Bagaimana Cara Nabi Berpakaian ?

Sajadah Muslim ~ Pakaian adalah perangkat dan kebutuhan yang penting dalam kehidupan manusia sebagai makhluk yang beradab dan berbudaya dimuka bumi, makhluk  hidup lainnya (binatang dan tumbuhan) tidak mengenal budaya berpakaian. Mereka telanjang tidak menjadi persoalan dimana tubuh mereka hanya dilapisi dengan kulit dan bulu yang tumbuh secara alami. Berbeda dengan  manusia yang tidak hanya berpakaian tapi juga selalu melakukan perubahan dan mengikuti perkembangan dunia terhadap model dan jenis pakaian.

Pakaian pun mengalami begitu banyak perubahan bahkan juga distorsi fungsi. Dari faedah yang hanya untuk menutup badan atau tubuh dari sengatan matahari dan hembusan angin, sehingga berubaha menjadi status sosial terhadap manusia. Dari sekadar penutup aurat agar pemakaiannya terhindar dari marabahaya dan untuk tidak mengundang dan mencegah  penglihatan terhadap bentuk dan macam tubuh manusia untuk menutup aurat agar tidak terlihat langsung atau tanpa pakaian.


Pakaian pun akhirnya tidak pernah lepas dari fungsinya sebagai simbol kebesaran seseorang, pakaian menjadi acuan terpenting bagi orang-orang yang senang menyombongkan dan membanggakan dirinya sendiri. Di zaman Nabi saw dilahirkan, pola berpakaian manusia telah menempatkan manusia ke dalam kotak-kotak sosial. Mereka mengatur orang-orang miskin untuk mengenakan jenis dan model pakaian yang tertentu. Sementara para pemuka kaum dan penguasa mengenakan pakaian yang mewah yang berbahan dari sultra dengan ujung bagian bawah menyeret-nyeret tanah saat berjalan kesana kemari.

Nabi Muhammad saw, lantas diutus kepada seluruh kaum untuk membenahi mentalitas mereka, salah satunya  dengan mengoreksi pola berpakaian manusia. Bila tata cara berpakaian untuk wanita diatur secara rinci dalam al-Qur’an dan hadits Qouliyyah (lisan), adab berpakaian  untuk laki-laki dicontohkan langsung dalam kehidupan sehari-hari  oleh Baginda Rasul.

Dalam berpakaian Nabi Muhammad saw selalu menekankan pada aspek kesederhanaan, tapi sederhana yang tetap memberikan rasa nyaman bagi tubuh dan terlihat sopan bagi orang yang memandangnya. Rasulullah merupakan panutan paling sempurna untuk sebuah arti kesederhanaan berpakaian yang sangat jelas terlihat  pada pakaian beliau sehari-hari.

Jumlah pakaian yang dimiliki oleh Nabi terbilang sedikit, tidak ada tumpukan gamis dan busana lainnya di dalam rumah Nabi. Beliau memang tidak suka menyimpan sesuatu untuk kesenangan apalagi pamer kekayaaan. Padahal sebagai seorang pedagang, Nabi Muhammad saw tergolong orang yang berada, beliau sudah menjalani  bisnis sebagai pedagang yang ulet sejak berusia muda (25 tahun) hingga akhirnya menikah dengan Sitti Khadijah. Khadijah sendiri adalah pembisnis ulung yang tersohor hingga ke negeri Syam. Saat pertama kali berjumpa dengan Nabi Muhammad saw Khadijah terkenal sebagai saudagar yang kaya.

Tapi dalam kehidupan Nabi tidak pernah larut pada kesenangan dunia yang membuat orang sering terlena, maka tak jarang Nabi yang menjahit dan menambal pakaiannya yang sudah sobek atau sudah layak dipakai. Dia tidak pernah mambuang baju lamanya tetap dipeliharanya dan dicucinya bajunya,  berulang kali karena tidak memiliki pakaian lain selain yang menempel  atau yang dipakai di tubuhnya. Rasulullah gemar memakai baju kurta atau baju gamis lengan panjang hingga kepergelangan, kerah bajunya menempel pada batas dadanya. Sebuah  hadits  yang diriwayatkan  oleh hakim menyebutkan, baju gamis nabi panjang hingga di atas mata kaki atau dipertengahan betisnya. Kebanyakan pakaian beliau berwarna putih sebagai warna kesukaan Nabi.

Pakaian Nabi terdiri dari syal, kain sarung, gamis dan imamah (surban), beliau pun memilik selembar sapu tangan untuk mengelap wajahnya saat letih atau setelah berwudhu .satu riwayat menyebutkan Nabi menyukai motif syal bergaris-garis, beliau juga sering mengenakan kopiah ditengah sorbannya. Kesederhanaan yang dipelihatkan secara mencolok dalam pakaian Nabi ini tidak berubah meskipun beliau telah menjadi orang nomor satu di Jazirah Arab paska pembebasan kota Mekkah, beliau tetap tampil sederhana namun bersahaja, Nabi bersabda, “Aku hanyalah seorang pesuruh dan aku berpakaian layaknya seorang pesuruh.” Sunnah terpenting dari cara berpakaian Nabi adalah mudah dan biasa, beliau tidak begitu memperhatikan bahan pakaian. Untuk keseharian beliau sering mengenakan pakaian katun, tapi di saat-saat tertentu, seperti saat khutbah hari Jum’at dan hari Idul Fitri, beliau baru mengenakan pakaian yang mahal dan bagus. Pakaian khusus ini juga membalut tubuh Nabi saat beliau menerima delegasi dari luar atau sedang mengadakan suatu pertemuan yang penting.

Nabi melarang bagi kaum laki-laki mengenakan pakaian berbahan dari sutra dan memakai emas dengan alasan apapun. Larangan ini tentunya tidak berlaku bagi wanita. Beliau pun mengutuk  kaum laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian laki-laki (HR.Abu Daud).

Selain itu setiap laki-laki diharuskan celana panjang diatas mata kaki dan tidak melewati mata kaki, juga dilarang mengenakan pakaian yang ujung bagian bawahnya  menyentuh atau menyeret-nyeret bumi sebagai simbol dari kesombongan hati. Saat memakai baju, Nabi mendahulukan tangan dan kaki kanan dengan satu bacaan doa, ”Segala puji bagi Allah yang telah memberi pakaian kepada-Ku yang dengannya menutupi auratku dan dengannya pula aku memperindah kehidupanku.”

Apabila memakai baju baru ,Rasulullah selalu mengucapkan syukur kepada Allah swt, setelah berbaju baru, beliau mengerjakan shalat syukur dan baju lamanya diberikan kepada orang yang membutuhkan. Baca juga : Bagaimana Cara Makan Nabi ?

Sumber : Rahasia Sunnah-Sunnah Nabi
Terima Kasih Sudah Membaca: Bagaimana Cara Nabi Berpakaian ?

ARTIKEL TERKAIT:

Sebarkan dan Raih Amalan Shalih :
Posted by: Sajadah Muslim
Sajadah Muslim Updated at: 18:57
 
Comments
0 Comments

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Sajadah Muslim™ - Copyright © - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger