Dan Kesetiaan Khodijah

Sajadah Muslim ~ “Muslimah bebas mencintai siapapun dengan syarat iffah (penjagaan diri), muru’ah (kehormatan diri) serta tidak melupakan selendangnya, sifat malu”


Aku tidak pernah cemburu sebagaimana cemburuku pada Khodijah, padahal aku tidak pernah melihatnya. Jika Rasulullah menyembelih kambing, beliau menyuruh untuk membagikannya kepada teman-teman Khodijah. Maka hal itu membuatku marah. Rasulullah hanya menjawab “Sungguh aku telah dikaruniai cintanya.”

Pernyataan jujur dari ummul mukminiin Aisyah yang diriwayatkan oleh imam Muslim dalam kitab shohihnya diatas, adalah sebuah gambaran atas kesetiaan seorang suami pada istrinya. Tidak hanya sekali kecemburuan Aisyah ra, terhadap mendiang istri Rasulullah itu ia ungkapkan. Namun selalu menimpali kecemburuan itu dengan kecemburuan yang berlipat-lipat. Apa sesungguhnya rahasia  kesetiaan Rasulullah kepada Khodijah.

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori Muslim dan Ashab Sunan menyatakan, “Wanita dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, garis keturunannya, kecantikannya, agamanya, maka pilihlah wanita yang taat agama , niscaya  kamu akan beruntung.”

Ketika menikahi Khodijah, tautan usia antara mereka sangatlah jauh, Khodijah telah dua kali menikah sebelum menikah dengan beliau, kemudian nazab dan berlimpahnya harta yang ia miliki masyhur di kalangan suku Quraisy saat itu.

Alasan Rasulullah menerima pinangan Khodijah kepadanya tidak diketahui, namun apa yang diungkapkan beliau saat menjawab kecemburuan Aisyah menunjukkan bahwa hanya Khodijah yang total memberikan apa yang ia miliki kepada Rasulullah saat ia lapang  maupun sempit. 

“Kamu tahu Aisyah? Allah tak pernah menggantikan yang lebih baik dari Khodijah. Dia beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkariku, membenarkan perkataanku ketika orang-orang menuduhku berbohong, memberiku sokongan saat orang-orang menghalangiku, dan Allah memberiku keturunan darinya.”

Dari jawaban beliau kita dapat mengambil pelajaran bahwa sebab kesetiaan Rasulullah kepada Khodijah adalah balasan atas kesetiaannya pada perjuangan dakwah Rasulullah, bukan karena tingginya nasab, kecantikan ataupun harta yang ia miliki. 

Kesetiaan beliau merupakan ungkapan kesyukuran atas apa yang telah diberikan oleh Allah kepada beliau lewat Khodijah. 

Khodijah telah mewariskan keteladanan yang  harum sepanjang zaman. Bentuk cinta dan kesetiaan itu dapat kita adopsi agar kelanggengan hidup berumah tangga terus berlangsung. Kehidupan rumah tangga adalah kehidupan yang  mengalami pasang surut yang membolak-balikkan hati dan perasaan.

Tidak sedikit biduk  rumah tangga hancur karena merasa cinta dan kesetiaan  telah hilang dan tidak lagi  menghiasi rumah mereka. Khodijah adalah cermin bagi istri dalam mengevaluasi keadaan diri, apakah telah layak mendampingi suaminya. Apakah benar kesetiaan kita sebagai istri telah kita usahakan untuk selalu ada dan berkembang?

Keteladanan pertama dari Khodijah dapat kita ambil dari kisah turunnya wahyu pertama, sekaigus penobatan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul.

Ketika Rasulullah diliputi kekhawatiran luar biasa terhadap dirinya sendiri kerena didatangi makhluk besar yang mendekap dan menyuruhnya membaca, Khodijah menenangkan beliau dengan kalimat. “Tidak, demi Allah, engkau tidak akan diabaikan oleh Allah selamanya, karena sesungguhnya engkau telah menyambung hubungan silaturahim, menolong yang lemah, memberi orang yang membutuhkan, melayani tamu, dan membela kebenaran.” (HR. Bukhari). Kalimat ini seketika mengalirkan ketenangan pada hati dan diri Rasulullah ketika sudah tenang, Khodijah membawa beliau kepada Waroqoh, agar beliau mendapatkan penguatan atas apa yang diyakini Khodijah adalah sebuah kebaikan dan tugas mulia bagi Muhammad sungguh Khodijah berperan cantik dalam menggunakan logika, kecerdasan, dan perasaannya, sehingga dia tidak terbawa cemas saat kecemasan itu meliputi Rasulullah.

Keteladanan kedua dari kesetiaan Khodijah yang  dapat kita jadikan cermin adalah saat pemboikotan yang dilancarkan oleh kuffar Quraisy di tahun ketujuh kenabian. Khodijah habis-habisan mengifakkan hartanya, dia rela ikut bersama Rasulullah dengan risiko bisnis perniagaannya terhenti. Hingga pemboikotan ekonomi dan sosial yang berlangsung 3 (tiga) tahun  itu membuat Khodijah sakit-sakitan, dan meninggal di tahun kesepuluh kenabian. 

Inilah dua dari beberapa hal yang disebutkan oleh Rasulullah saat menjawab kecemburuan Aisyah, dua dari banyak bukti kesetiaan yang terus dibangun oleh Khodijah dalam mengayuh bahtera rumah tangga bersama Rasulullah.

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup

Peperangan Pada Bulan Syawal Di Masa Rasulullah

Sajadah Muslim ~ Ada beberapa peperangan yang terjadi di masa Rasulullah saw yang terjadi  pada bulan Ramadhan.

Perang Bani Qainuqa

Pertama, Perang Bani Qainuqa. Perang Bani Qainuqa adalah peperangan yang terjadi antara kaum Muslimin dengan kaum Yahudi Bani Qainuqa. Peperangan ini terjadi pada bulan Syawal 2 Hijriah dan dimenangkan oleh kaum Muslimin.

Perang Uhud

Kedua, Perang Uhud, yakni perang umat Islam dengan Bani Quraisy pada tanggal 17 Syawal tahun ke tiga hijriyah yang kemudian umat Islam mengalami kekalahan.

Perang Khandaq

Ketiga, Perang Khandaq, yang dimenangkan  umat Islam melawan Bani Quraisy dan dimenangkan oleh umat Islam.

Perang Hunaian

Keempat, Perang Hunaian, yakni perang umat Islam dengan Kaum Badui dari suku Hawazin dari  Tsaqif pada 6 Syawal tahun 630 M, atau 8 H, pada salah satu jalan dari Mekkah ke Thaif.

Referensi Saya : Berbagai Sumber

Ilmuwan dan Penemuan Termasyhur Dalam Islam Bagian 2

Al-Battani, Sang Penemu Hitungan Jarak Keliling Bumi

Haly Abbas, itulah nama panggilan Ali Ibnu Abbas, Al-Mujusi di Barat. Ia berjasa dalam pengembangan teknologi pengolahan aspal menjadi minyak. Ilmuwan dari Persia itu cukup dikenal di Barat, lewat buah pikirnya yang berjudul Complete Book of the  Medical Art. Ia mendirikan sebuah rumah sakit di Shiraz. Persia, serta Rumah Sakit Al-Adu di Baghdad pada tahun 981 M. Al-Majusi telah berhasil mengolah aspal menjadi  minyak yang dapat digunakan untuk mengobati penyakit dan luka kulit. Ia memeras endapan aspal yang dipanaskan untuk diambil airnya. 

Al-Zahrawi, Pelopor Penggunaan Gigi Palsu

Al-Zahrawi juga tercatat sebagai dokter yang mempelopori penggunaan gigi palsu atau gigi buatan yang terbuat dari tulang sapi. Kemudian geligi palsu itu dikembangkan lagi menggunakan kayu. Sumbangan penting dokter Muslim di era kejayaan dalam pengembangan ilmu kedokteran juga diungkapkan Salma Almahdi (tahun 2003) dalam tulisannya berjudul Muslim Scholar Contribution in Restorative Dentistry. Menurut Almahdi, dokter gigi Muslim dari abad ke-10 M, lainnya yang mengembangkan dentistry adalah Abu Gaafar Amed Ibnu Ibrahim Ibnu Abi Halid al-Gazzar.

Di Balik Munculnya Nama Bulan Muharram

Tahukah Anda, bagaimana nama ‘Muharram’muncul ? Kata ‘Muharram’, yang berarti  ‘diharamkan’ sebelum masuknya Islam di semananjung Arab. Bulan tersebut disepakati  sebagai bulan yang diharamkan bagi semua orang untuk berperang. Tetapi, pada masa tersebut, bangsa Arab masih mengacu dan menggunakan kalender Lunisolar, yaitu  penanggalan dengan acuan perputaran matahari. Bulan Muharram, yang biasa di sebut Ra’s as Sanah  atau  kepada tahun, bertepatan dengan berakhirnya musim  panas, yang pada masa itu bertepatan dengan bulan September.

Jejak Kejayaan Islam  di Luar Angkasa

Al-Sufi, tercatat berhasil melakukan observasi dan menjelaskan bintang-bintang, posisinya, jarak dan warna bintang-bintang  itu. Ia juga membuat peta bintang. Kitabnya yang paling fenomenal, yakni kitab Suwar al-Kawakib. Dunia Islam di zaman kekhalifan sempat menjelma sebagai pusat studi astronomi dan astrologi. Studi astronomi dan astrologi mulai berkembang pada era kepemimpinan Khalifah Al-Mansyur sebagai penguasa ketiga Kekhalifahan Abbasiyah di abad ke-8 M. Kedua studi  itu kian menggelit sejak ditemukannya strolabe oleh Al-Fazari di dunia Islam.

Kontribusi Peradaban Islam dalam Kedokteran Gigi

Henry W. Noble (tahun 2002) dalam buku Tooth Transplantation mengakui bahwa para dokter Muslim di zaman kekhalifahan merupakan perintis ilmu kedokteran gigi. Di barat, ilmu kedokteran gigi berkembang pada abad ke-17 M. Barat juga mengklaim Pierre Fauchard sebagai “bapak ilmu kedokteran gigi modern.” Padahal, menurut Noble, 700 tahun, sebelum itu, seorang dokter Muslim bernama Abu al-Qasim Khalaf ibnu al-Abbas Al-Zahrawi alias Abulcasis (tahun 930 – 1013 M) telah mengembangkan bedah gigi dan perbaikan gigi. Keberhasilannya telah memukau para dokter gigi modern.

Para Ilmuan Astronomi dan Astrologi dalam Islam

Menurut sejarawan sains, Donald Routledge, kedua ilmu yang telah menguak rahasia  langit mencapai puncak kejayaan dalam peradaban Islam dari tahun 1025 M hingga 1450 M. Pada masa itu, di berbagai wilayah kekuasaan Islam lahir sederet  astronom dan astrolog muslim serta sejumlah observatorium yang besar dan megah seperti Nasiruddin at-Tusi. Ulugh Beg, Al-Batanni, Ibnu Al-Haitham, Ibnu Al-Syatir, Abdur Rahman as-Sufi, Al-Biruni, Ibnu Yunus. Al-Farghani, Al-Zarqali, Jabir Ibnu Aflah, Abu Ma’shar, dan lainnya. Mereka memberi kontribusi bagi pengembangan astronomi dan astrologi.

Sepuluh Aturan Pokok Hukum Dalam Kitab Taurat

Kitab Taurat diturunkan kepada Nabi Musa. Di dalamnya berisi  sepuluh firman aturan hukum Allah yang diterima di puncak gunung Thursina. Sepuluh pokok hukum tersebut adalah :
  1. Mengakui ke-Esa-an Allah
  2. Larangan menyembah berhala
  3. Larangan menyebut Allah dengan sia-sia
  4. Memuliakan hari Sabtu
  5. Menghormati ayah dan ibu
  6. Larangan membunuh sesama
  7. Larangan berzina
  8. Larangan mencuri
  9. Larangan menjadi saksi palsu
  10. Larangan menguasai hak orang lain.

Kitab Zabur Tidak Mengandung Hukum Syariat

Kitab Zabur merupakan kitab suci yang diturunkan Allah kepada Nabi Daud, di saat raja Bani Tsrail mencapai zaman keemasannya di Kanaan sekitar 400 tahun setelah meninggalkan Mesir. Kitab Zabur berisi mazmur, yaitu nyanyian pujian kepada Tuhan. Kitab tersebut merupakan kumpulan firman-firman Allah. Namun kitab tersebut ternyata sama sekali tidak mengandung hukum-hukum atau syariat seperti kitab-kitab suci lainnya, karena Nabi Daud diperintahkan Allah untuk mengikuti peraturan yang dibawa oleh Nabi Musa.

Nabi Isa Mengajarkan Injil, Hanya Tiga Tahun

Allah menurunkan  kitab suci Nabi Isa  yang bernama Kitab Injil. Kata ‘Injil’ semula berasal dari bahasa Yunani, yaitu euangelion, yang berarti kabar gembira, dan kemudian masuk ke dalam  bahasa Arab yang menjadi Injil. Makna kabar gembira  yang dimaksud adalah karena Nabi Isa, menggembiraka para umatnya dengan berita akan datangnya Nabi akhir zaman, yaitu Muhammad di Tanah Makkah. Nabi Isa  mengajarkan Injil kepada para pengikutnya hanya selama tiga tahun, yakni sejak ia berumur 30 tahun hinga 33 tahun.  

Tiga Tingkatan Ibadah Manusia Menurut Ibnu Sina

Ibnu Sina, seorang filsuf muslim kenamaan. Menyebutkan bahwa ibadah seorang hamba di hadapan Allah itu memiliki tiga tingkatan. Pertama, yaitu ibadah. karena takut pada Tuhannya dan siksa Allah. ini ibarat seorang budak yang bekerja karena takut pada tuannya. Ini tingkatan paling rendah. Kedua, yaitu ibadah karena termotivasi mengharap surga Allah. Ini ibarat orang berdagang yang bersemangat, berjualan karena ingin mendapatkan keuntungan yang banyak. Ketiga, yaitu ibadah karena cinta. Ini ibarat seorang ibu yang memberikan apa saja kepada anaknya atas dasar cinta. Inilah tingkatan yang tertinggi.

Perbedaan Sistem Kalender Jawa dan Hijriyah Islam

Sistem kalender Jawa berbeda dengan kalender Hijriyah, meski memiliki kemiripan. Pada abad ke-1, di Jawa diperkenalkan sistem penanggalan kalender Saka (berbasis  matahari) yang berasal dari India yang digunakan hingga tahun 1625 Masehi, bertepatan dengan tahun 1547 Saka. Sultan Agung, mengubah dan mengadopsi kelender Jawa dengan sistem kalender Hijriyah, seperti nama hari, bulan, serta  berbasis lunar (Qamariyah). Namun demikian, angka tahun Saka diteruskan dari 1547 Saka ke 1547 Jawa, berbeda dengan kalender Hijriyah yang menggunakan visibilitas bulan pada penentuan awal bulan.

Dari Mana Asal Penamaan Bulan Rabiul Awal

Nama Rabiul Awal, berasal dari kata rabi yang berarti ‘menetap’ dan awal yang berarti ‘pertama’. Dulu masyarakat Arab, masa kembalinya kaum laki-laki yang telah meninggalkan rumah dan merantau dilakukan pada bulan tersebut. Jadi Rabiul Awal adalah masa awal menetapkannya kaum laki-laki di rumah. Pada bulan tersebut banyak peristiwa yang bersejarah bagi umat Islam. Antara lain, Nabi Muhammad saw, lahir dan wafat, diangkatnya menjadi Rasul, melalukan hijrah ke Madinah, dan sebagainya.

Oleh Uup Gufron
Back To Top