JIHAD DI JALAN ALLAH

Sajadah Muslim ~ Jihad merupakan kewajiban bagi setiap muslim, baik dengan harta benda (infaq), dengan jiwa (perang) atau dengan lisan dan tulisan, yaitu mengajak jihad dan mempertahankannya. Jihad ada beberapa macam :

Fardhu ain : yaitu berjuang melawan musuh yang menyerbu ke sebagian Negara muslim, seperti jihad melawan kaum Yahudi yang menduduki Negara Palestina. Semua orang muslim yang mampu berdoa hingga, mereka dapat mengusir orang-orang Yahudi dari negeri tersebut.

Fardhu kifayah : yaitu jika sebagian orang telah memperjuangkannya, maka yang lain sudah tidak berkewajiban untuk melakukan perjuangan tersebut, yaitu berjuang menyebarkan dakwah Islam ke seluruh negeri, sehingga penduduknya melaksanakan hukum Islam. Dan barangsiapa yang masuk  agama Islam serta berjalan di jalan Islam, kemudian terbunuh sehingga tegak  kalimat Allah, maka jihad ini berjalan terus sampai hari kiamat.


Jika orang-orang Islam meninggalkan jihad dan tertarik dengan kehidupan dunia, pertanian dan perdagangan, maka ia akan tertimpa kehinaan sebagaimana sabda Rasulullah :
           
“Jika kalian jual beli inah (seseorang menjual) sesuatu dengan tempo dan menyerahkannya kepada pembeli. Kemudian ia membelinya kembali dari si pembeli  tersebut sebelum lunas pembayarannya dengan harga yang lebih murah dan dibayar langsung, kalian berjalan di belakang ekor-ekor sapi (membajak di sawah) dan kalian puas dengan pertanian kemudian kalian tinggalkan jihad di jalan Allah, maka Allah akan menimpahkan kepada kalian kehinaan dan tidak akan melepaskannya darimu sehingga kalian kembali kepada agama kalian.” (H.R. Ahmad).

Baca juga :
Jihad terhadap pemimpin Islam, yaitu dengan jalan memberikan nasihat kepada mereka dan membantu mereka, sebagaimana sabda Rasulullah :

“Agama adalah nasihat, kami bertanya; “Untuk siapa wahai rasulullah ?”. Beliau menjawab; “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemimpin-pemimpin Islam dan orang-orang muslim awam.” ( H.R. Muslim ).

Dan juga sabda beliau : “Jihad yang paling mulia adalah menyampaikan kebenaran di hadapan pemimpin yang dzalim.” ( H.R Abu Daud dan Tirmidzi ).

Adapun cara untuk menghindarkan diri dari penganiayaan pemimpin kita sendiri, yaitu mengarahkan orang-orang Islam bertaubat kepada Allah, meluruskan akidah mereka, mendidik diri dan keluarga mereka atas dasar ajaran-ajaran Islam yang benar, sebagai pelaksanaan dari firman Allah : “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubah keadaan  yang ada pada diri mereka sendiri.” ( Q.S. Ar. Ra’d ayat 11 ).

Oleh karena itu salah seorang da’i pada abad ini pernah mengatakan, “Dirikanlah Negara Islam dalam hatimu pastilah akan berdiri di atas bumimu.”

Allah  berfirman  : “Dan Allah telah berjanji kepada  orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya, untuk mereka dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” ( Q.S. An Nur ayat 55 ).

Berjihad melawan orang-orang kafir, komunis dan penyerang dari kaum ahli kitab, baik dengan harta benda, jiwa dan lisan kita, sebagaimana sabda Rasulullah : “Dan berjihadlah, menghadapi orang-orang musyrik, dengan harta  bendamu, jiwamu dan lisanmu.” ( H.R. Ahmad ).

Berjihad melawan orang-orang fasik dan pelaku maksiat dengan tangan, lisan dan hati, sebagaimana sabda Rasulullah : “Barang siapa yang melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” (H.R. Muslim).

Berjihad melawan syaitan, dengan selalu menentang segala kemauannya dan tidak mengikuti godaannya. Allah  berfirman : “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia sebagai musuh (mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Q.S. Faathir ayat 6).

Berjihad melawan hawa nafsu, dengan mengendalikan hawa nafsu, membawanya kepada ketaatan pada Allah, dengan menghindarkan diri dari perbuatan maksiat terhadap-Nya.

Allah berfirman melalui lisan Zulaikhah yang mengaku telah membujuk Nabi Yusuf untuk berbuat  dosa : “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada  kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhan-Ku. Sesungguhnya Tuhan-Ku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Yusuf ayat 53)

Sumber : Bimbingan Islam
Terima Kasih Sudah Membaca: JIHAD DI JALAN ALLAH

ARTIKEL TERKAIT:

Sebarkan dan Raih Amalan Shalih :
Posted by: Sajadah Muslim
Sajadah Muslim Updated at: 10:42
 
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Sajadah Muslim™ - Copyright © - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger