Sajadah Muslim ~ Kata orang, start menentukan finish. Bagaimana orang itu mengawali satu kegiatan, maka biasanya begitu pula hasil yang kelak diperolehnya di garis akhir. Jika start yang dilakukan baik, niscaya ada harapan untuk mendapat kebaikan yang sama di ujung perjalanan. Tinggal bagaimana ia bisa istiqamah bersungguh-sungguh menjaga spirit kebaikan itu.
Sebaliknya kalau awalnya saja sudah buruk, atau setidaknya kurang semangat apalagi tidak meyakinkan, maka tentu saja dibutuhkan usaha lebih keras dan mujahadah lebih ekstra. Ia harus mengubahnya segera bahkan membalikkan keadaan menjadi baik dari sebelumnya. Keadaan itu wajib dirawatnya agar terus membaik dan tidak kembali menjadi buruk.
Demikian prestasi yang hendak dicapai. Keselamatan dunia dan kebahagiaan Akhirat tersebut tak boleh lepas dari orientasi yang benar. Nabi Muhammad (tak pernah bosan kita mengirim shalawat dan salam terindah untuk Nabi dan segenap keluarganya) menjelaskan hal itu dalam satu haditsnya soal niat berhijrah. Bahwa untuk meraih kemenangan, dibutuhkan peran niat atau motivasi yang benar.
Indahnya, dalam proses perjalanannya, yang keliru dalam start di awal tidak mesti langsung divonis buruk selamanya. Cukup ia diingatkan dan diminta untuk segera memperbaiki yang awalnya salah tadi. Tentu saja, tidak cukup pasang niat baik, kepada Tuhan, ia mesti bertaubat dan kepada manusia ia harus minta maaf pula.
Firman Allah: “… Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).” (Al-Alaq [96]: 19)
Beriman itu berarti berproses dalam usaha memperbaiki diri. Prestasi itu adalah hasil dari rangkaian proses yang tidak mudah lagi panjang. Layaknya manusia yang juga memiliki proses dan tahapan kehidupan di dunia. Ia berawal dari kecil, tumbuh dan berkembang, hingga mencapai hasil yang diinginkan. Itulah pentingnya mengawali hari yang baik. Sebab semangat dan kebaikan itu punya sifat menular. Sebagaimana yang buruk pun bisa berpindah dan menyebar dari satu orang ke sebagian lainnya.
Maka beruntunglah orang-orang yang mengawali hidupnya di pagi hari
dengan mengingat Allah. Sebab awal yang baik adalah ketika orang itu sujud dan
rukuk kepada Penciptanya sebelum ia melakukan aktivitas lainnya. Sumber
keberuntungan itu saat ia khusyuk membaca kabar-kabar langit dari al-Qur’an sebelum
direcoki dengan berita-berita dunia yang kian menua di akhir zaman ini. Ia
mengingat
Akhirat sebelum disibukkan dengan urusan dunia. Itulah hakikat sesungguhnya dari prestasi manusia. Mari nikmati proses prestasi itu.
Sebaliknya, celakalah orang-orang yang pikiran dan hatinya hanya dipenuhi
dengan urusan materi dunia. Ia sedih semata-mata karena urusan dunia yang
dirisaukan. Dirinya galau akibat dari
soal harta dan materi dunia yang tak kunjung usai diributkan setiap saat.
Sayangnya orang seperti ini jarang menjadi gundah karena agamanya yang diusik. Atau
karena prestasi ibadahnya yang jadi menurun dan tak lagi membekas. Orang
demikian, alih-alih mendapatkan prestasi, ia justru dikejar dengan bayang-bayang
kegalauan setiap waktu.
Thanks for reading Nikmatnya Proses Raih Prestasi. Please share...!

0 Comment for "Nikmatnya Proses Raih Prestasi"