Sajadah Muslim ~ Meski berasal dari satu entitas yang sama, kenyataannya manusia adalah tiga golongan berbeda. Demikian Burhanuddin az-Zarnuji, membagi kelompok manusia dalam karyanya kitab Toklimul Muta’allim. Menurut az-Zarnuji ada manusia yang tampil sebagai sosok yang utuh (rajulun), ada yang hanya dianggap separuh laki-laki (nishfu rajulin) ada juga meski wujudnya ada tetapi tidak bernilai sama sekali (la syaia).
Kelompok manusia pertama, disebut az-Zarnuji sebagai sosok paripurna. Mereka adalah orang-orang yang punya ide dan gagasan terbaik. Gemar berkomunikasi dan bisa bekerja dalam satu kelompok (lahu ra’yun shaibun wa yusyawir) Dinilai tipe orang seperti ini punya kepedulian terhadap orang lain dan lingkungan sekitarnya.
Mereka tidak asyik dengan keshalihan secara individual saja, tetapi juga terpanggil untuk memberi kontribusi terhadap maslahat yang lebih besar bagi umat manusia.
Sosok pertama mencakup dua kebaikan sekaligus, keshalihan secara infiradi (pribadi) dan keshalihan secara sosial (mushlih). Mereka adalah komponen masyarakat yang berkarakter ulama zuama (ulama pemimpin) atau alimin dan amilin (orang-orang berilmu yang mengamalkan ilmunya). Mereka juga bisa tergolong sebagai fuqaha dan du’at (ahli figh dan juru dakwa) secara bersamaan. Sebagai muta’allim dan mu’allim (pembelajar dan pengajar) sekaligus di satu waktu.
Jenis kedua, kata az-Zarnuji yaitu nishfu rajulin (separuh laki-laki. Asalnya mereka bukan orang cacat hingga digelari “Setengah” saja. Namun sikap dan kepeduliannya menunjukkan itu. Cirinya, lanjut az-zarnuji, lahu ra’yun shaibun walakiri la yusyawir.
Kelompok manusia ini punya pendapat yang baik, tapi itu hanya dinikmati seorang saja. Dia tidak senang diajak bermusyawarah. Nyaris tidak peduli dengan sesama. Apalagi sampai diajak meluangkan waktu, pikiran dan tenaga untuk orang lain. Mungkin saja dia baik tapi kebaikan itu tak pernah dirasakan oleh sekelilingnya.
Sedang kelompok ketiga adalah la syala. Keberadaann juga ditangisi. Alih-alih diharap memberi solusi, ia sendiri belum mampu mengatasi persoalan sendiri.
Jangankan berpikir visioner ke depan, soal sampah dilingkungan sekitarnya tak bisa atasi olehnya. Hidupnya bisa dikata berbekal modal kasihan dari orang lain. Tidak ada kepekaan dan tanggung jawab moril. Baik untuk dirinya apalagi bagi kepentingan masyarakat.
Nasihat diatas panjang lebar diurai dalam pasal Ketiga tentang Adab Memilih Ilmu dan Guru. Menurut az-Zarnuji manusia kini mulai kehilangan sifatnya sebagai makhluk sosial. Saling menghormati, empati, toleransi, perhatian, kepekaan, kepedulian, dan persaudaraan perlahan luntur, tanpa disadari. Padahal diakui justru itulah yang menjadi ukuran dan nilai manusia selama ini.
Bahwa adab tidak boleh tercabut dari pokok ilmu. Keduanya saling bersenyawa tanpa bisa dipisahkan. Adab ialah norma yang mendahului dari pada ilmu itu sendiri. Ibarat cangkang, adab menjadi pelindung ilmu dari hal-hal yang buruk dan tidak bermanfaat.
Adab adalah wadah tempat ilmu kelak tumbuh menjulang dan mengakar, sebab apa gunanya ilmu kalau kepekaan dan kepedulian itu hilang dari diri manusia.
Lihat saja, bukan sekali dua kali berbagai elemen masyarakat tumpah kejalan-jalan. Bukan untuk menggelar pesta atau sedang bersuka cita. Mereka turun untuk mengadakan aksi dan orasi. Menyuarakan kegelisahan dan ketidak percayaan mereka.
Mempertanyakan kepedulian wakil-wakil rakyat yang dianggap tidak lagi berpihak. Lalu kemana ilmu dan amanah itu? Kemana tanggung jawab dan sumpah jabatan? Kemana kepedulian yang kerap dijadikan bahan kampanye dimasa lalu? Adakah semuanya ternyata nothing atapun la syaia?
Thanks for reading Melahirkan Jiwa Yang Peduli. Please share...!

0 Comment for "Melahirkan Jiwa Yang Peduli"