Sajadah Muslim ~ Ketika manusia hidup tidak lagi menjadikan ajaran Islam sebagai jalan hidup, sudah barang tentu kegelapan dan kesengsaraan akan menyapa kehidupannya, baik di dunia lebih-lebih di akhirat. Satu yang menjadikan manusia terperosok pada keadaan buruk itu adalah tiadanya kendali diri dalam memandang hakikat harta, hingga menjadi pribadi kikir dan yang tamak. Imam Ghazali dalam ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa penyebab kikir dan tamak adalah adanya keinginan yang kuat akan kehidupan dunia ditambah angan-angan yang panjang. Ketika itu dibiarkan maka orang akan teracuni oleh sikap rakus, tamak, dan serakah sehingga melakukan kemungkaran, pelanggaran hukum, hingga menindas dan menzalimi orang lain, baginya adalah perkara yang penting dilakukan.
Rasulullah telah memberikan peringatan penting perihal ini semua. Apabila anak Adam sudah memiliki dua buah lembah yang terbuat dari emas, niscaya ia masih akan mencari lembah yang ketiga. Tidak memenuhi perut anak Adam kecuali tanah. Allah Ta’ala menerima taubat orang yang bertaubat. (HR Bukhari dan Muslim)
Hal ini menunjukkan bahwa harta tidak perlu dijadikan arus utama dalam hidup, melainkan dalam rangka untuk menegakkan agama Allah, membantu sesama dan menciptakan kemaslahatan yang luas dan keperpanjangan. Sebab jika harta hanya untuk diri bermegah-megahan dan bermewah-mewahan, maka kehancuran dan kebinasaan adalah keniscayaan.
Sebagaimana dialami oleh Qarun di masa Nabi Musa dan Tsa’labah di masa Nabi Muhammad.
Oleh karena itu, dalam Islam kaya itu tidak indetik dengan harta. Apalagi kemuliaan, sama sekali bukan diukur atas banyak sedikitnya harta manusia. Al-Quran menegaskan orang mulia adalah yang paling bertaqwa.
Lantas bagaimana pandangan Islam tentang orang kaya sesungguhnya? Seorang ahli hikmah, sebagaimana dinukil oleh Imam Ghazali pernah ditanya “Apakah makna kaya itu”?
Ahli hikmah itu menjawab, “Sedikitnya angan-anaganmu dari kerelaaanmu dengan apa yang mencukupkanmu.”
Ibn Mas’ud pernah berkata, “Tidak akan terlewatkan sehari pun melainkan malaikat akan menyeru, ‘Wahai anak Adam sesuatu yang berjumlah sedikit namun mencukupi kebutuhanmu itu jauh lebih baik dari pada jumlah banyak yang justru menganiaya kepadamu.”
Fakta mengenai hal ini begitu banyak, terutama dimasa-masa dimana umat Islam disapa datangnya bulan ibadah, seperti kala Idul Adha dan masa ibadah haji. Dimasa Idul Adha biasa muncul berita seorang pemulung ikut berqurban setelah menabung 5 tahun sampai 7 tahun lamanya. Sedangkan ada orang yang sudah punya rumah, ada mobil, tinggal di kota, qurban kambing saja tidak pernah.
Pernah juga ada sebuah kisah yang ramai dibicarakan orang, perihal seorang tukang becak, yang setiap hari Jum’at menggratiskan upah kerjanya kepada penumpang yang naik pada hari jum’at itu. Sedangkan sisi yang lain ada orang kaya, aset dimana-mana, namun masih tamak dan akhirnya menjadi koruptor.
Dengan demikian, hidup di dunia ini bukan semata urusan harta. Sekalipun harta tetap diperlukan dalam segala sisi kehidupan. Kebahagiaan tidak akan Allah turunkan kepada hati yang tamak dan kikir dengan harta.
Melainkan akan dianugerahkan kepada hati yang qona’ah, sehingga kala kaya itu berarti akan banyak urusan umat dibantu dari harta yang dimilikinya. Kala miskin, tak akan ada rencana dalam dirinya untuk merampok, korupsi atau melakukan perbuatan haram yang pasti akan menyengsarakan hidupnya, cepat atau lambat.
Thanks for reading Antara Harta Banyak Dan Hati Yang Qona’ah. Please share...!

0 Comment for "Antara Harta Banyak Dan Hati Yang Qona’ah"