Membahas Tentang Seputar Ilmu Agama Islam

Empat Bekal Menuju Jalan Allah

Sajadah Muslim ~ Betapa banyak hati yang gundah gulana walau harta dalam genggaman. Betapa banyak orang kehilangan arah kehidupan  walau  kemewahan meliputi keseharian. Mereka seakan tampak bahagia namun sejatinya hampa.


Sebagai bukti bahwa dunia memang bukan tujuan, melainkan ladang manusia beramal untuk panen kelak diakhirat, negeri yang abadi.

Sebagian yang sadar akan hal di atas telah memilih jalan untuk bahagia dengan kembali pada nilai-nilai Islam, Namun, sering dengan semangat yang menggebu namun belum didasari ilmu, menjadikan keaktifannya, untuk menjalankan perintah agama  lebih didorong keadaan emosional dari pada rasional dan benar-benar  sesuai tuntanan Allah Ta’ala.

Lantas bagaimana kita menuju Allah dengan cara yang tepat? Imam Al-Ghazali menguraikannya dengan gamblang pada kitab adabnya yang berjudul Ayyuhal Walad. Ada empat langkah yang harus dilakukan untuk  menuju Allah Ta’ala.

Pertama, memiliki i’tiqad (keyakinan) yang murni tidak dicampuri oleh kebid’ahan ini berarti, seorang Muslim harus benar-benar memahami ilmu tauhid dan ilmu aqidah, sehingga dirinya sadar sepenuhnya bahwa hanya Allah yang wajib disembah, didapatkan ridha, cinta, dan kasih sayang-Nya.

Dalam upaya ini, sudah barang tentu harus benar-benar mengarah untuk meneladani apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mulai shalat, sedekah, tilawah Al-qur’an. Hingga muamalah dengan sesama benar-benar sesuai dengan sunnah.

Sebelum ke langkah kedua, penting dijelaskan makna bid’ah di sini menurut penjelasan kitab Ayyuhal Walad itu sendiri Bid’ah adalah segala sesuatu yang berlawanan dengan apa yang dibawa oleh Al-Qur’an, Al-Karim dan As Sunnah, serta tidak memiliki dasar dalam agama Islam.

Kedua, taubat nasuha. Taubat ini adalah sebuah kesadaran sekaligus pengakuan dan komitmen untuk benar-benar berubah, sehingga tidak akan kembali melakukan dosa, maksiat atau pun kemungkaran.

Langkah ini bisa kita lihat dari sosok Umar bin Khathab yang menjadi Muslim dan ia sangat membenci terhadap kekafiran apalagi sampai berpikir untuk maksiat dan menjadi kafir kembali.

Ketiga, meminta keridhaan orang yang pernah dizalimi, sehingga tidak lagi ada beban karena hak orang lain yang belum ditunaikan.

Rasulullah pernah melakukan hal ini, menjelang akhir hayat beliau. Beliau mengumpulkan umat Islam, lantas meminta siapa yang pernah di zalimi untuk melakukan balas atas kezaliman yang andai Rasulullah pernah lakukan, baik sengaja, maupun tidak sengaja. Ini berarti kita harus segera menuntaskan segala macam urusan diri dengan sesama, agar semua ridha dan diri bisa semakin mudah menjadi orang yang dekat dan berhasil sampai menunju Allah Ta’ala

Keempat,  menuntut ilmu tentang syariat sehingga dapat menjalankan perintah-perintah Allah Ta’ala ini juga menjadi sebuah tantangan tersendiri, terutama di era digital seperti sekarang. Kinsen, duduk dalam jangka sampai satu jam menuntut ilmu bukanlah perkara penting.

Sekalipun ini juga mulai bisa dilakukan secara online. Namun pada dasarnya ini adalah sebuah dorongan agar diri sadar, paham, dan mengerti mengapa sebuah perintah Allah wajibkan, sunnahkan dan mengapa kita melakukannya serta mengerti manfaat, fadhilah (keutamaan) dari menjalankan itu semua.


Labels: Seputar-Islam

Thanks for reading Empat Bekal Menuju Jalan Allah. Please share...!

0 Comment for "Empat Bekal Menuju Jalan Allah"

Back To Top