Malam Bersejarah di Bulan Suci Ramadhan

Sajadah Muslim ~ Sejauh ini para ulama berbeda pendapat mengenai sejarah turunnya al-Qur’an pada beberapa hal. Pertama, apakah ia diturunkan secara sekaligus atau berangsur-angsur? Kedua, apakah surat al-Iqra’ atau surat al-Muddatsir yang pertama kali diturunkan? Mari kita lihat bagaimana pendapat beberapa ulama mengenai hal itu.


Sebagian besar ulama berpendapat bahwa surat yang pertama kali diturunkan adalah surat al-Iqra ayat 1-5. Sementara ada yang mengatakan bahwa  al-Muddatsir adalah surat yang pertama kali diturunkan. Mereka memiliki alasannya masing-masing. Namun yang jelas, bahwa sejak ayat-ayat al-Qur’an diturunkan ke dunia, terdapat beberapa perubahan yang terjadi dalam kehidupan umat manusia, salah satunya adalah dengan diperkenalkannya batasan-batasan moral secara tegas yang sebelumnya belum pernah ada.

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa sejak pertama al-Qur’an diturunkan, berturut-turut al-Qur’an diturunkan sebagai respon (tanggapan) terhadap fenomena sosial yang terjadi pada saat itu, khususnya masyarakat kota Mekkah dan kota Madinah. Sebagai contoh, ketika tradisi Jahiliyah menganggap bahwa bertelanjang, sambil mengelilingi Ka’bah adalah sesuatu yang biasa dilakukan, maka al-Qur’an muncul  melarangnya. Begitu juga ketika masyarakat Jahiliyah sudah biasa dengan segala macam minuman arak  yang memabukkan, al-Qur’an  meresponnya dengan mengharamkannya. Jadi, al-Qur’an muncul sebagai penegak tatanan moral yang sejati dalam kehidupan manusia.

Baca juga :
Respon al-Qur’an terhadap fenomena sosial masyarakat Arab tersebut secara tidak langsung menunjukkan kepada kita bahwa kitab suci umat Islam ini diturunkan secara berangsur-angsur (gradual). Hal ini sangat berbeda sekali dengan kitab suci sebelumnya seperti kitab Taurat, Injil, dan Zabur yang diturunkan secara langsung sekaligus. Al-Qur’an menunjukkan kebenaran ini dalam surat al-Isra ayat 106 dan Surat al-Furqan  ayat 32.

Ada beberapa hikmah kenapa al-Qur’an  diturunkan secara berangsur-angsur ini , salah satunya adalah sebagai bukti bahwa al-Qur’an diturunkan oleh Allah swt. Menurut  Ismail R. Al-Faruqi dan Lois Lamya Al-Faruqi, ada beberapa hal yang bisa ditunjukkan dari al-Qur’an yang merupakan firman Allah.

Pertama, umat  Islam sangat memuliakan al-Qur’an. Ia menunjukkan kehadiran Ilahi itu sendiri dan memiliki kemuliaan yang tertinggi.

Kedua, al-Qur’an  tetap abadi dan tak akan berubah. Sejak diturunkannya pada 14 abad yang lalu sampai sekarang al-Qur’an tidak pernah berubah. Yang berubah hanyalah sebatas pemahaman dan penafsiran terhadapnya. Adakah sebuah karya yang sudah berumur ribuan tahun tidak berubah, kalau bukan merupakan ciptaan Tuhan.

Ketiga, al-Qur’an memasukkan semua norma bahasa Arab. Aturan tata bahasa dan kalimat, tashrif kata, susunan dan keindahan bahasa. Pendeknya, semua yang membentuk bahasa, ada diwujudkan dalam al-Qur’an sebagaimana tak pernah terjadi sebelumnya. Dari al-Qur’an lah ahli bahasa Arab menurunkan tata bahasanya, ahli bahasa menurunkan morfologinya, penyair menurunkan kata kiasannya.

Tapi kemudian kita bertanya-tanya, kenapa ayat pertama al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan, sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Baqarah ayat 185, al-Qadar ayat 1, dan al-Dukhan ayat 31 ?

Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan dikarenakan di dalamnya terdapat banyak kemuliaan, seperti pahalanya berlipat ganda dan bulan pengampunan. Karena itu, al-Qur’an diturunkan sebagai bagian dari beberapa kemuliaan bulan Ramadhan itu. Keadaan ini semakin sesuai ketika tujuan diturunkannya al-Qur’an sendiri adalah untuk misi kemuliaan, yaitu meluruskan umat manusia dari tingkah laku yang tidak bermoral. 
Dengan demikian, sangatlah  miris hati kita bila saat datangnya bulan Ramadhan kita banyak menjauhkan diri dari al-Qur’an. Bulan Ramadhan tidak dijadikan cerminan bahwa pada bulan ini sebuah kitab suci yang bernama al-Qur’an di turunkan. Kita lupa bahwa perintah membaca sebagaimana pesan surat pertama itu diturunkan tidak diterapkan dalam diri kita untuk membaca al-Qur’an ketika bulan Ramadhan, tentu membacanya dengan sungguh-sungguh.

Pentingnya Membaca

Bacalah....... bacalah..... bacalah! Itulah mungkin pesan penting dari diturunkannya surat Iqra’, Secara sosial historis (sejarah), munculnya perintah membaca dari Tuhan kepada Nabi Muhammad saw, tersebut tidak lain disebabkan pada saat itu tradisi Arab Jahiliyah termasuk dari bangsa yang tidak pandai membaca (ummy). Sehingga ketika surat Iqra diturunkan, bukan saja bermaksud menyindir intelektual masyarakat Jahiliyah yang lemah dalam hal membaca, namun juga merangsang mereka agar banyak belajar tentang kehidupan. Untuk bisa mempelajari banyak kehidupan itu, tentunya sarana vital (penting) adalah melalui membaca.

Akan tetapi, dalam membaca kita tetap harus selektif. Ada bahan bacaan yang mesti  kita baca dan ada yang harus kita tinggalkan. Di sinilah pentingnya rangkaian kata selanjutnya setelah kata iqra’, yaitu bismi rabbika (dengan nama Tuhan-Mu). Tuhan dalam ayat ini adalah lambang kebaikan dan kemuliaan.

Bunyi hadits yang berbunyi, ‘Berakhlaklah kalian dengan akhlak Allah’ (takhallaquu biakhlaqillah) tidak lain dimaksudkan karen Allah adalah lambang kebaikan itu. Bacalah dan pelajarilah bagaimana akhlak Allah itu !
Penyayang, Pengasih, Pemberi, Pemaaf adalah salah satu dari sekian banyak akhlak Allah itu. Jadi hendaklah proses membaca itu mampu menggerakkan segala sikap kita untuk semakin dekat kepada Tuhan dan kian akrab dengan kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat.

Dengan membaca seseorang bisa berkualitas. Dengan membaca juga suatu bangsa bisa maju. Demikian penting arti membaca ini, sehingga al-Qur’an sendiri sampai  mengulanginya sebanyak dua kali dalam rangkaian wahyu yang pertama itu. Hanya saja  di antara kita sangat sedikit sekali yang mau mengerti tentang pentingnya arti membaca ini. Mundurnya Islam sekarang ini adalah salah satunya, dikarenakan tradisi membaca ini sudah banyak kita tinggalkan.

Pepatah Islam pernah mengatakan, “Al-Hikmah dhallat al-mukmin fakhudz al-hikmat  walau min ahl al-nifaq (ilmu pengetahuan) hikmah pada hakekatnya adalah milik umat Islam yang telah hilang karena itu ambilah dia sekalipun dari orang-orang  munafiq.

Jadi, janganlah kita  beranggapan bahwa ilmu yang sekarang dikembangkan oleh orang-orang Barat adalah ilmu kafir atau ilmu yang menyesatkan, sehingga tidak bisa dipelajari. Hakekatnya, ilmu yang mereka kuasai itu berkat mereka belajar dari Islam. Ilmu yang menyesatkan  adalah yang membuat moral umat manusia semakin rusak dan kian jauh dari Tuhan. Semoga dengan datangnya bulan Ramadhan ini dijadikan sebagai cerminan bagi kita untuk semakin giat membaca. 

Sumber : Majalah Hidayah Penerbit PT. Variasari Malindo
Terima Kasih Sudah Membaca: Malam Bersejarah di Bulan Suci Ramadhan

ARTIKEL TERKAIT:

Sebarkan dan Raih Amalan Shalih :
Posted by: Sajadah Muslim
Sajadah Muslim Updated at: 09:56
 
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Sajadah Muslim™ - Copyright © - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger