Membahas Tentang Seputar Ilmu Agama Islam

Al-Quran ‘Sop’ Kebangkitan Islam

Sajadah Muslim ~ 23 tahun dakwah Nabi Muhammad saw, dilaksanakan, Allah membimbing kaum muslimin sehingga meraih kemenangan karena  Al-Qur’an dijalankan.

Tak dipungkiri saat ini kaum muslimin tengah berada pada posisi terbelakang. Nyaris dalam segala aspek berada di bawah kungkungan musuh-musuh Islam. Mulai dari politik, ekonomi, budaya dan seterusnya.


Begitu sulit umat Islam untuk menentukan sikap keagamaan, rongrongan terus digalakkan. Jangankan di negara-negara yang notabene minoritas muslim, seperti di Eropa. Di negara mayoritas saja, seperti di Indonesia, nampak ruang geraknya sangat terbatas. 

Masih kita temui, ada saja sekelompok orang yang melarang pemeluk agama hanif ini menjalankan syariat secara kafah. Umpama, melarang menggunakan jilbab, mencegah melaksanakan shalat secara berjamaah dan sebagainya.

Bila ada yang menuntut penegakan syariat  secara konstitusional, langsung di labeli sebagai anti Pancasila, ke binekaan, bahkan teroris.    

Kondisi lebih memprihatinkan yang menimpa saudara seiman di Palestina, Suriah, Burma, Uighur dan sebagainya. Mereka diusir, bahkan dibunuh oleh musuh-musuh Islam, tanpa adanya pembelaan nyata dari negara-negara dan lembaga-lembaga Internasional khususnya yang kerap menyuarakan Hak Asasi Manusia (HAM).

Pada intinya, apa yang terpapar di atas adalah cermin kekinian kaum muslimin. Ketidakberdayaan menghadapi hegemoni musuh menjadi realitas nyata yang tak terbantahkan.

Tuntunan Sejarah

Jas merah (jangan melupakan sejarah) demikianlah ungkapan Bapak Proklamator Indonesia, Ir Soekarno, untuk menggambarkan pentingnya peranan sejarah bagi masa depan suatu bangsa.

Islam sendiri memiliki perhatian tinggi terhadap sejarah. Terbukti, sepertiga dari isi Al-Qur’an memuat ‘tema’ ini. Di kisahkan orang-orang yang taat kepada Allah, seperti para Nabi dan Rasul, dan juga disampaikan kisah para penentang, misalnya Fir’an dan Qarun, semua untuk dijadikan pelajaran.

Pada masanya sejarah pernah mencatat Islam berjaya hingga ratusan abad lamanya. Luas kekuasaannya sampai menembus dataran Eropa dan Afrika, tapi jangan lupa, pra-masa kejayaan itu, kaum muslimin juga pernah dinaungi oleh intimidasi yang luar biasa besarnya khususnya pada awal terbitnya ‘mentari’ Islam di bumi Makkah.

Bukan main cobaan yang menimpa kaum muslimin saat itu. Harta dan nyawa menjadi taruhannya. Tidak sedikit yang terampas hak-hak kemanusiaannya oleh mereka yang merasa berkuasa. Hingga akhirnya mereka memilih keluar, terusir dari negeri mereka sendiri, menuju daerah lain demi menyelamatkan iman yang telah dikandung badan.

Lalu bagaimana proses kejayaan itu diperoleh? Melalui perantara tuntunan wahyu yang berupa Al-Qur’an lah, akhirnya kaum muslimin bisa keluar dari kenestapaan itu. Selama 23 tahun secara bertahap, Allah membimbing kaum muslimin untuk meraih kemenangan.

Karena berpijak pada tuntunan wahyu ini, sejak awal kedatangannya kaum muslimin telah menduduki posisi yang tinggi di mata lawan, meski secara status sosial, mereka saat itu tertindas.

Hanya fisik yang mengalami kepayahan, tapi jiwa mereka merdeka, mulia, karena kebanggaan dan keyakinan nan tinggi pada agama ini (Al-Qur’an).

Mengapa ? Karena yang dijadikan rujukan diplomasi umat Islam adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an mencegah kaum muslimin untuk membarter iman dengan dunia. Itu adalah perniagaan yang sangat murah di sisi Allah.

Dalam kasus ini, kita lihat skor kemenangan ada pada pihak kaum muslimin karena mereka tidak mau di dikte. Semakin tinggilah kedudukan umat Islam. Di lain pihak, tunduk malulah musuh karena ditolak mentah-mentah tawaran yang diberikan.

Demikianlah gaya hidup seorang muslim dan pemimpin dalam Islam Al-Qur’an (dan As-Sunnah) menjadi barometer setiap keputusan yang akan diambil, sehingga kemuliaan meliputinya. Hakekat Islam itu “ya’luu wa laa yu’laa alaihi” (Unggul dan tidak ada yang mengunggulinya).

Proses-proses inilah yang seharusnya menjadi kajian segenap kaum muslimin yang merindukan kebangkitan Islam. Tidak ada jalan pilihan lain, kecuali kembali pada al-Qur’an. Hanya jalan ini yang akan mampu mengembalikan Islam (kaum muslimin) pada posisi yang semestinya, unggul di atas peradaban lain. Atau bahasa karenanya SPO ( Standart Operating Procedure).

Sebagaimana kata Umar bin Khathab, “Kita adalah umat yang oleh Allah SWT dimuliakan dengan Islam, maka bagaimana pun jika kita mencari kemuliaan dengan yang lain, maka Allah akan memberi kehinaan pada kita.”  Wallahu A’lam.”

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup

Trilogi Sukses Menurut Al-Qur’an

Sajadah Muslim ~ Keyakinan orang beriman, al-Qur’an adalah wahyu Allah yang berisi panduan hidup manusia.

Permasalahan hidup apapun niscaya ada petunjuk-Nya dalam al-Qur’an. Sebagai mukjizat, ia melintasi ruang dan waktu dalam hidup manusia. Kebenarannya adalah mutlak dan berlaku abadi sejak pertama kali diturunkan di Gua Hira Makkah, hingga hari kiamat kelak.


Termasuk ketika bicara kesuksesan hidup manusia, al-Qur’an pasti menerangkan hal itu, mulai dari pengertian sukses, ciri-cirinya, hingga tantangan dan cara meraih impian manusia tersebut. Semuanya jelas termaktub dalam kitab suci umat Islam misalnya firman Allah. “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga) maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (Al-Lail ayat 5-7)

Ayat di atas merumuskan kaidah baku seorang Muslim dalam meraih kesuksesan, kelapangan, atau kegemilangan hidup. Bahwa hidup itu bisa dikatakan sukses jika memenuhi setidaknya 3 (tiga) syarat yang dimaksud. Yaitu, gemar berbagi kepada sesama, memiliki iman dan takwa, dan meyakini adanya balasan surga di hari Akhirat.

Di tegaskan sekali lagi, kegemaran berbagi hendaknya dilandasi oleh iman yang menggerakkan. Kepeduliannya merupakan buah dari seruan iman yang menggema di setiap pikiran dan perilakunya sehari-hari. Ia adalah mindset yang terpatri dalam lubuk seorang Muslim. Suka berbagi adalah pokok dari kehidupan umat Islam. Berbagai berarti menolong dan meringankan beban sesama manusia. Mewujudkan rasa syukur kepada Allah, sekaligus menumbuh suburkan ukhuwah imaniyah di kalangan kaum Muslimin.

Sebaliknya, berbagi tidak boleh sekadar menuruti style atau trand sekejap saja. Ia juga bukan untuk pencitraan atau mengejar rating dan followers semata. Berbagi bukanlah pekerjaan musiman demi keuntungan profit materi, jika itu terjadi dijamin  satu saat orang itu pasti kecewa dan biasanya hal itu tidak akan bertahan lama. Sebab dorongannya sebatas materi dan urusan dunia. Semuanya bersifat sementara dan jiwa manusia cenderung tak akan pernah puas.

Penting dipahami, ajakkan berbagi tidak dibatasi oleh lingkup harta atau materi saja. Kontribusi tersebut juga bisa disalurkan melalui berbagi ilmu dan wawasan, berbagi waktu, berbagi tenaga, berbagi pengalaman dan sebagainya.

Ini diperlukan untuk saling memberi dan menerima, saling sinergi dan menyatukan potensi yang berserak. Disadari, umat Islam sebenarnya memiliki banyak kebaikan yang belum dioptimalkan. Akibatnya mereka belum mampu bersatu dan menyatukan kekuatan yang ada.  

Kedua, ketakwaan, bisa dikata, puncak dari seluruh amal ibadah yang dipersembahkan manusia adalah untuk meraih derajat takwa disisi Allah. Takwa menjadi penanda dari  apa yang kelak di dapatkan manusia dari semua perbuatannya. Baik buruknya amalan tergantung, kepada nilai takwa yang menyertainya. Ia merupakan pondasi utama seluruh persoalan manusia ibarat kunci, takwa bisa menyingkap  tabir yang selama ini menyelimuti hidup manusia. Ia sebagai jaminan solusi dan syarat turunnya pertolongan Allah.

Dikatakan, ajaran Islam ialah mencakup dua hal utama, kemurnian dalam beribadah (ikhlas) dan kebaikan terhadap sesama manusia (insan). Tak heran di sejumlah ayat, dua perintah ini senantiasa bergandengan dalam al-Qur’an. 

Antara keimanan dan amal shaleh keduanya menjadi senyawa yang tak terpisahkan. Ada hubungan yang saling terkait, bahwa amalan dan gemar berbagi kebaikan merupakan buah dari keimanan. Sebagaimana cara merawat keimanan dengan istiqomah  melaksanakan ketaatan  demi kebaikan itu sendiri.

Terakhir, syarat meraih sukses hidup adalah keyakinan kepada adanya surga dan neraka. Inilah paradigma hebat orang beriman, ia tidak mampu dijangkau kecuali dengan meyakini adanya  Yaumul Hisab (hari Pembalasan) di Akhirat kelak.

Sehingga sepintar dan sehebat apapun orang tersebut, tetap saja tidak bisa menandingi kecerdasan dan kesuksesan hidup seorang  Muslim.

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup

Yuk Semangat Membaca Al-Qur’an

Sajadah Muslim ~ Jika ada bacaan yang kalau mata, akal dan hati manusia membaca dan jiwanya merasa tenang, tenteram, bahkan tercerahkan maka bacaan itu adalah Al-Qur’an. Sangat rugi jiwa yang dalam 24 jam tidak disirami oleh bacaan Al-Qur’an.


Rasulullah Saw, bersabda, “Siapa saja yang membaca Al-Qur’an, kemudian menganggap ada seseorang yang diberi sesuatu yang lebih utama dari pada apa yang telah diberikan kepadanya dari membaca Al-Qur’an itu, berarti ia menganggap kecil apa yang dianggap besar oleh Allah Ta’ala.” (HR. Thabran)

Hadits itu menunjukan bahwa besar kecilnya jiwa seseorang. tergantung pada bagaimana ia memahami, meletakkan dan memperioritaskan Al-Qur’an  di atas segalanya. Baik dalam konteks  dibaca sebagai  ibadah, direnungkan sebagai pedoman, maupun digali dan dipelajari sebagai petunjuk.

Imam Ghazali dalam ihya’ Ulumuddin memberikan penjelasan lebih menarik lagi. “Al-Qur’an adalah nur atau cahaya, di dalamnya  kita temukan matahari bagi penyakit jiwa Allah Ta’ala membinasakan orang yang menentang dan membangkang terhadap aturan yang terdapat di dalamnya. Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang mencari pengetahuan selain dari petunjuk Al-Qur’an.

Amru bin Ash ra berkata. “Setiap ayat dari Al-Qur’an adalah satu pintu menuju surga dan seberkas cahaya dalam rumahmu?”

Di masa Nabi seluruh sahabat adalah orang yang gemar dengan Al-Qur’an. Dalam 24 jam mereka tak pernah lepas dari Al-Qur’an. Kedekatan mereka dengan Al-Qur’an benar-benar luar biasa. Pertanyaannya mengapa demikian?

Seorang pakar tafsir. DR Ahmad Hatta, memberikan penjelasan bahwa ada  tiga rahasia yang menjadikan mereka mendapat capaian yang sangat banyak.

Rahasia pertama, mereka tidak punya referensi lain kecuali Al-Qur’an. Apabila ada permasalahan maka selalu merujuk pada Al-Qur’an. 

Baca juga:

Rahasia kedua, para sahabat menganggap Al-Qur’an  adalah komando dan tidak ada alasan untuk menolak perintah tersebut.

Rahasia ketiga, mereka tidak membaca Al-Qur’an kecuali dengan mentadabburinya.

Sekarang kita banyak bacaan, sampai-sampai membaca Alqur’an pun tidak lagi sempat, apalagi merenungkan dan mentadabburinya. Oleh karena itu, ini saatnya kita kembali bahwa bacaan terbaik bagi kita adalah Al-qur’an.

Sofyan Ats-Tsauri, seperti dikutib Imam Ghazali dalam ihya Ulumuddin mengatakan. “Ketika  seseorang membaca Al-Qur’an, malaikat akan datang dan mencium keningnya.” Tidakkah kita  kemuliaan ini Allah hadirkan untuk kita? Mari gemar membaca Al-Qur’an.

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup


Bahaya Berpaling Dari Al-Qur’an

Sajadah Muslim ~ “Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Allah Yang Maha Pemurah (al-Qur’an) Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan), maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.”


Menyikapi kebenaran kandungan al-qur’an adalah pilihan bagi setiap manusia. Ia bebas menjatuhkan pilihan sekaligus siap menanggung risiko. Dalam al-Qur’an pilihan itu disebut “imma syakiran wa imma kafuran”. Apakah manusia tersebut menjadi orang yang bersyukur atau memilih tergolong ingkar dan tak tahu diri terhadap nikmat Tuhan.

Ayat di atas mengurai sekaligus mengingatkan akibat berpaling dari ajaran al-Qur’an. Ketika orang lain mempelajarinya atau tidak peduli dengan tuntunan yang di syariatkan, niscaya ia dijauhkan dari kenikmatan iman serta ukhuwah.

Akibatnya, ia gelisah kala berinteraksi dengan al-Qur’an, mereka malah dicekoki dengan kenyamanan bersahabat dengan setan yang jelas musuh nyata bagi orang-orang yang beriman.

Makna Ayat

Menurut ahli tafsir terkenal, Abdurrahman as-Sa’di dzikru Rahman, tak lain adalah al-Qur’an sebagai pemandu hidup orang-orang beriman. Bagi setiap Muslim al-Qur’an adalah rahmat terbesar yang diberikan oleh Yang maha Penyayang, kepada segenap hamba-Nya.

Hendaknya mereka meyakini Islam sebagai satu-satunya jalan hidup dan al-Qur’an adalah sebaik-baik hadiah dari Allah. Sebab di sana terbentang jalan menuju kebahagiaan dan keberkahan hidup di dunia dan akhirat.

Sebaliknya, jika berpaling dari al-Qur’an dan mengabaikan ajarannya, menjadi awal segala kesengsaraan hidupnya kelak. Pikirannya terbuai dalam angan-angan kosong yang dijanjikan  oleh setan. Sedang dirinya tenggelam dalam kubang maksiat kepada Allah.

Senada di atas, az-Zujai seperti dihimpun oleh asy-Syaukani dalam Tafsir  Fathu al-Qadir berkata, siapa di antara dari mempelajari hikmah yang terkandung di dalamnya  niscaya Allah timpakan kepadanya pertemanan dengan setan.

Layaknya sekawan yang karib, orang itu tak lagi berjarak dengan setan yang sesungguhnya biang dari segala keburukan dan kesengsaraan dunia akhirat. Karena telanjur akrab, alih-alih mampu menolak, jiwa yang  sudah tertipu itu tak sungkan lagi menuruti segala bisikan yang membuatnya terjerat dalam perangkap jahat setan.

Oleh Allah, orang itu kelak mendapatkan hukuman yang setimpal dan penyesalan tiada berbatas, “Berkatalah salah seorang di antara mereka. “Sesungguhnya aku dahulu di dunia mempunyai seorang teman yang berkata. Apakah kamu  sungguh-sungguh termasuk orang –orang yang membenarkan hari Kiamat? Apakah jika kita telah mati dan menjadi tanah dan tulang belulang? Apakah sesungguhnya kita benar-benar akan dibangkitkan untuk diberi pembalasan?

Berkata pulalah ia, Maukah kamu meninjau temanku itu?. Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu ditengah-tengah neraka menyala-nyala. Ia berkata pula. “Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku. Jikalau tidaklah karena nikmat. Tuhanku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret ke neraka.” (Ash-Shaffat ayat 51-57).

Berteman Dengan Al-Qur’an

Ayat tersebut menerangkan makna menarik berupa korelasi  sebab-akibat. Seorang hamba yang menjauh dari  al-Qur’an justru kian mendekatkan dirinya kepada setan. Layaknya sebuah promosi gratis musuh Allah itu dengan senang hati berkawan kepada manusia-manusia yang diliputi kegalauan jiwa.

Tak tanggung-tanggung ikatan mereka langsung menjadi hubungan spesial yang dinamai qarin. Sebuah nama untuk persahabatan yang dekat dalam istilah al-Qur’an.

Disaat yang sama, orang yang sudah punya hubungan karib dengan setan, pastinya merasakan kegelisahan saat berhadapan dengan cahaya al-qur’an. Alih-alih bisa larut dalam pesona mukjizat al-Qur’an, orang yang berkawan dengan setan itu justru terbakar oleh cahaya yang dipancarkan wahyu Allah itu.

Untuk itu, ayat ini bisa menjadi bahan uji sederhana terhadap kualitas keimanan seseorang. Apakah ia mampu merasakan atmosfir keteduhan jiwa melalui sentuhan al-Qur’an ataukah sebaliknya, justru aura kegelisahan itu yang kian tampak mengusai dirinya? Apakah orang itu lebih betah melewatkan waktu luangnya dengan membaca al-Qur’an atau memilih tenggelam selama berjam-jam hanya dengan perbuatan sia-sia bahkan mengandung dosa?

Bahaya Islam Phobia

Lebih jauh Ahmad bin Musthafa al-Maraghi mengurai dampak yang sangat dahsyat dari sikap menyepelekan al-Qur’an. Menurutnya, orang yang berani mengabaikan syariat  agama dan tenggelam dalam kelezatan dunia.

Allah menjadikan dirinya terbelunggu oleh tipu daya setan. Saban waktu pikiran orang tersebut hanya dijejali oleh pesona syahwat dunia dan materi yang melenakan.

Menurut pengarang Tafsir al-Maraghi tersebut, ketika hal itu menimpa orang yang  terjangkiti virus anti al-Qur’an mendadak berubah menjadi sosok Islam phobia. Ia berbalik arah menjadi orang terdepan yang menentang ajaran al-Qur’an dan syariat Islam. Setiap waktu ia justru larut dalam diskusi pemikiran dan perilaku yang merugikan serta menyakiti umat Islam.

Di katakan ibarat seekor lalat yang suka hinggap di berbagai kotoran atau lingkungan yang jorok, orang yang berpaling dari al-Qur’an itu hanya melahirkan keburukan dan maksiat kepada Allah. Atas nama pembaharuan agama misalnya mereka justru telah menistakan kesucian agama dengan cara berpikir yang nyeleneh.

Boleh jadi inilah yang terjadi bagi sekelompok masyarakat yang kini dikenal dengan pemuja aliran sipilis (Sekularisme, Pluralisme, dan liberalisme). Meski kelompok itu datang mengatasnamakan gerakan Islam pembaharuan, tetapi sebenarnya mereka datang dengan racun pemikiran yang berbahaya buat umat Islam.

Faktanya, dengan karunia nalar yang diberikan oleh Allah mereka justru berusaha mengobok-ngobok  ajaran Islam. Silih berganti syuhbat dan syahwat merekam hembus kepada umat Islam hanya untuk mengaburkan nilai-nilai al-Qur’an. Ironis karena yang demikian itu bukan karena tak pagham dengan ajaran Islam, sebab tak sedikit diantara mereka berlatar akademisi, bahkan tergolong cendekia yang punya segudang ilmu pengetahuan.

Alhasil, tak ada alasan menunda untuk mengaca kembali kepada hikmah yang dikandung dalam al-qur’an. Sebab di sana ada telaga jernih tempat hati bercermin mematut diri kembali. Boleh jadi jiwa ini tak mampu merasakan kenikmatan membaca al-Qur’an bersebab kotoran yang melekat di dalam hati. Boleh jadi hati ini keras karena mulai berpaling dari dakwah dan syariat yang digariskan oleh Allah. Mahasiswa Pasca Sarjana Jurusan Pemikiran Islam Universitas Ibn Khaldun (UIKA ) Bogor.!!!!

Sumber: Majalah Mulia, Berbagi Kemuliaan Hidup


10 Amal Batin Membaca Al Quran Di Bulan Ramadhan

Sajadah Muslim ~ Menurut Imam al-Ghazali, fungsi  spesial dari al-Qur’an hanya dapat dicapai jika seseorang menyertakan adab-adab batin setiap kali membacanya. Sufi Al-Ghazali  memaparkan sepuluh amal batin yang selayaknya diterapkan seorang hamba jika ia ingin hubungannya dengan al-Qur’an  tak menjadi satu hubungan yang sia-sia.

Memahami Keagungan dan Ketinggian al-Qur’an dalam Hati

Al-Qur’an adalah kalam Khalik yang kokoh, cahaya yang nyata yang tak  bercampur kebatilan dari depan dan belakangnya. Dialah perkataan Rabb semesta alam yang dilapalkan dengan sangat pribadi dalam ketinggian-Nya kepada tiap-tiap hambanya, selayaknya sepucuk surat. Al-Qur’an juga karunia serta Kasih-Nya kepada makhluk dengan diturunkannya ayat-ayat suci itu dari Arsy Kemuliaan-Nya ke dunia makhluk hingga kita berkesempatan bertemu dengannya.

Mengagungkan Zat yang Berfirman, Yakin Allah swt

Ketika mulai membaca al-Qur’an, seseorang hendaknya menghadirkan keagungan Allah di dalam hatinya. Memahami betul bahwa yang ia baca bukanlah perkataan manusia seraya merasuki sifat-sifat Zat yang berfirman yang Maha Adil, Maha Suci, dan Maha Pengasih dan Pengampun bagi seluruh makhluk-Nya dari yang terkecil hingga terbesar, dari yang tampak mulia dan tampak hina di mata kita.

Membaca dengan Berkonsentrasi

Sebagian ulama terdahulu jika membaca ayat al-Qur’an dan ayat tersebut tak hadir dalam dirinya maka ia akan mengulangi lagi bacaan itu. Bisikan-bisikan hati dan kilatan-kilatan pikiran yang kadang melintas sedapat mungkin dihilangkan.

Baca juga :

Tadabbur Hati

Tadabbur hati tak lain adalah merenungkan makna-makna yang terkandung di dalam al-Qur’an tersebut. Point ini adalah langkah berikut dari adab yang ketiga. Setelah menghadirkan hati hingga tak ada hal lain yang melintas di batin maka hal itu mesti dilanjutkan dengan langkah maju ke dalam seperti  majunya seseorang memasuki sebuah taman dan memperhatikan setiap bunga indah yang bermekaran, lahan-lahan ( tartil ) karena tartil secara zahir dapat membantu tadabbur dengan batin. Ali Bin Abi Thalib berkata: “Tak ada kebaikan pada ibadah yang tak disertai pemahaman dan tak ada kebaikan pada bacaan tanpa melakukan tadbbur di dalamnya.”

Tafahhum

Tafahhum adalah mencari kejelasan dari setiap ayat secara tepat karena al-Qur’an menyebutkan sifat-sifat Allah, berbagai perbuatan-Nya yang menunjukkan kekuasaan serta kasih-Nya kepada setiap makhluk. Menceritakan ihwal pada Nabi serta yang terpenting adalah memaparkan perintah serta  larangan-Nya yang dialamatkan bagi kita. Tafahhum ini tak lain adalah meraih pemahaman tentang setiap hikmah dan kandungan yang dimiliki al Qur’an yang akan kita bawa dalam kehidupan kita sampai ajal menjemput. Tafahhum juga adalah langkah menyibak rahasia al-Qur’an yang terpendam yang tak akan tersingkap kecuali dengan taufik dan hidayah-Nya. Ibnu Mas’ud berkata: “Barang siapa yang menghendaki ilmu orang-orang terdahulu dan ilmu orang-orang kemudian hendaklah ia mendalami al-Qur’an.”

Menghilangkan Hambatan

Karena tujuan membaca al-Qur’an memperoleh pemahaman maka menjadi adab batin yang ke enam menghindarkan hambatan-hambatan bagi memperoleh kepahaman tersebut. Menurut Said Hawwa, kebanyakkan kita tidak dapat memahami makna-makna al-Qur’an karena beberapa sebab dan penghalang yang dipasang oleh setan pada hati kita. Penghalang itu di antaranya perhatian yang hanya tertuju kepada pengucapan huruf-huruf hingga pemahamannya hanya sampai pada tempat-tempat keluarnya huruf saja. Terus menerus melakukan dosa dan bersikap angkuh dalam hati juga dapat menghalangi seseorang memahami al-Qur’an. Sedang faktor lain yang disebut Said Hawwa adalah keyakinan sebagian orang bahwa makna al-Qur’an sudah tertentu dan terpatok menurut ahli-ahli tafsir dalam buku-bulu mereka.

Takhshish

Selanjutnya adab ketujuh adalah takhshish, yaitu menyadari bahwa dirinyalah sasaran pembicaraan yang ada di dalam al-Qur’an itu. Al-Qur’an tak berkata-kata kepada benda mati, tak berkata pada gunung, samudera atau atap  langit. Al-Qur’an berbicara kepada kita dengan penuh seluruh. Setiap perintah dan larangan yang terkandung di dalamnya adalah untuk kita, bukan untuk yang lain. Setiap kisah yang tertera dalam al-Qur’an  juga semata-mata dikisahkan untuk kita secara pribadi dan intim agar bisa kita memetik hikmahnya.

Ta’atsur

Ta’atsur yaitu terpengaruh dengan beragam kesan sesuai dengan beragam ayat yang dihayatinya. Apa yang dipahami dan ia tangkap setelah membaca al-Qur’an itulah yang membekas di kalbunya dan menghadirkan rasa takut, sedih, harap, juga syukur dan lainnya. Al-Hasan berkata, “Demi Allah, pada hari ini tidaklah seorang hamba membaca al-Qur’an dengan mengimaninya kecuali ia akan banyak menangis dan sedikit tertawa dan berlipat amalnya.”

Taraqqi

Meningkatkan penghayatan terus menerus dalam membaca al-Qur’an merupakan pengertian dari Taraqqi, sebagai adalah adab batin yang kesembilan. Tingkatan ini mesti terus ditingkatkan hingga mencapai tingkatan layaknya mendengarkan al-Qur’an langsung dari Allah. Inilah tingkatan membaca al-Qur’an dalam getar tertinggi serta puncak kelezatannya. Para sufi mendambakan sekali dapat merasakan hal ini kerana itulah salah satu tanda-tanda bagi kekasih Allah.

Tabarri

Adab  yang kesepuluh  atau yang terakhir adalah tabarri. Said Hawwa menjelaskan adab batin ini dengan menyebut bila seseorang membaca ayat-ayat janji dan pujian bagi orang shaleh maka orang itu akan berhias diri  dan memperbaiki amalnya agar ia termasuk  golongan orang yang mendapat pujian itu. Sedang apabila ia membaca ayat ancaman dan hinaan bagi orang-orang yang kufur maka ia merasa cemas seakan-akan menyaksikan dirinya termasuk  dalam golongan orang yang dikecam tersebut. Perasaan-perasaan ini semuanya bermuara pada kedekatan bersama Allah. Harapan agar ia termasuk golongan shaleh memicu dirinya terus memperbaiki diri dengan amal yang disukai-Nya dan kecemasan bahwa dirinya termasuk orang-orang yang durhaka membuatnya bertaubat serta manjauhi kekufuran dan kezaliman diri.

Adab-adab batin ini sekiranya penting untuk dipraktekkan agar cahaya suci al-Qur’an bisa merasuk  ke dalam kalbu dan membuat hari-hari di bulan Ramadhan yang dilalui menjadi indah dan bermakna.

Sumber : Majalah Hidayah Penerbit PT. Variasari Malindo
Back To Top