Membahas Tentang Seputar Ilmu Agama Islam

Pandangan Islam, Bumi Bulat atau Datar ?

Sajadah Muslim ~ Belakangan ini, ramai perbincangan mengenai konsepsi bentuk bumi, bulat (spherical) atau datar (flat)? Sejatinya, sejak era Yunani telah ada diskusi tentang ini. Bukan saja tentang bulat atau datar, bahkan ada pandangan bahwa bumi berbentuk perisai, drum, setengah lingkaran kubah langit, dan berbentuk tabung selinder. Di China menyebut bumi berbentuk persegi, dan langit berbentuk bulat.


Bumi berbentuk bulat merupakan teori dominan dan menjadi awal perkembangan ilmu pengetahuan. Sejak itu, logika mulai digunakan untuk memecahkan persoalan yang  ada. Masa Yunani teori ini pernah dikemukakan oleh Phytagoras dan Aristoteles meskipun tidak dengan argumen yang kuat.

Dalam peradaban Islam, konsepsi  bumi berbentuk bulat juga populer. Tokoh-tokoh seperti Abu al-Fida' (w. 732/1331), al-Biruni (w.440/1048), al-Mas'udi (w.346/957) Ikhwan al-Shafa (abad 4/10) dan Ibn Khaldun (w.808/1405) adalah di antara  tokoh yang menganut spherical earth.

Abu al-Fida (w.732/1331) dalam “Taqwim al-Buldan” (Penanggalan Negeri-negeri) misalnya, berargumen bahwa terbit dan terbenam planet-planet dibelahan timur dan belahan barat menunjukkan perputaran planet-planet itu ke timur dan barat. Selain itu, posisi ketinggian kutub dan planet-planet di bagian utara dan sebaliknya posisi rendahnya di bagian selatan menjadi bukti bahwa bumi itu bulat. Bukti lainnya, tatkala ada tiga orang satu berjalan ke arah timur, satu ke barat, dan satu lagi tetap pada satu posisi (tidak melakukan perjalanan. Ketika orang yang ke barat kembali dari arah timur, dan yang dari timur kembali dari arah barat, maka orang yang kembali dari arah barat harinya berkurang satu hari. Sebaliknya yang kembali dari arah timur harinya bertambah satu hari. Kenyataan ini membuktikan bahwa bumi itu bulat.
      
Bukti lain, matahari, bulan dan seluruh planet tidak ditemukan periode terbit dan terbenamnya di berbagai penjuru bumi dalam waktu yang sama. Tatkala di satu belahan bumi benda-benda langit terbenam, maka benda-benda langit pada belahan bumi lainnya akan tampak terbit, demikian seterusnya. Hal ini sekali lagi menjadi bukti bahwa bumi itu bulat.

Al-Biruni (w. 440/1048) dalam beberapa karyanya secara panjang lebar menjelaskan masalah ini, antara lain dalam dua karyanya, “Ifrad al-Maqal fi Amr azh-Zhilar (Entri Artikel Tentang Persoalan Bayang-bayang) danal-Qanun al-Mas'udy (undang-undang Mas'ud). Secara garis besar, argumen al-Biruni ada dua: pertama argumen Gerhana Bulan dan Matahari. Gerhana Bulan adalah keadaan di mana piringan bulan terhalang sinar matahari sehingga piringan bulan terjadi secara bersamaan waktunya bagi penduduk  bumi yang dapat  melihat bulan. Sementara Gerhana Matahari hanya terhalangnya penglihatan dari sinar matahari sehingga proses Gerhana Matahari tidak sama waktu dan durasinya jika dilihat oleh penduduk bumi. Dengan demikian, fenomena gerhana ini menjadi hujjah bahwa bentuk bumi bulat. 

Kedua berdasarkan hasil pengamatan mengenai dataran bumi yang tidak sama, ada yang tinggi dan ada yang rendah, menandakan bahwa bentuk bumi adalah bulat. Sementara pada dataran rendah terjadinya terbit dan tenggelam matahari dari waktu ke waktu selalu berubah.

Pendapat terakhir ini  di dukung dengan sejumlah ayat Al-Qur'an, antara lain QS. As-Zumar ayat 5. “Dia menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dia memasukkan malam atas siang dan memasukkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah! Dialah yang maha mulia, maha pengampun.

Kata at-Takwir yang juga berakar yang sama dengan kata al-Kurrah (bola atau bulat) dalam ayat ini bermakna bahwa malam menggulung siang, dan siang menggulung malam. Kalau malam dan siang dapat saling menggulung, pasti karena dua-duanya berada pada satu tempat yang bulat.

Namun, di era modern, mengemuka hipotesa bahwa bumi datar. Teori ini pernah dikemukakan Samuel Rowbotham (1816-1884) dari Inggris: bumi adalah sebuah cakram datar yang berpusat di Kutub Utara dan dikelilingi oleh dinding es Antartika, sementara matahari dan bulan berjarak sekitar 4.800 km atau sekitar 3.000 mil, sedangkan kosmos berjarak 5.000 km atau 3.000 mil diatas bumi. Tahun 2016, di Indonesia kembali disuguhkan artikel-artikel dan tayangan tentang Bumi Bulat versus Bumi Datar. Ini mengejutkan berabad-abad diyakini bahwa bumi itu bulat, namun kini digugat.

Para pendukung flat earth berargumen

  1. Bahwa daratan dari tempat tinggi (dari pesawat, misalnya) sepanjang mata memandang akan terlihat datar. Di dalam pesawat selalu diberitahu bahwa pesawat berada dan terbang dengan ketinggian tertentu (tetap). Jika bumi berbentuk bulat, seharusnya ketinggian terbang tidak pernah tetap.
  2. Seperti di ketahui, lautan di permukaan bumi lebih dominan dari daratan. Jika bumi berbentuk bulat, maka air laut akan tumpah dan bergoyang-goyang di semua tempat, namun kenyataannya air tampak diam dan datar. Ini menunjukkan bahwa bumi itu datar.
Aliran ini juga berargumen dengan QS. Al-Ghasyiyah ayat 20 dan  QS. Al-Hijr ayat 19. Bahwa kata suthihat (dihamparkan) menunjukkan bahwa bumi itu datar. QS Al-Hijr ayat 19 menyatakan sekaligus membantah orang-orang yang menduga bahwa itu seperti bola (bulat). Pendapat ini antara lain dipegang oleh al-Qurthubi.

Tampaknya diskusi tentang bumi datar atau bulat akan terus ada. Putusan dan pilihan akan terus ada sesuai sudut pandang dan argumentasi masing-masing. Namun, tidak akan bermasalah sejauh tidak berimplikasi pada tauhid (akidah) dan fikih.

Wallahu a'lam bish-shawabi

Sumber : Majalah Suara Muhammadiyah
 
Labels: Seputar-Islam

Thanks for reading Pandangan Islam, Bumi Bulat atau Datar ? . Please share...!

0 Comment for "Pandangan Islam, Bumi Bulat atau Datar ? "

Back To Top