Sajadah Muslim ~ Beda Malu Kucing Dan Manusia. Itulah salah satu pribahasa, yang disematkan kepada salah satu sifat dari kucing. Yaitu malu. Binatang ini menjadi simbol rasa malu. Dan bila diamati akan tingkah laku dari kucing, memang mencirikan demikian.
Misal (maaf) ketika buang hajat besar. Ketika selesai tidak digeletakkan begitu saja. Tapi ditutupi. Apapun ‘motif’-nya, poin yang bisa kita ambil, betapa kucing sangat lihai menutup aibnya. Ia tidak mau membuang ‘kotoran sembarang.’ Tanpa penuh rasa tanggung jawab.
Adalagi. Konon ketika si jantan membutuhkan si betina. Si betina akan berlari-lari. Meong meong. Seakan enggan untuk didekati. Padahal, sejatinya mau juga. Inilah dasar keluarnya pribahasa di atas.
Makanya. Bila ada seseorang diberi sesuatu. Besar hasratnya untuk mengambil. Tapi karena diliputi rasa malu, ia tahan diri. Maka si teman akan menyindirnya; “Kamu ini, malu-malu kucing.”
Reposisi Malu
Malu dalam Islam menjadi salah satu cabang iman. Dipandang tercela mereka yang tidak mengindahkannya. Karena ciri dasar orang yang tidak malu, suka berbuat suka hati. Maka maksiatpun berani dilakukan di depan umum. Bahkan disebarluaskan. Itu semua sebagai dampak dari hilangnya rasa malu.
Meskipun demikian, rasa malu ini harus dimanage sedemikian rupa. Ia harus ditempatkan pada tempat yang pas. Tidak sembarang posisi atau keadaan. Karena, kalau hal ini terjadi, malu bisa menjadi bumerang. Padahal idealnya, malu harus menjadi spirit juang.
Misal, malu untuk bertanya. Padahal kita tidak tahu arah. Atau perkara lainnya lah. Termasuk urusan ilmu. Jelas ini jenis malu yang salah tempat. Sampai ada pribahasa yang menyinggung soal ini; “Malu bertanya, sesat dijalan.” Malu yang benar adalah malu dalam kegagalan. Dalam hal apapun. Karena ia tidak berkenan menanggung rasa malu itu di kemudian hari, akhirnya ia giat, tekun, dan sungguh-sungguh dalam mengejar mimpi.
Jatuh baginya, bukan akhir dari perjuangan. Masih belum sampai garis finish. Karena itu dia bangkit. Sebab kalau tidak, ia akan kalah. Malu akan menggelayuti diri. Cibiran orang akan menyerang. Sakitnya akan tambah parah. Maka tidak ada pilihan selain bangkit, dan terus berjuang. Apalagi sebagai orang
beriman. Menang, atau tumbang dalam perjuangan. Tidak akan pernah ada niatan dalam dirinya, untuk tunduk. Sampai takdir yang menetapkan.
Persis dengan kalimat Muhammad al-Fatih, ketika hendak menaklukkan Konstantinopel; “Baiklah. Sebentar lagi, Aku akan menaklukkan Konstantinopel, atau kalau tidak aku akan memiliki kuburan di sana,” tegas beliau.
Jadi, lihat spirit malu itu. Luar biasa membangkitkan semangat juang. Bukan malah melemahkan. Disamping itu, malu juga memiliki daya melindungi kehormatan seseorang. Karena orang yang memiliki malu, tidak akan gegabah. Selalu berpikir sebelum bertindak. Apakah itu akan mendatangkan noda hitam pada diri atau tidak.
Dengan demikian. Meski hidup dalam kesusahan, pantang baginya mengiba sesama makhluk. Karena itu bisa meruntuhkan kewibaannya. Karena teori dasarnya; semakin seseorang banyak meminta, semakin akan tidak berharga orang itu di depan yang memberi. Bisa diolok-olok.
Bahkan pada tingkatan tertinggi. Posisi para Nabi. Disebabkan rasa malu, mereka lebih memilih bersabar, dari pada memohon untuk diangkat ujian yang tengah menimpa mereka.
Seperti apa yang dialami oleh Nabi Ayub as. Ketika sang istri membujuknya untuk berdoa kepada Allah agar diberi kesembuhan. Beliau enggan. “Aku malu dengan Rabb ku. Sungguh masa sehat/jayaku Jauh lebih lama dari masa menanggung ujian ini,” ucap beliau.
Jadi, inilah bedanya antara jenis malu kucing dengan manusia ideal. Yang bersumber dari ajaran agama Islam. Jadi, kalau mau sukses; milikilah rasa malu. Tapi, yang benar. Wallahu ‘alamu bishshawab.
Thanks for reading Beda Malu Kucing Dan Manusia. Please share...!

0 Comment for "Beda Malu Kucing Dan Manusia"