Membahas Tentang Seputar Ilmu Agama Islam

SUNNAH NABI DALAM BERSOSIAL

Sajadah Muslim ~ Tentu kita masih ingat konflik horizontal di Ambon yang melibatkan umat Islam dan Nasrani, apakah konflik itu selesai dengan cara kekerasaan ? Tidak, Selamanya kekerasan justru memperpanjang derita bagi banyak orang. Tanpa kenal siap dan ampun, besar, kecil, tua, muda, kaya dan miskin, semua terkena imbasnya. Akan tetapi  upaya penyelesaiannya adalah jalur dialog demi dialog. Dalam konflik inilah, silaturrahmi menjadi tonggak  untuk mewujudkan kedamaian.

Dialog bisa terjadi pertemuan diantara beberapa elemen atau orang untuk menggagas dan mencari solusi, semua itu diawali dengan silaturrahmi, saling kunjung mengunjungi. Tanpa silaturrahmi  kemungkinan dialog tidak akan pernah terjadi dan mustahil proses perdamaian dapat terwujud, sebab silaturrahmi adalah pintu gerbang pembuka untuk menyelesaikan berbagai  keruwetan.


Dalam kenyataannya memang silaturrahmi bukan saja sebagai media untuk mempererat hubungan persaudaraan semata, namun ia disinyalir sebagai media yang bisa mewujudkan dunia yang penuh dengan kedamaian. Wajar  jika  banyak orang berceloteh tentang pentingnya bersilaturrahmi dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari orang awam biasa hingga para ustadz dan kyai, baik di media cetak maupun elektronik. Benarkan ”istilah-istilah itu ? Tulisan ini secara  ringkas akan mengulas makna kata itu ditinjau menurut  Islam.

Silaturrahmi yang kini menjadi bahasa keseharian masyarakat Indonesia sebenarnya merupakan kata serapan  dari bahasa Arab, yang berasal dari kata silat yang berarti  menghubungkan dan rohim, yang berarti kasih sayang. Jadi secara bahasa adalah menghubungkan dengan rasa kasih sayang.

Dalam Islam silaturrahmi merupakan suatu  amalan yang diperintahkan oleh Nabi, sebab dengan bersilaturrahmi berarti seseorang telah berkomunikasi dengan orang lain, masyarakat dan lingkungannya. Rasulullah sangat menganjurkan umatnya untuk membudayakan silaturrahmi. Beliau sendiri telah member contoh perlunya bersilaturrahmi itu kepada para sahabat.tak hanya menunggu didatangi bahkan Rasul terlihat sering mendatangi, demi menjalin hubungan baik dengan sesama umat Islam maupun dengan umat agama yang lain.

Dalam al-Qur’an secara jelas Allah swt juga memerintahkan hamba-hamba Nya untuk memelihara silaturrahmi disamping memerintahkan kaum muslimin untuk bertaqwa. Firmannya, “…….Dan bertaqwalah kepada Allat swt yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama yang lainnya dan (peliharalah) hubungan silaturrahmi”. (QS. An-Nisa ayat 1).

Kapan dan dimana ia dilaksanakan, kapan saja dan dimana saja, tanpa harus menunggu datangnya sebuah momentum, sangat keliru, jika orang beranggapan bahwa membiasakan bersilaturrahmi hanya pada waktu tertentu saja, seperti ketika Hari Raya dul Fitri dan hari Raya Idul Adha, dan momentum lainnya. Karena semakin banyak orang bersilaturrahmi maka tali persaudaraan diantara sesama akan semakin terjalin hubungan dengan baik. Dengan saling bersilaturrahmi, kemungkinan adanya  tindakan kejahatan, seperti kekisruhan, kekacauan serta kesemrawutan yang bisa diurai dan ditemukan dengan jalan pemecahannya.

PELAKSANAAN SILATURRAHMI

Silaturrahmi merupakan sarana yang paling ampuh untuk mewujudkan tali persaudaraan, bukan hanya sebatas berjabat tangan, tapi lebih  jauh dari itu. Sebagian amalan yang terpuji, silaturrahmi bisa dilakukan dengan berbagai cara, dengan bertemu atau saling mendoakan. Dan memulainya dari keluarga terlebih dahulu (misalnya antar ibu dan bapak, orang tua dengan anak). Diluar ruang lingkup keluarga, silaturrahmi bisa diterapkan dengan menjaga keharmonisan hubungan seseorang dengan tetangga, dengan teman sekerja, atau dengan masyarakat setempat.

Dengan cara ini, maka persaudaraan (ukhuwwah Islamiyah) dengan sendirinya akan terbina. Ta’aruf (perkenalan), kerja sama. Rasa kepedulian dan solidaritas diantara sesama serta rasa kasih sayang diantara sesama akan tercipta.dengan begitu, apa yang dinamakan simbiosis mutualisme (saling mengutungkan) bisa terbina. Orang kaya bisa menolong yang miskin, buruh bisa membantu majikan, begitupun sebaliknya. Jika  mata rantai ini berjalan, silaturrahmi dapat mengikis sikap saling bermusuhan, saling iri serta menghindari ketimpangan sosial dikalangan masyarakat.

Bahkan menurut Didin Hafiduddin,anjuran untuk bersilaturrahmi juga berlaku kepada siapa saja, termasuk dengan ahli maksiat sekalipun. Yang terpenting bertujuan untuk memperbaiki  akhlak si ahli maksiat bukan malah hanyut oleh prilakunya, siapa tahu dengan mendekatinya mampu menunjukkan agar orang itu bisa meninggalkan  kebiasaan bermaksiat dan kemudian beralih melakukan kebajikkan.

Begitu pentingnya silaturrahmi dalam kehidupan setiap  hamba dilarang memutuskan silaturrahmi, sebab memutuskan silaturrahmi  itu berarti memutuskan hubungan dengan Allah swt. Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah swt  berfirman; ”Akulah ar Rahman, Aku ciptakan kasih sayang  yang diambilkan dari nama-Ku (untuk itu) siapa saja  yang menghubungkannya akan Aku sambungkan dan siapa saja  yang memutuskannya akan Aku putuskan.” (HR Ahmad, Bukhari, dan Tirmidz).

Allah swt menegaskan bahwa tidak ada satu pun gerak-gerik hamba-hamba-Nya  yang luput dari pengawasan, termasuk di dalamnya ialah upaya  manusia yang disadari atau tidak dapat memutuskan tali silaturrahmi antar sesama, mengingat silaturrahmi merupakan kemuliaan dari Allah swt, yang mengandung banyak nilai dan hikmah, maka silaturrahmi menjadi suatu keniscayaan yang mesti dipraktikkan sehar-hari. Baca juga Sunnah Nabi Menggunakan Parfum

Sabda Nabi saw ketika berada di tengah-tengah para sahabat: ”Hendaklah kalian menghadapkan kemuliaan dari Allah swt.” Para sahabat  bertanya “Apakah yang dimaksud itu, ya Rasululllah?” Beliau bersabda: ”Hendaklah kalian  suka menghubungkan silaturrahmi kepada orang yang telah memutuskannya, memberi hadiah kepada orang yang tidak pernah  memberi sesuatu kepada kalian, dan hendaklah kalian sabar (jangan lekas marah) kepada orang yang menganggap kalian bodoh.” ( HR. Hakim)

Sumber : Rahasia Sunnah-Sunnah Nabi
Labels: Pendidikan Islam, Sunnah Nabi

Thanks for reading SUNNAH NABI DALAM BERSOSIAL. Please share...!

0 Comment for "SUNNAH NABI DALAM BERSOSIAL"

Back To Top