POINT PENTING SEDEKAH

Anda Ingin Kaya, Bersedekah !

Rumus menjadi kaya itu sebenarnya sederhana, yaitu sedekah. Hanya saja banyak orang yang tidak menyadarinya. Mereka hanya tahu bahwa sedekah itu menguranginya hartanya. Kelihatannya memang demikian, sejatinya tidaklah seperti itu. Uang yang kita sedekahkan, sesunggunhnya sedang ditabung di bank Allah. Sewaktu-waktu Allah akan mencairkan uang yang kita tabung itu dengan bunganya yang sangat tinggi.
Rasulullah saw, bersabda, “Turunkanlah (datangkanlah) rezikimu (dari Allah) dengan  mengeluarkan sedekah.” (HR. Al-Baihaqi).

Hadits diatas seolah-olah menjelaskan bahwa kalau Anda ingin kaya, bersedekahlah? Reziki itu harus dipancing. Ikan saja harus kita pancing dengan umpan yang terbaik bila ingin mendapatkannya. Demikian juga dengen rejeki. Pancinglah rejeki kita dengan umpan yang terbaik, yaitu sedekah. Semakin terbaik sedekah kita, kian besar pula peluang rejeki itu akan datang dan berlipat-lipat. 

Imam Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Pancinglah Reziki dengan sedekah.” Lalu, bagaimana dengan seseorang yang pelit (tidak mau bersedekah) tapi tetap kaya? Jawabnya gampang, tidak sedekah saja sudah kaya, apalagi sedekah. 


Orang kaya yang rajin sedekah, akan semakin kaya. Harta yang dimilikinya juga menjadi berkah, ketika harta itu berkah, akan menyelamatkan pemiliknya dari efek “jahatnya”. Kok bisa ?

Tentu saja, Banyak orang kaya yang hartanya tidak berkah. Akibatnya, karena hartanya ia dipenjara. Karena hartanya pula ia berpisah dengan suami/istrinya. Rumah tangganya panas karena harta yang dimakan mereka itu tidak bisa mengademkan hati-hati mereka. Perceraian pun tak terelakkan.

Sedekah itu Bukan Hanya Harta

Hanya saja, sedekah itu bukan saja berupa harta benda. Jika Anda tak mapu melakukannya, lakukan dengan apa saja. Yang penting, hal itu bernilai kebaikan. Anda bisa melakukannya dengan tenaga, ilmu, shalat dhuha, tasbih, takbir, tahmid dan sebagainya.

Seorang ustadz yang sedang mengajarkan para santrinya dengan berbagai macam ilmu pengetahuan juga termasuk sedekah. Seorang tukang becak yang mengantarkan langganannya dan tak mau dibayar juga termasuk sedekah (sedekah jasa). Bahkan, saling menasehati dalam hal kebaikan dan kesabaran juga termasuk sedekah. Dengan kata lain, apapun bentuknya termasuk sedekah, asalkan ia bernilai ma’ruf (baik). Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw, “Kullu ma’ruufin shadaqah” (Setiap yang baik adalah sedekah).

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Sesungguhnya sebagian dari sahabat Rasulullah saw, berkata kepada Nabi saw, “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya lebih banyak  mendapat pahala, meraka mengerjakan shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan meraka  bershodaqoh dengan kelebihan harta mereka.” Nabi saw, bersabda, “Bukanlah Allah telah menjadikan bagi kamu sesuatu untuk bershodaqah? Sesungguhnya tiap-tiap tasbih adalah shodaqoh, tiap-tiap tahlil adalah shodaqoh, menyuruh kepada kebaikan adalah shodaqoh, mencegah kemungkaran adalah shodaqoh dan persetubuhan salah seorang di antara kamu (dengan istrinya) adalah shodagoh.” Mereka bertanya , “Wahai rasulullah, apakah (jika) salah seorang di antara kami memenuhi syahwatnya, ia mendapat pahala?” Rasulullah saw, menjawab, ia “Tahukah Engkau jika seseorang memenuhi syahwatnya pada yang haram, dia berdosa. Demikian pula jika ia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, ia mendapat pahala“. (HR. Muslim no . 2376).

Berdasarkan hadits diatas semakin terlihat bahwa sedekah itu tidak hanya berupa harta. Kebaikan yang Anda lakukan juga termasuk sedekah. Bahkan, ketika Anda hanya tersenyum kepada orang yang ditemuinya di jalan pun termasuk sedekah. Karena itu, perbanyaklah kebaikan, saat itu pula Anda akan meraih banyak pahala sedekah.

Sedekah itu Tidak Akan Mengurangi Harta

Anda punya uang Rp.1.000.000,- lalu Anda sedekahkan Rp. 100.000,- Kelihatannya, uang Anda berkurang menjadi Rp. 900.000,- Benarkah demikian? Tampaknya seperti itu, tapi sesungguhnya tidaklah demikian. Dalam konsep agama, uang yang kita sedekahkan tidaklah akan mengurangi harta kita, bahkan akan bertambah. Uang yang kita sedekahkan itu sedang di tabung di bank Allah. Sewaktu-waktu Allah akan mencairkan uang kita plus bunganya yang sangat tinggi, berlipat-lipat dibandingkan bank di dunia. Nabi Saw, bersabda : “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim).

Makna hadits di atas sebagaimana dijelaskan oleh Yahya bin Syarf An Nawawi rahimahuhllah ada 2 (dua) penafsiran: Pertama, harta tersebut akan diberkahi  dan akan dihilangkan berbagai dampak bahaya padanya. Kekurangan harta tersebut akan ditutup dengan  keberkahannya. Ini biasa dirasakan secara inderawi dan kebiasaan. Kedua,  walaupun secara bentuk harta tersebut berkurang, namun kekurangan tadi akan ditutup dengan pahala di sisi Allah dan akan terus ditambah dengan kelipatan yang amat banyak.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa, “Sesungguhnya sedekah itu berada di tangan Allah, sebelum sampai ke tangan orang yang meminta (menerima)”. (HR. Ath Thabrani).

Hadits diatas menunjukkan bahwa sejatinya sedekah itu tidak sekedar sampai ke tangan orang yang diberi sedekah (penerima), tapi juga sedang  dititip (ditabung) di bank (tangan Allah). Sedekah itu akan dikembalikan lagi kepada kita dalam jumlah yang jauh lebih besar. Dari Asma ‘binti Abi Bakar, Rasulullah Saw, bersabda padaku, “Janganlah engkau  menyimpan harta (tanpa mensedekahkannya). Jika tidak maka Allah akan menahan reziki untukmu.”

Sedekah Itu Boleh Blak-Blakan

Sebagian (bahkan banyak) orang mengatakan bahwa janganlah menampakkan sedekah kita. Takutnya kita dianggap riya, tidak ikhlas karena Allah. Soal ikhlas atau tidak, itu adalah urusan hati. Hanya saja, jika sedekah kita ditampakkan maka hal itu bisa memberikan dampak positif terhadap orang lain. Perbuatan baik itu diharapkan bisa memancing orang untuk melakukan hal yang sama. Dengan demikian, maka maraklah  konsep dan praktek sedekah di negeri tercinta kita ini. Karena itu, tampakkanlah rejeki Anda dan jangan ragu-ragu.  

Allah SWT berfirman, “Jika kamu menampakkan sedekah (mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah ayat 271).

Ayat di atas menjelaskan bahwa kita dibolehkan oleh Allah untuk menampakkan sedekah kita. Hanya saja, sedekah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi memang jauh lebih baik.

Namun, yang perlu dibatasi di sini, adalah bahwa bukan karena sedekah yang sembunyi itu lebih baik lalu kita dilarang untuk bersedekah secara terang-terangan. Sebab, Allah sendiri menjelaskan hal ini bahwa sedekah secara blak-blakan itu diperbolehkan.

Kondisi sedekah blak-blakan ini mengingatkan kita pada apa yang sering dilakukan oleh Ustadz Yusuf Manshyur, Sang Pendekar Sedekah. Dalam  setiap ceramahnya, ia seringkali memancing audiens atau jamaah untuk bersedekah blak-blakan. Pancingan sang ustadz muda ini banyak yang berhasil. Sebab, saat itu juga tidak sedikit orang yang langsung menyedekahkan motornya, mobilnya, usahanya dan juga uangnya.

Contoh lain adalah sedekah jasa yang dilakukan tukang becak misalnya. Setiap hari Jumat ia tidak mau minta bayaran dari pelanggannya. Ia telah melakukan sedekah blak-blakan. Sebab akhirnya semua orang tahu bahwa setiap hari Jumat ia tidak menerima ongkos becaknya.

Yang penting, dengan sedekah itu ia tidak bermaksud dianggap sebagai dermawan, ingin disanjung-sanjung, dihormati dan diperlakukan istimewa. Tidak pula, ia mengungkit-ungkit sedekahnya, yang membuat orang jadi tidak respek (bukan kagum). Misalnya, “Oh, kemarin saya ngasih orang itu satu juto lho.” Lalu,  kepada  orang lain lagi  ia  mengatakan hal yang sama dan seterusnya.

Kecuali jika ia diminta untuk menjelaskan kondisi yang sebenarnya. Misalnya, ia ditanya, “Apakah kemarin kamu bersedekah kepada orang itu?” Kalau tidak jujur, takut terjadi fitnah. Maka jalan terbaik adalah jujur bahwa itu memang telah bersedekah tanpa bermaksud ingin dipuji dan disanjung-sanjung.

Oleh Eep Khunaefi
Terima Kasih Sudah Membaca: POINT PENTING SEDEKAH

ARTIKEL TERKAIT:

Sebarkan dan Raih Amalan Shalih :
Posted by: Sajadah Muslim
Sajadah Muslim Updated at: 21:18
 
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Sajadah Muslim™ - Copyright © - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger