Membahas Tentang Seputar Ilmu Agama Islam

Mengatur Taktik Menghadapi Ramadhan

Sajadah Muslim ~ “Siapa takut maka ia akan berjalan di awal malam, dan siapa yang berjalan di awal malam ia akan sampai ke tujuan, ketahuilah barang dagangan Allah sangatlah mahal dan ketahuilah barang dagangan Allah adalah Surga.” (riwayat at- Tirmidzi)


Hidup ini begitu singkat, dimasa yang singkat ini manusia mengumpulkan bekal untuk kehidupan akhirat. Tidak mudah, sebab setan tak akan tinggal diam, segala upaya akan ditempuh agar manusia lalai sehingga umur yang Allah berikan tidak termanfaatkan secara maksimal.

Jika setan berusaha melalaikan kita di setiap waktu, maka di bulan Ramadhan itu akan lebih digencarkan. Setan mengetahui jika manusia berhasil pada bulan Ramadhan, pekerjaannya diluar bulan itu akan semakin berat dan sulit.

Memang setan terbelenggu, namun hawa nafsu tidak, Setan dari kalangan manusia juga berseliweran. Celah inilah yang dimanfaatkannya, Sebelum bulan Ramadhan, setan tentu telah merancang taktik agar kaum Muslimin tidak maksimal dalam bulan suci itu.

Makna Hadits

Dalam kitab Riyadushalihin, Imam Nawawi rahimahullah menempatkan Hadits  di atas pada bab al-Khauf. Secara lafdziah bermakna siapa yang khawatir disusul atau diserang kawanan perampok, ia akan berjalan di awal malam. Siapa yang segera berjalan, ia akan sampai ke tempat yang lebih aman.

Tentu maksud Rasulullah bukan itu Hadits di atas hakikatnya adalah perumpamaan. Dalam tuhfatul ahwadzi makna perumpamaan  itu dijelaskan oleh Atthibi. Ia berkata, “Ini perumpamaan, Nabi mengumpamakan orang yang menempuh jalan menuju akhirat. Sesungguhnya setan menguntit di atas jalannya, sedang hawa nafsu serta angan-angan palsu adalah pendukung setan.

Jika orang yang berjalan itu sadar dalam perjalanannya dan mengikhlaskan niatnya, ia akan aman dari tipu daya setan,”

Dalam penjelasan lain Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin berkata, “berjalan di awal malam  menunjukkan kesungguhan dan perhatian orang tersebut terhadap perjalanan yang ia tempuh. Jadi makna Haditsnya siapa yang dalam hatinya terdapat rasa takut kepada Allah, ia akan beramal shaleh yang akan menyelamatkannya dari apa yang ia tekuni.”

Imam Nawawi juga memberikan penjelasan yang hampir sama. Setelah membawakan Hadits ini, ia menjelaskan, “Adalah artinya berjalan di awal malam. Maksudnya bersegeralah melakukan  ketaatan.”

Hadits diatas ditutup dengan imformasi tentang mahalnya surga, Untuk mendapatkannya membutuhkan amal shaleh sebagai sebab meraih rahmat Allah. Tentu amal shaleh itu tidak akan pernah berwujud kecuali jika kita pandai menfaatkan waktu.

Dengan adanya kesadaran berharganya waktu, kita akan sangat hati-hati dalam menggunakannya. Inilah yang dilakukan oleh para salafus shaleh. Hasan al-Bashri berkata, “Aku menjumpai satu kaum, mereka lebih ketat dalam urusan waktu dari pada urusan dirham dan dinar.”

Memanfaatkan Waktu Ramadhan

Tahun ini Allah kembali menghadirkan Ramadhan untuk kita. Jika setan merancang menakuti untuk melalaikan kita, kitapun perlu melakukan hal yang sama. Merencanakan taktik agar waktu kita maksimal di bulan yang mulia ini.

Teramat sering kali mendengar, bulan ini sepatutnya dipadati dengan amal shaleh, mulai membaca al-Qur’an , shalat berjamaah dan ketaatan lainnya. Namun dalam tataran  pratek memanfaatkan waktu dalam amal  shaleh  bukanlah pekerjaan mudah. Termasuk di bulan Ramadhan Sadar atau tidak, waktu yang begitu berharga di bulan tersebut terkandang kita sia-siakan.

Baca juga :

Pada hadits di atas, rasulullah mengabarkan kiat agar terbangun dalam jiwa semangat memanfaatkan waktu. Yaitu menumbuhkan rasa takut kepada Allah. Ketika rasa takut ada pada diri seorang hamba, ia akan memanfaatkan waktunya dalam amal Shaleh. Ia yakin jika kelak menghadap Allah dalam keadaan minim amal shaleh, sejumlah ancaman Allah yang menakutkan  telah menanti.

Ketika waktu termanfaatkan, sejumlah keutamaan akan menjadi bagian kita. Ibnul Jauzi berkata, “Siapa yang menggunakan waktu luang dan masa sehatnya dalam ketaatan kepada Allah dialah orang yang beruntung dan siapa yang memanfaatkan keduanya pada maksiat dialah orang yang lalai. Sebab setelah waktu senggang ada masa sibuk dan setelah sehat ada sakit.” 

Waktu, jika telah berlalu tak mungklin kembali. Melalaikannya berarti kerugian yang sangat nyata. Ibnul Qoyyim bahkan menilai melalaikan waktu lebih dahsyat dari kematian. Ia beralasan, melalaikan waktu akan memutus hubungan antara manusia dengan Allah dan hari akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskan hubungan terhadap kehidupan dunia dan penghuninya.”

Tantangan Mengatur Waktu

Kemajuan teknologi telah memberika banyak kemudahan. Namun tidak semua kemudahan itu bersifat positif. Ada kemudahan yang merugikan. Yaitu kemudahan dalam membuang-buang waktu. Inilah yang patut diwaspadai.

Sebab ketika setan kesulitan menggoda dalam perbuatan dosa dan maksiat, mereka akan menjerumuskan kita dalam perbuatan sia-sia.

Di sekitar kita terdapat beragam fasilitas yang berpotensi melalaikan kita. Perlu azam yang kuat untuk membatasi diri bersentuhan dengan fasilitas-fasilitas tersebut. Sebab jika tidak, banyak amalan kebaikan yang akan tersingkir yang kemudian digantikan dengan kesibukan mengutak-atik fasilitas-fasilitas tersebut.

Muhasabah dan evaluasi diri yang rutin dilakukan akan sangat bermanfaat dalam mengatasi kelalaian yang sangat mungkin terjadi. Adakalanya kita sangat lemah dan tidak berdaya.

Alhasil, amal shaleh kita sangat minim, dengan adanya muhasabah, kelemahan-kelemahan seperti ini akan terdekteksi  sejak dini sehingga memungkinkan dipulihkan.

Ramadhan berikutnya belum tentu menjumpai kita kembali. Maka sepantasnya kita maksimal dalam Ramadhan kali ini. Sehingga jika Allah mewafatkan kita, ada harapan melalui amalan yang kita lakukan.

Sebaliknya jika tidak patut, kita akan bersedih, karena Rasulullah telah menjamin kecelakaan bagi orang yang keluar dari Ramadhan tanpa terampuni dosa-dosanya. Dalam doa yang diucapkan oleh Malaikat Jibril as, dan diamini oleh Rasulullah “Celakalah seorang hamba yang mendapatti bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni oleh Allah Ta’ala.”

Riwayat Bukhari dan Imam Ahmad. Semoga kita tidak termasuk dalam golongan tersebut. Amin… !!!

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup


Mengentas Kemiskinan Dengan Zakat Dan Pajak

Sajadah Muslim ~ Salah satu solusi dari penanganan kimiskinan adalah dengan mendorong perkembangan zakat. Berdasarkan hasil pengkajian Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), potensi zakat profesi satu tahun di Indonesia bisa mencapai sekitar Rp. 32 triliun. Dan salah satu sumber pendanaan dari  yang dianggap sebagai primadona dari penerimaan negara adalah pajak.


Banyak orang berusaha untuk menyamakan antara zakat dan pajak, sehingga kensekuensinya ketika seseorang sudah membayar pajak, maka gugurlah pembayaran zakatnya. Sementara sebagaian lain menolak bahwa zakat sama dengan pajak atau  sebagai alternatif dari kewajiban zakat.

Zakat dan pajak adalah dua pungutan wajib yang memiliki karakteristik yang berbeda.

Menurut terminologi syariah, zakat berarti kewajiban atas harta tertentu untuk kelompok tertentu dan dalam waktu tertentu. Kewajiban tersebut bagi setiap  Muslim (baligh atau belum dan berakal) ketika mereka memiliki sejumlah harta  yang sudah memenuhi batas nisab-nya.

Zakat menurut Undang-undang Zakat No. 38 tahun 1999, adalah harta yang wajib disisihkan oleh seorang Muslim atau badan yang dimiliki oleh orang Muslim sesuai dengan ketentuan agama untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya.

Agar pembayaran pajak dan zakat dapat berjalan baik, maka perlu adanya sinkronisasi pembayaran keduanya. Misalnya ketika seseorang sudah membayar zakat, maka beban pembayaran pajaknya dikurangi sebesar zakat yang telah dikeluarkan agar tidak terjadi kezaliman pada wajib zakat ataupun wajib pajak.

Pemerintah masih gamang dan ragu-ragu dalam pengelolaan zakat, karena khawatir target penerimaan dari sektor pajak, termasuk pajak penghasilan akan terganggu. Sehingga dikhawatirkan akan berakibat semakin tersendatnya  pemulihan ekonomi nasional.

Padahal, jika zakat dikaji lebih lanjut, sebagai pengurang penghasilan kena pajak adalah sesuatu yang positif terhadap pendapatran nasional keseimbangan (ekuilibrium).

Jadi sekalipun zakat penghasilan mengurangi penerimaan negara dari sektor pajak, tetapi kondisi perekonomian secara mikro tetap membaik. Bahkan pendapatan nasional keseimbangan dengan variabel zakat lebih tinggi hasilnya dibandingkan pendapatan nasional keseimbangan tanpa variabel zakat.

Zakat memiliki peran sosial sama seperti dengan pajak, termasuk berperan dalam pengentasan kemiskinan.

Oleh karena itu, zakat sudah selayaknya menjadi pengurang pajak agar masyarakat termotivasi untuk membayar zakat. Dengan  demikian, zakat sebagai pengentas kemiskinan dapat berkembang pesat di Indonesia.

Bila zakat dapat dijadikan sebagai pengurang pajak, maka zakat dapat menjadi instrumen pendukung program pemerintah. Hal tersebut dilakukan dengan mendorong pengelolaan pajak untuk kepentingan infrastruktur non sosial. Sedangkan, zakat adalah untuk pengelolaan sosial.

Dengan demikian, semestinya pemerintah tidak perlu ragu tapi justru sebaliknya, pemerintah harus lebih aktif menyukseskan program “Masyarakat sadar akan berzakat.” Wallahu a’lam ...!!!

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup


Ramadhan Datang, Haid Tak Jadi Penghalang

Sajadah Muslim ~ Tak perlu kecil hati, banyak cara bagi Muslimah untuk mendulang pahala.

Yola merasa gundah, ia tidak akan bisa menikmati puasa Ramadhan pertamanya karena haid datang lebih cepat dari biasanya, apalagi  ia pernah  mendengar ucapan seorang teman bahwa tidak seperti laki-laki, ibadah  perempuan menjadi lebih sedikit diakibatkan adanya haid.


Semestinya, haid  tidak dijadikan sebagai penghalang oleh teman-teman Muslimah untuk beribadah dan tetap dekat dengan Allah, saat Rasulullah datang karena  banyak amalan-amalan yang bisa dilakukan oleh teman-teman Muslimah. Amalan-amalan tersebut merupakan amalan-amalan sederhana yang Insya Allah akan berdampak pula pada psikologi kita sebagai Muslimah.

Perbanyak Berzikir Dan Berdo’a

Muslimah yang sedang haid biasanya lebih cepat sensitif dan emosinya tidak stabil. Maka dengan memperbanyak zikir dan doa, terutama dengan memperbanyak istighfar, insya Allah emosi perempuan akan menjadi lebih stabil dan ia sabar dalam menghadapi masalah apapun yang dihadapinya.

Sebagaimana firman Allah. “Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah, Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram (Qs Ar-Ra’d ayat 28).

Mengenai zikir dalam fatwa Syabakah Islamiyah, para ulama sepakat wanita haid atau orang junub diperbolehkan berzikir. Selain  itu memperbanyak istighfar, Allah akan menjanjikan jalan keluar pada setiap kesulitan yang dihadapi dan memberi rezeki dari arah yang tidak kita duga.

Dari Abdullah bin Abbas, Rasulullah bersabda. “Barang siapa membiasakan ucapan istighfar, maka Allah akan menjadikan setiap apa yang diangan-angankan itu jalan keluar, setiap kesulitan yang akan dihadapinya diberikan jalan keluar, dan Allah akan memberikan rezekinya dari arah yang tiada ia ketahui.” 

Wiwi Alawiyah dalam bukunya Buku Pinar Haid, Nifas dan Istihadhah memaparkan beberapa keutamaan istighfar.

Sebagai Obat Segala Dosa

Kita merupakan makhluk yang lemah dan memiliki ketergantungan kepada-Nya. Karena-nya setiap jengkal hidup yang tersisa ini semestinya diisi dengan hal-hal yang lebih baik dan sebelumnya. Janganlah setiap kesalahan dan dosa-dosa yang diperbuat sebelumnya ditumpuk dan terus ditumpuk dengan dosa-dosa yang baru.

Semestinya, apabila kita telah melakukan dosa kecil maupun besar, sengaja atau tidak, maka penyesalan itu harus tumbuh dalam diri kita dengan cara memperbanyak istighfar. Hal ini berlaku juga bagi Muslimah yang sedang haid, sebab dengan itu, hidup ini akan menjadi lebih baik.

Menjadi Problem Solving

Muslimah yang sedang haid biasanya sangat sensitif dan mudah tersinggung, sehingga resiko terbesar yang akan dihadapi adalah terlalu gegabah dalam menghadapi suatu persoalan atau masalah.

Karenanya dengan membaca istighfar, maka hati, jiwa dan pikirannya menjadi mudah dikontrol dan dikendalikan. Sederhananya, apabila kita membaca istighfar lalu dilanjutkan dengan usaha yang maksimal, maka besar kemungkinan Allah akan memberikan jalan kelancaran dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.

Mendatangkan Kebahagian

Masa haid terkadang dianggap sebagai sebuah musibah oleh sebagian Muslimah, namun berbuah kebahagiaan, apabila masa haid itu di iringi dengan mengucapkan istighfar yang dapat menggetarkan dan mengsucikan hati, jiwa serta membersihkan pikiran dari hal-hal negatif yang membuat hati tidak tenang.

Mencari, Mengkaji Dan Menyebarkan Ilmu

Saat haid datang kita bisa memotivasi diri untuk lebih giat dalam mencari, mengkaji dan menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Terlebih saat bulan Ramadhan, pahala ibadah akan dilipat gandakan oleh Allah.

Kemudian saat mencari, mengkaji dan menyebarkan ilmu tersebut, tidak hanya kita yang mendapatkan manfaat namun orang lain juga akan merasakan manfaat dari ilmu yang kita sebarkan tersebut.

Memperbanyak Dan Menguatkan Silaturahim

Secara umum, silaturahim berarti menyambung tali persaudaraan, baik itu dalam rangka mempererat kembali yang telah renggang maupun menyambungkan kembali tali silaturahim mereka yang terputus.

Banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dengan bersilaturahim, salah satunya dengan bertambahnya saudara baru, dari bertambahnya saudara tersebut, maka rezeki kita akan bertambah pula.

Rezeki disini tidak selalu dalam bentuk materi seperti uang, namun juga dalam bentuk lain seperti makanan, pekerjaan, dimudahkan segala urusan, pengalaman, kegundahan atau kerisauan menjadi hilang, mendapatkan ilmu dan lainnya. Dengan memperbanyak silaturahim dapat memperpanjang umur.

Selain tiga hal di atas, kita juga masih bisa melakukan amalan-amalan berikut saat haid, seperti bersedekah, membaca  al-Qur’an melalui ponsel. Menurut Dewan Pembina Konsultasi syariah, Ammi Nur Baits, perempuan diperbolehkan  menyentuh ponsel yang ada konten al-Qur’annya, karena benda semacam ini tidak dihukumi al-Qur’an, sehingga bagi wanita haid yang ingin itu, tetap menjaga rutinitas membaca al-Qur’an, sementara dia tidak memiliki hafalan, bisa menggunakan bantuan alat, komputer, tablet atau semacamnya.

Kemudian para Muslimah juga bisa mengikuti kegiatan kemanusiaan seperti mangajari anak-anak yang berasal dari kalangan kurang mampu, menjadi aktivis sosial atau lingkungan hidup dengan melibatkan warga dilingkungan sekitar dan diluar lingkungan sehingga bisa tercipta  kerja sama di antara mereka.

Dengan demikian, para Muslimah tetap bisa beribadah dan dekat dengan Allah walau dalam keadaan tidak suci. Tidak hanya itu amalan-amalan saat haid yang masih bisa dilakukan oleh para Muslimah kala Ramadhan. Aktivitas seperti di atas juga memperlihatkan bahwa sesungguhnya Islam tidak merendahkan perempuan seperti halnya agama lain yang menganggap hanya dengan mendekati perempuan saat haid  saja bagi mereka sudah najis walau tidak terkena darah haidnya secara langsung.

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup


Adab Sahur

Sajadah Muslim ~ Sahur merupakan salah satu rangkaian aktivitas yang  dilakukan  umat Islam saat bulan Ramadhan. Rasulullah saw bersabda: “Bersahurlah, sesunggunya dalam bersahur itu terdapat keberkahan (riwayat Bukhari dan Muslim).


Hadits ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa orang  yang berpuasa diperintahkan untuk melakukan sahur. Karena di dalamnya terdapat kebaikan yang banyak dan keberkahan yang agung.

Dalam hadits lain Rasulullah Saw juga bersabda, “Siapa yang hendak berpuasa, maka hendaknya ia melakukan sahur dengan sesuatu.” (riwayat Ahmad).

Menurut Jumhur ulama, Hadits ini menunjukkan anjuran untuk sahur, bukan perintah yang menunjukkan wajib. Berkaitan dengan hal tersebut berikut beberapa adab dalam bersahur.

Pertama,  niat yang benar. Orang yang melakukan sahur hendaknya berniat sebagai bentuk ketaatan kepada perintah Nabi Muhammad Saw dan untuk meneladani perbuatan beliau.

Kedua, di niatkan agar dengan sahur memperkuat fisiknya sehingga mampu melakukan puasa dan ibadah lainnya. Orang yang sahur malam harinya menjadikan fisiknya kuat untuk beribadah, sehingga membantunya melakukan ketaatan kepada Allah pada waktu siang hari seperti shalat, membaca al-Qur’an dan zikir.

Ketiga, tidak berlebihan (israf) ketika mengonsumsi hidangan sahur. Hal ini didasarkan pada firman Allah. “Makan dan minumlah dan janganlah kalian berbuat israf (berlebih-lebihan) sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat israf (QS Al-A’raaf ayat 31).

Orang yang sahur sebaiknya makan sekedarnya. Sesungguhnya tak ada satu tempat yang paling buruk untuk dipenuhi oleh manusia dari pada perut. Dalam hal ini Rasulullah Saw bersabda; “Tiada tempat yang lebih buruk , yang dipenuhi oleh anak Adam daripada perutnya, cukuplah bagi mereka beberapa suap yang dapat menopang tulang punggungnya (penyambung kehidupnya) jika hal itu tidak bisa dihindari maka masing-masing sepertiga bagian untuk makanannya, minumnya dan napasnya.” (riwayat Ahmad, An-Nasaa’i Ibnu Majah dan at-Tirmidzi). Terlalu banyak makan mewariskan kemalasan dan kebosanan.

Keempat, mengonsumsi kurma, Sebaiknya orang yang sahur mengonsumsi kurma sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Sebaik-baik makanan sahur seorang mukmin adalah tamr (kurma)” (riwayat Abu Dawud, Ibnu Hibban dan Al Baihaqi).

Kurma lebih ringan bagi lambung dan mudah dicerna  dibandingkan dengan jenis makanan yang lain. Dalam kitabnya, Zad Al-Ma’ad, Ibnu Qayyim, menyebutkan bahwa kurma dapat menguatkan perut yang dingin. Ia termasuk buah yang paling bermanfaat. Ia adalah raja buah-buahan, penguat lever, dan pelembut tabiat. Ia adalah buah yang paling banyak memberikan nutrisi. Panas yang dikandungnya adalah penawar racun. Karena itu apabila ia dimakan secara terus-menerus sebelum makan pagi,  maka ia dapat melemahkan cacing dan menguranginya. Ia adalah makanan obat, minuman dan manisan sekaligus.

Kelima, mengakhirkan sahur, termasuk dalam sunnah Rasulullah Saw adalah “mangakhirkan sahur” sabda beliau dari sahabat Zaid bin Tsabit yang berkata: “Kami makan sahur bersama dengan Nabi Muhammad Saw, kemudian beliau berdiri untuk shalat subuh. Saya (Anas  bin Malik) bertanya  kepadanya: “berapa  jarak antara azan dengan sahur?” Zaid bin Tsabit menjawab: ‘kurang lebih selama bacaan lima puluh ayat.” (riwayat Bukhari)

Demikianlah beberapa adab bersahur, semoga bermanfaat.

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup


Ramadhan Sederhana Ala Rasulullah

Sajadah Muslim ~ Sebagai agama yang bersandar pada prinsip tawassuth (pertengahan), syariat Islam sangat menjauhi perbuatan berlebih-lebihan (israf) dalam suatu amal perbuatan. Termasuk dalam hal ibadah puasa, Nabi Muhammad saw sebagai seorang figur umat yang telah memberi teladan yang nyata dalam prinsip tawassuth tersebut.


Hal penting, sebab tak sedikit umat Islam terjebak budaya konsumerisme dan materialisme dalam ibadah puasa, terkhusus pada Ramadhan, Fenomena pasar-pasar dan mal-mal yang kian sesak di bulan puasa menjadi indikasi jelas dari budaya yang tengah berkembang itu.

Untuk hal berbuka puasa, misalnya, sahabat Anas bin Malik menceritakan, Rasulullah saw berbuka puasa dengan ruthab (kurma basah) sebelum shalat maghrib. Kalau tidak ada ruthab, beliau memakan tamr (kurma kering) dan kalau tidak ada tamr, Nabi Muhammad saw meminum air seteguk (riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Sedang dalam urusan makan sahur, Nabi bersabda: “Makan sahurlah, karena sesungguhnya pada makan sahur itu ada berkahnya.” (riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Bedanya untuk meraup keberkahan tersebut, Nabi Muhammad saw dan para sahabat menyegerakan berbuka (ketika matahari telah terbenam) dan mengakhirkan makan sahur (hingga menjelang waktu fajar).

Dalam Hadits yang lain, nabi Muhammad saw juga mengingatkan. “Tidak ada tempat paling buruk yang dipenuhi isinya oleh manusia, kecuali perutnya. Sebenarnya cukuplah baginya beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya.

Kalaupun ia ingin makan, hendaknya ia atur dengan cara sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga lagi untuk  nafasnya.” (riwayat Ahmad dan an-Nisa’i).

Sombong Dan Berlebih-Lebihan

Mencermati beberapa hadits diatas, hendaknya umat Islam memahami substansi perbuatan yang diteladankan oleh Nabi Muhamamad saw, yaitu setiap amalan seharusnya berorientasi untuk mendulang berkah puasa secara maksimal, terkhusus di bulan Ramadhan. Bukan sekedar persoalan memenuhi perut atau membasahi tenggorokan yang kerontang akibat kehausan.

Selain karena tidak sejalan dengan sunnah Rasulullah saw, terkadang hal itu justru mengantar seorang Muslim terjatuh kepada dosa berikutnya, yaitu  boros (tabdzir) dan berlebih-lebihan (israf). Kebiasaan tersebut adalah perbuatan yang terlarang dalam agama bahkan membuatnya sekawan dengan setan, demikian al-qur’an menerangkan.

Firman Allah: “Hai anak adam pakailah pakaianmu yang indah disetiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS Al-A’raf  ayat 31).

Sebagian orang-orang shaleh terdahulu (salafush shalih) berpendapat, Allah  mengumpulkan segenap unsur kesehatan pada sepotong ayat tersebut. Makan dan minumlah serta janganlah berkelebihan di dalamnya. Ibnu Abbas berkata, makanlah semaumu, berpakaianlah seinginmu! Aku tidak menyalahkan kalian kecuali pada dua perkara karena sombong dan berlebih-lebihan.

Dalam riwayat yang lain Ibnu Abbas memberi nasihat sesungguhnya Allah menghalalkan makan dan minum sepanjang tidak mengundang unsur kesombongan dan berlebihan di dalamnya. (Tafsir al-qur’an al-Adzim, Ibn Katsir)

Terakhir, senada dengan itu, Allah juga berfirman, “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secar boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhan-Nya.” (QS Al-Isra ayat 26-27).

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup


Back To Top