Sajadah Muslim ~ Secara normatif berkurban di Hari raya Idul Adha, merupakan keutamaan yang dicintai Allah Swt. Namun disisi lain, ibadah kurban sesungguhnya berdampak pada perekonomian umat.
Sebagaimana diketahui, ternak dan hasil produksinya merupakan sumber bahan pangan protein yang sangat penting untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sementara tingkat pendapatan rumah tangga (purchasing power) masyarakat Indonesia masih belum menjangkau untuk protein dengan intensitas yang memadai.
Bappenas mencatat bahwa rata-rata tingkat konsumsi protein hewani di Indonesia hanya mencapai 4,7 gram/orang/hari. Sedangkan di Malaysia, Thailand, dan Pilipina rata-rata telah di atas 10 gram/orang/hari.
Kemudian negera maju seperti Jepang, Australia dan Selandia Baru konsumsi rata-rata mencapai diatas 20 gram/orang/hari.
Pada saat yang sama, populasi ternak berupa sapi potong, kambing, domba dan sebagian kecil kerbau, masih belum mencukupi untuk kebutuhan protein dalam negeri.
Tentu saja masalah ini tidak bisa sepenuhnya dipikul oleh pemerintah. Beruntung Islam memiliki syarat untuk menjalankan ibadah kurban, sehingga setidak-tidaknya dalam satu tahun umat Islam bisa berkontribusi terhadap terpenuhinya kebutuhan protein hewan masyarakat.
Jadi berkurban tidak saja menjalankan ketaatan, tetapi juga ikut serta memakmurkan pembangunan. Kesadaran umat yang meningkat untuk berkurban membuat perputaran ekonomi seputar peternakan, pertanian, transportasi, jasa jagal, dan penyaluran daging kurban meningkat.
Sektor riil ekonomi ini bisa meningkatkan kesejahteraan para pelaku ekonomi di dalamnya. Bagi pekurban pun ada pemenuhan asupan gizi protein hewani. Sesuatu yang mungkin hanya bisa dinikmati setahun sekali bagi kaum duafa. Disinilah Anda yang berkurban benar-benar berjasa signifikan bagi pemenuhan gizi masyarakat bawah.
Sebab kurban jelas memberikan keuntungan nyata dan langsung. Para penerima manfaat kurban dapat pemenuhan gizi di sektor makanan, sekalipun setahun sekali, kemudian juga terjadi pemenuhan pasokan konsumsi masyarakat terutama daging.
Menariknya, daging kurban bisa dinikmati siapa saja, termasuk non-Muslim, berbeda dengan zakat yang harus kepada umat Islam. Dan lihatlah betapa senangnya masyarakat desa di pelosok negeri ini yang mendapatkan hewan kurban dari anda.
Berkurban juga berdampak luar biasa bagi peternak. Dengan menjalankan ibadah ini, ada kepastian hasil ternak dalam negeri terbeli. Pada akhirnya banyak yang akan mendapat keuntungan, mulai dari peternak, petani, pedagang hewan, sektor transportasi, tukang jagal hingga yang mengantar daging kurban. Semua mendapat manfaat ekonomi dari ibadah ini. Lebih dari itu, peternak diuntungkan dari sisi harga dan jumlahnya yang cukup besar.
Sebagai ilustrasi misalnya di Indonesia ada 20 juta orang yang berkurban dikalikan Rp. 2.000.000,- maka akan terhitung dana sebesar Rp. 40 triliun yang berputar. Dan angka tersebut adalah angka pasti dan itu sektor riil.
Keuntungannya langsung dinikmati masyarakat kelas kecil itu angka baru yang dinikmati untuk peternak belum untuk transportasi dan jagal. Uang bisa terserap ke mereka dan memutar roda ekonomi.
Hal ini menunjukkan bahwa ibadah kurban memiliki sumbangsih besar terhadap perekonomian nasional. Sederhana saja analoginya, jika masyarakat miskin harus makan protein hewani setahun minimal 1 kg, maka ibadah sudah membuat pemerintah tidak perlu mengeluarkan anggaran.
Ironinya, distribusi daging belum seutuhnya merata. Di perkotaan, jumlah daging sangat banyak, sementara di desa-desa tidak sedikit yang tidak tersentuh daging kurban.
Disinilah kami memandang kurban Masuk Desa sebagai program urgen, mengingat saudara-saudara kita di pedesaan jauh lebih membutuhkan.
Thanks for reading Tak Sekedar Ibadah, Qurban Juga Menggairahkan Perekonomian Rakyat. Please share...!

0 Comment for " Tak Sekedar Ibadah, Qurban Juga Menggairahkan Perekonomian Rakyat"