Membahas Tentang Seputar Ilmu Agama Islam

Bila Ayat Al Quran Di Baca Dengan Langgam Berbeda

Sajadah Muslim ~ Pembacaan al-Qur’an dengan langgam Jawa saat peringatan Isra Mi’raj beberpa waktu lalu di Istana negara sempat menuai kontroversi. Tidak sedikit orang yang terkejut saat mendenagarnya. Pasalnya, lantunan ayat al-Qur’an yang dibacakan oleh qari Muhammad Yasser Arafat yang juga dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menggunakan langgam Jawa.


Munculnya pambacaan al-Qur’an dengan langgam Jawa ini adalah ide menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Menteri agama mengatakan bahwa tujuan pembacaan al-Qur’an dengan langgam Jawa ungtuk menjaga dan memelihara tradisi Nusantara dalam menyebarluaskan  ajaran Islam di Nusantara.

Sayangnya, ide yang dicetuskan dalam acara besar peringatan Isra Mi’raj ini menimbulkan gelombang ketidaksetujuan. Resistensi pembacaan al-Qur’an dengan langgam Jawa tersebut cukup besar. Tidak sedikit masyarakat yang kemudian bertanya sekaligus menganologikan bagaimana  kalau lagu  Indonesia Raya saat acara kenegaran dinyanyikan dengan langgam Jawa atau budaya yang lain? Apakah orang Indonesia bisa menerima atau tidak?

Dianjurkan dengan Lahjah Arab

Mungkin bagi sebagian orang yang sudah terbiasa mendengar lantunan ayat-ayat al-Qur’an dengan langgam  budaya setempat menganggapnya tidak masalah. Hal biasa yang tidak perlu dipersoalkan. 

Tetapi tidak  bagi kebanyakkan orang yang lazim pembacaan al-Qur’an  biasanya  dengan lahjah Arab. Sehingga ketika di sebuah peringatan Isra Mir’aj yang dihadiri oleh  para petinggi negeri dibacakan lantunan  al-Qur’an  berlanggam lain sontak banyak  orang terpengaruh. Ini dianggap sebuah laku nyeleneh.

Karena itu, tak ayal, sejumlah  kalangan mengkritik tajam pembacaan model seperti ini. Qari  internasional, Syaikh Abdullah bin Ali Bashfar, memberikan komentarnya mengenai qira’at dengan langgam Jawa tersebut. Sang qari internasional  setelah menyimak  bacaan al-Qur’an dengan langgam jawa tersebut mencatat  beberapa hal :

Pertama, kesalahan tajwid, dimana panjang madnya dipaksakan mengikuti kebutuhan lagu.

Kedua, ada kesalahan jahjah (logat). Sebab menurutnya, membaca al-Qur’an sangat  dianjurkan menggunakan lahjah Arab, sebagaimana orang Arab membacanya. Seperti dikatakan dalam sebuah hadits. “Iqra’ul qur’aana bi luhuunil’Arabi wa ashawaatiha.” 

Ketiga, kesalahan takalluf, yakni memaksakan untuk meniru lagu yang tidak lazim dalam membaca  al-Qur’an.

Keempat, yang cukup berbahaya apabila ada kesalahan niat, yaitu merasa  perlu menonjolkan ke Jawa-an atau ke-Indonesia-an atau kebangsaan saat berinteraksi dengan al-Qur’an. Dan yang dianggap fatal apabila ada maksud memperolok-olokkan ayat-ayat Allah yang mereka samakan dengan lagu-lagu wayang dalam suku Jawa.

Qari internasional asal negeri ini KH. Muammar ZA, pun tidak sreg pembacaan al-Qur’an dengan langgam non Arab. Kata Muammar, membaca al-Qur’an dengan langgam Jawa dan Sunda sebagai contoh, adalah cara membaca yang dilarang oleh  Nabi Muhammad saw.  Muammar juga memberikan contoh potongan-potongan bacaan al-Qur’an dalam langgam Jawa dan Sunda, jauh lebih  baik dari bacaan  Muhammad Yasser Arafat, saat membaca di Istana Negara. Pernyataan Muammar ini dapat dilihat dalam sebuah video yang diunggah ke Youtube.

Sama seperti Syaikh Abdullah bin Ali Bashfar. Muammar menukil sebuah hadits yang menyatakan bahwa Rasulullah saw memerintahkan kepada kita untuk menghiasi al-Qur’an  agar lebih  bagus lagi namun tetap harus dengan bahasa dialek dzauq serta lagu Arab.

Komentar lebih tajam datang dari Tengku Zulkarnaen, Wakil Sekretariat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Membaca al-Qur’an dengan menggunakan langgam Jawa di Istana Negara, menurutnya telah mempermalukan Indonesia di kancah internasional. Sebagaimana ditulis  Republika co.id (17/5). Tengku merasa banyak kesalahan, baik dari segi tajwid, fashahah dan lagunya.

Dalam al-Qur’an sudah dijelaskan kitab suci diturunkan dengan bahasa Arab asli. Jadi membacanya juga mesti sesuai pada saat al-Qur’an diturunkan ke bumi. Di samping itu, tambahnya lagu untuk pembacaan al-Qur’an sendiri sudah disepakati para qurra yang ada di dunia. Karena itu, lanjutnya menjadi aneh apabila al-Qur’an  dibaca dengan langgam lain.

Tajwid dan Makhraj Harus Benar

Dari dalil yang ada memang umat Islam diperintahkan membaca al-Qur’an dengan lahn dan shaut Arab. Akan tetapi tak ada dalil yang menyatakan palarangan membacanya dengan langgam lain selain Arab. Itulah  yang dijadikan alasan oleh sebagian kalangan yang menganggap  bahwa sah-sah saja melantunkan ayat-ayat al-Qur’an dengan langgam lain.

Bahkan dengan langgam non-Arab asal makhraj dan tajwidnya benar, itu tidak perlu dimasalahkan. KH. Ahsin Sakho. Muhammad. Rektor Institut Ilmu Al-Qur’an menegaskan bahwa cara membaca al-Qur’an merupakan hasil kaya seni manusia yang dirangkum dalam kalamullah. Ini tidak bertentangan dengan ajaran Islam, melainkan lahir dari seni budaya masyarakat tertentu.

Yang penting kata Ahsin, bacaan pada langgam budaya harus tetap mengacu seperti yang diajarkan Rasulullah saw dan para sahabatnya. Ahsin menjelaskan cara membaca al-Qur’an  yang mengacu pada langgam budaya Indonesia sangat diperbolehkan dan tidak ada dalil  shahih yang  melarangnya. Lebih lanjut  katanya saat  ini masyarakat Indonesia  hanya mengenal  satu pintu dalam mendengarkan cara melantunkan al-Qur’an. Seluruhnya terangkum dalam tujuh seni dalam membaca al-Qur’an yakni Bayyati, Shoba, Nahawand, Hijaz, Roast, Sika, dan Jiharka. 

Begitu pula pendapat Ketua PBNU. Maksum Machfoedz. Boleh-boleh saja asalkan sesuai  standar bacaan. Standar baca tersebut meliputi tajwid dan makhari jul huruf.  Menurut  Maksum, apabila ingin menambahkan langgam dalam bacaan al-Qur’an, tentu disesuaikan  dengan standar bacaan. Tidak boleh sebaliknya, standar bacaan yang mengikuti langgam. Sepanjang  standar dipenuhi, lanjut Makmsum, rasanya hanya ada perbedaan gaya baca atau lagu saja. Seandainya langgam tersebut diterapkan ke dalam bacaan lain seperti  shalawatan, adzan, suluk dan sebagainya yang disesuaikan dengan lagu dan tata cara ritual lokal, lanjut Maksum, itu masih diperbolehkan. Sebab itu pula yang dilakukan para pendahulu dalam menyiarkan agama Islam. Namun  pendapat mantan Wakil  Menteri  Agama  Nasaruddin Umar sedikit berbeda. Pembacaan al-Qur’an dengan langgam Jawa sebenarnya tak masalah. Menurut Nasaruddin, selama tidak  merusak tajwid intonasi, maupun makna dari al-Qur’an itu sendiri, maka penggunaan langgam Jawa tersebut tidak dilarang.

Tetapi masalah ini jadi kontroversi kata Nasaruddin, lantaran masyarakat belum terbiasa  mendengar langgam Jawa yang digunakan  untuk membaca al-Qur’an. Ia mengkhawatirkan hal ini akan mengganggu telinga masyarakat. Karena masyarakat Indonesia kalau soal agama itu sensitif.

Khilafiyah

Dari semua uraian di atas jelas pembacaan ayat al-Qur’an dengan langgam non-Arab masuk area khilafiyah (perbedaan pendapat). Ada yang tidak mempermasalahkan, dalam arti boleh-boleh  saja dengan catatan tetap mengacu pedoman membaca al-Qur’an, ada yang  sama sekali menolak. Telinga kita yang mendengar pembacaan al-Qur’an dengan bacaan lain selain Arab, mungkin akan menemukan keanehan. Berbeda dari yang biasanya kita dengar. Sehingga pertanyaan yang muncul kemudian apabila dibolehkan dengan langgam Jawa, berarti  oleh juga  al-Qur’an dinyanyikan dengan  langgam daerahnya dan negaranya, masing-masing ? Atau boleh juga dengan irama yang lebih nge-rock dangdut, seriosa atau nge-pop hiphop dan sebagainya?

Tetapi jika tidak dibolehkan, pertanyaannnya adalah adakah ketentuan baku yang melarangnya? Dasar hadits yang ada adalah anjuran membaca al-Qur’an  dengan lahjah Arab. Kalupun hadits itu dinilai shahih, bukan berarti bahwa langgam selain langgam Arab dilarang Nabi saw, menekankan dibaca dengan baik dan indah. Sehingga menurut pendapat kedua, karena tidak ada dasar yang melarangnya, maka tidak mengapa apabila  al-Qur’an dibaca dengan langgam yang berbeda selama ketentuan tajwidnya telah terpenuhi. Wallahu a’lamu bish shawab.  

Oleh Herry Munhanif

Tips Menghafal Al-Qur'an Dengan Cara Kanan

Sajadah Muslim ~ Kita memahami bahwa jika ingin sukses menghafal Al-Qur'an, maka harus mematuhi prosedur baku. Yakni fokus pada satu mushaf, ambil waktu yang tepat, cari tempat yang kondusif, buat schedule yang padat, bekerja keras, disiplin pada waktu. Sementara dibeberapa tempat, untuk mengajak anak-anak TK menghafal Al-Qur'an ada yang fokus mentasmi mereka pada satu surat, mengajarkan ayat per-ayat  hingga mereka fasih dan hafal.


Ketika di rumah, orang tua juga diharuskan berkomitmen untuk mentasmi anaknya sehari 15 kali. Yakni 5 kali setelah subuh, 5 kali setelah maghrib, dan 5 kali sebelum anak  tidur. Semua itu disebut dengan metode  menghafal Al-Qur'an dengan metode kiri.

Ada cara lain yang tak kalah dahsyatnya yakni menghafal Al-Qur'an dengan cara kanan. Seorang teman berkisah tentang anak didiknya yang hafalan Al-Qur'an melesat dengan cara kanan. Awalnya, anak didiknya itu diprediksi akan mampu menghafal Al-Qur'an dalam lima tahun. Mengingat kemampuan menhafalnya yang kurang cepat. Namun anak didiknya itu adalah seorang dermawan. Ketika itu dia menjadi satu-satunya santri yang menyumbang untuk proyek pembangunan tower di pesantrennya.

Besarnya sumbangan membuat ustadznya  bertanya-tanya dari mana dia punya uang sebanyak itu. Ternyata uang yang dia sumbangkan  adalah tabungan selama ia di sekolahnya dulu. Ia pun  juga menjadi satu-satunya santri yang wakaf tanah. Selain dermawan ia juga santri yang berakhlak baik. Mengayomi santri-santri yang lebih kecil, tak pernah menolak jika ada santri lain yang meminta bantuannya. Wallahu a'lam, sikapnya ini mempengaruhi percepatannya dalam menghafal Al-Qur'an. Belum genap setahun ia mampu menyelesaikan hafalan 23 juz.

Ada lagi kisah unik yang bisa mempercepat proses menghafal Al-Qur'an. Seorang siswi punya koleksi barbie yang banyak sekali. Segala jenis barbie dia punya. Tapi sekolah mengimbau agar anak-anak dijauhkan dari televisi, game dan gambar/tokoh  kartun khayalan. Tujuannya tidak lain untik membentuk karakter generasi khoiru ummah, generasi umat yang terbaik. Mengingat tayangan TV tidak ada yang layak ditonton, game juga sering membuat anak-anak lalai, dan gambar/tokoh  kartun yang seringkali mengisahkan kehidupan orang dewasa ala barat.

Maka, siswi tersebut akhirnya membuang semua koleksi boneka barbie. Ya, semuanya ia buang. Tidak ia berikan ke anak lain karena berarti juga bisa merusak anak lain. Tidak  juga ia jual ke situs jual beli barang bekas yang populer di dunia cyber. Siswi tersebut kemudian menjadi siswi yang termasuk cepat hafalannya. Wallahu a'lam, gambar/tokoh kartun favorit bisa jadi menghambat  proses menghafal Al-Qur'an.

Ada baiknya, anak-anak  dikenalkan dengan tokoh-tokoh Islam seperti Muhammad al Fatih, Ibnu Sina, Imam Syafii. Beliau-beliau ini adalah sosok yang mulia, memberikan sumbangsih yang sangat besar bagi peradaban Islam, dan yang tidak kalah pentingnya beliau-beliau itu hafal Al-Qur'an di usia yang masih sangat belia. Inilah sosok yang harus kita kenalkan kepada anak-anak kita. Apalagi jika ingin anaknya menjadi penghafal Al-Qur'an dan penjaga Islam yang terpercaya.
Akhirnya, memang hanya orang-orang pilihan yang bisa menjadi penghafal Al-Qur'an. Mereka adalah orang-orang yang hatinya bersih. Generasi penghafal Al-Qur'an kini telah tersebar dimana-mana. Pesantren tahfidz, sekolah Islam terpadu yang mengedepankan tahfidz juga tersebar dimana-mana. Jika dulu orang tua ingin anaknya seperti Einstein maka sekarang orang tua ingin anak-anaknya seperti Imam Syafii Hafal seluruh Al-Qur'an di usia dini.

Sekarang adalah era kebangkitan generasi penghafal Al-Qur'an. Ijazah pun tak begitu diperlukan. Banyak universitas favorit yang mencari penghafal Al-Qur'an untuk masuk tanpa tes. Penghargaan yang memang pantas, karena penghafal Al-Qur'an adalah anak yang cerdas. Generasi penghafal Al-Qur'an pun ada di mana-mana. Tersebar di seluruh penjuru dunia. Menggeser generasi-generasi yang jauh dari Al-Qur'an.

Dengan Al-Qur'an yang tersimpan di dada, semoga mendorong penghafal Al-Qur'an  untuk mengamalkannya. Generasi penghafal dan pecinta Al-Qur'an, faqqih fididiin, terdepan dalam saintek, berjiwa pemimpin, dan inovatif. Merekalah generasi khoiru ummah, generasi terbaik yang akan menata dunia dengan peradaban terbaik. Peradaban yang penuh kemuliaan, kehormatan, dan keridhoan Allah.

Namun diluar sana ada juga pemandangan yang tak sedap dipandang. Anak-anak sibuk main game diwarnet, duduk bergerombol laki-laki, perempuan. Bahkan tak jarang terdengar kabar anak sekolah yang pacaran bahkan hamil. Inilah jurang yang curam. Jangan sampai anak kita tergerus arus kehidupan yang sekuler-liberal. Jaga anak kita agar berada di tempat yang aman. Sibukkan mereka dengan aktivitas keagamaan seperti menghafal Al-Qur'an, mengikuti pembinaan agama Islam, dan mengajak mereka dalam aktivitas amar ma'ruf  nahi munkar.

Mari mengajak anak-anak kita untuk akrab dengan Al-Qur'an. Terbiasa mendengarkan dan menghafalkan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Ketika Al-Qur'an sudah masuk dalam kehidupan anak, akan mempengaruhi cara berpikir anak menjadi lebih berkualitas dan indah. Berbahagialah para orang tua memiliki anak salih yang cinta Al-Qur'an. Sungguh ini adalah kekayaan yang tak ternilai harganya............!!!!!!

Oleh Eep Khunaefi

Tips Menghafal Al Quran Ala Juara 1 Internasional Lomba Tahfidz 30 Juz

Sajadah Muslim ~ Banyak cara atau metode menghafal Al-Qur'an. Di antaranya diresepkan oleh Deden Muhammad Makhyaruddin, MA pada acara  pembukaan umah Tahfidz Daarul Huffadz di Jati Waringin, Jakarta Timur, Ahad 06 September 2015.

Peraih Juara I Internasional Lomba Tahfihz 30 juz dan Tafsirnya (Maroko tahun 2011) itu menjelaskan menghafal Al-Qur'an sangatlah mudah. “Semudah bernafas,” ujarnya, “Kecuali yang berpenyakit 'asma', hatinya kena asma, imannya yang kena asma.”
Ilustrasi
Ia memaparkan, jika al-Qur'an diibaratkan oksigen, maka menghafalkannya seperti bernafas dengan al- Qur'an. “Siapa pun Anda, Anda adalah penghafal al-Qur'an. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa oksigen. Sebagaimana tidak ada manusia Mukmin yang bisa hidup tanpa al-Qur'an,” ungkapnya di depan puluhan hadirin.

Deden mengibaratkan menghafal al-Qur'an seperti menyantap makanan. Makan atau menghafal akan nikmat jika dilakukan sesuai kebutuhan suapan makanan atau asupan hafalan. “Makan yang enak tuh makan yang sesuai comotannya. Coba kalau makan langsung sepiring (masuk mulut), enak tidak?” ujar pria ramah senyum ini bernada guyon.

Ia menganalogikan, jika sebuah bakul nasi bermuatan 30 piring, maka untuk menghabiskannya mesti tahap demi tahap. Begitu pula, untuk menghafal 30 juz al-Qur'an, dilakukan dengan langkah demi langkah. “Ketika makan, comit (nasi) 1 kali suap sesuai ukuran perut kita dan kebutuhan kita.” ujarnya.

Dalam satu hari, lanjut dia, hafalkan al-Qur'an sesuai yang dibutuhkan. Apakah 1 lembar, 1 surat, 1 ayat, bahkan seperempat ayat. “Sesuai kemampuannya, kapasitas hatinya, sesuai yang bisa ditangkap.” jalasnya.

Ketika dia, kalau pas comotan ayatnya, biasanya bisa langsung hafal sekaligus. Tapi kalau tidak pas, tidak bisa. Jangan sekali-kali meremehkan 1 'suap' (hafalan). 'Ah, segitu doang, satu suap'. Jangan ! Sedikit disyukuri, nanti bisa nambah,” ujarnya. “Rasa senang (saat menghafal) itu menjadikan penghafal tidak akan kuat kalau berpisah dengan ayat itu, ngak bakal lupa. Itu kalau sudah syukur,” lanjut Deden yang bisa menghafal  30 juz  al-Qur'an dalam 56 hari ini.

Terkadang ada orang bilang, pernah menghafal 1 juz al-Qur'an tapi lupa. Hal itu, kata dia, menandakan ketidaksyukurannya atas hafalannya. Resep berikutnya, jelas Deden, jangan mau cepat-cepat menghafal al-Qur'an. Sebab itu pertanda belum nikmat dalam menghafalkannya. “Ada nggak yang pengen makannya cepat-cepat kenyang, cepat habis? Emang tujuan makan itu untuk habis atau untuk dinikmati? Emang untuk dinikmati, ntar akan habis sendiri, ”jelasnya masih dengan analogi makanan.

Kalau seseorang sudah nikmat dalam menghafal al-Qur'an, ia sama sekali tidak meniginginkan cepat-cepat habis. “Itu tandanya sudah nikmat. Kalau sudah nikmat, kapan pun kita itu bakal selesai (menghafalnya),” ujarnya.

Oleh Eep Khunaefi

Tips Dari Rasya, Ibu dari 3 Anak Penghafal Al-Qur'an Termuda Di Dunia

Sajadah Muslim ~ Siapa yang tidak ingin putra-putri warga muslim yang bisa mampu menghafal Al-Qur'an dengan baik dan benar. Seperti orang penghafal Al-Qur'an termuda di dunia, yakni Tabarak, Yazid, dan Zeenah.
Ilustrasi
Ibu dari 3 anak tersebut, Rasya el-Ghayyar mengemukan, sedikitnya ada tiga hal yang sering dilakukan selama hamil sehubungan dengan cita-citanya agar mempunyai keturunan yang bisa menghafal Al-Qur'an.

Pertama, banyak tilawah, Rasya el-Ghayyar yang juga menjadi dosen di Batterje Medical College itu, sudah biasa membaca Al-Qur'an sejak sebelum menikah. Kebiasaan tilawah itu, terus dilakukan hingga hamil, Bahkan, lebih sering dibanding hari-hari sebelumnya.

Kedua, berusaha menghafal Al-Qur'an, Rasya el-Ghayyar yang mempunyai gelar doktor ini, selain tilawah, selama hamil dari anak pertama (Tabarak), anak kedua (Yazeed ), maupun anak ketiga (Zeenah), juga berusaha menghafal Al-Qur'an.

Ketiga, berdoa sebagaimana doa istri Imran. Doanya seperti dalam Al-Qur'an surat Ali 'Imran ayat 35, “Ya Tuhank-Ku, sesungguhnya aku menadzarkan kepada Engkau anak yang ada dalam kandunganku menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat. Karena itu, terimalah (nadzar) itu dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Ali 'Imran ayat 35).

Dari usaha yang dilakukan tersebut, akhirnya anak pertama, Tabarak  yang lahir pada tanggal 22 Februari 2003, mulai mampu menghafal Al-Qur'an pada usia 3 tahun dan menjadi hafizh pada usia 4,5 tahun.

Ia  lulus ujian al Jamiyyah al-Khairiyah li Tahfizh al-Qur'an  al- Karim di Jeddah dan al 'Alamiyah li Ta'lim al Qur'an al Karim milik Rabithah al'Alam al Islami dengan predikat mumtaz (Cumlaude).

Anak kedua, Yazid Tamamuddin juga hafal Al-Qur'an 30 juz pada usia 4,5 tahun. Ia mendapatkan nilai lebih tinggi dari kakaknya. Meskipun sama-sama mumtaz, Tabarak mendapat nilai 90 dan Yazeed mendapat  nilai 95.

Anak ketiga juga demikian, Zeenah el Laboody hafal Al-Qur'an  30 juz pada usia kurang dari lima tahun. Akhirnya, jadilah ketiganya menjadi 3 hafiz termuda di dunia.

Oleh Eep Khunaefi

Tips Anak-Anak Palestina Menghafal Al Quran

Tips Anak-Anak Palestina Menghafal Al Quran ~ Tips ini berasal dari Syaufi M. Rabbani, relawan Rumah Zakat, saat menyalurkan bantuan ke warga Palestina akhir tahun 2012.  Berikut pengalamannya  bersama para penghafal Al-Qur'an.


“Mereka mengajar saya bagaimana cara menghafal Al-Qur'an dengan mudah. Saya praktekkan di sini, dan ternyata bisa.”ujar Syaufi.

“Sebelum tidur kita membaca halaman atau ayat yang sedang dihafal selama 10 kali. Tilawah ini dilakukan benar-benar jelang tidur yang tidak ada aktivitas lain sesudah itu. Pada pembacaan 10 kali ini bacaan kita harus benar-benar lancar dan tidak boleh ada kesalahan tajwid di dalamnya. Pada pembacaan  yang ke 10 kita baca per-ayat beserta artinya. Pada tahap ini kita harus sampai paham makna dan maksud ayat yang kita hafal. Betul-betul harus masuk  ke kepala kita cerita yang sedang kita hafal.

Setelah itu kita tidur. Keesokan paginya kita bangun sebelum subuh. Setelah Qiyamu Lail barulah kita menghafal ayat-ayat yang sudah dibaca 10 kali sebelum tidur tadi. Sebelum subuh kita harus sudah hafal ayat tersebut. Pada bagian ini pentargetan dilakukan. Jika tidak ada target, biasanya kita suka berleha dalam menghafal Al-Qur'an. Setelah shalat subuh kita murajaah atau mengulang ayat-ayat yang sudah di hafal. Sampai waktu dhuha, kita melaksanakan shalat dhuha 8 rakaat. Setiap rakaat  kita mengulangi 1 kali ayat yang dihafal.  Jika pada shalat dhuha hafalan kita sudah lancar, insya Allah ayat-ayat tersebut sudah menempel di benak kita.”papar Syaufi.

Oleh Eep Khunaefi
Back To Top